Archive

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Pertalite: Tetap Saja BBM Yang ‘Diproyekkan’

May 17th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Diproyekkan. Mungkin ini istilah lama yang sudah jarang kita dengar. Sekedar ilustrasi, kisruh antara Gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dengan DPRD DKI kemarin, pokok permasalahannya adalah UPS yang ‘diproyekkan’. Istilah diproyekkan ini, biasanya terkait dengan ‘barang yang kualitas sama atau bahkan lebih rendah, tapi kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi, untuk memenuhi kebutuhan dari pihak lain’. Dalam kasus UPS si Ahok, UPS yang harganya hanya Rp 500 ribu, kemudian jual kepada Pemerintah dengan harga miliaran Rupiah, untuk memenuhi proyek. Proyek pengadaan barang yang dibuat oleh Pemerintah.

Istilah ‘diproyekkan’ ini, sepertinya juga cocok kalau kita lekatkan kepada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Dengan tidak adanya BBM dengan oktan (RON) 88 yang dijual dipasaran, PERTAMINA kemudian mengambil langkah strategis: memenuhi kebutuhan BBM RON 88, dengan BBM RON 92 yang ‘diproyekkan’. BBM RON 92 yang ada di pasar, kemudian dicampur dengan segala macam bahan, agar RON-nya turun sesuai ‘spesifikasi proyek’, kemudian dijual kepada Pemerintah, dengan ‘harga keekonomian’. Harga keekonomian yang hingga saat ini masih merupakan misteri karena setiap kali harga BBM Premium naik, selalu saja PERTAMINA bilang: belum mencapai harga keekonomian… belum mencapai keekonomian… belum mencapai keekonomian.

Pertalite: BBM yang Diproyekkan (juga)

Tidak lama berselang, PERTAMINA mengusulkan BBM Pertalite sebagai pengganti dari BBM Premium. Pertalite ini, konon adalah BBM dengan RON 90, yang dijual dibawah harga Pertamax, tapi lebih mahal dari Premium.

Awalnya, saya melihat Pertalite ini sebagai sebuah pilihan yang masuk akal. Toh, Premium memang harus segera dihapuskan. Karena statusnya sebagai BBM yang diproyekkan, Premium memang tidak efisien. Harga kemahalan, kualitasnya juga kurang. Jadi memang harus dihilangkan. Akan tetapi, saya menjadi ‘curiga’ ketika saya melihat definisi dari Pertalite yang diungkapkan Direktur Pemasaran PERTAMINA, Ahmad Bambang didepan DPR hari Rabu kemarin:

Untuk membuat Pertalite, kita menggunakan nafta yang memiliki RON 65-70, agar RON-nya jadi RON 90 kita campurkan HOMC, HOMC ini bisa dibilang ya Pertamax, campurannya HOMC yang RON-nya 92-95, plus zat aditif EcoSAVE biar tambah halus, bersih dan irit. Pokoknya ketiga bahan ini campur-campurin sampai pas RON 90

Karena istilah tersebut terlasa terlalu teknis dan terlalu detail, saya jadi terus penasaran: Apakah benar BBM RON 90 ini adalah BBM yang umum tersedia di pasaran? Apakah benar BBM RON 90 ini mudah diperoleh di dunia internasional? Masalahnya begini: dalam kasus Premium, karena kebutuhan akan BBM Premium tersebut sedemikan besar, maka ketika BBM RON 88 tidak lagi dibuat, Pertamina ‘terpaksa’ mengada-adakan atau memproyekkan BBM Premium ini, dari BBM RON 92 yang ada di pasar. Hasilnya sudah jelas: Indonesia terjebak oleh kebijakan BBM yang tidak transparan dan sangat rawan oleh korupsi. Yang untung hanya Petral dan beberapa gelintir orang yang lain.

Indonesia itu sebuah negara besar. Jumlah penduduknya saja, sudah lebih dari 250 juta. Jumlah kendaraan bermotornya juga sudah melewati angka 100 juta. Untuk memenuhi kebutuhan BBM dari pasar sebesar itu, tentu saja memerlukan suplai BBM yang luar biasa besar juga. Untuk memenuhi BBM dari pasar, kita tidak bisa menggunakan strategi: oh.. ini BBM kita bikin.. nanti kalau kurang kita impor. Jelas tidak bisa. Untuk memenuhui kebutuhan BBM yang sedemikian besar, kita harus menggunakan strategi: ‘ini BBM kita bikin, tapi kalau kurang, mau impor juga mudah karena di pasarnya banyak. Kalau tidak, ya jelas: kita akan masuk dalam lingkaran setan lagi, seperti lingkaran setan yang sudah terbentuk untuk BBM Premium.

Berbicara mengenai BBM yang banyak tersedia di pasar, saya kemudian mengintip beberapa BBM di kawasan Asia yang aktif perdagangannya Chicago Merchantile Exchange Group. Ini memang derivatif. Tapi, saya memang hanya mencari sesuatu yang mudah dilihat harga pasarnya, sehingga jika terjadi kekurangan, PERTAMINA tidak akan kesulitan untuk mencari suplai. Disitu saya melihat, bahwa yang aktif perdagangannya, hanyalah BBM dengan RON 92, RON 95, dan RON 97. Dari pencarian saya di Google, RON 90 itu hanya BBM standar yang dipakai di Jepang. Sehingga tidak banyak suplainya di dunia ini. Apakah benar kita akan menggunakan BBM seperti itu sebagai alternatif pengganti dari Premium? Kalau iya… berarti memang benar-benar gawat. Kalau sukses… Pertalite nantinya hanya akan menjadi ‘BBM yang diproyekkan lagi’. Tidak akan berbeda hasilnya dengan posisi BBM Premium saat ini.

Saya kira, Pertalite tidak bisa digunakan sebagai alternatif BBM Premium. Kalau ternyata nanti BBM Premium dihilangkan, maka solusi yang paling masuk akal adalah New Premium nantinya adalah BBM dengan RON 92, Pertamax yang naik menjadi BBM dengan Oktan 95, dan Pertamax Plus yang tetap dengan oktan 98. Langkah ini adalah sebuah pilihan yang paling masuk akal. Di satu sisi, BBM yang tersedia di pasar dalam negeri, adalah BBM yang mudah dicari suplainya di pasar internasional sehingga kalau kekurangan, Pertamina akan mudah untuk melakukan impor dengan harga yang wajar. Disisi lain, konsumen juga akan diuntungkan karena mendapatkan BBM dengan kualitas yang lebih baik.

Menciptakan Pertalite sebagai calon pengganti dari Premium, hanya akan kita tetap saja tenggelam dalam lingkaran setan ‘BBM yang diproyekkan’, sama dengan BBM Premium saat ini.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

 

Categories: Uncategorized Tags:

Pupus sudah harapan Jutawan BUMI untuk kembali menjadi Milyarder..*

February 22nd, 2013 2 comments

Selamat pagi…

Hasil dari RUPS BUMI di London semalam, Nat Rothschild kalah telak. Proposal pergantian direksinya ditolak, plus dia gagal untuk kembali masuk ke jajaran direksi. Bagi pemodal, itu berarti perbaikan kondisi fundamental BUMI yang saya harapkan, kemungkinan tidak akan terlaksana. Tidak ada perubahan. Hutang juga masih tetap akan bengkak.. Pre-emptive right issue juga masih akan berulang. Pupus sudah harapan dari para Jutawan pemilik saham BUMI.. untuk kembali menjadi Milyarder..

Saya kemarin gak lihat perdagangan sesi kedua. Ketika suport di 970 ditembus sehingga target 850 terbuka, harusnya saya juga sudah sadar kalau Rothschild bakalan kalah.

So.. Kemana saham BUMI? Apakah kembali ke 850? Atau dikerek naik oleh euphoria pasar dulu ke atas 1000 (bahkan 1150-1200) sebelum kembali turun? Yang jelas… Harapan harga saham BUMI untuk bergerak naik, sangat tergantung dari peran Harry Tanoe setelah ini, sebagai pemegang saham BUMI Plc yang baru. Selama Harry Tanoe hanya berposisi sebagai ‘pelengkap penggembira’, tidak adanya perubahan dalam kondisi fundamental dari saham BUMI tetap menjadikan posisi ‘Sell On Strength’ lebih menarik untuk dilakukan.

Today just another day… There is nothing new under the sun…

Happy trading… Semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini. Terima kasih.

Categories: Market Comment, Uncategorized Tags:

IHSG: Faktor ‘P’ di 2013

January 2nd, 2013 No comments

(Pengantar: berikut tulisan saya pada kolom Wake Up Call Harian Kontan, 31 Desember 2012.  Tulisan ini mengulas mengenai hambatan untuk IHSG menuju 5000, sebenarnya masih tetap sama untuk tahun 2012 dan 2013.  Untuk Outlook 2013, anda bisa melihat pada tulisan saya sebelumnya. Terima kasih)

Selamat pagi…

Tahun 2012 sudah hampir berlalu.  Perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia, bahkan sudah melakukan perdagangan terakhir pada akhir dari minggu kemarin.   Kalau anda melihat prediksi IHSG orang di awal tahun, sudah barang tentu lebih banyak yang salah dari pada yang benar.   IHSG gagal mencapai level psikologis 5000.  Target saya awal tahun di 4525 – 4650 juga tidak tercapai.  Boro-boro 4500… level 4400 yang pada bulan September kemarin sempat digadang-gadang sebagai target minmal untuk penutupan IHSG saja tidak tersentuh.   IHSG hanya mampu ditutup pada level 4316,69 dengan level tertinggi di 4381,75 yang tercapai di bulan November.

Saya sih sudah cukup legowo untuk bilang bahwa : OK.. tahun 2012 ini saya salah prediksi.

Akan tetapi… anda tentu juga mengerti kan… kalau ‘ngeles’ dan ‘cari kambing hitam’ adalah sifat dasar manusia (yang tidak dewasa… hehehe) yang sering kali tidak bisa terhindarkan.  Terutama kalau kita sedang melakukan refleksi, retropeksi.  Melihat kebelakang untuk melihat apa yang sudah terjadi, dan mengapa kesalahan itu bisa terjadi.  Sekedar untuk evaluasi.

Kalau saya mau ‘ngeles’, saya selalu bilang bahwa ‘minimal saya bilang tahun ini naik’.  Minimal saya tahun ini menjadi seorang bullishers.  Tidak menjadi seorang bearisher yang diawal tahun sudah bilang IHSG mau kebawah 3500, kebawah 3000, atau bahkan kebawah 2500.  Tapi satu hal yang harus saya terima adalah kesalahan itu berarti saya masih kurang bagus, dan saya masih harus banyak belajar.

Tapi… kalau saya cari ‘kambing hitam’ ada dua event penting yang membuat IHSG gagal untuk terus menanjak di tahun 2012 kemarin.  Yang pertama adalah kegagalan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM.  Di satu sisi, keputusan tersebut bisa dikatakan benar karena pada akhirnya harga minyak tetap saja bergerak turun (meski suplainya tetap harus ditambah).  Akan tetapi, kegagalan kenaikan BBM tersebut, membuat S&P kemudian juga menunda pemberian investment grade pada Indonesia.   Ujung-ujungnya: pemodal asing melakukan tekanan jual yang cukup besar dan membuat IHSG turun 14,1 persen dari level tertinggi 4234,39 pada awal bulan Mei, hingga mencapai 3635.28 di awal Juni.  Yang kedua adalah posisi dari Bank Indonesia yang membiarkan Rupiah terus melemah guna menekan impor.   Awalnya, langkah ini memang tidak mempengaruhi aliran dana asing yang masuk ke bursa.  Akan tetapi, dengan posisi Rupiah yang terlalu lama diatas Rp 9600 per US$, pemodal asing akhirnya gerah juga.  Mereka kemudian menghentikan posisi beli, terutama ketika isu fiscal cliff mulai muncul di awal November.  IHSG akhirnya hanya ‘jalan ditempat’, bergerak flat pada kisaran lebar 4275 – 4350 dengan sedikit ‘bonus’ berupa rekor baru di 4381,75.

2013: Faktor ‘P’ tetap berperan

Rasanya memang tidak adil kalau kita meletakkan Pemerintah sebagai kambing hitam karena pergerakan flat selama November – Desember lebih karena isu fiscal cliff terlihat lebih berperan.  Lagian, selama Desember, pemodal asing malah dalam posisi net buy, tapi pelemahan Rupiah malah semakin menjadi.  Akan tetapi, saya juga tidak bisa memungkiri bahwa peran Pemerintah  atau  faktor ‘P’ tetap memegang peran yang sangat besar dalam pergerakan IHSG di tahun 2013 nanti.  Ingat: Dana asing yang saat ini masuk ke bursa kita, sepertinya adalah dana asing jangka pendek.  Itu bisa dilihat dari posisi mereka pada paruh pertama tahun 2012 lalu, dimana mereka melakukan net buy sekitar Rp 12,6 Trilyun selama periode Januari – Maret, tapi mereka juga langung melakukan net sell sebesar Rp 11,6 trilyun para periode April – Juni.  Dana asing ini terlihat sangat sensitif terhadap aksi-aksi yang dilakukan oleh Pemerintah . Satu saja langkah Pemerintah yang tidak disukai pasar, bisa membuat dana asing tersebut berbalik.   Ini membuat market sangat volatile.

Peran Pemerintah ini juga semakin besar karena belum mantapnya kondisi bursa global, tetap menjadikan faktor-faktor dalam negeri menjadi lebih berperan.  Konstruksi, konsumsi, retail , semen, telekomunikasi, infrastruktur, dan properti, adalah industri-industri yang lebih mengutamakan permintaan dalam negeri.  Peran Pemerintah dalam terus menggelontorkan proyek-proyek infrastruktur disamping juga menetapkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya regulasi.  Faktor ‘P’ memang menjadi faktor yang sangat vital di tahun 2013 nanti.

Tahun 2013: Tahun OJK

Kata orang, di dalam sebuah pertandingan sepak bola, wasit sangat berperan dalam menentukan kualitas permainan sepak bola.   Kalau wasit cenderung memberikan kemenangan pada tuan rumah dengan memberikan hadiah penalti seperti yang terjadi di sepak bola Indonesia (saya gak tahu kondisinya sekarang bagaimana, tapi itu kondisi 2-3 tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk berhenti mengikuti berita sepak bola Indonesia), jangan heran kalau permainan bola kita hanya melulu kelas tarkam (antar kampung).

Di bursa kita, wasit tersebut adalah Bapepam.  Pihak yang menurut undang-undang ditunjuk selaku pembina, pengatur, dan pengawas sehari-hari kegiatan Pasar Modal.  Dalam waktu dekat ini, Bapepam akan segera melebur ke dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  .  Ide yang di negara asalnya dianggap sebagai ide yang gagal (OJK pertama didirikan di Inggris dan saat ini sudah terancam dibubarkan kembali), saat ini mencoba diimplementasikan di Indonesia.  Bagaimana hasilnya? Kita lihat bersama deh… harapan saya sih… OJK bisa memberikan sesuatu yang lebih, menjadikan bursa kita menjadi lebih baik.  Tidak hanya sekedar orang yang sama berganti baju yang baru.

Penutup

So… Apakah IHSG bisa mencapai 5000 untuk tahun ini seperti prediksi saya? Apakah fiscal cliff bakal memberikan tekanan bagi IHSG selama bulan Januari?  Ataukah saham-saham sektor perbakan bakal didera tekanan jual pasca kenaikan tarif dasar listrik (TDL)? Apakah posisi penutupan IHSG di akhir tahun 2012 yang berhasil menembus resisten di 4315 benar-benar merupakan signal bahwa January Effect akan membawa IHSG mencetak rekor baru diatas 4400?  Apakah di tahun 2013 nanti, Pemerintah tetap setia untuk melakukan blunder-blunder yang membuat pemodal asing lari terbirit-birit?

Mari kita lihat dan kita nikmati bersama.  Saya hanya bisa berharap agar di tahun 2013 ini, semua pencapaian kita bisa tercapai lebih baik daripada pencapaian kita selama 2012 kemarin.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Uncategorized Tags:

Market Outlook November 2011

October 26th, 2011 Comments off

Categories: Uncategorized Tags:

Market Outlook Agustus 2011

June 27th, 2011 No comments

market outlook agustus 2011

Categories: Uncategorized Tags: