Archive

Archive for December, 2011

2012: Menanti Kembalinya ‘Jaman Normal’

December 25th, 2011 2 comments

Selamat pagi…

Krisis Eropa masih berkecamuk.  Pemerintah Jerman, Perancis, dan Bank Sentral Eropa, terlihat tengah berusaha keras untuk bisa menyembuhkan krisis yang sebentar lagi sudah memasuki tahun ke empat.  Meskipun demikian, sampai sekarang kita masih belum bisa melihat sebuah solusi yang final.  Market menjadi sangat volatile.  Indeks regional, bisa tiba-tiba bisa naik tinggi, atau juga turun dalam.  Sentimen bisa berubah-ubah dalam hitungan hari, atau bahkan jam.  Market penuh dengan gejolak.

Gejolak ini sudah barang tentu ikut dirasakan oleh pelaku bursa kita.  Bursa kita dimana lebih dari 60% kepemilikan saham ada di tangan pemodal asing, sangatlah terombang ambing dengan pergerakan pemodal asing yang ada di bursa.  Naik-turun, turun-naik, turun-turun, naik-naik, naik-turun.  Bursa berasa seperti dikocok-kocok.  Kalau cuman sebentar, mungkin tidak mengapa.  Akan tetapi, karena kocokan ‘jalan yang berlombang’ ini sudah memasuki bulan kelima.  Penumpangnya juga sudah mulai mual.  Pelaku pasar juga sudah mulai bosan.

Krisis ini, ternyata juga sudah mulai menjamah kondisi mental dari analis-analis kita.  Dari hasil penghitungan kasar dengan metode bottom up (mencari target IHSG berdasarkan target harga dari saham-saham) yang saya lakukan terhadap 16 sekuritas yang mempostingkan rekomendasi sahamnya pada terminal Bloomberg, rata-rata target IHSG  untuk tahun 2012, hanya berada di kisran 4250-4300.  Dengan melihat konsensus rata-rata EPS (earning per share) yang hanya tipis dibawah level Rp300, ini berarti target IHSG tersebut equivalen dengan P/E (Price to Earning) ratio sebesar 14.25kali hingga 14.50kali.

Dari 16 sekuritas tersebut,  75% (12 sekuritas) dari mereka, sebenarnya masih memiliki target IHSG diatas rekor IHSG 4195.  Masih lebih banyak yang bulllish dibandingkan dengan yang bearish.  Akan tetapi, dengan beberapa sekuritas besar seperti JP Morgan, Goldman Sachs, dan Danareksa, terlihat masih terlihat memasang target yang rendah untuk IHSG, pelaku pasar sepertinya memang sangat berhati-hati dalam memandang prospek kedepan

Pertanyaan yang muncul kemudian seperti ini:  Pak.. kalau pak Tommy tadi bilang bahwa target 4250-4300 itu tadi adalah target dimana para analis sedang dalam kondisi krisis.  Lantas, berapa target dari IHSG yang dirasakan ‘Normal’?  Saya kebetulan kemarin menemukan data berikut ini pada terminal Bloomberg:

Data tersebut adalah data P/E dari IHSG, semenjadk tahun 2003, hingga saat ini.  Dari data tersebut, saya menarik kesimpulan seperti ini: ketika IHSG berada dalam masa Normal (dengan membuang IHSG di tahun 2008 – 2009 karena periode tersebut tengah mengalami goncangan akibat krisis Amerika), maka rata-rata IHSG akan berada pada level P/E sebesar 16.5 kali.  Dengan kata lain, target IHSG di kisaran 4250-4300 (atau bahkan 4500) adalah target dari analis dengan ‘mind set’ yang masih krisis.  Kalau pikiran dari analis sudah agak lempeng dikit, sudah mulai hilang ‘sense of crisis’-nya, maka dengan mudah analis akan kembali mengumbar target IHSG mereka untuk menjadi 4800 atau bahkan 5000.

Disisi lain, kalau anda scanning di koran-koran, atau datang di beberapa gathering yang dilakukan oleh perusahaan sekuritas, beberapa analis di media, masih berani memprediksikan kalau IHSG masih bisa mencapai level 5000.  Akan tetapi, kalau anda cermati, mereka-mereka yang pasang target agresif ini, biasanya adalah mereka yang menggunakan analisis ekonomi, atau analisis teknikal.

Kalau anda membuka buku Sejarah Indonesia, Jaman Normal adalah keadaan Indonesia di suatu masa di awal abad ke 20.  Kira-kira sekitar tahun 1900 hingga tahun 1930.   Jaman ini disebut sebagai ‘Jaman Normal’ karena pada tahun 1930-an, dikenal sebagai Jaman Meleset (Malaise).  Jaman sulit, ketika krisis Ekonomi menimpa Belanda, Eropa, dan Amerika pada tahun-tahun itu.  Saya tidak akan bilang bahwa jaman saat ini adalah jaman Malaise (karena memang bukan), akan tetapi, dalam kondisi krisis seperti ini, tidak salah rasanya apabila saya mulai merindukan masa normal.  Jaman normal ini adalah jaman dimana IHSG bergerak dengan P/E di sekitar 16 kali – 17 kali.

IHSG 5000 di tahun depan?  Itu bukan sesuatu yang tidak mungkin.  Meskipun saya juga tidak terlalu yakin.  Target IHSG saya untuk tahun depan hanya ada pada resisten 4500-4800.  Saya ada target 6000-8000, tapi itu untuk 2 – 3 tahun mendatang.  Bukan untuk tahun depan.   Tapi… saya tidak ingin bilang bahwa tahun depan IHSG tidak mungkin 5000.   Tinggal menunggu kondisi psikologis dari market untuk bisa ‘sedikit lebih normal’.   Dan kapan kondisi psikologis market menjadi ‘normal’? Tentu saja setelah Krisis Eropa memiliki solusi yang jelas.  Kita lihat deh…

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utom0

Thank You Fitch Rating!

December 16th, 2011 No comments

Selamat pagi…

Anda pasti sudah tahu kalau Fitch Rating sudah memberikan peringkat Investment Grade dalam skala terendah (BBB-) pada surat hutang Indonesia.  Berita ini benar-benar merupakan oase ditengah perkembangan Krisis Eropa yang semakin hari semakin tidak menentu kemana arahnya.

Yang pasti, kenaikan credit rating ini akan membuat outlook jangka panjang jadi pasar modal kita menjadi lebih baik, karena dengan pemberian credit rating ini, Fitch percaya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2013 akan tetap diatas 6%.  Akan tetapi, bagaimana pengaruhnya terhadap aliran dana asing… itu yang masih harus kita lihat dalam beberapa hari mendatang.

Dalam seminggu terakhir, asing tercatat melakukan net sell dengan nilai sekitar Rp 2Tr.  Apakah investment grade ini akan membuat posisi asing berbalik dari posisi jual menjadi posisi beli?  Ataukah asing semakin bersemangat untuk menjual dengan alasan profit taking atas dana jangka panjang (asing masih ada posisi net buy sekitar Rp 40Tr semenjak 2008), masih harus kita lihat.  Faktanya: Rupiah pagi ini menguat, posisi asing untuk tahun 2012 ini, sebenarnya sudah relatif kosong, disamping itu, ketika credit rating Indonesia ditingkatkan menjadi investment grade oleh JCRA di tahun lalu, dana asing yang masuk bisa mencapai Rp 15Tr – Rp20Tr.   Perkiraan kasar saya, posisi asing untuk tahun 2012 cuman tersisa dibawah Rp5Tr.  Relatif kecil dibandingkan level tertingginya di tahun ini sebesar Rp18Tr.

Oh iya… jangan lupa juga, bahwa resiko terbesar kita saat ini adalah krisis Eropa.  Krisis Eropa yang hingga saat ini masih belum juga mendapatkan solusi yang jelas.  Krisis Eropa juga yang membuat bursa regional masih berada dalam trend turun.  Kalau ternyata nanti kenaikan credit rating ini tidak memberikan pengaruh dalam jangka pendek karena pasar lebih bereaksi terhadap perkembangan Krisis Eropa, kita juga tidak perlu kaget.

Well… setidaknya… kenaikan credit rating ini membuat kita lebih pede (percaya diri) dalam menatap kedepan.  Kalau ternyata krisis Eropa masih memburuk, peningkatan peringkat ini akan membuat kita lebih pede untuk mengambil posisi beli ketika harga saham sedang jatuh.

Terakhir… peningkatan credit rating ini semakin memperkecil peluang bagi IHSG untuk bergerak ke 2500. hehehe….

Terima kasih Fitch Rating atas kepercayaan anda kepada bangsa kami.

Semoga saja perolehan investment grade ini memperbesar peluang IHSG untuk menutup tahun 2012 dengan P/E yang ‘normal’ (P/E 16.5x).

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

‘Karena koreksinya sesuatu banget’ Part III: Menunggu Nico Omer berubah menjadi Bullish…*

December 7th, 2011 13 comments

Selamat siang…

Anda pasti sudah membaca ‘cerbung’ tulisan saya sebelumnya mengenai ‘Koreksinya memang sesuatu bangeet’. Dari tulisan pertama, saya sudah menekankan point-point sebagai berikut:

  • Jika berita jelek memenuhi pasar, tapi harga tidak mengalami level terendah yang baru, bisa jadi itu setelah itu akan muncul sebuah trend naik yang sangat kuat
  • Testing Lows: Fundamental conditions often as bad as, or worse than those at the previous bottom.  Underlying trend considered down. (But the price) Does not carry to new low.
  • Untuk bisa mengakhiri trend turun jangka menengahnya, IHSG harus mampu menembus resisten di 3590. Atau… setidaknya, IHSG harus mampu menembus resisten di 3579 sehingga memunculkan potensi double bottom dengan arah ke 3800-3950.  Kalau mencari dukungan dari regional, indeks Dow Jones Industrial setidaknya harus mampu menembus resisten di 11400-11600 dulu, setelah itu baru akan muncul potensi kenaikan yang cukup signifikan.

Pada tulisan yang kedua, saya kemudian menambahkan:

Kondisi marketnya memang lagi ‘sesuatu banget’, sehingga kalau anda keliru, itu adalah sesuatu yang wajar. Orang memang terkadang bisa melakukan kesalahan, cuman gara-gara orang itu berpikir atau rasional.

Oleh karena itu, belakangan, saya juga tidak heran kalau para analis-analis yang tadinya berada dalam kubu ‘bearish-ers’ (memprediksikan bahwa IHSG bakal turun dibawah 3000), kemudian berubah menjadi ‘bullish-ers’ (analis-analis yang berpendapat bahwa kedepan, atau setidaknya untuk tahun depan, IHSG masih berada dalam trend naik, minimal bisa mencetak rekor harga baru, sebelum bergerak turun).

Salah satu perpindahan dari kubu bearishers menjadi bullishers yang saya tunggu, adalah analis yang berada di ‘kamar sebelah‘.  Siapa lagi kalau bukan teman saya, Bung Nico Omer.   Saya sih melihat, ‘terdapat peluang’ bahwa tidak lama lagi, Bung Nico bakal berpindah ke kubu Bullisher.  Mengapa?

Anda mungkin sudah pernah membaca tulisan saya sebelumnya, bahwa hal terberat dari seorang analis teknikal adalah bahwa ia harus selalu jujur.  Jujur dalam charting.  Seorang analis teknikal akan sulit untuk berbohong, karena chartnya akan dibaca oleh analis teknikal yang lain.  Dan analis teknikal yang lain tersebut, bakal segera tahu, apakah analis itu jujur, ngawur, atau ngibul.

Saya tertarik dengan chart bung Nico berikut ini:

Sebelum saya melanjutkan, marilah kita melihat, pergerakan harga selanjutnya, dan bagaimana kelanjutan nasib dari indeks Dow Jones Industrial jika dengan menggunakan wave counting seperti yang dilakukan oleh Bung Nico:

Dengan wave counting seperti itu, tidak heran jika prediksi Bung Nico untuk Dow Jones Industrial adalah 8000-9800. Tidak heran jika prediksi bung Nico untuk IHSG adalah ke level 2500.

Masalahnya adalah sebagai berikut:  Dalam melakukan Wave counting seperti itu, berarti kedepan Bung Nico berharap akan terjadinya sebuah impulse (wave 3). Menurut wave theory wave (sayangnya buku Frost and Prechter saya ketinggalan di rumah.. tapi anda bisa melihat pada website yang membahas Elliot Wave ini berikut ini), pada sebuah impulse, wave 4 tidak masuk ke dalam teritory dari wave 1. Artinya, impulse dengan arah ke bawah, hanya bisa terjadi jika DJI tidak naik diatas resisten 11562. Well… 11562 kan sudah dilewati sejak lama.

Masih banyak syarat yang lain juga sih…  Syarat utamanya adalah Indeks DJI tidak boleh naik diatas 12303.   Oklah.. 12303 memang belum terlewati.  Akan tetapi, melihat subwave berikutnya (lihat gambar di bawah), jika anda masih mau memegang pendapat ini, setidaknya, indeks Dow Jones Industrial tidak boleh naik diatas 11562 (titik ‘i’), dan terutama, indeks Dow Jones Industrial tidak boleh naik hingga diatas 12212 (titik ‘ii’).  Padahal, dalam pergerakan sebulan terakhir, indeks Dow Jones sudah sempat mencapai level tertinggi di 12234 pada tanggal 5 kemarin!!!

So… Dengan argumen diatas, saya saat ini sedang menunggu Bung Nico Omer untuk berubah menjadi bullish.  Semoga saja sebelum akhir bulan ini, Bung Nico sudah berubah pendapat.

Martin Pring dalam bukunya ‘Investor Psychology Explain’ pernah menyebutkan (kurang lebih) seperti ini:

Pride of prediction has been source of so many downfall in the Wall Street.

Saya adalah analis dari sebuah perusahaan sekuritas yang cukup besar yang cukup aktif juga di berbagai media. Kesalahan atas prediksi atas trend jangka menengah, bisa berakibat sangat fatal. Menyaksikan ‘bull run‘ dengan klien tanpa posisi, sudah sering membuat saya diomeli oleh atasan. Bung Nico tahu lah.. bahwa Beliau juga menghadapi hal yang serupa. Begitu juga analis-analis inlander yang ada dibelakangnya.

Saya respect dengan bung Nico Omer karena chart-chart beliau dibuat dengan jujur. Dibuat dengan teori terbaik yang dia kuasai. Tidak seperti analis lain yang bikin chart aja nggak bisa, sudah berkoar dimana-mana, atau analis teknikal tanpa grafik yang hanya bisa menebak atau ‘menembak target’ indeks agar bisa terkenal. Akan tetapi, dengan sangat menyesal, saya ingin menyampaikan pertanyaan berikut ini kepada bung Nico:

Bagaimana bung Nico??? Sudah siap berubah pendapat??? Sudah siap berpindah menjadi seorang ‘Bullisher’??? Saya tunggu deh… semoga tidak lama tadi. :D

Analis dan juga trader yang baik selalu tahu bahwa ‘kebenaran’ (the truth) itu hanya ada pada harga. Tidak pada berita atau alasan-alasan.

Happy trading… semoga untung!!!
Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags: