Archive

Archive for December, 2013

Kala Senja di Majapahit…*

December 30th, 2013 No comments


… hari ini adalah minggu  ke tujuh dari pengepungan kerajaan Mataram terhadap ibukota Majapahit.  Wajah dari rakyat, terlihat mulai kuyu.  Semangat di mata sudah mulai hilang.  Bahan pangan mulai menghilang, penyakit mulai bermunculan.  Setiap saat, setiap malam yang dingin.  Bulu kuduk seakan-akan berdiri.  Musuh yang terus siap siaga, seakan menunggu saat-saat yang tepat untuk menyerang.  Setiap hari terjadi insiden di pinggiran kota, dimana penduduk yang sudah putus asa, yang sudah lelah dengan kondisi didalam kota, akhirnya terbantai ketika mencoba untuk menerobos pengepungan.  Udara benar-benar sudah penuh dengan hawa kematian yang membawa siapa saja, tenggelam dalam ketakutan, tanpa harapan… 

Selamat pagi…

Tulisan diatas… jelas bukan cuplikan dari novel-novel tentang Majapahit karya dari Langit Kresna Hariyadi, maupun karya dari SH. Mintaraja.  Akan tetapi, tulisan diatas kira-kira bisa mewakili gambaran dari apa yang kita lihat pada pergerakan harga di Bursa Efek Indonesia pada satu-dua bulan terakhir.  Sulit banget untuk mencari sentiment positif.  Orang-orang yang masih Bullish seperti saya, seakan-akan sudah seperti merenggang nyawa.  Mau tetap bullish bagaimana? Berita semua sudah negatif.  US Dollar tidak juga beranjak dari level 12.000.  Aliran dana asing, sebentar beli, tapi sebentar lagi jual dalam jumlah yang lebih banyak.  Usaha pengendalian nilai tukar seakan-akan tidak menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.  Yang ada, hanya orang-orang yang menanti, menanti awal bulan depan, menunggu data defisit neraca perdagangan.  Hari-hari berlangsung dengan koreksi, volume perdagangan tipis.

Mau bicara Outlook atau gambaran prediksi IHSG di tahun 2014? Sebenarnya banyak orang yang optimis.  Ada memang yang pesimis.  Akan tetapi, jumlah yang optimis sepertinya lebih banyak.  Kalau mau omong optimis untuk 2014, orang pasti  beranjak dari fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun cenderung turun, tapi sebenarnya tetap saja ‘tidak jelek-jelek amat’.  Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada tahun 2014, masih tetap diatas 5 persen lah.  Masih jauh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Dunia yang menurut Bank Dunia hanya berkisar pada angka 3 persen.  Terlebih lagi, tahun depan adalah tahun Pemilu.  Sebuah event akbar yang sejak 2002, selalu ditandai dengan kenaikan IHSG.  Outlook 2014 memang masih terlihat indah.  Tapi… trend turun jangka menengah IHSG ini loh… kok nggak selesai-selesai.

Dalam dua bulan terakhir, IHSG bergerak dalam sebuah trend turun jangka menengah yang hingga perdagangan hari Jumat kemarin, masih belum juga berakhir.  Trend turun jangka pendeknya saja, hingga hari terakhir sebelum liburan Natal, masih terus berlangsung.  Trend turun jangka pendek ini baru berakhir pada hari Jumat kemarin, ketika IHSG berhasil ditutup diatas resisten pertama di 4205.

Hari perdagangan di tahun 2013, memang hanya tinggal hari ini.  Tahun 2013 sebenarnya bukan sebuah tahun yang buruk.  Di tahun ini, IHSG sempat berada diatas level psikologis 5000.  Sebuah level yang sudah dalam dua-tiga tahun terakhir menjadi fatamorgana bagi sebagian orang.  Akan tetapi, tahun 2013 ini juga yang menjadi saksi, bahwa perekonomian kita, memang dibangun diatas sebuah fondasi mata uang yang rapuh.  Maklum saja… hobby kita untuk mengimpor segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan kita, telah membuat Rupiah mudah sekali jatuh.  Dari BBM, makanan, barang-barang konsumsi, dan masih banyak lagi.  Petasan yang akan anda sulut nanti malam deh… kemungkinan juga adalah hasil dari impor.

Problemnya lagi, pemerintahan autopilot yang selama ini dijalankan, benar-benar menuai hasilnya: autopilot ketika pesawat sedang menanjak, ketika perekonomian sedang bagus, mungkin tidak mengapa.. akan tetapi, autopilot ketika pesawat sedang nosedive (hidung pesawat menghadap kebawah), tentu saja membuat semua penumpang berteriak-teriak.  Terlebih lagi, ketika semua alarm tanda bahaya menyala (hingga bunyi alarmnya kedengaran dari penumpang baris paling depan), pilot dengan tenangnya tetap mengumumkan dengan announcer: woles aja bro… tidak ada apa-apa kok… didepan juga tidak ada gunung… silakan berhenti untuk panik.

Hehehe….

Terkadang… saya berpikir… bahwa saya sudah bosan untuk tetap bullish.  Bosan untuk bilang bahwa IHSG 5000 lagi tahun 2014.  Bosan untuk bilang bahwa IHSG masih bisa bikin rekor lagi di tahun 2014 nanti.  Akan tetapi, realita yang ada… sejauh ini… setidaknya selama satu-dua bulan ini… bergerak berlawanan dengan apa yang saya lihat:

  • Rupiah tidak kunjung juga menguat,
  • BI Rate sudah mulai berasa ketinggian untuk bisa membuat perekonomian bisa berjalan normal,
  • Tapering memang mulai berlangsung tahun depan.  Tapi.. kok ya masih ada yang jadi perdebatan: itu turunnya mau pelan-pelan seperti diagonal dengan sudut landau atau dengan sudut curam?
  • Perdebatan itu yang membuat aliran dana asing belum juga kembali muncul meski tapering sebenarnya lebih ringan dari yang diperkirakan.

Saya sudah bosan bullish karena Pemerintah seakan-akan tidak memiliki keperdulian terhadap apa yang terjadi.  Saya tahu bahwa langkah fiskal memang hasilnya lamban.  Akan tetapi… saya juga tahu bahwa harga saham itu, adalah harga saat ini dari sebuah kondisi di masa yang akan datang.  Itu berarti: kalau harga belum naik, berarti pasar memang belum melihat atau percaya, bahwa langkah yang ditempuh oleh Pemerintah bakal memberikan hasil positif.

Kebosanan saya untuk bullish juga semakin bertambah, karena saya masih juga belum bisa percaya bahwa pasar bakal merespon kebijakan fraksi harga baru dengan positif.  Sebagai ‘mantan korban’ dari kebijakan fraksi harga yang mengubah fraksi Rp 25 menjadi Rp 5 pada tahun 2000 dulu (gile.. karatan banget gue ye? Hehehe) yang membuat aktifitas dari pemodal retail berkurang drastis, saya memang belum bisa melupakan ‘trauma masa lalu’.  Jumlah pemodal retail kita, belum juga mencapai angka 1 persen dari jumlah penduduk.  Masa mereka yang ada mau diusir lagi?  Ok lah kalau kebijakan penurunan jumlah saham dalam 1 lot sepertinya bakal membuat pemodal retail yang baru mau untuk mencoba berinvestasi langsung ke bursa saham.  Tapi… Untuk fraksi harga baru… saya sih tetap tidak yakin bisa memberikan pengaruh positif bagi jumlah pemodal retail yang aktif bertransaksi di bursa kita.

Tapi…. Mau bagaimana lagi: Selama tidak ada hitungan teknikal bahwa kita harus bearish untuk long term, saya tidak bisa bearish.  Selama IHSG tidak mencetak new low (level terendah yang baru) dibawah 3837, saya tidak bisa bearish.  Berita-berita jelek, boleh mempengaruhi kondisi mental saya.  Tapi, selama tidak ada signal negatif jangka panjang, saya masih tetap bullish dan optimis menghadapi 2014 nanti.

So…

Hawa kematian… memang masih terus membumbung di angkasa Majapahit…

Tapi kita harus tetap optimis.  Kalau pada hari terakhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia di tahun 2013 ini saya boleh bermimpi… maka saya akan bermimpi bahwa IHSG bakal ditutup diatas penutupan tahun kemarin.  Dikasi naik dikit diatas 4316,69. Eh… tapi… nggak usah setinggi itu juga siy: diberi new high (level tertinggi baru) diatas 4257,17 saja.. saya juga sudah cukup senang.  Karena new high diatas 4257,17 bakal membuka peluang, bahwa IHSG di bulan Januari masih akan terus bergerak naik.

Rawe-rawe rantas… Malang-malang tuntas!

Mari kita sambut 2014 dengan harapan bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang lebih baik bagi pasar modal Indonesia.

Happy trading…. Semoga barokah!!!

Satrio Utomo

PS: Tulisan ini adalah tulisan saya yang dimuat pada harian Kontan edisi 30 Desember 2013 dan ditulis pada hari Sabtu 28 Desember kemarin.  Pada saat tulisan ini saya upload, IHSG sudah sempat membuat new high diatas resisten 4257.  Semoga penembusan resisten tersebut adalah pertanda bahwa IHSG akan melanjutkan trend naik jangka pendek ini menjadi rally di bulan Januari 2014.

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Outlook Tags:

(Sekali lagi) Fraksi Pergerakan Harga: Belajar dari Pengalaman Tahun 2000

December 28th, 2013 No comments

Selamat pagi…

Mulai tanggal 6 Januari 2014 nanti, BEI akan menerapkan sebuah aturan baru dalam perdagangan saham.  Aturan tersebut akan mengatur banyaknya saham dalam satuan lot perdagangan dan perubahan atas fraksi harga.  Kalau mengenai banyaknya saham dalam 1 lot perdagangan, yang berubah dari 500 lembar menjadi 100 lembar, jelas saya mendukung sekali peraturan tersebut.  Perubahan jumlah banyaknya saham dalam 1 lot tersebut, akan membuat harga saham menjadi lebih terjangkau oleh pemodal retail.   Ini yang membuat pemodal retail yang melakukan setoran awal dalam jumlah minimum (Rp 10 juta), bisa membentuk portfolio yang berisi saham-saham blue chip dengan fundamental yang lebih bagus.

Usaha untuk mempersempit spread dengan cara mempersempit fraksi harga, sebenarnya bukan pertama kali dilakukan.  Pada tahun 2000, BEI pernah mencoba mempersempit fraksi harga secara drastis.  Langkah yang dilakukan pda tanggal 3 Juli 2000 ini, mengubah fraksi harga yang tadinya sebesar Rp 25 untuk semua kisaran harga, menjadi Rp 5 untuk semua kisaran harga.  Sebuah langkah yang sangat maju.  Hasilnya, bisa kita lihat pada grafik di bawah ini:

131228 IHSG DJI 2000

Grafik di atas, memperihatkan perbandingan pergerakan antara IHSG, Dow Jones Industrial (New York Stock Exchange), dan Stait Times Index (Singapore).  Ketiga titik (1,2,3) adalah titik-titik penting dari pergerakan harga pada periode tersebut.  Titik yang pertama adalah posisi harga pada tanggal 30 Juni 2000.  Hari tersebut adalah hari terakhir dimana perdagangan di lantai Bursa Efek Jakarta (nama Bursa Efek Indonesia ketika itu), melakukan perdagangan dengan fraksi harga Rp 25.  Titik yang ketiga, adalah titk pergerakan harga pada tanggal 20 Oktober 2000.  Saat BEI menerapkan fraksi 3 fraksi (Rp 5, Rp 25, dan Rp 50).  Titik kedua, adalah titik pergerakan harga pada tanggal 6 September 2000, hari dimana indeks Dow Jones Industrial (DJI) mencapai level tertinggi dalam periode tersebut.  Mari sekarang kita lihat kenaikan atau penurunan ketiga indeks tersebut, pada periode tersebut.

131228 IHSG DJI 2000 Tabel

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada tanggal 3 Juli 2000, BEI memperkenalkan fraksi baru yang lebih kecil, dari fraksi sebelumnya.  Setelah itu, IHSG cenderung bergerak turun, ditinggalkan bursa regional yang terus bergerak naik.  Pada bulan Juni, ketika indeks Dow Jones Industrial dan Strait Times mencapai puncak dari trend naik dengan masing-masing kenaikan sebesar 8,3 persen dan 6,2 persen, IHSG malah terkoreksi sebesar 7,7 persen.  Dan, ketika pada akhirnya BEI menyadari hal itu dan kembali mengubah fraksi harga menjadi lebih akomodatif pada tanggal 20 Oktober 2000, Indeks DJI dan STI memang sudah kembali dibawah titik awal pada tanggal 30 Juni.  Tapi, koreksi 18,4 persen yang terjadi pada periode tersebut, tetap jauh dibawah koreksi yang terjadi pada DJI dan STI. Selama periode ‘fraksi halus’ tersebut, IHSG cenderung berkinerja lebih buruk (underperform) terhadap pergerakan indeks regional.

Mengapa IHSG bisa ‘underperform’ DJI dan STI hingga sedalam itu? Jawabannya sebenarnya sederhana: Because Elvis.. has left the building.  Eh.. maksud saya, karena pemodal retail lokal, memutuskan untuk meninggalkan pasar modal, atau setidaknya, mengurangi minat mereka untuk berspekulasi.  Data yang didapat dari materi presentasi BEI dibawah ini memperlihatkan, bahwa semenjadi 2000 – 2003, frekuensi transaksi memang cenderung mengalami penurunan.  Frekuensi transaksi baru meningkat secara signifikan, ketika BEI pada tahun 2005 dan 2007, menerapkan kebijakan fraksi harga yang lebih akomodatif.

131228 IHSG Freq vs Vol

Seperti yang sudah kita ketahui bersama: pemodal retail lokal itu, memang kurang sophisticated dalam melakukan trading.  Dibandingkan masuk ke saham-saham blue chip yang nilainya relaitf tinggi, pemodal retail lokal lebih cenderung untuk membeli saham-saham lapis kedua yang kapitalisasinya kecil dan nominal harga yang relatif murah.  Itu sebabnya, minat dari pemodal retail lokal untuk melakukan transaksi, lebih bisa dilhat dari frekuensi transaksi, bukan dari nilai dari transaksi itu sendiri.  Kondisi pasar yang relatif flat-turun selama 2000-2003, memang bisa saja dijadikan kambing hitam, mengapa pemodal lokal mengurangi aktifitasnya.  Akan tetapi, perubahan fraksi dari Rp 25 menjadi Rp 5, bisa saja menjadi pemicu dari berkurangnya minat pemodal lokal untuk mengurangi transaksinya.

Mengapa pemodal retail akan mengurangi transaksi ketika fraksi harga semakin halus? Kalau menurut perkiraan saya siy, karena memang pemodal retail lokal ini, lebih merupakan spekulator amatir, dibandingkan dengan spekulator professional.  Spekulator amatir ini adalah mereka yang melakukan transaksi sekedar untung-untungan, dengan tanpa melakukan prediksi pergerakan harga (baik fundamental maupun teknikal) yang bertanggung jawab.  Model transaksi yang sering dilakukan, adalah model transaksi jibur, jigo (Rp 25) langsung kabur.  Mereka ini sering kali adalah scalper trader dimana setelah mereka melakukan posisi beli, mereka langsung melakukan posisi jual ketika harga bergerak naik 1 – 2 poin fraksi.  Karena tidak mau rugi, biasanya mereka gemar menahan posisi ketika harga bergerak turun kemana-mana.  Tapi, ketika untung, untung 1-2 poin mereka langsung melakukan posisi jual.

Fraksi harga yang lebih kecil, akan membuat mereka lebih sulit untuk mencari keuntungan.  Dari tabel dibawah ini bisa kita lihat, bahwa pada fraksi harga sekarang, para spekulator amatir, spekulator jibur, atau scalper trader ini, terlihat bersemangat untuk melakukan transaksi karena dengan pergerakan harga 1 poin, mereka sudah langsung untung.  Tapi, dengan fraksi harga yang baru, para spekulator jibur ini, sepertinya bakal mengurangi aktifitasnya karena pada fraksi harga yang baru ini, mereka harus berjuang agar harga bisa bergerak 2-3 poin, baru mereka bisa meraup keuntungan.

131228 Fraksi Harga Baru

Jadi… Kedepan… kalau BEI memberlakukan satuan lot dan fraksi harga yang baru, sudah barang tentu, nilai perdagangan dan frekuensi transaksi, kemungkinan akan meningkat.  Bagaimana tidak meningkat, satuan lot yang baru akan membuat perdagangan akan dilakukan dengan jumlah saham per lot yang lebih kecil, sehingga frekuensi transaksi sudah barang tentu akan meningkat secara signifikan.  Tapi.. kalau saya bilang siy.. meningkatnya seberapa besar dulu? Kalau peningkatan frekuensi transaksi tidak 3-5 kali dari frekuensi transaksi sebelumnya, ya pentingkatan itu sama saja tidak ada artinya.

Terus… kedepan… dengan fraksi harga yang lebih kecil ini, para trader amatir sebaiknya juga harus semakin pintar untuk melakukan prediksi harga jangka pendek, seperti juga mereka harus lebih pintar untuk melakukan positioning (posisi beli atau jual) dalam trading.  Ini karena dalam mencari cuan dengan cara untung-untungan, sepertinya bakal menjadi semakin sulit.

Bagi saya, orang yang biasa ke sana-sini memberikan training pasar modal dengan atau tanpa memungut bayaran, penerapan fraksi harga yang lebih kecil ini, jelas menguntungkan.  Orang pasti akan semangkin giat belajar sehingga ocehan saya akan semakin dibutuhkan dimana-mana.  Penerapan fraksi harga yang lebih kecil seperti ini, juga akan membuat fasiltas online trading yang cepat dan memiliki fasilitas ‘pemasukan order semi otomatis’, seperti Ezydeal 5 milik Universal Broker Indonesia, bakal menjadi semakin diminati.

Tapi… Kok ya kasian bener pemodal retailnya yak? Begitu masuk pasar modal, harus sudah semakin pintar.  Barrier to entry dalam sisi modal, memang semakin rendah, tapi barrier to entry untuk masalah skill, malah jadi semakin tinggi.  Apa ya bisa?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags: