Archive

Archive for March, 2011

Ketika kita sudah obyektif…

March 22nd, 2011 6 comments

Selamat siang…

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menyampaikan mengenai pentingnya obyektifitas dalam mencerna semua informasi yang datang.  Berpikir obyektif ini membuat kita bereaksi yang benar terhadap suatu event atau informasi.  Berpikir obyektif ini membuat kita memberikan reaksi yang benar terhadap pergerakan harga.

Manfaat lain dari berpikir obyektif adalah:

kita bisa melihat subyektifitas dari orang-orang yang ada di sekitar kita.

Dalam teknikal analisis, memang terdapat banyak sekali teori yang bisa diterapkan untuk melihat pergerakan harga saham. Akan tetapi, terdapat teori-teori dasar yang digunakan oleh sebagian besar dari pelaku analisis teknikal, orang-orang yang menggunakan analisis teknikal sebagai alat prediksinya. Alat-alat prediksi yang standar ini diantaranya:

  • Trend
  • Suport dan Resisten
  • Pola pergerakan harga
  • Indikator-indikator standar (Stochastics, RSI, MACD)
  • Candlestick Charting

Dengan alat prediksi yang standar ini, kita kemudian melihat prediksi atau rekomendasi dari orang-orang yang ada di sekitar kita (saya sebut sebagai ‘Sang Analis’ sekedar untuk memudahkan):

  • Sang Analis prediksinya apa?
  • Rekomen beli atau jual saham apa?
  • Arah (target price)-nya ke berapa?
  • Apa teori yang digunakan untuk melakukan prediksi tersebut?
  • Rekomendasinya kuat (diulang-ulang) atau biasa saja?

Kemudian, kita melihat realitanya pada pergerakan harga setelah ‘Sang Analis’ tersebut memberikan rekomendasi

  • Apakan harga benar naik setelah Sang Analis itu memberikan rekomendasi beli, atau turun setelah ‘Sang Analis’ itu memberikan rekomendasi jual?
  • Ataukah harga bergerak sebaliknya?

Saya adalah orang yang selalu menekankan (menganjurkan) agar trading (atau juga investasi) sebaiknya dilakukan dengan berdasarkan suatu sistem.  Saya melakukan hal ini karena dalam 10 tahun lebih pengalaman saya berkecimpung di pasar modal, saya sudah terlalu banyak melihat orang yang tersapu habis, hanya karena masalah-masalah yang sepele, seperti: tidak tahu perbedaan antara trading dan investasi, tidak tahu perbedaan antara pintar dengan beruntung, tidak disiplin, dan masih banyak lagi.  Oleh karena itu, saya selalu menekankan betapa pentingnya sebuah landasan teori yang kuat dalam melakukan rekomendasi.  Hasil dari rekomendasi tersebut sebenarnya ada 4 macam:

  • Teori benar, rekomendasi benar (harga bergerak searah dengan rekomendasi)–> Bagus
  • Teori salah, rekomendasi benar –> Lucky
  • Teori benar, rekomendasi salah (harga bergerak berlawanan dengan rekomendasi)–> Unlucky
  • Teori salah, rekomendasi salah –> Subyektif (?)

Saya tidak pernah kuatir dengan tiga golongan yang pertama.  Saya sangat perduli dengan golongan yang terakhir.  Rekomendasi yang salah, yang dihasilkan dari teori yang salah, sebenarnya adalah hal yang wajar.  Bagaimana kebenaran bisa diperoleh kalau pendekatannya salah?  Akan tetapi, kalau orang sengaja memberikan rekomendasi yang salah untuk menyesatkan orang lain, itu sebenarnya yang merupakan permasalahan terbesar.  Saya kemudian sering kali melihat: sebenarnya maunya ‘Sang Analis’ ini apa? Kalau semua itu karena pengetahuan dia yang terbatas, mungkin tidak menjadi masalah.  Akan tetapi, kalau itu karena agenda-agenda tersembunyi yang ada di kepala ‘Sang Analis’ itu? hehehe…

Saya sih yakin, kalau saya ngomong, sebagian kecil orang akan menelan bulat-bulat apa yang saya omongkan.  Tapi, sebagian besar yang lain, pasti juga berpikir: ini Pak Tommy maunya apa sih? Mengapa Pak Tommy rekomendasi itu?  Jangan-jangan karena dia dan teman-temannya ada posisi?  Pikiran-pikiran seperti itu adalah hal yang wajar.  Saya juga sering berhati-hati pada orang yang tengah memberikan rekomendasi pada saham yang penggeraknya bukanlah pasar murni (baca tulisan saya sebelumnya mengenai ‘Saham yang penggeraknya pasar‘).  Benarkah rekomendasi itu benar-benar dibuat karena pertimbangan yang obyektif?  Atau karena subyektifitas dari analis tersebut?  Kalau benar sih tidak masalah.  Tapi kalau ternyata salah?

Saya juga suka iseng dalam memilih sudut pandang dari suatu permasalahan. Contohnya: Semalam… Warren Buffet bilang kalau koreksi yang terjadi di Jepang, adalah kesempatan untuk melakukan posisi beli.  Nggak ada yang salah sih dari pernyataan ini.  Dia sebagai seorang investor, memang harus melihat untuk jangka waktu yang lebih panjang. Akan tetapi, kalau kita melihatnya dalam kacamata seorang trader: kalau dia ngomong beberapa hari setelah gempa ketika Indeks Nikkei masih dibawah 8000, itu masih bisa dibilang bagus. Kalau kita melihat dalam sudut pandang bahwa seorang Warren Buffet baru saja membeli Lubrizol (sebuah perusahaan pelumas yang hampir 30% pasarnya ada di Asia)?

Saya sih percaya akan obyektifitas dari seorang Warren Buffet.  Saya juga percaya bahwa trend jangka panjang dari bursa Amerika dan juga Bursa Efek Indonesia memang masih tetap bullish.  Akan tetapi, dengan trend jangka menengah dari indeks regional (terutama indeks Dow Jones Industrial), saya memutusan untuk tetap berhati-hati.  Kalau nanti ada koreksi lagi, saya percaya bahwa itu adalah kesempatan untuk beli.   Akan tetapi, kalau Warren Buffet bilang beli, saya akan bilang: yah… saya juga beli…  tapi nanti kalau harga sudah lebih murah.

Jika kita obyektif dalam melihat suatu permasalahan, maka kita bisa melihat subyektifitas dari orang-orang di sekitar kita.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Head of Research Division

PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Obyektif dalam menyikapi suatu event (informasi)

March 14th, 2011 3 comments

Dalam bukunya, Investor Psychology Explained, Martin Pring mengemukakan bahwa berpikir obyektif adalah salah satu syarat yang menentukan keberhasilan dari seorang trader.  Begitu pentingnya obyektifitas ini, membuat Martin Pring bahkan mendedikasikan satu bab penuh dalam bukunya tentang betapa pentingnya kita berpikir obyektif.  Dengan berpikir obyektif, kita bisa mensikapi permasalahan dengan kepala yang dingin, hati yang tenang.  Berpikir obyektif akan membuat kita semakin mudah untuk memperoleh keuntungan.

Berpikir obyektif ini membuat kita bisa memberikan reaksi dengan benar terhadap suatu event atau informasi.  Sebagai contoh: aksi pemboman oleh teroris yang terjadi di tanah air.  Dulu pada awalnya, ketika aksi pemboman pertama kali terjadi di Gedung Bursa Efek Indonesia (dulu Gedung BEJ), IHSG baru kembali ke level sebelum pemboman, sekitar 3 – 4 bulan setelah aksi pembomban tersebut di lakukan.  Ketika bom Bali yang pertama (tahun 2002), IHSG butuh kurang dari sebulan untuk kembali ke posisi sebelum pemboman terjadi.  Reaksi dari IHSG untuk kembali ke level sebelum terjadinya kejadian (aksi teroris berupa peledakan bom), semakin hari semakin ringan.  Beberapa aksi bom yang terjadi belakangan, koreksi yang terjadi sering kali adalah koreksi yang sifatnya intraday (dalam satu hari perdagangan) dan IHSG hanya ditutup dalam posisi turun tipis, atau bahkan naik.  Melihat realita seperti ini, kita boleh bilang seperti ini: aksi teroris beruba peledakan bom, adalah suatu kejadian yang memiliki pengaruh negatif.  Tapi, respon pasar tidaklah selamanya negatif.  Karena sudah berulang kali terjadi, pasar bisa jadi malah menjadi immune terhadap kejadian-kejadian seperti itu.  Pasar kemudian bereaksi secara obyektif melihat kejadian yang terjadi.  Jika kejadian tersebut ternyata pengaruhnya kecil, maka pasar tidak akan merespon berlebihan.  Pasar tidak lagi panik.

Gempa yang terjadi di Jepang, memang sangat mengejutkan.  Kalau anda lihat kejadiannya di CNN atau BBC-News pada Jumat siang kemarin, kita bisa melihat bagaimana hebatnya tsunami yang terjadi.  Korban sudah pasti berjatuhan.  Kita semua larut dalam kesedihan.  Akan tetapi, apakah itu harus berarti IHSG bergerak turun?  ASII memang menjual produk Jepang.  Tapi, apakah ASII 100% import produknya secara jadi dari Jepang? Tidak juga.  Apa yang saya baca tadi pagi di sebuah media, untuk Kijang Innova yang terdiri dari ribuan atau bahkan puluhan ribu komponen, hanya 1 komponen yang masih diimpor langsung dari Jepang.  IHSG sendiri malah bergerak naik karena pelaku pasar berspekulasi bahwa bencana nuklir di Jepang akan meningkatkan permintaan akan batubara.  Tapi, benarkah Jepang memiliki cukup pembangkit listrik bertenaga batubara? Itu yang masih harus kita cari tahu (saya juga belum dapat datanya hingga sore hari ini).

Akan tetapi, apa yang terjadi hari ini adalah bukti dari pentingnya berpikir obyektif dalam melakukan trading.  Hati kita memang masih penuh dengan perasaan duka.  Akan tetapi, pergerakan IHSG (dan juga pergerakan harga) akan tetap mengikuti fakta-fakta yang rasional.  Reaksi pasar terhadap suatu event, bisa saja bervariasi, tergantung kondisi dan situasi.  Arah IHSG memang masih belum jelas.  Arah regional juga masih belum jelas karena indeks Dow Jones Industrial masih belum lepas dari konsolidasi.  Tapi semoga saja suport di 3520 – 3530 tetap bertahan agar potensi kenaikan IHSG ke 3700 – 3750 masih tetap terbuka.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com


Categories: Knowledge from The Street Tags:

Ketika Investasi berbeda dengan Trading

March 7th, 2011 12 comments

Berikut ini adalah percakapan antara saya dan istri saya (saya memanggil istri saya dengan nama ‘Mbak Mia’di sekitar bulan Oktober tahun lalu:

  • Mia (M):  “Mas… saya ada lebih sedikit uang untuk di tabung.  Saya beli emas ya?”
  • Tommy (T): “Mbak Mia maunya untuk jangka pendek atau untuk jangka panjang?[1]
  • M:  ” Ya untuk investasi lah… masa aku mau trading?[2]
  • T: “Ok… bener ya untuk investasi? Silakan ajah… harga emas masih mau naik ini”

Ketika itu, harga emas memang sudah mulai tinggi.  Sekitar Rp 375 ribu – Rp385 ribu per gram.  Istri saya berkeinginan untuk membeli emas untuk keperluan investasi.  Karena untuk investasi, berarti untuk jangka panjang.

Sebulan kemudian, saya bertanya kepada istri saya (ketika itu harga emas sudah di sekitar Rp 400 ribu per gram)

  • T: “Mbak Mia… sudah jadi beli emas?”
  • M: “Belum mas… “
  • T: “Masalahnya apa toh? Duitnya masih ada kan? Atau nggak ada yang anter ke Melawai? Kalau beli Emas kan tinggal telpon ke toko emas, habis itu uang ditransfer untuk mengunci harga.  Kalau ngambilnya kan bisa nanti-nanti kalau kita sempat”.
  • M: “Harganya itu loh… kok naik-naik terus… sekarang sudah sekitar Rp 400 ribuan, aku mau nunggu kalau harganya agak murahan dikit”
  • T:”Loh? Emang kamu mau trading? Bukannya kamu kemarin bilangnya mau investasi? Kalau kamu mau investasi, ngapain kamu mikirin harga?”
  • M: “Iya mas… aku mau investasi.  Tapi masa kita mau beli kalau harga lagi mahal begini?”

Percakapan itu berakhir.  Di bulan Desember, saya kembali ke pertanyaan yang sama:

  • T:  “Mbak Mia sudah beli emasnya?”
  • M: “Harganya masih di 390-an (Rp 390 ribu maksudnya)… tar deh… masih kurang murah…”

Di bulan Januari saya tidak tanya sama sekali.  Baru-baru ini, ketika krisis Libya sudah memanas, harga minyak dan emas membubung tinggi, saya kembali bertanya:

  • T: “Mbak Mia tetap masih belum beli emasnya kan?”  Istri saya hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

 

Investasi berbeda dengan Trading

Ketika kita melihat harga dari komoditas atau pasar finansial.  Satu hal yang selalu konsisten untuk berubah adalah perubahan harga.  Arahnya sih tidak pernah berubah: kalau nggak naik, pasti juga turun.  Harga terus bergerak kesana kemari, berubah setiap hari.  Disisi lain, investasi adalah sebuah proses dimana kita menanamkan kekayaan kita untuk jangka waktu yang sangat lama.  Warren Buffet adalah pakar investasi.  Ia membeli saham Coca-Cola di tahun  1988 .  Terus menahannya sampai sekarang.   Melihat umur beliau sekarang, dan prospek dari saham Coca-Cola kedepannya, sepertinya itu akan menjadi investasi yang melewati batas hidupnya.

Pada prinsipnya, langkah-langkah untuk melakukan investasi adalah sebagai berikut:

1.       Pilih instrument investasi yang memiliki prospek bagus untuk masa yang akan dating

2.       Beli

3.       Tahan hingga anda merasa bahwa prospek jangka panjangnya sudah berubah

Konsep ‘beli’ dan ‘tahan’ (buy and hold) inilah yang kemudian kita kenal sebagai ciri-ciri dari seorang investor.

Dari cerita yang anda sudah baca pada awal tulisan ini, anda tentu sudah melihat sebuah cerita mengenai seorang investor yang akhirnya gagal berinvestasi karena terombang-ambing oleh masalah pergerakan harga.  Emas yang dibeli adalah untuk tujuan investasi.  Tapi karena harga terus bergerak, akhirnya investasi gagal dilakukan.  Padahal seharusnya tidak seperti itu.  Harga masa kini, adalah sebuah variabel jangka pendek.  Jika anda adalah seorang investor, anda semata-mata hanya melihat prospek jangka panjang dari instrument investasi itu.  Harga saat ini, bukanlah sesuatu yang sangat penting sehingga anda perlu bersusah payah untuk memprediksinya.  Kalau anda sudah yakin dengan prospek jangka panjangnya, mahal untuk saat ini, belum tentu mahal juga untuk waktu yang akan datang.  Mahal saat ini, bisa jadi murah untuk masa mendatang.  Seorang pemodal ingin membeli emas untuk keperluan investasi, hanya perlu melihat prospek investasi emas untuk jangka panjang.  Dan selama pemodal tersebut bisa melihat bahwa prospeknya masih positif untuk jangka panjang, any price is a cheap price![3]

Pak… saya tetap tidak yakin bahwa harga saat ini adalah harga yang murah.  Bagaimana cara mengatasinya?

Jika ini adalah pertanyaan anda, anda bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan melakukan investasi secara bertahap, seperti orang mengangsur.  Anda membagi investasi tersebut kedalam beberapa bagian, dan melakukan pembelian atas instrument yang ingin anda investasikan dengan memberikan suatu jarak waktu tertentu diantara satu pembelian dengan pembelian yang lain.  Misalnya nih, anda berencana untuk investasi Rp 100 juta pada reksadana saham.  Akan tetapi, anda merasa bahwa kondisi IHSG saat ini sudah ketinggian.  Anda kemudian membaginya menjadi 4 bagian yang sama besar, yang akan anda belikan reksadana setiap dua minggu atau satu bulan sekali, atau jangka waktu lain yang anda tentukan. Mencicil investasi adalah salah satu cara untuk mensiasati timing dalam berinvestasi.

Penutup

Saya adalah orang yang tidak bosannya untuk mengingatkan setiap orang akan perbedaan antara trading dengan investasi.  Maklum, saya sudah sering sekali melihat orang yang kehilangan kekayaannya hanya karena masalah yang sederhana seperti ini.  Dalam kehidupan saya, hanya dua buah permasalahan yang saya anggap sebagai investasi: Hubungan saya dengan Alloh SWT, dan hubungan saya dengan keluarga.  Selain itu, semua itu adalah posisi trading: ketika trend masih membaik, mari kita teruskan, tapi ketika trend sudah memburuk, posisi cut loss adalah sebuah pilihan yang wajar.  Saya harus selalu realistis.  Buat apa saya mempertaruhkan segalanya untuk menahan posisi yang buruk? Nanti kan ada posisi yang lain lagi.  Nanti aka nada kesempatan yang lain lagi.

Jadi… kembali ke masalah investasi yang dilakukan istri saya tersebut diatas.  Kalau anda bertanya: Apakah saya akan menasehati istri saya agar melakukan investasi dengan benar?  Hehehe… masih banyak waktu lah.  Ameztomia… Tanggal 11 Maret 2011 besok, genap 10 tahun kita besama.  Semoga Alloh SWT memberikan kita cukup waktu untuk bersama-sama mensyukuri nikmat-Nya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com


[1] semenjak bulan September 2010, semenjak emas menembus kisaran resisten US$1200 – US$1250 per troy ounces, saya sudah melihat harga emas (XAU) masih akan terus menguat hingga level US$1500 – US$1600 per troy ounces, jadi posisi beli untuk emas, baik untuk trading maupun investasi sebenarnya tidak terlalu banyak bedanya karena harga emas sedang berada dalam trend naik.

[2] Istri saya memang tidak terlalu suka mengenai ide dasar dari trading.  “Kamu aja yang mikir jangka pendek deh.,.. saya yang mikir jangka panjang”.  Itu adalah yang selalu diucapkannya setiap saat saya merayunya untuk trading saham.

[3] Mohon tetap diingat bahwa buying on margin bukanlah posisi investasi.  Posisi ‘beli emas’ disini adalah untuk emas fisik, bukan posisi beli pada kontrak berjangka emas.  Kontrak berjangka emas adalah sebuah posisi trading karena adanya leverage.



Categories: Knowledge from The Street Tags: