Archive

Archive for October, 2011

Koreksinya memang sedang ‘Sesuatu Bangeet’

October 30th, 2011 No comments

(Mohon maaf… ini saya repost tulisan dari apa yang sudah dimuat pada Harian Kontan Senin, 10 Oktober 2011.  Semoga masih berguna bagi kita semua.)

Selamat siang…

Mari sekarang kita meng’absen’ sentimen bearish yang ada. Krisis Eropa semakin parah.  Yunani sepertinya tinggal menunggu waktu untuk default.  Setiap bulan, kalau ada angsuran bunga maupun pokok dari obligasinya yang jatuh tempo, default atau tidak default, sudah berasa seperti menghitung tokek.  Peringkat surat hutang Italia diturunkan.  Demikian juga peringkat dari bank-bank yang ada di Perancis.  Amerika memang terlihat sudah mulai membaik.  Akan tetapi, dengan tingkat pengangguran yang tetap tinggi, belum lagi masalah demonstrasi yang ada di Wall Street.  Kalau melihat tuntutan yang mereka bawa, sepertinya bakal sulit untuk mereda.

Untuk dalam negeri, sentimennya tidak jauh beda.  Hingga pertengahan minggu lalu, tekanan jual asing memang terlihat masih terus berlangsung.  Dana asing yang masuk sejak bulan Januari tahun ini, saat ini sudah hampir ludes.  Rupiah terlihat goyah.  Belum lagi kebijakan-kebijakan BI yang terlihat tidak terlalu populer di hadapan para pemegang hot money.  Ribut reshuffle, aksi terror di sana sini. Masih ditambah dengan adanya analis asing yang bilang kalau IHSG masih kemahalan.

Plus, harga emas yang (katanya) merupakan safe heaven, malah turun.  Orang seakan-akan bilang: Sell everything, Buy US$!  Bagi kebanyakan pemodal di Bursa Efek Indonesia yang tengah menghadapi portfolio yang memerah karena mengalami potensial loss, pikiran bener-bener keruh, buntu.

Pertanyaan saya sederhana: Apakah IHSG membentuk level terendah yang baru? Apakah IHSG sudah dibawah level terendah 2008 yang sempat berada di 1089 itu? Apakah indeks Dow Jones Industrial (DJI) sudah lebih rendah dari posisi ketika di tahun 2008 yang sempat berada di level 6440 itu?  Dengan posisi penutupan indeks DJI kemarin di atas level psikologis 11000, indeks DJI masih 70% diatas level terendahnya.  IHSG malah lebih keren lagi: masih lebih dari 3 kali lipat dari posisi terendahnya.

Apakah anda tidak melihat sesuatu yang aneh?  Kondisi lebih jelek.  Dulu yang bangkrut adalah perusahaan-perusahaan besar, bank-bank yang ada di Amerika.  Sekarang, yang mau bangkrut malah sebuah negara.  Tapi harga tidak membentuk level terendah yang baru?

Di dalam analisis teknikal, disebutkan adanya suatu teori  atau kondisi yang kurang lebih disebutkan sebagai berikut:

Jika berita jelek memenuhi pasar, tapi harga tidak mengalami level terendah yang baru, bisa jadi itu setelah itu akan muncul sebuah trend naik yang sangat kuat

Terlebih lagi, jika anda mempelajari Elliot Wave dengan benar (tidak hanya sekedar menghitung 1-2-3-4-5 seperti yang dilakukan kebanyakan pakar Elliot Wave hasil kursusan yang belakangan ini marak), anda akan mewaspadai kondisi psikologis yang sering kali muncul pada sebuah wave ke 2 (posisi IHSG saat ini jika dipandang dari teori Elliot Wave):

Testing Lows: Fundamental conditions often as bad as, or worse than those at the previous bottom.  Underlying trend considered down. (But the price) Does Not Carry to new low.

Apakah benar kondisi umum dari bursa-bursa di dunia sudah seperti ini?  Hehehe… Saya sih sebenarnya tidak ingin member anda terlalu banyak harapan.  Ketika IHSG sempat retesting level psikologis 4000 untuk kedua kalinya di awal September lalu, saya sempat mengira bahwa IHSG sudah bottoming  dan kemudian saya ‘Go Bullish’ untuk medium term, tapi ternyata saya keliru.  Apakah kali ini kemudian saya bisa benar?  Saya juga belum sepenuhnya yakin karena IHSG masih belum menembus resisten.  Terlalu dini untuk bilang bahwa trend turun jangka menengah ini sudah berakhir.  Untuk bisa mengakhiri trend turun jangka menengahnya, IHSG harus mampu menembus resisten di 3590. Atau… setidaknya, IHSG harus mampu menembus resisten di 3579 sehingga memunculkan potensi double bottom dengan arah ke 3800-3950.  Kalau mencari dukungan dari regional, indeks Dow Jones Industrial setidaknya harus mampu menembus resisten di 11400-11600 dulu, setelah itu baru akan muncul potensi kenaikan yang cukup signifikan.

Jadi… Berita-berita memang masih jelek.  Tapi belakangan, IHSG juga bisa bergerak naik untuk meninggalkan kisaran suport di 3217-3309.  Saya belakangan terus mendorong pada para pemodal untuk mengikuti ‘hanya’ arah trend dari pergerakaan harga.  Jangan terlalu pusing dengan berita-berita yang setiap hari semakin nggak karuan itu.  Jangan pikirin juga pendapat-pendapat dari analisis-analisis yang bilang kalau IHSG masih bisa turun ke bawah 1000 kek, 1500 kek, 2000, atau bahkan 2500.  Dimasa-masa ‘testing low ‘seperti ini, orang-orang yang terlalu memperhatikan fakta-fakta terakhir, malah sering kali menjadi orang yang keliru karena harga saat ini, adalah sebuah pencerminan dari kondisi di masa yang akan datang.  Jika anda hanya bertransaksi berdasarkan fakta terakhir, anda akan sangat-sangat ketinggalan.  Ikuti saja arah pergerakan harga karena pada harga terdapat informasi mengenai kondisi dari bursa di masa yang akan datang.

Dan, yang paling penting:  selalu ingat bahwa tujuan anda dalam melakukan transaksi saham adalah mencari keuntungan. Anda juga harus memastikan pilihan: apakah anda menjadi seorang investor yang berpikir jangka panjang sehingga pergerakan harga jangka pendek tidak terlalu memusingkan anda, atau anda menjadi seorang trader yang benar-benar disiplin dalam melaksanakan konsep: beli ketika mau naik dan jual ketika mau turun.  Investor pengguna margin, atau trader yang bergerak tanpa planning, sudah terlalu sering menjadi korban dari keganasan pasar.

I’m still preparing for the worse.  However, let us hope that the recent uptrend, light at the end of the tunnel, is not an oncoming train

Happy trading… Semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Outlook Tags:

Market Outlook November 2011

October 26th, 2011 Comments off

Categories: Uncategorized Tags:

Cara menjadi analis yang selalu benar

October 11th, 2011 3 comments

Selamat siang…

Seorang pemodal beberapa waktu lalu datang kepada saya.  Dia kemudian bertanya:

Pemodal (P): Pak.. bagaimana sih menjadi analis yang selalu benar?

Saya (S): Belajar prediksi yang baik pak.  Anda minimal harus menguasai teori ini, ini, dan ini, baca buku itu, itu dan itu.

P: Waduh… teorinya banyak banget.. bukunya bahasa Inggris lagi.  Susah pak… kira-kira butuh waktu berapa lama untuk bisa kelas ahli?

S: Setelah teori anda kuasai, Minimal 3 – 6 bulan lah untuk latihan.

P: Wah.. sudah susah… lama lagi… apa nggak ada cara yang lebih mudah pak?

Di dunia yang berbasis selebritis seperti ini, menjadi terkenal terkadang menjadi tujuan dari beberapa orang.  Mencari uang dengan bermodal keterkenalan, itu yang dicari, itu yang ingin dicapai.  Nah.. sekarang, karena sekarang kita ngomongnya di dunia pasar modal, maka sebagian orang kemudian merasa bahwa dengan memiliki prediksi yang selalu benar, maka dia akan menjadi terkenal, sehingga dia bisa memperoleh duit dengan gampang.  Cerita mengenai W.D. Gann misalnya, seorang trader yang terkenal di tahun 1930 – 1950an, sering kali mengilhami mereka yang berusaha mencapai kesempurnaan dalam prediksi.  Padahal, dibalik prestasinya, sebagian dari orang juga mencurigai bahwa dia hanya kaya dari training fee.  Maklum, ditahun-tahun tersebut, training fee dari WD Gann sudah mencapai US$2000-US$5000 per kepala dengan peserta yang selalu ratusan atau bahkan ribuan sekali seminar.  Orang bilang, duit segitu di tahun itu, sudah sama besarnya dengan harga sebuah rumah kebanyakan.  Bagaimana tidak kaya?

Anyway… Kalau anda adalah orang yang ‘penasaran’ seperti pemodal yang saya ceritakan tadi diatas, yang ingin memiliki analisis yang selalu benar, dan anda tidak ingin mempelajari ilmu prediksi yang terlalu sulit, ada beberapa cara yang bisa anda lakukan:

Menggunakan nama samaran

Sebagian orang memang tidak memiliki rasa percaya diri, sebagian yang lain memang tidak bangga dengan nama pemberian orang tuanya, sebagian memang takut akan konsekuensi dari sebuah pendapat, prediksi, rekomendasi, sebagian yang lain memang hanya pengecut, atau juga penipu.  Orang terkadang menggunakan nama palsu untuk melakukan prediksi, sampai orang tahu bahwa sebenarnya dia juga tidak bisa memprediksi.  Nanti tinggal ganti nama yang lain, yang lain, dan yang lain lagi.  Yang penting, selama menggunakan nama yang saat ini dia pakai, dia juga selalu benar.

Tidak melakukan prediksi, tapi menjadi pihak yang benar ketika ada analis lain yang sedang salah prediksi

Ini pasti terlihat seperti benar.  Ketika ada orang salah.. Ikut-ikutan menimpa.  Padahal dia juga tidak pernah memprediksi.  Pasti terlihat benar.

Menjadi ‘Market Psychology GURU’

Jadi… yang diomong cuman psikologi markeeeeeet melulu.  Ya sudah pasti benar.  Orang psikologi market itu isinya cuman nilai-nilai positif.  Let your profit run… cut your losses short… be greed when everybody fear… be fear when everybody is greed…  Gak ada nilai prediksinya kan? Mau naik atau turun juga tetap benar kan?

Menjadi ‘Sekondan Bandar’ yang ahli ngeles

Ketika market bullish… tiba-tiba ada yang komentar: “Hore… XXXX (gorengan) gue naeeek…”.  Kalau market bearish, terus menghilang… meninggalkan semua orang yang nyangkut.  Komentar penghibur (kalimat ngeles) yang stadar biasanya adalah: tenang… fundamentalnya kan ok… storynya belum berubah kok… ini kan karena market… atau emang gua dewa tau market mau naik atau turun?  Analis seperti ini akan menjadi analis yang selalu benar.

Memiliki dua pendapat yang berbeda pada saat yang bersamaan

Sekarang posisi IHSG sedang di posisi 3400-an.  Kalau seorang analis memiliki prediksi bahwa IHSG akan ke 2000 dan IHSG ke 4000.  Pendapat yang berbeda ini bisa jadi dibingkai dengan periode short term dan long term, atau jangka waktu yang berbeda.  Salah satu dari target itu pasti salah satu akan tercapai.  Dia akan menjadi analis yang selalu benar.

Analis ‘Sabar menunggu’

“Tenang… sabar… nanti kan target saya kena…” Itu adalah kalimat standar yang sering diobral oleh seorang analis yang selalu benar.  Dengan sabar, menunggu dia berharap kalau harga akan menjemput targetnya di suatu saat nanti. Well… kalau rekomendasinya bullish… gpp lah.. karena market akan mencapai targetnya eventually (dalam waktu yang sangat panjaaaaaang di masa yang akan datang).  Tapi kalau rekomendasinya bearish? hm… harusnya analis ini tahu kalau market menghabiskan 2/3 waktunya untuk naik, dan hanya 1/3 untuk turun.  Jadi.. rekomendasi bullish memang bakal lebih mudah tercapai dibandingkan dengan rekomendasi bearish.

Memiliki banyak prediksi yang disampaikan ke berbagai kelompok orang yang berbeda

Ini juga selalu benar… at least untuk satu kelompok tertentu.  Selama dia bisa mengingat apa yang dikatakan ke masing-masing kelompok yang dia datangi, analis itu akan menjadi analis yang selalu benar.  Syaratnya, dia harus selalu ingat, dimana dia ngomong apa, dan di kelompok mana dia berkata benar, sehingga dia bisa berkonsentrasi disitu.  Manajemen kebenaran.  Itu yang bisa membuat analis selalu benar.

Analis teknikal tanpa gambar

Jadi analis ekonomi atau fundamental itu sulit, harus paham berita dan banyak informasi.  Lebih enak mengaku jadi analis teknikal.  Tapi, orang sering lupa juga karena jadi analis teknikal itu tidak segampang apa yang dibayangkan.  Sulit karena harus jujur.  Seorang analis teknikal yang baik, akan melampirkan gambarnya ke dalam prediksinya.  Karena gambar tersebut kemudian dilihat oleh analis teknikal yang lain, maka analis teknikal tersebut bisa menilai kualitas dan kejujuran dari analis teknikal tersebut.  Untuk ‘menyelesaikan’ hal ini, sehingga seseorang bisa menjadi analis yang selalu benar, maka dia melakukan analis teknikal kemana-mana dengan tanpa menggunakan grafik.  Analis ini akan menjadi analis yang selalu benar.

Serigala selalu ‘Hunting in Pack’

Pernahkah anda datang ke suatu acara seminar, kemudian anda bertemu dengan teman-teman dari pembicara yang ternyata adalah orang-orang yang memiliki pendapat yang berseberangan dengan pembicara ketika berada dalam suatu kelompok diskusi?  Well.. orang bilang serigala itu berburu dalam kelompok (hunting in pack).  Kalau ada sekelompok orang yang memiliki  pendapat berbeda, sebagian pasti akan menjadi mereka yang benar.  Nah.. mereka yang benar ini kemudian membuat seminar.  Anda mengikutinya.  Mereka serigalanya, anda dombanya.  Indah bukan dunia ini?

Kisah sedih ini sebenarnya adalah kisah sedih mengenai dunia persahaman di Indonesia.  Orang seakan-akan dibuat terpaku dengan sebuah drama yang bernama Pasar Modal sehingga mereka rela untuk menghalalkan segala cara agar bisa menjadi raja di dunia persilatan itu.

Saya sih… cuman pelaku kecil.  Ilmu juga cuman segitu.  Prediksi juga masih salah-salah.  Porto hanya cukup untuk menyenangkan diri sendiri.  Tujuan saya hanya sederhana: untung, beli ketika mau naik, jual ketika mau turun (heran… semboyan ini kayanya sudah ditiru dimana-mana ya.. hehehe), dan disiplin.  Dapat sedikit ya alhamdulillah, dapet banyak ya alhamdulillah juga.  Memberikan yang terbaik untuk sesama, pengabdian yang terbaik, yang tentu saja dilandasi dengan integritas yang tinggi.

Menjadi analis yang selalu benar, tidak penting bagi saya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags: