Archive

Archive for January, 2012

2012: Membiasakan diri dengan Resiko Tinggi

January 3rd, 2012 No comments

Selamat pagi…

Tahun 2011 sudah lewat.  IHSG ditutup diatas resisten 3811.  Secara teknikal, posisi penutupan IHSG sebenarnya bagus juga.  Melihat pattern triangle yang ada pada IHSG, itu berarti IHSG ditutup dengan potensi kenaikan hingga kisaran 4000-4050.  Satu yang tadinya saya tunggu.  Dengan posisi penutupan IHSG diatas resisten ini, saya berharap indeks Dow Jones Industrial (DJI) bisa ditutup diatas resisten 12303.  Ini agar DJI memiliki potensi kenaikan hingga 12500-13000.  Agar kedua indeks (IHSG dan DJI) memiliki peluang untuk terus bisa bergerak naik hingga pertengahan bulan Januari.  Agar signal untuk terjadinya Januari Effect sudah terlihat di akhir bulan Desember.  Januari Effect, bisa terlihat sebelum bulan Januari.  Eh… ternyata indeks Dow Jones Industrial, bukannya menembus resisten 12303, tapi malah kembali bergerak turun.

Satu pelajaran yang saya dapat dari pergerakan harga saham, IHSG, dan indeks-indeks dari berbagai bursa regional selama tahun 2011 kemarin, terutama setelah krisis Eropa memanas, di semenjak bulan Agustus, adalah bahwa kita harus membiasakan diri dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan.  Membiasakan diri dengan resiko tinggi.  Semenjak krisis Eropa mulai memanas, pergerakan indeks regional memang sering bergerak ‘mengecewakan’ (kalau tidak mau dibilang sulit untuk diprediksi).  Kita harus membiasakan untuk kecewa, karena hasil akhir dari posisi penutupan dari indeks dari bursa-bursa di kawasan Eropa di malam hari, dan terutama posisi penutupan dari Dow Jones Industrial (DJI) di pagi hari, bisa berseberangan atau berbalikan dengan signal bullish/ positif atau signal bearish/negatif yang kita lihat pada posisi penutupan dari indeks regional Asia, posisi futures dari indeks Dow Jones Industrial, maupun posisi posisi pembukaan dari bursa Eropa pada sore hari. Bursa Asia naik, Dow Futs naik tinggi, eh… DJI ternyata malah minus.  Giliran bursa Asia lemes, DJI malah ditutup naik tinggi sekali.  Sudah begitu, positioning juga menjadi sulit.  Begitu ada signal bullish, posisi beli dilakukan, harga malah turun.  Begitu ada signal bearish, posisi jual dilakukan harga malah naik.  Beli malah turun, cut loss malah naik.  Begitu terjadi berulang-ulang.  Orang yang disiplin, malah frustasi.  Orang yang tidak disiplin, sering kali malah bisa beruntung.  Sampai-sampai rekomendasi untuk melakukan posisi kontrarian, terpaksa dilakukan:  Jika ada tanda untuk cut loss, rekomendasi beli malah dilakukan, atau ketika ada tanda untuk melakukan average up, rekomendasi jual malah dikeluarkan.  Benar-benar terbalik-balik.  Keadaan ini,

Satu lagi yang menjadi perhatian saya adalah: minimnya dana asing yang masuk ke bursa, telah membuat saham-saham yang biasanya mengandalkan pembeli asing, yaitu saham-saham lapis pertama yang notabene adalah saham-saham bluechip, pergerakannya menjadi semakin tidak kompak.  Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang menjadi penentu pergerakan IHSG, terus bergerak naik atau turun, seirama dengan pergerakan IHSG.  Ini karena benchmark dari pengelolaan dana asing tersebut, adalah IHSG.  Jadi mereka hanya berkonsentrasi pada saham-saham kapitalisasi besar saja.   Saham-saham blue chip kelas dua (seperti misalnya: saham-saham produsen nickel, CPO, atau saham-saham bank berkapitalisasi menengah), terlihat sulit sekali bangun dari trend turun yang berkepanjangan.

Perilaku dana asing yang berbeda ini, tentu saja membuat para pemodal lokal yang merupakan penggemar saham-saham blue chip menjadi ‘mati angin’.  Maklum, saham-saham big caps sering pada umumnya memiliki harga Rupiah yang mahal.  Padahal, dengan modal yang relatif cepak, biasanya saham-saham yang disasar adalah saham-saham blue chip dengan harga maksimal sekitar Rp 2500-Rp3000.  Malah harga dibawah Rp1000 yang sering diburu.  Hasilnya, saham-saham lapis ketiga (yang pada jaman dulu sering kali disebut sebagai saham gorengan), terus menggeliat, naik tinggi sekali harganya, dan juga aktif sekali perdagangannnya.  Tidak sulit rasanya untuk menyebutkan, saham-saham lapis ketika yang mengalami kenaikan berlipat-lipat di tahun 2011 lalu, ditengah kondisi pasar yang carut –marut.  Padahal, kondisi fundamental dari saham-saham ini, sebenarnya membuat saham-saham tersebut hanya sesuai untuk mereka yang sudah berpengalaman dalam trading, orang yang melakukan posisi beli atau posisi jual dengan mengharapkan keuntungan dari pergerakan harga jangka pendek.  Bukan untuk pemodal pemula yang tidak tahu bedanya antara trading dengan investasi.  Mereka yang ngakunya trader tapi tidak mau cut loss ketika trend harga sudah berubah, atau mereka yang ngakunya trader tapi menggunakan rekening margin.  Mereka yang sudah berpengalaman dalam trading, sering kali akan bisa memperoleh keuntungan, sedangkan mereka yang belum berpengalaman untuk trading, dengan mudah akan memperoleh posisi nyangkut.  Kalau nyangkut di saham yang berfundamental bagus, mungkin tidak mengapa.  Nyangkut pada saham yang belum memiliki track record dalam menghasilkan laba bersih, itu sangatlah tinggi resikonya.

Jadi, untuk tahun 2012 ini, ada dua tantangan utama dari seorang pemodal di Bursa Efek Indonesia.  Yang pertama adalah ketidakjelasan pasar akibat adanya krisis Eropa.  Yang kedua adalah maraknya ‘godaan’ dari saham-saham lapis ketiga.  Disatu sisi, kalau anda memang memutuskan untuk tetap disiplin pada saham-saham blue chip, anda memang masih harus ekstra sabaaaaar karena saham-saham blue chip pergerakannya memang masih ‘lamban’, karena aliran dana asing yang lemah, dan ‘suka aneh’ ,karena regionalnya sering kali menjebak sebagai akibat dari perkembangan krisis Eropa yang sering kali berubah ubah.   Disisi lain, maraknya pergerakan dari saham-saham lapis ketiga, benar-benar harus kita tertantang untuk belajar.  Belajar untuk prediksi, dan juga belajar untuk trading.  Maklum, saham-saham lapis ketiga itu, sebenarnya, kalau kita menggunakan analisis teknikal, sering kali yang terlihat adalah: cara prediksinya sama, tapi ‘cara positioning’-nya (cara untuk menentukan entry dan exit level) berbeda.  Akan tetapi, dengan kondisi fundamentalnya, rasa-rasanya terlalu riskan untuk posisi investasi.  Saham lapis ketiga –> trading=Yes; investasi =No.

Saya sih percaya, bahwa dalam kondisi pasar seburuk apapun, kesempatan itu tetaplah ada.  Tergantung bagaimana kita bisa mempersiapkan diri, agar bisa memperoleh keuntungan dari kesempatan tersebut.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment, Market Outlook Tags: