Home > Market Comment, Market Outlook > Pemerintah dan BI sebaiknya ‘taktis’ dalam melakukan intervensi

Pemerintah dan BI sebaiknya ‘taktis’ dalam melakukan intervensi

Selamat siang…

Ditengah kepanikan pasar yang sedang terjadi dalam 2 minggu terakhir, Pemerintah dan BI melakukan langkah yang berani: melakukan intervensi pasar. Intervensi dari BI terlihat jelas, karena diumumkan di berbagai media. Intervensi Pemerintah di pasar modal, sejauh ini hanya sebatas rumor kelas ‘Blackberry Broadcast’ karena Pemerintah tidak mengumumkan secara jelas. Disisi lain, kita memang melihat ada ‘pembeli lokal’ dengan size sangat besar, yang dalam beberapa hari terakhir terus melakukan posisi beli pada saham penggerak IHSG, teruma saham penggerak IHSG yang BUMN.

Disatu sisi, langkah ini terlihat berhasil menenangkan pasar. Akan tetapi, langkah ini akan menjadi beresiko jika ternyata bottom dari krisis ini ternyata tidak tercapai dalam jangka pendek, tapi masih membutuhkan waktu yang lumayan panjang lagi. Apakah benar langkah ‘melawan pasar’ seperti ini adalah langkah yang cerdas? Jika ternyata gagal, apakah bukannya malah benar-benar membawa krisis ke depan pintu kita?

Short Term Foreign Fund Flow memang sudah ‘tinggal sedikit’… Apakah Foreign bakal melepas posisi long term yang mereka miliki?

Anda mungkin sudah membaca tulisan saya di tabloid Kontan edisi hari ini. Saya sedikit membahas mengenai perilaku aliran dana asing yang sering disebut orang sebagai Hot Money. ‘Kesan’ yang saya dapat dari istilah ‘Hot Money’ ini adalah: dana jangka pendek, yang bisa keluar masuk seenaknya, kapan saja, dan dalam jumlah berapa saja, sehingga kesannya negative dan sangat destruktif. Aliran dana asing ini sebenarnya tidak seperti itu. Memang, sebagian dari aliran dana asing ini bukan aliran dana jangka panjang. Akan tetapi, aliran dana asing ini sebenarnya adalah sesuatu yang positif, karena mereka bereaksi terhadap variabel-variabel ekonomi, fundamental, teknikal atau variabel-variabel lain yang rasional. Ingat: pengendali dari aliran dana asing ini bisa jadi adalah sekumpulan global fund manager. Mereka ini smart, rasional, dan sophisticated. Karena rasioanal dan sophisticated inilah juga yang sebenarnya membuat perilaku mereka mudah untuk dibaca, relatif jauh lebih mudah untuk dibaca, dibandingkan dengan membaca aliran dana pada saham gorengan. Foreign fund flow is a hot money… but it is not that hot!

Dalam memahami aliran dana asing, kita harus melihat motif dari masuknya aliran dana asing adalah keuntungan. Keuntungan jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. Yang penting, selama mereka masih melihat menguntungkan, mereka akan terus masuk. Aliran dana asing itu juga selalu datang dan pergi dalam jumlah yang besar. Terlalu besar sehingga posisi beli atau posisi jual yang dilakukan, tidak bisa dilakukan hanya pada satu hari saja. Bisa seminggu, bisa sebulan, bisa setahun, atau bisa bertahun-tahun. Ketidakmudahan dari aliran dana asing ini, membuat saya sering memandangnya sebagai pendorong dari sebuah trend pergerakan harga. Masuknya aliran dana asing yang masuk, akan membentuk sebuah trend naik, dan aliran dana asing yang keluar, akan membentuk sebuah trend turun. Jadi, untuk memahami besaran dari aliran dana asing, sebaiknya kita memperhatikan trend pergerakan IHSG yang tengah terjadi.

Untuk posisi hingga tanggal 22 September 2011, ada dua trend yang sedang mempengaruhi pergerakan IHSG. Yang pertama adalah trend naik yang berawal dari bottom IHSG 2008, dan trend yang kedua adalah trend naik jangka menengah, yang berawal dari bottom IHSG di bulan Januari 2011 kemarin.

Pada trend jangka panjang yang berawal pada 2008, dana asing terlihat terus masuk ke Bursa Efek Indonesia. Dalam posisi tertingginya, dana asing jangka panjangyang masuk ke Indonesia sempat mencapai jumlah Rp56.4 trilyun di awal bulan Agustus lalu. Dana asing ini kemudian mengalami penurunan hingga posisi terakhirnya ada di level Rp40,8trilyun. Semenjak Agustus kemarin, posisi keluar (jual) dari dana asing sudah mencapai Rp15.6 trilyun. Untuk trend jangka pendek yang berlangsung semenjak Januari lalu, kondisinya kurang lebih sama. Dana asing memang sempat tercatat melakukan posisi beli hingga mencapai Rp18.9tr, sedangkan posisi terakhirnya hanya tersisa Rp 3,3 tr.

Pertanyaannya sekarang adalah: Benarkah krisis yang tengah berlangsung di belahan Eropa dan Amerika sudah berakhir? Benarkah bottom dari penurunan pergerakan harga sudah tercapai? Posisi net sell asing untuk aliran dana jangka pendek, sepertinya sudah tinggal sedikit. Akan tetapi, bagaimana jika krisis ternyata masih jauh dari selesai sehingga asing terpaksa melepas posisi jangka panjang yang mereka miliki? Apakah siap ‘dana lokal’ yang seminggu terakhir terlihat berusaha melawan market, menadah atau melawan ‘posisi jangka panjang dari pemodal asing’ yang mungkin akan terus keluar seiring dengan memburuknya market?

Sejarah telah jelas dalam memberikan gambaran, bahwa upaya melawan pasar, lebih sering berujung dengan kegagalan.

Saya sih saat ini hanya melihat perkembangan. IHSG memang masih bisa bertahan diatas kisaran suport 3250 – 3300. IHSG bahkan di hari Jumat lalu ditutup dengan candle berbentuk hammer. Artinya, kalau IHSG hari ini bisa bergerak naik, berarti IHSG bisa mengalami teknikal rebound dengan arah ke kisaran 3500-3650 untuk jangka pendek. Akan tetapi, posisi harga emas yang sudah dibawah suport US$1700-US$1750 per troy ounces, sebaiknya membuat kita berhati-hati. Potensi penurunan harga emas hingga kisaran US$1500-US$1550 per troy ounce menunjukkan bahwa pasar uang sepertinya masih akan terus bergejolak. Jika ternyata bursa regional masih meluncur turun, IHSG sepertinya bakal sulit juga untuk bertahan. Kalau ini yang terjadi, kita hanya bisa berhitung suport: 3309, 3250, 3000, 2838, 2600-2650, dst.

Kalau mau cari alasan positif, kita sebenarnya alasannya masih bisa didapat:

  • Memang perekonomian Indonesia sedang menuju crash? Resesi? Pertumbuhan negatif?
  • Kita semua masih ingat akan orang-orang yang bilang kalau peringkat surat hutang kita bakal naik menjadi investment grade. Apakah peringkat hutang kita mau diturunkan sehingga semua orang berebutan keluar?
  • Memang kinerja emiten kita bakal turun sedemikian rupa sehingga semua emiten akan mengalami penurunan penjualan yang begitu tajam, biaya meningkat hingga gak karuan, dan laba tergerus hingga habis? Perusahaan seperti Astra International?

Akan tetapi… saya sebenarnya juga masih agak khawatir dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga pasar:  Bagaimana jika mereka ternyata salah prediksi dan ternyata pasar dunia masih akan terkoreksi lagi lebih dalam?  Bagaimana jika ternyata dana jangka panjang dari pemodal asing ikut keluar dari bursa?  Masihkah Bank Indonesia dan Pemerintah akan tetap ‘melawan’?

So… trend memang turun. Dimana bottom dari IHSG sepertinya masih belum jelas. Dengan kondisi luar krisis di Eropa yang Amerika yang katanya lebih buruk dari kondisi ketika 2008… apakah IHSG kemudian bakal turun dibawah 1089? Hahaha… Semua memang masih bisa terjadi.  Akan tetapi, saya kira, tidak ada seorang analispun yang mau bilang kalau IHSG bakal turun dibawah 1089.   Saya sendiri, untuk saat ini masih memiliki optimisme bahwa dana asing yang saat ini tengah keluar, sebentar lagi juga paling mereka masuk lagi. Pertumbuhan ekonomi kita masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Kalau anda melihat pelaku pasar yang bingung atau stress melihat kondisi market terakhir, yang bingung itu biasanya adalah orang yang tidak tahu bedanya antara trading dengan investasi. Ngakunya trader, tapi tidak melakukan posisi jual ketika trend harga sudah berubah menjadi turun. Atau, ngakunya investor, tapi menggunakan posisi margin. Selain itu… saya juga melihat apa yang dilakukan oleh Pemerintah dan BI.

Semoga Pemerintah dan Bank Indonesia cukup ‘taktis’ dalam melihat pergerakan dari bursa dunia, agar langkah-langkah yang mereka lakukan, tidak malah menyeret seluruh bangsa Indonesia ke dalam krisis yang lebih dalam lagi.

Tidak usah panik lah. Volatilitas itu kan memang bagian dari market.

Happy trading…. semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen – Institut Teknologi Bandung

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Market Comment, Market Outlook Tags:
  1. Budi Sutrisno W
    October 7th, 2011 at 06:56 | #1

    Rame juga dong< wait n see

  1. No trackbacks yet.