Archive

Archive for the ‘For Beginners’ Category

Panduan Trading Saham untuk Pemula*

August 5th, 2013 26 comments

Selamat pagi…

Alhamdulillah… akhirnya program Wakaf Ilmu yang saya lakukan selama bulan Ramadhan 1434 H ini selesai juga.  Biasa.. karena saya bukan siapa-siapa, dan saya juga bukan seorang hartawan yang bisa bagi-bagi duit untuk amal selama bulan Ramadhan ini, di awal bulan Ramadhan kemarin, saya memutuskan untuk membuat suatu ‘Kelompok Tulisan’ yang saya beri judul: Trading Saham untuk Pemula (Trading for Newbies).

Trading Saham untuk Pemula ini adalah suatu rangkaian tulisan yang tujuannya adalah memberikan gambaran mengenai apakah trading saham itu? jika dilihat dari sudut pandang seorang Satrio Utomo, atau bisa juga dari sudut pandang www.rencanatrading.com.  Harapan saya, rangkaian tulisan ini bisa menjadi starting point, titik awal bagi siapa saja yang ingin belajar cara untuk trading berbasis prediksi, trading berbasis trading plan.

Rangkaian Tulisan ini, sebenarnya lebih mirip sebuah buku.  Tapi, karena dalam prosesnya saya menuliskannya secara terpisah-pisah serta pada waktu yang berlainan dan tidak berurutan, maka untuk mendapatkan sebuah buku yang utuh, maka anda sebaiknya membaca dulu tulisan Pendahuluan pada halaman dibawah ini.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Alloh SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat.  Semoga Ilmu ini bisa memberikan barokah kepada saya dan keluarga, serta bagi anda semua yang membaca dan memanfaatkannya.  Semoga bisa membantu anda dalam memperoleh keuntungan dalam bertransaksi saham, di belantara Bursa Efek Indonesia yang ganas ini.

Terima kasih.

———

Pendahuluan

Keindahan itu terkadang hanya akan bisa anda dapatkan atau anda lihat, apabila anda bisa melihatnya dari sudut pandang yang tepat

Itu yang saya dapat ketika saya mempelajari cara untuk memperoleh keuntungan, memenangkan pertarungan dari lantai  Bursa Efek Indonesia.  Mencari profit di Bursa Efek, itu memang sangat sulit.  Banyak orang yang mencoba, lebih banyak lagi yang gagal.  Karena saya memulai karir saya sebagai broker, kemudian floor trader, dan belakangan (hampir 10 tahun terakhir) saya menekuni riset, saya sudah benar-benar melihat di grass root, bagaimana rasanya menjadi orang yang rugi.  Kalau cuman kehilangan hampir seluruh investasi awalnya, itu adalah sebuah hal yang lumrah.  Yang sering membuat hati saya sesak, adalah ketika melihat orang yang kehilangan seluruh aset, kehilangan kebahagiaan keluarga (harus berpisah dari anak dan istrinya karena keluarganya goncang atau bahkan terpecah), dan bahkan dibenci oleh anak, istri, dan seluruh keluarganya, sebagai akibat dari kerugian yang dilakukannya di Pasar Modal.

Saya juga memulai karir di pasar modal ini bukan dari sebuah cerita yang enak.  Kalau anda sudah membaca ‘Kata Pengantar’ di buku yang saya tulis, anda pasti juga sudah tahu bahwa saya memulainya dari posisi cut loss sebesar Rp 2 miliar (duit nasabah siy.. bukan duit saya sendiri), ketika saat itu gaji pokok saya masih sebesar Rp 200 ribu.  Lecutan semangat dari ‘kerugian yang tidak akan terbayar ini’, yang membuat saya giat untuk belajar, mencari cara untuk memperoleh profit di bursa saham ini.

Memang.. saya harus mengakui bahwa apa yang saya dapat, memang belum tentu juga merupakan cara yang paling menguntungkan.  Akan tetapi, bisa mendapatkan keuntungan yang cukup dan stabil, meski dalam kondisi market yang bearish, saya kira adalah apa yang saya cari, ketika saya pertama kali memutuskan untuk ‘mencari jalan untuk memperoleh keuntungan’.

Menjadi seorang ‘Pemula’ di pasar modal kita ini, tidaklah mudah.  Selain resiko pasar, minimnya perlindungan dari otoritas terhadap pemodal pemula, ditambah banyaknya orang yang ‘berusaha dengan sangat keras dan menggunakan segala macam cara’ untuk mengambil uang dari para pemodal, telah menjadikan banyak pemula terpaksa gulung tikar hanya setelah beberapa bulan mencoba untuk melakukan ‘investasi’ atau ‘ trading’ saham.  Selain itu, tidak adanya ‘batas standar pengetahuan yang layak’ bagi seorang pemodal pemula, disamping juga ‘pemodalnya males untuk belajar atau melakukan persiapan terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi’ juga merupakan sumber dari kekalahan, awal dari kerugian yang akan mereka dapatkan.

Oleh sebab itu, ketika salah satu sepupu saya menanyakan kepada saya mengenai bagaimana cara seorang pemula bisa mempelajari prediksi dan trading saham, saya kemudian terpikir, untuk membuat sebuah ‘sumber pengetahuan dasar’ bagi seorang pemodal pemula dengan menggabungkan tulisan-tulisan yang sudah ada sebelumnya pada blog saya ini.

Dalam benak saya, dari pada membuat buku yang sepertinya butuh sebuah effort yang sangat besar, merangkai ‘potongan-potongan pengetahuan’ yang telah saya share pada blog ini semenjak 9-9-9 (9 September 2009), menjadi sebuah bangunan fondasi bagi seorang pemodal pemula, adalah sesuatu yang lebih feasible, mudah, dan cepat untuk dilakukan. Disini kemudian saya memulai program ‘Wakaf Ilmu Trading bagi Pemula’ yang tidak lain adalah usaha saya untuk membuat sebuah rangkaian panduan ‘trading to win’, bagi seorang newbies.  Well..  beberapa orang kemudian berkata.. bahwa produktifitas saya kali ini.. adalah pelarian saya untuk tidak mengerjakan thesis (hihihi).

Tapi.. terserah deh… saya berharap agar teman-teman yang merasa bahwa apa yang saya sharing ini berguna, mau mendoakan agar saya diberi kemudahan dalam mengerjakan Thesis.  Hehehe.

Pengetahuan Dasar Trading Saham bagi Seorang Pemodal Pemula

Sekarang.. marilah kita berbicara tentang isi dari Pengetahuan Dasar Trading Saham bagi Seorang Pemodal Pemula. Pada prinsipnya, apa yang sudah saya sharing semenjak awal bulan Ramadhan yang lalu, sebenarnya sudah sangat mencukupi.  Akan tetapi, saya kemudian memutuskan untuk membuat dua buah tulisan lagi, tentang definisi saya mengenai ‘bagaimana cara memperoleh profit‘ dan ‘apa itu pergerakan harga saham‘ yang tidak lain adalah ‘nyawa’ dari pengetahuan dasar pasar modal bagi pemula. Dari sini, kita bisa mempersiapkan pengetahuan awal bagi seorang pemodal pemula ketika dia pertama kali mencoba untuk memperoleh keuntungan di bursa saham.

1.  Persiapan diri: Mencari Sudut Pandang

Berisikan mengenai pengetahuan tentang definisi-definisi dasar yang diperlukan bagi seorang Pemodal Pemula.  Disini saya mempersiapkan sudut pandang yang sebaiknya diambil oleh seorang pemodal pemula.  Sudut pandang menjadi sangat penting, karena akan menentukan keberhasilan dari trader pemula itu untuk bisa memperoleh profit yang konsisten.  Kegagalan untuk memahami perbedaan antara ‘trading dan investasi’ misalnya, sering kali menjadi penyebab utama dari kegagalan seorang pemodal untuk memperoleh profit.

Bagian ini terdiri dari 10 tulisan:

Bagian ini diawali dari falsafah dasar dari seorang trader, dimana trader harus bisa membedakan diri dari investasi.  Trader tidak bisa melakukan keduanya secara bersamaan karena

2.  Persiapan pengetahuan

Pada dasarnya, seorang trader harus memiliki pengetahuan mengenai analisis harga saham.  Analisis harga saham baik dari sisi nilai (harga) dari perusahaan itu (secara fundamental) maupun analisis pergerakan harga (secara teknikal).  Itu sebabnya, saya memulai bagian ini dengan membahas mengenai sudut pandang saya tentang bagaimana harga bisa bergerak, dengan melihat dari model-model pergerakan harga yang menurut saya perlu dipahami oleh seorang pemodal pemula.  Ini untuk membuat pemodal pemula sadar, bahwa untuk memprediksi, untuk membaca pergerakan harga saham, kita harus mengetahui ‘apa dan siapa yang menggerakkan pasar’.  Sehingga kita bisa memperoleh pola pikir yang benar dalam melihat pergerakan harga.

Setelah itu, baru saya masuk ke bahasan mengenai cara untuk menganalisis, baik secara fundamental atau teknikal. Bagusnya… kalau trader tersebut mau melihat sendiri, menganalisis sendiri kondisi fundamental perseroan.  Tapi, karena (biasanya) trader tidak memiliki waktu untuk belajar yang mendalam tentang fundamental perseroan (hehehe… saya sendiri juga males untuk belajar FA terlalu dalam karena pasti kalah pintar sama analis-analis fundamental yang diluar sono..), maka disini saya mencoba untuk mengajarkan tentang cara ‘read between the line’ atas analisis fundamental yang dibuat oleh orang (konsensus analisis), maupun terhadap variabel-variabel atau event-event fundamental (seperti pengumuman deviden, pengumuman kinerja emiten).

Setelah analisis fundamental, kita masuk ke dalam bahasan tentang analisis teknikal.  Saya memulainya dengan struktur pembelajaran analisis teknikal yang sebaiknya ditempuh oleh seorang pemodal pemula.  Ini karena saya sedikit concern tentang perilaku dari pemodal pemula yang maunya instan. Jangan dipikir bahwa dengan membayar kursus sekali yang berharga mahal, anda lantas bisa memperoleh alat teknikal untuk memenangkan pertarungan.  Meski bukannya tidak mungkin, tapi.. alangkah baiknya jika kita mau mempelajari semua sudut pandang yang ada sebelum kita menentukan sudut pandang yang baik, yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Saya percaya, bahwa untuk memenangkan pertarungan, kita harus memiliki pengetahuan mengenai teknik dasar secara ‘paripurna’. Itu yang membuat dalam mempelajari analisis teknikal ini, saya lebih berkutat pada suport, resisten, dan trend, plus bagaimana cara kita melakukan posisi beli atau posisi jual dengan memanfaatkan suport, resisten, dan trend tersebut.  Sisanya nanti bisa anda  pelajari sendiri lah.. baik dari buku-buku analisis teknikal yang ada, maupun pada bagian ‘charting skills’ yang merupakan bagian lain yang ada pada weblog ini.

3.  Membaca market (Regional – Lokal)

Pada dasarnya, anda tidak boleh lupa bahwa basic saya adalah seorang analis pasar. Seorang analis yang kemudian berusaha untuk mengaplikasikan pengetahuannya untuk memperoleh profit.  Itu sebabnya, saya membaca pasar sering kali dengan cara ‘top to bottom’.  Dari regional, IHSG, baru setelah itu saya mencari saham yang kemungkinan akan bergerak.  Itu sebabnya, dalam bagian dimana saya menjelaskan mengenai ‘bagaimana kita membaca pasar’ ini, anda akan menemukan bagaimana kita bisa ‘menterjemahkan’ prediksi kita terhadap pasar (dari Indeks Dow Jones, Hang Seng, hingga IHSG) , menjadi sebuah posisi trading, melalui Teori Gerbong (sector rotation).

4.  Persiapan menghadapi psikologi pasar

Trading itu… teori hanya menentukan 10 persen dari kemenangan.   Yang 90 persen, berasal dari pemahaman kita mengenai psikologi trading.  Ini yang membuat penentuan sudut pandang akan segala permasalahan yang terkait dengan ‘pemenangan trading, memperoleh profit’ sebaiknya lebih terfokus pada masalah pemahaman kita terhadap psikologi trading.  Benarkah begitu? Hehehe…

Well… Psikologi trading itu membuat kita memiliki sudut padang yang benar terhadap ‘pemenangan trading’. Tapi.. psikologi terpenting adalah bagaimana kita bisa disiplin dalam trading, disiplin terhadap rencana trading yang telah kita susun.  Jadi.. saya menyusun bagian ini dari yang terpenting, yaitu disiplin, disiplin dalam positioning dan juga cut loss.  Setelah itu, saya kemudian membahas sudut pandang terhadap macam-macam hal, sebelum akhirnya kembali ke dalam kesimpulan, bahwa ‘menjadi trader itu.. harus disiplin.. dan tidak boleh sombong.

—————–

So…  Setiap orang adalah individu yang berbeda.   Dalam menempuh jalan trading, setiap orang juga akan menempuh jalan yang berbeda, pendekatan yang berbeda. Apa yang saya berikan, atau wakafkan disini… sebenarnya hanya setetes air ditengah samudra yang luas.  Akan tetapi, saya berharap agar hal yang kecil ini, bisa menjadi dasar bagi pemahaman anda terhadap ilmu persahaman, dunia persahaman yang benar-benar ganas ini.

Semoga ilmu ini menjadi bermanfaat untuk anda, dan bisa memberikan barokah kepada saya dan anda juga.  Semoga setiap kerugian bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Barakallahu fikum…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

PS: Tulisan saya yang ada disini, sebagian besar sebenarnya adalah tulisan yang nantinya akan muncul pada buku saya berikutnya.  Harapan saya, anda tidak melakukan copas tanpa ijin.  Dan.. kalau ada orang yang melakukan copas tanpa ijin.. ada baiknya anda memberitahukannya kepada saya.  Terima kasih.

Pengumuman Kinerja Emiten: Perbedaan Reaksi antara Pemodal Asing vs Pemodal Aseng

March 28th, 2013 No comments

Selamat pagi…

….Harga saham TLKM ini bagaimana? Katanya laba bersihnya naik 17,24 persen, kok harga sahamnya turun???  Memang kurang ajar sekali bandar saham TLKM ini…. Pemodal retail seperti saya selalu dikerjain!

Itu adalah komentar dari seorang pemodal retail yang sempat curcol (curhat colongan) pada tanggal 7 Maret lalu, sehari setelah PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mempublikasikan kinerja keutangan untuk tahun buku 2012.

Saya kemudian bertanya: “Loh Pak… emang kalau laba bersih naik, terus harga sahamnya harus naik?”

Pemodal itu menjawab: “Iya lah… saham  XXXX yang saya  punya (beliau menyebutkan salah satu saham lapis kedua), kemarin harganya langsung naik setelah mengumumkan kinerjanya meroket”.

Ketika earning season (waktu dimana emiten biasanya mengumumkan kinerja keuangannya), mengharapkan harga akan bergerak naik ketika pengumuman kinerja positif dari sebuah emiten adalah kebiasaan hampir selalu dilakukan oleh seorang pemodal retail.  Padahal, reaksi pasar terhadap penyampaian kinerja emiten, sebenarnya tidak sama untuk setiap emiten.  Salah satu perbedaan yang sering bisa kita lihat adalah: perbedaan reaksi dari saham yang biasanya menjadi ‘mainan’ dariPemodal Asing’ (saham-saham yang penggeraknya adalah pemodal asing, biasanya adalah saham saham blue chip dengan kapitalisasi pasar yang besar), dengan saham-saham lapis kedua yang penggeraknya biasanya adalah pemodal lokal, ‘Pemodal Aseng’ begitu orang menyebutnya.

Di kalangan pemodal, saham-saham tersebut kemudian disebut sesuai dengan siapa pemainnya.  ‘Saham Asing’ adalah saham-saham yang pemain utamanya adalah pemodal asing, atau setidaknya adalah fund manager (baik lokal maupun asing) yang melakukan transaksi berdasarkan hitungan fundamental yang mereka lakukan.  Saham-saham ini biasanya memiliki kapitalisasi yang besar, yang merupakan penggerak indeks benchmark (bisa IHSG, LQ-45,  atau indeks yang lain, termasuk didalamnya indeks sektoral), atau setidaknya, merupakan saham-saham yang banyak diteropong oleh tim riset dari foreign houses (broker-broker asing).  ASII, BMRI, BBRI, TLKM, BBCA adalah beberapa contoh dari Saham Asing ini.

Saham Aseng adalah semua saham yang selain selain saham asing tersebut, yang sering kali dimainkan oleh pemodal lokal.

Alasan dari Penyebab dari perbedaan ini adalah: pemodal asing melakukan penghitungan valuasi, baik secara langsung, ataupun secara tidak langsung yang dilakukan oleh research house asing tempat mereka bertransaksi.  Valuasi tersebut, komponen utamanya adalah laba bersih.  Jadi:

Pemodal asing bereaksi terhadap perbandingan laba bersih emiten setelah dibandingkan dengan angka konsensus atau angka hitungan yang mereka lakukan sendiri.  Jika laba bersih itu diatas hitungan (ekspektasi) mereka, maka (kemungkinan besar) mereka akan menaikkan valuasi dari emiten tersebut, dan itu bisa membuat arus pemodal untuk membeli saham tersebut.  Sebaliknya, jika laba bersih dibawah ekspektasi, maka pemodal asing (sering kali) akan melakukan aksi jual, karena mereka bisa saja menurunkan peringkat rekomendasi atau menurunkan valuasi dari emiten tersebut.

Sedangkan untuk pemodal Aseng… mereka biasanya tidak berhitung.  Ada sih yang berhitung, tapi biasanya tidak banyak.  Nah.. Karena tidak berhitung, penyakit ‘gumunan’ (gampang heran), sering kali menyergap pemodal Aseng. Jadi…

Pemodal Aseng hanya melihat growth (pertumbuhan/ peningkatan laba bersih).  Kalau pertumbuhannya tinggi, mereka akan melakukan aksi beli, dengan harapan deviden yang diharapkan bakal lebih banyak.

Contoh terakhir dari reaksi Asing terhadap Saham Asing, bisa dilihat pada saham TLKM.  Kalau anda melihat kinerja TLKM laba bersih naik 17,24% tapi harga turun, tolong cek dulu angka konsensus laba bersihnya*.  Disitu bisa dilihat bahwa ternyata konsensus laba bersih TLKM adalah sebesar Rp 13,2 tr… sedangkan laba bersih TLKM hanya sebesar Rp 12,8.  Jadi… kenaikan 17,24% tidak memuaskan mereka.. mereka kemudian melakukan posisi jual.  Pada ASII juga kejadiannya kurang lebih sama.  Karena kinerja FY 2012 ternyata dibawah ekspetasi

Kalau contoh reaksi pemodal lokal (Pemodal Aseng) terhadap pergerakan dari saham-saham ?  Banyak lah… anda tinggal lihat headline dari surat kabar atau online news, apalagi kalau baru sekedar rumor.  Kalau ada berita bagus tentang kinerja emiten…. dengan kinerja naik diatas 100%… sering kali harga bergerak naik… meski terkadang kenaikannya hanya intraday.  Kalau Saham Aseng yang kemudian malah turun setelah pengumuman kinerja, tolong juga jangan dipukul rata bahwa ‘bandarnya jahat’, mau ngerjarin pemodal retail, dll.  Bisa saja koreksi tersebut, akibat pemodal tidak lagi melihat peluang untuk terjadinya ‘massive earning growth’ (kenaikan pendapatan atau laba perusahaan dalam jumlah yang luar biasa) untuk di masa yang akan datang.  Sebagai contoh: kalau perusahaan property, bisa saja karena cadangan lahan kosong (land bank) yang dimilikinya memang sudah habis.  Atau, untuk perusahaan batubara yang baru saja backdoor listing, bisa jadi backdoor listing tersebut sudah berlangsung lebih satu tahun yang lalu.  Jadi, pada laporan keuangan mendatang ‘ledakan kinerja’ yang biasanya mengikuti saham backdoor listing, pengaruhnya sudah hilang.  Pada laporan keuangan mendatang, pertumbuhan pendapatan atau labanya akan kembali ke asli, terkait dengan harga batubara yang selama setahun terakhir ini turun.

Jadi… kalau ada pengumuman kinerja, belum tentu kenaikan laba bersih yang spektakuler akan membuat harga saham bergerak naik.  Anda harus melihat banyak faktor, sebelum memutuskan untuk melakukan perburuan di pagi hari, ketika saham mulai diperdagangkan.

So… saham apa yang sedang anda pegang? Saham Asing atau Saham Aseng? Semoga tulisan ini bisa menjadi bekal agar anda bisa bereaksi dengan lebih baik pada earning season kuartal pertama 2013 yang akan mulai berlangsung sebulan lagi.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*angka konsensus laba bersih yang saya gunakan disini, adalah angka konsensus yang da pada terminal Bloomberg.  Angka konsensus analis yang tersedia untuk umum, bisa dilihat website Reuters.

Memahami manfaat #postclosetradingsession

January 7th, 2013 4 comments

Selamat pagi…

Sejak hari pertama perdagangan di tahun 2013 ini, BEI menerapkan aturan baru tentang jam perdagangan, proses pembentukan harga close, dan adanya postclosetradingsession. Kalau tentang jam perdagangan, saya gak banyak komentar.  Memang itu membuat staff riset seperti saya, terpaksa ngantor lebih pagi.  Dealing juga, marketing juga.  Yang jelas, semua orang di bursa juga bakal ngantor lebih pagi.  Tapi mengenai proses pembentukan harga close dan post close trading session, hingga akhir tahun 2012 lalu, saya juga masih belum jelas kedua binatang  itu bentuknya apa.  Baru setelah saya ‘mengalaminya’ selama seminggu terakhir.  Saya baru bisa berkomentar.

Dan… komentar saya yang pertama adalah:

Eh… ternyata BEI bikin langkah pintar seperti ini ya?

Kita bahas satu per satu deh…

Proses pembentukan harga close

Sudah lama kita tahu, bahwa pembentukan harga close yang sebelum ini terjadi, memang adalah sebuah proses yang tidak adil.  Maklum, hanya dengan satu kali ‘nil’ (sentuh) dengan volume kecil (sering hanya dengan 1 lot), maka terbentuklah harga penutupan.  Harga penutupan ini, sering kali tidak lain adalah posisi bid atau offer harga terakhir.  Jarang sekali kita dapati, adanya pelaku pasar yang susah-susah untuk melakukan posisi beli atau posisi jual di beberapa harga sehingga mendapatkan harga penutupan yang mereka harapkan.

Akan tetapi, aksi ‘sentuh 1 lot’ ini, pengaruhnya sedemikian besar.  Anda tentu sudah membaca di tulisan saya sebelumnya, bagaimana harga close ini bisa menentukan prestasi dari seorang fund manager, seorang trader, ataupun juga seorang investor.  Saya masih inget dulu waktu jaman masih menjadi floor trader.  Kalau fund manager habis jualan besar-besaran, dealer pasti mau agar harga ditutup di harga bid.  Kita diberi amunisi berupa 5 buah order jual 1 lot yang harus dimasukkan pada detik-detik terakir.  Kalau sampai gagal ditutup di harga bid…. gak sampai potong gaji sih.. tapi mendingan headphone dicopot deh.. dari pada dengerin makian dari dealer.

Itu sebabnya, perlu dibuat suatu proses pembentukan harga penutupan yang lebih adil.  Tidak adil kalau hanya 1 lot  ‘sentuh’ transaksi menjadi penentu harga penutupan.  Jadi.. Bursa Efek Indonesia kemudian membuat suatu mekanisme penentuan harga penutupan, dimana harga penutupan, ditentukan oleh volume transaksi terbanyak dari order yang masuk selama periode jam 15.50 – 16.00.  Selama periode tersebut, trader masih bisa memasukkan order dengan volume berapapun, pada harga berapapun.  Nantinya, pada jam 16.00, BEI akan membuka perdagangan barang sebentar, untuk menentukan terjadinya harga pentupan.  Sebuah proses yang kurang lebih sama dengan penentuan harga opening yang sebelum ini sudah lazim kita alami.

Di satu sisi, memang proses ini memberikan proses yang lebih adil (selain juga komisi yang lebih banyak bagi anggota bursa dan BEI sendiri).  Akan tetapi, bukan Indonesia rasanya kalau ‘kenakalan’ kemudian tidak terjadi.  Keluhan-keluhan tentang aksi bandar atau big player yang melakukan harga penutupan ‘semau gue’, tetap saja terjadi.  Tapi… ini kan semua masih baru.  Bolehlah kita berharap bahwa kedepan, BEI akan terus memperbaiki aturannya agar proses pembentukan harga penutupan ini bisa benar-benar adil.

Proses Perdagangan Post Close Trading Session

Post close trading session adalah suatu sesi perdagangan tambahan (jam 16.05 – 16.15) dimana pemodal bisa memasukkan order beli atau order jual, selama order yang dimasukkan masih dilakukan pada harga penutupan.  Jika order yang dimasukkan tersebut mendapatkan lawan, maka order tersebut akan menjadi transaksi.  Jika tidak mendapatkan lawan, maka order tersebut tetap saja orderan antri.  Tidak ada kejadian.

Dulu… setelah harga penutupan terbentuk, kita nggak bisa ngapa-ngapain lagi.  Kita hanya bisa menunggu di hari perdagangan selanjutnya, untuk bisa melakukan transaksi.  Menunggu nasib.  Bayangkan: jika harga ditutup dibawah suport, sedangkan kita masih ada posisi, sedangkan kita yakin bahwa indeks Dow Jones Industrial (DJI) bakal turun lebih dari 2 persen.  Duh.. gitu kok disuruh cut loss besok-besok.  Harga bisa sampai kemana-mana.

Dengan adanya post closing trading session ini, semua juga menjadi lebih enak, lebih mudah bagi seorang trader teknikal.  Ketika pada saat penentuan harga penutupan, harga saham kemudian ditutup dibawah suport, berarti trader teknikal tersebut harus memanfaatkan post close trading session untuk melakukan posisi jual.  Atau, kalau ada saham yang diminati oleh trader teknikal ternyata closing dengan candlestick bullish, maka berarti dia tidak akan ragu untuk ‘berusaha’ melakukan posisi beli.  Adanya post close trading session seperti ini, menjadikan trader yang berbasis analisis teknikal, memiliki kesempatan untuk menjadi lebih disiplin: terutama dalam melakukan posisi beli atau jual, berdasarkan harga penutupan.

(Saya bilang ‘berusaha’ untuk beli atau jual, karena pada post closing trading session ini, semua order yang kita lakukan, belum tentu akan kejadian)

Penutup

So… kalau anda trader teknikal, yang menjadikan harga penutupan sebagai patokan anda untuk melakukan posisi beli atau posisi jual, maka adalah aneh kalau anda kemudian bilang bahwa post closing trading session ini adalah sesi yang tidak berguna.  Setelah harga penutupan, kita kan tinggal melihat: owh.. signalnya bullish, bearish, atau netral.  Tinggal nanti posisinya kita sesuaikan: mau normal, atau contrarian Memang sih… kadang kala, posisi bid beli atau posisi bid jual langsung diganjel oleh bandar atau asing dengan volume yang sangat besar.  Tapi setidaknya, adanya post close trading session ini, memungkinkan anda untuk melakukan positioning pada harga penutupan.  Sebuah kesempatan yang dulu tidak pernah kita dapatkan.

Semoga BEI juga terus memperbaiki proses ini agar lebih menguntungkan pemodal retail, tidak hanya menguntungkan para bandar dan pemodal institusi dengan dana yang kuat.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah dulu halaman disclaimer sebelum anda memasukkan order beli atau order jual pada post close trading session.  Terima kasih.

Positioning: Normal atau Contrarian?*

January 6th, 2013 No comments

Selamat pagi…

Setiap hari, harga bergerak naik dari sebuah suport menuju ke sebuah resisten atau turun dari sebuah resisten menuju ke sebuah sebaliknya. Dalam kondisi ceteris paribus, pergerakan harga saham diantara satu suport dan resisten ini berlangsung terus menerus.

Ketika menghadapi pergerakan seperti ini, strategi yang bisa diterapkan sebenarnya relatif sederhana: beli ketika harga berada di area suport, dan jual ketika harga berada di area resisten.

Jika stoploss ternyata terpaksa dilakukan, maka posisi stoploss bisa dilakukan ketika harga menembus suport (untuk stoploss beli), atau… ketika harga menembus resisten, maka posisi yang sudah dijual ketika harga berada di posisi resisten, kembali dilakukan pembelian kembali (buy back) ketika harga menembus resisten.

Permasalahan ketika volatilitas market meningkat.

Belakangan ini, saya melihat sebuah fenomena menarik: pergerakan harga yang lebih volatile dibandingkan dengan pergerakan harga yang biasa terjadi. Fenomena ini sebenarnya relatif normal ketika kita mengamati pergerakan harga saham di bursa yang sudah maju, seperti bursa Amerika. Akan tetapi, fenomena ini relatif baru bagi pergerakan harga saham di bursa kita. Ketika ini terjadi, harga saham tidak lagi bergerak didalam atau diantara sebuah suport atau resisten. Reversal tidak terjadi pada saat harga berada di suport atau resisten, tapi reversal terjadi setelah harga sempat menembus suport atau resiten tersebut.

Ini membuat strategi lama (beli ketika di suport dan jual ketika di resisten, serta stoploss ketika suport/resisten ditembus) seperti diatas tidak bisa lagi untuk diterapkan. Melakukan strategi lama akan membuat anda beli ketika harga berada di titik puncak, atau anda melakukan cut loss ketika harga berada di bottom area.

Anda bisa melihat pada gambar diatas bahwa ketika kita melakukan cut loss, disitu malah terjadi bottom dari pergerakan harga. Ketika anda melakukan average up, disitu malah mendekati puncak pergerakan harga.

Ujung-ujungnya… jika anda melakukan posisi beli atau jual sesuai dengan ‘pakem’ atau ‘aturan’ yang normal… maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

Contrarian Positioning sebagai Solusi

Solusi dari permasalahan ini adalah dengan melakukan contrarian positioning. Contrarian positioning ini bukanlah ‘melakukan posisi beli ketika terjadi signal jual’ atau ‘melakukan posisi jual ketika terjadi signal beli’. Akan tetapi, contrarian positioning ini berarti ‘melakukan posisi beli pada kisaran harga dimana kita seharusnya melakukan posisi jual’, dan sebaliknya ‘melakukan posisi jual pada kisaran harga dimana kita seharusnya melakukan posisi beli’. Anda bisa melihatnya pada gambar dibawah ini:

Jadi… pada strategi contrarian ini, kita melakukan posisi beli dibawah posisi suport, dan posisi jual dilakukan setelah harga menembus resisten. Strategi ini sebenarnya ‘tidak boleh’ untuk dilakukan. Bagaimana tidak… kita melakukan posisi beli di kisaran harga ketika kita tidak boleh melakukan posisi beli. Disisi lain, kita malah melakukan posisi jual ketika kita seharusnya melakukan posisi jual. Strategi ini memang lebih beresiko.

Karena resikonya lebih tinggi, maka saya hanya bisa menyarankan: jika anda menggunakan strategi ini, tetapkan dulu stoploss levelnya sebaiknya tidak terlalu jauh dengan posisi entry level anda.

Jadi…. belakangan, suport dan resisten memang berasa aneh. Tapi… kalau menurut saya sih, jangan suport atau resistennya yang kemudian tidak dipakai. ‘Positioning’-nya yang kemudian ‘diakali’.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan cara-cara yang kami bahas pada ulasan ini. Terima kasih.

Modus Operandi dari Penggorengan Saham di Bursa Efek Indonesia (Bagian Pertama dari dua tulisan)

March 24th, 2012 12 comments

Selamat pagi…

Pada hari Rabu pagi kemarin, ketika melihat running trade, saya tertarik oleh transaksi dari saham ELSA yang memenuhi layar running trade saya.

Yang membuat saya lebih tertarik adalah: ketika saya secara tidak sengaja melihat halaman dari sebuah media online yang tengah dibuka oleh rekan di sebelah saya.  Headline-nya adalah sebagai berikut:

Didalam benak saya: waduh… kejadian lagi deh.  Kalau anda sudah pernah membaca mengenai tulisan saya yang sebelumnya mengenai Rumor = Tadlis Modern, Anda pasti sudah paham betul, ini adalah modus operandi dari para pelaku tadlis.  Modus operandi tersebut terdiri dari 6 phase:

  1. Memberikan berita seakan ‘Asing’ meminati saham tersebut
  2. Harga kemudian bergerak naik setelah posisi opening.  Pergerakan naik ini sebagai akibat dari uninformed trader yang kemudian melakukan posisi beli pada saham tersebut.
  3. Harga kemudian bergerak turun akibat tekanan jual yang terjadi.
  4. Pemodal terus dipancing untuk melakukan posisi beli.
  5. Harga terus bergerak turun dan kemudian ditutup dengan posisi terkoreksi.
  6. Pemodal retail (uninformed trader) kemudian pulang dalam posisi nyangkut.  Atau yang lebih jelek, telah melakukan posisi jual dalam posisi rugi.

Wah…  kalau benar seperti itu… asyik juga ini.  Pasalnya, langkah pertama dari modus operandi, sudah dilakukan.  Pada jam 8.02, berita sudah dipublikasikan di media.  Running trade tersebut di atas, adalah tanda bahwa langkah kedua dari modus operandi tengah berlangsung.

Saya kemudian melihat posisi bid/offer dari saham ELSA untuk melihat apa yang terjadi:

Hm… benar juga.  Bid terlihat tebal.  Transaksi berfrekuensi tinggi terjadi pada harga offer.  Pelaku pasar seperti ‘dibuat percaya’ bahwa :

  • Harga cenderung bergerak naik.
  • Pelaku pasar cenderung melakukan posisi beli di harga offer.
  • Harga cenderung kuat karena peminat beli dari saham tersebut, ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan peminat jual.  Ini dapat dilihat dari volume bid jauh lebih besar dari volume offer.

Benar sepertinya… phase kedua sudah berlangsung.

Sekarang, berarti kita menunggu terjadinya phase ketiga.

Setelah pada phase kedua harga ‘terlihat akan bergerak naik’, yang terjadi pada phase ketiga adalah: harga ternyata malah bergerak turun.  Ini bisa dilihat pada posisi saham, ELSA beberapa menit kemudian:

Anda bisa dilihat diatas, bahwa pada jam 09.39, hanya sekitar dua menit dari posisi ketiga gambar pertama di ambil, posisi ELSA sudah di 265, di posisi offer.  Posisi yang sebelumnya terlihat kuat, malah diguyur (ada orang yang melakukan posisi jual).  Harga malah bergerak turun.  Phase ketiga sedang berlangsung.

Ketika phase ketiga berlangsung, phase keempat akan terjadi:  rangsangan bagi uninformed trader untuk melakukan posisi beli masih terus dilakukan.  Ini bisa dilihat dari posisi ELSA ketika jam 9.51

Pada gambar diatas bisa dilihat, bahwa pada running trade, terlihat ada broker yang dalam posisi beli, sedangkan pada bid/offer, terlihat adanya posisi offer yang sedang dibeli, dimakan, dihabiskan.  Offer semakin menipis, tinggal 1315 lot.  Posisi Bid/Offer tersebut seakan berkata:

Tolong… beli saya… !!! Beritanya bagus niy… asing mau beli… asing aja beli tuh… offer dimakan terus (posisi beli terus dilakukan pada harga offer).

Ayo… Beli saya…. Ayo… AYOOOOOOO!!!!!!

Dan….

Seperti yang sudah-sudah… Yang terjadi adalah sebaliknya.

Jam 10.04… posisi ELSA di bid, harga 260 malah diguyur.  Pemodal ada yang melakukan posisi jual di harga 260.  Lihatlah gambar di bawah: meski posisi di bid (255 dan 250) terlihat masih tebal, tapi pemodal malah melakukan posisi jual di harga 260.  Lebih hebatnya lagi, karena posisi beli terlihat hanya dilakukan oleh satu broker sedangkan posisi jualnya oleh transaksi-transaksi dengan volume yang lebih kecil (meski sebenarnya brokernya ya itu-itu saja), maka masih terbaca seakan-akan: eh… masih ada yang berani beli loh…

Kita kembali dulu… ke modus operandi yang tadi saya sampaikan.

  1. Memberikan berita seakan ‘Asing’ meminati saham tersebut
  2. Harga kemudian bergerak naik setelah posisi opening.  Pergerakan naik ini sebagai akibat dari uninformed trader yang kemudian melakukan posisi beli pada saham tersebut.
  3. Harga kemudian bergerak turun akibat tekanan jual yang terjadi.
  4. Pemodal terus dipancing untuk melakukan posisi beli.
  5. Harga terus bergerak turun dan kemudian ditutup dengan posisi terkoreksi.
  6. Pemodal retail (uninformed trader) kemudian pulang dalam posisi nyangkut.  Atau yang lebih jelek, telah melakukan posisi jual dalam posisi rugi.

Hm… ini berarti, phase ke tiga dan ke empat telah berlangsung dengan sukses.

Itu berarti, saya tinggal melihat, apakah phase ke 5 (harga saham ditutup turun), dan phase 6 (pemodal retail nyangkut atau cut loss), kemudian terjadi.

Posisi penutupan dari saham ELSA adalah sebagai berikut:

ELSA akhirnya ditutup pada harga 250.  Turun Rp 10 atau setara dengan 1,96% dari posisi penutupan sebelumnya.  Phase 5 telah terjadi.

Sekarang… apakah Phase 6 sudah terpenuhi? Apakah ‘Pemodal retail (uninformed trader) kemudian pulang dalam posisi nyangkut.  Atau yang lebih jelek, telah melakukan posisi jual dalam posisi rugi’?

Itu nanti akan kita bahas pada bagian kedua dari tulisan ini.

Sementara begitu dulu deh…

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo