Archive

Archive for July, 2011

Arti Dividen bagi seorang Pemodal

July 19th, 2011 11 comments

Selamat siang…

Seorang traders beberapa waktu yang lalu bertanya kepada saya:

Pak… saya beli saham XXXX karena sebentar lagi saham itu akan membagikan devidennya. Setelah cum dividen, ternyata harga saham turun, dan penurunannya ternyata lebih besar dari pada jumlah dividen yang saya peroleh (udah gitu masih dikurangi pajak lagi). Memang salah ya Pak… kalau beli saham itu karena kita ngejar devidennya?

Ketika musim pembagian deviden (dividen season) seperti sekarang ini, fenomena seperti ini adalah fenomena yang standar. Seorang traders, yang harusnya cenderung untuk mengambil untung berdasarkan pergerakan harga jangka pendek, mencoba peruntungan dengan melakukan posisi beli berdasarkan informasi dividen (sebuah informasi yang seharusnya lebih bermanfaat bagi seorang investor jangka panjang, yang sudah melakukan hold atas saham itu pada jangka waktu yang lama). Memang sih… kalau dilihat dari dividen yield-nya, sering kali memang menarik 3% – 5%, atah bahkan hampir 10%. Kalau dipikir memang menarik. Beli, simpan beberapa hari, terus kita bisa bisa mendapatkan return sebesar itu. Tapi ingat juga: kita cuman bisa untung sebesar itu JIKA BISA MELAKUKAN POSISI JUAL PADA HARGA YANG SAMA DENGAN KETIKA KITA MELAKUKAN POSISI BELI (psst.. inget juga.. kita harus bayar pajak dividen juga loh… belum lagi ada biaya komisi beli dan komisi jual…jadi dividen yield riilnya tentu saja tidak sebanyak itu…). Dengan kata lain: kalau gagal jual di harga yang sama dengan ketika kita melakukan posisi beli, posisinya tetap saja sama: RUGI.

Sekarang begini… sebagian dari ‘emiten’ yang ada di bursa, masih berpikir bahwa saham itu hanya lah selembar kertas. Selembar kertas yang diberi tanda sehinga bisa disebut sebagai saham. Saham itu kemudian ditukarkan oleh uang yang dipegang oleh pemodal publik (baca: anda). Kertas ditukar dengan uang. Enaknya bagaimana itu? (Itu sebabnya saya suka ‘nyinyir’ kalau ada pre-emptive right issue… kalau perusahaannya bagus, mungkin gpp… kalau perusahaannya jelek… apa nggak cuman ‘usaha pencetakan uang palsu’ itu?).

Contoh: Sebuah saham, katakan lah PT XXXX Tbk. Harga sahamnya Rp 100.000 per lembar. Membagikan dividen sebanyak Rp 5000. Dividen yieldnya menarik bukan? 5%! Seorang trader kemudian melakukan posisi beli atas saham xxxx tersebut di harga Rp 100.000 pada hari cum-date. Ketika ex-date, harga kemudian dibuka pada level Rp 93.000. Posisi trader itu berarti sudah mengalami potentioal loss sebesar Rp 2000. Harga kemudian turun ke Rp 75.000. Trader itu cut loss.
Sekarang, mari kita melihat kejadian itu dari dua sisi:

  • Dari sisi trader: Saya melakukan mengalami kerugian bruto sebesar Rp 20.000 (setara dengan 20%).  Kerugian nettonya bisa lebih besar dari itu karena masih ada pajak deviden, fee beli dan fee jual, dll.
  • Dari sisi emiten: Dengan umpan Rp 5000, saya bisa membuat trader itu (anda) membeli saham dari emiten itu.  Ketika trader tersebut melakukan cut loss di harga Rp 75.000, berarti saya tersebut telah untung Rp 20.000.  Keuntungan saya adalah sebesar 400%!  Hebat bukan?

Saya lupa ini perkataan siapa, tapi saya pernah baca sebuah ide yang sampai saat ini selalu saya ingat:

Never trade based on dividen news!!!

Trading itu berbeda dengan investasi. Investasi itu berbeda dengan trading. Dividen itu, hanya berguna bagi para investor. Orang yang sudah menyimpan saham tersebut untuk waktu yang sangat lama. Jika investor itu belinya di harga atas, berarti itu bisa menjadi pengurang bagi kerugiannya. Tapi jika belinya di harga bawah, berarti itu bisa menjadi penambah bagi keuntungannya. Bagi anda yang memilih ‘trading’ sebagai jalan, dividen itu bukanlah sesuatu yang perlu anda kejar. Dalam melakukan trading, sumber dari keuntungan adalah pergerakan harga. Oleh karena itu, perhatikan terus arah pergerakan harga, mau lari kemana.  Terus… lakukan strategi dasar: beli ketika mau naik, jual ketika mau turun. Kalau ada dividen diantaranya, perlakukan itu sebagai ‘bonus’. Dapet sukur, gak dapet ya sudah. Sapa tau… target harga kita sudah tercapai pada saat hari cum, ya silakan saja kalau mau profit taking. Tapi kalau pada hari ex harga saham ternyata turun dibawah stoploss, ya sudah… mungkin anda memang harus disiplin harus melakukan cut loss. Dividen? Yah… itu kan bisa digunakan untuk mengurangi kerugian.

Bagi seorang investor, deviden adalah tujuan utama dalam melakukan investasi. Bagi seorang pemodal, deviden hanyalah sekedar pemanis, karena tujuan utamanya adalah capital gain untuk jangka pendek

So… anda seorang trader yang masih mengejar keuntungan dengan berharap berkah dari dividen? Atau anda saat ini tengah dalam posisi nyangkut karena adanya ide dividen?  Atau… anda mendengarkan saran dari seorang yang mengaku sebagai seorang trader untuk melakukan posisi beli dengan berdasarkan berita dividen dan sekarang anda berada dalam posisi nyangkut? hehehe… pikirkanlah kembali… apakah anda sudah melakukan hal yang terbaik bagi diri anda sendiri.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Perlunya Kriteria ‘Likuiditas’ dalam Penetapan Saham Syariah (Sebuah Tinjauan Awam)

July 12th, 2011 1 comment

Assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

Dalam melakukan beli jual saham, harga adalah sebuah variabel yang sangat penting.  Harga menjadi variabel yang sangat penting karena harga menentukan hasil dari sebuah transaksi.  Apakah transaksi tersebut berujung kepada keuntungan, ketika harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan harga beli; atau berujung kepada kerugian, ketika harga jual lebih rendah jika dibandingkan dengan harga beli.  Harga saham juga menjadi penting karena merupakan alat untuk melakukan pencatatan terhadap nilai suatu aset.  Besar kecilnya nilai aset, serta naik turunnya nilai aset, potensi keuntungan atau kerugian dari sebuah aset yang tercatat, semua ditentukan oleh harga.  Harga saham yang bergerak setiap hari.

Karena alasan dari melakukan transaksi adalah memperoleh keuntungan (meski sebagian ternyata juga yang diperoleh adalah kerugian), keuntungan yang sudah terealisasi maupun keuntungan yang tercatat, maka harga dikatakan sebagai variabel yang paling penting bagi seseorang yang melakukan transaksi di bursa saham.

Dalam pergerakan harga saham, likuiditas memegang peranan yang tidak kalah penting.    Pergerakan harga saham ditentukan oleh ada atau tidaknya transaksi terhadap saham tersebut.   Jika tidak ada transaksi, maka harga tidak akan bergerak, tidak akan berubah.  Secara sederhana, likuiditas disebut sebagai frekuensi dan/atau volume transaksi yang terjadi pada saham saham dalam suatu jangka waktu tertentu.  Dalam definisi ini, sebuah saham dikatakan likuid apabila saham tersebut diperdagangakan dengan frekuensi/volume  diatas dari batasan frekuensi/volume minimal yang telah ditentukan.  Akan tetapi, definisi likuiditas yang lain, menyatakan likuditas sebagai berikut:

The degree to which an asset or security can be bought or sold in the market without affecting the asset’s price. Liquidity is characterized by a high level of trading activity. Assets that can be easily bought or sold, are known as liquid assets. (www.investopedia.com)

Dalam definisi ini, likuiditas, selain didefinisikan sebagai saham yang memiliki tingkat aktifitas trading yang tinggi (baik frekuensi atau volume), tapi juga mementingkan faktor ‘kemampuan dari saham atau asset tersebut untuk bisa diperbeli-jualkan dengan tanpa mengalami perubahan harga yang tidak berarti.  Suatu saham dikatakan likuid apabila setiap posisi beli atau posisi jual yang dilakukan oleh investor (tentu saja dalam suatu jumlah yang masuk di akal), tidak bakal membuat harga kemudian berfluktuasi terlalu tajam.  Sebuah definisi yang sebenarnya sedikit berbeda dengan definisi yang pertama.

Penjelasan lebih lanjut, bisa dilihat dalam kasus berikut ini:

Ada dua buah saham, sebut saja saham PT AAAA dan PT BBBB.  Posisi antrian penawaran beli (bid) dan posisi penawaran jual (offer) dari saham- saham tersebut dapat dilihat pada dua buah tabel dibawah ini:

Kemudahan untuk diperbelijualkan dengan tanpa mengalami pergerakan harga yang berarti, bisa dilihat pada contoh dua saham pada gambar diatas.  Gambar diatas adalah gambar dari posisi antrian beli (bid) dan antrian jual (offer) dari dua buah saham.  Kolom Bid Vol (paling kiri) adalah jumlah volume antrian beli yang terdapat pada sebuah harga. Kolom Bid (kedua dari kiri) adalah harga dari saham.  Kolom pertama dan kolom kedua ini dibaca sebagai berikut: Jumlah volume yang melakukan antri beli di harga 5550 adalah sebanyak 1872 lot, antrian beli di harga 5500 adalah sebanyak 3484 lot, dan antrian beli di harga 5450 ada 1020 lot, dst.  Kolom ketiga dan keempat merupakan kolom yang berisi antrian jual.  Jadi, antrian jual untuk harga 5600 adalah sebanyak 861 lot, antrian jual di harga 5650 adalah sebanyak 2730 lot, dst.  Tabel di sebelah kanan adalah saham kedua.  Pada saham kedua ini, posisi antrian beli dan antrian jual terlihat tidak sebanyak saham yang pertama.  Antrian beli di harga 6600 ada 4 lot, 6400 ada 20 lot, 6350 ada 2 lot, dst.  Demikian juga antrian jualnya: di 6700 hanya ada 1 lot, di 6750 ada 1 lot, 6800 ada 2 lot, dst.

Sekarang begini: suatu saham dikatakan likuid apabila pada saat seorang pemodal melakukan posisi beli atau posisi jual, harga tidak mengalami perubahan yang berarti.  Misalnya, ada seorang pemodal.  Sebut saja pak Abdul.  Pak Abdul ingim membeli saham dengan dana Rp 250juta yang dimilikinya.  Pak Abdul orang yang tidak sabaran, sehingga dia ingin agar ordernya segera terpenuhi saat itu juga.  Tidak perduli berapapun harganya.  Begitu kata pak Abdul.  Jika pak Abdul melakukan posisi beli pada saham pertama, maka dia bisa melakukan transaksi dengan leluasa.  Beli dan jual, tidak akan membuat harga mengalami pergerakan harga yang signifikan.  Jika pak Abdul akan melakukan posisi Beli di harga pasar (pada posisi offer), maka transaksi akan segera terjadi di harga 5600 sebanyak 89 lot.  Transaksi tersebut tidak akan membuat harga mengalami perubahan.  Demikian jika ternyata pak Abdul sudah memiliki saham PT AAAA sebanyak 89 lot, dan ia ingin melakukan posisi jual, maka posisi jual tersebut bisa dilakukan langsung pada satu harga, yaitu di harga 5550. Akan tetapi, jika pak Abdul kemudian melakukan posisi beli dan/atau posisi jual pada saham yang kedua, maka akan terlihat bahwa harga langsung mengalami pergerakan.  Jika pak Abdul memaksakan untuk melakukan posisi beli dalam satu kali ‘enter’ (satu kali order beli), maka dengan mudahnya pak Abdul akan menaikkan harga saham kedua , dari harga pasar saat ini (Rp 6600), menjadi Rp6900.  Itupun pak Abdul belum menghabiskan uang yang dia miliki!  Kondisi yang sama, juga telihat ketika pak Abdul akan melakukan posisi jual.  Sekiranya pak Abdul memiliki saham PT BBBB sebanyak 75 lot dengan nilai total sebesar Rp 250 juta, maka jika pak Abdul akan memaksakan jual dalam sekali order jual, maka harga saham itu akan langsung jatuh, mengalami penurunan tajam.

Transaksi yang mengandung Gharar adalah transaksi yang mengandung tipuan atau bisa juga transaksi yang dilakukan dengan tujuan untuk merugikan orang lain.  Dalam bukunya: Bursa Efek & Investasi Syariah, Muhammad Nafik HR menjelaskan lebih lanjut bahwa salah satu wujud dari gharar adalah menjual dan membeli sekuritas yang harganya jauh lebih tinggi dari harga pasar dengan tujuan mempermainkan harga demi meraih keuntungan yang tidak wajar.  Transaksi pada saham-saham yang memilki likuiditas kecil sangat memungkinkan untuk terjadinya hal-hal seperti ini.  Harga bisa bergerak dengan liar, dengan volatilitas yang sangat tinggi, sehingga harga benar-benar jauh dari kewajaran.  Terlebih lagi, saham-saham seperti ini, sering kali pemicu pergerakan harganya hanya berupa issue atau rumor.  Bukan kondisi riil dari kinerja perusahaan.  Sudah begitu, ketika volumenya sedang ada, harga saham bisa bergerak dengan liar.  Akan tetapi, ketika volumenya hilang, harga saham bisa benar-benar diam, tidak bergerak.  Posisi penawaran beli dan penawaran jualnya juga ikut menghilang.  Pemodal yang sudah terlanjur melakukan posisi beli dalam jumlah yang besar, akan seperti berasa masuk perangkap.  Mau ditahan, ternyata kondisi fundamentalnya tidak jelas, berubah-ubah, atau tidak sesuai dengan harapan.  Mau dijual tidak ada yang melakukan penawaran beli, atau setidaknya posisi bid beli yang ada tidak mencukupi jika harus melakukan likuidiasi posisi dalam waktu singkat.   Harga bisa langsung turun 10% atau lebih jika kemudian pemodal ini memaksakan untuk melakukan posisi jual.  Masih adakah keraguan di benak anda bahwa transaksi di saham-saham seperti ini tidak termasuk dalam transaksi berkategori Gharar? Belum lagi nih, kalau melihat melihat saham-saham seperti itu kemudian bergerak harga dengan volatilitas yang sangat tinggi, kisaran harga yang sangat lebar.  Sebagian orang bilang kalau model pergerakan harga seperti ini ibarat ‘roller coaster’.  Menurut pendapat pribadi saya sih, orang yang bermain dalam ‘roller coaster’ seperti ini, benar-benar melakukan apa yang disebut orang sebagai “JUDI”!!!

Saham-saham likuditas rendah dalam ISSI

Tidak lama berselang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa transaksi saham di Bursa Efek Indonesia adalah halal.  Tidak lama setelah itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian mengeluarkan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).  Berbeda dengan Jakarta Islamic Index (JII) yang mengikut sertakan unsure ‘likuiditas’ dalam pemilihan saham-saham yang tergabung ke dalamnya, ISSI memuat semua saham yang masuk kriteria syariah, yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.    Saya melihat permasalah likuiditas yang dialami oleh beberapa saham yang tergabung dalam ISSI ini.  Permasalah tersebut bisa digolongkan menjadi beberapa kriteria yang saya lihat bisa dipakai sebagai patokan atau ciri-ciri dari saham yang memiliki likuditas rendah:

  • Kriteria 1: Saham tersebut hingga posisi bid ke kesepuluh memiliki total volume bid kurang dari 100 lot,
  • Kriteria 2: Saham yang memiliki posisi bid beli yang kurang dari 10 level harga, tapi dengan volume bid kurang dari 1000 lot,
  • Kriteria 3: Saham yang sama sekali tidak memiliki posisi bid, tidak ada orang yang mau menawar beli saham itu.
  • Kriteria 4: Saham yang berada pada batas bawah pergerakan harga (saham yang harganya Rp50)
  • Kriteria 5: Saham yang tidak jelas (tidak memiliki bid atau offer sama sekali dengan alasan apapun).

Mengingat Kriteria 1 dan Kriteria 2 memiliki beberapa saham yang sama, maka saya kemudian menggabungkan kedua kriteria tersebut menjadi ‘Kriteria 1’ atau ‘Kriteria 2’, menjadi ‘Kriteria 1 atau 2’.  Dari situ kemudian saya mengadakan ‘purposive sampling’ terhadap bid/offer dari  214 saham yang tergabung pada ISSI, berdasarkan posisi terakhir pada penutupan bursa tangga 8 Juli kemarin.  Hasilnya memang membuat saya sendiri terkejut.

Pada tabel diatas kita dapat melihat bahwa secara keseluruhan, hampir setengah dari saham yang terdapat pada ISSI (43.0%) ternyata mengalami masalah likuiditas. Kalau melihat permasalah standar, yaitu masalah likuditas yang memang kurang, entah karena kurangnya minat pelaku pasar terhadap saham tersebut (Kriteria 1 atau Kriteria 2), atau karena saham tersebut memang sudah berada pada batas bawah dari pergerakan harga (Kriteria 5), ternyata jumlah totalnya sudah mencapai 27.1%.  Kalau dilihat dari ‘kriteria yang paling jahat’, yaitu jumlah dari saham-saham yang pada hari itu benar-benar tidak memiliki posisi bid beli (Kriteria 3), jumlahnya sebenarnya tidak terlalu besar: hanya 13 emiten (6.1%).  Orang-orang yang sudah melakukan posisi beli pada saham-saham itu, seakan-akan sudah terperangkap karena tidak ada orang lain lagi yang menginginkan untuk membeli saham tersebut.  Selain itu, hal lain yang menjadi perhatian saya adalah bahwa saham-saham Syariah yang ‘tidak jelas’ (tidak memiliki bid/offer dengan alasan apapun juga), ternyata mencapai hampir 10% dari keseluruhan saham ISSI.

Penutup

Permasalahan Halal dan Haram adalah sebuah keputusan yang diputuskan oleh mereka yang kompeten dalam bidang ini.  Karena saya adalah orang yang kalau dipandang dari sudut agama termasuk dalam golongan orang yang awam (itu juga yang membuat saya tadi pagi ingin menempuh pendidikan Magister di bidang Ekonomi Syariah, tapi sepertinya saya harus mencari alternatif lain karena ternyata pendaftaran untuk program ini di MM-UI sudah ditutup.. hiks), maka dari awal, dari judul tulisan ini, saya juga sudah menuliskannya sebagai ‘sebuah tinjauan awam’.   Akan tetapi, sebagai orang yang sudah lebih dari 10 tahun menyaksikan orang yang jatuh bangun dalam melakukan investasi di saham, saya tahu benar apa itu artinya resiko.  Dan karena saya mendefinisikan’resiko yang tersembunyi dan siap menerkam’ dan juga ‘resiko yang terlalu tinggi’ sebagai ‘JUDI’, maka tulisan ini kemudian saya tulis.  Jika ternyata sudut pandang saya salah, semoga Alloh SWT memaafkan semua dosa-dosa yang sudah saya perbuat.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wa Barokatuh

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags: