Archive

Archive for July, 2012

Batubara: Sulitnya Mengubah Kebiasaan*

July 30th, 2012 No comments

Selamat pagi…

Jumat kemarin (tanggal 27 Juli 2012), indeks Dow Jones Industrial naik 1.46% setelah sehari sebelumnya naik lebih dari 2%.  Kalau IHSG naik di awal minggu. Apa yang mau anda beli? UNTR, PTBA, atau ITMG?

Ketika seorang pemodal melakukan transaksi di bursa, keputusan untuk melakukan pemilihan saham, sering kali di dorong oleh alam bawah sadarnya.  Pemilihan saham sektor batubara secara reflek sebagai saham yang harus kita amati ketika terdapat berita positif di bursa regional, adalah sesuatu yang manusiawi. Padahal, kondisinya sudah jauh berbeda.

Refleks seperti itum terjadi karena saham batubara adalah penggerak sentimen utama selama lebih dari satu dasa warsa.  Minat orang atas saham batubara, sudah muncul sejak lebih dari sepuluh tahun berselang semenjak PT Bumi Modern, berubah nama menjadi BUMI Resources Tbk (BUMI).  Masuknya sebuah tambang batubara melalu back door listing pada saham BUMI Modern pada tahun 1997 – 2000 ini, menandai awal dari era masuknya pertambangan batubara di Bursa Efek Indonesia (Bursa Efek Jakarta ketika itu).

Ketertarikan pasar terhadap saham-saham batubara kemudian berlanjut selama bullish market dalam periode 2002 – 2008.  Kenaikan harga minyak Nymex dari level US$17 – US$20 per barrel pada tahun 2002, menjadi US$147 per barrel pada tahun 2008, telah mendorong harga batubara yang tadinya hanya berada di level US$22 – US$25 per ton, menjadi sempat berada pada level 192.5 per ton pada periode yang sama.  Kenaikan harga komoditas ini, kemudian membuat harga saham-saham batubara mengalami kenaikan yang sangat signifikan.  Saham BUMI menjadi primadona pasar.  Saham BUMI yang pada awal tahun 2003 masih diperdagangkan di level Rp 25, pada pertengahan tahun 2008 sempat menikmati level tertinggi di Rp 8750.

Ketertarikan pemodal tentu saja tidak terpusat hanya pada saham BUMI.  Tidak lama setelah backdoor listing ini, sebuah BUMN yang bergerak pada tambang batubara, yaitu PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) kemudian juga mencatatkan diri ke Bursa.  Langkah ini kemudian disusul banyak produsen batubara yang kemudian mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia.  Hingga saat ini, tidak kurang dari 15 perusahaan batubara sudah tercatat di lantai Bursa Efek Indonesia, dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar 10% dari IHSG.

Dua belas tahun sudah, pemodal di bursa kita dibuat reflek untuk berpikir: batubara, batubara, dan batubara.  Buka komputer: perusahaan batubara, buka chart: perusahaan batubara, saham yang menarik: batubara, dan seterusnya.  Tidak pada saham BUMI yang katanya adalah saham dengan sejuta umat pada tahun 2008, dan saham dengan sejuta nyangkuters pasca puncak harganya di tahun 2012 tersebut.  Tapi juga pada saham-saham batubara yang lain.  Belakangan, fenomena backdoor listing dari GTBO dan MYOH kemudian juga menyita perhatian pemodal. Batubara, batubara, dan batubara.

Tapi, tahun ini, kondisinya berbeda.  Krisis Eropa yang berkepanjangan, serta lambatnya pemulihan ekonomi Amerika, telah mulai mempengaruhi pertumbuhan ekonomi China dan juga India.  Padahal, dengan harga batubara yang cenderung tinggi dalam beberapa tahun terakhir, produsen batubara dari Indonesia dan Australia, terus berpacu dalam meningkatkan produksi.  Tingginya supply ditengah demand yang masih lemah ini, telah membuat harga batubara terus meluncur turun.  Harga batubara Newcastle, yang sering digunakan sebagai benchmark untuk harga batubara Indonesia, pada awal tahun masih berada di level US$118,8 per ton.  Tapi pada minggu kemarin, harga batubara ini sudah berada di level US$81.15 per ton.  Sudah turun lebih dari 31%.  Tidak hanya itu, besarnya oversupply dan penumpukan stock yang terjadi di pelabuhan-pelabuhan di China, membuat orang semakin pesimis terhadap prospek batubara.  Dalam sebuah reportnya, Fitch rating bahkan memperkirakan, bahwa harga batubara akan tetap rendah hingga akhir dari tahun 2012 ini.   Agak runyam juga.

Rendahnya harga batubara ini, membuat belakangan saya giat menasehati orang-orang di sekitar saya: kurangilah minat anda pada saham-saham batubara.  Fokuskan perhatian anda, pada emiten-emiten yang memfokuskan penjualannya pada penjualan dalam negeri, seperti telekomunikasi, semen, perbankan, infrastruktur, retail, atau konsumsi.  Pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir ini, merupakan pentunjuk yang nyata, bagaimana orang mulai kehilangan minat pada saham-saham batubara.  Ditengah saham-saham lain yang telah berhasil rebound, saham-saham sektor batubara, terus mengalami tekanan jual.  Lihat saja kecepatan rebound dari ASII, BBRI, TLKM, INTP atau SMGR jika dibandingkan dengan UNTR, ITMG, ataupun PTBA.  Saham-saham batubara terlihat terlalu berat untuk bisa terangkat naik.

Apakah langkah itu mudah? Apakah mengubah kebiasaan itu mudah? Tentu saja tidak.  Pemodal kita sudah ‘terlanjur cinta’ pada saham-saham batubara karena kebiasaan yang sudah terpupuk selama lebih dari 10 tahun.  Selain itu, pemodal kita juga sudah ‘terlanjur basah’ atau terlanjur nyangkut pada saham-saham tersebut, membuat keterikatan bathin tersebut menjadi sulit untuk diputuskan.

For traders, stock prices are numbers. It’s just the way we should go through to make a profit.  Never fall in love with a stock. Because it will only alienate you from your main purpose to trade: The Profit!.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Futures Index bagi Trader Saham Indonesia*

July 17th, 2012 1 comment

Selamat pagi…

Dulu, sebelum krisis tahun 2008, saya adalah penggemar setia dari Future Index LQ45. ‘Kegemaran’ saya akan produk ini, karena saya memiliki beberapa alasan:

Sebagai analis yang memberikan rekomendasi saham, sulit bagi kita untuk melakukan posisi beli atau jual pada saham, karena akan mempengaruhi objektifitas dari prediksi analis tersebut. Karena ketika itu job desk saya hanya rekomendasi saham dan prediksi IHSG (tidak ada rekomendasi perdagangan futures karena perusahaan tempat saya bekerja dulu tidak menjual produk derivatif), maka bermain Futures LQ-45 tidak akan mengganggu aktifitas saya sehari-hari.

Bagi anda yang sudah lama kenal saya, mungkin anda juga sudah tahu kualitas prediksi IHSG saya seperti apa. Ketika prediksi yang kita lakukan itu lebih sering benarnya, benar terus menerus, sering kali tidak ada artinya karena tidak ada atasan atau teman yang memuji. Tidak ada yang namanya ‘bonus karena prediksi benar’. Pintar bodoh gaji sama. Saya tertarik Futures Index LQ45, karena instrument finansial ini memberikan saya ‘bonus’ ketika prediksi saya benar. Dengan korelasi 99% antara IHSG dan LQ45, maka saya tinggal prediksi IHSG naik atau turun sebelum saya melakukan posisi beli atau jual. Kalau prediksi saya IHSG naik, berarti saya melakukan posisi beli (buy open). Sedangkan ketika IHSG terlihat mau bergerak turun, saya tinggal melakukan posisi jual (sell open).

Kebutuhan dananya juga tidak banyak. Dengan hanya melakukan setoran awal sebesar Rp 5 juta, saya bisa memiliki 1 open posisi. Requirement margin (kebutuhan dana minimal untuk melakukan 1 open posisi) malah cuman Rp 3 juta. Pergerakan harganya, 1 poin dihargai Rp 500 ribu. Ketika itu, posisi indeks LQ45 masih di sekitar level 450-480. Dengan korelasi 99%, maka IHSG naik atau turun 1 persen, LQ45 bakal naik atau turun 1 per sen juga. Yah.. itu berarti 4 – 5 poin, setara dengan Rp 2 juta – Rp 2,5 juta. Pendapatan hingga Rp 2,5 juta per hari (kalau pas benar dalam prediksi dan menang dalam bertransaksi), sangat lumayan bagi seorang analis yang bergaji Rp 5 juta per bulan. Kalau pas kalah, memang sakit juga. Tapi untungnya, ketika itu saya lebih sering menang sehingga istri saya tidak complain (hehehe).

Saya adalah orang yang selalu waspada akan adanya resiko. Salah satu aturan perdagangan Future Index LQ45 yang menurut saya paling beresiko adalah: adanya ketentuan pergerakan naik atau turun maksimal dalam satu hari sebesar 6 poin. Maksud dari peraturan ini, sebenarnya baik: dengan pergerakan maksimal 6 poin maka resiko kerugian dari pemodal bisa terbatas hanya Rp 3 juta untuk satu posisi setiap harinya. Artinya, kalau kita setor hanya Rp 5 juta dan kemudian kita salah posisi, maka uang kita tidak mungkin ludes dalam waktu 1 hari. Akan tetapi, peraturan ini juga berarti bahwa pergerakan harga hanya bisa bergerak kurang dari 2 persen dalam 1 hari. Ketika harga bergerak lebih dari 2 persen, harga akan mengalami ‘autoreject’, terkunci pada satu harga.

Peraturan autoreject 6 poin ini, kemudian menjadi boomerang, memberikan pukulan balik yang sangat telak ketika krisis 2008 mulai menerpa. Bagaimana tidak, pergerakan IHSG ketika itu, bisa 3 persen – 5 persen dalam sehari. Dalam hitungan hari, IHSG bisa saja turun lebih dari 10 persen! Ini membuat pergerakan dari futures indeks LQ45 menjadi kacau. Bayangkan: jika LQ45 turun 10% atau sekitar 45 poin dalam tiga hari. Itu berarti (katakanlah) futures indeksnya bisa turun sekitar 45 poin. Dengan pergerakan harga maksimal sehari hanya 6 poin, butuh lebih dari seminggu, untuk sekedar recover harga, agar harga kembali bisa bergerak normal. Dalam waktu itu, harga akan bergerak dalam grafik yang ‘kotak-kotak’: harga dibuka, langsung autoreject, buka lagi, autoreject lagi, buka lagi, autoreject lagi, dst, tanpa adanya transaksi yang berarti. Kadang hanya ada transaksi 1 atau 2 lot, tapi yang sering: tidak ada transaksi sama sekali selama lebih dari satu minggu! Bayangkan kalau kita ada posisi 5 – 10 lot dengan arah yang salah. Berapa kerugian yang harus dialami untuk setiap lotnya? Posisi minus mungkin bisa mencapai 400% – 500% hanya karena adanya aturan main yang kurang bersahabat.

Futures indeks, adalah sebuah permainan yang sangat beresiko. Leverage atau margin yang bisa mencapai puluhan kali lipat, membuat seorang pemodal yang tidak berpengalaman, bakal ludes duitnya hanya dalam hitungan hari jika tidak bisa melakukan positioning secara benar dalam melakukan trading. Dari salah satu buku yang saya baca, pernah juga disebutkan bahwa 9 dari 10 orang yang coba-coba dalam derivative, akan kehilangan uangnya dalam waktu kurang dari 2 minggu. Akan tetapi, potensi keuntungan yang menggiurkan dari transaksi derivatif tetap saja mengundang orang-orang untuk melakukan trading atau hedging pada instrument ini.

Terkait dengan derivatif ini, saya jadi teringat bahwa mulai pertengahan bulan lalu, Bursa Singapura (SGX) mulai memperdagangkan future indeks MSCI Indonesia. MSCI Futs (begitu saya lebih sering menyebutnya) adalah future indeks dari indeks MSCI Indonesia. Indeks MSCI Indonesia adalah sebuah indeks yang dibangun Morgan Stanley Capital International yang berisikan 25 saham-saham blue chip yang diperdagangkan di Bursa Indonesia. Korelasi dari indeks ini terhadap IHSG adalah 98.6%, sedangkan terhadap indeks LQ45 adalah 99.6%. Menurut informasi yang saya dapat, cepat atau lambat, derivatif ini juga bakal masuk ke Indonesia. Apakah kedepan derivatif ini bisa populer?

Saya sih lebih tertarik akan sebuah fakta lain: dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan blog atau website dari orang-orang yang mengaku ‘Jago Prediksi’ dan ‘Jago Trading’, seakan akan terus menjamur. Orang yang menulis buku, atau mengadakan satu-dua seminar, langsung menempelkan predikat tersebut pada jidatnya. Mereka juga merajai komunitas-komunitas trader yang ada pada milis maupun Facebook. Saya sih jadi penasaran: apakah orang-orang itu sebenarnya bisa trading beneran? Jangan-jangan mereka itu hanya orang-orang yang cuman bisa suruh-suruh orang lain untuk transaksi, tapi mereka sendiri hanya bertindak sebagai suporter . Omong doang, nanti yang kalah orang lain.

Ujian yang sebenarnya bagi seorang trader itu, ada pada kemampuannya untuk melakukan trading pada instrument derivatif. Berbeda dengan transaksi saham, tingginya resiko pada transaksi derivatif membuat seseorang harus memiliki kemampuan prediksi yang baik, trading plan yang benar, kemampuan untuk melakukan transaksi dan money management secara benar, serta melakukan cut loss dengan disiplin. Terus terang, saya tidak yakin kalau para ‘Jago Prediksi’ dan ‘Jago Trading’ itu mampu membuktikannya.

Terakhir… jika anda tertarik untuk bertransaksi MSCI Indonesia Index Futures, silakan hubungi saya di 08161377707.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Back to The Basic Concepts of Trends

July 9th, 2012 No comments

Selamat pagi…

Belakangan ini, saya sudah bosan kecewa.  Kalau anda adalah pembaca setia dari tulisan saya pada kolom ini, anda pasti sudah sempat membaca bahwa semenjak awal April lalu, banyak sekali berita negatif, yang kemudian saya sebut sebagai ‘rangkaian kartu mati’, yang terus mengalir ke lantai bursa.  Semenjak BBM Subsidi tidak jadi naik, Krisis Eropa yang kembali menjadi ‘bintang utama di panggung utama’ dari semua berita bearish, kenaikan uang muka KPR dak Kredit Kendaraan Bermotor, harga batubara yang terus turun (meski di awal minggu kemarin, harga batubara terlihat mulai mengalami rebound), hingga tekanan jual yang terus berlangsung pada saham-saham kelompok Bakrie.  Semua menjadi rangkaian sentimen negatif yang terus mengendap di otak saya.

Di akhir minggu lalu, kartu mati ini masih ditambah lagi: Pemerintah (Menko Ekonomi, Hatta Rajasa) yang mematok bahwa pertumbuhan Ekonomi untuk tahun 2013 bakal berkisar pada angka 6,8 – 7,2 persen, suatu angka yang tergolong agresif, karena belakangan, rata-rata konsensus pertumbuhan ekonomi malah sedang cenderung turun.    Berita ini sebenarnya positif.  Tapi karena ‘terdengar’ seperti melawan arus, maka bukannya tidak mungkin, sentiment yang dihasilkan malah sentiment negatif.  Berasa bluffing.

Terlalu banyaknya berita jelek tersebut, terlalu seringnya saya menunggu berita bagus ternyata yang keluar malah berita jelek, menjadikan saya skeptis dalam membaca berita.  Belakangan, koran dan website berita, hanya saya baca halaman sepak bolanya doang.  Saya hanya tertarik akan aksi transfer dari kesebelasan kesayangan saya, Chelsea, dan juga aksi transfer dari kesebelasan-kesebelasan besar lain di benua Eropa.  Atau, saya malah mensibukkan diri dengan Futures Indeks MSCI Indonesia, produk baru dari PT Universal Broker Indonesia.  Produk beresiko tinggi, khusus untuk para trader dan hedger.

Perkara pergerakan harga saham dan IHSG, belakangan saya cenderung kembali ke konsep dasar dari trend.  Seorang yang menggunakan analisis teknikal seperti saya, percaya bahwa pergerakan harga itu memiliki arah.  Pergerakan harga itu tidak bergerak secara random, tapi memiliki arah.  Arah dari pergerakan harga itu, dinamakan Trend.  Trend adalah arah pergerakan harga.  Arah pergerakan harga itu ada tiga: naik, turun, ataupun flat (mendatar), sama seperti ketika kita menghadapi perempatan, pilihannya adalah kiri, kanan, ataupun lurus.  Tapi, bentuk dasarnya hanya ada dua: naik atau turun, karena trend mendatar terdiri dari trend naik dan trend turun dalam periode yang lebih pendek, tapi memiliki kisaran harga tertentu dalam suatu jangka waktu tertentu.

Definisi dari sebuah trend naik seperti ini:

Trend naik adalah kondisi dimana pergerakan harga terus mencetak higher low (titik terendah yang lebih tinggi) dan higher high (titik tertinggi yang lebih tinggi).

Jadi, ketika trend naik, syarat utama yang harus dipenuhi adalah level terendah dari hari ini, lebih tinggi dari level terendah kemarin.  Sedangkan level tertingginya, bisa saja lebih rendah, tapi alangkah baiknya jika level tertingginya lebih tinggi dari kemarin.

Dengan kata lain: Ketika trend sedang naik, maka harga penutupan pada hari ini, harus lebih tinggi dari level terendah kemarinKETIKA TREND NAIK, JIKA POSISI HARGA PENUTUPAN PADA HARI INI LEBIH RENDAH DARI LEVEL TERENDAH KEMARIN, MAKA KITA HARUS SUDAH CURIGA BAHWA TREND NAIK SUDAH BERAKHIR. Ketika trend naik dan harga hari ini bakal ditutup dibawah harga terendah kemarin, pasti ada yang salah.  Kemungkinan besar, trend sudah berubah dari naik menjadi turun.

Kondisi tersebut, berlaku vice versa (kebalikannya) ketika kita mengamati sebuah trend turun.

Definisi dari sebuah trend turun adalah sebagai berikut:

Trend turun adalah kondisi dimana pergerakan harga terus mencetak lower high (titik tertinggi yang lebih rendah) dan lower low (titik terendah yang lebih rendah).

Dengan kata lain: ketika trend harga sedang turun, tapi harga kemudian membuka peluang untuk ditutup diatas level tertinggi sehari sebelumnya, maka kita juga harus sudah curiga, bahwa trend turun tersebut sudah berakhir.  Ketika trend turun dan harga hari ini bakal ditutup lebih tinggi diatas harga terendah kemarin, pasti ada yang salah.  Kemungkinan besar, trend sudah berubah dari turun menjadi naik.

Pengaruhnya bagi seorang trader

Trader adalah mereka yang berusaha mengambil keuntungan dari pergerakan harga jangka pendek.  Rule of the game-nya sebenarnya sangat sederhana: Beli ketika mau naik, dan jual ketika mau turun.  Ketika terdapat tanda bahwa trend berubah menjadi naik, anda harus melakukan posisi beli, dan ketika trend berubah menjadi turun, anda harus sedapat mungkin keluar dari posisi, dan melakukan posisi jual. Itulah sebabnya, saya kemudian menyarankan agar rekan-rekan menggunakan rules yang sederhana:

Ketika anda memiliki posisi beli sedangkan harga berpotensi untuk ditutup dibawah level terendah sehari sebelumnya, itu berarti anda harus menyadari bahwa ‘pasti ada sesuatu yang salah’, dan disitu anda harus melakukan posisi jual, atau setidaknya mulai mengurangi posisi, melihat akan kemungkinan terjadinya pembalikan arah trend, dari trend naik menjadi trend turun.

Ini juga berlaku kebalikannya:

Ketika trend harga sedang turun dan anda tidak memiliki posisi, kemudian harga berpotensi untuk ditutup diatas titik tertinggi dari pergerakan harga sehari sebelumnya, maka itu berarti sudah waktunya anda melakukan posisi beli, karena bisa jadi, trend harga selanjutnya akan berubah dari trend turun menjadi trend naik.

Yah… anda mungkin tidak langsung beli disitu.  Anda melihat suport saat itu, dan anda melakukan posisi beli disitu.  Tapi minimal: anda harus beli, karena trend jangka pendek, sudah bukan trend turun lagi.

Dalam trading, ketika membeli saham, yang dicari oleh seorang pemodal adalah keuntungan, bukan tambahan stress.  Menyesuaikan posisi dengan trend harga jangka pendek, adalah cara paling efektif untuk trading tanpa stress.   Beli ketika mau naik, jual ketika mau turun.  Cuman ada sisi negatifnya yang membuat ‘orang sekuritas’ seperti saya menjadi senang: cara seperti ini, akan membuat anda bertransaksi secara massif, relatif lebih besar jika dibandingkan cara sebelumnya.  Bagaimana tidak, anda bakal bertransaksi beli jual lebih sering dibandingkan sebelumnya, karena anda tidak bakal memiliki posisi nyangkut.

Tapi… sekali lagi: ketika anda trading, ketika anda mulai melakukan transaksi saham, apa sih yang anda cari? Keuntungan? atau tambahan stress?  Kalau anda tidak mau stress, gunakan trading rules yang sederhana, disiplin, dan tawakal (berserah diri) dalam memperoleh hasilnya.

Beli ketika mau naik, jual ketika mau turun.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Kartu mati itu berawal dengan huruf B*

July 8th, 2012 No comments

Selamat pagi…

Kalau anda rajin membaca tulisan saya, anda pasti masih ingat tulisan saya terakhir mengenai Rangkaian Kartu Mati yang terus berjatuhan di Bursa.  Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan yang dimuat pada harian Kontan tanggal 18 Juni. Saya hanya ganti judulnya, serta saya hilangkan bagian dimana saya memprediksi Jerman menjadi Juara Piala Eropa karena kenyataannya tidak begitu. Sekedar agar lebih aktual dan lebih menarik. hehehe.

Dalam beberapa hari terakhir, kalau bicara mengenai kata ‘Eropa’, rasa-rasanya lebih enak mengikuti perkembangan dari Piala Eropa dibandingkan dengan mengikuti perkembangan dari Krisis Eropa.  Mengikuti perkembangan Piala Eropa, masih lumayan… masih ada kalah menang.  Masih ada akhir dari pertandingan.  Setiap peluit panjang tanda pertandingan berakhir, berarti berakhir pula penantian mengenai siapa pemenang dari pertandingan.  Siapa kalah, siapa menang, sangatlah jelas.  Siapa harus mengakhiri langkahnya, siapa yang melanjutkan pada babak selanjutnya, serta siapa yang juara.  Nantinya juga jelas.  Tidak ada pertanyaan.

Berbeda dengan penangan Krisis Eropa.  Begitu ada berita bagus keluar, serasa masih banyak berita jelek yang lain.  Setiap kali ada solusi, pasti ada masalah yang baru.  Setiap permasalah di suatu negara mencapai solusi, ternyata ada lagi permasalahan yang lain.  Seperti lingkaran setan.

Meskipun demikian, harapan sedikit terlihat dari posisi penutupan indeks Dow Jones Industrial pada hari Jumat malam kemarin.  Dari posisi penutupan tersebut, indeks Dow Jones Industrial terlihat berhasil menembus resisten pentingnya di level 12700.  Penembusan atas resisten ini, telah membuka potensi kenaikan hingga 13300-13400.  Indeks Dow Jones Industrial memiliki potensi kenaikan hingga level tertinggi April, ketika Krisis Eropa belum mulai memanas.  Apakah ini berarti bahwa Krisis Eropa bakal mulai terselesaikan pasca Pemilu Yunani yang hasilnya baru bisa kita lihat di hari ini? Apakah kondisi krisisi Eropa kemudian berangsur-angsur membaik?  Itulah yang bakal kita rasakan dalam hari-hari kedepan.

Yang jelas, untuk dalam negeri, kita masih punya banyak permasalahan.  Kalau anda pembaca setia dari blog saya, baik yang ada di satrio.blog.kontan.co.id maupun di rencanatrading.wordpress.com, anda mungkin sudah sempat membaca ulasan saya, bahwa kita saat ini sedang menghadapi 9 kartu mati.  Kartu mati ini adalah berita-berita negatif yang saat ini sedang mempengaruhi pergerakan harga saham, yang memicu terjadinya trend turun yang berawal pada awal bulan April lalu.  Beberapa masalah, seperti Rupiah yang bergejolak, sepertinya memang sudah terhenti pengaruh negatifnya.  Berita-berita jelek negatif seperti Pajak atas Mineral, dan Pemberlakukan  kenaikan uang muka KPR dan Kredit kendaraan bermotor, sudah benar-benar keluar.  Tidak lagi menjadi spekulasi.  Artinya: kita tinggal menunggu bagaimana pengaruh berita negatif tersebut, pada kinerja emiten dalam laporan keuangan tengah tahun 2012 (1H2012) ini, atau paling lambat pada laporan keungan kuartal ketiga tahun 2012 (3Q2012) ini.

Jadi, beberapa pertanyaan negatif yang masih tertinggal adalah:

  • Bagaimanakah kelanjutan dari krisis Eropa?
  • Apakah Pemerintah tetap melakukan langkah-langkah kreatif yang baru dalam usahanya untuk meningkatkan pendapatan?
  • Apakah Harga Batubara masih akan meluncur turun? Kapan harga batubara mencapai bottomnya?

Oh iya… masih ada satu lagi pertanyaan baru: Apakah pre-emtive right issue yang dilakukan pada ENRG, bisa menyelesaikan masalah krisis likuiditas yang tengah terjadi pada kelompok Bakrie?  Well… rumor-rumor bahwa grup ini tengah mengalami krisis likuiditas, sebenarnya sudah terlihat semenjak bulan Januari lalu, ketika harga BUMI terlihat mulai bearish, dan Rothschild ditendang dari posisi puncak di perusahaan Bumi Plc.  Akan tetapi, sampai saat-saat terakhir, sampai hari-hari ini, pihak manajemen perusahaan selalu berhasil menutupi dengan memberikan pernyataan bahwa ‘yang bermasalah adalah pemegang saham, bukan perusahaan’.   Tapi, realitanya adalah: tekanan jual yang seperti tiada akhir, meski ‘Tidak ada masalah repo’ katanya.  Tapi orang tetap melakukan tekanan jual dalam jumlah besar. Sudah begitu, harga batubara yang terlihat terus mengalami penurunan, juga menimbulkan pertanyaan: apakah ini tidak membuat aliran kas perusahaan yang berasal dari Bumi Resources (BUMI) mengalami hambatan? Krisis ini memang tidak membuat IHSG jatuh seperti krisis 2008 karena kapitalisasi dari saham-saham Bakrie, saat ini relatif kecil. Tapi tetap saja: Waduh, kok begini sih? Saya jadi membayangkan, bagaimana nasib bangsa Indonesia kelak jika kemudian Aburizal Bakrie terpilih menjadi Presiden Indonesia:  Hutang luar biasa besar dan terus menerus bertambah, Pemerintah yang semakin ahli dalam berkelit seperti manajemen perusahaannya, harga saham BUMN yang terus turun karena fundamental yang terus memburuk, BUMN yang terus asyik melakukan preemptive right issue untuk mengeruk dana publik, dst.dst.

Aliran kartu mati ini masih terus berlanjut.  Aliran dari berita negatif, masih terus mengalir.  Buat saya, aliran kartu mati ini masih ditambah dengan kegagalan Jerman untuk menjuarai Piala Eropa 2012. Saya hanya bisa menunggu, kapan aliran kartu mati ini berhenti.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo
Head of Research PT Universal Broker Indonesia, Mahasiswa SBM-ITB

Categories: Market Comment Tags: