Archive

Archive for March, 2013

Pengumuman Kinerja Emiten: Perbedaan Reaksi antara Pemodal Asing vs Pemodal Aseng

March 28th, 2013 No comments

Selamat pagi…

….Harga saham TLKM ini bagaimana? Katanya laba bersihnya naik 17,24 persen, kok harga sahamnya turun???  Memang kurang ajar sekali bandar saham TLKM ini…. Pemodal retail seperti saya selalu dikerjain!

Itu adalah komentar dari seorang pemodal retail yang sempat curcol (curhat colongan) pada tanggal 7 Maret lalu, sehari setelah PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mempublikasikan kinerja keutangan untuk tahun buku 2012.

Saya kemudian bertanya: “Loh Pak… emang kalau laba bersih naik, terus harga sahamnya harus naik?”

Pemodal itu menjawab: “Iya lah… saham  XXXX yang saya  punya (beliau menyebutkan salah satu saham lapis kedua), kemarin harganya langsung naik setelah mengumumkan kinerjanya meroket”.

Ketika earning season (waktu dimana emiten biasanya mengumumkan kinerja keuangannya), mengharapkan harga akan bergerak naik ketika pengumuman kinerja positif dari sebuah emiten adalah kebiasaan hampir selalu dilakukan oleh seorang pemodal retail.  Padahal, reaksi pasar terhadap penyampaian kinerja emiten, sebenarnya tidak sama untuk setiap emiten.  Salah satu perbedaan yang sering bisa kita lihat adalah: perbedaan reaksi dari saham yang biasanya menjadi ‘mainan’ dariPemodal Asing’ (saham-saham yang penggeraknya adalah pemodal asing, biasanya adalah saham saham blue chip dengan kapitalisasi pasar yang besar), dengan saham-saham lapis kedua yang penggeraknya biasanya adalah pemodal lokal, ‘Pemodal Aseng’ begitu orang menyebutnya.

Di kalangan pemodal, saham-saham tersebut kemudian disebut sesuai dengan siapa pemainnya.  ‘Saham Asing’ adalah saham-saham yang pemain utamanya adalah pemodal asing, atau setidaknya adalah fund manager (baik lokal maupun asing) yang melakukan transaksi berdasarkan hitungan fundamental yang mereka lakukan.  Saham-saham ini biasanya memiliki kapitalisasi yang besar, yang merupakan penggerak indeks benchmark (bisa IHSG, LQ-45,  atau indeks yang lain, termasuk didalamnya indeks sektoral), atau setidaknya, merupakan saham-saham yang banyak diteropong oleh tim riset dari foreign houses (broker-broker asing).  ASII, BMRI, BBRI, TLKM, BBCA adalah beberapa contoh dari Saham Asing ini.

Saham Aseng adalah semua saham yang selain selain saham asing tersebut, yang sering kali dimainkan oleh pemodal lokal.

Alasan dari Penyebab dari perbedaan ini adalah: pemodal asing melakukan penghitungan valuasi, baik secara langsung, ataupun secara tidak langsung yang dilakukan oleh research house asing tempat mereka bertransaksi.  Valuasi tersebut, komponen utamanya adalah laba bersih.  Jadi:

Pemodal asing bereaksi terhadap perbandingan laba bersih emiten setelah dibandingkan dengan angka konsensus atau angka hitungan yang mereka lakukan sendiri.  Jika laba bersih itu diatas hitungan (ekspektasi) mereka, maka (kemungkinan besar) mereka akan menaikkan valuasi dari emiten tersebut, dan itu bisa membuat arus pemodal untuk membeli saham tersebut.  Sebaliknya, jika laba bersih dibawah ekspektasi, maka pemodal asing (sering kali) akan melakukan aksi jual, karena mereka bisa saja menurunkan peringkat rekomendasi atau menurunkan valuasi dari emiten tersebut.

Sedangkan untuk pemodal Aseng… mereka biasanya tidak berhitung.  Ada sih yang berhitung, tapi biasanya tidak banyak.  Nah.. Karena tidak berhitung, penyakit ‘gumunan’ (gampang heran), sering kali menyergap pemodal Aseng. Jadi…

Pemodal Aseng hanya melihat growth (pertumbuhan/ peningkatan laba bersih).  Kalau pertumbuhannya tinggi, mereka akan melakukan aksi beli, dengan harapan deviden yang diharapkan bakal lebih banyak.

Contoh terakhir dari reaksi Asing terhadap Saham Asing, bisa dilihat pada saham TLKM.  Kalau anda melihat kinerja TLKM laba bersih naik 17,24% tapi harga turun, tolong cek dulu angka konsensus laba bersihnya*.  Disitu bisa dilihat bahwa ternyata konsensus laba bersih TLKM adalah sebesar Rp 13,2 tr… sedangkan laba bersih TLKM hanya sebesar Rp 12,8.  Jadi… kenaikan 17,24% tidak memuaskan mereka.. mereka kemudian melakukan posisi jual.  Pada ASII juga kejadiannya kurang lebih sama.  Karena kinerja FY 2012 ternyata dibawah ekspetasi

Kalau contoh reaksi pemodal lokal (Pemodal Aseng) terhadap pergerakan dari saham-saham ?  Banyak lah… anda tinggal lihat headline dari surat kabar atau online news, apalagi kalau baru sekedar rumor.  Kalau ada berita bagus tentang kinerja emiten…. dengan kinerja naik diatas 100%… sering kali harga bergerak naik… meski terkadang kenaikannya hanya intraday.  Kalau Saham Aseng yang kemudian malah turun setelah pengumuman kinerja, tolong juga jangan dipukul rata bahwa ‘bandarnya jahat’, mau ngerjarin pemodal retail, dll.  Bisa saja koreksi tersebut, akibat pemodal tidak lagi melihat peluang untuk terjadinya ‘massive earning growth’ (kenaikan pendapatan atau laba perusahaan dalam jumlah yang luar biasa) untuk di masa yang akan datang.  Sebagai contoh: kalau perusahaan property, bisa saja karena cadangan lahan kosong (land bank) yang dimilikinya memang sudah habis.  Atau, untuk perusahaan batubara yang baru saja backdoor listing, bisa jadi backdoor listing tersebut sudah berlangsung lebih satu tahun yang lalu.  Jadi, pada laporan keuangan mendatang ‘ledakan kinerja’ yang biasanya mengikuti saham backdoor listing, pengaruhnya sudah hilang.  Pada laporan keuangan mendatang, pertumbuhan pendapatan atau labanya akan kembali ke asli, terkait dengan harga batubara yang selama setahun terakhir ini turun.

Jadi… kalau ada pengumuman kinerja, belum tentu kenaikan laba bersih yang spektakuler akan membuat harga saham bergerak naik.  Anda harus melihat banyak faktor, sebelum memutuskan untuk melakukan perburuan di pagi hari, ketika saham mulai diperdagangkan.

So… saham apa yang sedang anda pegang? Saham Asing atau Saham Aseng? Semoga tulisan ini bisa menjadi bekal agar anda bisa bereaksi dengan lebih baik pada earning season kuartal pertama 2013 yang akan mulai berlangsung sebulan lagi.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*angka konsensus laba bersih yang saya gunakan disini, adalah angka konsensus yang da pada terminal Bloomberg.  Angka konsensus analis yang tersedia untuk umum, bisa dilihat website Reuters.

Because in Stock Market, Shit Always Happen…*

March 17th, 2013 1 comment

Selamat pagi…

Market lagi bagus.  IHSG sedang dalam trend naik yang kuat.  Saya barusan ngintip ke salah satu grup saham yang ada di FB.  Pesertanya sudah meningkat dengan pesat.  Udah gitu, banyak dari anggotanya, yang kemudian baru saja menjadi bloggers, dengan membuat blog-blog baru tentang saham.

Coba sekarang kita lihat chart dibawah ini… kalau harganya mau rebound, arahnya kemana?

130317 SMGR Invert

Pasti ada sebagian dari anda yang menjawab:

Ini saham mau rebound ke 14500!  Saya pake teori Pak Tommy yang bilang bahwa saham memiliki peluang yang sangat tinggi untuk bergerak menuju retracement 50%-nya!!!

Kalau itu jawaban anda…. saya mau bertanya lagi.  Emang saham diatas, harga berakhirnya berapa?

Betul… harga terakhirnya adalah 18250.  Itu adalah saham SMGR.  Dan, SMGR dari 18250 ke 14500, bukanlah rebound, tapi TURUN.

Tapi mengapa chartnya naik?

Pertama-tama, saya tidak mau bilang bahwa saya memprediksikan SMGR untuk turun ke 14500, karena masih banyak suport yang lain, seperti 17000 atau 16500 yang juga merupakan retracment 50% dari trend yang lebih pendek.

Tapi,

kita terkadang memang harus menerima bahwa pergerakan harga itu setidaknya memiliki 2 arah: naik atau turun

Kalau SMGR memang lari ke suport-suport itu, entah itu 17000, 16500, atau 14500, ya sudah sewajarnya.  Yang penting kita mau menerima bahwa arah pergerakan harga itu ada dua: naik atau turun.  Harga memang bisa saja… naik terus menerus dalam suatu periode tertentu.  Periode ini bisa saja panjaaaaaaag… dan lamaaaaaaaaa…. Tapi ada kalanya harga bergerak turun.

Point utama saya disini adalah:

Kalau anda mau survive di stock market, baik sebagai analis maupun sebagai seorang trader atau investor, jangan hanya pintar prediksi harga ketika bergerak naik, tapi anda harus pintar untuk prediksi ketika harga bergerak turun!!!

Apa? Anda mau bilang bahwa: Saham pilihan saya ini bullet proof pak… anti peluru.  Ditembak seperti apa saja, trend naiknya tidak akan berbalik.

Saya bertanya: Emang siapa yang jaga? Keng Hong? Kalau penguasa pasar yang besar (ssst…. jangan sebut Keng Hong sebagai bandar, anda bisa diomelin sama dia seperti dia mengomeli Majalah Fortune… hehehe) seperti Keng Hong yang jaga, saya masih percaya.  Karena dia terkadang suka bikin (almost) single stock portfolio.  Udah gitu, Keng Hong tidak percaya margin.  Meskipun pake atau tidak, saya sendiri juga tidak bisa memastikan.

Tapi kalau bandar-bandar ketengan, bandar-bandar yang lain, saya sih tidak percaya.  Kelemahan dari bandar-bandar yang lain, dan juga setiap orang adalah: mereka membentuk portfolio dan mereka menggunakan fasilitas margin dari perusahaan sekuritas.  Mereka melakukan itu, karena duit mereka, sebenarnya juga terbatas.  Udah gitu, mereka juga mahluk-mahluk yang serakah, sama seperti saya dan anda.  Karena mereka membentuk portfolio dan menggunakan margin, mereka sering kali kena domino effect: saham yang satu terjelengkang, akan menarik mereka untuk melepas saham yang lain yang ada di portfolionya.

Keng Hong aja… suka jualan kalau dia merasa bahwa harga sahamnya sudah ‘fully valued’.  Apalagi bandar-bandar ketengan itu?

So… Pertanyaannya adalah: Apakah strategi anda jika kira-kira trend naik IHSG dan/atau trend naik dari saham yang anda pegang berakhir? Apakah anda mau hold? Atau anda mau jual dulu? Kalau anda mau Hold, emang anda investor? Kalau anda adalah seorang trader, apakah anda masih tetap akan hold? Bukannya seorang trader itu prinsip utamanya adalah: Beli ketika mau naik, dan jual ketika mau turun?

Ingat loh…

Prinsip utama dari seorang trader adalah:

Beli ketika mau naik, dan jual ketika mau turun

Apakah strategi anda ketika trend naik berakhir?

Friendly Warning dari Aliran Dana Asing

Trend naik jangka menengah pada IHSG, memang belum berakhir.  Trend naik jangka panjangnya… apalagi.  Yang sudah berakhir hanya trend naik jangka pendek.  Tapi yang membuat saya waspada, net sell aliran dana asing, sudah melewati angka Rp 1 trilyun dalam 3 hari perdagangan terakhir.  Sebuah peringatan bahwa posisi beli dari pemodal asing, bisa saja sudah berakhir.  Tekanan jual, masih dilakukan secara sporadis.  Tekanan jual terbesar memang terlihat pada saham ASII yang kinerja FY2012nya dibawah ekspektasi.  Tapi, kalau anda mau melihat lebih dalam, ternyata tekanan jual juga sudah mulai terlihat pada saham-saham properti (seperti BSDE dan ASRI), terlepas adanya fakta bahwa kinerja FY2012 BSDE, sebenarnya masih diatas ekspektasi konsensus.

Tekanan jual pemodal asing, tidak hanya pada saham lapis pertama, tapi juga pada saham lapis ketiga.

Sekedar informasi… tahun kemarin, aliran dana asing di awal tahun, sempat dua kali masuk terus keluar, dalam jumlah yang relatif sama.  Yang pertama, mereka beli sekitar Rp 4,8 tr di bulan Januari, terus langsung keluar lagi dalam jumlah yang sama.  Mereka beli sekitar Rp 12,5 tr di bulan Maret – April, tapi mereka juga exit sekitar Rp 11 tr pada bulan April-Juli.

130317 Aliran dana asing

Asing beli banyak dan keluar dalam jumlah yang banyak juga, itu bukan barang baru.

Penutup

So… kalau anda lihat beberapa tulisan saya terakhir, baik dalam ‘Selamat Pagi’, ’15.45′, atau dalam tweet saya, anda bisa lihat bahwa saya sudah dalam posisi trading.  Saya sering sempat full cash di tengah hari… tapi kalau sore… saya suka ‘mengail di air bening’…. antri di saham-saham big caps, ngarep ada asing yang iseng lempar kiri.  Strategi yang beresiko tinggi.  Tapi… lumayan juga profitnya dalam dua hari terakhir.

Apakah anda sudah memiliki strategi untuk menghadapi market yang turun?

Saya masih tetap dalam prediksi, bahwa IHSG masih bisa 5000 tahun ini.  Tapi kalau ternyata trend jangka menengah berubah menjadi turun, saya sudah punya jalan keluarnya.  Saya sudah siap dengan cara prediksinya, dan saya juga sudah siap dalam bagaimana saya melakukan posisi beli atau posisi jualnya.

Membalik chart adalah cara saya untuk tetap bisa memiliki prediksi harga yang tetap bagus, baik ketika market naik dan juga ketika market bergerak turun.

Semoga anda juga sudah memiliki strategi jika ternyata trend naik ini ternyata sudah berakhir.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Aliran Dana Asing vs Aliran Dana Aseng?*

March 5th, 2013 2 comments

Investor               :  Pak Tommy…Kapan kita koreksi?

Saya                       :  Kalau aliran dana asing sudah berhenti.

Investor               : Kapan aliran dana asing itu berhenti?

Saya                       : Gak tau pak…. Hehehe.

Selamat pagi…

Itu adalah cuplikan jawabah dari pertanyaan yang sering dilontarkan oleh pemodal belakangan ini.  IHSG memang hanya bisa terkoreksi jika aliran dana asing terhenti.  Tapi, hingga akhir minggu lalu, aliran dana asing ini terlihat masih deras mengalir.

Aliran dana asing selama Bulan Februari 2013, memang luar biasa.

Tahukah anda bahwa selama bulan Februari 2013 ini, aliran dana asing yang terjadi, sudah lebih besar daripada aliran dana asing yang terjadi selama satu tahun pada tahun 2012 kemarin? Tahukah anda bahwa aliran dana asing yang terjadi pada bulan Februari 2013 adalah aliran dana asing bulanan yang terbesar sepanjang masa ?

Dari data yang saya pantau dari Bloomberg, dalam 10 tahun terakhir, pemodal asing hampir tidak pernah berada dalam posisi net buy atau net sell lebih dari Rp 4 trilyun dalam 1 bulan.  Transaksi net buy lebih dari Rp 2 trilyun, hanya sempat terjadi 3 kali: 2 kali di tahun 2008, dan 1 kali di 2011.  Itupun ketiganya disebabkan oleh adanya transaksi pada pasar negosiasi.  Bukan transaksi pada pasar reguler.  Dari sumber yang lain, data aliran dana asing selama bulan Februari juga terlihat spektakuler: pada bulan Ferbuari kemarin , aliran dana asing tidak pernah negatif, tidak satu hari pun!!!

130204 Aliran Dana Asing Februari

Data tersebut adalah data yang saya ambil dari Ezydeal 5, platform On Line Trading terbaru dari PT Universal Broker Indonesia.  Sumber data tersebut, tentu saja adalah data transaksi dari PT Bursa Efek Indonesia.  Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa aliran dana asing untuk pasar reguler pada bulan Februari 2013 sudah mencapai Rp 10 trilyun.  Lebih tinggi dari aliran dana asing yang terjadi di pasar reguler pada tahun 2012 yang mencapai Rp 9.6 trilyun, dan jauh lebih tinggi dari aliran dana asing yang terjadi aliran dana asing yang terjadi pada tahun 2011 yang angkanya hanya mencapai Rp 816,3 miliar (data sejak Februari 2011).

Loh Net Buy Asing Pak Tommy kok beda dengan pernyataan BEI?

Betul.  Kalau anda googling, salah satu artikel yang saya temui di www.kontan.co.id menyebutkan bahwa berdasarkan data BEI, sepanjang tahun 2011 masih terjadi aliran dana asing masuk (net inflow of foreign capital) sebesar Rp 25,67 triliun. Namun sepanjang 2012, dana asing tersebut melorot menjadi hanya Rp 15,44 triliun.Pejabat BEI yang diwawancara oleh Kontan tersebut menyatakan, bahwa Krisis Ekonomi di Amerika dan Eropa telah membuat aliran dana asing jauh merosot.

Realitanya: Krisis Amerika dan Eropa memang masih terjadi.  Tahun 2012 masih terjadi, dan sekarang juga sepertinya masih belum selesai.  Krisis yang merupakan lanjutan dari apa yang terjadi pada tahun 2011.  Sampai saat inipun kondisinya masih tetap sama: Apapun berita bullishnya, berita bearishnya pasti dari Krisis di Eropa.  Akan tetapi, apakah kondisi dari Bursa Eropa dan Bursa Amerika pada tahun 2012 lebih buruk jika dibandingkan dengan tahun 2011? Ternyata jawabannya adalah TIDAK.  Pada tahun 2011, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) mengalami kenaikan 5,5 persen, Indeks Deutscher Aktien IndeX (DAX) terkoreksi 14,7 persen, dan FTSE 100 (FTSE atau Footsie) terkoreksi 5,6 persen.  Akan tetapi,  ketiga indeks ini mengalami kenaikan di tahun 2012.  Krisis memang masih berlangsung pada tahun 2012, tapi indeks dari Bursa di masing –masing negara tersebut, sudah mengalami kenaikan, tidak seperti indeks pada tahun 2011 yang masih cenderung terkoreksi.

Aliran dana Pemodal Asing, atau aliran dana Pemodal Aseng?

Anda pernah mendengar seloroh di pasar modal: Emang itu asing? Asing atau Aseng? Yang disebut sebagai pemodal ‘Asing’ disini adalah pemodal asing yang sebenarnya, yang asli.  Yang disebut sebagai ‘Aseng’ adalah pemodal lokal yang menggunakan broker asing atau bahkan menggunakan kode transaksi F (foreign) sebagai penanda dalam melakukan transaksi.  Para pemain saham gorengan yang sudah berpengalaman tentu sudah hafal: Pemodal Asing melakukan posisi beli karena mereka ingin melakukan investasi, sedangkan Pemodal Aseng melakukan posisi beli agar pemodal lokal yang lain untuk turut melakukan beli pada saham tersebut.  Pemodal Asing beli karena emiten tersebut bagus, sedangkan pemodal Aseng melakukan posisi beli untuk menjebak pemodal lokal yang lain.

Jadi… Mana yang anda percaya: Pemodal Asing atau Pemodal Aseng? Saya sih percaya  Pemodal Asing.  Saya percaya Aliran Dana Asing hanya yang terjadi di Pasar Reguler.  Saya mensikapi pergerakan Pemodal Aseng di pasar non reguler dengan sangat berhati-hati karena transaksi tersebut sering kali tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Bagaimana dengan anda?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Knowledge from The Street Tags: