Home > Knowledge from The Street > (Sekali lagi) Fraksi Pergerakan Harga: Belajar dari Pengalaman Tahun 2000

(Sekali lagi) Fraksi Pergerakan Harga: Belajar dari Pengalaman Tahun 2000

Selamat pagi…

Mulai tanggal 6 Januari 2014 nanti, BEI akan menerapkan sebuah aturan baru dalam perdagangan saham.  Aturan tersebut akan mengatur banyaknya saham dalam satuan lot perdagangan dan perubahan atas fraksi harga.  Kalau mengenai banyaknya saham dalam 1 lot perdagangan, yang berubah dari 500 lembar menjadi 100 lembar, jelas saya mendukung sekali peraturan tersebut.  Perubahan jumlah banyaknya saham dalam 1 lot tersebut, akan membuat harga saham menjadi lebih terjangkau oleh pemodal retail.   Ini yang membuat pemodal retail yang melakukan setoran awal dalam jumlah minimum (Rp 10 juta), bisa membentuk portfolio yang berisi saham-saham blue chip dengan fundamental yang lebih bagus.

Usaha untuk mempersempit spread dengan cara mempersempit fraksi harga, sebenarnya bukan pertama kali dilakukan.  Pada tahun 2000, BEI pernah mencoba mempersempit fraksi harga secara drastis.  Langkah yang dilakukan pda tanggal 3 Juli 2000 ini, mengubah fraksi harga yang tadinya sebesar Rp 25 untuk semua kisaran harga, menjadi Rp 5 untuk semua kisaran harga.  Sebuah langkah yang sangat maju.  Hasilnya, bisa kita lihat pada grafik di bawah ini:

131228 IHSG DJI 2000

Grafik di atas, memperihatkan perbandingan pergerakan antara IHSG, Dow Jones Industrial (New York Stock Exchange), dan Stait Times Index (Singapore).  Ketiga titik (1,2,3) adalah titik-titik penting dari pergerakan harga pada periode tersebut.  Titik yang pertama adalah posisi harga pada tanggal 30 Juni 2000.  Hari tersebut adalah hari terakhir dimana perdagangan di lantai Bursa Efek Jakarta (nama Bursa Efek Indonesia ketika itu), melakukan perdagangan dengan fraksi harga Rp 25.  Titik yang ketiga, adalah titk pergerakan harga pada tanggal 20 Oktober 2000.  Saat BEI menerapkan fraksi 3 fraksi (Rp 5, Rp 25, dan Rp 50).  Titik kedua, adalah titik pergerakan harga pada tanggal 6 September 2000, hari dimana indeks Dow Jones Industrial (DJI) mencapai level tertinggi dalam periode tersebut.  Mari sekarang kita lihat kenaikan atau penurunan ketiga indeks tersebut, pada periode tersebut.

131228 IHSG DJI 2000 Tabel

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada tanggal 3 Juli 2000, BEI memperkenalkan fraksi baru yang lebih kecil, dari fraksi sebelumnya.  Setelah itu, IHSG cenderung bergerak turun, ditinggalkan bursa regional yang terus bergerak naik.  Pada bulan Juni, ketika indeks Dow Jones Industrial dan Strait Times mencapai puncak dari trend naik dengan masing-masing kenaikan sebesar 8,3 persen dan 6,2 persen, IHSG malah terkoreksi sebesar 7,7 persen.  Dan, ketika pada akhirnya BEI menyadari hal itu dan kembali mengubah fraksi harga menjadi lebih akomodatif pada tanggal 20 Oktober 2000, Indeks DJI dan STI memang sudah kembali dibawah titik awal pada tanggal 30 Juni.  Tapi, koreksi 18,4 persen yang terjadi pada periode tersebut, tetap jauh dibawah koreksi yang terjadi pada DJI dan STI. Selama periode ‘fraksi halus’ tersebut, IHSG cenderung berkinerja lebih buruk (underperform) terhadap pergerakan indeks regional.

Mengapa IHSG bisa ‘underperform’ DJI dan STI hingga sedalam itu? Jawabannya sebenarnya sederhana: Because Elvis.. has left the building.  Eh.. maksud saya, karena pemodal retail lokal, memutuskan untuk meninggalkan pasar modal, atau setidaknya, mengurangi minat mereka untuk berspekulasi.  Data yang didapat dari materi presentasi BEI dibawah ini memperlihatkan, bahwa semenjadi 2000 – 2003, frekuensi transaksi memang cenderung mengalami penurunan.  Frekuensi transaksi baru meningkat secara signifikan, ketika BEI pada tahun 2005 dan 2007, menerapkan kebijakan fraksi harga yang lebih akomodatif.

131228 IHSG Freq vs Vol

Seperti yang sudah kita ketahui bersama: pemodal retail lokal itu, memang kurang sophisticated dalam melakukan trading.  Dibandingkan masuk ke saham-saham blue chip yang nilainya relaitf tinggi, pemodal retail lokal lebih cenderung untuk membeli saham-saham lapis kedua yang kapitalisasinya kecil dan nominal harga yang relatif murah.  Itu sebabnya, minat dari pemodal retail lokal untuk melakukan transaksi, lebih bisa dilhat dari frekuensi transaksi, bukan dari nilai dari transaksi itu sendiri.  Kondisi pasar yang relatif flat-turun selama 2000-2003, memang bisa saja dijadikan kambing hitam, mengapa pemodal lokal mengurangi aktifitasnya.  Akan tetapi, perubahan fraksi dari Rp 25 menjadi Rp 5, bisa saja menjadi pemicu dari berkurangnya minat pemodal lokal untuk mengurangi transaksinya.

Mengapa pemodal retail akan mengurangi transaksi ketika fraksi harga semakin halus? Kalau menurut perkiraan saya siy, karena memang pemodal retail lokal ini, lebih merupakan spekulator amatir, dibandingkan dengan spekulator professional.  Spekulator amatir ini adalah mereka yang melakukan transaksi sekedar untung-untungan, dengan tanpa melakukan prediksi pergerakan harga (baik fundamental maupun teknikal) yang bertanggung jawab.  Model transaksi yang sering dilakukan, adalah model transaksi jibur, jigo (Rp 25) langsung kabur.  Mereka ini sering kali adalah scalper trader dimana setelah mereka melakukan posisi beli, mereka langsung melakukan posisi jual ketika harga bergerak naik 1 – 2 poin fraksi.  Karena tidak mau rugi, biasanya mereka gemar menahan posisi ketika harga bergerak turun kemana-mana.  Tapi, ketika untung, untung 1-2 poin mereka langsung melakukan posisi jual.

Fraksi harga yang lebih kecil, akan membuat mereka lebih sulit untuk mencari keuntungan.  Dari tabel dibawah ini bisa kita lihat, bahwa pada fraksi harga sekarang, para spekulator amatir, spekulator jibur, atau scalper trader ini, terlihat bersemangat untuk melakukan transaksi karena dengan pergerakan harga 1 poin, mereka sudah langsung untung.  Tapi, dengan fraksi harga yang baru, para spekulator jibur ini, sepertinya bakal mengurangi aktifitasnya karena pada fraksi harga yang baru ini, mereka harus berjuang agar harga bisa bergerak 2-3 poin, baru mereka bisa meraup keuntungan.

131228 Fraksi Harga Baru

Jadi… Kedepan… kalau BEI memberlakukan satuan lot dan fraksi harga yang baru, sudah barang tentu, nilai perdagangan dan frekuensi transaksi, kemungkinan akan meningkat.  Bagaimana tidak meningkat, satuan lot yang baru akan membuat perdagangan akan dilakukan dengan jumlah saham per lot yang lebih kecil, sehingga frekuensi transaksi sudah barang tentu akan meningkat secara signifikan.  Tapi.. kalau saya bilang siy.. meningkatnya seberapa besar dulu? Kalau peningkatan frekuensi transaksi tidak 3-5 kali dari frekuensi transaksi sebelumnya, ya pentingkatan itu sama saja tidak ada artinya.

Terus… kedepan… dengan fraksi harga yang lebih kecil ini, para trader amatir sebaiknya juga harus semakin pintar untuk melakukan prediksi harga jangka pendek, seperti juga mereka harus lebih pintar untuk melakukan positioning (posisi beli atau jual) dalam trading.  Ini karena dalam mencari cuan dengan cara untung-untungan, sepertinya bakal menjadi semakin sulit.

Bagi saya, orang yang biasa ke sana-sini memberikan training pasar modal dengan atau tanpa memungut bayaran, penerapan fraksi harga yang lebih kecil ini, jelas menguntungkan.  Orang pasti akan semangkin giat belajar sehingga ocehan saya akan semakin dibutuhkan dimana-mana.  Penerapan fraksi harga yang lebih kecil seperti ini, juga akan membuat fasiltas online trading yang cepat dan memiliki fasilitas ‘pemasukan order semi otomatis’, seperti Ezydeal 5 milik Universal Broker Indonesia, bakal menjadi semakin diminati.

Tapi… Kok ya kasian bener pemodal retailnya yak? Begitu masuk pasar modal, harus sudah semakin pintar.  Barrier to entry dalam sisi modal, memang semakin rendah, tapi barrier to entry untuk masalah skill, malah jadi semakin tinggi.  Apa ya bisa?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.