Archive

Archive for April, 2011

Jangan takut pada saham ‘pencetak rekor’

April 25th, 2011 4 comments

Selamat siang…

Bumi itu datar.  Jika anda berlayar terus menerus ke suatu arah (ke Barat atau ke Timur), maka anda akan sampai ditepian, dan jika anda terus melanjutkan perjalanan, maka anda akan jatuh ke jurang yang sangat dalam.  Well… saat ini semua orang juga tahu bahwa pendapat ini adalah salah.  Akan tetapi, tahukah anda bahwa di pasar modal (terutama pasar modal Indonesia) masih banyak orang yang percaya bahwa ‘Bumi itu datar’?

Hehehe… sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu sih.  Itu semua sebenarnya hanya metaphora bahwa di pasar modal kita, masih banyak orang yang takut kalau ada saham yang mencetak rekor baru.  Karena orang cenderung berpendapat bahwa harga cenderung bergerak flat, maka ajakan untuk melakukan posisi jual dengan berbagai alasan seperti:

  • Harga mau kemana sih…
  • Bentar juga turun lagi…
  • Harga gak mungkin naik lagi deh…
  • Nanti kan juga akan turun lagi…

Padahal… kenyataannya tidak seperti itu.  Sudah banyak bukti bahwa saham penembus rekor sebenarnya malah harus diperhatikan (baca: di ‘Beli).

  • Nicholas Darvas, seorang trader di Amerika di tahun 1960-an, bahkan menjadi terkenal karena berhasil menjadi jutawan karena meng-khusus-kan diri pada saham-saham yang berhasil menembus rekor harga.
  • Saham yang menembus rekor, bukan terus berarti bahwa saham itu sudah tidak memiliki resisten lagi.  Resisten selanjutnya pada saham-saham ini bisa ditemukan pada retracement 161.8%, 261.8%, dan 423.6%.  Resisten-resisten tersebut adalah target harga selanjutnya jika harga bisa menembus rekor harga.  Anda bisa melihat penjelasan yang lebih detail pada buku yang saya tulis.

Saham yang menembus rekor harga adalah kesempatan untuk melakukan posisi ‘Beli’.

Posisi beli bisa dilakukan karena resistennya kembali menjauh, suport (yang berupa rekor lama) lebih dekat, selain itu juga karena resiko juga lebih kecil, karena stoplossnya relatif tidak terlalu jauh.

So… Kalau melihat peluang dari IHSG untuk menembus 4000

atau BBCA…

Atau BBRI…

Jangan heran kalau pada acara Market Outlook di hari Sabtu nanti, saya lebih bullish dibandingkan ketika IHSG menguji resisten 3750 di bulan Desember 2010 atau Januari 2011 lalu. Di satu sisi, apa yang terjadi pada ASII memang memunculkan masih adanya resiko.  Selain itu, jika trend naik pada kedua saham ini berakhir, bisa saja penembusan ini akan menjadi penembusan palsu (false break).  Akan tetapi, kali ini saya lebih tenang karena penembusan rekor IHSG kali ini didukung oleh sektor yang memiliki kapitalisasi terbesar di IHSG.  BBRI dan BBCA sudah tembus.  Semoga BMRI semoga menyusul.

Happy trading… semoga untung!!!
Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Ketika Sejarah Berulang

April 11th, 2011 3 comments

Selamat siang…

Bagi saya, jenis saham itu hanya ada dua: saham yang penggeraknya fundamental, dan saham yang penggeraknya non fundamental. Saham yang penggeraknya fundamental adalah saham yang fundamental dari perusahaannya bagus dan jelas, sehingga analis-analis fundamental banyak tertarik pada saham-saham itu, sehingga analis-analis fundamental tersebut menganalisis dan kemudian memberikan rekomendasi pada saham tersebut. Tapi bukan berarti harus ‘asal di analisis’ untuk menjadi saham fundamental. Saham tersebut harus dianalisis minimal oleh 10 orang analis fundamental atau lebih, untuk menjadi sebuah ‘saham fundamental’. Disisi lain, saham Non-Fundamental, adalah saham-saham lain di luar saham itu.

Salah satu yang membuat seorang trader lebih mudah memperoleh kemenangan, adalah saham-saham fundamental relatif memiliki volume perdagangan yang lebih stabil sehingga lebih mudah untuk diprediksi. Banyaknya analis-analis fundamental yang menganalisis saham tersebut, memang membuat pergerakan harga ke suatu arah bisa berlangsung lebih lama, dibandingkan dengan pada saham-saham non-fundamental.

Akan tetapi, tolong jangan terus diartikan bahwa asumsi-asumsi dasar dari analisis teknikal tidak berlaku pada saham-saham non-fundamental. Kali ini saya mencoba ‘menggoda’ anda untuk memperhatikan pergerakan saham PYFA yang terjadi dalam 6 bulan terakhir, yang bisa dilihat pada gambar berikut ini:

Pada pergerakan saham PYFA diatas, kita bisa melihat bahwa terdapat 4 kali kejadian, dimana harga bergerak tinggi dalam satu hari dalam volume tinggi, tapi kemudian diikuti oleh koreksi yang terjadi di hari berikutnya. Koreksi nggak cuman satu hari. Tapi koreksi ini terjadi beberapa hari atau bahkan bermiggu-minggu sebelum mulai bergerak lagi. Koreksi ini bisa jadi memang adalah distribusi.

Pertanyaan saya sebenarnya hanya satu: Kalau cuman terjadi 1 kali. Mungkin tidak apa-apa. Tapi… ini sudah 4 kali. Ceritanya juga kurang lebih sama: ada media yang memberitakan bahwa PYFA akan diakuisisi, tapi kemudian dibantah perseroan (dua bantahan diantaranya bisa dilihat pada surat perseoran pada BEI pada bulan November dan Desember).

Saya tidak mau mempermasalahkan langkah dari otoritas pasar modal (dalam hal ini BEI dan Bapepam). Saya hanya ingin menjelaskan kepada anda semua, bagaimana sejarah bisa berulang dalam pergerakan harga.

Kejadian-kejadian seperti ini, adalah bukti bahwa dalam pergerakan harga, sejarah bisa berulang.

.

Saya jadi kemudian bertanya: kalau ada kejadian seperti ini berlangsung berulang ulang, apakah anda masih saja ‘terperosok’ oleh pergerakan harga semacam ini?

Saya kemudian tertarik oleh pergerakan saham NIKL pada hari ini. Anda bisa melihat pergerakan historisnya pada grafik dibawah ini.

Memang sedikit berbeda dengan PYFA. Pada kenaikan harga yang pertama dan kedua, kenaikan harga bisa terjadi 3 hari. Akan tetapi, pada kenaikan harga yang ke 3 hingga ke 5, kita dapat melihat bahwa kenaikan harga yang cukup signifikan, hanya terjadi 1 hari. Saya seperti pergerakan harga pada PYFA. Pertanyaannya sekarang adalah: mana yang akan terjadi pada NIKL. Apakah seperti pergerakan 1 dan 2? Atau seperti ke 3, ke 4, atau ke 5?

Saya sih… juga tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu, ada pepatah yang bilang: Seekor keledai tidak akan pernah masuk dua kali ke dalam lobang yang sama.

Happy trading… semoga untung!!!
Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Naik, turun, flat, atau mixed

April 4th, 2011 3 comments

Selamat siang…

Kalau kita membaca berita-berita pergerakan harga di koran atau website, keempat kata tersebut kemungkinan adalah yang paling sering kita jumpai. Naik, turun, flat, atau mixed (bervariasi) adalah kata-kata yang paling sering digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Orang mungkin masih menggunakan beberapa kata-kata yang lain, seperti: jatuh, terbang, crash, membubung tinggi, anjlok, tersungkur, terjungkal, merosot, melejit, melesat, melonjak, melompat, akan tetapi, kata-kata tersebut sebenarnya relatif lebih jarang digunakan dibandingkan dengan empat kata yang pertama kali saya sebutkan.

Dengan kata-kata tersebut, seorang penulis mencoba menggambarkan kondisi kualitatif dari pergerakan harga. Nggak salah juga sih. Akan tetapi, saya terkadang ‘sedikit prihatin’ melihat kata-kata tersebut di salah gunakan. Maklum, kata-kata tersebut adalah kata-kata yang sifatnya kualitatif. Tidak menunjukkan suatu jumlah yang pasti. Oleh karena itu, jika seorang penulis cenderung hiperbolik (menggambarkan kondisi nyata secara berlebihan), maka pembacanya sudah tentu akan tersesat. Sebagai contoh: IHSG hari ini ‘anjlok’ sebesar 3,126 poin (-0.08%), dan terakhir berada pada posisi 3704,361. Membaca kata ‘anjlok’, seorang pembaca pasti sudah membayangkan bahwa penurunan yang terjadi sudah sedemikian besar. Bayangkan saja, jika sebuah kereta api anjlok, pasti orang sudah terbayang, besarnya kerugian PJKA, berapa jumlah korbannya, berapa yang meninggal dunia, dst. Tapi ternyata kata-kata ‘anjlok’ itu hanya digunakan untuk menggambarkan sebuah koreksi tipis. Apakah hal ini malah menimbulkan kesalahpahaman?

Untuk mensiasati hal ini, saya mencoba untuk membuat hal yang kualitatif tersebut menjadi kuantitatif. Ini membuat enak juga bagi pembaca

  • Naik menggambarkan IHSG bergerak positif diatas 1% dan posisi penutupan naik diatas 1%.

  • Flat-Naik menggambarkan IHSG yang cenderung bergerak naik, tapi dengan posisi penutupan yang cenderung positif, tapi masih kurang dari 1%.
  • Mixed menggambarkan IHSG bergerak dalam kisaran -1% hingga +1%, dengan posisi penutupan sulit untuk diprediksikan sebelumnya.
  • Flat-Turun menggambarkan IHSG yang cenderung bergerak turun, tapi dengan posisi penurunan yang lebih kecil dari 1%.
  • Turun menggambarkan IHSG yang bergerak dalam area negatif, dengan posisi penutupan yang turun lebih dari 1%.

Nah… sekarang bagaimana dengan istilah-istilah yang lain, seperti jatuh, terbang, crash, membubung tinggi, anjlok, tersungkur, terjungkal, merosot, melejit, melesat, melonjak, melompat, dan sejenisnya? Kalau hemat saya sih, anda tinggal melihat konotasinya. Kalau konotasinya positif (seperti terbang, membubung tinggi, melesat, dsb), harusnya kenaikan yang terjadi sudah lebih dari 1%, karena untuk kenaikan 1%, anda baru bisa bilang ‘naik’. Demikian juga untuk yang berkonotasi negatif, seperti anjlok, tersungkur, merosot, dll, koreksi yang terjadi harusnya sudah lebih besar dari 1%.

Saya sih orang yang biasa-biasa saja. Dalam menyatakan sesuatu, saya selalu berusaha untuk menggunakan istilah yang sederhana, tidak berbelit, atau tidak berlebih. Nanti malah bisa membuat pembaca menjadi bingung. Sebagai pembaca, anda sebaiknya juga lebih berhati-hati dalam membaca. Jika melihat tulisan pergerakan harganya, perhatikan ‘angka’-nya, naik atau turun berapa poin atau berapa persen. Jangan hanya membaca tulisan kualitatifnya, karena itu bisa menyesatkan anda.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com