Archive

Archive for May, 2012

Valuasi: Sebuah cerita tentang ‘Stick and Carrot’

May 31st, 2012 No comments

Selamat pagi…

Perhatikanlah gambar ini baik-baik.  Gambar ini adalah sebuah permainan yang disebut sebagai ‘stick and carrot’.  Keledai katanya niy, adalah sebuah mahluk yang paling bodoh.  Paling sulit untuk dimotivasi.  Jika seorang  penunggang (‘Sang Sutradara’)  ingin membuat seekor keledai bergerak maju,

maka penunggang ini harus mengikatkan wortel (carrot) kepada sebuah tongkat (stick), dan kemudian melambaikannya di depan keledai tersebut.  Keledai tersebut akan bergerak maju, karena berpikir dia bisa mencapai carrot.  Sang Sutradara tinggal menjaga agar carrot terus berada didepan keledai dan tidak termakan oleh keledai tersebut.

Saya jadi teringat, hubungan antara rata-rata valuasi, dengan pergerakan harga saham.  Yang pertama adalah saham yang baik.  Yang berfundamental bagus, yang pergerakan harganya normal.  Penggeraknnya adalah pasar murni.  Kondisi valuasi vs harga saham bakal seperti yang ada di gambar dibawah ini:

Anda bisa lihat kan… harga saham bergerak naik atau turun.  Ketika harga saham bergerak naik, harga saham akan menyentuh valuasinya.  Ketika saham fully valued (tervaluasi penuh) harga kemudian turun dibawah valuasinya.  Ketika harga sudah turun cukup signifikan, orang yang berminat untuk beli, kembali melakukan posisi beli.  Harga kemudian bergerak naik lagi, menuju valuasinya.  Kondisi ini terjadi terus menerus dan berulang-ulang.  Anda lihat gambar di bawahnya, dimana itu adalah spread (selisih) antara harga saham, dengan rata-rata valuasinya.  Anda bisa melihat bahwa harga saham kadang undervalue (berada dibawah titik nol) dan terkadang juga over value (diatas titik nol).  Harga terus bergerak dinamis, seiring dengan pergerakan pasar.

Problem kemudian muncul kepada saham yang sering saya sebut sebagai ‘non-fundamental stocks’.  Saya menyebutnya dengan saham yang jahat.  Saham dimana pemiliknya lebih menggunakan saham sebagai alat untuk mengeruk likuiditas dari pasar.  Pemilik ini kemudian menggunakan angka-angka perusahaan, menggunakan alat-alat fundamental, menggunakan valuasi sebagai carrotnya.  Anda bisa lihat kejadiannya di bawah ini:

Harga saham akan selalu terjaga, untuk bergerak dibawah rata-rata valuasinya.  Tidak ada minat pemodal ‘rasional’ untuk melakukan posisi beli.   Pemodal yang masuk hanya pemodal yang emosional, yang memandang berita-berita yang mengalir, dan juga valuasinya, sebagai alasan untuk melakukan posisi beli.  Pemodal seakan dibuat selalu memandang ke langit.  Memandang ke atas.  Valuasi serasa seperti sebuah carrot yang tidak pernah tercapai.  Yang selalu diayun-ayun ke atas oleh Sang Aktor, yang tidak berharap pemodal itu tidak melakukan posisi jual.. sampai….

Sebuah mobil menabrak keledai tersebut.  Pemodal terkena forced sell.  Tragis.

Bagaimana bisa kita trading atau investasi dengan hanya mengandalkan 100% fundamental? Anda tanya deh sama orang-orang yang hari ini kena forced sell.  Apakah benar saham yang anda pegang telah mengalami perubahan fundamental yang mendasar? Perubahan fundamental yang membuat seorang pemodal harus melakukan posisi jual?  Dulu.. ketika BUMI turun dari 8000 ke 400.  Apakah ada perubahan fundamental yang berarti?

Valuasi itu, kelakuannya seperti model yang saya perlihatkan diatas:  Ketika valuasi dilakukan pada saham yang ‘baik’, yang tidak hanya berfundamental bagus, tapi juga ada di bursa untuk ‘meningkatkan value perusahaan dengan bersama-sama meningkatkan kesejahteraan pemegang sahamnya’.  Maka valuasi bisa digunakan sebagai alat untuk alasan dari orang untuk melakukan beli jual saham.   Akan tetapi, pada saham yang ‘jahat’, dimana pemilik perusahaannya hanya perduli pada kesejahteraan dirinya, valuasi hanya berfungsi sebagai ‘carrot’… fatamorgana yang tidak bisa disentuh dan dicapai.  Pada saham yang jahat, valuasi adalah carrotnya, dan pemodal yang beli, adalah (maaf) keledainya.

Anda mau jadi keledai?  Mulai hari ini, katakanlah kepada diri anda:

Saya tidak mau jadi keledai.  Oleh sebab itu, saya tidak mau menggunakan 100% fundamental sebagai pertimbangan saya melakukan beli jual saham.

Terakhir… berikut ini adalah beberapa hal yang menurut saya harus dilakukan oleh seorang trader yang bertanggung jawab:

  1. Perhatikan arah pergerakan harga, prediksi arah pergerakan harga.
  2. Beli ketika mau naik, jual ketika mau turun
  3. Saham, dengan P/E Ratio sekecil apapun dan dengan berita sebagus apapun, bukanlah sesuatu yang menarik jika saham tersebut masih memiliki potensi koreksi yang signifikan.
  4. Transaksi dengan prediksi sendiri.  Gunakan prediksi orang lain sebagai referensi.  Jangan gunakan prediksi orang lain karena preferensi resiko dari setiap orang, bisa jadi memang berbeda.

Masih banyak lagi sih… tapi sementara… itu dulu deh..

Semoga anda bisa selamat dari goncangan pasar yang tengah terjadi.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Ketika Ketidakberanian = Ketidakpastian

May 7th, 2012 No comments

Selamat siang…

Kalau anda membaca tulisan saya yang terakhir, beberapa minggu yang lalu, anda pasti sudah tahu keadaan terakhirnya, bahwa kondisi market memang sudah penuh dengan berita-berita yang tidak kondusif, tapi dengan trend IHSG yang masih berada dalam trend naik.  Well… kondisi hingga saat ini, sebenarnya masih tidak ada perubahan.  Bahkan lebih memburuk.  IHSG memang masih berada dalam trend naik, setidaknya sampai hari Jumat. IHSG bahkan sempat kembali menyentuh rekor IHSG di 4232,92.  Akan tetapi, berita bearish yang ada, yang ditimbulkan oleh ketidakpastian akibat keragu-raguan Pemerintah dalam melakukan ‘action’ bukan malah berkurang, tapi malah semakin menjadi-jadi.  Benar-benar semakin bikin pusing kepala.

Masalah yang paling mendasar, adalah masalah harga BBM Subsidi.  Sudah dua bulan terakhir, reflek saya ketika tanggal 1, adalah melihat perkembangan harga rata-rata dari ICP (Indonesian Crude Oil Price).  Pada akhir bulan kemarin, harga ICP masih berada pada level US$127,96 per barrel.  Ini membuat harga rata-rata ICP selama 6 bulan terakhir, menjadi US$121,83.  Artinya, sesuai dengan APBN-P 2012, Pemerintah sebenarnya sudah memiliki hak untuk menaikkan harga BBM Subsidi.  Tapi, apa yang kemudian dilakukan oleh Pemerintah? Well… Boro-boro naikin harga BBM Subsidi.  Melakukan pembatasan atas konsumsi BBM Subsidi saja, Pemerintah tidak berani.  Coba sekarang kita melihat 5 langkah yang rencananya akan dilakukan oleh Pemerintah:

  1. Pelarangan penggunanan BBM Subsidi untuk Kendaraan Dinas
  2. Larangan penggunaan BBM Subsidi untuk kendaraan yang digunakan oleh perusahaan pertambangan dan perkebunan
  3. Mempercepat konversi penggunaan BBM ke BBG untuk Pulau Jawa
  4. PLN dilarang membangun pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Semua harus berganti ke pembangkit berbahan bakar air, matahari, panas bumi, dan batubara
  5. Penghematan listrik di gedung-gedung pemerintahan.

Apakah terlihat secara tegas dan jelas bahwa Pemerintah serius dalam melakukan usaha untuk mengurangi konsumsi BBM Subsidi demi mengamankan APBN?  Kok saya tidak melihat adanya ketegasan tersebut.

Ketidakberanian Pemerintah dalam mengambil keputusan terhadap pengematan atau kenaikan harga BBM Subsidi ini, sebenarnya sudah dibayar cukup mahal oleh pelaku pasar modal kita.  Tidak lama setelah terdapat kepastian bahwa Pemerintah tidak menaikkan BBM Subsidi per 1 April, aliran dana asing yang selama bulan Maret telah masuk ke bursa kita dengan jumlah yang cukup besar, (lebih dari Rp 12 Trilyun selama 1 bulan), terlihat berhenti melakukan posisi beli dengan agresif.  Lantas, ketidakberanian tersebut juga sudah menyebabkan S&P menunda pemberian peringkat Investment Grade yang lama dinanti-nanti oleh pelaku pasar modal kita.  Selain itu, usulan-usulan sporadis yang dilakukan Pemerintah untuk menambah pendapatan, seperti pajak pertambangan dan pembatasan BBM Subsidi berdasarkan kapasitas silinder kendaran bermotor,  telah membuat pelaku pasar ragu-ragu dalam mengambil posisi.  Jangan tanya pergerakan harga saham ANTM, INCO, dan TINS yang terkait dengan pajak ekspor pertambangan mineral.  Pergerakan harga saham-saham batubara, terlihat terhenti, hanya bergerak flat.  Harga saham ASII benar-benar bertahan di harga bawah berkat kesimpangsiuran isu pebatasanan BBM Subsidi berdasarkan kapasitas silinder.  Harga saham-saham perkebunan bahkan sudah mulai longsor 2 – 3 hari terakhir, terkait rumor yang beredar sebelum ‘Siaran Pers’ tersebut dikeluarkan.

So… yang bisa kita lakukan sebenarnya, hanyalah menunggu sampai Pemerintah punya nyali untuk membuat keputusan, untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ada.  Masalahnya tinggal: kita mau disuruh menunggu berapa lama?  Masih bagus juga dana asing yang masuk selama bulan Maret sebesar Rp 12,8 tr, sejauh ini yang keluar selama bulan April, baru sekitar Rp 2 tr – Rp 3 tr.  Masih minim.  Bagaimana kalau ternyata posisi tersebut, kemudian dilepas lagi?  Apa nggak berabe tuh?

Pelaku pasar itu, sebenarnya, hanya butuh kepastian: pasti naik atau pasti tidak naik, aturan keluar, atau tidak keluar.  Selama tidak ada kepastian, pelaku pasar lebih cenderung untuk melakukan posisi wait and see, menghentikan posisi beli.  Dan ketika posisi beli berhenti, harga akan turun pelan-pelan, dengan sendirinya.  Market akan terus mengalami konsolidasi (pergerakan flat).

Bagaimana ya sebenarnya, cara kita untuk bisa mendorong Pemerintah untuk melakukan langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengamankan APBN-P?  Bagaimana cara kita untuk mendorong Pemerintah (baca: ESBEYE) untuk bisa mengambil keputusan yang cepat dan tegas?  Apakah DPR harus melakukan hak interpelasi untuk menanyakan kepada Pemerintah, mengapa BBM Subsidi tidak naik bulan ini? (secara… mungkin susah kali ye… kok kelihatan DPR yang ngebet naikin BBM? Gak mungkin banget).   Ataukah… Pilpres-nya mau dipercepat saja biar kita bisa mendapatkan pemimpin baru yang lebih tegas?

Kita tunggu perkembangan deh…

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags: