Home > Knowledge from The Street > Akuntabilitas Penggunaan Dana Publik (Sebuah kritik tentang ‘kuasi organisasi’)

Akuntabilitas Penggunaan Dana Publik (Sebuah kritik tentang ‘kuasi organisasi’)

Selamat siang…

Pada suatu hari… saya datang kepada anda dan langsung bilang seperti ini:

“Pak… Saya minta duit anda.  Mau saya investasikan buat macem-macem deh: ini, itu, dan anu.  Jangan kuatir.  Return on Investasinya tinggi loh.  Bapak pasti untung! Bapak pasti cuan!!!”

Mungkin saya mendeskripsikannya agak terlalu ‘gamblang’.  Tapi, sebuah prospektus itu (entah itu prospektus IPO atau Right Issue), isinya kurang lebih memang seperti itu.  Suatu permintaan agar pemodal mau menginvestasikan dana yang dimilikinya.  Agar meyakinkan, emiten kemudian memaparkan investasinya.  Selain itu, bukti berupa potensi keuntungan yang diharapkan juga disebut-sebutkan pada prospektus itu.  Semua positif, semua bagus, semua adalah janji.

Setelah berkata seperti itu, saya keluar dari ruangan.  Tidak sampai satu jam setelah itu, saya kemudian datang lagi kepada anda, dengan omongan seperti ini:

“Wah… maaf Pak… setelah duit anda saya investasikan, ternyata rugi.   Saya juga gak tau kenapa… mungkin karena saya telah melakukan kesalahan pencatatan pada hitungan yang saya sampaikan tadi, atau bisa juga karena saya membeli barang yang sebenarnya milik saya sendiri di harga yang terlalu tinggi.  Jadi, investasinya rugi.  Tapi jangan kuatir deh Pak.. sekarang, laporan pencatatannya kita reset saja.  Kita jadikan ruginya nol.  Jadi, kalau setelah ini ternyata investasi itu bagus, berarti kita langsung mencatatkan untung.  Lupakan saja kerugian kemarin.  Mari kita memulai hari yang baru, dengan semangat yang baru. Kosong-kosong (skor 0-0) ya pak… Maaf lahir bathin deh….”

Apa yang ada dipikiran anda?  Setelah saya memberi anda janji yang muluk-muluk, anda mepercayakan uang anda kepada saya.  Tidak lama kemudian, dengan tanpa rasa bersalah sama sekali, saya kembali kepada anda untuk bilang bahwa uang anda sudah berkurang banyak (atau bahkan lenyap).  Sudah begitu, dengan santainya saya kemudian bilang: Maaf.  Sambil minta agar kerugian tersebut dilupakan, agar kedepan anda bisa ‘merasa’ untung.  Menurut anda, bagaimana nasib saya selanjutnya?  Apakah anda akan memaafkan saya begitu saja?  Kalau menurut saya sih (hehehe)… terus terang… kalau saya hari itu pulang dengan mata yang biru dengan tanpa kehilangan nyawa saya, saya masih sangat beruntung!

Semua sebenarnya bermula ketika PT Holcim Indonesia, Tbk. (SMCB),  memohon agak diperbolehkan untuk melakukan kuasi organisasi.  Menurut PSAK (Pedoman Standar Akuntansi) No 51 tahun Kuasi organisasi adalah suatu langkah yang dilakukan perseroan untuk menghilangkan defisit dan menilai kembali seluruh aktiva dan kewajiban perusahaan.  Dengan kuasi organisasi ini, perusahaan bisa meneruskan usahanya secara lebih baik, seolah mulai dari awal yang baik (fresh start), dengan neraca yang menunjukkan nilai sekarang dan tanpa dibebani defisit.  Jadi, lebih dari 10 tahun setelah krisis 1997, SMCB akhirnya menyerah: “Oke… kita punya kerugian masa lalu ternyata telah membuat langkah-langkah kita kedepan menjadi terhambat.  Jadi, kita hilangkan saja beban yang sudah berusaha kita selesaikan dalam 10 tahun terakhir agar kedepan kita bisa melangkah lebih cepat.  Semoga ini akan menjadi langkah yang baik untuk masa yang akan datang”.  Setelah lebih dari 10 tahun setelah SMCB mencoba dan berusaha, akhirnya mereka menyerah! Mereka meminta kuasi organisasi.  Kalau usahanya sudah cukup keras tapi tetap saja gagal.  Mungkin tidak masalah.  Akan tetapi, masalah kemudian muncul karena perusahaan-perusahaan yang merasa dirinya senasib dengan SMCB meminta fasilitas yang sama.  Bagaimana dengan emiten yang baru kemarin sore memperoleh dana segar dari publik, kemudian meminta untuk melakukan kuasi organisasi?  Apakah ceritanya jadi mirip cerita yang saya tulis tadi?

Aksi korporasi yang bernama kuasi organisasi, sebenarnya adalah aksi korporasi yang diperbolehkan.  Melakukan revaluasi aset agar bisa terlepas dari kerugian masa lalu yang membebani, memang tidak dilarang oleh hukum.  Akan tetapi, jika itu dilakukan pada dana publik yang diperoleh ‘tidak lama berselang’.  Apakah itu adalah merupakan cara yang bertanggung jawab untuk melaksanakan amanah yang datang bersama-sama dengan dana publik itu tadi?

Hari ini.. 17 Agustus belum lewat sebulan.  Nasionalisme saya sedang melambung tinggi.  Saya sedang mudah tersinggung kalau ada yang bilang bahwa bangsa saya adalah bangsa yang bodoh, terutama kalau yang bilang bodoh itu adalah bangsa saya sendiri.  Memang sih.. beberapa tahun terakhir, kita memang dididik oleh suatu semboyan baru: “Selama itu membuat popularitas kita meningkat, membiarkan perbuatan-perbuatan yang salah, selama itu menguntungkan, itu sah-sah saja.  Nanti kan juga hilang ditelan waktu.  Nanti kan para pengeritik bosan sendiri karena tidak ada yang mendengarkan”.

Saya hanya rakyat kecil.  Mungkin otak saya perlu sedikit dikalibrasi.  Sejak The Fed mencetak duit untuk menyelesaikan krisis, banyak sekali logika yang memang terbalik-balik.  Sebagai seorang analis teknikal, saya terkadang merasa beruntung karena bagi saya, hukum dasar teknikal yang berbunyi: “market action discounts everything” (pergerakan harga saham sudah menjelaskan segala sesuatu informasi yang menyebabkan harga bergerak), membuat saya terhindar dari kewajiban-kewajiban untuk menjelaskan alasan ‘mengapa suatu pergerakan harga bisa terjadi’.   Yang selalu saya tekankan selalu: ‘beli ketika mau naik, jual ketika mau turun’.  Jangan tanya alasannya kenapa, yang penting anda bisa memperoleh keuntungan dari pergerakan harga.  Tapi tetap saja.  Sebagai manusia, saya tetap memilik hati.  Dan saat ini, hati nurani saya menangis.  Kuasi organisasi oleh sebuah perusahaan yang baru saja memperoleh dana dari publik, tetap saja mencederai rasa pertanggungjawaban (akuntabilitas) penggunaan dana publik yang selama ini saya kenal.  Dana publik, bisa digunakan dengan seenaknya, kemudian tinggal dilaporkan bahwa dana itu ternyata sudah musnah.  Tidak ada kesalahan, tidak ada hukuman.  Manis sekali.

Benarkah ini yang diperjuangkan para pahlawan kita 66 tahun lalu?  Benarkah para pahlawan kita rela mati agar sebagian dari bangsa kita bisa mengambil kesempatan dari kebodohan dan ketidakberkekuasaan sebagian dari bangsa kita yang lain?  Benarkah pahlawan kita dulu berjuang agar sebagian dari bangsa ini, bisa menjajah sebagian dari bangsa kita yang lainnya? Dimana peran dari lembaga-lembaga otoritas bursa yang (sebenarnya/seharusnya) didesain untuk melindungi pemodal?

Jadi… inti dari pendapat saya sebenarnya begini:

Kalau kerugian anda karena krisis 1997, anda minta kuasi organisasi gpp lah… oke-oke saja. Tapi kalau kerugian anda adalah karena krisis 2008 atau karena pencatatan yang tidak benar sebelum IPO…. harusnya BEI dan Bapepam bisa melindungi kepentingan investor.

Hari ini, saya sedang tidak bangga menjadi bangsa Indonesia.  Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur cinta.  Saya cuman bisa mengelus dada dan berjanji untuk terus bekerja keras dengan apa yang saya bisa, untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.

M E R D E K A ! ! !

Happy trading…. semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen – Institut Teknologi Bandung

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags:
  1. irawan
    September 7th, 2011 at 00:47 | #1

    bener pak… kok uenak abis minta uang ke kita, kelola perusahaan nda ada becus2nya, eh ujung2-nya nanti juga minta uang lagi ke kita… lebih baik jangan dibeli saham2 dengan perusahaan model begini…percaya atau tidak tahun2 ke depan mereka juga akan melakukan hal yang sama lagi…

    • satrio
      September 7th, 2011 at 23:24 | #2

      Setujuuuuuuuuuuuu!!!!!!! :D

      Masalah selanjutnya gini bung… lha kalo yang punya perusahaan seperti ini adalah RI 1… minimal calonnya deh…gimana coba?

  2. andi
    September 7th, 2011 at 09:25 | #3

    Bagaimana dengan kuasi ADMG? Ini dilakukan utk menghapus defisit keuangan, sehingga akan tampak baik. Mengapa publik dan pasar merespon dengan baik / harganya naik pasca deklarasi kuasi? Apakah perusahaan dengan catatan lap keuangan yg buruk tidak punya kesempatan baik di masa depan?

    • satrio
      September 7th, 2011 at 23:26 | #4

      Bung Andi… Kalau yang itu, saya belum cek pak…. nanti saya lihat-lihat deh… Inti dari pendapat saya sih: kalau kerugian anda karena krisis 1997, anda minta kuasi organisasi gpp lah… tapi kalau kerugian anda adalah karena krisis 2008 atau karena pencatatan yang tidak benar sebelum IPO…. harusnya BEI dan Bapepam bisa melindungi kepentingan investor.

      Wassalam,
      Satrio

  3. tradernekad
    September 8th, 2011 at 01:48 | #5

    mas satrio,
    maksudnya perusahaan gerombolan grup bajaj ya yg mau kuasi org oktober ini, trs bagi2 deviden??
    tp penggemarnya buanyaak… susaaah juga klu melawan arussss…

  4. Dave
    September 8th, 2011 at 07:43 | #6

    Salut! Setuju sekali Pak Tomm!
    Ini semua dikarenakan ada orang pandai yang pikirannya jangka pendek, sempit dan terbawa arus hedonisme yg sedang ada, sehingga mau saja diarahkan dan dikontrol oleh para Boss besar. Padahal sebetulnya membodohi dan mencederai bidang yang mereka terjuni dan yakini sendiri.
    Alangkah indahnya juga kita sebagai pelaku pasar modal terus mensosialisasikan hal seperti ini dan sebagai investor menolak saham emiten yang melakukan hal-hal semacam ini.
    Thanks for sharing.

  5. irawan
    September 8th, 2011 at 13:02 | #7

    @satrio

    karena ini ada hubungannya dengan “mesin uang” untuk pemilu, maka kalo perut kuat untuk naek roller coaster ya silahkan… Logikanya mesin uang tugasnya ya mencetak uang kan? Tapi kalo saya sih “nehik nehik” dengan saham model begini. Kok uenak saya ngumpulin uang hasil kerja peras keringat kok mau diembat….. Warren Buffet pun kalo seandainya pegang saham begini bisa nangis bombay — 10 tahun harga saham nda ada naek2nya…padahal kata WB sih HOLD forever…

  6. Chs
    September 8th, 2011 at 13:55 | #8

    Bung Satrio,

    Mau nembak GIAA?? :)

  7. Haripur
    September 12th, 2011 at 01:31 | #9

    Pak, gimana kalau kuasi organisasi BNBR yg rencananya akan dilakukan Desember nanti ? Mohon penjelsannya. Terimakasih.

  8. Lenny Byrne
    October 15th, 2011 at 15:13 | #10

    pak, kalo misalnya saya mau jadiin quasi organization sebagai bahan skripsi variabel yang perlu saya teliti apa2 aja ya? data2nya bagaimana memperolehnya? saya mahasiswa akuntansi, kebetulan di kampus saya belum ada yg ngangkat jadi saya benar2 bingung mau mulai drmn.. terima kasih :)

    • satrio
      October 30th, 2011 at 05:08 | #11

      Dear Lenny,

      Hm… menarik juga sih ya… belakangan memang kuasi organisasi ini juga sedang musim. Data-data laporan keuangannya sepertinya bisa diperoleh dari perpustakaan BEI. Kalau data-data hasil RUPSnya.. sepertinya bisa diperoleh disana juga. Tinggal kamu mau cari bikin risetnya kearah mana… Kalau definisinya yang resmi mungkin bisa dilihat disini: http://www.investopedia.com/terms/q/quasi-reorganization.asp#axzz1cEoZhZUq

      Kalau beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan, coba deh lihat di http://www.ssrn.com atau di ideas.repec.org. Disitu ada banyak.

      Wassalam,
      Satrio

  9. Lenny
    December 17th, 2011 at 08:42 | #12

    thankyou.. :)

  1. No trackbacks yet.