Home > Knowledge from The Street > Futures Index bagi Trader Saham Indonesia*

Futures Index bagi Trader Saham Indonesia*

Selamat pagi…

Dulu, sebelum krisis tahun 2008, saya adalah penggemar setia dari Future Index LQ45. ‘Kegemaran’ saya akan produk ini, karena saya memiliki beberapa alasan:

Sebagai analis yang memberikan rekomendasi saham, sulit bagi kita untuk melakukan posisi beli atau jual pada saham, karena akan mempengaruhi objektifitas dari prediksi analis tersebut. Karena ketika itu job desk saya hanya rekomendasi saham dan prediksi IHSG (tidak ada rekomendasi perdagangan futures karena perusahaan tempat saya bekerja dulu tidak menjual produk derivatif), maka bermain Futures LQ-45 tidak akan mengganggu aktifitas saya sehari-hari.

Bagi anda yang sudah lama kenal saya, mungkin anda juga sudah tahu kualitas prediksi IHSG saya seperti apa. Ketika prediksi yang kita lakukan itu lebih sering benarnya, benar terus menerus, sering kali tidak ada artinya karena tidak ada atasan atau teman yang memuji. Tidak ada yang namanya ‘bonus karena prediksi benar’. Pintar bodoh gaji sama. Saya tertarik Futures Index LQ45, karena instrument finansial ini memberikan saya ‘bonus’ ketika prediksi saya benar. Dengan korelasi 99% antara IHSG dan LQ45, maka saya tinggal prediksi IHSG naik atau turun sebelum saya melakukan posisi beli atau jual. Kalau prediksi saya IHSG naik, berarti saya melakukan posisi beli (buy open). Sedangkan ketika IHSG terlihat mau bergerak turun, saya tinggal melakukan posisi jual (sell open).

Kebutuhan dananya juga tidak banyak. Dengan hanya melakukan setoran awal sebesar Rp 5 juta, saya bisa memiliki 1 open posisi. Requirement margin (kebutuhan dana minimal untuk melakukan 1 open posisi) malah cuman Rp 3 juta. Pergerakan harganya, 1 poin dihargai Rp 500 ribu. Ketika itu, posisi indeks LQ45 masih di sekitar level 450-480. Dengan korelasi 99%, maka IHSG naik atau turun 1 persen, LQ45 bakal naik atau turun 1 per sen juga. Yah.. itu berarti 4 – 5 poin, setara dengan Rp 2 juta – Rp 2,5 juta. Pendapatan hingga Rp 2,5 juta per hari (kalau pas benar dalam prediksi dan menang dalam bertransaksi), sangat lumayan bagi seorang analis yang bergaji Rp 5 juta per bulan. Kalau pas kalah, memang sakit juga. Tapi untungnya, ketika itu saya lebih sering menang sehingga istri saya tidak complain (hehehe).

Saya adalah orang yang selalu waspada akan adanya resiko. Salah satu aturan perdagangan Future Index LQ45 yang menurut saya paling beresiko adalah: adanya ketentuan pergerakan naik atau turun maksimal dalam satu hari sebesar 6 poin. Maksud dari peraturan ini, sebenarnya baik: dengan pergerakan maksimal 6 poin maka resiko kerugian dari pemodal bisa terbatas hanya Rp 3 juta untuk satu posisi setiap harinya. Artinya, kalau kita setor hanya Rp 5 juta dan kemudian kita salah posisi, maka uang kita tidak mungkin ludes dalam waktu 1 hari. Akan tetapi, peraturan ini juga berarti bahwa pergerakan harga hanya bisa bergerak kurang dari 2 persen dalam 1 hari. Ketika harga bergerak lebih dari 2 persen, harga akan mengalami ‘autoreject’, terkunci pada satu harga.

Peraturan autoreject 6 poin ini, kemudian menjadi boomerang, memberikan pukulan balik yang sangat telak ketika krisis 2008 mulai menerpa. Bagaimana tidak, pergerakan IHSG ketika itu, bisa 3 persen – 5 persen dalam sehari. Dalam hitungan hari, IHSG bisa saja turun lebih dari 10 persen! Ini membuat pergerakan dari futures indeks LQ45 menjadi kacau. Bayangkan: jika LQ45 turun 10% atau sekitar 45 poin dalam tiga hari. Itu berarti (katakanlah) futures indeksnya bisa turun sekitar 45 poin. Dengan pergerakan harga maksimal sehari hanya 6 poin, butuh lebih dari seminggu, untuk sekedar recover harga, agar harga kembali bisa bergerak normal. Dalam waktu itu, harga akan bergerak dalam grafik yang ‘kotak-kotak’: harga dibuka, langsung autoreject, buka lagi, autoreject lagi, buka lagi, autoreject lagi, dst, tanpa adanya transaksi yang berarti. Kadang hanya ada transaksi 1 atau 2 lot, tapi yang sering: tidak ada transaksi sama sekali selama lebih dari satu minggu! Bayangkan kalau kita ada posisi 5 – 10 lot dengan arah yang salah. Berapa kerugian yang harus dialami untuk setiap lotnya? Posisi minus mungkin bisa mencapai 400% – 500% hanya karena adanya aturan main yang kurang bersahabat.

Futures indeks, adalah sebuah permainan yang sangat beresiko. Leverage atau margin yang bisa mencapai puluhan kali lipat, membuat seorang pemodal yang tidak berpengalaman, bakal ludes duitnya hanya dalam hitungan hari jika tidak bisa melakukan positioning secara benar dalam melakukan trading. Dari salah satu buku yang saya baca, pernah juga disebutkan bahwa 9 dari 10 orang yang coba-coba dalam derivative, akan kehilangan uangnya dalam waktu kurang dari 2 minggu. Akan tetapi, potensi keuntungan yang menggiurkan dari transaksi derivatif tetap saja mengundang orang-orang untuk melakukan trading atau hedging pada instrument ini.

Terkait dengan derivatif ini, saya jadi teringat bahwa mulai pertengahan bulan lalu, Bursa Singapura (SGX) mulai memperdagangkan future indeks MSCI Indonesia. MSCI Futs (begitu saya lebih sering menyebutnya) adalah future indeks dari indeks MSCI Indonesia. Indeks MSCI Indonesia adalah sebuah indeks yang dibangun Morgan Stanley Capital International yang berisikan 25 saham-saham blue chip yang diperdagangkan di Bursa Indonesia. Korelasi dari indeks ini terhadap IHSG adalah 98.6%, sedangkan terhadap indeks LQ45 adalah 99.6%. Menurut informasi yang saya dapat, cepat atau lambat, derivatif ini juga bakal masuk ke Indonesia. Apakah kedepan derivatif ini bisa populer?

Saya sih lebih tertarik akan sebuah fakta lain: dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan blog atau website dari orang-orang yang mengaku ‘Jago Prediksi’ dan ‘Jago Trading’, seakan akan terus menjamur. Orang yang menulis buku, atau mengadakan satu-dua seminar, langsung menempelkan predikat tersebut pada jidatnya. Mereka juga merajai komunitas-komunitas trader yang ada pada milis maupun Facebook. Saya sih jadi penasaran: apakah orang-orang itu sebenarnya bisa trading beneran? Jangan-jangan mereka itu hanya orang-orang yang cuman bisa suruh-suruh orang lain untuk transaksi, tapi mereka sendiri hanya bertindak sebagai suporter . Omong doang, nanti yang kalah orang lain.

Ujian yang sebenarnya bagi seorang trader itu, ada pada kemampuannya untuk melakukan trading pada instrument derivatif. Berbeda dengan transaksi saham, tingginya resiko pada transaksi derivatif membuat seseorang harus memiliki kemampuan prediksi yang baik, trading plan yang benar, kemampuan untuk melakukan transaksi dan money management secara benar, serta melakukan cut loss dengan disiplin. Terus terang, saya tidak yakin kalau para ‘Jago Prediksi’ dan ‘Jago Trading’ itu mampu membuktikannya.

Terakhir… jika anda tertarik untuk bertransaksi MSCI Indonesia Index Futures, silakan hubungi saya di 08161377707.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:
  1. Arief Makmur
    July 19th, 2012 at 12:33 | #1

    Saya lebih tertarik bertransaksi di Forex Market jauh lebih fleksibel dan lebih mudah dikuasai dan terbebas dari “Auto Reject” sindrom …

    Forex Market jauh lebih mudah untuk menjadi ATM pribadi Kita …

  1. No trackbacks yet.