Archive

Archive for the ‘Market Outlook’ Category

Ketika Jokowi ‘diantemi’ oleh Yellen dan Putin…*

March 24th, 2014 1 comment

Selamat pagi…

….. Wah pak… Jokowi-nya diantemi sama Yellen dan Putin …

Itu adalah komentar dari salah satu peserta Market Outlook Universal Broker Indonesia mengenai kondisi pergerakan pasar di minggu yang lalu.  Ya sudah pasti … jangan diartikan seperti apa adanya.  Bukan lantas Jokowi ‘benar-benar’ dipukul oleh Janet Yellen (Chairman The Fed) dan Vladimir Putin, Presiden Rusia.  Akan tetapi, lebih karena pada minggu lalu, sentimen positif dari pengumuman Jokowi sebagai calon presiden dari PDIP, yang kemudian disebut orang sebagai Jokowi Effect yang ada di awal minggu, benar-benar di hancurkan oleh sentimen negatif pernyataan Janet Yellen di pertengahan minggu, dimana The Fed kemungkinan bakal mulai menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.  Sentimen negatif yang ada, semakin diperburuk oleh kondisi krisis semenanjung Crimea dimana Presiden Rusia, Vladimir Putin adalah aktor utamanya.  Jadi… tidak salah juga kalau kalau kemudian sebagian orang kemudian ngomong seperti itu.

Secuplik Sejarah ‘Euphoria Bursa di Indonesia’

Akan tetapi… apakah benar minggu lalu itu ‘Jokowi diantemi oleh Yellen dan Putin’? Belum tentu juga.  Untuk memahami Jokowi Effect, kita harus mengenal ‘sejarah’ dari euphoria pemilihan presiden di bursa kita.  Salah satu yang saya rasakan paling mewakili adalah ketika MPR melakukan pemilihan presiden pada tanggal 20 Oktober 1999.  Saat itu adalah untuk pertamakalinya, pemilihan presiden dilakukan secara terbuka, ditengah bursa yang tengah berjalan.  IHSG yang pada hari sebelumnya ditutup pad level 583,467, saat pemilihan langsung bergerak naik hingga mencapai titik tertinggi di level 644.073 (+60,426 poin, naik 10,35 persen).  Saat Gus Dur sudah memperoleh jumlah suara yang  cukup untuk memenangkan kursi Presiden, pelaku pasar mulai melakukan aksi profit taking.  IHSG kemudian turun hingga mencapai titik terendah pada level 569,155.  Sebuah penurunan yang sangat dalam karena pada level tersebut, IHSG berada dalam posisi terkoreksi 14,492 poin (-0,24 persen) dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya, yang juga berarti koreksi sebesar 74,918 poin (-11,63 persen) dari level tertinggi IHSG hari tersebut.  IHSG kemudian rebound, dan mengakhiri hari itu pada level 584,425 , hanya dengan kenaikan tipis 0,778 poin (+0,13 persen).  Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden, IHSG memang bergerak sangat volatile.

140324 IHSG ketik GusDur jadi PResiden

Euphoria IHSG seperti itu, kemudian semacam menjadi ‘standar’ dari pergerakan pasar ketika event-event besar terkait dengan pemilu: harga naik karena ada berita positif, tapi pelaku pasar malah cenderung jualan karena pergerakan intraday yang cenderung overreacting.  Market kemudian baru bisa bergerak normal beberapa hari kemudian, setelah pelaku pasar bisa mencerna informasi secara lebih nalar.

Kondisi seperti itu yang terjadi pada pergerakan IHSG minggu kemarin.  Pasar yang dilanda oleh Euphoria Jokowi Effect, akhirnya kempes lagi karena pasar akhirnya menyadari bahwa perjuangan Jokowi untuk jadi presiden, sebenarnya masih panjang.  Terlebih lagi juga, karena masalah kondisi dari bursa regional yang cenderung jelek sebagai akibat dari sentiment pidato Janet Yellen.  Koreksi Dow Jones Industrial pada hari Jumat malam sebagai reaksi atas perkembangan terbaru dari semenanjung Crimea, juga menunjukkan bahwa kondisi regional memang masih buruk.

Fokuslah pada event-event penting Pemilu

Proses pemilu 2014 ini masih panjang.  Pemilu kali ini memang berbeda karena dilakukan dua kali, pemilu legislatif dan pemilu presiden.  Kedepan, euphoria IHSG seperti yang terjadi kemarin, masih berpeluang untuk terjadi, seiring dengan banyaknya event-event penting pemilu yang masih akan terjadi.  Beberapa event yang menurut saya memiliki ‘potensi’ untuk terjadinya euphoria adalah pemilu legislatif hingga pengumuman hasil quick count, pengumuman resmi mengenai calon presiden dan wakil presiden dari setiap partai atau koalisi yang ada, dan event ‘pemilu presiden’ itu sendiri.  Setidaknya, pada ketiga event tersebut, IHSG ‘berpotensi’ untuk mengalami pergerakan naik.  Meski… terus terang.. kalau melihat chart technical… saya tidak terlalu yakin bahwa kedua event yang pertama (pemilu legislatif dan pengumuman resmi calon presiden) bisa membawa IHSG melewati level tertinggi Jokowi Effect kemarin di 4903.

Yah.. kalau IHSG bisa 5000 saat pemilu legislative, anggap saja sebagai bonus…

Saham pilihan: berkacalah pada Program Ekonomi Partai Peserta Pemilu

Tulisan ini… saya buat di pedesaan Maribaya.  Biasa… setiap dua minggu sekali, saya dan istri mengunjungi anak yang tengah boarding di salah satu sekolah yang ada di daerah ini.   Daerah pedesaan.  Tapi karena jaman sekarang ‘internet adalah kunci’, maka saya berpikir: ‘ah… tulisan saya akan saya selesaikan disana saja…. kan sekarang informasi tinggal ditanyakan kepada Mbah Google.

Dari Mbah Google ini.. saya kemudian mencari tahu, apakah program ekonomi dari beberapa partai besar peserta pemilu.  Hasilnya cukup mengejutkan.  Pertama: Website www.pdiperjuangan.org yang menurut account twitter resmi PDI-P (@pdi_perjuangan) ternyata mati.  Pada website www.indonesiahebat.org   juga tidak terdapat program ekonomi dari PDI yang katanye berjudul Pembangunan Semesta Berencana 25 Tahun tersebut.  Hehehe… Benar-benar ajaib.  Website dari partai pengusung Jokowi sebagai presiden, partai yang kemungkinan besar menjadi pemenang dari Pemilu kali ini, websitenya mati.  Lantas kalau saya pemilih yang rasional, kemana saya harus mencari tahu tentang program ekonomi dari PDIP?  Tapi.. ini bukan hal yang aneh juga siy.  Di website PKS (www.pks.or.id), ternyata juga tidak dijumpai adanya program ekonomi.  Di website Hanura, saya juga tidak nemu. Yang terlihat mencantumkan program ekonomi yang jelas pada websitenya, hanya Gerindra, PAN, dan Golkar.  Terkait dengan program ekonomi ini, reaksi pasar pada umumnya sama: kalau fokusnya adalah pertumbuhan ekonomi, berarti saham perbankan akan tetap bagus.  Kalau fokusnya adalah pembangunan infrastruktur, berarti saham infrastruktur yang akan bergerak.  Selisihnya, sepertinya akan ada pada program energy dari partai setiap partai tersebut.  Kalau PDIP kemudian berfokus pada energy gas seperti apa yang terdapat pada harian Kontan hari Sabtu kemarin, bisa jadi saham-saham yang terkait gas bakal melejit.  Akan tetapi, kalau melihat bahwa Gerindra bersemangat untuk mendukung program energy yang didapat dari DME (dimethyl ether), bisa jadi saham-saham batubara juga akan mengalami pergerakan karena bahan baku dari DME salah satunya adalah dari batubara.

Oh iya.. terkait dengan saham pilihan ketika pemilu ini.. tahukah anda bahwa Saham MNCN dan BHIT malah bergerak turun pasca deklarasi WIN-HT sebagai calon Presiden dan Wapres kemarin?  Anda juga harus ingat bahwa sesaat setelah pengumuman Jokowi sebagai calon presiden kemarin, gorengan UNSP juga langsung ‘diem’.  MNCN dan BHIT juga kemudian terkoreksi.  Sebuah ‘signal’ yang menarik.

Penutup

So… bagaimana reaksi anda terhadap lompatan-lompatan pergerakan harga yang terjadi selama pemilu ini? Yang jelas… kalau harga tiba-tiba naik terlalu tinggi, pertimbangkanlah untuk melakukan aksi profit taking. Sell On Strength minimal setengah posisi.  Jika anda melakukan posisi trading, ingatlah bahwa itu harus tetap menjadi posisi trading.  Kalau anda sampai nyangkut di harga yang terlalu tinggi, anda harus ‘make sure’ untuk mempersiapkan strategi untuk ‘euphoria selanjutnya’ dimana Pemilu Presiden sepertinya bakal menjadi euphoria terakhir.  Jika tidak… hehehe… bisa-bisa anda terpaksa gigit jari karena arah IHSG untuk paruh kedua dari tahun ini, benar-benar masih gelap.  Saya saja, memprediksikan bahwa untuk tahun ini, level tertinggi untuk IHSG bakal berada pada kisaran 5.200 – 5.650.  Akan tetapi, dalam prediksi saya, level tertinggi dari IHSG, sepertinya akan tercapai di sekitar Pemilu Presiden.   Masih banyak ketidakpastian dari perekonomian global, yang membuat saya belum bisa terlalu yakin mengenai prospek pergerakan IHSG dan bursa regional di paruh kedua tahun 2014 ini.

Semoga kita semua bisa mengendalikan entusiasme kita dalam menghadapi euphoria pemilu ini, agar bisa mendapatkan keuntungan yang optimal.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Secercah Harapan di awal 2014…*

January 2nd, 2014 1 comment

Selamat pagi…

Kalau anda baca ulasan terakhir saya di tahun 2013 yang kemarin saya posting, mungkin anda sudah merasakan, sedemikian banyaknya berita negatif, sehingga saya seakan-akan sudah hampir kehilangan harapan untuk bullish.  Padahal… kalau anda baca beberapa pendapat saya di berbagai media, anda pasti mendapati bahwa saya… adalah termasuk yang cukup bullish untuk tahun 2014 mendatang.

Target level tertinggi IHSG untuk tahun 2014… saya perkirakan bakal berada di kisaran 5050 – 5650.

Meski sebenarnya bisa saja lebih tinggi dari itu… tapi untuk sementara saya mau realistis dulu.  Yang dekat-dekat saja deh.  Yang sekiranya gampang untuk tercapai.

Point penting dari bottomline prediksi IHSG saya diatas adalah:

  • IHSG masih bisa menyentuh level psikologis 5000 lagi di tahun 2014 ini.
  • IHSG masih memiliki peluang untuk mencetak rekor baru di tahun 2014.
  • IHSG ‘belum akan’ mencetak new low dibawah 3837.  Level terendah di tahun 2014 tersebut akan menjadi basis dari trend naik IHSG setidaknya untuk kuartal pertama 2014.

Kalau anda( A) bilang: Loh Pak Tommy… semua kondisi kan masih jelek seperti Pak Tommy bilang… Kok tetap bullish pak? Alasannya apa?

Saya (T) akan menjawab: ini wave 2 … Karakteristik wave 2 itu adalah: berita-berita memang jelek, tapi harga tidak mencetak new low.  Berita-berita hari-hari ini kan memang jelek.  Tapi.. IHSG kan tidak mencetak level terendah yang baru dibawah 3837 (low Agustus 2013).

Disisi laen… saya sebenarnya juga optimis dengan Pemilu.  Sejak tahun 2002… IHSG sejak awal tahun hingga saat hari H pencoblosan, belum pernah turun.

A: Lantas… apa berarti pada kuartal pertama 2014 ini.. IHSG tidak akan bikin new low dibawah lowest Desember 2013 di 4109?

T: Pada hari terakhir di tahun 2013 kemarin, IHSG berhasil mencetak new high diatas resisten 4257.  Ini artinya: selama IHSG tidak membuat new low dibawah 4154, trend jangka menengah IHSG saat ini adalah trend naik.  Target awal dari trend naik ini ada di kisaran 4350 – 4400.. kisaran dimana terdapat target dari inverted H&S dan retracement 50% dari trend turun jangka menengah (Oktober – Desember 2013).

A: Kalau IHSG turun, ceritanya apa pak?

T: Hari Kamis besok ini (tanggal 2 Januari 2014), BPS akan mengumumkan angka neraca perdagangan November dan juga angka inflasi Desember.  Sentimen utama ada di angka neraca perdagangan.  Kalau masih defisit, atau setidaknya defisitnya lebih besar dari ekspektasi, maka bukannya tidak mungkin IHSG kembali bergerak turun.  Tapi…. kalau ternyata dari data ekonomi tersebut yang muncul adalah sentimen positif… data ekomi tersebut akan menjadi motor bagi Januari Effect.

A: Januari Effect itu makanan apa sih pak?

T: Januari Effect itu adalah singkong yang direbus.. kemudian digoreng.  Hehehe.  Sesuai dengan teorinya, Januari Effect itu adalah rally dari saham-saham lapis kedua (mid cap atau small cap), yang selama bulan Desember kinerja harga sahamnya buruk (baca: harga sahamnya turun).  Jadi.. bener kan:  yang namanya singkong itu, makanan lapis kedua dibawah beras.  Jadi yang rally adalah saham lapis kedua.

A: Serius pak?? Yang rally saham lapis kedua?  Apakah sudah terlihat adanya pembalikan trend pada saham lapis kedua?

T: Belum tentu  juga siy.  Sejauh ini.. dari posisi penutupan Jumat kemarin, yang reversal baru ADHI dan BSDE.  Sisanya masih belum terlihat adanya ‘tanda-tanda kehidupan’.

A: Kalau IHSG naik… apakah rallynya akan langsung dimulai besok pada tanggal 2 Januari?

T: Nggak sepertinya…  Saya gak yakin apakah pergerakan pasar bisa bagus sebelum pemberlakukan aturan fraksi baru mulai tanggal 6 Januari nanti.  Pada hari Kamis – Jumat besok (2-3 Januari), IHSG sepertinya hanya cenderung flat.  Baru mulai tanggal 6 Januari nanti, akan terlihat arah dari IHSG yang jelas: apakah mau rally ke 4350 – 4400… atau malah tembus suport di 4109.  Eh… kalau misalnya tembus suport niy.. sepertinya malah bisa lebih cepat.  Kalau data neraca perdagangan dan inflasi ternyata jelek,

A: Ah… Pak Tommy ini bikin bingung aja.  Sebenarnya.. bullish atau enggak sih? Kok kebanyakan ‘tapi.. tapi… dan tapi…’

T: Itu karena sentimen utama, memang masih dari defisit neraca perdagangan kita yang akan diumumkan besok (atau malah siang ini ya? Saya kok belum lihat..).    Sejauh ini… yang bagus baru ‘teknikal’-nya doang.  Alangkah bagusnya kalau teknikal tersebut juga didukung oleh fundamentalnya juga.

So… di hari terakhir tahun 2013 kemarin, saya memang melepas sebagian besar posisi yang saya.  Posisi saham saya terakhir, hanya sekitar 30% dari porto.  Rencana saya… dalam dua hari mendatang, saya mau belanja lagi.  Baibek.  Karena selama tidak bikin new low dibawah 4109, berarti trend jangka menengah IHSG masih berupa trend naik.  Selain itu, kalau lihat net buy asing yang berlangsung sejak 17 Desember 2013… Net buy asing di pasar reguler sudah mencapai Rp 1,2 tr.  Asing sudah mulai serius untuk belanja.  Kita lihat apakah kedepan, asing mau baibek lagi posisi net sell Rp 22,6 trilyun yang mereka lakukan selama tahun 2013 kemarin.

Berakhirnya trend turun jangka menengah pada hari terakhir pergerakan IHSG di tahun 2013 kemarin, memang menyisakan secercah harapan bahwa IHSG bakal mengawali tahun 2014 ini dengan sebuah trend naik.  Seperti apa realitanya? Mari kita nikmati saja… just BRING IT ON!!! Seperti kita menikmati pergerakan tahun 2013 yang seperti roller coaster itu.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Outlook, Selamat Pagi Tags:

Kala Senja di Majapahit…*

December 30th, 2013 No comments


… hari ini adalah minggu  ke tujuh dari pengepungan kerajaan Mataram terhadap ibukota Majapahit.  Wajah dari rakyat, terlihat mulai kuyu.  Semangat di mata sudah mulai hilang.  Bahan pangan mulai menghilang, penyakit mulai bermunculan.  Setiap saat, setiap malam yang dingin.  Bulu kuduk seakan-akan berdiri.  Musuh yang terus siap siaga, seakan menunggu saat-saat yang tepat untuk menyerang.  Setiap hari terjadi insiden di pinggiran kota, dimana penduduk yang sudah putus asa, yang sudah lelah dengan kondisi didalam kota, akhirnya terbantai ketika mencoba untuk menerobos pengepungan.  Udara benar-benar sudah penuh dengan hawa kematian yang membawa siapa saja, tenggelam dalam ketakutan, tanpa harapan… 

Selamat pagi…

Tulisan diatas… jelas bukan cuplikan dari novel-novel tentang Majapahit karya dari Langit Kresna Hariyadi, maupun karya dari SH. Mintaraja.  Akan tetapi, tulisan diatas kira-kira bisa mewakili gambaran dari apa yang kita lihat pada pergerakan harga di Bursa Efek Indonesia pada satu-dua bulan terakhir.  Sulit banget untuk mencari sentiment positif.  Orang-orang yang masih Bullish seperti saya, seakan-akan sudah seperti merenggang nyawa.  Mau tetap bullish bagaimana? Berita semua sudah negatif.  US Dollar tidak juga beranjak dari level 12.000.  Aliran dana asing, sebentar beli, tapi sebentar lagi jual dalam jumlah yang lebih banyak.  Usaha pengendalian nilai tukar seakan-akan tidak menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.  Yang ada, hanya orang-orang yang menanti, menanti awal bulan depan, menunggu data defisit neraca perdagangan.  Hari-hari berlangsung dengan koreksi, volume perdagangan tipis.

Mau bicara Outlook atau gambaran prediksi IHSG di tahun 2014? Sebenarnya banyak orang yang optimis.  Ada memang yang pesimis.  Akan tetapi, jumlah yang optimis sepertinya lebih banyak.  Kalau mau omong optimis untuk 2014, orang pasti  beranjak dari fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun cenderung turun, tapi sebenarnya tetap saja ‘tidak jelek-jelek amat’.  Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada tahun 2014, masih tetap diatas 5 persen lah.  Masih jauh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Dunia yang menurut Bank Dunia hanya berkisar pada angka 3 persen.  Terlebih lagi, tahun depan adalah tahun Pemilu.  Sebuah event akbar yang sejak 2002, selalu ditandai dengan kenaikan IHSG.  Outlook 2014 memang masih terlihat indah.  Tapi… trend turun jangka menengah IHSG ini loh… kok nggak selesai-selesai.

Dalam dua bulan terakhir, IHSG bergerak dalam sebuah trend turun jangka menengah yang hingga perdagangan hari Jumat kemarin, masih belum juga berakhir.  Trend turun jangka pendeknya saja, hingga hari terakhir sebelum liburan Natal, masih terus berlangsung.  Trend turun jangka pendek ini baru berakhir pada hari Jumat kemarin, ketika IHSG berhasil ditutup diatas resisten pertama di 4205.

Hari perdagangan di tahun 2013, memang hanya tinggal hari ini.  Tahun 2013 sebenarnya bukan sebuah tahun yang buruk.  Di tahun ini, IHSG sempat berada diatas level psikologis 5000.  Sebuah level yang sudah dalam dua-tiga tahun terakhir menjadi fatamorgana bagi sebagian orang.  Akan tetapi, tahun 2013 ini juga yang menjadi saksi, bahwa perekonomian kita, memang dibangun diatas sebuah fondasi mata uang yang rapuh.  Maklum saja… hobby kita untuk mengimpor segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan kita, telah membuat Rupiah mudah sekali jatuh.  Dari BBM, makanan, barang-barang konsumsi, dan masih banyak lagi.  Petasan yang akan anda sulut nanti malam deh… kemungkinan juga adalah hasil dari impor.

Problemnya lagi, pemerintahan autopilot yang selama ini dijalankan, benar-benar menuai hasilnya: autopilot ketika pesawat sedang menanjak, ketika perekonomian sedang bagus, mungkin tidak mengapa.. akan tetapi, autopilot ketika pesawat sedang nosedive (hidung pesawat menghadap kebawah), tentu saja membuat semua penumpang berteriak-teriak.  Terlebih lagi, ketika semua alarm tanda bahaya menyala (hingga bunyi alarmnya kedengaran dari penumpang baris paling depan), pilot dengan tenangnya tetap mengumumkan dengan announcer: woles aja bro… tidak ada apa-apa kok… didepan juga tidak ada gunung… silakan berhenti untuk panik.

Hehehe….

Terkadang… saya berpikir… bahwa saya sudah bosan untuk tetap bullish.  Bosan untuk bilang bahwa IHSG 5000 lagi tahun 2014.  Bosan untuk bilang bahwa IHSG masih bisa bikin rekor lagi di tahun 2014 nanti.  Akan tetapi, realita yang ada… sejauh ini… setidaknya selama satu-dua bulan ini… bergerak berlawanan dengan apa yang saya lihat:

  • Rupiah tidak kunjung juga menguat,
  • BI Rate sudah mulai berasa ketinggian untuk bisa membuat perekonomian bisa berjalan normal,
  • Tapering memang mulai berlangsung tahun depan.  Tapi.. kok ya masih ada yang jadi perdebatan: itu turunnya mau pelan-pelan seperti diagonal dengan sudut landau atau dengan sudut curam?
  • Perdebatan itu yang membuat aliran dana asing belum juga kembali muncul meski tapering sebenarnya lebih ringan dari yang diperkirakan.

Saya sudah bosan bullish karena Pemerintah seakan-akan tidak memiliki keperdulian terhadap apa yang terjadi.  Saya tahu bahwa langkah fiskal memang hasilnya lamban.  Akan tetapi… saya juga tahu bahwa harga saham itu, adalah harga saat ini dari sebuah kondisi di masa yang akan datang.  Itu berarti: kalau harga belum naik, berarti pasar memang belum melihat atau percaya, bahwa langkah yang ditempuh oleh Pemerintah bakal memberikan hasil positif.

Kebosanan saya untuk bullish juga semakin bertambah, karena saya masih juga belum bisa percaya bahwa pasar bakal merespon kebijakan fraksi harga baru dengan positif.  Sebagai ‘mantan korban’ dari kebijakan fraksi harga yang mengubah fraksi Rp 25 menjadi Rp 5 pada tahun 2000 dulu (gile.. karatan banget gue ye? Hehehe) yang membuat aktifitas dari pemodal retail berkurang drastis, saya memang belum bisa melupakan ‘trauma masa lalu’.  Jumlah pemodal retail kita, belum juga mencapai angka 1 persen dari jumlah penduduk.  Masa mereka yang ada mau diusir lagi?  Ok lah kalau kebijakan penurunan jumlah saham dalam 1 lot sepertinya bakal membuat pemodal retail yang baru mau untuk mencoba berinvestasi langsung ke bursa saham.  Tapi… Untuk fraksi harga baru… saya sih tetap tidak yakin bisa memberikan pengaruh positif bagi jumlah pemodal retail yang aktif bertransaksi di bursa kita.

Tapi…. Mau bagaimana lagi: Selama tidak ada hitungan teknikal bahwa kita harus bearish untuk long term, saya tidak bisa bearish.  Selama IHSG tidak mencetak new low (level terendah yang baru) dibawah 3837, saya tidak bisa bearish.  Berita-berita jelek, boleh mempengaruhi kondisi mental saya.  Tapi, selama tidak ada signal negatif jangka panjang, saya masih tetap bullish dan optimis menghadapi 2014 nanti.

So…

Hawa kematian… memang masih terus membumbung di angkasa Majapahit…

Tapi kita harus tetap optimis.  Kalau pada hari terakhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia di tahun 2013 ini saya boleh bermimpi… maka saya akan bermimpi bahwa IHSG bakal ditutup diatas penutupan tahun kemarin.  Dikasi naik dikit diatas 4316,69. Eh… tapi… nggak usah setinggi itu juga siy: diberi new high (level tertinggi baru) diatas 4257,17 saja.. saya juga sudah cukup senang.  Karena new high diatas 4257,17 bakal membuka peluang, bahwa IHSG di bulan Januari masih akan terus bergerak naik.

Rawe-rawe rantas… Malang-malang tuntas!

Mari kita sambut 2014 dengan harapan bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang lebih baik bagi pasar modal Indonesia.

Happy trading…. Semoga barokah!!!

Satrio Utomo

PS: Tulisan ini adalah tulisan saya yang dimuat pada harian Kontan edisi 30 Desember 2013 dan ditulis pada hari Sabtu 28 Desember kemarin.  Pada saat tulisan ini saya upload, IHSG sudah sempat membuat new high diatas resisten 4257.  Semoga penembusan resisten tersebut adalah pertanda bahwa IHSG akan melanjutkan trend naik jangka pendek ini menjadi rally di bulan Januari 2014.

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Outlook Tags:

Dahlan Iskan vs Bursa Saham*

July 29th, 2013 4 comments

Selamat pagi…

Masih segar benar dalam ingatan saya.  Saat itu, tanggal 13 Juni 2013.  IHSG sudah turun lebih dari 10%, dari level 5200-an ke sekitar level 4600.  Pada running text di account twitter saya, @rencanatrading, saya membaca sebuah berita dari media online yang saya follow, judulnya  ‘Dahlan: Mumpung Harga Saham Turun, BUMN Beli Saham Blue Chip’. Hm.. menarik ini.. saya pikir.  Saya kemudian baca lebih lanjut.  Isinya ternyata sebagai berikut:

“Supaya menahan dolar. dan membantu penguatan rupiah. Pemilik uang yang besar termasuk dana-dana pensiun BUMN supaya membeli saham blue chip, karena harganya sedang turun dan nanti akan naik lagi,” kata Dahlan di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/6/2013).

“Nah terserah sampai naiknya berapa, kalau nanti itu menguat, pekan depan kan bisa jual. Hukum ekonominya begitu,” tambah Dahlan.

Well… alasannya memang berasa ‘aneh’ di logika saya.  Tapi.. saat IHSG turun terlalu dalam dalam (10 persen) waktu yang telalu cepat (hanya 2 minggu), reflek saya sebagai analis adalah: saya harus mencari alasan untuk memberikan rekomendasi beli.  Dan pendapat dari Pak Dahlan ini, terasa sebagai alasan yang paling masuk akal bagi saya, untuk terus optimis, memberikan rekomendasi beli.  Saya kemudian sms ke teman saya yang sekitar 2 – 3 tahun yang lalu sempat menjadi orang kepercayaan Pak Dahlan di Jawa Pos.  Saya bertanya kepada teman saya itu: Mas.. Pak Dahlan itu, investasi atau trading saham apa enggak sih? Jawaban teman saya: nggak tahu kalau sekarang, tapi dulu (lebih dari 10 tahun yang lalu), pak Dahlan pernah mencoba, setelah tapi tidak berhasil (rugi), akhirnya beliau tinggalkan.  Beliau tidak punya waktu sepertinya, itu yang membuat beliau tidak melakukan investasi saham.

Hm.. berarti pendapat dari Pak Dahlan itu, bisa dikatakan sebagai perwakilan dari ‘pendapat awam’.  Mereka yang tidak berkecimpung langsung pada dunia per-‘saham’-an.

Eh.. saya jadi ingat twit dari beberapa ‘analis’ pada pagi harinya: IHSG ke 4000!!! IHSG ke 3600!!! Mereka yang dengan ‘semangat 45’, ‘meminta secara tak langsung’ kepada pemodal untuk melakukan posisi jual, yang sudah barang tentu merupakan posisi cut loss.

Saya kemudian terbayang: Pak Dahlan, yang merupakan ‘perwakilan awam’ vs analis yang merupakan ‘ahli’ (mereka yang pekerjaannya melototin pasar), siapa sih yang lebih pintar?

Kita sekarang, tentu sudah tahu jawabannya.  Orang yang pegang pernyataan Pak Dahlan bahwa “Nah terserah sampai naiknya berapa, kalau nanti itu menguat, pekan depan kan bisa jual. Hukum ekonominya begitu,” , pasti saat ini sudah senyum-senyum dengan profit di kantongnya.

 

Lucunya.. hari-hari ini, ketika analis-analis itu sudah mulai ‘agak positif’, menaikkan target dari 4000 menjadi lebih tinggi dari itu, saya malah sudah mulai bearish.  Saya malah melihat bahwa earning season, waktu publikasi kinerja semester pertama 2013, yang berlangsung ditengan ‘Rupiah yang sedang gemeteran’, seperti sekarang ini, resikonya terlihat terlalu besar.  Resikonya menjadi besar karena pada kuartal pertama kemarin, lebih dari 70% emiten yang menjadi sample saya, gagal untuk mencetak laba bersih sesuai dengan harapan konsensus analis.  Plus.. Bank Indonesia terlihat sedang getol-getolnya menghancurkan mood pasar: yang bikin pernyataan bahwa inflasi akan berlangsung terlalu tinggi setelah kenaikan BBM, yang menaikkan BI Rate terlalu tinggi ketika Dollar malah sedang melemah, yang terus bilang bahwa sektor property kita bubble padahal setelah pamor dari batubara meredup, harga emas jatuh, IHSG terkoreksi; hanya sektor itulah yang menjadi ‘mainan’ dari orang berduit yang masih terus memacu ‘harapan’, berspekulasi.

Heran… Tidak seperti Pak Dahlan yang mencoba untuk menjaga mood pasar dengan pernyataan-pernyataan yang kondusif, Bank Indonesia yang seharusnya menjaga mood pasar agar Rupiah terjaga, malah berlomba-lomba ‘menghancurkan’ mood daripada pasar tersebut.  Ini yang membuat saya menjadi galau.

Earning Season sudah mulai memakan korban.  Pada hari Jumat kemarin, saham-saham seperti MAPI dan PTBA sudah mulai berguguran.  ASII juga sudah memberikan signal negatif.  IHSG sudah ditutup dibawah suport, mengakhiri trend naik.  Saya bahkan hanya bisa ‘berharap bahwa suport di 4200-4400 masih bisa bertahan’.  ‘Berharap’ karena dalam realitanya, ketika IHSG belum juga mencetak level tertinggi baru diatas 4880 meski indeks Dow Jones Industrial (DJI) mencetak rekor baru, telah membuat saya mulai realistis untuk ‘tidak menutup kemungkinan’ bahwa secara teknikal, IHSG bisa bergerak menuju level 4000.  Saat ini, peluang pergerakan IHSG untuk menuju level 4000 atau 5000, terlihat lebih besar peluang untuk ke 4000.  Meskipun… saya masih gak ngerti dari mana tekanan jualnya karena posisi pemodal asing di pasar reguler, per hari Jumat kemarin, sudah berada pada level ‘nol’, kosong, untuk posisi semenjak awal tahun 2012.  (dan) Meskipun (lagi)… Saya masih ‘berharap’ bahwa suport di 4200 – 4400, masih bisa menahan potensi koreksi yang mungkin bisa terjadi untk IHSG.

Jujur.. mengenai peluang IHSG untuk kembali ke level psikologis 5000, akan sangat bergantung dari apakah jika indeks Dow Jones Industrial (DJI) terus bergerak naik ke level 16000-16200, bisa membuat pemodal asing kemudian kembali masuk ke bursa kita.  Kondisi dari earning season yang sepertinya sentimennya bakal buruk, ditambah dengan pernyataan BI yang terus menghancurkan mood dari pasar, membuat saya semakin ragu, semakin galau atas peluang IHSG untuk kembali ke atas level 5000.

Menjadi ‘Public Figure’ itu harusnya seperti Pak Dahlan.  Harus ‘mampu memberikan pernyataan yang menyejukkan’, bukan malah membuat pasar menjadi semakin galau.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Ketika ‘Mengendalikan Supertanker’ berbeda dengan ‘Menyetir Becak’*

June 19th, 2013 3 comments

Selamat pagi…

Kalau Anda adalah orang yang sempat membaca beberapa ‘peringatan’ yang ada pada tulisan Wake Up Call Saya tiga minggu yang lalu, tanggal 27 Mei 2013, mungkin Anda orang yang beruntung.  Terlebih lagi jika Anda sempat membaca tulisan Market Outlook untuk Bulan Juni yang saya sebar luaskan pada sekitar tanggal 3 Juni 2013 kemarin lewat account twitter Saya: @rencanatrading, bisa jadi anda sudah melihat bahwa koreksi hingga kisaran 4721 – 4904 adalah sebuah koreksi yang wajar. Ketika market bergerak naik terlalu tinggi, atau turun terlalu dalam, kita harus selalu ingat:

Market memiliki kebiasaan untuk ‘ngerjain’ orang-orang yang lupa diri.

IHSG kemudian terkoreksi.  Agak kebablasan memang.  Suport di  4721 – 4904 tidak mampu menghentikan koreksi.  IHSG sempat mencapai titi terendah di 4510 sebelum rebound, kembali diatas support 4721 pada hari Jumat kemarin.

Sebagian besar orang panik.  Haru biru karena portfolio minus, merah membara mengikuti koreksi harga.   Alhamdulillah, Saya tidak termasuk yang panik.  Pasar naik atau turun, itu adalah hal yang biasa.  Terutama karena sejak awal bulan saya sudah mengantisipasi adanya koreksi.

Satu hal yang membuat saya ‘gak percaya sampai geleng-geleng kepala dan bahkan menepok jidat’ adalah: ketika pada pertengahan minggu kemarin, ketika IHSG sudah dibawah 4700, adanya orang-orang (baca: analis) yang kemudian membuat prediksi bahwa IHSG masih bisa turun 10 persen, 15 persen, atau bahkan lebih lagi, jika dibandingkan dengan posisi IHSG di hari-hari itu.  Benar-benar GILA!!!  Coba anda bayangkan deh: ketika IHSG sudah turun 10% dari titik tertingginya, ketika harga saham sudah turun 12 persen – 15 persen dari titik tertingginya, ada orang yang biang: “Hey… ini IHSG masih mau turun lagi 15 persen!!! Anda sebaiknya jual!”.  Pernyataan ini berasa seperti mendorong orang putus asa yang sedang berada di bibir jurang ke dalam jurang yang lebih dalam!

Saya jadi teringat pada hari-hari pertama ketika saya memutuskan untuk melakukan ‘come back’ ke pasar modal.  Ketika itu, awal tahun 2005.  Setelah kecelakaan mobil yang menimpa saya pada tahun 2004, yang membuat saya kehabisan uang untuk meneruskan kuliah S2 saya di UGM, PT. Trimegah akhirnya menerima saya sebagai analis teknikal.  Nasehat pertama yang saya terima dari Bapak Fajar Hidayat (ketika itu menjabat sebagai Head of Research) dan Bapak Rosinu (ketika itu menjabat sebagai Direktur) kurang lebih adalah sebagai berikut:

Tom… Kamu bukan lagi analis jalanan.  Kamu bukan lagi analis dari sebuah sekuritas kecil.  Kamu sekarang bekerja di sebuah perusahaan besar.  Omongan Kamu bakal didengar oleh semua orang.  Jangan bikin orang panik, jangan bikin perusahaan malu.

Setelah itu, masa ospek saya tidak berlangsung lama.  Setelah berinteraksi dengan teman-teman: Kepala Cabang, Account Officer dan beberapa nasabah (ceritanya menjajaki keingingan dari pasar niy..), saya mengambil falsafah rekomendasi (yang sampai sekarang masih saya anut), seperti ini:

  • Rekomendasi itu harus dilakukan pada saham-saham yang aman.  Saham-saham yang fundamentalnya bagus.  Biar kalau yang ngikut nyangkut, mereka nantinya bisa lepas sendiri nyangkutnya ketika market naik (hehehe).
  • Jangan sampai keliru dalam memprediksi trend jangka menengah, karena itu akan menentukan reaksi beli atau jual dari para nasabah.  Nasabah kecil, mungkin tidak masalah karena posisi mereka bisa masuk-keluar, beli –jual dengan cepat.  Tapi, kalau nasabah besar, posisi beli atau posisi jual yang mereka lakukan, kadang perlu waktu beberapa harga atau beberapa hari untuk melakukan eksekusi.
  • Saham-saham tersebut juga harus memiliki likuditas yang cukup.  Ketika anda memiliki pengikut yang bejibun,banyak sekali, anda harus yakin bahwa likuditas dari saham itu cukup untuk menampung apabila seluruh rombongan anda masuk ke saham itu, dan kemudian bisa keluar lagi.  Ketika itu, saya ibarat mengendarai sebuah truk container.  Besar, berat, manuvernya juga sulit, jalan yang dilalui juga hanya jalan-jalan tertentu saja.  Tidak seperti mengendarai sebuah motor yang bisa lincah, sliat-sliut dimana-mana, masuk ke semua gang.
  • Cara prediksi, untuk saham besar, saham kecil, saham likuid, atau saham tidak likuid, sebenarnya sama.  Untuk ngomong prediksi pada publik, fokus hanya pada saham-saham yang kapitalisasi besar yang likuid.  Untuk saham-saham yang kecil, jawablah hanya jika ada orang yang bertanya.

Sekarang, Saya memang bekerja pada sebuah sekuritas yang lebih kecil.  Tapi, karena saya ‘eksis’ di berbagai media, entah itu melalui blog Rencana Trading atau blog di Kontan Online, Facebook, Twitter, media online, Koran, radio, bahkan televisi, tetap saja: Saya saat ini serasa sedang mengendarai sebuah Supertanker.  Manuvernya tidak bisa cepat dan lincah.  Rekomendasi tidak bisa lantas ‘sehari bilang beli, besoknya bilang jual’.  Tidak bisa juga hari ini rekomen, besok kemudian menghilang ketika rekomendasi saya salah arah.  Untuk belok saja, untuk menghadapi perubahan arah trend jangka menengah, saya harus bisa mengantisipasi beberapa hari sebelumnya.  Maklum,  dengan masa pengikut yang sudah semakin mendekati angka 10.000 orang, saya tetap  harus mampu memberikan gambaran yang obyektif terhadap kondisi pasar, memperlihatkan peluang, tapi tetap menjaga agar mereka tetap bertransaksi dengan rasional.

So…  Saya masih gak habis pikir dengan kelakuan analis jaman sekarang.  Sudah rekomendasinya telat, ngomongnya keras, bikin panik orang.  Iya kalau rekomendasinya betul… kalau ternyata IHSG nanti ke 5000 dulu sebelum ke 4000… apa nggak berabe? Terutama dengan stakeholder terpentingnya, yaitu Menteri BUMN sudah menginstruksikan BUMN dan Dana Pensiun untuk melakukan pembelian saham.  Apa nggak ‘menantang maut’ tuh?

Ini adalah beberapa point yang perlu diingat:

  • Saya masih tetap bullish.
  • Meski saya melihat bahwa kondisi saat ini memang jelek karena Pemerintah terlalu galau dalam menghadapi masalah BBM Subsidi, omongan pejabat yang tidak kondusif sebagai akibat dari kurangnya kualitas dari orang-orang yang ada di belakangnya, serta The Fed yang akan mengurangi besaran QE.  Tapi, saya tetap percaya bahwa seburuk-buruknya keadaan, kondisi fundamental emiten dan fundamental ekonomi, masih terlalu baik untuk menjustifikasi sebuah koreksi sebesar 15% atau bahkan 20%.
  • Kalau dari hitungan teknikal saya sih (Anda bisa membaca posting saya pada hari minggu kemarin, mengenai arah pergerakan IHSG hingga akhir tahun), saya tetap berpegang pada prediksi bahwa IHSG tahun ini masih memiliki peluang untuk kembali mencetak rekor baru diatas level 5251 yang diukir bulan lalu.
  • Level tertingi IHSG hingga akhir tahun, sangat tegantung dari level terendah yang akan dicapai dalam trend turun kali ini.
  • Dalam kondisi terburuk, hanya akan terkoreksi menuju kisaran support 4200-4400.  Dan setelah itu, IHSG masih bisa mencapai kisaran 5200-5500 sekali lagi, atau setidaknya…
  • IHSG di akhir tahun, masih memiliki peluang yang sangat besar untuk ditutup diatas level psikologis 5000.
  • Koreksi adalah kesempatan untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih murah.  Kita hanya perlu memandang koreksi sebagai hal yang biasa, sama seperti kita memandang rally sebagai hal yang biasa juga.

Point terakhir yang ingin saya sampaikan:

Mengendalikan Supertanker itu berbeda dengan menyetir becak.  Kalau Anda adalah juru mudi dari sebuah Supertanker tapi kelakuan anda seperti tukang becak, bisa jadi tempat anda memang bukan di anjungan dari Supertanker.  Malah, bisa jadi Jakarta bukanlah tempat untuk Anda. Mungkin Anda harus pergi ke Tangerang. Becak sudah dilarang di Jakarta, tapi masih boleh beroperasi di Tangerang.

(Oh iya… bagi anda pengendara supertanker yang ingin belajar mengemudi becak.. silakan mencari program terbaru dari Microsof: Becak Simulator. Hehehe..)

130617 Becak Simulator

Menjadi seorang analis, kita harus bijaksana dalam menceritakan masa depan yang kita lihat kepada stakeholder kita.  Prediksi itu untuk memberikan gambaran yang seimbang dan obyektif, bukan sebagai ajang untuk mencari popularitas, apalagi untuk menakut-nakuti.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih!!!

Sumber gambar: Kaskus, Google, diolah.