Archive

Archive for May, 2011

Nyangkut*

May 16th, 2011 8 comments

Pengantar: Sayang banget tulisan ini tidak sempat saya upload minggu lalu. Tulisan ini adalah tulisan saya yang dimuat di harian Kontan Edisi Senin, 9 Mei 2011. Disitu ada pernyatan saya:

Akan tetapi, jika anda memiliki posisi yang nyangkut ketika krisis 2008, potensi kenaikan hingga kisaran 200-250 untuk ENRG (target dari triangle pattern), dan potensi kenaikan hingga 115 – 125 untuk DEWA (target dari flat range), menimbulkan harapan bagi mereka yang sempat nyangkut ketika Krisis 2008 lalu.

Semoga anda sempat membaca tulisan saya di harian Kontan tersebut. Semoga anda sudah bisa melepaskan posisi nyangkut anda di kedua saham ini…

Satu hal lagi: target dari ENRG sudah tercapai.  Artinya: ENRG sudah mencapai kisaran resisten.  Target atau resisten dari DEWA juga sudah tidak jauh lagi.  Selain itu, harga saham Vallar di bursa London minggu lalu terkoreksi sekitar 7.6%.  Waspadai aksi profit taking pada saham-saham tersebut.

_________________

Nyangkut adalah suatu keadaan dari seorang pemodal, dimana setelah pemodal melakukan posisi beli atas suatu saham, harga pasar terakhir dari saham tersebut, berada dibawah dari harga beli. Dalam bahasa kerennya, nyangkut ini disebut sebagai posisi yang ‘underwater’. Habis beli saham ternyata harganya turun, sedangkan kita tidak mau cut loss, disitu kita kena posisi ‘nyangkut’. Pemodal yang mengalami posisi nyangkut sering disebut sebagai ‘nyangkuters’.
Bagi seorang pelajar di pasar modal, nyangkut adalah sesuatu yang umum. Dikatakan umum karena hampir semua orang yang pernah membeli saham, pasti pernah memiliki posisi nyangkut. Padahal seharusnya tidak boleh seperti itu. Seorang trader tidak boleh memiliki posisi nyangkut, karena dengan memiliki posisi nyangkut, berarti trader itu adalah trader yang buruk. Tidak disiplin dalam melakukan cut loss atau tidak memiliki trading plan (rencana trading). Bagi seorang investor.. kalau cuman sekedar ‘posisi harga terakhir’ dibawah harga beli, sebenarnya itu adalah sesuatu yang wajar, karena investasi memiliki jangka waktu yang sangat panjang. Akan tetapi, jika anda mengaku diri anda sebagai investor dan anda memiliki posisi yang harga saat ini dibawah harga anda beli. Perhatikanlah kondisi fundamental dari perusahaan itu. Kalau ternyata saham yang anda miliki bukan merupakan saham yang memiliki kinerja fundamental yang bagus, berarti saya harus mengucapkan selamat kepada anda karena anda telah menjadi seorang ‘nyangkuters’.

Tahukah anda bahwa metode pencatatan yang dilakukan oleh seorang pemodal pada portfolio yang dimilikinya, bisa mengundang posisi nyangkut untuk jangka waktu yang sangat lama (bahkan mungkin terlalu lama)?
Begini.. Tidak mau rugi adalah sifat yang sangat manusiawi. Nah sekarang, karena kita ngomong dalam kerangka perdagangan, dalam hal ini perdagangan saham, maka .. ketika melakukan pencatatan atas beli – jual saham, seseorang pemodal (secara reflek) akan melakukan pencatatan dengan menggunakan ‘harga beli’. Masalahnya, ketika tujuan dari investasi adalah memperoleh keuntungan, maka seorang pemodal akan berusaha untuk melakukan posisi jual diatas harga ketika pemodal tersebut melakukan posisi beli. Ingat logika dasar : untung adalah ketika harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan harga beli.

Pencatatan dengan menggunakan harga beli ini baru masalah awalnya. Karena harga terus bergerak, seorang pemodal cenderung menghidari atau mengingkari kenyataan hidup bahwa dia telah salah melakukan posisi beli yang berakibat dengan posisi nyangkut tadi itu, dengan menggunakan administasi dengan sistem LIFO (Last In First Out). Agar bisa merasa ‘untung’, pemodal melakukan posisi jual dengan hitungan harga terakhir dia melakukan posisi beli (Last In First Out/LIFO). Sebagai contoh.. jika dulu pemodal melakukan posisi beli BUMI di harga 6000 sebanyak 10 lot.. harga bergerak turun, kemudian dia sempat melakukan posisi beli di harga 500 sebanyak 10 lot juga. Maka ketika harga naik di harga 1000, dan pemodal melakukan posisi jual sebanyak 10 lot, maka dia dengan bangga mencatatkan penjualan tersebut dengan prestasi: untung 100%. Dia sengaja mengingkari/melupakan fakta bahwa dia masih memiliki posisi BUMI dengan modal di harga 6000!!!

“Untuk membebaskan posisi nyangkut, cara pertama yang harus anda lakukan adalahmengubah cara administrasi anda dari pencatatan menggunakan cara LIFO (Last In First Out) menjadi pencatatan dengan menggunakan metode Average (rata-rata harga pembelian)”

Dengan metode rata-rata ini, anda bisa lebih mudah untuk membebaskan posisi nyangkut. Dalam kasus BUMI tadi misalnya.. jika Anda punya BUMI di harga 6000.. dan anda sempat melakukan posisi beli dalam jumlah yang sama ketika BUMI di harga 500 (harga rata-rata jadi 3250).. yah.. setidaknya anda bisa memiliki kesempatan untuk melakukan posisi jual belakangan harga saham BUMI sudah berada di kisaran harga Rp3000 – Rp 4000.

Average Down: Solusi atau Menambah Masalah?

Suka atau tidak suka, kita harus menerima bahwa posisi ‘nyangkut’ adalah posisi Investasi. Atau setidaknya, posisi trading yang telah dipaksakan untuk berubah menjadi posisi investasi. Sebagian orang kemudian ada yang membiarkan posisi nyangkut tersebut. Ah… tunggu harga kembali ke harga belinya sajalah. Cepat atau lambat, nanti kan juga kembali. Sebagian yang lain mencari langkah taktis agar bisa melepaskan diri dari posisi nyangkut ini. Satu langkah taktis yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan average down, menambah posisi beli dengan maksud agar harga rata-rata yang baru bisa lebih rendah dari harga pembelian sebelumnya. Nah.. average down ini ada pro dan kontranya. Pihak yang kontra dengan langkah average down ini adalah mereka yang berpendapat bahwa posisi nyangkut itu adalah sebuah posisi yang salah. Oleh karena itu, average down hanyalah menambah kesalahan, menambah masalah. Likuiditas bisa tersedot oleh langkah average down sehingga tidak memiliki lagi dana untuk trading. Pihak yang pro berpendapat bahwa average down itu adalah duit yang berhenti, duit yang terpenjara. Oleh karena itu, agar bisa ‘dibebaskan’, kita memang harus beli ketika harga sudah jauh lebih murah. Keuntungannya, kita tidak perlu menunggu harga kembali ke harga awal dimana kita beli. Cukup menunggu harga naik diatas harga rata-rata yang baru, kita sudah bisa lepas dari belenggu.

Enaknya average down atau tidak ya?
Ada yang bilang bahwa untuk membeli saham itu, harus dilihat kinerja perusahaannya. Jika kinerjanya buruk, buat apa saham itu dibeli. Jadi kalau anda nyangkutnya di saham yang fundamentalnya buruk, gak usah diapa-apain aja. Apapun yang anda lakukan, saya sih cenderung menyarankan anda untuk melihat arah pergerakan harga untuk jangka pendeknya jika anda mau melakukan langkah yang anda inginkan. Jika anda tidak mau melakukan average down, maka anda harus siap untuk ‘berinvestasi lebih lama lagi. Akan tetapi, jika anda ingin melakukan average down, perhatikan kisaran harga yang ‘memungkinkan’ untuk jangka pendeknya. Atur agar harga rata-rata yang baru bisa dibawah level tertinggi yang bisa dicapai untuk jangka pendeknya, dan anda tinggal menunggu. Bagi anda yang akrab dengan blog saya (satrio.blog.kontan.co.id), saya sudah pernah menawarkan solusi ini pada saham TLKM di awal bulan November lalu. Kalau anda mencari saham-saham yang belakangan bisa menjadi contoh aplikasi cara ini, anda bisa melihat grafik pergerakan harga dari ENRG dan DEWA. Memang sih, saham ini jauh lebih beresiko jika dibandingkan dengan TLKM. Terlebih lagi karena untuk jangka pendek, harga dari saham ini terlihat memiliki kecenderungan untuk mengalami ayunan turun dulu. Akan tetapi, jika anda memiliki posisi yang nyangkut ketika krisis 2008, potensi kenaikan hingga kisaran 200-250 untuk ENRG (target dari triangle pattern), dan potensi kenaikan hingga 115 – 125 untuk DEWA (target dari flat range), menimbulkan harapan bagi mereka yang sempat nyangkut ketika Krisis 2008 lalu. Apakah anda akan menambah posisi untuk average down jika ENRG berada di kisaran suport 140 – 150 dan DEWA di kisaran suport 75 – 80?

Nyangkut itu memang tidak enak. Terpenjara. Terlebih lagi, prediksi untuk saham-saham non-fundamental seperti ENRG dan DEWA, memang lebih sering kelirunya jika dibandingkan prediksi untuk saham-saham yang memiliki fundamental seperti TLKM. Artinya, jika anda melakukan average down kemudian harga tetap kembali diam, berarti anda malah menambah masalah, menambah posisi nyangkut. Akan tetapi, menurut saya, pertanyaannya adalah: Jika anda memiliki posisi nyangkut di kedua saham itu ketika Krisis 2008… Apakah anda akan menunggu hingga harga kembali ke harga beli anda? Atau cukup hingga ‘kisaran yang memungkinkan’ untuk jangka pendeknya?

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini. Terima kasih.

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Mencari angka ‘Konsensus Laba Bersih’*

May 11th, 2011 No comments

Selamat siang…

Tulisan saya mengenai bagaimana pengaruh angka konsensus analis terhadap pergerakan harga kemarin, ternyata memunculkan banyak tanggapan berupa pertanyaan: ‘Bagaimana cara mencari angka konsensus tersebut?’

Paling enak dan paling cepet sih… lihat di terminal Bloomberg. Sebagian besar sekuritas yang besar, memiliki fasilitas ini. Akan tetapi, buat investor retail, tentu akan susah untuk ikutan mendapatkannya karena tidak semua orang memiliki akses ke sebuah terminal Bloomberg. Lagian, kalau langganan sendiri, biaya langganan sebesar US$1700 per bulan jelas tidak ekonomis.

Solusinya: anda bisa menggunakan data konsensus yang didapat dari www.reuters.com.

Caranya begini:

1.  Kita masuk ke menu pencarian saham yang ada pada website Reuters.

2.  Masukkan kode saham yang ingin kita cari ke kolom pencarian.  Dalam contoh dibawah, saya mencoba mencari angka konsensus Net Income untuk BMRI.  Ingat!  Reuters menggunakan penandaan yang agak berbeda untuk kode saham di Bursa Saham Indonesia, yaitu dengan menambahkan kode ‘.JK’ pada setiap saham.  Jika kita ingin mencari saham BMRI, berarti kita memasukkan kode sahamnya sebagai BMRI.JK

3.  Pencarian kita sudah menemukan halaman BMRI.  Klik kode saham yang tadi anda cari untuk masuk ke halaman detail.

3.  Kita kemudian masuk lebih dalam ke halaman ‘Analyst’

4.  Halaman ‘Analyst’ ini berisi analisis yang lebih dalam mengenai saham BMRI.  Kita bisa scroll ke bawah sedikit, untuk menemukan angka EPS (earning per share/laba per saham).

5.  Masalahnya: yang dipublikasikan ke media oleh emiten, sering kali adalah angka laba bersih.  Untuk mendapatkan laba bersih, kita harus mengkalikan dengan jumlah saham beredar dari emiten itu.  Masalahnya lagi: Data saham beredar itu berbeda disana-sini.  Tadinya saya mencoba mencari melaluipencarian emiten yang ada pada website BEI.  Akan tetapi, kalau anda merasa pencarian lewat website itu terlalu lama, anda bisa mencari pada jumlah saham beredar yang tersedia untuk asing (foreign available) yang ada pada link ini.

Bagaimana kualitas hasilnya?

Kualitas hasilnya sih cukup lumayan.  Agak berbeda dengan angka yang ada di terminal Bloomberg sih, tapi perbedaanya tidak terlalu signifikan.  Perbedaannya sepertinya karena jumlah rekomendasi analis yang dikumpulkan oleh Bloomberg lebih banyak dibandingkan yang dikumpulkan oleh Reuters.  Maklum… jumlah analisnya memang beda:

Untuk kualitas angkanya dibandingkan dengan yang ada di terminal Bloomberg, bedanya nggak terlalu jauh lah… standar deviasinya cuman 2.68%.  Artinya, perbedaan dengan angka yang ada di Bloomber sekitar plus atau minus 2.68%.  Tidak terlalu besar.

So… tiada rotan, akarpun jadi.  Kalau anda mau melihat angka dari Bloomberg, anda mungkin harus menunggu update dari saya (cuman biasanya edisi lengkapnya biasanya cuman bisa anda peroleh pada Member Area atau jika anda datang ke acara Market Outlook Bulanan di PT Universal Broker Indonesia), atau anda juga bisa membacanya dari report-report dari analis lain.  Tapi kalau anda tidak sabar, anda bisa memperolehnya sendiri berdasarkan cara-cara diatas.

Selamat mencoba….

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com


Categories: Knowledge from The Street Tags:

Mengenal ‘Estimasi Konsensus Analis’ (Edisi Revisi)

May 9th, 2011 6 comments

(Revisi berupa penambahan link pada artikel mengenai bagaimana cara mencari data analis konsensus pada sebelah bawah dari artikel ini. Terima kasih.)

Selamat siang…

Pertanyaan berikut adalah pertanyaan yang paling sering saya dengar belakangan ini:

“Pak…. saya kemarin tertarik untuk membeli saham-saham perbankan karena laba bersihnya naik tinggi. Dibandingkan dengan kuartal pertama tahun lalu, kenaikan rata-rata kenaikan laba bersihnya kan tinggi tuh… lebih dari 30%. BMRI aja naiknya 88.7%. BBRI naik 51.6%. Beritanya juga lagi bagus. Kita lagi deflasi. Kalau deflasi begini, harga saham kan biasanya naik. Akan tetapi… kenapa seminggu terakhir harga sahamnya malah cenderung turun ya? Apa orang ‘Sell On News’?”

Melakukan posisi beli karena berita bagus, adalah suatu hal yang wajar. Hal yang rutin bagi seorang investor retail. Terutama kalau sudah mendengar laba bersih yang naik luar biasa. Data yang dimiliki oleh pelaku pasar tersebut tidak sepenuhnya salah. Data yang saya miliki untuk saham-saham perbankan yang saya amati, bisa anda lihat pada tabel berikut ini:

Perkiraan Konsensus Analis adalah angka rata-rata perkiraan dari sekelompok analis fundamental yang menganalisis suatu perusahaan publik.

Suatu perusahaan dikatakan berkinerja bagus, apabila pencapaian kinerjanya bisa melampaui atau diatas angka konsensus analis. Suatu angka yang pencapaian yang diatas rata-rata, bisa membuat analis menaikkan prediksi kinerja emiten, dan ini artinya akan menaikkan rekomendasi (upgrade recomendation) dan juga valuasi dari emiten.

Sebaliknya, jika kinerja suatu emiten dibawah rata-rata konsensus, maka para analis akan cenderung untuk menurunkan perkiraan kinerja perseoran. Ujung-ujungnya, dia akan menurunkan valusi perseroan. Rekomendasinya juga bisa mengalami penurunan peringkat (downgrade).

Pada tabel diatas anda bisa melihat bahwa saham-saham perbankan memang mencatat laba bersih dengan kenaikan yang cukup spektakuler. Akan tetapi, jika anda bandingkan dengan angka rata-rata net income yang diharapkan oleh analis, ternyata kinerja dari emiten-emiten perbankan tersebut masih jauh dari harapan. BBCA, BBTN, BDMN, dan BBNI mencatatkan kinerja yang dibawah ekspektasi. BMRI mencatatkan laba bersih yang diatas ekspektasi. Tapi jangan lupa, kenaikan terbesar dari BMRI berasal dari penjualan saham GIAA (sekitar Rp 1.4 trilyun – Rp 2 trilyun). Artinya, jika kita mengeluarkan pendapatan non operasional, kinerja dari BMRI sebenarnya juga dibawah ekspektasi pasar.

Mengenai bagaimana cara mencari angka konsensus, anda bisa melihat pada tulisan saya berikut ini.

Penggerak utama dari pergerakan harga, tetap saja rekomendasi dari analis fundamental (baik secara personal, maupun secara berkelompok). Pencapaian laba bersih yang spektakuler, tidak cukup untuk membuat harga bergerak naik. Laba bersih itu harus bisa melebihi ekspektasi untuk bisa membuat analis memberikan rekomendasi beli. Dan… tanpa rekomendasi beli… bagaimana harga mau bergerak naik?

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Mencari persamaan antara AALI vs DEWA*

May 4th, 2011 4 comments

Selamat siang…

Mungkin anda akan tersenyum membaca judul dari artikel ini. Mana ada ada persamaan antara PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) tersebut selain sama-sama listed di PT Bursa Efek Indonesia dan sama-sama penghasil komoditas? Kalau dicari perbedaannya, pastilah sangat gampang:

  • Yang satu adalah perusahaan yang sejak tahun 2007 selalu rutin membagi dividen, yang satu tidak pernah.
  • Keduanya dimiliki oleh dua buah grup perusahaan yang berbeda
  • Yang satu level harga sahamnya lebih sering berada di 5 digit, yang satu sudah setahun tidak bertemu dengan level harga ‘tiga digit’
  • Yang banyak analis fundamental yang mengerumuni, sedangkan saham yang lainnya, sampai sekarang tetap sulit untuk menarik perhatian para analis fundamental.
  • Yang satu termasuk dalam apa yang sering saya sebut sebagai golongan ‘saham fundamental’ (saham yang diamati oleh minimal 15 orang analis fundamental), yang satu lagi termasuk dalam ‘saham non-fundamental’ (saham diluar ‘saham fundamental’).
  • dll. dsb.

Yah… itu kan fundamentalnya.   Persamaan yang saya maksud disini adalah persamaan dari sisi analisis teknikal.

Sekarang… marilah kita lihat grafik pergerakan harga dari kedua saham tersebut dibawah ini:

Saya tidak mau bilang: grafik mana yang merupakan pergerakan harga apa.  Akan tetapi, kedua saham itu menunjukkan perilaku harga yang sama: bergerak naik turun diantara dua buah garis, sebuah level suport, dan sebuah level resisten.  Pergerakan seperti ini, sebagian orang menyebutnya sebagai tripple bottom.  Akan tetapi, saya lebih senang menyebutnya sebagai rectangle, karena dalam sebuah rectangle, harga diperbolehkan untuk menyentuh suport atan resisten lebih dari 3 kali.  Kita bisa melihat bahwa pada gambar di sebelah kiri, pergerakan harga menyentuh beberapa kali menyentuh suport level (titik titik A, titik C, dan titik E) dan juga beberapa kali harga menyentuh resisten (titik B dan titik D).  Setelah itu, harga mengalami penembusan resisten.

Prinsip dari kedua pattern itu sama: harga akan bergerak naik turun pada kisaran harga tertentu.  Implikasinya juga sama: jika harga mengalami penembusan resisten, maka harga memiliki potensi atau peluang untuk bergerak dengan lebar yang sama dengan lebar pola rectangle tersebut.   Keduanya juga harus menyentuh suport atau resisten dengan prinsip: Atas-Bawah-Atas-Bawah.  Level suport, resisten, kisaran, serta target dari kedua rectangle tersebut adalah sebagai berikut:

So… dari sudut pandang analisis teknikal:

kedua saham tersebut, memiliki pola yang sama yaitu pola rectangle.  Dan karena keduanya telah menembus resisten, maka keduanya memiliki potensi atau peluang untuk bergerak menuju target harganya masing-masing

Akan tetapi, tentu saja tidak sepenuhnya sama.  Dari pengalaman saya:

Saham Fundamental memiliki peluang yang lebih besar untuk tercapainya target pergerakan harga, dibandingkan dengan Saham Non-Fundamental.

Dengan kata lain… Kalau saham di sebelah kiri bergerak menuju target harganya, berarti itu memang sudah sepantasnya karena prediksinya juga begitu.  Anda boleh bilang deh: oh… Pak Tommy memang hebat deh… bisa prediksi saham AALI terus bergerak naik hingga 24950 sebelum pergerakan harga terjadi (hehehe).  Akan tetapi, kalau saham DEWA bergerak menuju targetnya di 114…. wah… saya kira itu hanya kebetulan saja. :D

Saya nggak tau deh… apakah harga dari kedua saham tersebut akan bergerak ke level harganya.  Hari-hari ini, mencari berita bearish sepertinya lebih mudah dibandingkan dengan mencari berita bullish.  Laporan keuangan memang bagus.  Peningkatan laba bersih untuk kuartal pertama tahun ini, jika dibandingkan dengan tahun lalu, terlihat begitu spektakuler.  Akan tetapi, kalau anda bandingkan dengan harapan pencapaian laba bersih dari para analis?  Saya melihat bahwa lebih dari 60% saham-saham yang saya amati, pencapaian laba bersihnya dibawah harapan dari konsensus analis (minggu depan saya akan cerita mengenai hal ini deh…).  Margin keuntungan dari saham perbankan menurun, kenaikan harga BBM non subsidi telah menggerogoti keuntungan, demikian juga dengan peningkatan biaya-biaya yang lain.  Pokoknya: yang bisa mendorong kenaikan IHSG hanya aliran dana asing dan posisi teknikalnya doang.  Sisanya?

So…  Bisa saja target tersebut tercapai.  Bisa saja trend IHSG berubah menjadi turun, dan harga dari saham-saham tersebut kembali masuk ke kisaran harga sebelumnya.  IHSG false break… bisa saja kedua saham tersebut ikutan mengalam false break.

Kita lihat deh…

Prediksi saham fundamental dan saham non-fundamental itu sebenarnya sama.  ‘Preferensi resiko dan kemampuan anda melakukan positioning’  yang membedakan: saham mana yang akan anda per-’beli-jual’-kan.

 

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini. Terima kasih.

Categories: Knowledge from The Street Tags: