Home > For Beginners, Knowledge from The Street > Arti Dividen bagi seorang Pemodal

Arti Dividen bagi seorang Pemodal

Selamat siang…

Seorang traders beberapa waktu yang lalu bertanya kepada saya:

Pak… saya beli saham XXXX karena sebentar lagi saham itu akan membagikan devidennya. Setelah cum dividen, ternyata harga saham turun, dan penurunannya ternyata lebih besar dari pada jumlah dividen yang saya peroleh (udah gitu masih dikurangi pajak lagi). Memang salah ya Pak… kalau beli saham itu karena kita ngejar devidennya?

Ketika musim pembagian deviden (dividen season) seperti sekarang ini, fenomena seperti ini adalah fenomena yang standar. Seorang traders, yang harusnya cenderung untuk mengambil untung berdasarkan pergerakan harga jangka pendek, mencoba peruntungan dengan melakukan posisi beli berdasarkan informasi dividen (sebuah informasi yang seharusnya lebih bermanfaat bagi seorang investor jangka panjang, yang sudah melakukan hold atas saham itu pada jangka waktu yang lama). Memang sih… kalau dilihat dari dividen yield-nya, sering kali memang menarik 3% – 5%, atah bahkan hampir 10%. Kalau dipikir memang menarik. Beli, simpan beberapa hari, terus kita bisa bisa mendapatkan return sebesar itu. Tapi ingat juga: kita cuman bisa untung sebesar itu JIKA BISA MELAKUKAN POSISI JUAL PADA HARGA YANG SAMA DENGAN KETIKA KITA MELAKUKAN POSISI BELI (psst.. inget juga.. kita harus bayar pajak dividen juga loh… belum lagi ada biaya komisi beli dan komisi jual…jadi dividen yield riilnya tentu saja tidak sebanyak itu…). Dengan kata lain: kalau gagal jual di harga yang sama dengan ketika kita melakukan posisi beli, posisinya tetap saja sama: RUGI.

Sekarang begini… sebagian dari ‘emiten’ yang ada di bursa, masih berpikir bahwa saham itu hanya lah selembar kertas. Selembar kertas yang diberi tanda sehinga bisa disebut sebagai saham. Saham itu kemudian ditukarkan oleh uang yang dipegang oleh pemodal publik (baca: anda). Kertas ditukar dengan uang. Enaknya bagaimana itu? (Itu sebabnya saya suka ‘nyinyir’ kalau ada pre-emptive right issue… kalau perusahaannya bagus, mungkin gpp… kalau perusahaannya jelek… apa nggak cuman ‘usaha pencetakan uang palsu’ itu?).

Contoh: Sebuah saham, katakan lah PT XXXX Tbk. Harga sahamnya Rp 100.000 per lembar. Membagikan dividen sebanyak Rp 5000. Dividen yieldnya menarik bukan? 5%! Seorang trader kemudian melakukan posisi beli atas saham xxxx tersebut di harga Rp 100.000 pada hari cum-date. Ketika ex-date, harga kemudian dibuka pada level Rp 93.000. Posisi trader itu berarti sudah mengalami potentioal loss sebesar Rp 2000. Harga kemudian turun ke Rp 75.000. Trader itu cut loss.
Sekarang, mari kita melihat kejadian itu dari dua sisi:

  • Dari sisi trader: Saya melakukan mengalami kerugian bruto sebesar Rp 20.000 (setara dengan 20%).  Kerugian nettonya bisa lebih besar dari itu karena masih ada pajak deviden, fee beli dan fee jual, dll.
  • Dari sisi emiten: Dengan umpan Rp 5000, saya bisa membuat trader itu (anda) membeli saham dari emiten itu.  Ketika trader tersebut melakukan cut loss di harga Rp 75.000, berarti saya tersebut telah untung Rp 20.000.  Keuntungan saya adalah sebesar 400%!  Hebat bukan?

Saya lupa ini perkataan siapa, tapi saya pernah baca sebuah ide yang sampai saat ini selalu saya ingat:

Never trade based on dividen news!!!

Trading itu berbeda dengan investasi. Investasi itu berbeda dengan trading. Dividen itu, hanya berguna bagi para investor. Orang yang sudah menyimpan saham tersebut untuk waktu yang sangat lama. Jika investor itu belinya di harga atas, berarti itu bisa menjadi pengurang bagi kerugiannya. Tapi jika belinya di harga bawah, berarti itu bisa menjadi penambah bagi keuntungannya. Bagi anda yang memilih ‘trading’ sebagai jalan, dividen itu bukanlah sesuatu yang perlu anda kejar. Dalam melakukan trading, sumber dari keuntungan adalah pergerakan harga. Oleh karena itu, perhatikan terus arah pergerakan harga, mau lari kemana.  Terus… lakukan strategi dasar: beli ketika mau naik, jual ketika mau turun. Kalau ada dividen diantaranya, perlakukan itu sebagai ‘bonus’. Dapet sukur, gak dapet ya sudah. Sapa tau… target harga kita sudah tercapai pada saat hari cum, ya silakan saja kalau mau profit taking. Tapi kalau pada hari ex harga saham ternyata turun dibawah stoploss, ya sudah… mungkin anda memang harus disiplin harus melakukan cut loss. Dividen? Yah… itu kan bisa digunakan untuk mengurangi kerugian.

Bagi seorang investor, deviden adalah tujuan utama dalam melakukan investasi. Bagi seorang pemodal, deviden hanyalah sekedar pemanis, karena tujuan utamanya adalah capital gain untuk jangka pendek

So… anda seorang trader yang masih mengejar keuntungan dengan berharap berkah dari dividen? Atau anda saat ini tengah dalam posisi nyangkut karena adanya ide dividen?  Atau… anda mendengarkan saran dari seorang yang mengaku sebagai seorang trader untuk melakukan posisi beli dengan berdasarkan berita dividen dan sekarang anda berada dalam posisi nyangkut? hehehe… pikirkanlah kembali… apakah anda sudah melakukan hal yang terbaik bagi diri anda sendiri.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

  1. July 22nd, 2011 at 10:51 | #1

    saya sependapat, tujuan trader bukan deviden, tapi capital gain.

  2. kristin
    August 4th, 2011 at 04:46 | #2

    terima kasih atas tulisannya. saya belajar banyak.
    pak, saya ingin tanya
    “Dari sisi emiten: Dengan umpan Rp 5000, saya bisa membuat trader itu (anda) membeli saham dari emiten itu. Ketika trader tersebut melakukan cut loss di harga Rp 75.000, berarti saya tersebut telah untung Rp 20.000. Keuntungan saya adalah sebesar 400%! Hebat bukan?”
    mohon dikoreksi bila pemahaman saya salah. sepengetahuan saya emiten mendapatkan dana ketika IPO saja. selanjutnya di pasar sekunder, naik turunnya harga saham tersebut menjadi keuntungan investor. jadi emiten tidak memperoleh keuntungan 400%. bagaimana menurut bapak? terima kasih atas respon bapak.

    • satrio
      August 4th, 2011 at 07:41 | #3

      Bu Kristin,

      Pada saham-saham yang tidak aktif, emiten terkadang menggunakan jasa dari market maker untuk membuat perdagangan sahamnya menjadi aktif. Yang dimaksud emiten ini adalah emiten yang bekerja sama dengan market maker untuk merekayasa (alias ‘menggoreng’) harga saham

      Wassalam,
      Satrio

  3. August 11th, 2011 at 07:01 | #4

    jadi lebih baik menjadi investor atau pemodal ya Pak?

    • satrio
      August 22nd, 2011 at 00:47 | #5

      Bung Jam Tangan (maaf… karena anda tidak menuliskan nama anda)…

      Itu tergantung selera anda. Tergantung anda sendiri. Yang jelas, jadi trader memang perlu kerja keras. Jadi investor memang lebih mudah… tapi stress-nya lebih tinggi. Anda pilih yang mana?

      Wassalam,
      Satrio

  4. July 20th, 2012 at 13:10 | #6

    saya setuju sekali dengan prinsip “Never trade based on dividen news!!!”, krena terlalu banyak kepentingan perusahaan di sana, dan maaf, kredibilitas sebuah “news” di negar kita ini sangat2 layak untuk dipertanyakan.

    • satrio
      July 30th, 2012 at 12:38 | #7

      Hehehe… tapi kan ada rantainya juga… Bapepam dan BEI kan takut sama media… lantas kita mau apa?

  5. July 25th, 2012 at 14:53 | #8

    Ulasan yang mantab! Bisa di review Pak tentang harga properti saat ini.

    • satrio
      July 30th, 2012 at 12:36 | #9

      Wah… nanti dulu sepertinya Bung… saya sih untuk sementara (minimal sampai September) masih ‘brenti lihat saham properti’ karena agak khawatir mengenai pengaruh dari kenaikan uang muka BI. KIta lihat nanti deh…

  6. firman
    April 17th, 2014 at 16:59 | #10

    maaf pak ada lowongan gak di Universal Broker indonesia ? saya punya pengalaman dealing :)

  1. No trackbacks yet.