Archive

Archive for October, 2014

Prediksi Harga itu Mudah

October 27th, 2014 3 comments

Selamat pagi…

(Pengantar: Tulisan ini saya buat kemarin siang, sebelum Jokowi mengumumkan Kabinet Kerja. Just Enjoy…)

Prediksi pergerakan harga saham atau indeks, itu tidak sesulit gambaran sebagian orang.Selama kita bisa memperoleh sudut pandang yang benar, prediksi itu sebenarnya mudah.Mudah dipelajari dan mudah untuk dilakukan. Berhubung ini tahun baru, dan tahun baru adalah saat yang tepat untuk melakukan refleksi, maka saya akan kembali melakukan refleksi atas cara yang biasa saya lakukan. Saya yakin… sebagian besar dari anda pasti sudah bisa melakukannya, atau bahkan sudah mulai meninggalkan cara prediksi yang biasa saya lakukan ini karena anda anggap terlalu sederhana, terlalu mudah .Akan tetapi, saya hanya ingin mengulang sebuah fakta, bahwa kalau cuman prediksi arah pergerakan harga… sebenarnya gak susah kok… gampang!

Harga Tidak Bergerak Random

Harga itu tidak bergerak bebas.Kalau ada orang bilang harga bergerak random, itu hanya untuk orang-orang yang ada di kampus.Hanya boleh dilakukan oleh mereka yang ada di kampus.Kalau disini, kalau di pasar modal, kalau kita sudah memutuskan untuk masuk ke industri pasar modal dan menjadi bagian daripadanya, baik sebagai investor, trader, analis, fund manager, pengelola dan karyawan perusahaan sekuritas, dan masih banyak lagi profesi yang lain yang terkait dengan pasar modal, kita harus berada dalam pola pikir, bahwa harga tidak bergerak random. Kemampuan kita untuk memanfaatkan pergerakan harga adalah merupakan penentu dari keberhasilan kita. Seorang investor yang berbasis pada analisis fundamental misalnya, meski tetap berpendapat bahwa pergerakan harga dari hari ke hari pergerakannya random, tapi harus memiliki keyakinan bahwa pada suatu saat nanti, harga akan bergerak menuju nilai (value) yang diperdiksikannya. Seorang trader yang berbasis pada analisis teknikal, juga barus berangkat dari asumsi bahwa harga tidak bergerak random, pergerakan harga memiliki arah, dan terdapat kecenderungan adanya pola-pola perilaku pergerakan harga yang terjadi berulang-ulang.Dari situ kemudian semuanya berangkat.

Karena basis saya prediksi sehari-hari adalah analisis teknikal, maka prediksi harga yang saya maksudkan disini, adalah prediksi pergerakan harga dengan menggunakan analisis teknikal.

Suport dan Resisten: Titik Penting Pergerakan Harga

Harga tidak bergerak random.Setidaknya, tidak 100% random.Pada pergerakan harga, terdapat titik-titik penting dimana pergerakan harga berhenti sebentar, dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan arah pergerakan, atau berbalik arah.Titik-titik ini disebut sebagai suport atau resisten.Suport dan resisten ini, berfungsi seperti ‘perempatan’ pada pergerakan harga.

Arah Pergerakan harga: Konsolidasi atau Trend

Pergerakan harga itu tidaklah random.Ada yang disebut sebagai konsolidasi, dan ada yang disebut sebagai trend. Konsolidasi adalah keadaan dimana harga bergerak dalam suatu kisaran dalam suatu periode waktu tertentu. Misalnya: pada periode Agustus hingga September kemarin, IHSG bergerak mendatar pada kisaran 5140 – 5250, diantara suport 5140 dan resisten 5250, itu berarti IHSG dalam masa konsolidasi. Trend adalah pergerakan harga yang memiliki arah. Ketika IHSG bergerak dari level 5120 hingga 5250, dari titik A ke titik B adalah sebuah trend. Masa konsolidasi adalah sebuah trend mendatar.Harga bergerak dari 5120 ke 5250 adalah sebuah trend naik.Harga bergerak dari 5250 ke 5120 adalah sebuah trend turun.

141027 IHSG

Price Pattern: Arah Pergerakan Harga ‘yang agak jauhan sedikit’

Suport dan resisten itu, kalau cuman suport dan resisten pertama atau suport dan resisten kedua, biasanya jaraknya tidak terlalu jauh.Jarak antara suport dan resisten pertama misalnya, sering kali kurang dari 3 persen.Jarak dari suport dan resisten kedua, sering kali kurang dari 5 persen.Dengan pergerakan harga seperti itu, rasa-rasanya sulit untuk bisa memperoleh keuntungan yang rasional.Untuk memperoleh bisa memprediksi pergerakan harga yang agak lebih jauh, agak lebih lebar, digunakan price pattern atau pola pergerakan harga.Pola pergerakan harga ini adalah pola pergerakan harga yang terjadi pada saat harga berada pada periode konsolidasi.Pola pergerakan harga yang biasanya muncul adalah triangle (symmetrical, ascending, atau descending), rectangle, head and shoulder, double top, double bottom, dan trend channel.Pola-pola ini adalah pola-pola yang sering muncul, dan sering juga kena target harganya. Bentuk pola pergerakan harga ini seperti apa dan bagaimana implikasiknya? Kita bisa bertanya pada Mbah Google pola seperti itu bentuknya seperti apa. Kita juga bisa baca-baca pada buku-buku karya penulis lokal maupun asing.Sudah banyak kok sumber-sumbernya bertebaran di sekitar kita, baik yang dalam Bahasa Indonesia, maupun dalam Bahasa Inggris.

Trading: Sesuatu Yang Lain

Kemampuan dari seorang trader untuk memprediksi, tidak menentukan keberhasilan trader tersebut dalam memperoleh keuntungan.Kemampuan seorang trader untuk memperoleh keuntungan, sangat ditentukan dengan kemampuan dari trader tersebut untuk menterjemahkan prediksi yang telah dibuat, kedalam posisi beli atau posisi jual yang kemudian dilakukannya.Itu sebabnya, seseorang analis, meskipun jago dalam melakukan prediksi, belum tentu jago dalam melakukan trading.

Ketika dalam prediksi, seorang pemodal hanya melakukannya diatas kertas.Ketika trading, ketika uang sudah mulai dilihatkan, baik dalam hal posisi beli maupun posisi jual.Disinilah faktor mental kemudian mengambil alih peran.Disini kemudian, disiplin menjadi sebuah perilaku yang sangat penting.Disiplin ini adalah kemampuan seorang trader untuk melakukan eksekusi sesuai dengan prediksi yang dilakukannya, sesuai dengan rencana trading yang dilakukannya.

Menentukan Reversal dengan Candlestick

Terkait dengan masalah posisi beli dan posisi jual, sebagain orang kemudian bertanya: bagaimana cara kita menentukan posisi beli atau posisi jual? Kapan kita harus beli?Kapan kita harus jual? Saya sebenarnya hanya menyarankan penggunaan cara yang sederhana: Gunakanlah Candlestick! Candlestick ini juga bukan candlestick yang harus menghafalkan 50+ pola candlestick yang ada. Saya hanya menggunakan cara yang sederhana:

  1. Lihat panjang dari body candlestick.
  2. Jika body dari candlestick ini pendek, gunakan titik tertinggi dan terendah sebagai suport atau resisten, lakukan posisi beli atau posisi jual sesuai dengan arah penembusan.
  3. Jika body dari candlestick ini panjang, gunakan titik tengah dari candlestick tersebut sebagai penentu: ketika trend sedang turun, titik tengah dari body candle tersebut akan menjadi resisten, dan sebaliknya: ketika trend sedang naik, titik tengah dari body candle tersebut akan menjadi suport.

Menentukan Posisi BELI serta JUAL: Normal atau Contrarian

Posisi beli normal adalah posisi beli atau posisi jual sesuai dengan cara yang lazim. Misal: jika ada signal beli, maka kita melakukan posisi beli ketika signal beli tersebut muncul, vice versa. Posisi beli dalam mode contrarian adalah: ketika kita melihat adanya signal beli, tentukan titik stoploss dari posisi beli tersebut, dan kemudian lakukan posisi beli pada harga stoploss tersebut, bukan pada harga di titik beli, vice versa. Misalnya.Sebuah saham memiliki suport di harga Rp 1000.Stoploss dari suport tersebut, ada di 970. Ketika seorang trader melakukan posisi beli dalam mode normal, maka posisi beli akan dilakukan pada harga Rp 1000. Pada saat yang bersamaan, posisi beli pada mode kontrarian akan dilakukan pada harga Rp 970.

Penutup

Itu semua tadi, adalah ikhtisar ringkas dari bagaimana memprediksi pergerakan harga dan bagaimana trading berdasarkan prediksi harga tersebut. Saya mencoba menjelaskannya secara singkat, agar anda bisa melihat garis besarnya seperti apa. Prediksi itu gampang.Trading itu jauh lebih sulit.Itulah poin yang ingin saya sampaikan melalui tulisan saya ini. Ketika prediksi harga yang kita cari, model pola pikir yang biasa saya lakukan adalah sebagai berikut:

141027 Skema pembelajaran ringkas

Mudah dan sederhananya prediksi ini, membuat saya saat ini sedang mempertimbangkan untuk memberikan pelatihan secara gratis, atau setidaknya dengan pelatihan charga yang tidak terlalu memberatkan. Coba deh anda emailkan: nama, nomor hp, dan kota tempat pelatihan yang anda kehendaki ke email saya: analisteknikal@gmail.com dan cc ke noky@universalbroker.co.id. Jika peminatnya sudah mencapai minimal 50 orang, sepertinya pelatihan akan bisa untuk diselenggarakan.

Prediksi Ada yang Sulit

Kalau prediksi harga itu mudah, maka disisi lain, prediksi yang sulit itu, hanya memprediksi kapan sapi bisa bangkit dari tengah jalan.

Di India, sapi itu adalah binatang suci. Ketika seekor sapi sudah memutuskan untuk duduk ditengah jalan, maka kemacetan akan segera terjadi. Semua hanya boleh menunggu.Kapan sapi itu bangkit, hanya dia yang tahu.Padahal, kemacetan hanya bisa berakhir, ketika sapi itu bangkit.

Padahal, sapi itu binatang dengan kecerdasan dibawah kecerdasan manusia.Memprediksi kapan sapi itu bangkit, itu benar-benar sebuah perbuatan yang percuma, membuang tenaga, dan tidak ada faedahnya. Kita hanya bisa menanti sapi itu bangkit, dan situ kita tahu.kapan kita akan maju.

So..daripada menunggu sapi bangkit, mendingan saya menulis refleksi seperti ini. Lagian, ini momentum tahun baru. Buat apa kita memperkeruh pikiran dengan memikirkan sapi? Mendingan melakukan refleksi atas apa yang sudah kita lakukan, dan mereka-reka: apa yang bisa kita lakukan, untuk masa depan yang lebih baik.

Kerja… kerja… kerja…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Menanti Kesetiaan @Jokowi_do2 Kepada Republik Indonesia

October 6th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Semoga anda belum bosan dengan ulasan politik amatiran dari saya.Analis pasar modal itu… sebaiknya hanya ngurusin pasar modal. Tapi..karena sebagian orang bilang bahwa belakangan faktor politik mempengaruhi pergerakan pasar, pergerakan IHSG, dan saya tidak setuju dengan pernyataan ini; ya sudahlah. Berarti saya (dengan berat hati) kembali melakukan curcol (curhat colongan) sebagai wakil dari pelaku ekonomi khususnya pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia.Semoga curcol saya ini, bisa mewakili sebagian dari pendapat anda.

Koreksi Global Penyebab Koreksi IHSG

Koreksi yang terlihat pada IHSG memang terlihat sangat luar biasa. Kalau kita melihat dari posisi penutupan IHSG pada hari Kamis tanggal 25 September 2014 dimana IHSG masih bisa ditutup pada level 5.201,38, posisi penutupan IHSG pada hari Jumat tanggal 3 Oktober 2014 kemarin di level 4.949,35, IHSG memang sudah terkoreksi sebesar 252.03 poin atau setara dengan 4,85 persen. Tapi, kalau kita melihat kondisi dari bursa di kawasan regional, kondisinya juga kurang lebih sama. Indeks Hang Seng memang terkoreksi tajam sebagai akibat dari demonstrasi Hong Kong yang masih terus berlangsung. Akan tetapi, indeks Dow Jones Industrial terkoreksi juga cenderung terkoreksi ditengah data-data ekonomi yang positif, yang kemudian membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga lebih cepat dari Juni 2015, lebih cepat dari perkiraan pelaku pasar saat ini. Pola dimana IHSG terkoreksi sebagai pengaruh dari koreksi global ini, lebih terasa ketika kita melihat aliran dana asing di pasar reguler, yang ada pada bursa kita. Kalau kita melihat koreksi IHSG, sepertinya baru terasa semenjak tanggal 25 September lalu. Akan tetapi, jika kita melihat dari aliran dana asing di pasar regular, aksi jual dari pemodal asing sebenarnya sudah mulai terlihat semenjak tanggal 9 September 2014. Ketika itu, pemodal asing memang mulai melepas posisi menjelang Fed Meeting.Mereka berspekulasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga. Pada saat The Fed tidak jadi menaikkan suku bunga, dana asing memang sempat kembali melakukan aksi beli pada tanggal 18 – 22 September. Akan tetapi, ketika keluar data bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika cukup jauh diatas ekspektasi, pemodal asing kemudian khawatir The Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat sehingga kembali melakukan aksi jual. Aksi jual yang terus berlangsung hingga hari Jumat kemarin.

Koreksi Global bersamaan dengan Kondisi Politik Yang Memburuk

Semenjak pemodal asing melakukan aksi jual pada tanggal 9 September 2014 lalu, terdapat 2 kesempatan dimana pemodal asing melakukan tekanan jual dengan besaran sekitar Rp 1,4 trilyun. Yang pertama adalah pada tanggal 26 September, ketika UU Pilkada baru saja disetujui, dan pada tanggal 3 Oktober kemarin, ketika Ketua DPR baru saja dipilih. Mengingat pada keduanya kubu Koalisis Merah Putih (KMP) mengalami kemenangan atas Koalisi Indonesia Hebat (KIH), maka banyak pengamat pasar modal yang kemudian menyatakan bahwa kondisi politik menjadi sentiment negatif bagi pergerakan IHSG. Padahal tidak sepenuhnya seperti itu.Tekanan jual sudah nampak sejak tanggal 9 September, jauh sebelum kedua event tersebut berlangsung.Bukan hanya ketika event itu terjadi.Yang saya lihat, event politik tersebut hanya memperburuk keadaan sehingga memperbesar tekanan jual dari pemodal asing.
Saya lebih setuju pada pendapat dari Pak Chatib Basri pada tanggal 2 Oktober 2014 kemarin, yang menyatakan bahwa masalah politik ini bukan penyebab utama dari koreksi yang terjadi pada IHSG belakangan ini. IHSG terkoreksi, penyebab utamanya adalah karena reaksi dari pelaku pasar (terutama pelaku pasar global) terhadap kebijakan suku bunga dari The Fed.Kondisi politik hanya memperburuk keadaan.
KMP vs KIH akankah berbeda dengan KMP vs Jokowi ?
Masih segar dalam ingatan saya..saat saya pertama kali mencoblos SBY pada Pemilu 2004. Ketika itu, saya menjadi mahasiswa Program Magister Sains di Universitas Gadjah Mada.Secara otomatis, saya masih melakukan coblosan di daerah Banteng Baru, Jalan Kaliurang, Jogjakarta.Pemilu dilakukan dengan lancar.Semua orang sangat bersemangat untuk mencoblos.Orang bersemangat untuk mencoblos karena motivasi untuk menyelamatkan Indonesia dari tangan Megawati.Maklum saja, ketika masa pemerintahan Megawati, mewarisi kondisi ekonomi yang masih belum begitu bagus pasca Reformasi 1997 – 2001: inflasi yang sulit dikendalikan, pertumbuhan ekonomi yang lamban, konflik antar etnis di Kalimantan dan Maluku, pemerintah yang kekurangan dana sehingga terpaksa menjual aset, ditambah lagi hembusan rumor korupsi yang dilakukan oleh Taufiq Kiemas. Belum lagi, tekanan juga datang dari regional Asia dimana Presiden Arroyo menyatakan diri tidak akan mencalonkan diri pada Pemilu 2004 sebagai akibat dari permasalahan yang kurang lebih sama dengan yang dihadapi oleh Megawati (kekacauan ekonomi dan tuduhan korupsi terhadap suami). Ketika itu, perlawanan terlihat sangat sengit dilakukan oleh partai-partai yang saat ini sebagian besar tergabung dalam Koalisi Merah Putih, terhadap PDIP selaku partai penguasa.

Dalam Pemilu Legislatif 2014 kemarin, luka lama saya ketika tahun 2004 dulu Megawati melakukan pembiaran atas krisis etnis yang terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia, membuat saya tidak memilih PDIP. Akan tetapi, ketika Pilpres, saya melihat Jokowi sebagai sebuah issue yang berbeda.Dibandingkan dengan kembali ke kondisi orde baru yang penuh kekangan, saya memilih untuk tetap berada dalam demokrasi kerakyatan dengan memilih Joko Widodo.Pilihan saya ini membuat saya sering kali melihat Jokowi dan PDIP menjadi dua buah entitas yang terpisah.Memang sih, Tim Transisi Jokowi-JK yang didominasi oleh orang-orang PDIP, membuat saya sedikit ‘meragukan’ cara pandang atas entitas Jokowi yang mandiri, ‘lepas’ dari PDIP.Akan tetapi, melihat bagaimana Jokowi ketika menjadi Gubernur DKI kemarin benar-benar bisa ‘lepas’ dari PDIP, saya merasa masih punya harapan.

Harapan ini, tentu saja terkait dengan sikap KMP terhadap Jokowi, ketika Jokowi nanti sudah menjadi Presiden. Saat ini, saya melihat bahwa kemenangan KMP pada UU MD3, UU Pilkada, Pemilihan Ketua DPR, semua terjadi dalam kerangka KMP vs KIH. KMP vs Megawati. Akankah KMP vs Jokowi nanti akan berbeda? Saya masih memiliki harapan.

Perpu Pilkada: sebuah preseden

Pada hari Jumat kemarin, saya sebenarnya sudah terlanjur bullish semenjak pagi.Saya bullish karena Presiden SBY sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (Perpu Pilkada).Memang, Perpu Pilkada ini, nantinya harus memperoleh pesetujuan DPR. Akan tetapi, dengan pembahasan yang dilakukan tahun depan setelah Presidennya adalah Jokowi, yang keluar dalam pikiran saya adalah seperti ini: Kondisinya nanti kan beda. Ketika Perpu ini kemudian dibahas, Presidennya sudah Jokowi.Apakah PDIP masih tetap kekanak-kanakan seperti sekarang?Apakah KMP masih tetap solid seperti sekarang? Apakah tidak ada partai anggota KMP yang berpendapat beda?

Lagian, pengajuan Perpu tersebut, saya pikir bisa menjadi preseden.Nanti, kalau DPR mengeluarkan peraturan yang ‘aneh’, Jokowi tinggal membuat Perpu dan kemudian mengajak Rakyat untuk berpikir. Kalau apa yang diputuskan oleh DPR ternyata tidak disukai oleh rakyat, benarkah DPR selalu bisa memaksakannya?

Kalau ternyata Jokowi korupsi, apakah Rakyat akan diam saja? Apakah Rakyat akan diam saja kalau ternyata DPR menjadi sarang koruptor? Apakah Rakyat akan diam saja ketika DPR melemahkan KPK? Apakah Rakyat akan diam saja ketika DPR mengeluarkan peraturan-peraturan yang jauh dari akal sehat?

Rakyat Tetap Akan Menjadi Pemenang

Sejauh ini, saya tetap optimis.Saya tetap optimis tentang pemerintahan Jokowi, tentang prospek ekonomi Indonesia untuk tahun-tahun mendatang.Jokowi belum memerintah… kenapa kita harus galau? Kalau Jokowi sudah memerintah, kemudian menunjuk manusia tidak berkualitas yang dari PDIP untuk menteri-menterinyakemudian gagal dalam 3 bulan awal pemerintahannya, mungkin pendapat saya akan berubah. Akan tetapi, sebelum Jokowi diangkat menjadi Presiden, saya belum akan berhenti untuk optimis. Karena saya percaya, bahwa Jokowi akan tetap setia pada Indonesia, dan Rakyat Indonesia yang berakal sehat tetap akan menjadi pemenang.
Karena saya optimis… outlook saya akan IHSG juga tetap optimis. Memang sih..hingga saat ini, bottom dari trend turun IHSG belum bisa dilihat. Bisa 4933 kemarin adalah bottom, bisa suport di sekitar level 4850, atau bisa juga target-target IHSG dibawah itu yang saya tidak mau sebutkan disini.Yang jelas, saya tetap berharap bahwa trend turun kali ini bisa berakhir diatas suport 4835, karena titik terendah dibawah level tersebut, bisa mengubah outlook jangka panjang saya.

Saya tetap optimis sehingga koreksi adalah kesempatan untuk melakukan posisi beli di harga yang lebih murah. Di level berapa bottom IHSG?? Hehehe.Itu juga saya belum punya jawaban pastinya. Tapi saya berharap agar titik terendah itu tidak berada dibawah level 4835.

Coba kalau Jokowi itu kader Nasdem atau PKB. Mungkin semua akan berlangsung lebih mudah.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags: