Archive

Archive for June, 2012

Mengapa seorang trader harus disiplin

June 16th, 2012 5 comments

Selamat pagi…

Belakangan market sedang plin-plan.  Galau.  Bullish enggak, bearish juga enggak.  Flat.  Berita juga simpang siur.  Dow Futs dan regional nekad.  Ada signal positif, besoknya turun, ada signal negatif, malah besoknya naik.

Tadi pagi, anda mungkin sudah baca dalam tulisan saya, bahwa dalam kondisi penuh ketidakpastian seperti ini, pilihan kita hanya ada dua:

  1. Menunggu di pinggiran.  Artinya: tetap tidak ada posisi, menunggu sampai ada signal yang jelas.
  2. Disiplin. Artinya: karena market lagi flat, berarti kalau harga sedang di suport ya beli.  Kalau sedang di resisten, ya jangan dilihatin (atau malah jualan untuk take profit atau cut loss).  Posisi beli simpan, harus melihat perkembangan, dan kemudian melakukan posisi beli hanya jika melihat adanya signal positif (penembusan resisten).

Dari dua pilihan itu, saya pilih untuk disiplin.  Mengapa?

Saya memilih untuk disiplin karena kita sebenarnya tidak pernah tahu, hasil apa yang diberikan oleh Alloh, atas setiap posisi beli yang kita lakukan.

Saya hanya berusaha untuk bertransaksi berdasarkan trading plan, dimana setiap trading plan itu berisi satu entry beli, dan dua posisi jual, jual ketika untung, dan jual ketika cut loss.  Kalau semua sesuai dengan harapan, berarti saya akan jual di harga untung.  Tapi kalau tidak sesuai harapan, berarti saya jual di harga cut loss.  Mana yang kena? Saya tidak pernah tahu.

Sebagai ilustrasi mengapa seorang trader harus disiplin, anda bisa melihat model dibawah ini:

Ceritanya begini: seorang pemodal, diberi tahu sebuah sistem trading.  Sistem trading ini adalah system trading yang baik karena hasinya adalah positif.  Tapi, dalam simulasinya, ternyata hasilnya adalah seperti diatas.  Hasilnya adalah positif 1%.  Tapi, dari 10 posisi trading yang dilakukan, hanya 3 yang mendapatkan kemenangan, mendapatkan keuntungan.  Bayangkan sekarang, anda berada menjelang posisi Trade 8.  Anda sudah tiga kali kalah, yaitu pada posisi trade 5, trade 6, dan trade 7.  Dari Trade 1 hingga Trade 7, Anda juga sudah tahu, bahwa sistem ini, kalau rugi, selalu dibawah 2.1%, tapi kalau untung, anda paling rendah, dapat 4.8%.  Anda sudah tiga kali kalah.  Beranikah anda melakukan posisi beli setelah tiga kali kalah?

  • Ketika kita tidak disiplin, kita tidak tahu kualitas yang sebenarnya dari sistem trading yang anda gunakan.
  • Ketika kita tidak disiplin, kita tidak tahu apakah kekalahan kita itu, karena sistem trading yang jelek, atau karena eksekusi kita yang jelek.  Faktor sistem, atau faktor manusia.
  • Ketika tidak disiplin, kita malah berada dalam ketidakpastian yang lebih besar dibandingkan ketika kita disiplin.

 

Manusia berusaha, Alloh yang menentukan.  Manusia berencana, Alloh yang memberikan hasilnya.  Yang bisa kita lakukan hanya mencoba, mencoba, dan mencoba.  Disiplin, disiplin, dan Disiplin.  Karena dengan disiplin, kita bisa tahu kualitas kita yang sebenarnya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman DISCLAIMER sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Menunggu berakhirnya Rangkaian Kartu Mati

June 12th, 2012 2 comments

Selamat pagi…

Dulu ketika kuliah, kegiatan rutin saya ketika hari minggu adalah menemani kakek dan nenek saya bermain bridge.  Biasa… kegiatan rutin orang tua untuk mengisi waktu luang.  Ketika itu, kakek saya, sudah pensiun dari jabatannya, setelah menjabat sebagai Dekan Pertama di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada serta kemudian dosen disana, selama lebih dari 30 tahun.

Ketika bermain kartu, kita sering mendapatkan ‘Kartu Mati’. Kartu Mati itu adalah kondisi dari kartu yang dipegang (hands) yang sulit untuk bisa memenangkan permainan.  Memegang kartu mati, berarti kita lebih bersiap menghadapi kekalahan, dibandingkan mengharapkan kemenangan.  Memegang kartu mati, berarti kita cuman bisa bermain defensif.  Bermain defensif ini, biasanya lebih menguras energi dibandingkan ketika kita sedang memegang kartu bagus.  Maklum, ketika pegang kartu bagus, perasaan sudah happy dari awal.  Bermain kartu jadi lebih mudah, hanya menjaga untuk tidak lengah.  Sedangkan kalau kita bermain defensif, sudah bawaannya bete karena sudah kartu jelek, sumber daya terbatas, kita masih harus mencoba untuk menggagalkan kemenangan orang, hanya bisa menunggu kelengahan orang.

Dapet kartu mati sekali, dua kali, mungkin tidak mengapa.  Perasaan ketika bermain kartu, bisa naik turun, kadang senang, kadang juga susah.  Tapi kalau sudah mendapatkan kartu mati beberapa kali kesempatan secara berturut-turut, sampai 5 atau 10 kali berturut-turut, rasanya kita juga mulai campur aduk.  Mangkel, jengkel, marah, gatal (galau total).  Gimana sih ini? Masa kartu gak ganti-ganti? Masa disuruh sabar dan berpikir keras terus? Cape dong.

Kondisi dimana ‘kartu mati’ terus berjatuhan di bursa kita, adalah apa yang terjadi semenjak bulan April lalu.  Kalau diurut-urut, rangkaian ‘Kartu Mati’ kita kurang lebih adalah sebagai berikut:

1.  Kartu Mati Pertama: kegagalan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM Subsidi.  Meski kalau kita melihat harga minyak sekarang, keputusan Pemerintah tersebut bisa saja dikatakan sebagai langkah yang tepat, akan tetapi, karena kejadian ini kemudian memperlihatkan buruknya Kepemimpinan Nasional kita, maka Kartu Mati ini kemudian memicu beberapa kartu mati berikutnya, tetap saja kartu mati ini adalah cikal bakal dari semua kartu mati berikutnya.

2.  Kartu Mati Kedua: Pemodal asing berhenti melakukan posisi beli secara agresif.  Kegagalan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM Subsidi, membuat orang-orang kemudian bertanya-tanya: emang anggaran Pemerintah bisa bertahan hingga akhir tahun? Apa yang kemudian dilakukan Pemerintah? Apakah Pemerintah melakukan penghematan (berarti pembangunan infrastruktur biasanya akan terganggu), atau Pemerintah akan berusaha meningkatkan pendapatan?  Kartu kedua ini adalah sambungan dari Kartu Mati Pertama.  Pemodal asing yang melakukan net Buy selama bulan Maret dengan jumlah total sebesar Rp 12.8 T, langsung berhenti beli.

3.  Kartu Mati Ketiga: S&P menunda pemberian investment grade.  Alasan mereka jelas: bila pemerintah terus menunda-nunda memberlakukan kebijakan fiskal yang baru bukan tak mungkin apabila APBN terganggu.

4.  Kartu Mati Keempat: Sentimen Negatif Krisis Eropa kembali merebak.  Episode krisis kali ini, diawali oleh pergantian kepemimpinan di beberapa negara Eropa.  Orang kemudian tidak yakin bahwa pemimpin yang baru, bakal melanjutkan kebijakan yang telah dilakukan.  Krisis ini kemudian terus berlanjut ketika Pemily Yunani kemudian dimenangkan oleh Partai yang Anti-Bail Out. Sarkozy juga kalah.  Setelah itu, permasalahan kembali terus berlanjut.  Terakhir kemarin masalah downgrade dari peringkat bank-bank di Spanyol.  Kemudian ada bail out, tapi kemudian orang masih berpikir buruk.  Kartu Mati Keempat ini pengaruhnya masih berlanjut hingga saat ini.

5. Kartu Mati Kelima: Kenaikan Uang Muka Kredit Kendaraan Bermotor dan KPR.   Yang satu ini, adalah kelakuan dari Bank Indonesia.  Sekarang begini deh… ASII adalah saham big caps, fund manager dan pemain blue chip, pasti punya ASII.   Terus.. Saham-saham properti adalah blue chipnya saham-saham gorengan.  Kalau anda pemain saham gorengan, kemungkinan besar anda bakal punya saham properti.  Sekarang, penjualan dari perusahaan-perusahaan tersebut bakal tertekan oleh peraturan ini.  Apa nggak Kartu Mati itu?

6.  Karti Mati Keenam: Pajak atas Mineral dan Batubara.  Menaikkan BBM, akan memberikan citra yang buruk bagi Pemerintah (baca: orang-orang atau partai yang sedang memerintah). Nah.. pihak ini sangat perduli dengan ‘citra’-nya, maka mereka kemudian mengambil langkah ‘aneh’: lakukan apa saja, yang penting tidak menaikkan BBM.  Nah.. langkah-langkah kreatif ini, yang kemudian menghantam pasar.  Pajak atas Mineral ini adalah salah satunya.

7.  Kartu Mati Ketujuh: Pajak Batubara yang Simpang Siur.  Ini Kartu Mati yang lebih gila lagi.  Sudah sentimennya negatif, simpang siurnya bikin sentimen lebih kacau lagi.  Terutama, karena setelah ini, Kartu Mati Keenam kemudian nongol:

8.  Kartu Mati Kedelapan  Harga batubara turun dibawah US$100 per ton (dan terus turun sampai sekarang).  Awalnya adalah berita bahwa trader batubara China mengalami default.  Tapi ternyata, default ini disebabkan karena harga batubara sudah turun US$10 dalam waktu seminggu.  Setelah itu, harga batubara terus turun.  Sampai akhir minggu kemarin, harga batubara terus turun.  Memang sih, kalau dibandingkan harga produksi batubara yang saat ini masih berada di sekitar US$50-US$55 per ton, penurunan tersebut belum membuat perusahaan batubara menjadi merugi.  Tapi, masalah terbesar adalah dimana bottom dari koreksi harga batubara ini, sampai sekarang juga masih belum terlihat.  Suport ada di US$90 per ton.   Tapi ini harga terakhir sudah dibawah level itu.  Sepertinya kita harus nunggu harga batubara reversal dulu, baru bisa kita bilang itu bottom.

9. Kartu Mati Kesembilan: Rupiah Bergolak.  Ini sih sebenarnya normal. Kalau semua kacau, kalau semua orang menebar kartu mati, hasilnya pasti ini. Kalau bursa saham sedang tidak pede, Rupiah biasanya bergolak.  Kabar bagusnya, Bank Indonesia terlihat berhasil mengendalikannya.. at least untuk hari-hati ini.

Saya sebenarnya tidak terlalu happy.  Ke-tidakhappy-an saya ini disebabkan karena sebagian besar dari Kartu Mati ini, berasal dari Pemerintah.  Pemerintah yang tidak mampu mengambil keputusan tegas.  Pemerintah yang kemudian melakukan langkah-langkah yang secara sengaja ‘membahayakan’ kesehatan emiten (terutama batubara dan mineral).

Tidak cuman itu.  Kartu Mati dari Pemerintah (Kebijakan Harga BBM Subsidi, Pajak atas Mineral dan Batubara), issuenya mungkin sekarang selesai.  Terutama dengan harga minyak yang turun dibawah US$85 per barrel.  Dan adanya pernyataan dari Menteri ESDM bahwa Pemerintah tidak akan mengenakan Pajak Batubara, bisa membuat nafas menjadi agak lega.  Akan tetapi problem yang saya rasa lebih besar adalah: kedepan, saya jadi tidak percaya bahwa Pemerintah bisa melakukan langkah kondusif bagi bursa kita.  Gak tau juga apa agendanya.  Moga-moga bukan karena ‘kebutuhan untuk mencari saham murah menjelang Pemilu’.

Selain itum, kartu Mati dari Kondisi Eksternal (Krisis Eropa dan Harga Batubara) hingga saat ini masih terus bercokol di pasar.  Untuk indeks DJI.. apakah lowest kemarin itu bottom, memang masih perlu dilihat lagi.  Akan tetapi, kalau harga batubara… gak tau deh.. sepertinya kita memang harus menunggu harga batubara mencapai bottomnya.  At least kalau mau cari tanda, harus cari tanda-tanda dari berita-berita bertajuk ‘pertumbuhan ekonomi China membaik’ atau ‘Harga Baja mulai rebound’. Disitu diharapkan harga batubara bakal mulai rebound.

So… Kapan berakhirnya Rangkaian Kartu Mati ini?  Gak tau deh.. kalau lihat Eropa yang masih bergejolak, dan harga batubara yang masih belum terlihat bottomnya, plus market yang lagi sepi kena Piala Eropa, kita cuman bisa menunggu saja, kapan berakhirnya Rangkaian Kartu Mati ini.  Kalau melihat posisi teknikal DJI yang sudah kena target double top di 12100, harapan sih ada.  Tapi kita lihat deh.

Yang ngeselin… Langkah-langkah Pemerintah yang ‘ngerjain market’ dengan Pajak Mineral dan Pajak Batubara, bikin saya menjadi agak ‘berprasangka buruk’ terhadap usaha penyelamatan anggaran yang sedang dilakukan.  Hasilnya, mungkin adalah yang terbaik untuk Bangsa Indonesia.  Tapi sepertinya, bukan bangsa yang ada di Bursa Efek Indonesia deh..  Untuk sementara, kita sepertinya memang masih harus berjuang sendiri.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Mau tahu kenapa saya gak mau pake Moving Average?

June 7th, 2012 20 comments

Selamat pagi…

Moving average itu adalah alat analisis teknikal yang biasanya pertama kali dikenal oleh seorang teknikal analisis.  In fact.. nggak cuman untuk analisis teknikal sih… kalau anda tanya sama analis fundamental atau ekonom, atau anak kuliahan ekonomi manajemen yang barusan lulus, mereka biasanya minimal ngerti apa itu moving average.  Ini karena alat analisis ini, banyak juga ditemui pada beberapa textbook analisis fundamental.  Saya aja, pertama kali menemui alat analisis ini pada buku ‘Teori Portfolio dan Analisis Investasi karangan dosen saya, ketika saya menempuh mata kuliah TPAI, Prof Suad Husnan (meski saya hanya diajar oleh pak Mamduh Hanafi… asisten beliau ketika itu), di Kampus saya, Kampus Biru, lebih dari 15 tahun yang lalu.  Nggak heran, kalau hampir semua orang yang berkecimpung di dunia persahaman, tahu akan indikator ini.

SAYA TIDAK MAU MENGGUNAKAN MOVING AVERAGE!

Banyak sih alasannya.  Beberapa alasan awal, sebenarnya alasan yang textbook.  Alasan yang anda temui pada buku-buku teknikal dasar, sekelas Murphy atau Pring, seperti:

  • Signal beli atau signal jual yang muncul cenderung terlambat.   Yang tergolong satu ‘genre’ (aliran) dengan alasan ini adalah: harga sering kali sudah bergerak terlalu jauh dari level terendah (bottom), atau Harga sering kali sudah beberapa hari bergerak dari bottom sebelum signal mulai muncul.
  • Ketika trend sedang berlangsung mendatar, indikator moving average ini sering kali bergerak whipsaw.  Whipsaw ini suatu kondisi dimana moving average bergerak mendatar dan harga bergerak melintasi moving average dan memberikan signal beli atau signal jual berulang-ulang (lihat gambar dari www.theincrediblecharts.com dibawah ini) sehingga signal beli dan signal jualnya memberikan hasil yang merugikan.

  • Sulit menentukan periode dari moving average yang benar.  Mau jangka pendek (MA 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, atau 10), jangka menengah (15, 20, 35,36,37,38, 39 dst sampai 50), atau jangka panjang (MA 100, 200, 250, 500, 3000).
  • Sulit menentukan metode mana yang mau digunakan (Simple, Exponential, weighted, triangular, dst, dll).
  • Sudah sulit menentukan, sulit menghitung, terus kena pasal: No average is foolproof (terjemahan saya: nggak ada periode moving average yang selalu benar).

Nah.. terus… karena orang sadar akan semua kesulitan tersebut, orang kemudian menggunakan lebih dari satu moving average.  Yang agak pintar sedikit, lari ke MACD atau MACD Histogram yang hasilnya agak lebih bagusan.  Tapi yang tidak termasuk golongan pertama tadi (dengan konotasi negatif), macet atau stuck dengan dual atau tripple MA.  Ini karena orang bilang.. signalnya lebih meyakinkan, lebih kuat, lebih terkonfirmasi.  Tapi.. ujungnya sih.. tetap sama saja: kelemahan-kelemahan diatas, tetap saja muncul.  Artinya: hasilnya tetap saja buruk, tapi dengan metode yang lebih sulit!  Yah.. biasa kan orang Indonesia, kalau dikasi yang lebih sulit, katanya pasti lebih berhasil.  Dan yang menerangkan juga terlihat lebih pintar.. Padahal… yang terjadi… hehehe…

Eh.. ini belum selesai.  Ada satu golongan lain lagi, yang lebih ‘kreatif’.  Mereka menggunakan banyak moving average, terus dikasi warna… biar menarik katanya.  Biasa… orang Indonesia itu, kan selalu terpukau dengan pencitraan, keindahan yang hanya didepan saja.   Gambar moving average yang biasa-biasa saja, bisa berubah.

Indah kan? Bagus kan? Seger kan?  Yang jelas bagi saya… menjelaskannya jelas lebih sulit.  Itu sebabnya, kursusnya sering kali lebih mahal.  Padahal, hasilnya juga kurang lebih sama gak jelasnya. Hehehe… semakin gak karuan.

Dulu… ketika saya menggunakan moving average sebagai indikator acuan, saya merasa bahwa saya menjadi memiliki beberapa sifat yang baru:

  1. Peragu (mau pake MA periode berapa? MA cara apa?)
  2. Plin-plan (MA yang ini, signalnya beli, yang itu signalnya jual)
  3. Tukang ngeles (Kalau pake MA yang biasa saya pake signalnya beli, saya bilang beli ternyata harga hanya naik sebentar terus turun lagi, berarti saya tinggal pindah/ngeles dengan menggunakan MA yang lebih panjang)
  4. Maunya bener sendiri (gimana nggak selalu benar.. kan selalu ada MA yang benar dan bisa digunakan untuk menjelaskan arah harga?)

Hasil nyata dari strategi beli dan strategi jual yang terlihat pada klien saya (ketika itu saya belum trading sendiri), adalah sebagai berikut:

Hehehe…

So… Indikator moving average itu, dipake sendiri oleh analisnya saja, sudah membuat analis tersebut… setidaknya saya… menjadi bingung, presisi prediksi rendah, tapi ditambah 4 sifat negatif itu tadi.  Nah… sekarang… anda kemudian, karena merasa bahwa anda masih belum ahli dalam hal memprediksi harga, anda kemudian ikut-ikutan dengan orang-orang yang seperti itu.

Hehehe….

Mari kita ulangi lagi apa yang saya sebut tadi pertama kali:

SAYA TIDAK MAU MENGGUNAKAN MOVING AVERAGE!

No other comment ah… (just repeat the process it until you broke.. ok?  :D)

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

PS: Baca juga tulisan lama saya, mengenai sebuah trick untuk menjadi analis yang selalu benar

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Pelajaran dari Costa Concordia

June 6th, 2012 2 comments

Selamat pagi…

Beberapa waktu yang lalu, berita tentang Costa Concordia pasti sudah sempat ‘mencuri’ perhatian anda.  Costa Concordia ini adalah nama dari sebuah kapal pesiar yang kandas di pulau Giglio, di perairan Italia.  Salah satu yang menarik adalah cerita dari Kapten Kapal yang kemudian dituduh sebagai penanggungjawab dari kematian 13 orang yang menjadi korban.  Kapten kapal ini menjadi pesakitan karena dia keluar dari kapal, sebelum penumpang terakhir keluar dari kapal.  Dia bahkah menolak untuk kembali ke kapal tersebut, ketika Kapten Pengawal Pantai memerintahkannya. Kapten kapal ini saat ini tengah menjalani proses persidangan atas semua tuduhan yang dihadapinya.

Analis, bukanlah seorang Kapten Kapal.  Kalau ibarat awak kapal, seorang analis itu hanyalah seorang navigator.  Akan tetapi, ditengah orang-orang yang berada disekitarnya (broker/dealer, sales, marketing, fund manager, direksi, nasabah), ‘peran’ (role) dari seorang analis, itu kurang lebih sama.  Dia harus menjadi leader, menjadi sumber inspirasi, menjadi petunjuk jalan, memberitahukan apa yang harus dilakukan.

  • Seorang Kapten Kapal harus mampu ‘melihat lebih jauh kedepan’.  Melihat bagaimana kondisi cuaca didepan.  Apakah kapal masih bisa melewati jalan tersebut, atau kapal harus mencari rute yang lain.  Kalau ada badai didepan, Kapten Kapal harus memutuskan untuk terus, atau menghindar.
  • Kalau kapal masuk ke perairan dangkal, seorang Kapten Kapal harus tahu resiko yang dihadapi.  Mana daerah-daerah yang dangkal dan berpotensi membuat kapal kandas.
  • Ketika kapal kandas, seorang Kapten Kapal harus mampu ‘menampingi’ orang-orang yang berada di sekitarnya, ketika saat-saat kritis. Setiap jam, menit, ataupun (kalau mungkin) detik akan menjadi sangat berharga.
  • Ketika kapal kandas, ketika ‘kondisi berkembang tidak seperti yang diharapkan’, seorang Kapten Kapal tidak boleh menjadi pengecut yang memilih keselamatan diri sendiri, meninggalkan tanggung jawabnya, demi keselamatan diri sendiri, popularitas, atau demi apapun.  Seorang Kapten Kapal harus menjadi seorang mampu ‘melindungi’, menjadi orang yang terakhir keluar.  Atau, setidaknya, Kapten Kapal harus ‘make sure’ (meyakinkan diri) bahwa semua orang sudah keluar kapal, baru setelah itu dia bisa meninggalkan kapal.  Jika tidak… hehehe… kabarnya, Kapten Kapal dari Costa Concordia terancam hukuman 15 tahun karena meninggalkan kapal sebelum ia melakukan langkah-langkah penyelamatan yang diangap perlu.

Menjadi analis atau mungkin juga ‘kompor’ di pasar modal, itu kurang lebih sama.

Jadi analis itu, jangan hanya berani bilang beli ini, beli itu, tapi ketika market bearish, menghilang.  Yang lebih ancur lagi, ketika tren harga mulai patah, malah semakin giat memberikan rekomendasi beli, agar teman-teman bandarnya bisa jualan, sedangkan pengikutnya pada nyangkut semua.

Market mau naik, market mau turun, semua cuman disitu.  BEI juga disitu.  Indonesia juga tidak bisa pindah.  Dalam kondisi seperti apapun, kita harus selalu bersama-sama orang yang kita dampingi.

Analis (kompor pasar modal) itu, jangan malah menjadi pendorong bagi mereka yang sedang ditepi jurang.  IHSG sudah jatuh dari atas 4000, harga sudah sampai 3700-3750.. malah sudah tembus.  Orang sudah stress.. mau bilang IHSG 3600? 3550?  Lantas ngapain? IHSG  masih bisa turun 50-100 poin, terus mau suruh jualan? Nggak lihat apa kalau IHSG sudah turun hampir 10 persen?

Menjadi analis (atau kompor) di pasar modal, kita harus bisa melihat kedepan dengan lebih jauh.  Melihat apa yang berada dibalik horizon.

Jangan hanya terus ‘fokus’ pada ‘saat’ ini.  Tidak pula fokus pada ‘kemarin’.  Jangan pula fokus pada sesuatu yang terlalu jauh, yang jelas tidak terlihat (valuasi 10 tahun lagi.. jangan dilihatin.. ngapain juga gitu loh?).  Realistis lah… Rasional

Pagi ini… IHSG sudah melewati resisten 3781.  Masalah masih ada pada HSI yang belum juga melewati resisten.  Tapi.. kalau ternyata resisten ditembus:

Sadarlah bahwa volatilitas pasar, volatilitas harga, memang sangat tinggi.  Kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri.

Orang yang cuman bisa rekomendasi ketika pasar sedang bagus, itu hanya seperti sekawanan hyena yang terus terdengar tertawa-tawa, ketika kita sudah menjadi bangkai.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Pertanyaan paling sulit… Bisakah anda membantu saya untuk menjawabnya?*

June 3rd, 2012 7 comments

Selamat pagi…

(maaf… kejadian dalam tulisan ini… hanya rekaan saya … kalau ternyata benar-benar terjadi atau mirip dengan kejadian yang ada dalam dunia nyata, berarti itu hanya kebetulan semata…)

Dalam kondisi market seperti ini, biasanya pemodal yang nyangkut, kemudian berkonsultasi dengan analis.  Gak tau deh dulu proses belinya seperti apa, trading ideas generation (pemunculan ide trading)-nya seperti apa, yang nyuruh beli juga siapa.  Tapi… kalau sudah nyangkut, biasanya seorang pemodal merasa perlu untuk mencari ‘second opinion’.  Bukan untuk pamer posisi nyangkut sih.  Bukan juga untuk ngetest kemampuan si analis.  Yang jelas, mereka ada suatu hal yang mereka tidak punya jawabannya, dan kemudian mencari jawaban kepada orang yang (menurut mereka) lebih tahu.  Mereka tidak punya jawaban, kemudian mereka mencari si analis.  Mereka mencari saya.

Orang-orang ini, kemudian bertanya kepada saya.  Saya sih selama ini… alhamdulillahnya, masih memiliki rasa ‘kewajiban untuk menjawab’.  Gak tau kenapa deh… mungkin karena saya merasa bahwa ini kewajiban saya, pekerjaan saya, tugas saya, atau karena saya memang masih baik hati dan  memiliki kesabaran juga untuk mengarungi semua itu, untuk melakukan pelayanan kepada pasar modal Indonesia yang  kita cintai ini.  Meski tetap saja didalam hati saya, ada sedikit umpatan (sorry men… orang bilang.. kalau gak mengumpat… itu bukan Arek Surabaya… hehehe… bawaan Arek.. gitu katanya):

Jancuk… sing kongkon tuku biyen sopo? Giliran stress, kok aku sing dikongkon tanggung jawab ngene… Ancene makne ancuk sing kongkonan tuku biyen!!!

(Terjemahan singkat: Siapa yang suruh beli, ketika stress, kok saya yang disuruh tanggung jawab).

Nah.. diantarara banyak pertanyaan yang datang kepada saya, pertanyaan berikut ini adalah yang menurut saya, tergolong pertanyaan yang paling sulit untuk diberi jawabannya.  Pertanyaannya adalah sebagai berikut:

Pak… PNLF itu, dengan asumsi EPS 40 perak, berati ketika PNLF di harga penutupan kemarin di 118, berarti P/E PNLF itu sudah dibawah 3 kali.  Murah banget kan?  Saya punya posisi di PNLF nih pak… Posisi saya, saya cut loss apa gimana ya?

Hm… ada yang aneh ini.  Ada orang beli saham karena alasan P/E (price to earning ratio)-nya rendah/murah, tapi kok sekarang, P/E-nya jauh lebih rendah lagi.. ternyata dia mau jualan untuk cut loss.  Pasti ada masalahnya.  Masalahnya ternyata klasik:

Saya beli di harga 144 pada bulan Maret kemarin.  Artinya, saya beli PNLF ketika berada pada valuasi P/E 3.6 kali.  Pada saat yang sama, P/E IHSG masih sekitar 13.5  kali. Murah kan? Si anu suruh saya beli. Pak Tommy juga bilang kalau PNLF mau naik (mati aku… ternyata bisa jadi yang rekomen saya sendiri…hehehe).  Karena saya merasa ini adalah kesempatan investasi yang baik, dan potensi kenaikannya juga sangat besar, maka saya menambah kekuatan saya dengan melakukan transaksi margin, pinjam dari perusahaan broker dimana saya bertransaksi.  Dana yang saya miliki adalah sebesar Rp 1 miliar. Posisi beli yang saya lakukan adalah BELI PNLF di harga Rp 144, sebanyak 35.000(tiga puluh lima ribu) lot, senilai total Rp 1,520 miliar.  Ketika itu, saya pikir semuanya aman.  Rasio margin hanya 60%.  Setelah itu, harga sempat lari sampai diatas 155.  Sampai 3 kali pak!!!  Bisa dihitung dong.. profit saya berapa.  Karena saya merasa bahwa P/E saham itu masih murah, meski ketika harga di 155, saya tahan posisi.  Ketika itu… P/E dari saham ini masih kurang dari 4 kali.  Masih murah banget kan?

Pemodal tersebut kemudian melanjutkan:

Masalahnya adalah apa yang saya hadapi sekarang ini: Harga PNLF tinggal 118. Rasio saya 74%.  Perusahaan sekuritas sudah menelpon beberapa kali niy.. Sudah mulai mengancam.. kalau rasio sampai diatas 80%, mereka akan melakukan forced sell.  Maklum, perjanjian awalnya kan rasio 65%  saya harus top up (menambah setoran modal).   Sekarang diharga 118 rasio margin saya sdh 74%. saya memang termasuk klien utama mereka sih, jadi mereka memberikan keleluasaan kepada saya, tapi mereka sudah menyampaikan bahwa anda harus setor.  Pihak sekuritas bilang begini: “kami pokoknya tidak mau tahu, begitu rasio diatas 80% kami akan forced sell!”.

Pertanyaan akhirnya (selalu) begini:

Sekarang saya harus ngapain Pak?  Pada prinsipnya saya sdh tidak punya uang lagi untuk melakukan top up.  Masa saya harus jual mobil saya?

Kalau market sudah dalam kondisi seperti sekarang ini, dimana IHSG sudah lebih dari 10% dibawah titik tertingginya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang umum.. lazim… sering.

Bagaimana coba jawaban anda atas problem seperti tadi?  Apakah pemodal tersebut harus cut loss?  Saham dengan P/E sudah dibawah 3… kok mau dijual? Apakah itu masuk akal?  Tapi, kalau tidak dijual, bukankah pemodal tersebut memiliki resiko untuk kehilangan investasinya?

Tidak pernah mudah bagi saya untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Heran juga saya.  Padahal saya sudah 10 tahun lebih di pasar modal.  Siklus bullish bearish, pasti sudah sering saya lalui.  Tapi tetap saja, pertanyaan seperti itu, selalu menguras emosi saya.

Bagaimana jawaban anda?

Kalau anda tanya bagaimana jawaban saya… hehehe… seperti biasa… saya akan kasih kuliah dulu untuk anda… hehehe.  Kalau anda sudah lama mengikuti ulasan saya, anda mungkin sudah sering melihat bahwa saya bilang begini:

Trading itu berbeda dengan investasi.

Investasi dengan menggunakan margin, itu bukan investasi!  Itu posisi trading!

Tidak bisa membedakan antara posisi trading dengan posisi investasi adalah pembunuh terbesar dari pemodal di Indonesia!

Kalau beli saham, lihat arah harga sahamnya! Jangan beli hanya karena saham itu murah!

Fundamental itu hanya ‘iming-iming’ (baca Stick & Carrot yang saya tulis kemarin) bagi orang untuk beli dan menahan posisi.

Kalau anda percaya pada omongan orang yang ngakunya analis fundamental (padahal ekonom) yang bilang kalau fundental doang sudah cukup bagi anda untuk melakukan pertimbangan beli, berarti anda sama saja dongoknya dengan dia!!! (hehehe…. maaf.. kalau yang ini baru ya.. eh.. kemarin juga sudah kalau nggak salah saya juga sudah bilang).

Tapi intinya:

kalau beli saham, prediksilah arah pergerakan harga jangka pendek, dan sesuaikan posisi anda dengan arah pergerakan jangka pendek dari saham tersebut

Kembali ke PNLF.  Berarti, kalau mencari solusi atas pertanyaan diatas mengenai PNLF, kita tinggal melihat arah pergerakan harga, berserta semua kemungkinan-kemungkinannya.

Pertama-tama, marilah kita melihat grafik dibawah ini:

Gambar diatas itu, bacanya begini:

Pada periode Desember 2011 – Mei 2012, harga saham PNLF bergerak diantara kisaran 128 hingga 159.  Dengan lebar kisaran sebesar 31 poin (Rp 31), berarti penembusan atas suport di 128, memiliki target atau arah pergerakan marga maksimal menuju level Rp 97.  Meskipun demikian secara grafik diatas, ditunjukkan bahwa potensi koreksi yang optimal, hanya menuju kisaran 103 – 105.

Dari grafik seperti diatas, rekomendasi saya untuk PNLF adalah sebagai berikut:

Jika harga PNLF turun hingga dibawah/lebih rendah dari 105, silakan anda melakukan posisi beli!

Pemodal biasanya menjawab:

loh.. Bapak kok tidak menjawab pertanyaan saya.. ini posisi saya yang modalnya di harga 144,yang sekarang harganya sudah tinggal 118.. ini mau diapain?  Sekaran rasio saya sudah 74%, kalau harga ternyata turun beneran dulu ke bawah 105 dulu, berarti rasio saya sudah diatas 80%.  Berarti.. kalau posisi saya saya diemin… berarti saya kena forced sell dwong?

Secara klise, jawaban standar saya adalah sebagai berikut:

Bapak/Ibu… Setiap orang, masuk ke pasar modal, itu harus mengukur resikonya sendiri-sendiri.  Saya tidak pernah tahu preferensi resiko anda.  Ketika anda beli di 144 dan harga naik diatas 155, dan anda tidak jualan, kan saya tidak bisa menebak, sebenarnya yang anda mau itu seperti apa.  Ketika suport 128 ditembus, dan anda tidak jualan, kan saya juga gak tau apa alasan anda tidak melakukan hal itu.  Tapi, kalau dari apa yang saya lihat, dua kesalahan terbesar yang anda lakukan adalah: anda tidak melakukan prediksi atas pergerakan harga untuk jangka pendek, dan anda tidak tahu bedanya antara trading dengan investasi!

Jadi sekarang, saya persilahkan anda untuk menghitung sendiri resiko anda.  Yang jelas sih, rasa-rasanya, memang tidak rasional untuk melakukan posisi jual atas saham dengan P/E dibawah 3.  Tapi, apakah anda kemudian harus mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan posisi itu?  Hanya anda yang tahu atas jawaban atas pertanyaan tersebut.  Karena itu adalah hidup anda!

Kemampuan berpikir adalah salah satu karunia terbesar dari Alloh SWT untuk Manusia.  Apapun yang anda akan lakukan, pesan akhir yang saya bisa sampaikan adalah sebagai berikut:

Jadikanlah itu sebagai pelajaran, agar kedepan, trading anda bisa lebih baik!

Itu jawaban terbaik dari saya.  Bagaimana jawaban dari anda? Haruskah pemodal ini melakukan cut loss atas posisi PNLF? Atau mempertaruhkan semuanya untuk posisi PNLF ini? Atau apa?

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Knowledge from The Street Tags: