Archive

Archive for the ‘Knowledge from The Street’ Category

Panduan Trading Saham untuk Pemula*

August 5th, 2013 26 comments

Selamat pagi…

Alhamdulillah… akhirnya program Wakaf Ilmu yang saya lakukan selama bulan Ramadhan 1434 H ini selesai juga.  Biasa.. karena saya bukan siapa-siapa, dan saya juga bukan seorang hartawan yang bisa bagi-bagi duit untuk amal selama bulan Ramadhan ini, di awal bulan Ramadhan kemarin, saya memutuskan untuk membuat suatu ‘Kelompok Tulisan’ yang saya beri judul: Trading Saham untuk Pemula (Trading for Newbies).

Trading Saham untuk Pemula ini adalah suatu rangkaian tulisan yang tujuannya adalah memberikan gambaran mengenai apakah trading saham itu? jika dilihat dari sudut pandang seorang Satrio Utomo, atau bisa juga dari sudut pandang www.rencanatrading.com.  Harapan saya, rangkaian tulisan ini bisa menjadi starting point, titik awal bagi siapa saja yang ingin belajar cara untuk trading berbasis prediksi, trading berbasis trading plan.

Rangkaian Tulisan ini, sebenarnya lebih mirip sebuah buku.  Tapi, karena dalam prosesnya saya menuliskannya secara terpisah-pisah serta pada waktu yang berlainan dan tidak berurutan, maka untuk mendapatkan sebuah buku yang utuh, maka anda sebaiknya membaca dulu tulisan Pendahuluan pada halaman dibawah ini.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Alloh SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat.  Semoga Ilmu ini bisa memberikan barokah kepada saya dan keluarga, serta bagi anda semua yang membaca dan memanfaatkannya.  Semoga bisa membantu anda dalam memperoleh keuntungan dalam bertransaksi saham, di belantara Bursa Efek Indonesia yang ganas ini.

Terima kasih.

———

Pendahuluan

Keindahan itu terkadang hanya akan bisa anda dapatkan atau anda lihat, apabila anda bisa melihatnya dari sudut pandang yang tepat

Itu yang saya dapat ketika saya mempelajari cara untuk memperoleh keuntungan, memenangkan pertarungan dari lantai  Bursa Efek Indonesia.  Mencari profit di Bursa Efek, itu memang sangat sulit.  Banyak orang yang mencoba, lebih banyak lagi yang gagal.  Karena saya memulai karir saya sebagai broker, kemudian floor trader, dan belakangan (hampir 10 tahun terakhir) saya menekuni riset, saya sudah benar-benar melihat di grass root, bagaimana rasanya menjadi orang yang rugi.  Kalau cuman kehilangan hampir seluruh investasi awalnya, itu adalah sebuah hal yang lumrah.  Yang sering membuat hati saya sesak, adalah ketika melihat orang yang kehilangan seluruh aset, kehilangan kebahagiaan keluarga (harus berpisah dari anak dan istrinya karena keluarganya goncang atau bahkan terpecah), dan bahkan dibenci oleh anak, istri, dan seluruh keluarganya, sebagai akibat dari kerugian yang dilakukannya di Pasar Modal.

Saya juga memulai karir di pasar modal ini bukan dari sebuah cerita yang enak.  Kalau anda sudah membaca ‘Kata Pengantar’ di buku yang saya tulis, anda pasti juga sudah tahu bahwa saya memulainya dari posisi cut loss sebesar Rp 2 miliar (duit nasabah siy.. bukan duit saya sendiri), ketika saat itu gaji pokok saya masih sebesar Rp 200 ribu.  Lecutan semangat dari ‘kerugian yang tidak akan terbayar ini’, yang membuat saya giat untuk belajar, mencari cara untuk memperoleh profit di bursa saham ini.

Memang.. saya harus mengakui bahwa apa yang saya dapat, memang belum tentu juga merupakan cara yang paling menguntungkan.  Akan tetapi, bisa mendapatkan keuntungan yang cukup dan stabil, meski dalam kondisi market yang bearish, saya kira adalah apa yang saya cari, ketika saya pertama kali memutuskan untuk ‘mencari jalan untuk memperoleh keuntungan’.

Menjadi seorang ‘Pemula’ di pasar modal kita ini, tidaklah mudah.  Selain resiko pasar, minimnya perlindungan dari otoritas terhadap pemodal pemula, ditambah banyaknya orang yang ‘berusaha dengan sangat keras dan menggunakan segala macam cara’ untuk mengambil uang dari para pemodal, telah menjadikan banyak pemula terpaksa gulung tikar hanya setelah beberapa bulan mencoba untuk melakukan ‘investasi’ atau ‘ trading’ saham.  Selain itu, tidak adanya ‘batas standar pengetahuan yang layak’ bagi seorang pemodal pemula, disamping juga ‘pemodalnya males untuk belajar atau melakukan persiapan terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi’ juga merupakan sumber dari kekalahan, awal dari kerugian yang akan mereka dapatkan.

Oleh sebab itu, ketika salah satu sepupu saya menanyakan kepada saya mengenai bagaimana cara seorang pemula bisa mempelajari prediksi dan trading saham, saya kemudian terpikir, untuk membuat sebuah ‘sumber pengetahuan dasar’ bagi seorang pemodal pemula dengan menggabungkan tulisan-tulisan yang sudah ada sebelumnya pada blog saya ini.

Dalam benak saya, dari pada membuat buku yang sepertinya butuh sebuah effort yang sangat besar, merangkai ‘potongan-potongan pengetahuan’ yang telah saya share pada blog ini semenjak 9-9-9 (9 September 2009), menjadi sebuah bangunan fondasi bagi seorang pemodal pemula, adalah sesuatu yang lebih feasible, mudah, dan cepat untuk dilakukan. Disini kemudian saya memulai program ‘Wakaf Ilmu Trading bagi Pemula’ yang tidak lain adalah usaha saya untuk membuat sebuah rangkaian panduan ‘trading to win’, bagi seorang newbies.  Well..  beberapa orang kemudian berkata.. bahwa produktifitas saya kali ini.. adalah pelarian saya untuk tidak mengerjakan thesis (hihihi).

Tapi.. terserah deh… saya berharap agar teman-teman yang merasa bahwa apa yang saya sharing ini berguna, mau mendoakan agar saya diberi kemudahan dalam mengerjakan Thesis.  Hehehe.

Pengetahuan Dasar Trading Saham bagi Seorang Pemodal Pemula

Sekarang.. marilah kita berbicara tentang isi dari Pengetahuan Dasar Trading Saham bagi Seorang Pemodal Pemula. Pada prinsipnya, apa yang sudah saya sharing semenjak awal bulan Ramadhan yang lalu, sebenarnya sudah sangat mencukupi.  Akan tetapi, saya kemudian memutuskan untuk membuat dua buah tulisan lagi, tentang definisi saya mengenai ‘bagaimana cara memperoleh profit‘ dan ‘apa itu pergerakan harga saham‘ yang tidak lain adalah ‘nyawa’ dari pengetahuan dasar pasar modal bagi pemula. Dari sini, kita bisa mempersiapkan pengetahuan awal bagi seorang pemodal pemula ketika dia pertama kali mencoba untuk memperoleh keuntungan di bursa saham.

1.  Persiapan diri: Mencari Sudut Pandang

Berisikan mengenai pengetahuan tentang definisi-definisi dasar yang diperlukan bagi seorang Pemodal Pemula.  Disini saya mempersiapkan sudut pandang yang sebaiknya diambil oleh seorang pemodal pemula.  Sudut pandang menjadi sangat penting, karena akan menentukan keberhasilan dari trader pemula itu untuk bisa memperoleh profit yang konsisten.  Kegagalan untuk memahami perbedaan antara ‘trading dan investasi’ misalnya, sering kali menjadi penyebab utama dari kegagalan seorang pemodal untuk memperoleh profit.

Bagian ini terdiri dari 10 tulisan:

Bagian ini diawali dari falsafah dasar dari seorang trader, dimana trader harus bisa membedakan diri dari investasi.  Trader tidak bisa melakukan keduanya secara bersamaan karena

2.  Persiapan pengetahuan

Pada dasarnya, seorang trader harus memiliki pengetahuan mengenai analisis harga saham.  Analisis harga saham baik dari sisi nilai (harga) dari perusahaan itu (secara fundamental) maupun analisis pergerakan harga (secara teknikal).  Itu sebabnya, saya memulai bagian ini dengan membahas mengenai sudut pandang saya tentang bagaimana harga bisa bergerak, dengan melihat dari model-model pergerakan harga yang menurut saya perlu dipahami oleh seorang pemodal pemula.  Ini untuk membuat pemodal pemula sadar, bahwa untuk memprediksi, untuk membaca pergerakan harga saham, kita harus mengetahui ‘apa dan siapa yang menggerakkan pasar’.  Sehingga kita bisa memperoleh pola pikir yang benar dalam melihat pergerakan harga.

Setelah itu, baru saya masuk ke bahasan mengenai cara untuk menganalisis, baik secara fundamental atau teknikal. Bagusnya… kalau trader tersebut mau melihat sendiri, menganalisis sendiri kondisi fundamental perseroan.  Tapi, karena (biasanya) trader tidak memiliki waktu untuk belajar yang mendalam tentang fundamental perseroan (hehehe… saya sendiri juga males untuk belajar FA terlalu dalam karena pasti kalah pintar sama analis-analis fundamental yang diluar sono..), maka disini saya mencoba untuk mengajarkan tentang cara ‘read between the line’ atas analisis fundamental yang dibuat oleh orang (konsensus analisis), maupun terhadap variabel-variabel atau event-event fundamental (seperti pengumuman deviden, pengumuman kinerja emiten).

Setelah analisis fundamental, kita masuk ke dalam bahasan tentang analisis teknikal.  Saya memulainya dengan struktur pembelajaran analisis teknikal yang sebaiknya ditempuh oleh seorang pemodal pemula.  Ini karena saya sedikit concern tentang perilaku dari pemodal pemula yang maunya instan. Jangan dipikir bahwa dengan membayar kursus sekali yang berharga mahal, anda lantas bisa memperoleh alat teknikal untuk memenangkan pertarungan.  Meski bukannya tidak mungkin, tapi.. alangkah baiknya jika kita mau mempelajari semua sudut pandang yang ada sebelum kita menentukan sudut pandang yang baik, yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Saya percaya, bahwa untuk memenangkan pertarungan, kita harus memiliki pengetahuan mengenai teknik dasar secara ‘paripurna’. Itu yang membuat dalam mempelajari analisis teknikal ini, saya lebih berkutat pada suport, resisten, dan trend, plus bagaimana cara kita melakukan posisi beli atau posisi jual dengan memanfaatkan suport, resisten, dan trend tersebut.  Sisanya nanti bisa anda  pelajari sendiri lah.. baik dari buku-buku analisis teknikal yang ada, maupun pada bagian ‘charting skills’ yang merupakan bagian lain yang ada pada weblog ini.

3.  Membaca market (Regional – Lokal)

Pada dasarnya, anda tidak boleh lupa bahwa basic saya adalah seorang analis pasar. Seorang analis yang kemudian berusaha untuk mengaplikasikan pengetahuannya untuk memperoleh profit.  Itu sebabnya, saya membaca pasar sering kali dengan cara ‘top to bottom’.  Dari regional, IHSG, baru setelah itu saya mencari saham yang kemungkinan akan bergerak.  Itu sebabnya, dalam bagian dimana saya menjelaskan mengenai ‘bagaimana kita membaca pasar’ ini, anda akan menemukan bagaimana kita bisa ‘menterjemahkan’ prediksi kita terhadap pasar (dari Indeks Dow Jones, Hang Seng, hingga IHSG) , menjadi sebuah posisi trading, melalui Teori Gerbong (sector rotation).

4.  Persiapan menghadapi psikologi pasar

Trading itu… teori hanya menentukan 10 persen dari kemenangan.   Yang 90 persen, berasal dari pemahaman kita mengenai psikologi trading.  Ini yang membuat penentuan sudut pandang akan segala permasalahan yang terkait dengan ‘pemenangan trading, memperoleh profit’ sebaiknya lebih terfokus pada masalah pemahaman kita terhadap psikologi trading.  Benarkah begitu? Hehehe…

Well… Psikologi trading itu membuat kita memiliki sudut padang yang benar terhadap ‘pemenangan trading’. Tapi.. psikologi terpenting adalah bagaimana kita bisa disiplin dalam trading, disiplin terhadap rencana trading yang telah kita susun.  Jadi.. saya menyusun bagian ini dari yang terpenting, yaitu disiplin, disiplin dalam positioning dan juga cut loss.  Setelah itu, saya kemudian membahas sudut pandang terhadap macam-macam hal, sebelum akhirnya kembali ke dalam kesimpulan, bahwa ‘menjadi trader itu.. harus disiplin.. dan tidak boleh sombong.

—————–

So…  Setiap orang adalah individu yang berbeda.   Dalam menempuh jalan trading, setiap orang juga akan menempuh jalan yang berbeda, pendekatan yang berbeda. Apa yang saya berikan, atau wakafkan disini… sebenarnya hanya setetes air ditengah samudra yang luas.  Akan tetapi, saya berharap agar hal yang kecil ini, bisa menjadi dasar bagi pemahaman anda terhadap ilmu persahaman, dunia persahaman yang benar-benar ganas ini.

Semoga ilmu ini menjadi bermanfaat untuk anda, dan bisa memberikan barokah kepada saya dan anda juga.  Semoga setiap kerugian bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Barakallahu fikum…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

PS: Tulisan saya yang ada disini, sebagian besar sebenarnya adalah tulisan yang nantinya akan muncul pada buku saya berikutnya.  Harapan saya, anda tidak melakukan copas tanpa ijin.  Dan.. kalau ada orang yang melakukan copas tanpa ijin.. ada baiknya anda memberitahukannya kepada saya.  Terima kasih.

Dahlan Iskan vs Bursa Saham*

July 29th, 2013 4 comments

Selamat pagi…

Masih segar benar dalam ingatan saya.  Saat itu, tanggal 13 Juni 2013.  IHSG sudah turun lebih dari 10%, dari level 5200-an ke sekitar level 4600.  Pada running text di account twitter saya, @rencanatrading, saya membaca sebuah berita dari media online yang saya follow, judulnya  ‘Dahlan: Mumpung Harga Saham Turun, BUMN Beli Saham Blue Chip’. Hm.. menarik ini.. saya pikir.  Saya kemudian baca lebih lanjut.  Isinya ternyata sebagai berikut:

“Supaya menahan dolar. dan membantu penguatan rupiah. Pemilik uang yang besar termasuk dana-dana pensiun BUMN supaya membeli saham blue chip, karena harganya sedang turun dan nanti akan naik lagi,” kata Dahlan di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/6/2013).

“Nah terserah sampai naiknya berapa, kalau nanti itu menguat, pekan depan kan bisa jual. Hukum ekonominya begitu,” tambah Dahlan.

Well… alasannya memang berasa ‘aneh’ di logika saya.  Tapi.. saat IHSG turun terlalu dalam dalam (10 persen) waktu yang telalu cepat (hanya 2 minggu), reflek saya sebagai analis adalah: saya harus mencari alasan untuk memberikan rekomendasi beli.  Dan pendapat dari Pak Dahlan ini, terasa sebagai alasan yang paling masuk akal bagi saya, untuk terus optimis, memberikan rekomendasi beli.  Saya kemudian sms ke teman saya yang sekitar 2 – 3 tahun yang lalu sempat menjadi orang kepercayaan Pak Dahlan di Jawa Pos.  Saya bertanya kepada teman saya itu: Mas.. Pak Dahlan itu, investasi atau trading saham apa enggak sih? Jawaban teman saya: nggak tahu kalau sekarang, tapi dulu (lebih dari 10 tahun yang lalu), pak Dahlan pernah mencoba, setelah tapi tidak berhasil (rugi), akhirnya beliau tinggalkan.  Beliau tidak punya waktu sepertinya, itu yang membuat beliau tidak melakukan investasi saham.

Hm.. berarti pendapat dari Pak Dahlan itu, bisa dikatakan sebagai perwakilan dari ‘pendapat awam’.  Mereka yang tidak berkecimpung langsung pada dunia per-‘saham’-an.

Eh.. saya jadi ingat twit dari beberapa ‘analis’ pada pagi harinya: IHSG ke 4000!!! IHSG ke 3600!!! Mereka yang dengan ‘semangat 45’, ‘meminta secara tak langsung’ kepada pemodal untuk melakukan posisi jual, yang sudah barang tentu merupakan posisi cut loss.

Saya kemudian terbayang: Pak Dahlan, yang merupakan ‘perwakilan awam’ vs analis yang merupakan ‘ahli’ (mereka yang pekerjaannya melototin pasar), siapa sih yang lebih pintar?

Kita sekarang, tentu sudah tahu jawabannya.  Orang yang pegang pernyataan Pak Dahlan bahwa “Nah terserah sampai naiknya berapa, kalau nanti itu menguat, pekan depan kan bisa jual. Hukum ekonominya begitu,” , pasti saat ini sudah senyum-senyum dengan profit di kantongnya.

 

Lucunya.. hari-hari ini, ketika analis-analis itu sudah mulai ‘agak positif’, menaikkan target dari 4000 menjadi lebih tinggi dari itu, saya malah sudah mulai bearish.  Saya malah melihat bahwa earning season, waktu publikasi kinerja semester pertama 2013, yang berlangsung ditengan ‘Rupiah yang sedang gemeteran’, seperti sekarang ini, resikonya terlihat terlalu besar.  Resikonya menjadi besar karena pada kuartal pertama kemarin, lebih dari 70% emiten yang menjadi sample saya, gagal untuk mencetak laba bersih sesuai dengan harapan konsensus analis.  Plus.. Bank Indonesia terlihat sedang getol-getolnya menghancurkan mood pasar: yang bikin pernyataan bahwa inflasi akan berlangsung terlalu tinggi setelah kenaikan BBM, yang menaikkan BI Rate terlalu tinggi ketika Dollar malah sedang melemah, yang terus bilang bahwa sektor property kita bubble padahal setelah pamor dari batubara meredup, harga emas jatuh, IHSG terkoreksi; hanya sektor itulah yang menjadi ‘mainan’ dari orang berduit yang masih terus memacu ‘harapan’, berspekulasi.

Heran… Tidak seperti Pak Dahlan yang mencoba untuk menjaga mood pasar dengan pernyataan-pernyataan yang kondusif, Bank Indonesia yang seharusnya menjaga mood pasar agar Rupiah terjaga, malah berlomba-lomba ‘menghancurkan’ mood daripada pasar tersebut.  Ini yang membuat saya menjadi galau.

Earning Season sudah mulai memakan korban.  Pada hari Jumat kemarin, saham-saham seperti MAPI dan PTBA sudah mulai berguguran.  ASII juga sudah memberikan signal negatif.  IHSG sudah ditutup dibawah suport, mengakhiri trend naik.  Saya bahkan hanya bisa ‘berharap bahwa suport di 4200-4400 masih bisa bertahan’.  ‘Berharap’ karena dalam realitanya, ketika IHSG belum juga mencetak level tertinggi baru diatas 4880 meski indeks Dow Jones Industrial (DJI) mencetak rekor baru, telah membuat saya mulai realistis untuk ‘tidak menutup kemungkinan’ bahwa secara teknikal, IHSG bisa bergerak menuju level 4000.  Saat ini, peluang pergerakan IHSG untuk menuju level 4000 atau 5000, terlihat lebih besar peluang untuk ke 4000.  Meskipun… saya masih gak ngerti dari mana tekanan jualnya karena posisi pemodal asing di pasar reguler, per hari Jumat kemarin, sudah berada pada level ‘nol’, kosong, untuk posisi semenjak awal tahun 2012.  (dan) Meskipun (lagi)… Saya masih ‘berharap’ bahwa suport di 4200 – 4400, masih bisa menahan potensi koreksi yang mungkin bisa terjadi untk IHSG.

Jujur.. mengenai peluang IHSG untuk kembali ke level psikologis 5000, akan sangat bergantung dari apakah jika indeks Dow Jones Industrial (DJI) terus bergerak naik ke level 16000-16200, bisa membuat pemodal asing kemudian kembali masuk ke bursa kita.  Kondisi dari earning season yang sepertinya sentimennya bakal buruk, ditambah dengan pernyataan BI yang terus menghancurkan mood dari pasar, membuat saya semakin ragu, semakin galau atas peluang IHSG untuk kembali ke atas level 5000.

Menjadi ‘Public Figure’ itu harusnya seperti Pak Dahlan.  Harus ‘mampu memberikan pernyataan yang menyejukkan’, bukan malah membuat pasar menjadi semakin galau.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Ketika ‘Mengendalikan Supertanker’ berbeda dengan ‘Menyetir Becak’*

June 19th, 2013 3 comments

Selamat pagi…

Kalau Anda adalah orang yang sempat membaca beberapa ‘peringatan’ yang ada pada tulisan Wake Up Call Saya tiga minggu yang lalu, tanggal 27 Mei 2013, mungkin Anda orang yang beruntung.  Terlebih lagi jika Anda sempat membaca tulisan Market Outlook untuk Bulan Juni yang saya sebar luaskan pada sekitar tanggal 3 Juni 2013 kemarin lewat account twitter Saya: @rencanatrading, bisa jadi anda sudah melihat bahwa koreksi hingga kisaran 4721 – 4904 adalah sebuah koreksi yang wajar. Ketika market bergerak naik terlalu tinggi, atau turun terlalu dalam, kita harus selalu ingat:

Market memiliki kebiasaan untuk ‘ngerjain’ orang-orang yang lupa diri.

IHSG kemudian terkoreksi.  Agak kebablasan memang.  Suport di  4721 – 4904 tidak mampu menghentikan koreksi.  IHSG sempat mencapai titi terendah di 4510 sebelum rebound, kembali diatas support 4721 pada hari Jumat kemarin.

Sebagian besar orang panik.  Haru biru karena portfolio minus, merah membara mengikuti koreksi harga.   Alhamdulillah, Saya tidak termasuk yang panik.  Pasar naik atau turun, itu adalah hal yang biasa.  Terutama karena sejak awal bulan saya sudah mengantisipasi adanya koreksi.

Satu hal yang membuat saya ‘gak percaya sampai geleng-geleng kepala dan bahkan menepok jidat’ adalah: ketika pada pertengahan minggu kemarin, ketika IHSG sudah dibawah 4700, adanya orang-orang (baca: analis) yang kemudian membuat prediksi bahwa IHSG masih bisa turun 10 persen, 15 persen, atau bahkan lebih lagi, jika dibandingkan dengan posisi IHSG di hari-hari itu.  Benar-benar GILA!!!  Coba anda bayangkan deh: ketika IHSG sudah turun 10% dari titik tertingginya, ketika harga saham sudah turun 12 persen – 15 persen dari titik tertingginya, ada orang yang biang: “Hey… ini IHSG masih mau turun lagi 15 persen!!! Anda sebaiknya jual!”.  Pernyataan ini berasa seperti mendorong orang putus asa yang sedang berada di bibir jurang ke dalam jurang yang lebih dalam!

Saya jadi teringat pada hari-hari pertama ketika saya memutuskan untuk melakukan ‘come back’ ke pasar modal.  Ketika itu, awal tahun 2005.  Setelah kecelakaan mobil yang menimpa saya pada tahun 2004, yang membuat saya kehabisan uang untuk meneruskan kuliah S2 saya di UGM, PT. Trimegah akhirnya menerima saya sebagai analis teknikal.  Nasehat pertama yang saya terima dari Bapak Fajar Hidayat (ketika itu menjabat sebagai Head of Research) dan Bapak Rosinu (ketika itu menjabat sebagai Direktur) kurang lebih adalah sebagai berikut:

Tom… Kamu bukan lagi analis jalanan.  Kamu bukan lagi analis dari sebuah sekuritas kecil.  Kamu sekarang bekerja di sebuah perusahaan besar.  Omongan Kamu bakal didengar oleh semua orang.  Jangan bikin orang panik, jangan bikin perusahaan malu.

Setelah itu, masa ospek saya tidak berlangsung lama.  Setelah berinteraksi dengan teman-teman: Kepala Cabang, Account Officer dan beberapa nasabah (ceritanya menjajaki keingingan dari pasar niy..), saya mengambil falsafah rekomendasi (yang sampai sekarang masih saya anut), seperti ini:

  • Rekomendasi itu harus dilakukan pada saham-saham yang aman.  Saham-saham yang fundamentalnya bagus.  Biar kalau yang ngikut nyangkut, mereka nantinya bisa lepas sendiri nyangkutnya ketika market naik (hehehe).
  • Jangan sampai keliru dalam memprediksi trend jangka menengah, karena itu akan menentukan reaksi beli atau jual dari para nasabah.  Nasabah kecil, mungkin tidak masalah karena posisi mereka bisa masuk-keluar, beli –jual dengan cepat.  Tapi, kalau nasabah besar, posisi beli atau posisi jual yang mereka lakukan, kadang perlu waktu beberapa harga atau beberapa hari untuk melakukan eksekusi.
  • Saham-saham tersebut juga harus memiliki likuditas yang cukup.  Ketika anda memiliki pengikut yang bejibun,banyak sekali, anda harus yakin bahwa likuditas dari saham itu cukup untuk menampung apabila seluruh rombongan anda masuk ke saham itu, dan kemudian bisa keluar lagi.  Ketika itu, saya ibarat mengendarai sebuah truk container.  Besar, berat, manuvernya juga sulit, jalan yang dilalui juga hanya jalan-jalan tertentu saja.  Tidak seperti mengendarai sebuah motor yang bisa lincah, sliat-sliut dimana-mana, masuk ke semua gang.
  • Cara prediksi, untuk saham besar, saham kecil, saham likuid, atau saham tidak likuid, sebenarnya sama.  Untuk ngomong prediksi pada publik, fokus hanya pada saham-saham yang kapitalisasi besar yang likuid.  Untuk saham-saham yang kecil, jawablah hanya jika ada orang yang bertanya.

Sekarang, Saya memang bekerja pada sebuah sekuritas yang lebih kecil.  Tapi, karena saya ‘eksis’ di berbagai media, entah itu melalui blog Rencana Trading atau blog di Kontan Online, Facebook, Twitter, media online, Koran, radio, bahkan televisi, tetap saja: Saya saat ini serasa sedang mengendarai sebuah Supertanker.  Manuvernya tidak bisa cepat dan lincah.  Rekomendasi tidak bisa lantas ‘sehari bilang beli, besoknya bilang jual’.  Tidak bisa juga hari ini rekomen, besok kemudian menghilang ketika rekomendasi saya salah arah.  Untuk belok saja, untuk menghadapi perubahan arah trend jangka menengah, saya harus bisa mengantisipasi beberapa hari sebelumnya.  Maklum,  dengan masa pengikut yang sudah semakin mendekati angka 10.000 orang, saya tetap  harus mampu memberikan gambaran yang obyektif terhadap kondisi pasar, memperlihatkan peluang, tapi tetap menjaga agar mereka tetap bertransaksi dengan rasional.

So…  Saya masih gak habis pikir dengan kelakuan analis jaman sekarang.  Sudah rekomendasinya telat, ngomongnya keras, bikin panik orang.  Iya kalau rekomendasinya betul… kalau ternyata IHSG nanti ke 5000 dulu sebelum ke 4000… apa nggak berabe? Terutama dengan stakeholder terpentingnya, yaitu Menteri BUMN sudah menginstruksikan BUMN dan Dana Pensiun untuk melakukan pembelian saham.  Apa nggak ‘menantang maut’ tuh?

Ini adalah beberapa point yang perlu diingat:

  • Saya masih tetap bullish.
  • Meski saya melihat bahwa kondisi saat ini memang jelek karena Pemerintah terlalu galau dalam menghadapi masalah BBM Subsidi, omongan pejabat yang tidak kondusif sebagai akibat dari kurangnya kualitas dari orang-orang yang ada di belakangnya, serta The Fed yang akan mengurangi besaran QE.  Tapi, saya tetap percaya bahwa seburuk-buruknya keadaan, kondisi fundamental emiten dan fundamental ekonomi, masih terlalu baik untuk menjustifikasi sebuah koreksi sebesar 15% atau bahkan 20%.
  • Kalau dari hitungan teknikal saya sih (Anda bisa membaca posting saya pada hari minggu kemarin, mengenai arah pergerakan IHSG hingga akhir tahun), saya tetap berpegang pada prediksi bahwa IHSG tahun ini masih memiliki peluang untuk kembali mencetak rekor baru diatas level 5251 yang diukir bulan lalu.
  • Level tertingi IHSG hingga akhir tahun, sangat tegantung dari level terendah yang akan dicapai dalam trend turun kali ini.
  • Dalam kondisi terburuk, hanya akan terkoreksi menuju kisaran support 4200-4400.  Dan setelah itu, IHSG masih bisa mencapai kisaran 5200-5500 sekali lagi, atau setidaknya…
  • IHSG di akhir tahun, masih memiliki peluang yang sangat besar untuk ditutup diatas level psikologis 5000.
  • Koreksi adalah kesempatan untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih murah.  Kita hanya perlu memandang koreksi sebagai hal yang biasa, sama seperti kita memandang rally sebagai hal yang biasa juga.

Point terakhir yang ingin saya sampaikan:

Mengendalikan Supertanker itu berbeda dengan menyetir becak.  Kalau Anda adalah juru mudi dari sebuah Supertanker tapi kelakuan anda seperti tukang becak, bisa jadi tempat anda memang bukan di anjungan dari Supertanker.  Malah, bisa jadi Jakarta bukanlah tempat untuk Anda. Mungkin Anda harus pergi ke Tangerang. Becak sudah dilarang di Jakarta, tapi masih boleh beroperasi di Tangerang.

(Oh iya… bagi anda pengendara supertanker yang ingin belajar mengemudi becak.. silakan mencari program terbaru dari Microsof: Becak Simulator. Hehehe..)

130617 Becak Simulator

Menjadi seorang analis, kita harus bijaksana dalam menceritakan masa depan yang kita lihat kepada stakeholder kita.  Prediksi itu untuk memberikan gambaran yang seimbang dan obyektif, bukan sebagai ajang untuk mencari popularitas, apalagi untuk menakut-nakuti.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih!!!

Sumber gambar: Kaskus, Google, diolah.

Pengumuman Kinerja Emiten: Perbedaan Reaksi antara Pemodal Asing vs Pemodal Aseng

March 28th, 2013 No comments

Selamat pagi…

….Harga saham TLKM ini bagaimana? Katanya laba bersihnya naik 17,24 persen, kok harga sahamnya turun???  Memang kurang ajar sekali bandar saham TLKM ini…. Pemodal retail seperti saya selalu dikerjain!

Itu adalah komentar dari seorang pemodal retail yang sempat curcol (curhat colongan) pada tanggal 7 Maret lalu, sehari setelah PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mempublikasikan kinerja keutangan untuk tahun buku 2012.

Saya kemudian bertanya: “Loh Pak… emang kalau laba bersih naik, terus harga sahamnya harus naik?”

Pemodal itu menjawab: “Iya lah… saham  XXXX yang saya  punya (beliau menyebutkan salah satu saham lapis kedua), kemarin harganya langsung naik setelah mengumumkan kinerjanya meroket”.

Ketika earning season (waktu dimana emiten biasanya mengumumkan kinerja keuangannya), mengharapkan harga akan bergerak naik ketika pengumuman kinerja positif dari sebuah emiten adalah kebiasaan hampir selalu dilakukan oleh seorang pemodal retail.  Padahal, reaksi pasar terhadap penyampaian kinerja emiten, sebenarnya tidak sama untuk setiap emiten.  Salah satu perbedaan yang sering bisa kita lihat adalah: perbedaan reaksi dari saham yang biasanya menjadi ‘mainan’ dariPemodal Asing’ (saham-saham yang penggeraknya adalah pemodal asing, biasanya adalah saham saham blue chip dengan kapitalisasi pasar yang besar), dengan saham-saham lapis kedua yang penggeraknya biasanya adalah pemodal lokal, ‘Pemodal Aseng’ begitu orang menyebutnya.

Di kalangan pemodal, saham-saham tersebut kemudian disebut sesuai dengan siapa pemainnya.  ‘Saham Asing’ adalah saham-saham yang pemain utamanya adalah pemodal asing, atau setidaknya adalah fund manager (baik lokal maupun asing) yang melakukan transaksi berdasarkan hitungan fundamental yang mereka lakukan.  Saham-saham ini biasanya memiliki kapitalisasi yang besar, yang merupakan penggerak indeks benchmark (bisa IHSG, LQ-45,  atau indeks yang lain, termasuk didalamnya indeks sektoral), atau setidaknya, merupakan saham-saham yang banyak diteropong oleh tim riset dari foreign houses (broker-broker asing).  ASII, BMRI, BBRI, TLKM, BBCA adalah beberapa contoh dari Saham Asing ini.

Saham Aseng adalah semua saham yang selain selain saham asing tersebut, yang sering kali dimainkan oleh pemodal lokal.

Alasan dari Penyebab dari perbedaan ini adalah: pemodal asing melakukan penghitungan valuasi, baik secara langsung, ataupun secara tidak langsung yang dilakukan oleh research house asing tempat mereka bertransaksi.  Valuasi tersebut, komponen utamanya adalah laba bersih.  Jadi:

Pemodal asing bereaksi terhadap perbandingan laba bersih emiten setelah dibandingkan dengan angka konsensus atau angka hitungan yang mereka lakukan sendiri.  Jika laba bersih itu diatas hitungan (ekspektasi) mereka, maka (kemungkinan besar) mereka akan menaikkan valuasi dari emiten tersebut, dan itu bisa membuat arus pemodal untuk membeli saham tersebut.  Sebaliknya, jika laba bersih dibawah ekspektasi, maka pemodal asing (sering kali) akan melakukan aksi jual, karena mereka bisa saja menurunkan peringkat rekomendasi atau menurunkan valuasi dari emiten tersebut.

Sedangkan untuk pemodal Aseng… mereka biasanya tidak berhitung.  Ada sih yang berhitung, tapi biasanya tidak banyak.  Nah.. Karena tidak berhitung, penyakit ‘gumunan’ (gampang heran), sering kali menyergap pemodal Aseng. Jadi…

Pemodal Aseng hanya melihat growth (pertumbuhan/ peningkatan laba bersih).  Kalau pertumbuhannya tinggi, mereka akan melakukan aksi beli, dengan harapan deviden yang diharapkan bakal lebih banyak.

Contoh terakhir dari reaksi Asing terhadap Saham Asing, bisa dilihat pada saham TLKM.  Kalau anda melihat kinerja TLKM laba bersih naik 17,24% tapi harga turun, tolong cek dulu angka konsensus laba bersihnya*.  Disitu bisa dilihat bahwa ternyata konsensus laba bersih TLKM adalah sebesar Rp 13,2 tr… sedangkan laba bersih TLKM hanya sebesar Rp 12,8.  Jadi… kenaikan 17,24% tidak memuaskan mereka.. mereka kemudian melakukan posisi jual.  Pada ASII juga kejadiannya kurang lebih sama.  Karena kinerja FY 2012 ternyata dibawah ekspetasi

Kalau contoh reaksi pemodal lokal (Pemodal Aseng) terhadap pergerakan dari saham-saham ?  Banyak lah… anda tinggal lihat headline dari surat kabar atau online news, apalagi kalau baru sekedar rumor.  Kalau ada berita bagus tentang kinerja emiten…. dengan kinerja naik diatas 100%… sering kali harga bergerak naik… meski terkadang kenaikannya hanya intraday.  Kalau Saham Aseng yang kemudian malah turun setelah pengumuman kinerja, tolong juga jangan dipukul rata bahwa ‘bandarnya jahat’, mau ngerjarin pemodal retail, dll.  Bisa saja koreksi tersebut, akibat pemodal tidak lagi melihat peluang untuk terjadinya ‘massive earning growth’ (kenaikan pendapatan atau laba perusahaan dalam jumlah yang luar biasa) untuk di masa yang akan datang.  Sebagai contoh: kalau perusahaan property, bisa saja karena cadangan lahan kosong (land bank) yang dimilikinya memang sudah habis.  Atau, untuk perusahaan batubara yang baru saja backdoor listing, bisa jadi backdoor listing tersebut sudah berlangsung lebih satu tahun yang lalu.  Jadi, pada laporan keuangan mendatang ‘ledakan kinerja’ yang biasanya mengikuti saham backdoor listing, pengaruhnya sudah hilang.  Pada laporan keuangan mendatang, pertumbuhan pendapatan atau labanya akan kembali ke asli, terkait dengan harga batubara yang selama setahun terakhir ini turun.

Jadi… kalau ada pengumuman kinerja, belum tentu kenaikan laba bersih yang spektakuler akan membuat harga saham bergerak naik.  Anda harus melihat banyak faktor, sebelum memutuskan untuk melakukan perburuan di pagi hari, ketika saham mulai diperdagangkan.

So… saham apa yang sedang anda pegang? Saham Asing atau Saham Aseng? Semoga tulisan ini bisa menjadi bekal agar anda bisa bereaksi dengan lebih baik pada earning season kuartal pertama 2013 yang akan mulai berlangsung sebulan lagi.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*angka konsensus laba bersih yang saya gunakan disini, adalah angka konsensus yang da pada terminal Bloomberg.  Angka konsensus analis yang tersedia untuk umum, bisa dilihat website Reuters.

Because in Stock Market, Shit Always Happen…*

March 17th, 2013 1 comment

Selamat pagi…

Market lagi bagus.  IHSG sedang dalam trend naik yang kuat.  Saya barusan ngintip ke salah satu grup saham yang ada di FB.  Pesertanya sudah meningkat dengan pesat.  Udah gitu, banyak dari anggotanya, yang kemudian baru saja menjadi bloggers, dengan membuat blog-blog baru tentang saham.

Coba sekarang kita lihat chart dibawah ini… kalau harganya mau rebound, arahnya kemana?

130317 SMGR Invert

Pasti ada sebagian dari anda yang menjawab:

Ini saham mau rebound ke 14500!  Saya pake teori Pak Tommy yang bilang bahwa saham memiliki peluang yang sangat tinggi untuk bergerak menuju retracement 50%-nya!!!

Kalau itu jawaban anda…. saya mau bertanya lagi.  Emang saham diatas, harga berakhirnya berapa?

Betul… harga terakhirnya adalah 18250.  Itu adalah saham SMGR.  Dan, SMGR dari 18250 ke 14500, bukanlah rebound, tapi TURUN.

Tapi mengapa chartnya naik?

Pertama-tama, saya tidak mau bilang bahwa saya memprediksikan SMGR untuk turun ke 14500, karena masih banyak suport yang lain, seperti 17000 atau 16500 yang juga merupakan retracment 50% dari trend yang lebih pendek.

Tapi,

kita terkadang memang harus menerima bahwa pergerakan harga itu setidaknya memiliki 2 arah: naik atau turun

Kalau SMGR memang lari ke suport-suport itu, entah itu 17000, 16500, atau 14500, ya sudah sewajarnya.  Yang penting kita mau menerima bahwa arah pergerakan harga itu ada dua: naik atau turun.  Harga memang bisa saja… naik terus menerus dalam suatu periode tertentu.  Periode ini bisa saja panjaaaaaaag… dan lamaaaaaaaaa…. Tapi ada kalanya harga bergerak turun.

Point utama saya disini adalah:

Kalau anda mau survive di stock market, baik sebagai analis maupun sebagai seorang trader atau investor, jangan hanya pintar prediksi harga ketika bergerak naik, tapi anda harus pintar untuk prediksi ketika harga bergerak turun!!!

Apa? Anda mau bilang bahwa: Saham pilihan saya ini bullet proof pak… anti peluru.  Ditembak seperti apa saja, trend naiknya tidak akan berbalik.

Saya bertanya: Emang siapa yang jaga? Keng Hong? Kalau penguasa pasar yang besar (ssst…. jangan sebut Keng Hong sebagai bandar, anda bisa diomelin sama dia seperti dia mengomeli Majalah Fortune… hehehe) seperti Keng Hong yang jaga, saya masih percaya.  Karena dia terkadang suka bikin (almost) single stock portfolio.  Udah gitu, Keng Hong tidak percaya margin.  Meskipun pake atau tidak, saya sendiri juga tidak bisa memastikan.

Tapi kalau bandar-bandar ketengan, bandar-bandar yang lain, saya sih tidak percaya.  Kelemahan dari bandar-bandar yang lain, dan juga setiap orang adalah: mereka membentuk portfolio dan mereka menggunakan fasilitas margin dari perusahaan sekuritas.  Mereka melakukan itu, karena duit mereka, sebenarnya juga terbatas.  Udah gitu, mereka juga mahluk-mahluk yang serakah, sama seperti saya dan anda.  Karena mereka membentuk portfolio dan menggunakan margin, mereka sering kali kena domino effect: saham yang satu terjelengkang, akan menarik mereka untuk melepas saham yang lain yang ada di portfolionya.

Keng Hong aja… suka jualan kalau dia merasa bahwa harga sahamnya sudah ‘fully valued’.  Apalagi bandar-bandar ketengan itu?

So… Pertanyaannya adalah: Apakah strategi anda jika kira-kira trend naik IHSG dan/atau trend naik dari saham yang anda pegang berakhir? Apakah anda mau hold? Atau anda mau jual dulu? Kalau anda mau Hold, emang anda investor? Kalau anda adalah seorang trader, apakah anda masih tetap akan hold? Bukannya seorang trader itu prinsip utamanya adalah: Beli ketika mau naik, dan jual ketika mau turun?

Ingat loh…

Prinsip utama dari seorang trader adalah:

Beli ketika mau naik, dan jual ketika mau turun

Apakah strategi anda ketika trend naik berakhir?

Friendly Warning dari Aliran Dana Asing

Trend naik jangka menengah pada IHSG, memang belum berakhir.  Trend naik jangka panjangnya… apalagi.  Yang sudah berakhir hanya trend naik jangka pendek.  Tapi yang membuat saya waspada, net sell aliran dana asing, sudah melewati angka Rp 1 trilyun dalam 3 hari perdagangan terakhir.  Sebuah peringatan bahwa posisi beli dari pemodal asing, bisa saja sudah berakhir.  Tekanan jual, masih dilakukan secara sporadis.  Tekanan jual terbesar memang terlihat pada saham ASII yang kinerja FY2012nya dibawah ekspektasi.  Tapi, kalau anda mau melihat lebih dalam, ternyata tekanan jual juga sudah mulai terlihat pada saham-saham properti (seperti BSDE dan ASRI), terlepas adanya fakta bahwa kinerja FY2012 BSDE, sebenarnya masih diatas ekspektasi konsensus.

Tekanan jual pemodal asing, tidak hanya pada saham lapis pertama, tapi juga pada saham lapis ketiga.

Sekedar informasi… tahun kemarin, aliran dana asing di awal tahun, sempat dua kali masuk terus keluar, dalam jumlah yang relatif sama.  Yang pertama, mereka beli sekitar Rp 4,8 tr di bulan Januari, terus langsung keluar lagi dalam jumlah yang sama.  Mereka beli sekitar Rp 12,5 tr di bulan Maret – April, tapi mereka juga exit sekitar Rp 11 tr pada bulan April-Juli.

130317 Aliran dana asing

Asing beli banyak dan keluar dalam jumlah yang banyak juga, itu bukan barang baru.

Penutup

So… kalau anda lihat beberapa tulisan saya terakhir, baik dalam ‘Selamat Pagi’, ’15.45′, atau dalam tweet saya, anda bisa lihat bahwa saya sudah dalam posisi trading.  Saya sering sempat full cash di tengah hari… tapi kalau sore… saya suka ‘mengail di air bening’…. antri di saham-saham big caps, ngarep ada asing yang iseng lempar kiri.  Strategi yang beresiko tinggi.  Tapi… lumayan juga profitnya dalam dua hari terakhir.

Apakah anda sudah memiliki strategi untuk menghadapi market yang turun?

Saya masih tetap dalam prediksi, bahwa IHSG masih bisa 5000 tahun ini.  Tapi kalau ternyata trend jangka menengah berubah menjadi turun, saya sudah punya jalan keluarnya.  Saya sudah siap dengan cara prediksinya, dan saya juga sudah siap dalam bagaimana saya melakukan posisi beli atau posisi jualnya.

Membalik chart adalah cara saya untuk tetap bisa memiliki prediksi harga yang tetap bagus, baik ketika market naik dan juga ketika market bergerak turun.

Semoga anda juga sudah memiliki strategi jika ternyata trend naik ini ternyata sudah berakhir.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.