Archive

Archive for June, 2011

Keputusan yang harus diambil oleh seorang Pemodal Pemula (Newbies)

June 29th, 2011 10 comments

Selamat siang…

Ketika acara Market Outlook Bulanan di Universal Broker hari Sabtu lalu, seorang peserta mendatangi saya dan bertanya:

Pak… saya seorang newbies (pemodal pemula) yang baru saja melakukan transaksi (beli/jual) saham dalam beberapa bulan terakhir. Karena tidak tahu dimana harus memulai, saya hanya melihat running trade, mencari saham yang menarik, terus masuk (beli) berdasarkan dengan feeling. Ada yang untung sih pak… tapi lebih banyak yang nyangkut. Sebenarnya… apa sih yang harus dilakukan oleh pemodal pemula seperti saya?

Bullish market selalu mengundang pemodal-pemodal baru untuk ikut ‘berpesta’ didalamnya. Ketika bullish market, kabar-kabar mengenai mudahnya mencari duit di pasar modal memang membuat semua orang ingin nimbrung didalamnya. Mau yang pedagang, karyawan, ibu rumah tangga, bahkan pelajar, semua mencoba untuk meraih kentungan dengan bertransaksi saham. Sebagian memang cukup beruntung untuk bisa meraup keuntungan. Sebagian pulang dengan impas atau hanya rugi sedikit, sebagian lagi pulang dengan kerugian habis-habisan. Sudah rugi, ada hutang pula. Itu kondisi terburuk yang bisa terjadi pada seorang pemodal.

Kembali ke pertanyaan yang tadi deh…. Setelah memutuskan untuk melakukan keputusan untuk transaksi saham, setelah kita memutuskan untuk transaksi online atau melalui broker, setelah kita memutuskan untuk melakukan transaksi melalui broker yang mana. Keputusan penting apa lagi yang harus dilakukan oleh seorang pemodal pemula agar bisa ‘selamat’ dari hingar bingar bursa saham ini? Menurut saya, ada tiga buah keputusan penting yang harus diambil oleh seorang pemodal pemula:

  • Pertama: Anda harus memutuskan untuk Trading atau Investasi

Trading itu berbeda dengan investasi. Investasi itu berbeda dengan trading. Maafkan saya karena saya mungkin terlalu sering mengingatkan anda mengenai hal ini. Tapi bener kok…

kesalahan dasar karena tidak tahu perbedaan antara trading dengan investasi ini adalah ‘predator’ atau ‘pembunuh’ pemodal pemula yang paling banyak memakan korban.

Contoh klasiknya adalah masalah ‘investasi emas’ yang beberapa waktu lalu sempat marak dibicarakan orang. Bagi anda yang tertarik dan kemudian langsung membeli emas lantakan, mungkin anda tidak banyak mengalami masalah. Akan tetapi, jika anda kemudian melakukan ‘investasi’ dengan ‘membeli emas di bursa berjangka’. Bisa jadi anda ‘sempat’ mengalami masalah. Membeli emas di bursa berjangka adalah sebuah posisi margin. Kalau anda membeli emas ketika harga berada di titik tertinggi dan kemudian harga emas kemudian turun hingga titik terendahnya beberapa minggu lalu. Anda mungkin bisa merasakan ‘debaran jantung’ karena melakukan posisi yang sebenarnya diluar kemampuan anda. Kondisi serupa juga akan anda alami jika anda membeli saham dengan posisi margin (dana yang dipinjamkan oleh perusahaan sekuritas). Bukannya saya melarang, tapi anda harus selalu ingat:

Setiap posisi margin adalah posisi trading…

kecuali jika anda memang memiliki dana yang cukup untuk menebus (membayar penuh) atas posisi beli yang sudah anda buat.

Anda juga bisa menemukan dalam tulisan saya tadi, bahwa dengan mengetahui perbedaan antara trading dengan investasi, maka anda sudah memiliki perbedaan dalam hal:

  • Jangka waktu investasi
  • Sumber dari keuntungan
  • Alat analisis (analisis fundamental, analisis teknikal, atau analisis-analisis lainnya)
  • Tujuan dalam melakukan transaksi,
  • dan masih banyak lagi.

Anda bahkan sudah mengetahui bagaimana perlakuan yang harus dilakukan atas posisi nyangkut (apakah harus di cut loss, average down, atau harus diapakan). bagaimana sudut pandang anda mengenai IPO, dan masih banyak lagi.

Intinya:

kalau anda sudah mengerti aturan dasar dalam bertransaksi, yang pertama kali anda harus ketahui adalah perbedaan antara trading dan investasi.

It will saves a lot of life. I tell you lah… (pake logat Indihe.. hehehe)

Pengetahuan mengenai kondisi dari medan peperangan adalah salah satu kunci dari kemenangan. Dalam melakukan investasi atau trading di pasar modal, saham-saham yang ada di bursa adalah medan peperangannya.

Mengetahui bahwa saham itu adalah saham yang berfundamental, ataukah saham itu adalah saham non- fundamental, adalah salah satu kunci dalam memperoleh keuntungan.

Mengetahui hal ini, akan membedakan strategi dasar yang akan anda lakukan: apakah anda akan trading, apakah anda akan investasi, apakah anda mau menggunakan margin, apakah anda perlu cut loss, dan lain sebagainya.

It solves a lot of things… I tell you lah….

  • Ketiga: Keputusan untuk melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan pendapat sendiri atau pendapat orang lain

Take my good advice:

ketika anda berkeinginan untuk melakukan posisi investasi/trading berdasarkan pendapat orang lain, BELILAH REKSADANA!!!

Ketika melakukan transaksi beli dan jual saham, semua resiko ada ditangan anda. Tidak ada satu orang lainpun yang bersedia menanggung kerugian atas keputusan transaksi yang anda lakukan. Itulah sebabnya, setiap keputusan bertransaksi harus dibuat berdasarkan prediksi dan pertimbangan anda sendiri. ketika anda melakukan positioning berdasarkan prediksi orang lain, anda terekspos terhadap resiko-resiko yang tidak anda inginkan, seperti misalnya, resiko subyektifitas pemberi rekomendasi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Intinya:

Bertransaksilah dengan menggunakan pendapat dan prediksi anda sendiri. Gunakan pendapat / prediksi orang lain sabagai pertimbangan.

It’s less complicated I tell you laah…..

Bursa itu seperti sebuah api unggun yang sangat besar, yang menyala ditengah kegelapan malam. Api unggun yang selalu membutuhkan kayu bakar untuk tetap menyala. Api unggun yang selalu memancing minat dari semua yang melihatnya untuk mendekat. Manusia, serangga, binatang pemangsa, untuk selalu mendekat. Apakah anda adalah sepotong kayu bakar yang menjadi bara didalamnya? Apakah anda adalah serangga yang terbakar oleh nyala api ketika anda mendekat? Apakah anda adalah binatang kecil mendekat dan kemudian dimangsa oleh binatang pemangsa yang tengah menunggu kedatangan anda di sekitar api unggun tersebut? Apakah anda adalah seorang manusia ceroboh yang kemudian juga ikut dimangsa oleh binatang pemangsa yang tengah menunggu? Apakah anda adalah seorang manusia rasional yang mendekati api unggun tersebut dengan kewaspadaan? Semua adalah pilihan yang tersedia untuk anda. Yang tidak boleh anda lupa adalah: The name of the game is survival. Menjadi seorang pemenang dengan menjadi predator yang berada di tingkat teratas dari rantai makanan, yang bisa menikmati keuntungan luar biasa dari bertransaksi saham, memang sangat nikmat. Akan tetapi, menjadi seorang, survivor yang bisa keluar dari pertarungan dalam kondisi hidup, menjadi seorang pemodal yang bisa memperoleh keuntungan dari bertransaksi saham, sebenarnya juga sudah cukup. Karena jumlah mereka yang hangus, keluar dari bursa dalam kondisi rugi, jumlahnya jauh lebih banyak.

Happy trading…. semoga untung!!!

Satrio Utomo

Market Outlook Agustus 2011

June 27th, 2011 No comments

market outlook agustus 2011

Categories: Uncategorized Tags:

Mewaspadai ‘Subyektifitas’ seorang ‘Rekomendator’

June 27th, 2011 No comments

Selamat siang…

Jika anda rajin mengamati ulasan yang saya berikan pada weblog saya, www.rencanatrading.com, anda pasti sudah mulai melihat bahwa fokus rekomendasi saya sudah mulai bergerak, dari saham-saham lapis pertama (ASII, GGRM, dan ITMG), kepada saham-saham lapis kedua (UNVR, BBNI, MEDC, TINS, atau INCO).  Rekomendasi saya adalah rekomendasi yang berbasis pada analisis teknikal.  Artinya: jika setelah saya memberikan rekomendasi, ternyata harga bukannya bergerak naik tapi malah terdapat suport yang ditembus, berarti anda bisa langsung memberikan vonis bahwa rekomendasi saya salah.  Dengan kata lain: jika anda mengikuti rekomendasi saya dan anda sudah mempersiapkan trading plan dengan menggunakan stoploss dengan sebuah suport tertentu, berarti itu adalah saatnya anda melakukan apa yang sebaiknya anda lakukan.

Seorang analis selalu berusaha melakukan rekomendasi berdasarkan apa yang menurutnya terbaik.  Dalam melakukan rekomendasi, seorang analis haruslah obyektif.  Tidak ada kepentingan lain selain kepentingan untuk memberikan wawasan kepada orang-orang yang mengikuti rekomendasinya.  Tidak ada unsur-unsur subyektifitas.  Akan tetapi… anda sebagai seorang pengguna… (hehehe) tetap saja anda harus menyadari bahwa analis bukalah seorang malaikat.  Terkadang (atau bahkan sering kali)… analisis memasukkan unsur-unsur subyektifitas dalam rekomendasinya.  Entah karena itu adalah perintah atasan langsungnya, perintah direksinya, perintah pemilik perusahaan, permintaan sales atau Head of Equity, atau permintaan orang orang disekitarnya (teman, istri, dll).  Atau bisa juga karena analis itu memang memiliki posisi.  Sebagai contoh: coba anda mencari riset yang dibuat oleh analis yang memuat komentar mengenai perusahaan yang baru saja IPO.  Pernahkan anda melihat analis yang secara terang-terangan memberikan rekomendasi ‘JUAL’ atau ‘Jangan BELI’?  Tentu saja sangat sulit untuk ditemui.

Itu tadi baru analis.  Orang yang dibayar secara profesional untuk memberikan rekomendasi.  Padahal, belakangan ‘pemberi rekomendasi’, saya menyebutknya sebagai ‘rekomendator’ seperti ini, tidak hanya terbatas pada orang-orang yang berprofesi sebagai seorang analis.  Tidak hanya terbatas pada orang yang bekerja pada sebuah perusahaan sekuritas malahan.    Sekarang, semua orang boleh memberikan rekomendasi.  Tidak adanya aturan yang tegas mengenai masalah ‘rekomendasi’ ini, membuat semua orang boleh memberikan rekomendasi.  Mau trader, investor, pemilik perusahaan, emiten, wartawan, dsb.  Atau bahkan orang-orang yang tidak ada hubungan dengan pasar modal, seperti polisi lalu lintas, penyeberang jalan, anak ingusan, dll.  Saluran komunikasinya juga jauh lebih banyak.  Kalau dulu, saluran rekomendasinya mungkin hanya melalui surat, email, milis (mail list) atau fax.   Tapi sekarang, sudah ada Facebook, blog, Twitter, dan lain sebagainya.  Sudah begitu, sebagian memang masih cukup sopan dengan menggunakan identitas aslinya.  Tapi, sebagian besar, hanya menggunakan nama-nama alias yang dengan mudahnya bisa berubah-ubah setiap hari.  Indonesia memang negara bebas.  Semua orang boleh memberikan rekomendasi saham.

Dalam kebebasan ini, masalah obyektifitas rekomendasi ini juga semakin menjadi pertanyaan.  Kalau seorang analis ‘subyektif’, mungkin anda dengan mudah mengadukannya kepada orang yang mempekerjakannya.  Tapi kalau seorang ‘rekomendator non-analis’ bertindak secara subyektif (apalagi kalau rekomendator tersebut tidak menggunakan nama aslinya/orangnya tidak jelas).  Anda mau minta mengadu kepada siapa kalau ‘termakan’ oleh rekomendasinya?

Melakukan sebuah transaksi beli atau jual saham dengan berdasarkan pada prediksi orang lain adalah sebuah tindakan yang sangat beresiko.  Bagi saya, itu sama saja meletakkan uang yang sudah anda peroleh dengan susah payah, kepada sesuatu yang sangat tidak jelas.  Ok lah kalau benar, anda bisa memperoleh keuntungan.  Akan tetapi, jika ternyata salah, dan kemudian berarti anda mengalami kerugian, maka anda tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, terutama diri anda sendiri!  Diri anda yang sudah cukup bodoh untuk mempercayai orang lain!  Hebat kan?

Mendeteksi Subyektifitas seorang Rekomendator

Sebenarnya ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi subyektifitas (atau setidaknya ada atau tidaknya potensi terjadinya subyektifitas) atas rekomendasi yang diberikan seorang rekomendator.   Ada banyak cara sih… tapi dari pengamatan saya, cara-cara yang paling sering atau paling mudah untuk ditemui adalah sebagai berikut:

1.  Rekomendator tersebut menyatakan bahwa dirinya memiliki posisi.

Susah memang menjadi seorang rekomendator.  Kalau gak punya posisi, orang juga terkadang sulit untuk bisa percaya.  Tapi kalau punya posisi, bisa dituduh subyektif.  Tapi cara ini memang cara yang paling mudah untuk menilai obyektifitas seorang rekomendator.   Tapi tetap saja, jika rekomendator ini ternyata hanya memiliki posisi terlalu sedikit, maka kemungkinan bahwa rekomendasinya juga sulit untuk diandalkan.  Anda tetap saja membutuhkan waktu untuk bisa melihat obyektifitas seorang rekomendator jika dia memiliki posisi.

2.  Rekomentator dengan nama samaran

Jika anda menggunakan nama samaran, apa susahnya sih mengganti nama samaran yang anda pakai dengan nama samaran lagi yang lain di kemudian hari?

3. Rekomentor yang fokus pada saham-saham non-fundamental.

Anda mungkin sudah membaca pada tulisan saya sebelumnya, mengenai perbedaan antara saham fundamental dan saham non-fundamental. Ada sebagian rekomendator yang hanya fokus pada saham-saham fundamental. Ada yang berada ditengah-tengah. Sebagian fundamental, sebagian lagi non fundamental. Tapi ada juga rekomendator yang fokus pada saham ‘non fundamental’. Nah… rekomendator yang kemungkinan besar ‘terganggu objektifitasnya’ adalah mereka yang memfokuskan diri pada saham-saham non-fundamental. Maklum saja… saham non fundamental itu memang tidak memiliki ‘pembeli tradisional’ yang terus melakukan posisi beli. Maklum, tidak adanya analis fundamental yang memang pekerjaannya mengamat-amati dan memberikan rekomendasi saham tersebut, menjadikan volumenya transaksinya hanya bisa meningkat jika ada orang yang memberikan rekomendasi beli. Itu sebabnya, sebuah emiten (atau bisa saja market maker dari saham tersebut), meminta kepada seorang rekomendator untuk memberikan rekomendasi dengan kompensasi-kompensasi tertentu. Nah.. kalau sudah ada kompensasinya begini… apakah rekomendator tersebut bakalan obyektif? Sulit bukan?

4.  Rekomendator yang mengubah alat prediksi sejalan dengan berubahnya arah pergerakan harga

Anda mungkin sudah pernah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya bahwa ‘Trading berbeda dengan investasi’. Anda harus memilih salah satu diantaranya karena anda tidak bisa melakukan keduanya. Jika anda tidak disiplin, maka market akan menelan anda, cepat atau lambat. Hal ini yang juga bisa anda cermati pada seorang rekomendator. Seorang anda boleh mencurigai objektifitas dari seorang rekomendator, jika rekomendator ini berubah alat prediksinya, yang tadinya menggunakan alat prediksi teknikal (karena dia menyarankan untuk posisi trading), tapi kemudian berubah menjadi alat prediksi fundamental (menyarankan posisi nyangkut anda, menjadi posisi investasi). “Beli pak… beli… Secara teknikal bagus… bla… bla… bla…”. Tapi ketika sudah nyangkut, dengan santainya rekomendator ini bilang: “Tenang aja pak… kan P/E-nya rendah… Nanti kan ada corporate action ABCD…” atau… “Bentar lagi kan dividen pak…” atau… “Bandarnya aja belum keluar pak…” dll, dsb. Awalnya rekomendasi untuk posisi trading, setelah nyangkut, rekomendasinya berubah menjadi rekomendasi investasi.

Dan masih banyak lagi. Intinya: saham itu pada dasarnya adalah selembar kertas yang diberi tanda, kemudian dijual di pasar modal. Pada emiten yang bagus (yang memang cari duit dengan mengharapkan bantuan dari duit anda), mereka akan melakukannya dengan cara-cara yang benar. Akan tetapi, pada pengelola modal yang memang tahu bahwa saham yang ada ditangannya hanyalah selembar kertas, mereka akan berusaha dengan sangat keras untuk menukarkan kertas yang ada ditangan mereka, dengan uang yang ada di tangan anda.

So… saya tidak akan bosan-bosannya mengulang saran ini kepada anda semua:

Bertransaksilah dengan menggunakan prediksi anda sendiri!!!  Gunakan prediksi orang lain hanya sebagai pembanding!!!  Itu karena ketika anda harus menghadapi kerugian, anda harus menghadapinya sendiri!  Orang lain tidak akan mau bertanggung jawab terhadap kebodohan yang anda lakukan!!!

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Ketika anda sedang tidak ‘Terbuai’*

June 20th, 2011 4 comments

Selamat siang…

Bullish market itu memang nikmat. Memabukkan.  Harga bergerak naik, banyak orang yang untung, banyak orang yang bergembira. Investasi atau trading, tidak ada bedanya. Saham blue chip atau bukan; lapis pertama, kedua, atau ketiga; saham fundamental atau non-fundamental, seakan tidak ada bedanya. Pemodal melakukan posisi beli atau jual. Beli, beli, dan beli. Dan ketika harga kemudian bergerak turun setelah pemodal tersebut membeli, maka dengan ringannya pemodal itu berkata: tahan aja deh, nanti kan juga naik lagi. Langkah yang sebenarnya adalah sebuah perlambang dari ketidakdisiplinan ini, sering kali malah berbuah manis. Ketika orang-orang yang disiplin cut loss terpaksa menelan kerugiannya, orang-orang yang tidak disiplin ini malah bisa meraup untung karena tak lama kemudian, harga kembali ke atas harga belinya. Beruntung. Bullish market memang tempat dimana orang yang beruntung bisa memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar, dibandingkan dengan orang yang berusaha untuk melakukan langkah yang smart.

Ketika market bullish, pemodal sering kali menurunkan kewaspadaannya. Transaksi tanpa trading plan, transaksi diluar saham-saham yang ada pada trading plan, transaksi margin, transaksi overlimit, transaksi berdasarkan info-info asal yang gak jelas juntrungannya, bahkan hingga melakukan transaksi dengan menggantungkan resikonya kepada orang lain (berdasarkan petunjuk dari orang lain).  ‘Terserah elu aja deh beli apa, saya ikutan’, atau ‘terserah rumornya apa deh… saya mau ikutan’. Padahal sebenarnya, kemampuannya untuk memprediksi sendiri sebenarnya juga sudah cukup bagus. Tapi karena marketnya adalah market yang didrive oleh sentimen (dan pemodal ini juga tidak mau ketinggalan), akhirnya dia memutuskan untuk trading hanya berdasarkan ‘info’. Orang bilang: Lupakan kolesterol deh… semakin digoreng, itu yang paling enak. Kalau perlu, memanfaatkan daftar UMA (saham yang masuk pengawasan BEI karena terjadinya pergerakan yang tidak biasa) dari BEI sebagai radar untuk mencari saham yang ‘baru bergerak’, memanfaatkan UMA sebagai signal beli. Saham yang dulu dicaci maki karena sudah menimbulkan banyak sekali pemodal bangkrut, malah diburu. Orang seakan melupakan ‘dosa masa lampau’. Yang penting untung, begitu katanya.

Satu hal yang selalu saya ingat dalam 10 tahun karir saya di pasar modal adalah: harga tidak selamanya bergerak naik. Ada suatu masa dimana orang diberi peringatan. Peringatan ini berupa koreksi-koreksi kecil. Koreksi 10% – 20% dari IHSG, itu masih biasa. Koreksi-koreksi ini sebenarnya adalah pengingat bagi mereka yang lupa, pengingat bagi mereka yang terbuai. Hantamannya sih tidak telak. Bagi orang yang belum menggunakan fasilitas margin, atau bisa jadi mengunakan fasilitas margin tapi baru sedikit, biasanya koreksi ini hanya akan membuat mereka terdiam karena nyangkut. Tapi, kalau untuk orang-orang yang sudah benar-benar lupa diri, orang-orang dengan posisi margin penuh dengan rasio diatas 50% ketika trend turun baru mulai berlangsung, hantamannya memang bisa jadi cukup telak.   Bisa jadi mereka terpaksa melakukan injeksi dana jika tidak kepingin posisinya kena forced sell.

Koreksi kecil sebesar 10% – 20% adalah sebuah koreksi yang wajar.  Sekedar mengingatkan bahwa harga bisa saja bergerak turun.  Atau sebagai pengingat juga: jika misalnya market crash, terkoreksi 30%, 50% atau lebih, apakah anda sudah siap?  Apakah anda sudah menerapkan strategi yang benar?  Apakah anda sudah trading dengan bertanggung jawab?  Koreksi kecil seperti ini, hanya membuat anda sedikit terbangun dari buaian anda.

Checklist ketika ‘bangun dari buaian bull market’

Apa yang anda lakukan ketika anda bangun dari tidur?  Bangun tidur ku terus mandi? Bangun tidur ku terus bersyukur?  Yang sering sih, setelah bangun, kita melakukan reality check dulu.  Eh… Gua lagi dimana nih? Sekarang jam berapa? Habis ini gua ngapain ya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan yang biasanya pertama kali muncul sebelum kita memulai rutinitas kita.

Ketika trading, sebaiknya anda juga melakukan hal yang sama.  Ketika trend berubah menjadi turun seperti ini, ada beberapa hal standar yang sebaiknya menjadi pengingat

  • Sudahkah anda mengetahui perbedaan antara trading dan investasi?
  • Apakah anda sudah memilih salah satu diantaranya?
  • Saham apa saja yang berada di dalam portfolio anda?
  • Masih ingatkah anda, mengapa anda membeli saham tersebut?  Masihkah anda merasa bahwa alasan tersebut masuk di akal? Atau anda sekarang sudah memiliki cerita yang baru?
  • Sudahkah anda memiliki portfolio seperti yang anda rencanakan?
  • Bagaimana kualitas prediksi anda?
  • Bagaimana kualitas dari positioning anda?
  • Apakah anda sedang dalam posisi untung atau rugi?
  • Sudahkah anda tahu penyebabnya mengapa anda mengalami keuntungan atau kerugian?

Intinya adalah: koreksi seperti sekarang ini, adalah saat bagi kita untuk melakukan refleksi.  Kita mencoba bercermin untuk melihat, apa yang sudah saya kita lakukan.  Kalau sudah benar berarti tinggal diteruskan.  Kalau memang masih ada yang salah, ya berarti memang masih harus diperbaiki.

Penutup

Bullish market itu memang tempatnya orang lupa.  Akhir dari bullish market adalah tempat bagi orang untuk waspada, karena nasib anda di akhir dari bearish market, akan ditentukan oleh bagaimana reaksi anda ketika trend naik sedang berakhir.  Jika anda melihat bahwa koreksi ini hanya konsolidasi sementara, maka anda bisa memanfaatkan koreksi ini sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih murah.  Akan tetapi, kalau koreksi ini ternyata adalah awal dari sebuah trend turun jangka panjang, berarti anda memang harus mempersiapkan ‘langkah-langkah yang diangap perlu’ untuk mengamankan ekuitas anda.

Dari 10 tahun lebih pengalaman saya di pasar modal, saya sudah sangat sering melihat pemodal yang jatuh (rugi habis-habisan) hanya karena hal-hal yang sepele.  Hal-hal yang sederhana seperti:

  • Tidak tahu perbedaan antara trading dengan investasi
  • Overtrading (bertransaksi diluar batas kemampuannya)
  • Melakukan transaksi dengan tidak ada tujuan yang jelas
  • Transaksi bukan berdasarkan pada prediksi sendiri
  • Dan masih banyak lagi.

Saya tidak akan bosan untuk terus mengingatkan kepada anda akan hal-hal yang seperti ini, karena pemodal, sering kali melupakannya ketika market sedang berada dalam trend bullish.  Cape bo.. lihat orang bertransaksi dengan melupakan betapa susahnya dia memperoleh apa yang sudah dimilikinya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com


Selama Asing tidak ‘Cut Loss’*

June 14th, 2011 3 comments

Selamat siang…

Dana asingnya nyangkut.  Belum sepenuhnya nyangkut sih, karena average IHSG periode akhir Maret – pertengahan Mei 2011 lalu ketika aliran dana asing deras memasuki bursa, rata-rata IHSG ada di level 3725 – 3735.  Ketika itu, dana asing masuk hingga Rp 7 trilyun.  Padahal, kinerja 1Q2011 dari saham-saham Indonesia sebenarnya tidak bisa dibilang bagus.  Akan tetapi, karena dana asing terus masuk … IHSG terus bergerak naik.

Nah… sekarang begini… belakangan, saya banyak mendengar orang-orang yang memprediksikan IHSG akan crash.  Apakah benar IHSG akan crash?  Definisinya crash itu apa dulu?  Kalau saya sih… mendefinisikan crash sebagai koreksi diatas 50%… atau minimal 30% lah.. itu dikatakan sebagai crash.  Apakah IHSG akan turun 30%?  Saya bilang TIDAK !!! Minimal, hingga saat ini, peluangnya kecil sekali.  Anda bisa lihat deh… siapa yang bilang IHSG bakal crash?  Kalau crashnya nanti, setelah Juni – Juli… itu kita bicarakan nanti… tapi saya masih berpegang pada skenario bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak naik sekali lagi dalam trend naik ini (dengan peluang yang cukup besar bagi IHSG untuk mencetak rekor harga yang baru), sebelum kita memasuki masa konsolidasi. Anda bisa melihat garis biru pada gambar di bawah ini).

Jadi intinya: (kalau anda tradingnya di saham-saham big caps/blue chip) anda belum perlu untuk cut loss.  Yang anda harus lakukan adalah average down.  Exit hanya dilakukan ketika IHSG nanti naik mengejar wave ke 5.

Masalahnya tinggal: dimana bottom dari IHSG?

Anda bisa melihat gambar diatas:  Ada dua kisaran yang bisa menjadi bottom dari IHSG: 3690 – 3770.  Hingga saat ini, skenario yang saya pegang adalah skenario pertama tersebut. Ada skenario kedua sih, dimana IHSG mencapai bottomnya di 3550 – 3610, tapi sejauh ini, yang saya pegang tetap skenario yang pertama (lihat garis biru pada gambar diatas).  Setelah bottom ini, IHSG masih bisa naik lagi… semoga saja wave ke 5 ini panjangnya 240 poin seperti panjang dari wave pertama.  Tapi kalau misalnya lebih pendek dari itu, ya bisa saja… namanya juga wave ke 5.  Kalau ternyata truncated (kontet – lebih pendek dari yang diharapkan), itu masih normal… sesuai teori.

So… Saya tetap menganggap koreksi ini sebagai kesempatan untuk belanja.  Pilihan utama saya tetap pada ASII dan BBRI.  Kalau yang laen-laen (GGRM, BMRI, UNTR, INTP, dan ITMG), kita lihat deh… yang penting, kalau harga turun, perhatikan target dari price pattern atau suportnya (terutama retracement 50% dan 61.8%).  Lakukan entry jika harga sudah mencapai suport yang kuat.

Kalau ada analis yang bilang IHSG mau crash… Saya sebenarnya malah curiga sama orang-orang yang bilang bilang kalau IHSG mau crash.  Kalau ada orang bilang market mau crash, coba tanya rekomendasi dia untuk IHSG ketika bulan September – Desember 2010 (akhir tahun lalu).  Kalau mereka prediksinya IHSG 5000…. berarti mereka cuman orang-orang plin-plan yang cuman jadi kompor sana-sini.

Asingnya juga nyangkut.  Mereka banyak beli di bulan April-Mei 2011 lalu ketika IHSG berada di kisaran 3500-3600.  Kalau anda yakin bahwa IHSG crash.. berarti anda prediksi IHSG bisa turun dibawah 3000… prediksi bahwa asing akan cut loss… bahwa asing tidak percaya kalau kita akan masuk ke investment grade.

Hehehe… Plis deh!!!

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Outlook Tags: