Archive

Archive for September, 2011

Pemerintah dan BI sebaiknya ‘taktis’ dalam melakukan intervensi

September 26th, 2011 1 comment

Selamat siang…

Ditengah kepanikan pasar yang sedang terjadi dalam 2 minggu terakhir, Pemerintah dan BI melakukan langkah yang berani: melakukan intervensi pasar. Intervensi dari BI terlihat jelas, karena diumumkan di berbagai media. Intervensi Pemerintah di pasar modal, sejauh ini hanya sebatas rumor kelas ‘Blackberry Broadcast’ karena Pemerintah tidak mengumumkan secara jelas. Disisi lain, kita memang melihat ada ‘pembeli lokal’ dengan size sangat besar, yang dalam beberapa hari terakhir terus melakukan posisi beli pada saham penggerak IHSG, teruma saham penggerak IHSG yang BUMN.

Disatu sisi, langkah ini terlihat berhasil menenangkan pasar. Akan tetapi, langkah ini akan menjadi beresiko jika ternyata bottom dari krisis ini ternyata tidak tercapai dalam jangka pendek, tapi masih membutuhkan waktu yang lumayan panjang lagi. Apakah benar langkah ‘melawan pasar’ seperti ini adalah langkah yang cerdas? Jika ternyata gagal, apakah bukannya malah benar-benar membawa krisis ke depan pintu kita?

Short Term Foreign Fund Flow memang sudah ‘tinggal sedikit’… Apakah Foreign bakal melepas posisi long term yang mereka miliki?

Anda mungkin sudah membaca tulisan saya di tabloid Kontan edisi hari ini. Saya sedikit membahas mengenai perilaku aliran dana asing yang sering disebut orang sebagai Hot Money. ‘Kesan’ yang saya dapat dari istilah ‘Hot Money’ ini adalah: dana jangka pendek, yang bisa keluar masuk seenaknya, kapan saja, dan dalam jumlah berapa saja, sehingga kesannya negative dan sangat destruktif. Aliran dana asing ini sebenarnya tidak seperti itu. Memang, sebagian dari aliran dana asing ini bukan aliran dana jangka panjang. Akan tetapi, aliran dana asing ini sebenarnya adalah sesuatu yang positif, karena mereka bereaksi terhadap variabel-variabel ekonomi, fundamental, teknikal atau variabel-variabel lain yang rasional. Ingat: pengendali dari aliran dana asing ini bisa jadi adalah sekumpulan global fund manager. Mereka ini smart, rasional, dan sophisticated. Karena rasioanal dan sophisticated inilah juga yang sebenarnya membuat perilaku mereka mudah untuk dibaca, relatif jauh lebih mudah untuk dibaca, dibandingkan dengan membaca aliran dana pada saham gorengan. Foreign fund flow is a hot money… but it is not that hot!

Dalam memahami aliran dana asing, kita harus melihat motif dari masuknya aliran dana asing adalah keuntungan. Keuntungan jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. Yang penting, selama mereka masih melihat menguntungkan, mereka akan terus masuk. Aliran dana asing itu juga selalu datang dan pergi dalam jumlah yang besar. Terlalu besar sehingga posisi beli atau posisi jual yang dilakukan, tidak bisa dilakukan hanya pada satu hari saja. Bisa seminggu, bisa sebulan, bisa setahun, atau bisa bertahun-tahun. Ketidakmudahan dari aliran dana asing ini, membuat saya sering memandangnya sebagai pendorong dari sebuah trend pergerakan harga. Masuknya aliran dana asing yang masuk, akan membentuk sebuah trend naik, dan aliran dana asing yang keluar, akan membentuk sebuah trend turun. Jadi, untuk memahami besaran dari aliran dana asing, sebaiknya kita memperhatikan trend pergerakan IHSG yang tengah terjadi.

Untuk posisi hingga tanggal 22 September 2011, ada dua trend yang sedang mempengaruhi pergerakan IHSG. Yang pertama adalah trend naik yang berawal dari bottom IHSG 2008, dan trend yang kedua adalah trend naik jangka menengah, yang berawal dari bottom IHSG di bulan Januari 2011 kemarin.

Pada trend jangka panjang yang berawal pada 2008, dana asing terlihat terus masuk ke Bursa Efek Indonesia. Dalam posisi tertingginya, dana asing jangka panjangyang masuk ke Indonesia sempat mencapai jumlah Rp56.4 trilyun di awal bulan Agustus lalu. Dana asing ini kemudian mengalami penurunan hingga posisi terakhirnya ada di level Rp40,8trilyun. Semenjak Agustus kemarin, posisi keluar (jual) dari dana asing sudah mencapai Rp15.6 trilyun. Untuk trend jangka pendek yang berlangsung semenjak Januari lalu, kondisinya kurang lebih sama. Dana asing memang sempat tercatat melakukan posisi beli hingga mencapai Rp18.9tr, sedangkan posisi terakhirnya hanya tersisa Rp 3,3 tr.

Pertanyaannya sekarang adalah: Benarkah krisis yang tengah berlangsung di belahan Eropa dan Amerika sudah berakhir? Benarkah bottom dari penurunan pergerakan harga sudah tercapai? Posisi net sell asing untuk aliran dana jangka pendek, sepertinya sudah tinggal sedikit. Akan tetapi, bagaimana jika krisis ternyata masih jauh dari selesai sehingga asing terpaksa melepas posisi jangka panjang yang mereka miliki? Apakah siap ‘dana lokal’ yang seminggu terakhir terlihat berusaha melawan market, menadah atau melawan ‘posisi jangka panjang dari pemodal asing’ yang mungkin akan terus keluar seiring dengan memburuknya market?

Sejarah telah jelas dalam memberikan gambaran, bahwa upaya melawan pasar, lebih sering berujung dengan kegagalan.

Saya sih saat ini hanya melihat perkembangan. IHSG memang masih bisa bertahan diatas kisaran suport 3250 – 3300. IHSG bahkan di hari Jumat lalu ditutup dengan candle berbentuk hammer. Artinya, kalau IHSG hari ini bisa bergerak naik, berarti IHSG bisa mengalami teknikal rebound dengan arah ke kisaran 3500-3650 untuk jangka pendek. Akan tetapi, posisi harga emas yang sudah dibawah suport US$1700-US$1750 per troy ounces, sebaiknya membuat kita berhati-hati. Potensi penurunan harga emas hingga kisaran US$1500-US$1550 per troy ounce menunjukkan bahwa pasar uang sepertinya masih akan terus bergejolak. Jika ternyata bursa regional masih meluncur turun, IHSG sepertinya bakal sulit juga untuk bertahan. Kalau ini yang terjadi, kita hanya bisa berhitung suport: 3309, 3250, 3000, 2838, 2600-2650, dst.

Kalau mau cari alasan positif, kita sebenarnya alasannya masih bisa didapat:

  • Memang perekonomian Indonesia sedang menuju crash? Resesi? Pertumbuhan negatif?
  • Kita semua masih ingat akan orang-orang yang bilang kalau peringkat surat hutang kita bakal naik menjadi investment grade. Apakah peringkat hutang kita mau diturunkan sehingga semua orang berebutan keluar?
  • Memang kinerja emiten kita bakal turun sedemikian rupa sehingga semua emiten akan mengalami penurunan penjualan yang begitu tajam, biaya meningkat hingga gak karuan, dan laba tergerus hingga habis? Perusahaan seperti Astra International?

Akan tetapi… saya sebenarnya juga masih agak khawatir dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga pasar:  Bagaimana jika mereka ternyata salah prediksi dan ternyata pasar dunia masih akan terkoreksi lagi lebih dalam?  Bagaimana jika ternyata dana jangka panjang dari pemodal asing ikut keluar dari bursa?  Masihkah Bank Indonesia dan Pemerintah akan tetap ‘melawan’?

So… trend memang turun. Dimana bottom dari IHSG sepertinya masih belum jelas. Dengan kondisi luar krisis di Eropa yang Amerika yang katanya lebih buruk dari kondisi ketika 2008… apakah IHSG kemudian bakal turun dibawah 1089? Hahaha… Semua memang masih bisa terjadi.  Akan tetapi, saya kira, tidak ada seorang analispun yang mau bilang kalau IHSG bakal turun dibawah 1089.   Saya sendiri, untuk saat ini masih memiliki optimisme bahwa dana asing yang saat ini tengah keluar, sebentar lagi juga paling mereka masuk lagi. Pertumbuhan ekonomi kita masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Kalau anda melihat pelaku pasar yang bingung atau stress melihat kondisi market terakhir, yang bingung itu biasanya adalah orang yang tidak tahu bedanya antara trading dengan investasi. Ngakunya trader, tapi tidak melakukan posisi jual ketika trend harga sudah berubah menjadi turun. Atau, ngakunya investor, tapi menggunakan posisi margin. Selain itu… saya juga melihat apa yang dilakukan oleh Pemerintah dan BI.

Semoga Pemerintah dan Bank Indonesia cukup ‘taktis’ dalam melihat pergerakan dari bursa dunia, agar langkah-langkah yang mereka lakukan, tidak malah menyeret seluruh bangsa Indonesia ke dalam krisis yang lebih dalam lagi.

Tidak usah panik lah. Volatilitas itu kan memang bagian dari market.

Happy trading…. semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen – Institut Teknologi Bandung

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Market Comment, Market Outlook Tags:

Akuntabilitas Penggunaan Dana Publik (Sebuah kritik tentang ‘kuasi organisasi’)

September 6th, 2011 12 comments

Selamat siang…

Pada suatu hari… saya datang kepada anda dan langsung bilang seperti ini:

“Pak… Saya minta duit anda.  Mau saya investasikan buat macem-macem deh: ini, itu, dan anu.  Jangan kuatir.  Return on Investasinya tinggi loh.  Bapak pasti untung! Bapak pasti cuan!!!”

Mungkin saya mendeskripsikannya agak terlalu ‘gamblang’.  Tapi, sebuah prospektus itu (entah itu prospektus IPO atau Right Issue), isinya kurang lebih memang seperti itu.  Suatu permintaan agar pemodal mau menginvestasikan dana yang dimilikinya.  Agar meyakinkan, emiten kemudian memaparkan investasinya.  Selain itu, bukti berupa potensi keuntungan yang diharapkan juga disebut-sebutkan pada prospektus itu.  Semua positif, semua bagus, semua adalah janji.

Setelah berkata seperti itu, saya keluar dari ruangan.  Tidak sampai satu jam setelah itu, saya kemudian datang lagi kepada anda, dengan omongan seperti ini:

“Wah… maaf Pak… setelah duit anda saya investasikan, ternyata rugi.   Saya juga gak tau kenapa… mungkin karena saya telah melakukan kesalahan pencatatan pada hitungan yang saya sampaikan tadi, atau bisa juga karena saya membeli barang yang sebenarnya milik saya sendiri di harga yang terlalu tinggi.  Jadi, investasinya rugi.  Tapi jangan kuatir deh Pak.. sekarang, laporan pencatatannya kita reset saja.  Kita jadikan ruginya nol.  Jadi, kalau setelah ini ternyata investasi itu bagus, berarti kita langsung mencatatkan untung.  Lupakan saja kerugian kemarin.  Mari kita memulai hari yang baru, dengan semangat yang baru. Kosong-kosong (skor 0-0) ya pak… Maaf lahir bathin deh….”

Apa yang ada dipikiran anda?  Setelah saya memberi anda janji yang muluk-muluk, anda mepercayakan uang anda kepada saya.  Tidak lama kemudian, dengan tanpa rasa bersalah sama sekali, saya kembali kepada anda untuk bilang bahwa uang anda sudah berkurang banyak (atau bahkan lenyap).  Sudah begitu, dengan santainya saya kemudian bilang: Maaf.  Sambil minta agar kerugian tersebut dilupakan, agar kedepan anda bisa ‘merasa’ untung.  Menurut anda, bagaimana nasib saya selanjutnya?  Apakah anda akan memaafkan saya begitu saja?  Kalau menurut saya sih (hehehe)… terus terang… kalau saya hari itu pulang dengan mata yang biru dengan tanpa kehilangan nyawa saya, saya masih sangat beruntung!

Semua sebenarnya bermula ketika PT Holcim Indonesia, Tbk. (SMCB),  memohon agak diperbolehkan untuk melakukan kuasi organisasi.  Menurut PSAK (Pedoman Standar Akuntansi) No 51 tahun Kuasi organisasi adalah suatu langkah yang dilakukan perseroan untuk menghilangkan defisit dan menilai kembali seluruh aktiva dan kewajiban perusahaan.  Dengan kuasi organisasi ini, perusahaan bisa meneruskan usahanya secara lebih baik, seolah mulai dari awal yang baik (fresh start), dengan neraca yang menunjukkan nilai sekarang dan tanpa dibebani defisit.  Jadi, lebih dari 10 tahun setelah krisis 1997, SMCB akhirnya menyerah: “Oke… kita punya kerugian masa lalu ternyata telah membuat langkah-langkah kita kedepan menjadi terhambat.  Jadi, kita hilangkan saja beban yang sudah berusaha kita selesaikan dalam 10 tahun terakhir agar kedepan kita bisa melangkah lebih cepat.  Semoga ini akan menjadi langkah yang baik untuk masa yang akan datang”.  Setelah lebih dari 10 tahun setelah SMCB mencoba dan berusaha, akhirnya mereka menyerah! Mereka meminta kuasi organisasi.  Kalau usahanya sudah cukup keras tapi tetap saja gagal.  Mungkin tidak masalah.  Akan tetapi, masalah kemudian muncul karena perusahaan-perusahaan yang merasa dirinya senasib dengan SMCB meminta fasilitas yang sama.  Bagaimana dengan emiten yang baru kemarin sore memperoleh dana segar dari publik, kemudian meminta untuk melakukan kuasi organisasi?  Apakah ceritanya jadi mirip cerita yang saya tulis tadi?

Aksi korporasi yang bernama kuasi organisasi, sebenarnya adalah aksi korporasi yang diperbolehkan.  Melakukan revaluasi aset agar bisa terlepas dari kerugian masa lalu yang membebani, memang tidak dilarang oleh hukum.  Akan tetapi, jika itu dilakukan pada dana publik yang diperoleh ‘tidak lama berselang’.  Apakah itu adalah merupakan cara yang bertanggung jawab untuk melaksanakan amanah yang datang bersama-sama dengan dana publik itu tadi?

Hari ini.. 17 Agustus belum lewat sebulan.  Nasionalisme saya sedang melambung tinggi.  Saya sedang mudah tersinggung kalau ada yang bilang bahwa bangsa saya adalah bangsa yang bodoh, terutama kalau yang bilang bodoh itu adalah bangsa saya sendiri.  Memang sih.. beberapa tahun terakhir, kita memang dididik oleh suatu semboyan baru: “Selama itu membuat popularitas kita meningkat, membiarkan perbuatan-perbuatan yang salah, selama itu menguntungkan, itu sah-sah saja.  Nanti kan juga hilang ditelan waktu.  Nanti kan para pengeritik bosan sendiri karena tidak ada yang mendengarkan”.

Saya hanya rakyat kecil.  Mungkin otak saya perlu sedikit dikalibrasi.  Sejak The Fed mencetak duit untuk menyelesaikan krisis, banyak sekali logika yang memang terbalik-balik.  Sebagai seorang analis teknikal, saya terkadang merasa beruntung karena bagi saya, hukum dasar teknikal yang berbunyi: “market action discounts everything” (pergerakan harga saham sudah menjelaskan segala sesuatu informasi yang menyebabkan harga bergerak), membuat saya terhindar dari kewajiban-kewajiban untuk menjelaskan alasan ‘mengapa suatu pergerakan harga bisa terjadi’.   Yang selalu saya tekankan selalu: ‘beli ketika mau naik, jual ketika mau turun’.  Jangan tanya alasannya kenapa, yang penting anda bisa memperoleh keuntungan dari pergerakan harga.  Tapi tetap saja.  Sebagai manusia, saya tetap memilik hati.  Dan saat ini, hati nurani saya menangis.  Kuasi organisasi oleh sebuah perusahaan yang baru saja memperoleh dana dari publik, tetap saja mencederai rasa pertanggungjawaban (akuntabilitas) penggunaan dana publik yang selama ini saya kenal.  Dana publik, bisa digunakan dengan seenaknya, kemudian tinggal dilaporkan bahwa dana itu ternyata sudah musnah.  Tidak ada kesalahan, tidak ada hukuman.  Manis sekali.

Benarkah ini yang diperjuangkan para pahlawan kita 66 tahun lalu?  Benarkah para pahlawan kita rela mati agar sebagian dari bangsa kita bisa mengambil kesempatan dari kebodohan dan ketidakberkekuasaan sebagian dari bangsa kita yang lain?  Benarkah pahlawan kita dulu berjuang agar sebagian dari bangsa ini, bisa menjajah sebagian dari bangsa kita yang lainnya? Dimana peran dari lembaga-lembaga otoritas bursa yang (sebenarnya/seharusnya) didesain untuk melindungi pemodal?

Jadi… inti dari pendapat saya sebenarnya begini:

Kalau kerugian anda karena krisis 1997, anda minta kuasi organisasi gpp lah… oke-oke saja. Tapi kalau kerugian anda adalah karena krisis 2008 atau karena pencatatan yang tidak benar sebelum IPO…. harusnya BEI dan Bapepam bisa melindungi kepentingan investor.

Hari ini, saya sedang tidak bangga menjadi bangsa Indonesia.  Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur cinta.  Saya cuman bisa mengelus dada dan berjanji untuk terus bekerja keras dengan apa yang saya bisa, untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.

M E R D E K A ! ! !

Happy trading…. semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen – Institut Teknologi Bandung

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Pergerakan IHSG pasca Libur Lebaran*

September 4th, 2011 No comments

Selamat siang…

Pak…. bagaimana pergerakan IHSG setelah libur Lebaran yang panjaaaaaang ini?  IHSG mau naik atau mau turun, jangan-jangan kita cuman ketemu buntut bearishnya doang setelah bullishnya kita nggak ikutan?

Sepertinya… pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang umumnya ada dibenak kita.

Pada pergerakan harga (terutama IHSG) pada hari pertama setelah libur (baik panjang atau pendek) harga akan mendiskon pergerakan harga dari variabel-variabel pasar terkait yang lain selama harga tersebut terhenti.  Setelah proses pendiskonan tersebut selesai, harga akan bergerak normal, yaitu mengantisipasi data-data baru, data-data yang akan datang.

Jadi ide dasar dari market yang sedang libur, entah itu liburnya cuman sehari, dua hari, seminggu, dst, selama itu liburnya libur normal (bukan karena kerusuhan, bencana, dll), market itu seperti sedang mengalami ‘pit stop’ atau ‘istirahat’.  Setelah masa istirahat itu selesai, market akan mengalami adjustment dalam suatu waktu tertentu (bisa cuman beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari) tergantung besaran dari pergerakan yang belum ‘terdiskon’, dan setelah itu, market kembali bergerak normal.

Berikut pergerakan dari beberapa variabel yang mempengaruhi IHSG selama liburan Lebaran kemarin:

Selama seminggu kemarin, indeks Dow Jones Industrial terlihat hanya bergerak flat.  Sempat naik hingga mencapai titik tertinggi 11739.39 (naik 454.85 poin, 4.03% dibandingkan posisi penutupan Jumat, 26 Agustus), indeks ini akhirnya malah ditutup dengan koreksi tipis sebesar 44.28 poin (-0,39%).  Indeks HangSeng dan Strait Times memang masih mengalami kenaikan diatas 3%.  Akan tetapi, kedua indeks tersebut terlihat belum mendiskon koreksi sebesar 253.13 poin (-2.2%) yang terjadi pada indeks Dow Jones Industrial pada Jumat malam.

So… kalau melihat posisi dari indeks di kawasan Asia (HSI dan STI), setidaknya IHSG hari Senin berpeluang untuk dibuka dengan posisi kenaikan.

Akan tetapi, bukan itu permasalahan utamanya.  Jika anda rajin untuk menyimak ulasan saya pada weblog ini, anda tentu sudah pernah melihat chart ini pada ulasan saya beberapa waktu yang lalu:

Apa yang terjadi pada indeks Dow Jones Industrial pada seminggu terakhir, sepertinya memang membuka peluang untuk terjadinya pergerakan indeks dalam ‘skenario’ tersebut.  Indeks Dow Jones Industrial naik hingga mencapai 11700-an, kemudian terkoreksi.  Masalahnya, jika koreksi ini benar-benar terjadi, berarti kedepan indeks DJI bakal kembali turun menguji suportnya di 10500-10700! Dalam skenario wave 5 yang ada pada gambar diatas,wave ke 5 dari  indeks Dow Jones Industrial memang memiliki potensi potensi untuk bergerak turun menuju kisaran 10500-10700, jika koreksi ini berlangsung dengan normal, dan 9800-10000 jika extended.

Apakah benar skenario itu yang akan terjadi?  Yang jelas, untuk hari Senin saya sudah preparing for worst… mempersiapkan terhadap hal yang terburuk. Kalau IHSG ternyata masih bisa naik, selama IHSG tidak bisa ditutup diatas 3905 – 3925, berarti kita memang masih harus bersiap diri menghadapi koreksi yang masih bisa terjadi.  Dalam kondisi ini, saya lebih senang untuk melakukan Sell On Strength atas posisi yang saya miliki.  Dan.. kalau mau belanja untuk posisi medium term atau long term, sepertinya kita memang harus menunggu… menunggu berakhirnya wave ke 5 pada DJI… atau menunggu setidaknya ketika IHSG sudah mencapai kisaran 3650 – 3750.

So… Sell on Strength… tunggu sampai IHSG sampai 3650-3750 untuk Buy on Weakness… itu yang akan saya lakukan dalam minggu depan.  Buy on Weakness karena kita masih bullish untuk outlook IHSG hingga tahun depan.

Sementara itu dulu deh… sampai update saya berikutnya di hari Senin.

Happy trading…. semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com


*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.