Archive

Archive for November, 2014

Mas @Jokowi_do2 … Revolusi Mental ? Tenane?

November 24th, 2014 1 comment

Selamat pagi…

Seminggu terakhir, saya ‘memaksakan diri’ untuk membaca buku tulisan Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rekan-rekan yang berjudul Revolusi Mental. Saya kok benar-benar penasaran. Terkait dengan kenaikan BBM Subsidi yang dilakukan minggu lalu, ada satu dua hal yang ‘menggelitik’ hati saya. Belum tentu sesuatu yang melanggar hukum sebenarnya. Tapi, karena apa yang terjadi masih merupakan ‘tipuan-tipuan stadar’ yang biasa di lakukan. Saya jadi sedikit bertanya: Benarkah Jokowi benar-benar serius dalam melakukan Revolusi Mental ini? Akankah ini semua hanya ‘masih sama dengan yang kemarin’ hanya dibalut oleh bungkus yang berbeda?

Harga BBM Subsidi

Kenaikan harga BBM Subsidi yang sebesar Rp 2000 per liter itu.. sebenarnya wajar. Kalau orang bilang: Malaysia menurunkan harga BBM Subsidi sedangkan Indonesia malah menaikkan, saya yakin yang bilang seperti itu adalah orang yang kurang waras. Maklum.. negara lain pastinya sudah mengubah, menurunkan, dan menaikkan harga BBM berkali-kali, sedangkan harga BBM Subsidi kita sudah lama tidak berubah. Malaysia saja, kabarnya sekarang malah kebingungan karena harga BBM Subsidi mereka lebih murah dari harga BBM Subsidi Indonesia dan malah berencana menaikkan lagi harga BBM Subsidinya karena takut diselundupkan ke Indonesia.

Kejadian lucu pertama muncul, ketika Menteri Keuangan menjawab pertanyaan wartawan mengenai harga keekonomian dari BBM jenis premium. Ketika itu, beliau menjawab bahwa harga keekonomian BBM Premium lebih dari Rp 10.000. Langsung seperti ada yang ‘menyala di kepala saya’: lha kok bisa? Pertamax saja harganya ketika itu Rp 10.200. Akhir minggu kemarin, Pertamax di beberapa tempat bahkan sudah diturunkan hingga dibawah Rp 10.000. Lha kok bisa harga Premium 10.000, terutama, pada kesempatan yang sama, Pertamina sendiri, dalam hal ini melalui Hanung Budya, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, bahkan menyatakan bahwa harga keekonomian BBM Premium saat ini adalah sebesar Rp 9.200? Angka siapa yang benar? Angka Pemerintah atau Pertamina? Saya nggak pingin pusing ngitung sendiri karena harga MOPS (Mean of Platts Singapore) yang merupakan harga patokan dari penghitungan harga BBM Subsidi ini bukanlah sesuatu harga yang terbuka yang mudah untuk dicari. Teman-teman yang sudah berhitung, bahkan sudah menemukan angka bahwa harga BBM Premium sudah dibawah Rp 8500. Salah satu penjelasan yang paling rasional adalah bahwa Pak Menkeu menggunakan data Indonesian Crude Oil Price (ICP) sebagai dasar dari penghitungan harga BBM Subsidi, bukan menggunakan harga MOPS. Padahal.. sudah 10 tahun terakhir kita berhitung dengan menggunakan MOPS. Bisa saja ini adalah kebiasaan baru pada Pemerintahan yang baru. Tapi.. tetap saja lucu… menentukan sebuah kebijakan yang vital, dengan menggunakan data yang tidak akurat atau bahkah menggunakan ‘data yang lain’. Masih bagus rakyat masih percaya sama Presidennya. Kalau enggak.. gimana rasanya tuh?

Sikap dari Pak Menkeu saat kenaikan harga BBM Subsidi ini membuat saya kemudian bertanya-tanya: ini kah ‘mental yang sudah di-revolusi’? Tetap menggunakan data seenaknya, menganggap seluruh rakyat adalah mahasiswa yang udah di gertak atau rakyat yang mudah dibohongi? Lha terus… apa bedanya dengan Pemerintah yang terdahulu?

Kalau hanya sekedar kenaikan harga bbm subsidi sebesar Rp 2000 per liter, itu adalah hal yang wajar dan sudah seharusnya untuk dilakukan. Problemnya ada pada hal-hal yang kemudian terjadi setelah itu. Bank Indonesia yang selama ini merasa sudah memiliki ‘formula’ untuk menaklukkan inflasi yang terjadi pasca kenaikan harga BBM Subsidi ini dengan cara menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 25 basis poin (0,25 persen), kemudian ‘secara reflek’ menaikan BI Rate. Ini kemudian menjadi problem baru, mengingat dalam setahun terakhir, Bank Indonesia menggunakan instrumen tersebut untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi. Ceritanya begini: Rupiah terus melemah karena terjadi defisit neraca perdagangan. Defisit neraca perdagangan ini terjadi, karena ekonomi yang tumbuh tinggi, membutuhkan impor dari barang-barang. Maka, agar Rupiah bisa lebih stabil, pertumbuhan ekonomi diperlambat dengan cara mempertahankan suku bunga (BI Rate) di level yang tinggi. Pertanyaannya: kalau BI Rate dinaikkan lagi.. apakah pertumbuhan ekonominya tidak menjadi semakin lambat?

Kenaikan BI Rate yang niatnya baik… untuk memerangi inflasi, malah dianggap bakal menjadi boomerang: dianggap bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah lambat. Aneh juga sih sebenarnya. Ditengah negara-negara di dunia yang berlomba-lomba memacu pertumbuhan ekonomi dengan memberikan suku bunga rendah, Indonesia malah menerapkan suku bunga tinggi dengan berbagai alasan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan saya adalah: apakah memang tidak ada koordinasi antara BI dan Pemerintah terkait dengan kenaikan harga BBM Subsidi ini? Lha terus.. apa bedanya dengan Pemerintah yang sebelumnya?

@triomacan2000 Ditangkap, Telkom Melenggang…

Dulu… saya suka following twit dari @triomacan2000. Saya mengenal account twitter ini dari mantan wartawan senior Tempo yang merupakan teman saya menunaikan ibadah haji di akhir 2012. Atas rekomendasi beliau, saya kemudian following account ini. Menarik memang fenomena @triomacan2000 ini. Pada awalnya, karena mengungkapkan masalah penyelewengan serta korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat, dan sebagian kemudian diantaranya benar, maka saya sempat menjadi follower setia ketika awalnya. Akan tetapi, karena lama –kelamaan ulasannya semakin bernada kebencian dan tidak dilandaskan oleh data yang jelas, maka sejak pertengahan tahun 2013, saya sudah tidak follow account itu lagi.

Ketika orang yang dituduh sebagai @triomacan2000 kemudian ditangkap… saya tidak heran. Terlepas apakah benar orang yang ditangkap tersebut adalah @triomacan2000 atau bukan, saya sebenarnya tidak pusing. Tapi setidaknya, sudah ada tanda-tanda bahwa Pemerintah berbuat sesuatu terhadap akun-akun penyebar kebencian, itu sudah membuat hati saya menjadi lebih tenang.

Akan tetapi, ketika kemudian ‘kasus’ yang membuat @triomacan2000 tersebut ditangkap kemudian ikut menghilang juga, terus terang.. hati kecil saya juga tidak terima. Benar, kasus tukar guling antara saham PT. Tower Bersama, Tbk. (TBIG) dengan saham Mitratel (anak perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia/TLKM) memang sulit untuk dibuktikan kerugian dari negara dalam hal ini TLKM karena yang terjadi adalah tukar menukar kertas vs kertas, tukar menukar surat berharga, yang nilanya lebih dari Rp 11 trilyun. Tapi, karena tukar guling tersebut dilakukan pada harga yang saham TBIG sebesar Rp 14.511, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata 3 bulan yang hanya sebesar Rp 8.062. Dan juga pembelian ini tidak bisa dikatakan murah karena dengan Price to Earning Ratio (PER) yang sangat premium. Jika menggunakan EPS tahun 2013 di angka Rp 260, akuisisi di harga Rp 14511 itu berarti TLKM membeli TBIG pada harga PER 55 kali. Harga yang hanya cocok untuk akuisisi kemepemilikan mayoritas, tidak untuk sekedar kepemilikan sebesar 13,7 persen. Saya sebagai rakyat, kok merasa kalau diri saya sedang dikadalin.

Belum lagi beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sosialisasi peraturan yang dilakukan oleh sebuah lembaga. Isinya mengenai aturan main bagi IPO perusahaan pertambangan yang belum berproduksi. Terus.. setelah saya tanya-tanya.. kok isinya memperbolehkan perusahaan yang belum beroperasi dengan tambang di luar negeri untuk melakukan IPO. Padahal… orang yang punya tambang di luar negeri dengan nilai besar… ya orangnya ya itu-itu saja. Kalau perusahaan seperti itu boleh IPO, bagaimana nasib dari pemodal retail lokal kita yang membeli saham dari perusahaan itu?

Benarkah revolusi mental hasilnya bakal seperti ini?

Pemerintah yang tidak kompak, Pemerintah yang membodohi rakyat, Pemerintah menganggap rakyat hanya menjadi obyek (bahan obyekan untuk cari duit)? Kok berasa seperti penyakit menahun yang sudah ada semenjak saya kecil. Semenjak Orde Baru. Revolusi Mental.. apakah hanya produk lama dengan bungkus yang baru?

Revolusi Mental? Tenane?

Revolusi Mental? Bener niy?

Menurut saya siy.. kalaupun Pemerintah mau mengambil untung dari harga BBM…. sebenarnya gak masalah. Asalkan nantinya Pemerintah bisa mengalokasikan hasilnya pada sektor-sektor yang lebih bermanfaat.

Ah.. pasti ini bukan Revolusi Mental seperti yang digambarkan oleh Jokowi. Saya sadar bahwa Revolusi Mental ini masih dalam tahap awal. Jalan 100 hari juga belum. Tapi, sepertinya memang masih banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama orang-orang yang terlibat sebagai Aktor Utama dari Revolusi Mental ini.

Saya hanya penonton yang selalu giat untuk memberikan semangat.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags: