Archive

Archive for January, 2013

Awal Tahun 2013 yang Cetar Membahana

January 21st, 2013 2 comments

Tahun 2013 ini, benar-benar diawali dengan ‘luar biasa’.  Banjir, Jakarta lumpuh.  Tapi IHSG tidak mengalami koreksi yang berarti malah sempat mencetak rekor baru pada pergerakan hari Kamis dan Jumat.  Tentu saja, itu bukan berarti ‘pasar menyambut positif dan gegap gempita sebuah event yang bernama Banjir Jakarta 2013 yang membuat orang banyak sengsara bahkah menimbulkan korban jiwa’.  Tapi itu lebih berarti bahwa pasar cukup percaya diri, bahwa apa yang terjadi pada Jakarta dalam beberapa hari terakhir, tidak terlalu mempengaruhi kondisi perekonomian nasional untuk kedepannya.

Banjir memang membuat sebagian anggota bursa tidak bisa beroperasi.  Banjir juga telah membuat beberapa kantor pusat atau kantor cabang dari beberapa sekuritas tenggelam.  Volume perdagangan memang terlihat sedikit menurun.  Akan tetapi, karena perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia ‘sepertinya’ (hehehe… lucu memang karena saya harus menggunakan kata ‘sepertinya’ karena tidak ada angka yang mendukung statement saya ini. BEI pun tidak memiliki datanya) sebagian besar memang lebih dilakukan secara online, maka penurunan transaksi tidak terlihat mempengaruhi pergerakan harga.

Dana asing juga terus merangsek masuk ke bursa kita.  Meski sempat beberapa saat mereka sedikit ragu pada Rupiah yang melemah terlalu cepat dan juga ketika banjir mulai melanda, tapi kekhawatiran itu akhirnya terkalahkan oleh dorongan yang sangat kuat dari bursa regional, terutama Indeks Dow Jones Industrial, yang terus bergerak naik.  IHSG seakan tidak mau kalah oleh indeks Dow Jones Industrial.   Regional naik, begitu juga dengan IHSG.  Level 4400 yang pada tahun kemarin menjadi level keramat karena terasa sulit untuk dicapai, di awal tahun ini bisa langsung tercapai hanya dalam waktu beberapa hari.   Jangankan 4400, kisaran 4525 – 4650 yang merupakan target IHSG saya di tahun kemarin, sepertinya masih bisa tercapai dalam waktu yang tidak lama lagi.  Jika indeks Dow Jones Industrial terus bergerak naik untuk mencoba mencetak rekor baru di awal tahun ini.

Awal tahun 2013 ini juga menjadi spesial karena pada tahun ini BEI memulai perdagangan lebih awal, mulai jam 9.00.  Tidak hanya itu, BEI juga menyelenggarakan ‘post close trading session’.  Sebuah keseharian baru yang sangat berguna bagi pemodal, terutama bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai seorang ‘trader teknikal’, trader yang menggunakan analisis teknikal sebagai basis prediksinya.  Maklum, bagi seorang trader teknikal, posisi harga penutupan adalah hal yang sangat penting karena dengan harga penutupan itu, seorang trader teknikal bisa memperoleh informasi atau signal, apakah pergerakan harga di hari selanjutnya masih akan naik atau turun.  Jika sebelumnya setelah harga penutupan terjadi, trader teknikal hanya bisa mengambil posisi beli atau jual pada hari berikutnya, setelah sentiment pada malam harinya bergerak kemana-mana akibat pergerakan dari harga saham di bursa-bursa Eropa dan bursa Amerika,  mulai awal tahun ini, trader teknikal tersebut sudah bisa mengambil posisi beli atau posisi jual secara langsung, pada hari ketika harga penutupan itu terjadi.  Memang, dalam realitanya, jika ada volume order yang besar dari pemodal lain, dengan posisi yang sama dengan yang diinginkan oleh trader, bisa saja trader teknikal tersebut tidak bisa melakukan transaksi sesuai keinginannya.  Akan tetapi, setidaknya trader teknikal tersebut memiliki kesempatan untuk memiliki posisi.  Posisi beli atau jual setelah harga penutupan terjadi.

Tahun 2013 ini juga menjadi era baru bagi persaingan yang terjadi di kalangan para anggota bursa penyedia online trading.  Guna memenuhi keinginan dari para trader yang membutuhkan fasilitas order selain sekedar ‘beli’ atau ‘jual’, order yang dilakukan pada harga ‘pasar’ atau ‘antri’, para penyedia online trading bakal bersaing untuk menyediakan’ advance order’ untuk memikat segmen ‘profesional trader’ yang telah mulai tumbuh.  Anggota bursa bakal bersaing untuk menyediakan order-order yang terpicu oleh kondisi tertentu (conditional order), seperti stop order, trailing order, market-if-touch order, ataupun juga order-order yang terpicu oleh waktu, seperti market-on-open, market-on-close, dan lain sebagainya.  Fasilitas yang seperti ini, sebenarnya adalah hal yang ‘biasa’ atau ‘normal’ pagi perdagangan saham di luar negeri.  Tapi, lambatnya perkembangan teknologi telah membuat kita jauh tertinggal dengan fasilitas yang telah dinikmati oleh trader-trader di negara lain.  Tahun 2013 ini, adalah tahun dimana seorang trader harus mampu untuk berubah menjadi lebih canggih, lebih sophisticated, agar keuntungan bisa diperoleh dengan lebih mudah.

So… bagaimana kelanjutan pergerakan IHSG di tahun 2013 ini? Apakah masih akan tetap Cetar Membahana? Membuat kita selalu ternganga-nganga? Apakah menjadi tahun dimana IHSG mampu menggapai level 5000 yang menjadi target IHSG sebagian besar dari kita (termasuk saya terutama) di awal tahun ini?  Marilah kita lihat bersama-sama.

Di pasar modal, ‘kesempatan’ itu selalu ada.  Semua tergantung apakah anda bisa menterjemahkan ‘kesempatan’ itu sebagai sebuah ‘keuntungan’ atau sebuah ‘kerugian’.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Republik Panjat Pinang…*

January 14th, 2013 2 comments

Selamat pagi…

Mungkin sebagian dari anda sudah lama sadar, bahwa kita hidup di sebuah negeri Republik Panjat Pinang.  Sebuah Republik dimana semua orang melihat yang indah-indah diatas sana, berkata-kata tentang hal yang indah-indah itu, seakan-akan bekerja sama untuk mencapai tujuan, tapi ujung-ujungnya tetap saja: saling tarik menarik, dan berusaha untuk mencapai puncak dengan menginjak orang lain.  Korupsi, hukum yang berpihak dan tidak jujur, permainan kekuasaan yang memuakkan, dan masih banyak lagi.  Terkadang… ingin saya berbuat sesuatu… tapi saya sadar bahwa saya bukanlah siapa-siapa.  Saya tidak bisa berbuat apa-apa.  Yang bisa saya lakukan hanya memaki, atau menulis di blog ini.

Berbicara mengenai makian… Saya itu orang Surabaya.  Jancuk.. itu adalah sebuah kata persahabatan.  Kalau mau memaki, saya harus membuat kata-kata lebih kuat dari itu.  Terutama kalau saya sedang marah.

Saya marah bukan ketika saya salah prediksi.  Salah prediksi itu biasa.  Saya hanya marah kalau IHSG bergerak berlawanan dengan indeks regional.  Mengapa? Karena ketika IHSG bergerak berlawanan dengan regional, pasti banyak orang yang menjadi korban.  Trader yang tidak disiplin, pemodal pemula yang berharap bahwa harga bisa bergerak naik padahal trend harga sudah terbalik, orang yang baru buka opening account kemarin sore, berharap bisa mencoba peruntungan baru di awal tahun yang baru, adalah beberapa diantaranya.  Mereka menjadi korban karena mereka berpikir, bahwa ketika regional terus bergerak ke atas, IHSG ‘harusnya’ terus bergerak ke atas juga.  Padahal… kalau kita sudah lama sedikit di pasar modal, kita semua juga sudah tahu bahwa IHSG bergerak tidak bersama-sama dengan indeks regional, itu adalah sebuah hal yang biasa.

Pergerakan IHSG yang berlawanan dengan pergerakan indeks regional ini terjadi terutama ketika ‘Faktor P‘ yang pernah saya bahas beberapa waktu yang lalu, sedang berperan.  Yang bikin heran… Beberapa waktu yang lalu, orang terlihat rendeng-rendeng mendukung redenominasi Rupiah, tapi seminggu kemudian, terlihat buktinya: Jagain Rupiah aja… BI harus pontang-panting.  Lucunya… itu semua adalah ujung dari kebijakan mereka sendiri yang menginginkan Rupiah melemah untuk mengurangi impor.  Apa iya redenominasi adalah langkah yang benar? Apakah semua orang yakin bahwa kita nanti nasibnya akan berbeda dengan Brazil dan Argentina yang harus redenominasi berulang kali pada peride 80-90an sebelum akhirnya negara-negara tersebut menemukan stabilitas?

Yang bikin saya lebih marah, adalah ketika smart money terlihat bisa bereaksi terlebih dahulu.  Kalau anda lihat aliran dana asing di pasar reguler, puncak dari aliran dana asing terjadi pada tanggal 7 Januari 2013 kemarin, tepat ketika puncak dari UNTR.  Setelah itu, tekanan jual terlihat mulai terjadi.  Aliran dana asing mulai berkurang, trend jangka pendek dari saham-saham big caps mulai berguguran.  Terlebih apa yang terjadi pada hari Kamis dan Jumat, asing masih belanja di pagi hari.  Regional juga masih bagus.  Tapi… tekanan jual yang terjadi mulai siang hari… kemudian membuat IHSG babak belur di sore hari.

Semua ini… terjadi.. ketika regional sedang ‘lucu-lucunya’.  Ketika trend naik masih berlangsung cukup kuat di bursa regional.  Dan harga batubara sedang bergerak naik.  Sudah begitu, tekanan jualnya tidak berlangsung secara continue.  Pagi beli, sore jual.  Tidak seperti asing ‘biasa’ yang lebih sering melakukan posisi ‘satu arah’ dari pagi hingga sore.

Itu yang membuat saya yakin, bahwa semua ini hanya perilaku ‘pemodal lokal yang berkuasa’.  Mereka terlalu ketakutan terhadap bayangannya sendiri.  Merasa posisinya terlalu besar sehingga harus ‘beraksi mendahului pasar’, mendahului trend.  Mengambil posisi di bursa, mengambil posisi di mata uang, membuat bursa bergoncang dan Rupiah goyah.  Untuk apa? Kinerja? Cari barang murah? Mengapa mereka tidak melihat bahwa bursa regional masih bisa bergerak naik sehingga mereka bisa melakukannya ‘nanti saja’… ketika IHSG sudah diatas 4500-an bahkan diatas 4600-an?

Ketika gajah bertarung melawan gajah, pelanduk mati ditengah-tengahnya.  Ketika smart money berlaga di bursa, yang menjadi korban selalu pemodal retail yang berada ditengah-tengahnya.

Terkadang…. saya berharap bahwa pemodal retail bisa mempersenjatai dirinya dengan ilmu yang bermanfaat sebelum mereka masuk ke bursa.

‘Beli ketika mau naik, jual ketika mau turun’ adalah aturan dasar bagi seorang trader.  Jika anda mengaku diri anda adalah seorang trader, saya berharap anda sudah melakukannya.

So… saya mohon maaf apabila pada beberapa tulisan saya terakhir, saya terlalu bersemangat dalam menggunakan kata-kata yang ‘terlalu kuat’.

Tapi… saya memang berharap, bahwa trader retail sudah cukup disiplin untuk melakukan posisi jual ketika trend harga sudah berubah menjadi turun, dan nanti melakukan posisi beli lagi, ketika trend harga sudah kembali berubah menjadi naik….

Saya bisa saja salah… tapi… kalau memang indeks Dow Jones Industrial mencetak rekor dalam waktu dekat ini, tapi ternyata IHSG hanya berdiam diri, tidak mampu mencetak rekor baru diatas 4427.  Hehehe… Boleh dong kalau saya bilang ‘kita gagal naik karena kita berada dalam sebuah Republik Panjat Pinang… dimana setiap orang berada disini untuk saling menjatuhkan…  Bukan untuk kemaslahatan bersama.

Harapan saya sih… ketika indeks Dow Jones Industrial mencetak rekor baru… IHSG juga bisa mencetak rekor baru diatas level psikologis 4500.

Tahun 2013 itu memang seperti ini.  Seperti apa yang pernah anda baca pada Outlook 2013 yang pernah saya buat: Kondisi fundamental emiten, memang hanya ‘biasa-biasa’ saja.  Saya tidak heran kalau ada orang bilang bahwa ‘secara fundamental, IHSG hanya 4400.. atau lebih rendah dari itu.  Tapi, yang luar biasa untuk tahun 2013 ini adalah likuiditas pasarnya.  Dan… likuiditas itulah yang saya lihat bisa membawa IHSG menuju level 5000 tahun ini.

Tahun 2013, kita tidak hanya hanya cukup pintar untuk prediksi, tapi harus punya trading tools yang membuat kita mampu untuk lebih disiplin dalam bertransaksi.

Setiap peserta panjat pinang hanya tahu kalau hadiah, hanya bisa didapat hanya kalau pesertanya bersatu.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.

Categories: Market Comment Tags:

Memahami manfaat #postclosetradingsession

January 7th, 2013 4 comments

Selamat pagi…

Sejak hari pertama perdagangan di tahun 2013 ini, BEI menerapkan aturan baru tentang jam perdagangan, proses pembentukan harga close, dan adanya postclosetradingsession. Kalau tentang jam perdagangan, saya gak banyak komentar.  Memang itu membuat staff riset seperti saya, terpaksa ngantor lebih pagi.  Dealing juga, marketing juga.  Yang jelas, semua orang di bursa juga bakal ngantor lebih pagi.  Tapi mengenai proses pembentukan harga close dan post close trading session, hingga akhir tahun 2012 lalu, saya juga masih belum jelas kedua binatang  itu bentuknya apa.  Baru setelah saya ‘mengalaminya’ selama seminggu terakhir.  Saya baru bisa berkomentar.

Dan… komentar saya yang pertama adalah:

Eh… ternyata BEI bikin langkah pintar seperti ini ya?

Kita bahas satu per satu deh…

Proses pembentukan harga close

Sudah lama kita tahu, bahwa pembentukan harga close yang sebelum ini terjadi, memang adalah sebuah proses yang tidak adil.  Maklum, hanya dengan satu kali ‘nil’ (sentuh) dengan volume kecil (sering hanya dengan 1 lot), maka terbentuklah harga penutupan.  Harga penutupan ini, sering kali tidak lain adalah posisi bid atau offer harga terakhir.  Jarang sekali kita dapati, adanya pelaku pasar yang susah-susah untuk melakukan posisi beli atau posisi jual di beberapa harga sehingga mendapatkan harga penutupan yang mereka harapkan.

Akan tetapi, aksi ‘sentuh 1 lot’ ini, pengaruhnya sedemikian besar.  Anda tentu sudah membaca di tulisan saya sebelumnya, bagaimana harga close ini bisa menentukan prestasi dari seorang fund manager, seorang trader, ataupun juga seorang investor.  Saya masih inget dulu waktu jaman masih menjadi floor trader.  Kalau fund manager habis jualan besar-besaran, dealer pasti mau agar harga ditutup di harga bid.  Kita diberi amunisi berupa 5 buah order jual 1 lot yang harus dimasukkan pada detik-detik terakir.  Kalau sampai gagal ditutup di harga bid…. gak sampai potong gaji sih.. tapi mendingan headphone dicopot deh.. dari pada dengerin makian dari dealer.

Itu sebabnya, perlu dibuat suatu proses pembentukan harga penutupan yang lebih adil.  Tidak adil kalau hanya 1 lot  ‘sentuh’ transaksi menjadi penentu harga penutupan.  Jadi.. Bursa Efek Indonesia kemudian membuat suatu mekanisme penentuan harga penutupan, dimana harga penutupan, ditentukan oleh volume transaksi terbanyak dari order yang masuk selama periode jam 15.50 – 16.00.  Selama periode tersebut, trader masih bisa memasukkan order dengan volume berapapun, pada harga berapapun.  Nantinya, pada jam 16.00, BEI akan membuka perdagangan barang sebentar, untuk menentukan terjadinya harga pentupan.  Sebuah proses yang kurang lebih sama dengan penentuan harga opening yang sebelum ini sudah lazim kita alami.

Di satu sisi, memang proses ini memberikan proses yang lebih adil (selain juga komisi yang lebih banyak bagi anggota bursa dan BEI sendiri).  Akan tetapi, bukan Indonesia rasanya kalau ‘kenakalan’ kemudian tidak terjadi.  Keluhan-keluhan tentang aksi bandar atau big player yang melakukan harga penutupan ‘semau gue’, tetap saja terjadi.  Tapi… ini kan semua masih baru.  Bolehlah kita berharap bahwa kedepan, BEI akan terus memperbaiki aturannya agar proses pembentukan harga penutupan ini bisa benar-benar adil.

Proses Perdagangan Post Close Trading Session

Post close trading session adalah suatu sesi perdagangan tambahan (jam 16.05 – 16.15) dimana pemodal bisa memasukkan order beli atau order jual, selama order yang dimasukkan masih dilakukan pada harga penutupan.  Jika order yang dimasukkan tersebut mendapatkan lawan, maka order tersebut akan menjadi transaksi.  Jika tidak mendapatkan lawan, maka order tersebut tetap saja orderan antri.  Tidak ada kejadian.

Dulu… setelah harga penutupan terbentuk, kita nggak bisa ngapa-ngapain lagi.  Kita hanya bisa menunggu di hari perdagangan selanjutnya, untuk bisa melakukan transaksi.  Menunggu nasib.  Bayangkan: jika harga ditutup dibawah suport, sedangkan kita masih ada posisi, sedangkan kita yakin bahwa indeks Dow Jones Industrial (DJI) bakal turun lebih dari 2 persen.  Duh.. gitu kok disuruh cut loss besok-besok.  Harga bisa sampai kemana-mana.

Dengan adanya post closing trading session ini, semua juga menjadi lebih enak, lebih mudah bagi seorang trader teknikal.  Ketika pada saat penentuan harga penutupan, harga saham kemudian ditutup dibawah suport, berarti trader teknikal tersebut harus memanfaatkan post close trading session untuk melakukan posisi jual.  Atau, kalau ada saham yang diminati oleh trader teknikal ternyata closing dengan candlestick bullish, maka berarti dia tidak akan ragu untuk ‘berusaha’ melakukan posisi beli.  Adanya post close trading session seperti ini, menjadikan trader yang berbasis analisis teknikal, memiliki kesempatan untuk menjadi lebih disiplin: terutama dalam melakukan posisi beli atau jual, berdasarkan harga penutupan.

(Saya bilang ‘berusaha’ untuk beli atau jual, karena pada post closing trading session ini, semua order yang kita lakukan, belum tentu akan kejadian)

Penutup

So… kalau anda trader teknikal, yang menjadikan harga penutupan sebagai patokan anda untuk melakukan posisi beli atau posisi jual, maka adalah aneh kalau anda kemudian bilang bahwa post closing trading session ini adalah sesi yang tidak berguna.  Setelah harga penutupan, kita kan tinggal melihat: owh.. signalnya bullish, bearish, atau netral.  Tinggal nanti posisinya kita sesuaikan: mau normal, atau contrarian Memang sih… kadang kala, posisi bid beli atau posisi bid jual langsung diganjel oleh bandar atau asing dengan volume yang sangat besar.  Tapi setidaknya, adanya post close trading session ini, memungkinkan anda untuk melakukan positioning pada harga penutupan.  Sebuah kesempatan yang dulu tidak pernah kita dapatkan.

Semoga BEI juga terus memperbaiki proses ini agar lebih menguntungkan pemodal retail, tidak hanya menguntungkan para bandar dan pemodal institusi dengan dana yang kuat.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah dulu halaman disclaimer sebelum anda memasukkan order beli atau order jual pada post close trading session.  Terima kasih.

Positioning: Normal atau Contrarian?*

January 6th, 2013 No comments

Selamat pagi…

Setiap hari, harga bergerak naik dari sebuah suport menuju ke sebuah resisten atau turun dari sebuah resisten menuju ke sebuah sebaliknya. Dalam kondisi ceteris paribus, pergerakan harga saham diantara satu suport dan resisten ini berlangsung terus menerus.

Ketika menghadapi pergerakan seperti ini, strategi yang bisa diterapkan sebenarnya relatif sederhana: beli ketika harga berada di area suport, dan jual ketika harga berada di area resisten.

Jika stoploss ternyata terpaksa dilakukan, maka posisi stoploss bisa dilakukan ketika harga menembus suport (untuk stoploss beli), atau… ketika harga menembus resisten, maka posisi yang sudah dijual ketika harga berada di posisi resisten, kembali dilakukan pembelian kembali (buy back) ketika harga menembus resisten.

Permasalahan ketika volatilitas market meningkat.

Belakangan ini, saya melihat sebuah fenomena menarik: pergerakan harga yang lebih volatile dibandingkan dengan pergerakan harga yang biasa terjadi. Fenomena ini sebenarnya relatif normal ketika kita mengamati pergerakan harga saham di bursa yang sudah maju, seperti bursa Amerika. Akan tetapi, fenomena ini relatif baru bagi pergerakan harga saham di bursa kita. Ketika ini terjadi, harga saham tidak lagi bergerak didalam atau diantara sebuah suport atau resisten. Reversal tidak terjadi pada saat harga berada di suport atau resisten, tapi reversal terjadi setelah harga sempat menembus suport atau resiten tersebut.

Ini membuat strategi lama (beli ketika di suport dan jual ketika di resisten, serta stoploss ketika suport/resisten ditembus) seperti diatas tidak bisa lagi untuk diterapkan. Melakukan strategi lama akan membuat anda beli ketika harga berada di titik puncak, atau anda melakukan cut loss ketika harga berada di bottom area.

Anda bisa melihat pada gambar diatas bahwa ketika kita melakukan cut loss, disitu malah terjadi bottom dari pergerakan harga. Ketika anda melakukan average up, disitu malah mendekati puncak pergerakan harga.

Ujung-ujungnya… jika anda melakukan posisi beli atau jual sesuai dengan ‘pakem’ atau ‘aturan’ yang normal… maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

Contrarian Positioning sebagai Solusi

Solusi dari permasalahan ini adalah dengan melakukan contrarian positioning. Contrarian positioning ini bukanlah ‘melakukan posisi beli ketika terjadi signal jual’ atau ‘melakukan posisi jual ketika terjadi signal beli’. Akan tetapi, contrarian positioning ini berarti ‘melakukan posisi beli pada kisaran harga dimana kita seharusnya melakukan posisi jual’, dan sebaliknya ‘melakukan posisi jual pada kisaran harga dimana kita seharusnya melakukan posisi beli’. Anda bisa melihatnya pada gambar dibawah ini:

Jadi… pada strategi contrarian ini, kita melakukan posisi beli dibawah posisi suport, dan posisi jual dilakukan setelah harga menembus resisten. Strategi ini sebenarnya ‘tidak boleh’ untuk dilakukan. Bagaimana tidak… kita melakukan posisi beli di kisaran harga ketika kita tidak boleh melakukan posisi beli. Disisi lain, kita malah melakukan posisi jual ketika kita seharusnya melakukan posisi jual. Strategi ini memang lebih beresiko.

Karena resikonya lebih tinggi, maka saya hanya bisa menyarankan: jika anda menggunakan strategi ini, tetapkan dulu stoploss levelnya sebaiknya tidak terlalu jauh dengan posisi entry level anda.

Jadi…. belakangan, suport dan resisten memang berasa aneh. Tapi… kalau menurut saya sih, jangan suport atau resistennya yang kemudian tidak dipakai. ‘Positioning’-nya yang kemudian ‘diakali’.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan cara-cara yang kami bahas pada ulasan ini. Terima kasih.

IHSG: Faktor ‘P’ di 2013

January 2nd, 2013 No comments

(Pengantar: berikut tulisan saya pada kolom Wake Up Call Harian Kontan, 31 Desember 2012.  Tulisan ini mengulas mengenai hambatan untuk IHSG menuju 5000, sebenarnya masih tetap sama untuk tahun 2012 dan 2013.  Untuk Outlook 2013, anda bisa melihat pada tulisan saya sebelumnya. Terima kasih)

Selamat pagi…

Tahun 2012 sudah hampir berlalu.  Perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia, bahkan sudah melakukan perdagangan terakhir pada akhir dari minggu kemarin.   Kalau anda melihat prediksi IHSG orang di awal tahun, sudah barang tentu lebih banyak yang salah dari pada yang benar.   IHSG gagal mencapai level psikologis 5000.  Target saya awal tahun di 4525 – 4650 juga tidak tercapai.  Boro-boro 4500… level 4400 yang pada bulan September kemarin sempat digadang-gadang sebagai target minmal untuk penutupan IHSG saja tidak tersentuh.   IHSG hanya mampu ditutup pada level 4316,69 dengan level tertinggi di 4381,75 yang tercapai di bulan November.

Saya sih sudah cukup legowo untuk bilang bahwa : OK.. tahun 2012 ini saya salah prediksi.

Akan tetapi… anda tentu juga mengerti kan… kalau ‘ngeles’ dan ‘cari kambing hitam’ adalah sifat dasar manusia (yang tidak dewasa… hehehe) yang sering kali tidak bisa terhindarkan.  Terutama kalau kita sedang melakukan refleksi, retropeksi.  Melihat kebelakang untuk melihat apa yang sudah terjadi, dan mengapa kesalahan itu bisa terjadi.  Sekedar untuk evaluasi.

Kalau saya mau ‘ngeles’, saya selalu bilang bahwa ‘minimal saya bilang tahun ini naik’.  Minimal saya tahun ini menjadi seorang bullishers.  Tidak menjadi seorang bearisher yang diawal tahun sudah bilang IHSG mau kebawah 3500, kebawah 3000, atau bahkan kebawah 2500.  Tapi satu hal yang harus saya terima adalah kesalahan itu berarti saya masih kurang bagus, dan saya masih harus banyak belajar.

Tapi… kalau saya cari ‘kambing hitam’ ada dua event penting yang membuat IHSG gagal untuk terus menanjak di tahun 2012 kemarin.  Yang pertama adalah kegagalan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM.  Di satu sisi, keputusan tersebut bisa dikatakan benar karena pada akhirnya harga minyak tetap saja bergerak turun (meski suplainya tetap harus ditambah).  Akan tetapi, kegagalan kenaikan BBM tersebut, membuat S&P kemudian juga menunda pemberian investment grade pada Indonesia.   Ujung-ujungnya: pemodal asing melakukan tekanan jual yang cukup besar dan membuat IHSG turun 14,1 persen dari level tertinggi 4234,39 pada awal bulan Mei, hingga mencapai 3635.28 di awal Juni.  Yang kedua adalah posisi dari Bank Indonesia yang membiarkan Rupiah terus melemah guna menekan impor.   Awalnya, langkah ini memang tidak mempengaruhi aliran dana asing yang masuk ke bursa.  Akan tetapi, dengan posisi Rupiah yang terlalu lama diatas Rp 9600 per US$, pemodal asing akhirnya gerah juga.  Mereka kemudian menghentikan posisi beli, terutama ketika isu fiscal cliff mulai muncul di awal November.  IHSG akhirnya hanya ‘jalan ditempat’, bergerak flat pada kisaran lebar 4275 – 4350 dengan sedikit ‘bonus’ berupa rekor baru di 4381,75.

2013: Faktor ‘P’ tetap berperan

Rasanya memang tidak adil kalau kita meletakkan Pemerintah sebagai kambing hitam karena pergerakan flat selama November – Desember lebih karena isu fiscal cliff terlihat lebih berperan.  Lagian, selama Desember, pemodal asing malah dalam posisi net buy, tapi pelemahan Rupiah malah semakin menjadi.  Akan tetapi, saya juga tidak bisa memungkiri bahwa peran Pemerintah  atau  faktor ‘P’ tetap memegang peran yang sangat besar dalam pergerakan IHSG di tahun 2013 nanti.  Ingat: Dana asing yang saat ini masuk ke bursa kita, sepertinya adalah dana asing jangka pendek.  Itu bisa dilihat dari posisi mereka pada paruh pertama tahun 2012 lalu, dimana mereka melakukan net buy sekitar Rp 12,6 Trilyun selama periode Januari – Maret, tapi mereka juga langung melakukan net sell sebesar Rp 11,6 trilyun para periode April – Juni.  Dana asing ini terlihat sangat sensitif terhadap aksi-aksi yang dilakukan oleh Pemerintah . Satu saja langkah Pemerintah yang tidak disukai pasar, bisa membuat dana asing tersebut berbalik.   Ini membuat market sangat volatile.

Peran Pemerintah ini juga semakin besar karena belum mantapnya kondisi bursa global, tetap menjadikan faktor-faktor dalam negeri menjadi lebih berperan.  Konstruksi, konsumsi, retail , semen, telekomunikasi, infrastruktur, dan properti, adalah industri-industri yang lebih mengutamakan permintaan dalam negeri.  Peran Pemerintah dalam terus menggelontorkan proyek-proyek infrastruktur disamping juga menetapkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya regulasi.  Faktor ‘P’ memang menjadi faktor yang sangat vital di tahun 2013 nanti.

Tahun 2013: Tahun OJK

Kata orang, di dalam sebuah pertandingan sepak bola, wasit sangat berperan dalam menentukan kualitas permainan sepak bola.   Kalau wasit cenderung memberikan kemenangan pada tuan rumah dengan memberikan hadiah penalti seperti yang terjadi di sepak bola Indonesia (saya gak tahu kondisinya sekarang bagaimana, tapi itu kondisi 2-3 tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk berhenti mengikuti berita sepak bola Indonesia), jangan heran kalau permainan bola kita hanya melulu kelas tarkam (antar kampung).

Di bursa kita, wasit tersebut adalah Bapepam.  Pihak yang menurut undang-undang ditunjuk selaku pembina, pengatur, dan pengawas sehari-hari kegiatan Pasar Modal.  Dalam waktu dekat ini, Bapepam akan segera melebur ke dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  .  Ide yang di negara asalnya dianggap sebagai ide yang gagal (OJK pertama didirikan di Inggris dan saat ini sudah terancam dibubarkan kembali), saat ini mencoba diimplementasikan di Indonesia.  Bagaimana hasilnya? Kita lihat bersama deh… harapan saya sih… OJK bisa memberikan sesuatu yang lebih, menjadikan bursa kita menjadi lebih baik.  Tidak hanya sekedar orang yang sama berganti baju yang baru.

Penutup

So… Apakah IHSG bisa mencapai 5000 untuk tahun ini seperti prediksi saya? Apakah fiscal cliff bakal memberikan tekanan bagi IHSG selama bulan Januari?  Ataukah saham-saham sektor perbakan bakal didera tekanan jual pasca kenaikan tarif dasar listrik (TDL)? Apakah posisi penutupan IHSG di akhir tahun 2012 yang berhasil menembus resisten di 4315 benar-benar merupakan signal bahwa January Effect akan membawa IHSG mencetak rekor baru diatas 4400?  Apakah di tahun 2013 nanti, Pemerintah tetap setia untuk melakukan blunder-blunder yang membuat pemodal asing lari terbirit-birit?

Mari kita lihat dan kita nikmati bersama.  Saya hanya bisa berharap agar di tahun 2013 ini, semua pencapaian kita bisa tercapai lebih baik daripada pencapaian kita selama 2012 kemarin.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Uncategorized Tags: