Archive

Archive for February, 2013

Pupus sudah harapan Jutawan BUMI untuk kembali menjadi Milyarder..*

February 22nd, 2013 2 comments

Selamat pagi…

Hasil dari RUPS BUMI di London semalam, Nat Rothschild kalah telak. Proposal pergantian direksinya ditolak, plus dia gagal untuk kembali masuk ke jajaran direksi. Bagi pemodal, itu berarti perbaikan kondisi fundamental BUMI yang saya harapkan, kemungkinan tidak akan terlaksana. Tidak ada perubahan. Hutang juga masih tetap akan bengkak.. Pre-emptive right issue juga masih akan berulang. Pupus sudah harapan dari para Jutawan pemilik saham BUMI.. untuk kembali menjadi Milyarder..

Saya kemarin gak lihat perdagangan sesi kedua. Ketika suport di 970 ditembus sehingga target 850 terbuka, harusnya saya juga sudah sadar kalau Rothschild bakalan kalah.

So.. Kemana saham BUMI? Apakah kembali ke 850? Atau dikerek naik oleh euphoria pasar dulu ke atas 1000 (bahkan 1150-1200) sebelum kembali turun? Yang jelas… Harapan harga saham BUMI untuk bergerak naik, sangat tergantung dari peran Harry Tanoe setelah ini, sebagai pemegang saham BUMI Plc yang baru. Selama Harry Tanoe hanya berposisi sebagai ‘pelengkap penggembira’, tidak adanya perubahan dalam kondisi fundamental dari saham BUMI tetap menjadikan posisi ‘Sell On Strength’ lebih menarik untuk dilakukan.

Today just another day… There is nothing new under the sun…

Happy trading… Semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini. Terima kasih.

Categories: Market Comment, Uncategorized Tags:

BUMI memang sudah kiamat di 2012(?)*

February 19th, 2013 3 comments

Selamat pagi…

Mungkin anda dan saya, sekarang sudah di alam baka, kalau BUMI memang sudah kiamat di tahun 2012. Tapi.. Yang kiamat ini bukanlah BUMI yang kata lainnya adalah ‘dunia’ atau bule bilangnya ‘earth’… melainkan kiamat PT BUMI Resources, terutama bagi keluarga Bakrie.

BUMI resources yang menjadi cash cow mereka sejak 2003-2005, terancam ‘kiamat’ akibat kesombongan yang mereka lakukan sendiri: menganggap bahwa otoritas bursa London sama ‘ceketer’ atau ‘ecek-ecek’-nya dengan otoritas bursa kita, yang hingga saat ini wibawanya telah berusaha untuk dipulihkan oleh OJK. Rothschild.. partner (atau sebenarnya ‘boneka’?) mereka yang berani melawan dalangnya. Mereka sekarang terancam kehilangan kuasa pada saham itu.. meski lepasnya hanya ke Harry Tanoe… Belum tentu ke Rothschild atau ke Hasyim juga.

Apakah ‘Kiamat BUMI’ ini bagus? Bagus buat pemodal retail yg sudah banyak menjadi jutawawan gara-gara ulah mereka. Pemodal retail yang dulunya adalah milyarder, atau bahkan trilyuner, telah banyak yang ‘dipermak’, dibuat rugi banyak oleh pergerakan dari saham ini, hingga saat ini hanya menjadi seorang jutawan. Bagus juga buat Harry Tanoe karena dia bisa mendapatkan aset dengan harga murah (meski kualitasnya juga gak jelas). Buat bangsa kita juga bagus. Tapi.. Buat keluarga Bakrie? Hm… Nanti mereka kan bisa dapet mainan yang laen.

Saya sih sudah bosan melihat drama Bakrie ini. Sama seperti Saya bosan melihat gonjang-ganjing PSSI yang dalangnya juga adalah keluarga Bakrie, sama dengan saya bosan melihat gonjang ganjing politik kita yang aktor intelektualnya adalah partai yang saat ini dalam genggaman Bakrie. Jadi… Saya sih tetap keukeuh untuk tidak positioning disini. Biar resisten di 910 sudah tembus kemarin, biar potensi kenaikannya sampai 1150-1200, biar kalau Harry Tanoe bisa masuk, bisa jadi upsidenya lebih gila dari itu.

Akan tetapi.. Saya akan tetap bersedia untuk duduk di baris terdepan.. menjadi komentator dan pendamping anda yang memiliki posisi pada saham-saham tersebut.

Sebagai pengingat: kondisi fundamental dari perusahaan masih buruk. Terutama gara-gara hutang yang tidak terkendali. Positioning pada saham grup Bakrie, sebaiknya hanya dilakukan dengan mode ‘trading’. Kalau anda mau investasi? Heheheh… siap-siap aja dengan klub jutawan Bakrie.. Mereka masih menerima member yang baru.

Sementara itu dulu.

Masih banyak hal yang aneh siy… seperti Hari Tanoe belinya kok cuman 6000 lot (minimal yang atas nama sendiri).  Gak sampe 1 papan offer.  Jangan-jangan ini cuman bikin sentimen agar harganya naik biar setelah itu ‘orang yang lagi BU’ bisa lepas BUMI di harga yang lebih tinggi.

Ini pasar modal.  Semua masih bisa terjadi.

Happy trading… Semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini. Terima kasih.

Categories: Market Comment Tags:

Redenominasi Rupiah: Gak perlu buru-buru…

February 11th, 2013 No comments

Selamat pagi…

Berbicara tentang Imlek, pasti lebih menarik kalau kita berbicara tentang Emas.  Maklum, dalam beberapa tahun terakhir ini, emas memang menjadi pilihan utama ketika orang akan memberikan hadiah ketika Imlek.  Hal ini tercermin dalam pergerakan harga emas selama 4 tahun terakhir dimana harga emas selama seminggu sebelum dan sesudah Imlek selalu naik setidaknya sebesar US$50 per troy ounces.  Cuman.. mau nulis mengenai hal ini, tulisannya baru saja saya upload di weblog saya di Kontan (sartrio.blog. kontan.co.id).  Lagian, seminggu ini harga emas sudah terkoreksi hampir US$10 per troy ounces.  Apakah harga emas bisa berbalik arah dan kemudian bergerak naik hingga akhir minggu ini? Kita lihat sama-sama deh.

Kali ini saya ingin menyoroti sebuah masalah lain yang juga ‘menggelitik’ sejak awal tahun yang lalu: Redenominasi Rupiah.  Maklum… Sejak tanggal 23 Januari 2013 lalu, Pemerintah bersama-sama dengan Bank Indonesia mulai menggulirkan Konsultasi Publik Perubahan Harga Rupiah Redenominasi yang tidak lain adalah sosialisasi mengenai redenominasi ini.  Padahal disisi lain, semua terlihat berantakan: Rupiah tengah bergejolak, kebijakan BBM subsidi tidak jelas, yang terus membebani anggaran dan mempengaruhi nilai tukar, tingginya angka inflasi di bulan Januari, korupsi yang memasuki babak baru dengan keberhasilannya mempengaruhi inflasi, pengusaha yang masih gerah akibat tingginya kenaikan UMR, buruknya infrastruktur yang terus menyebabkan banjir di Jakarta dan di berbagai daerah di Indonesia, belum lagi masalah pergulatan politik yang kian memanas menjelang Pemilu 2014.

Yang lucu: kalau anda sampat baca tulisan saya yang berjudul Faktor ‘P’ pada Tahun 2013 yang dimuat pada Wake Up Call Kontan, 31 Desember 2012 lalu, (anda masih bisa mencari judul yang sama pada weblog saya, satrio.blog.kontan.co.id), berantakannya kondisi yang ada, sebagian besar adalah akibat dari kebijakan dari pejabat publik, orang-orang yang ada di Pemerintahan sendiri.

Pelemahan Rupiah, sebenarnya diawali oleh kebijakan BI yang mendorong pelemahan Rupiah, untuk menekan impor.  Kebijakan ini dilakukan oleh hampir saja melewati level psikologis Rp 10.000 per US$.  Meski BI akhirnya bisa menahan agar Rupiah tetap di kisran berada Rp 9600 – Rp 9800 per US$, tapi pasar terlihat sempat panik untuk beberapa hari.  Pelemahan nilai tukar yang terjadi, bukan hanya karena itu merupakan ‘kebijaksanaan’ atau ‘kesengajaan’, tapi karena permintaan US$ yang semakin hari semakin besar karena adanya kebutuhan US$ untuk mengimpor BBM.

Inflasi Januari penyebabnya ada dua: kenaikan harga pangan dan banjir Jakarta.  Ok lah… banjir Jakarta bisa saja kita bilang sebagai ‘act of God’.  Tapi, kenaikan harga pangan, ternyata tidak bisa lepas dari mahalnya harga daging, yang memicu kenaikan harga bahan pangan lainnya.  Kenaikan harga daging, ternyata salah satu penyebabnya adalah inefisiensi yang terjadi akibat adanya korupsi.  Hebat loh!  Ini prestasi baru dari korupsi di negara kita.  Biasanya, korupsi hanya menyentuh variabel-variabel ekonomi yang tidak vital sehingga tidak mempengaruhi harkat hidup orang banyak (dan membuat saya juga tidak terlalu perduli karena tidak ada pengaruhnya pada pasar modal).  Tapi, ketika korupsi bisa mempengaruhi inflasi, itu jelas sudah kebangetan… Itu adalah sebuah prestasi baru.

Gejolak politik? Hehehe… Mungkin saya sedikit termakan oleh tweet dari @triomacan2000 atau berita-berita yang ada di beberapa media.  Tapi… Kok ada Presiden yang mengkudeta seorang Ketua Umum?  Pake gaya ragu-ragu lagi: Ketua Umumya gak langsung ‘disingkirkan’.  Lha nanti kalau kudetanya gagal, lantas gimana? Apa terus Ketua Umum akan ‘menyingkirkan’ Presiden? Ah… nggak mau komentar perkara ini ah…  Takut salah.  Serahkan saja permasalahan ini pada mereka yang mengerti.  Kita menjadi penonton saja.  Penonton OVJ yang selalu tidak bosan untuk tertawa-tawa, terus tertawa hingga hatinya mati.  Memprihatinkan.

Redenominasi adalah suatu langkah dimana akan dilakukan penyederhanaan nominasi satuan mata uang.  Dalam redenominasi Rupiah yang akan digulirkan, nominasi yang dihilangkan adalah senilai 3 buah angka nol, yang berarti Rp 1000 = Rp 1.  Redenominasi ini bukanlah sanering (pemotongan uang).  Pada redenominasi (teorinya) tidak akan terjadi pengurangan daya beli, karena harga barang juga ikut mengalami penyesuaian.  Ini berbeda dengan sanering dimana ketika angka nol dari mata uang dihilangkan, harga barang tidak mengalami penyesuaian.  Pada sanering, daya beli masyarakat berkurang.

Kemarin, ketika saya hunting materi untuk thesis, saya mencoba mencari materi tentang redenominasi pada website www.ssrn.com.  Hasilnya, saya mendapatkan artikel dari Duca Ioana yang berjudul THE NATIONAL CURRENCY RE-DENOMINATION EXPERIENCE IN SEVERAL COUNTRIES – A COMPARATIVE ANALYSIS.  Disitu dibahas mengenai proses redenominiasi yang telah berlangsung pada berbagai negara.  Beberapa diantaranya seperti Turki, memang berhasil.  Akan tetapi, dalam beberapa kasus, seperti Rusia, Argentina, dan Brazil., redenominasi hanya menimbulkan kekacauan yang lebih besar.  Karena inflasi yang tinggi, Argentina akhirnya harus melakukan redenominasi hingga tiga kali dalam periode 1983 – 1992.  Brazil bahkan harus melakukannya empat kali dalam periode 1986 – 1994.  Kesimpulan dari Ioana: redenominasi sebaiknya dilakukan ketika inflasi sedang rendah dan ketika Pemerintah juga sudah yakin bahwa inflasi pasca redenominasi, tetap dijaga pada level rendah.

Dalam bahasa saham

Saya mencoba ngomong dalam ‘bahasa saham’ deh.. biar kita bisa menjadi lebih jelas.  Redenominasi itu… kalau buat kita yang biasa berkutat di bidang persahaman, akan berasa seperti saham yang mengalami reverse split.  Saham-saham disatukan, agar memiliki nominal yang lebih tinggi.  Kalau sahamnya ini memiliki fundamental yang bagus, memang tidak masalah.  Tapi, pengalaman yang ada di bursa kita, saham yang reverse split itu adalah saham yang bermasalah.  Sebut saja: BNBR dan FREN.  Niatnya sebenarnya bagus: agar saham tidak mentok di harga bawah, sehingga perdagangannya bisa lebih likuid.  Akan tetapi, karena redenominasi saham (reverse split) itu dilakukan ketika kondisi dari perseroan yang masih buruk, akibatnya lebih parah: harga saham yang diharapkan bisa kuat, malah semakin jatuh lebih parah.  Saya memang sudah lupa kejadian pada saham BNBR karena sudah berlangsung lama.  Tapi, dari pengalaman saham FREN ketika reverse split kemarin, kita mendapatkan pengalaman berharga.  FREN yang kondisi fundamentalnya masih lemah akibat hutang yang masih menggunung, ditambah dengan masalah negosiasi obligasi konversi yang belum kelar, langsung terjun bebas pasca reverse split.

Dimana-mana, aksi korporasi yang beresiko tinggi, itu sebaiknya hanya dilakukan ketika kondisi fundamental sedang kuat-kuatnya.  Redenominasi ketika kondisi perekonomian sedang tidak terlalu kuat seperti ini, hanya mencari masalah.   Pertumbuhan ekonomi memang masih bagus, tapi inflasi kita sedang tidak bagus karena faktor-faktor yang terjadi karena manusia-manusia itu sendiri.  Manusia yang menjadi ‘P’, penguasa.  Redenominasi itu tidak bisa dilakukan hanya karena faktor gengsi atau kemudahan bertransaksi.  Selain itu, redenominasi juga tidak bisa dilakukan terburu-buru.  Turki saja, harus menunggu sekitar 7 tahun sejak masa inisiasi redenominasi pada tahun 1998 hingga akhirnya melakukan redenominasi di tahun 2005.  Mereka cukup sabar untuk menunggu sampai kondisi inflasi stabil, baru mereka melakukan redenominasi.

Kalau menurut saya siy, redenominasi hanya bisa lakukan ketika nanti Gubernur BI-nya bukanlah orang yang menaikkan dan menurunkan tingkat bunga dengan alasan yang tidak cukup kuat.  Dan juga bukan ketika Presidennya adalah seorang peragu, yang tidak cukup tegas untuk menyelamatkan anggaran.

Redenominasi? Nanti saja… Sabar lah…. Selama inflasi masih sulit dikendalikan, redenominasi hanya menimbulkan permasalahan baru.  Bukan solusi.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Membeli Emas sebelum Tahun Baru Imlek…*

February 6th, 2013 No comments

Selamat pagi…

Ngurusin sebuah website berita seperti www.strategydesk.co.id, berarti saya harus ngerti pergerakan forex, cross rate, emas, indeks Hang Seng (kalau ini mah.. makanan harian), saham Hongkong, saham USA, dll, dsb.  Harus lihat pergerakannya, dan harus ngerti berita-beritanya.  Harus bisa jelasin lagi.. terutama kalau ada acara gathering sama nasabah.

Nah.. kemarin sore (5 Februari 2013), saya harus presentasi terkait Tahun Baru Imlek.  Awalnya, saya gak tahu apa yang mau bahas.  Untungnya temen-temen yang ada disitu kasi clue: lihat harga emas deh pak…. Emas kan selalu naik kalau Tahun baru Imlek.

Benar begitu?

Saya terus iseng.  Saya lihat di wikipedia tulisan tentang Tahun Baru Imlek. Saya kemudian ambil data historis emas yang saya download dari terminal Bloomberg yang ada di kantor.    Saya kemudian mencoba melakukan percobaan trading dengan strategi sebagai berikut:

  • Strategi Pertama: Beli 5 hari kerja sebelum Tahun Baru Imlek, Jual 5 hari kerja setelah Imlek.
  • Strategi Kedua: Beli ketika Tahun baru Imlek, Jual 5 hari kerja setelah Imlek.

Semua dilakukan dengan menggunakan harga penutupan.  Selain itu, jika Tahun Baru Imlek jatuh pada hari libur, maka dianggap bahwa Imlek jatuh pada hari terakhir sebelum libur.  Saya kemudian menghitung US$ return dari posisi-posisi tersebut.

Hasilnya ternyata cukup mengejutkan.

Berikut return dalam Dollar untuk kedua metode tersebut:

130205 US Dollar Return

Beberapa fakta menarik yang saya dapat adalah:

  • Dari 17 tahun observasi yang ada, ternyata probabilitas dari strategi ini untuk memperoleh keuntugan cukup tinggi, diatas 70%.  Untuk strategi pertama (beli 5 hari sebelum tahun baru imlek, jual 5 hari setelah tahun baru imlek) probabilitas mengalami keuntungan bisa mencapai 76.5 persen (13 dari 17 kali).  Untuk strategi kedua (beli pada saat hari tahun baru Imlek, dan jual 5 hari setelah tahun baru imlek). angkanya sedikit menurun, hanya 70.6 persen (12 dari 17 kali).
  • Untuk strategi pertama, average return untuk posisi untung adalah sebesar US$25.41.  Sedangkan untuk posisi rugi, average kerugiannya adalah sebesar US$8.32.
  • Untuk strategi kedua, average return untuk posisi untung adalah sebesar $10.83.  Average kerugian untuk posisi rugi adalah sebesar US$6.35.  Keduanya untuk angka seluruh periode
  • Satu-satunya return negatif yang terlihat konsisten (meski hanya dua kali) hanya terjadi pada tahun Tikus.

Untuk angka return selama 4 tahun terakhir, angkanya sangat spektakuler:

Dalam 4 tahun terakhir, jika anda melakukan posisi beli pada H-5 dari Tahun Baru Imlek dan kemudian melakukan posisi jual pada H+5 dari Tahun Baru Imlek, Average return yang anda dapat adalah sebesar US$64.5!!!

Benar-benar edun!  Bayangkan deh… Kalau kita maen Emas, initial margin untuk setiap open contract adalah sebesar US$1000.  Rule of Thumb-nya: setiap pergerakan US$10 pada harga emas, maka uang kita akan hilang (kalau kita rugi) atau akan berlipat ganda (untung 100%).  Lah ini average return US$64.5.  Berarti bisa berlipat-lipat dong duit yang dihasilkan?

Hehehe… tapi saya tidak mau kasi angin sorga deh.  Lihat tuh hasil di tahun 2008, yang rugi US$17.90.  Pada tahun 2008 itu, kalau anda punya posisi beli dalam loco London, duit anda gak cuman habis…  Tapi malah anda masih ngutang sama brokernya sebesar US$7.90 kalau anda tidak bisa exit posisi anda dengan cepat!!!

Tapi… window ini untuk meraup keuntungan yang spektakuler ini, ternyata tidak berlangsung lama.  Jika kita menunda keputusan kita untuk melakukan posisi beli hingga hari H dari Tahun baru Imlek, ternyata keuntungan yang kita dapat menjadi sangat jauh menurun.  Average returnnya untuk swing yang kita lakukan selama 4 hari tersebut, ternyata merosot jauh hanya menjadi US$10.83.  Itupun angkanya terlihat bervariasi.  Jika pada strategi pertama, ketika kita melakukan posisi beli sebelum imlek, return yang kita dapat, angka-angkanya relatif memiliki hasil yang tidak jauh berbeda atau stabil (terendah US$50.27 dan tertinggi US$85.97) dibandingkan ketika anda melakukan posisi beli ketika Tahun Baru Imlek.  Ketika kita melakukan posisi beli ketika Tahun Baru Imlek (strategi kedua), return yang didapatkan sangat tidak stabil: ada yang cuman US$1.63, sekitar 16% dari rata-rata tapi bisa US$53, hampir 5 kali dari rata-rata.  Disini dapat kita kesimpulan kedua kita bahwa posisi beli untuk emas, sebaiknya dilakukan sebelum hari H dari Tahun Baru Imlek, bukan ketika Tahun Baru Imlek

So… Tahun Baru Imlek sebentar lagi.  Hari-H nya tanggal 10 Februari.. jatuh pada hari Minggu.  Kalau dihitung… H-5 nya sudah jatuh pada hari Senin, 4 Februari 2013… sudah terlewat.  Tapi kalau melihat harga terakhir yang masih di sekitar 1674-1675… berarti masih belum jauh dari harga penutupan Senin yang tercatat di level 1674.259.  Apakah ini merupakan kesempatan bagi kita semua?

Hehehe… Kalau anda mau action… silakan saja.  Tapi tolong selalu ingat kondisi di tahun 2008: pada tahun itu… harga emas turun US$17.9 selama periode observasi.  Duit anda tidak hanya habis, tapi anda malah masih berhutang kepada brokernya.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

130206 Chinese New Year

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.