Archive

Archive for February, 2012

Trader Pengejar Rumor

February 13th, 2012 7 comments

Selamat siang…

Pada tanggal 31 Januari lalu, teman lama saya mengirim Blackberry Message (BBM) kepada saya dengan isi sebagai berikut:

Kesan pertama saya adalah: Eh… kok nggak biasanya ini orang kirim BBM rekomendasi kepada saya.  Saya sih sudah lebih dari 10 tahun tidak pernah tertarik oleh rumor.  Tapi kemudian saya melihat chart dari saham GEMA, harga sudah naik 55,6% (penutupan ke penutupan) dalam 8 hari perdagangan. Melakukan posisi beli ketika harga sudah naik terlalu tinggi dalam waktu yang terlalu cepat seperti ini adalah sebuah perbuatan yang tidak bijaksana. Bener nih harga masih mau naik?

Saya kemudian memperhatikan pergerakan harga dari saham tersebut di hari itu.  Harga penutupan sebelumnya, di Rp420.  Pada pagi hari, harga dibuka tidak berubah di Rp420.  Kemudian,  harga bergerak naik ke Rp 425 dulu.  Kemudian tidak lama kemudian, harga turun hingga titik terendahnya di Rp 335, turun 21,2% dari titik tertingginya, sebelum ditutup di Rp 340. Loh? Apa maunya ini? Dengan rumor seperti itu, harga malah turun dengan pergerakan pagi naik dulu.  Apa orang yang beli pagi berdasarkan rumor, apa nggak nyangkut itu?  Bagaimana nasib dari orang yang dengan lugu melakukan posisi beli setelah harga pembukaan?  Apakah tidak terjebak?  Apakah rumor ini tujuannya memang menjebak?

Saya kemudian berpikir, dari mana teman saya dapet berita atau rumor ini.  Sepertinya rumor ini bukan dia yang bikin.  Dari temannya sesama broker? Dari analisnya? Atau dari mana?  Saya kemudian bertanya kepada ‘Mbah Google’.  Saya memasukkan keyword “diminati asing GEMA melesat 750”.  Saya kemudian, tertarik kepada halaman rumor yang terdapat di salah satu portal online.  Pikir saya ketika itu: ‘duh… kelakuan siapaaa ini…”

Saya kemudian teringat, loh…  beberapa waktu yang lalu, saham LTLS memiliki pergerakan saham seperti itu.  Pagi naik dulu, sore kemudian turun.  Saya cek chart LTLS, ternyata pergerakan itu terjadi tanggal 25 Januari.  Dan, saya cek halaman rumor tersebut, ternyata tanggal 25 Januari juga terdapat rumor LTLS dengan bunyi: Di Incar Asing, LTLS tender offer Rp 2000. Lah? Kok? Masa sih kebetulan?

Kemarin, hari Kamis, saya kebetulan melihat kolom rumor tersebut merekomendasikan saham TELE.  Mau dibeli ZTE katanya.  Saya sampai ngetweet melalui akun tweeter saya, @satriopakrt kurang lebih seperti ini: KALAU TELE HARI INI TURUN, KEBANGETAAAN!!! Well… TELE hari itu tidak turun.  Tapi tetap saja, harga saham naik dulu di pagi hari, kemudian turun, Tetap saja.  Orang yang beli pagi setelah melihat kolom rumor tersebut, kemungkinan besar sudah berada didalam masalah.

Saya terus penasaranan.  Sebenarnya, kualitas rekomendasi dari kolom rumor media tersebut, seperti apa sih?  Saya kemudian melihat 10 rekomendasi terakhir dari kolom rumor tersebut:

Hm… benar-benar menarik.  Kita bisa melihat bagaimana cara sebuah ‘rumor’ memancing ‘korban’nya.  Yang pertama, adalah dengan menggunakan potensi keuntungan yang luar biasa tinggi.  Ini dapat dilihat dari rata-rata potensi keuntungan yang dijanjikan oleh rumor tersebut, adalah sebesar 68,5%.  Trader seperti ‘didorong’ untuk melakukan posisi beli dengan umpan yang mereka inginkan: potensi keuntungan yang sangat besar untuk jangka waktu pendek.  Potensi keuntungan 68,5% untuk jangka pendek, itu jelas sangat jauh dibandingkan dengan suku bunga deposito yang saat ini hanya berkisar pada level 3,8% – 4,5%.

Terus… bagaimana hasilnya?  Apakah transaksi jangka pendek ini menguntungkan seperti yang diiklankan?

Ternyata yang didapat adalah kondisi yang sebaliknya.  Saya mencoba menggambarkan ‘hasil’ ini dengan beberapa buah model transaksi yang bisa dilakukan oleh seorang trader.  Bicara mengenai ‘trader’ ini tentu saja artinya bisa luas karena strategi trader itu bisa bermacam-macam. Untuk mempersempit pilihan, saya mencoba membuat tiga buah model.

  1. Model pertama adalah One Day Trader (ODT) yang memiliki strategi ‘beli pada harga 1 poin diatas harga pembukaan, dan jual pada harga 1 poin dibawah harga penutupan.  Yang dimaksud dengan ‘1 poin dibawah penutupan ini karena pada penutupan harga lebih sering ditutup di posisi offer, sehingga posisi jual dilakukan di harga bid, kecuali jika harga ditutup di harga terendah, maka berarti posisi dijual pada harga penutupan.
  2. Model kedua adalah ‘Trader Terima Seminggu’ (TTS) yang memiliki strategi ‘beli pada harga 1 poin diatas harga pembukaan, dan jual pada harga 1 poin dibawah harga penutupan ketika T+2 (kalah menang diterima/dibayar seminggu kemudian).
  3. Model ketiga adalah ‘Trader Nyangkuter’ (NYANGKUTERS) dimana trader ini beli pada harga 1 poin diatas harga pembukaan ketika T+0 rekomendasi, tapi karena nyangkut, ditahan terus hingga sekarang (penutupan hari Jumat kemarin).

Hasilnya bisa dilihat dibawah ini:

Hebat ya?  Anda bisa melihat.  Seorang pemodal, dipancing untuk melakukan posisi beli, dengan janji potensi keuntungan yang luar biasa tinggi.  Akan tetapi, yang didapat untuk jangka pendek, adalah kerugian yang cukup signifikan dengan probabilitas yang sangat tinggi.  Dari sisi probabilitas, anda bisa melihat bahwa One day trader (ODT) memiliki probabilitas untuk mengalami kerugian sebesar 100%, dengan rata-rata kerugian untuk setiap sahamnya adalah sebesar 7,5%.  Hasil dari Trading Terima Seminggu (TTS) ternyata lebih mengenaskan lagi.  Ketika trader tersebut memutuskan untuk tidak cut loss  dan menahan posisi hingga dua hari, (berubah menjadi TTS) , probabilitas untuk mengalami kerugian memang kemudian turun menjadi 80%, akan tetapi dengan kerugian yang lebih besar, yaitu sebesar 8,1%. Bagi trader yang memutuskan untuk terus menahan posisi, menyangkutkan diri (Nyangkuters) maka probabilitas untuk mengalami kerugian tetap sama yaitu sebesar 80%, tapi dengan kerugian yang relatif tidak berubah, yaitu sebesar 7,9%.

Semua itu adalah potret dari seorang pengejar rumor.  Orang yang melakukan posisi beli dengan didorong perasaan ‘serakah’, keinginan untuk memperoleh keuntungan,  atau ‘greed’ yang dimilikinya.  Karena keyakinan akan rumor tersebut, dia melakukan posisi beli, 1 poin lebih mahal dari harga pembukaan.  Hasilnya? Kalau dia adalah seorang yang ‘beli pagi jual sore’, rata-rata kerugian yang dialaminya adalah sebesar 7,5%.  Kalau dia seorang yang plin-plan… dan kemudian bilang kalau: “ah… ditahan ajah deh… dilepas nanti ajah… kita lihat 1 – 2 hari deh…”.  Hasilnya, anda akan memiliki kerugian yang lebih dalam, kerugian yang lebih besar, dengan rata-rata kerugian sebesar 8,1%.  Terus, kalau anda adalah seorang trader nyangkuter, yang sayang cut loss, tidak mau rugi, menahan posisi, dan berharap harga nanti naik di kemudian hari? Well… berarti sampai penutupan hari Jumat kemarin (10 Februari 2012), anda sudah memilki kerugian potensial dengan rata-rata sebesar 7,9%.

Loh?  Kok rugi? Katanya mau untung?

Kalau anda merasa bahwa ‘keanehan’ seperti ini adalah absurd dan harus dihentikan…. anda seakan berhadapan dengan tembok China.  Dari apa yang saya pernah tanyakan kepada teman yang lebih mengerti mengenai hukum pasar modal, jawaban mereka biasanya klasik.  Pemberi rekomendasi akan berlindung pada disclaimer.  BEI akan berkata bahwa tugas mereka adalah melaksanakan perdagangan yang wajar.  BEI tidak memandang rumor seperti ini sebagai sesuatu yang diluar kewajaran.  BEI sering kali hanya bertanya kepada Emiten, kebenaran dari berita tersebut, dan ketika emiten bilang bahwa berita itu tidak benar, BEI juga tidak bisa berbuat apa-apa.  Bapepam? Well… Bapepam merasa bahwa mereka tidak memiliki juridiksi untuk mengatur media, karena yang mengatur media itu kan dewan pers.  Dan apakah hal seperti ini akan menjadi perhatian dari dewan pers? hm…. belum pernah saya dengar dewan pers mengatur tentang rumor pasar modal. Jadi… karena masalah ini berada dalam ‘no man’s land’… rumor tetap mengalir, pemodal retail tetap menjadi korban, dan tidak pernah ada pihak yang dihukum.  Yang bersalah ada di penjara.  Mengenai masalah rumor, tidak ada pihak yang bisa dipersalahkan.

Saya hanya bisa mengucapkan: Selamat datang di Indonesia, negara hukum yang kita cintai ini.

So…

Anda masih berminat menjadi ‘Trader Pengejar Rumor’?  Anda masih merasa perlu mendegarkan rumor?  Sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, saya sudah memutuskan untuk berhenti mendengarkan rumor, dan kemudian belajar memprediksi sendiri pergerakan harga. Semoga saja anda memiliki kesimpulan yang sama, setelah anda membaca tulisan ini.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

January Barometer

February 2nd, 2012 4 comments

Selamat siang…

Orang sering menyamakan arti dari dua istilah ini: Januari Effect dan Januari Barometer.  Padahal, keduanya mengalami perbedaan yang sangat nyata.

Secara definisi, Januari Effect adalah kenaikan harga saham-saham (terutama saham-saham small cap, atau bisa juga saham-saham yang selama setahun sebelumnya adalah saham looser/underperform) yang terjadi selama bulan Januari.  Yang terjadi adalah fund manager cenderung untuk merealisasikan loss di bulan Desember atas saham-saham laggards (yang berada dalam posisi rugi) dengan motif untuk menekan pajak.

Disisi lain, definisi dari Januari Barometer adalah kondisi dimana pergerakan indeks di bulan Januari, merupakan indikasi dari arah indeks selama setahun penuh.  Januari Barometer ini, pertama kali ‘ditemukan’ pada indeks-indeks yang digunakan di bursa-bursa yang terdapat di Amerika Serikat.  Rocky White pada www.forbes.com memaparkan Januari Barometer ini sebagai berikut:

“….for the Dow Jones Industrial Average (DJIA) since 1950 suggests there is something to the January Barometer. When the Dow is positive in January, then the rest of the year is positive 83% of the time, averaging additional gains of 9.59%.”

Pada kesempatan lain, Adam Shell dari USA Today melukiskan Januari Barometer sebagai berikut:

“This barometer states that “as the S&P 500 goes in January, so goes the year.” This market prediction tool has been correct 89% of the time since 1950, suffering only seven major setbacks.”

Jadi… dalam fenomena Januari Barometer ini, arah dari pergerakan indeks selama setahun penuh, akan ditentukan dengan arah dari indeks selama bulan Januari dengan akurasi (kalau di bursa Amerika niy…) sebesar 85%  untuk Dow Jones Industrial Average, dan 89% untuk S&P 500.  Suatu angka yang sangat tinggi untuk ukuran akurasi prediksi.

Januari Barometer di Indonesia

Bagaimana dengan Januari Barometer di Indonesia?  Sayangnya, data dari pergerakan historis IHSG, tidak sepanjang data historis pergerakan indeks di Amerika.  Dari data bulanan yang kami peroleh dari finance.yahoo.com, hanya berhasil ‘menarik’ IHSG bulanan dari tahun 1997 – sekarang.  Data yang tersedia, hanya data 14 tahun, semenjak tahun Januari tahun 1998.  Dari data tersebut, kami mendapati fakta sebagai berikut:

  • Dari pergerakan IHSG selama 14 tahun tersebut, terdapat 8 kali dimana Januari barometer berlaku.  Probabilitas 57.14% ini sangat jauh dengan probabilitas diatas 85% yang terjadi pada indeks harga saham yang ada di bursa-bursa Amerika.  Januari Barometer di Indonesia, hasilnya tidak sama validnya dengan Januari Barometer di Bursa Amerika.
  • Disisi lain, ketika Januari Barometer terjadi, rata-rata return dari IHSG
    terlihat luar biasa tinggi, yaitu sebesar 40.1%.  Ini diatas rata-rata dari 9.59% yang terjadi pada indeks Dow Jones Industrial.  (Bisa jadi memang karena IHSG lebih volatile jika dibandingkan dengan indeks DJI).

Jadi… Apakah tahun ini IHSG akan bergerak naik?  Berapa kenaikan IHSG untuk tahun ini?  Memang sih… sejarah belum tentu akan berulang dengan ketepatan yang pasti.  Tapi … kenaikan sebesar 3.1% yang terjadi pada IHSG di bulan Januari ini, membuat saya, analis yang punya target IHSG di 4500 – 4800 untuk tahun ini, menjadi lebih tenang.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Knowledge from The Street Tags: