Archive

Archive for November, 2011

Lo Keng Hong yang saya kenal…*

November 22nd, 2011 6 comments

Selamat petang…

Kalau anda sudah lebih dari 5 tahun di pasar modal, rasa-rasanya agak janggal apa bila anda tidak mengenal figur pasar modal Indonesia yang satu ini.   Saham-saham yang dibelinya sering kali mengalami keuntungan berlipat (lebih dari 100%) dalam waktu singkat.  Warren Buffet Indonesia, begitu orang menyebutnya.  Klaim ini didapat tidak hanya karena dia melakukan positioningnya dengan strategi Investasi (membeli saham dari emiten-emiten yang undervalue dan kemudian melakukan hold untuk jangka waktu yang ‘relatif’ lama), dan sering kali memakai pakaian khas Warren Buffet (varsity jacket warna merah marun) ketika menghadiri RUPS dari emiten yang sahamnya dimilikinya.

Berbicara mengenai Keng Hong si Warren Buffet Indonesia ini, saya termasuk beruntung.  Saya beruntung karena mengenal Keng Hong secara pribadi sebelum namanya (dan juga portfolionya) melonjak pada tahun 2002-2003.  Saya mengenal Keng Hong ketika saya bekerja di Samuel Sekuritas pada periode 2000/2001 – 2002/2003.  Ketika itu, Keng Hong adalah masih seorang ‘klien biasa’ dari salah satu cabang dari Samuel Sekuritas.

Nama Keng Hong mulai menanjak di tahun 2002 – 2005.  Nama Keng Hong menanjak ketika dia ‘put everything in one stock (UNTR)’ sejak tahun 2002.  Strategi ini kalau tidak salah, pernah diungkapkan beliau pada salah satu majalah investasi/pasar modal.  Mobilnya, usahanya, villanya, apapun miliknya (kecuali rumahnya) telah dijual atau digadaikan agar Keng Hong bisa mempertahankan kepemilikannya pada emiten tersebut.  Demikian besarnya kepemilikian Keng Hong atas emiten ini, sehingga dia sempat dirumorkan akan menjadi komisaris di perusahaan ini, meskipun kemudian dia menolak.  Ketika itu, harga harga UNTR masih di kisaran 400-500 Rupiah.  Lo Keng Hong kemudian meraup keuntungan yang luar biasa besar ketika harga UNTR naik beberapa tahun kemudian.

Saya tidak akan membicarakan mengenai bagaimana strategi investasi dari seorang Lo Keng Hong.  Saya tidak akan membicarakan persamaannya dengan Warren Buffet.  Saya juga tidak akan membicarakan strategi akumulasinya (broker mana saja yang dipake untuk beli, dll, dsb).  Tapi saya mau membicarakan beberapa hal yang sebenarnya merupakan perbedaan antara Lo Keng Hong dengan Warren Buffet.  Warren Buffet Indonesia ini, sebenarnya ‘berbeda’ dengan Warren Buffet aslinya.

  • Warren Buffet mengelola portfolionya secara lebih terbuka

Well… at least, karena portfolionya dikelola didalam firma Berkshire and Hathaway yang merupakan perusahaan publik, maka isi portfolio dari Warren Buffet bisa terlihat jelas oleh publik.  Mungkin bukan portfolionya terakhir secara live.  Tapi, portfolionya di akhir tahun, bisa dilihat pada annual reportnya.

Saham yang ada di portfolio Lo Keng Hong? Hm… Dia itu baik sama wartawan.  Dia juga baik sama orang-orang yang mau dia baikin.  Tapi kalau sama orang yang tidak dia kenal (apalagi seperti ‘Pak Analis’, begitu dia selalu memanggil saya kalau kami kebetulan ketemu di Mall Puri Indah), jangan harap dia mau beberkan isi portfolionya deh.

  • Hampir seluruh investasi Warren Buffet dilakukan pada perusahaan yang memiliki nama besar (terutama brand image) yang kuat.   Ini membuat hampir seluruh investasi Warren Buffet dilakukan pada saham-saham yang penggeraknya adalam murni pasar.

Anda bisa melihat pada beberapa website yang mengaku sebagai pengamat portfolio Warren Buffet.

Investasi Lo Keng Hong? Well… Kalau dari wawancara dengan sumber resmi dari www,investor.co.id, beliau secara terbuka hanya mengakui MBAI sebagai portfolionya.  Beliau juga mengakui kalau kalau investasinya sebagian besar dilakukan pada saham-saham diluar saham LQ-45.  Bukan pada saham yang penggeraknya pasar murni. Tapi, dari sumber lain (terutama mbah Google, dan penelusuran pada beberapa sumber lain), porto beliau diantaranya ada GJTL, AMAG, dan LPKR (meskipun dari sumber yang lain, bilang bahwa saham-saham ini semua sudah dilepas juga).

  • Warren Buffet melakukan posisi jual hanya karena perubahan fundamental pada perusahaan dimana dia berinvestasi.

Pada saat seperti apa warren buffet melakukan posisi jual?  Pada sebuah artikel di www.fool.com, sebuah wawancara kepada Prem Jain, penulis salah satu buku tentang Warren Buffet, Warren Buffet hanya ‘tidak menjual’ perusahaan yang telah dimiliki 100% oleh Berkshire Hathaway (seperti GEICO, Dairy Queen, dan beberapa lagi yang lain).  Warren Buffet terutama akan menjual sebuah saham yang dimilikinya, ketika management dari perusahaan tersebut mulai meninggalkan tugas awalnya untuk berfokus pada peningkatan nilai pemegang saham.  Dalam kasus PetroChina, Prem Jain memang menyatakan bahwa penjualan tersebut karena saham tersebut sudah fully valuetervaluasi penuh).  Berita lain di www.cnbc.com juga menyatakan bahwa penjualan tersebut tidak ada hubungannya dengan insiden hak asasi manusia yang terjadi di Darfur.  Akan tetapi, dengan masih adanya investasi lain dari Buffet di China, apakah fully value benar-benar menjadi alasan untuk penjualan tersebut?

Disisi lain, Lo Keng Hong terlihat sangat sering melakukan posisi jual ketika harga saham tersebut dirasakan sudah terlalu mahal.  Lo Keng Hong sepertinya tidak memiliki ‘posisi yang untung berlipat, tapi di hold hingga berlama-lama, seperti posisi Warren Buffet di Coca-Cola.  Lo Keng Hong semata-mata sebenarnya hanya ‘holding posisi lebih lama dari pada anda dan saya’.  Itu sumber dari keuntungannya yang berlipat-lipat.

  • Warren Buffet berinvestasi pada saham yang ‘well known’ tapi under value.
Mungkin anda sudah melihat posisi portfolio dari Warren Buffet pada website Berkshire and Hathaway.  Anda mungkin bisa juga melihat pada beberapa sumber yang lain, seperti misalnya pada www.warren-buffet-portfolio.com.  Anda lihat top holding (saham-saham yang merupakan portfolio terbesar dari Berkshire Hathaway).  Apakah saham-saham Coca-Cola, Amex, Kraft, Johnson and Johnson, Wallmart, Moody, dll, adalah saham dari sebuah perusahaan mid cap atau small cap? Apakah merupakan saham dari perusahaan yang medioker? Coba bandingkan perusahaan-perusahaan tersebut dengan MBAI, PNLF, SGRO, PNIN, atau dengan GJTL, dan AMAG.
_________________
Jadi… pertanyaan akhirnya adalah: Saham pilihan Lo Keng Hong, biasanya adalah saham yang penggeraknya bukan pasar murni(likuiditas rendah).  Maukah anda melakukan posisi beli pada sebuah saham setelah Lo Keng Hong melakukan posisi jual pada perusahaan itu?  Maukah anda membeli saham-saham tersebut ketika Keng Hong melakukan posisi jual?  Kalau saham-saham Warren Buffet, sepertinya sih, saya masih mau.  Tapi, kalau saham-saham pilihan Keng Hong? Hm…. gimana ya?  Anda tahu lah… saya biasanya hanya mau memberikan rekomendasi pada saham-saham yang penggeraknya adalah market murni (dengan 15 orang analis fundamental yang cover lagi) :D.  Jadi, kecil kemungkinannya saya akan tertarik pada saham-saham pilihan Keng Hong.
Saya tidak mengenal dekat Keng Hong secara pribadi.  Saya bukan tetangganya. Bukan pula brokernya.  Bukan pula sekondannya yang tiap hari mengikuti kemana Keng Hong pergi.  Bukan juga orang yang tidur satu kamar setiap hari dengan Beliau.  Keperdulian saya lebih kepada pemodal retail, dan bagaimana pemodal retail bisa bertransaksi dengan aman, bebas dari penyesatan.  Sialnya, belakangan, ada pihak-pihak yang telah mencoba melakukan ‘pencitraan’ bahwa GTBO sebagai saham pilihan Lo Keng Hong.  Saya nggak tau apakah memang Lo Keng Hong membeli saham itu atau tidak.   Yang saya tahu, track record GTBO dalam menghasilkan positive net income, terlihat masih kurang.  Jadi, agak ajaib juga kalau Keng Hong beli GTBO.
Terlebih lagi, ada pihak-pihak yang mengkampanyekan bahwa ‘investasi seperti Keng Hong adalah simple, mudah, dan sederhana, tentu saja dengan ‘mengkampanyekan’  saham-saham yang (menurut dia) ‘sesuai dengan kriteria Keng Hong’.  Well.. kalau anda bertemu dengan orang seperti ini, cobalah bertanya: Pak… Emang Keng Hong beli saham itu?  Boleh Anda kasih buktinya?
Lo Keng Hong yang saya kenal adalah Lo Keng Hong yang sederhana, cerdas, tekun, ulet, berani, risk taking, percaya diri, pelit, dan agak ‘suka lebih pintar dari orang yang mengaku dirinya pintar’.  Lo Keng Hong adalah sebuah phenomena di Bursa Efek Indonesia.  Saya respect beliau untuk keberhasilan beliau dalam melakukan ‘home run’ ketika trading pada saham UNTR.   Akan tetapi, Lo Keng Hong yang saya kenal, bukanlah pribadi yang suka ngerjain orang lain (menyuruh orang beli ketika dia melakukan posisi jual, vice versa), atau bukan juga penipu.  Meskipun demikian, kalau anda mengikuti untuk membeli saham yang dia beli, terutama ketika harga sudah naik ratusan persen dari titik terendahnya dalam 12 bulan terakhir, anda kemungkinan besar tidak akan memperoleh ‘manfaat’ seperti yang diperoleh oleh seorang Lo Keng Hong.  Anda bisa jadi malah akan menjadi korban dari orang-orang yang sengaja memanfaatkan kebesaran nama Keng Hong.  Bukan seorang pemenang apalagi seorang aktor utama.
Saya adalah orang yang suka mengamati perilaku orang di pasar modal.  Saya mungkin tidak terlalu mengerti analisis fundamental.  Rekomendasi saya sudah barang tentu tidak 100% benar.  Saya hanya saya selalu berusaha memberikan rekomendasi yang tidak bertentangan dengan arah dari pasar, karena ‘melakukan rekomendasi beli ketika sebenarnya kita sedang melakukan posisi jual (vice versa)’, menurut saya adalah termasuk dalam golongan menipu.
Happy trading… semoga untung!!!
Satrio Utomo
*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.
Categories: Knowledge from The Street Tags:

Karena Koreksinya (memang) ‘Sesuatu Bangeet’…*

November 1st, 2011 1 comment

Selamat siang…

Semoga anda belum lupa bahwa 3 minggu yang lalu, saya sudah mengingatkan anda:

  • Jika berita jelek memenuhi pasar, tapi harga tidak mengalami level terendah yang baru, bisa jadi itu setelah itu akan muncul sebuah trend naik yang sangat kuat
  • Testing Lows: Fundamental conditions often as bad as, or worse than those at the previous bottom.  Underlying trend considered down. (But the price) Does not carry to new low.
  • Untuk bisa mengakhiri trend turun jangka menengahnya, IHSG harus mampu menembus resisten di 3590. Atau… setidaknya, IHSG harus mampu menembus resisten di 3579 sehingga memunculkan potensi double bottom dengan arah ke 3800-3950.  Kalau mencari dukungan dari regional, indeks Dow Jones Industrial setidaknya harus mampu menembus resisten di 11400-11600 dulu, setelah itu baru akan muncul potensi kenaikan yang cukup signifikan.

Dalam closing statement (alinea terakhir) yang saya buat, saya juga menulis seperti ini:

“…Saya belakangan terus mendorong pada para pemodal untuk mengikuti ‘hanya’ arah trend dari pergerakaan harga.  Jangan terlalu pusing dengan berita-berita yang setiap hari semakin nggak karuan itu.  Jangan pikirin juga pendapat-pendapat dari analisis-analisis yang bilang kalau IHSG masih bisa turun ke bawah 1000 kek, 1500 kek, 2000, atau bahkan 2500.  Dimasa-masa ‘testing low ‘seperti ini, orang-orang yang terlalu memperhatikan fakta-fakta terakhir, malah sering kali menjadi orang yang keliru karena harga saat ini, adalah sebuah pencerminan dari kondisi di masa yang akan datang. Jika anda hanya bertransaksi berdasarkan fakta terakhir, anda akan sangat-sangat ketinggalan.  Ikuti saja arah pergerakan harga karena pada harga terdapat informasi mengenai kondisi dari bursa di masa yang akan datang.”

Pertanyaan saya saat ini adalah:

Apakah anda termasuk golongan orang yang salah prediksi seperti yang telah saya prediksikan beberapa waktu yang lalu?

Hehehe… saya kadang-kadang memang masih suka ‘amazed’, terheran-heran, atau takjub dengan apa yang bisa dilakukan oleh teori-teori yang ada dalam analisis teknikal (dalam hal ini Elliot Wave): Memprediksi ‘saat dimana orang salah prediksi’.  Apa nggak asyik tuh?

Jadi… Jika dalam tiga minggu terakhir:

  • anda salah prediksi,
  • anda tetap bearish ditengah market yang bullish ini,
  • anda tetap tidak berani untuk melakukan posisi beli simpan dan tetap hanya memiliki posisi-posisi harian yang kecil,
  • anda tetap menjadi orang yang hanya mengambil keuntungan-keuntungan pendek melalui posisi trading(copeters) instead of menjadi orang yang mengambil keuntungan-keuntungan panjang dengan cenderung melakukan posisi beli-simpan (garongers)…

Please… tolong jangan merasa kalau anda itu ‘kacangan’, tidak percaya diri, atau merasa memiliki kecerdasan yang kurang.  Kondisi marketnya memang lagi ‘sesuatu banget’, sehingga kalau anda keliru, itu adalah sesuatu yang wajar.  Orang memang terkadang bisa melakukan kesalahan, cuman gara-gara orang itu berpikir atau rasional.

What next?

Bagaimana pergerakan IHSG selanjutnya? Apakah setelah IHSG mencapai target minimal dari double bottom (3800), IHSG bakal mengejar target optimumnya di 3950? Apakah indeks Dow Jones Industrial (DJI) hanya puas dengan target dari double bottom kecil (September-Oktober) di 12200-12300 kemudian kembali terkoreksi?  Atau indeks DJI bakal mengejar target dari double bottom yang lebih besar (Agustus-Oktober) di kisaran 12500 – 13000?  Dan.. kalau DJI ternyata bisa mencapai 12500-13000 yang merupakan level tertingginya di bulan Mei – Agustus, apakah IHSG juga bakal kembali ke level tertinggi di bulan Agustus?  Kita lihat saja bersama-sama deh.  Saya sih orangnya mengalir ajah.

Mengubah pola pikir dari ‘trader’ menjadi ‘investor’

Bagaimana kalau ternyata trend naik kali ini bisa kembali membawa IHSG ke level 4195, rekor IHSG dibulan Agustus?  Bagaimana jika ternyata kenaikan yang terjadi dalam tiga minggu terakhir adalah sebuah awal dari sebuah trend naik jangka panjang dimana IHSG bisa mencapai kisaran 6000-8000 dalam 2 – 3 tahun kedepan?  Saya juga masih belum bisa memberikan jawaban yang pasti.  Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa tugas anda dalam menjadi seorang trader adalah melakukan strategi “Beli ketika mau naik, dan Jual ketika mau turun”.   Menjadi seorang trader, seorang pemodal sering terlanjur menanamkan mind set (pola pikir) seperti: trading itu jangka pendek, sehari-dua hari sudah cukup, kalau perlu day trading, untung 2 – 3 poin, atau 1-2 persen sudahlah cukup.  Cepat, pendek, ringkas.  Padahal realitanya tidak seperti itu.  Ketika kita sudah patuh pada strategi ‘beli ketika mau naik dan jual ketika mau turun’, setelah melakukan posisi beli, seorang pemodal harus selalu memperhatikan posisinya.  JIka setelah beli, harga ternyata turun dan masih memiliki potensi penurunan lanjutan, berarti posisi jual (cut loss) memang sudah harus dilakukan.  Jika setelah beli, trader untung 5 persen harga kemudian menunjukkan gejala mau turun, ya memang harus di jual (profit taking).  Setelah beli untung 10 persen dan mau turun, ya memang harus di jual (profit taking). Akan tetapi, Setelah beli untung 50 persen tapi harga belum mau bergerak turun, ya ngapain di jual (profit taking)?  Ketika trend naik berlangsung terlalu kuat, seorang trader memang harus bisa mengubah pola pikir dari seorang ‘trader’ menjadi seorang ‘investor’.  Profit taking sebaiknya memang hanya dilakukan jika trend harga berubah menjadi turun.  Dan.. trend turun hanya muncul jika terjadi penembusan suport.  Suport dari trend naik jangka pendek IHSG ada di 3814.  Suport dari trend naik jangka menengah IHSG ada di 3730, dan suport dari trend naik jangka panjang IHSG ada di 3525 – 3580.  Selama suport dari masing-masing trend tersebut masih bertahan, berarti trend masih merupakan trend naik, dan mereka yang mampu menahan posisi hingga saat trend berakhir, akan menjadi orang yang memiliki keuntungan yang paling besar.

Your main job as a trader is ‘making money’, not ‘creating reason or excuse’.

Happy trading… Semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.