Archive

Archive for February, 2011

Bermain IHSG

February 28th, 2011 4 comments

Seorang Conthongers (lihat definisi ‘conthongers’ pada tulisan saya sebelumnya) pernah bilang kepada saya:

Pak… ngapain sih anda bangga dengan presisi prediksi IHSG anda yang tinggi?  Nggak ada gunanya.  Main saham itu kan tinggal beli ini atau beli itu, kemudian tinggal ditunggu: untung atau rugi.  Ngapain juga perhatikan IHSG, gak ngaruh kalee…

IHSG bergerak naik dan turun setiap hari bursa.  Pelaku pasar dan media selalu menggunakan IHSG sebagai barometer arah pergerakan harga saham.  Penentu pasar bergerak naik atau turun, penentu pasar bullish atau bearish.  Seorang traders atau investor kemudian melakukan positioning berdasarkan arah dari pasar tersebut.  Kalau market lagi bullish, pokoknya harus beli.  Harus ‘main’.  Harus ‘punya posisi’.  Sahamnya bisa apa ajah.  Asal ada entry signal yang bagus, asal ada yang rekomendasi, asal ada yang suruhan beli. Tapi kalau market bearish, yah… terserah deh. Ada yang diem ajah dengan posisi cash, ada yang diem saja karena nyangkut, ada yang dugem (duduk gemetaran) karena posisinya sudah hampir kena margin call/forced sell.

Padahal seharusnya tidak seperti itu!

‘Bermain IHSG’ itu berbeda dengan bermain saham yang dikenal oleh kebanyakan.  Ketika seorang trader memutuskan untuk ‘Bermain IHSG’: trader tersebut harus fokus pada saham-saham yang menjadi penggerak dari IHSG.  Saham apa sajakah itu?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah sebuah rata-rata tertimbang berdasarkan kapitalisasi pasar dari saham-saham yang membentuk IHSG.  Karena rata-rata tertimbang ini, maka saham dengan kapitalisasi yang besar, akan memberikan pengaruh kepada IHSG atau lebih menentukan pergerakan dari IHSG, dibandingkan dengan saham dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil.

IHSG ini berfungsi sebagai barometer dari bursa.  Meski IHSG sebenarnya dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang, akan tetapi pelaku pasar (dan juga kalangan media) sering kali lupa dengan kata ‘tertimbang’-nya dan lebih fokus pada kata: ‘rata-rata’.  Hasilnya: jika IHSG naik. maka dianggap bahwa sebagian besar harga saham mengalami kenaikan, demikian juga ketika IHSG turun, maka dianggap harga saham sebagian besar mengalami penurunan.  Padahal kenyataannya: kenaikan IHSG sering kali hanya menunjukkan bahwa saham-saham yang berkapitalisasi besar cenderung untuk bergerak naik, sedangkan saham yang kapitalisasinya kecil entah kemana, dan demikian juga sebaliknya.

Grafik dibawah ini memperlihatkan bagaimana saham-saham berkapitalisasi besar lebih menguasai IHSG dibandingkan dengan saham-saham yang kapitalisasinya kecil.

Ada beberapa fakta yang bisa kita tarik dari gambar diatas:

  • 10 emiten (setara 2.3% dari seluruh emiten tercatat)  dengan kapitalisasi terbesar menguasai 39.5% kapitalisasi dari IHSG.
  • 50 emiten (setara dengan 11.8% dari seluruh emiten tercatat) dengan kapitalisasi terbesar menguasai 80% kapitalisasi dari IHSG
  • 90 emiten (setara dengan 21.3% dari seluruh emiten tercatat) dengan kapitalisasi terbesar menguasai 90% kapitalisasi IHSG
  • 333 emiten (setara dengan 78.7% dari seluruh emiten tercatat) hanya memiliki 10% dari kapitalisasi IHSG.

Ini artinya:

Jika anda membuat IHSG sebagai benchmark investasi atau barometer dari bursa, anda tidak perlu bermain pada semua saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.  Anda cukup memperhatikan sebagian dari saham-saham tersebut, terutama saham-saham yang kapitalisasinya besar.

Sekarang, marilah kita melihat 20 emiten dengan kapitalisasi terbesar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia:

Kita dapat melihat pada tabel diatas, bahwa 95% dari saham yang masuk dalam kategori berkapitalisasi terbesar pada IHSG, dianalisis oleh lebih dari 10 orang analis fundamental.  Bahkan, jika kita menaikkan standarnya menjadi 15 orang analis fundamental, tetap saja kita menemukan angka yang sangat tinggi 90%.

Trading di saham-saham ini (terutama yang diamati oleh setidaknya 15 orang analis fundamental) sebenarnya lebih enak, lebih aman, dan lebih mudah untuk diprediksi.  Saya sering menyebutnya sebagai ‘Berburu Gajah di Padang Rumput’.  Maklum.. dengan jumlah analis fundamental sebanyak itu, perubahan sedikit saja pada emiten tersebut akan membuat harga sahamnya bergerak.  Selain itu, banyaknya analis juga membuat volume perdagangan hariannya akan menjadi selalu besar.  Volume transaksi pemodal asing atau institusi lokal ini membuat perdagangan menjadi likuid menjadi likuid.  Seperti gajah yang bergerak ke kiri atau kekanan.  Kita tinggal tembak kapan saja, sesuai dengan kemauan kita.  Posisi beli atau posisi jual bisa dilakukan kapan saja kita mau.  Tergantung posisi teknikalnya sekarang.  Kita tinggal melakukan positioning berdasarkan prediksi teknikal yang kita lakukan karena fundamental dari saham-saham tersebut sudah pasti jelas.

So… Trading saham itu bukan berarti kita membeli setiap saham yang sedang bergerak.  Ada baiknya kita tetap fokus kepada saham-saham tertentu saja, sehingga trading kita lebih terarah.  Jika IHSG adalah benchmark anda dalam bertransaksi, yakinkanlah agar anda bertransaksi hanya pada saham-saham yang bergerak bersama-sama dengan IHSG.

(Ulasan selengkapnya bisa anda ikuti melalui link berikut ini)

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Foreign Fund Flow: Sebuah Speedometer yang berkarat…

February 23rd, 2011 3 comments

Jika anda adalah penggemar saham-saham big caps (atau setidaknya blue chips) seperti saya, maka besarnya aliran dana asing sepertinya adalah variabel yang wajib untuk selalu diamati. Aliran dana asing untuk seluruh pasar, maupun aliran dana asing untuk saham per saham. Ketika investor asing cenderung beli, maka harga bergerak naik. Sebaliknya, jika investor asing cenderung untuk melakukan posisi jual, maka harga akan cenderung bergerak turun.

Trend dari aliran dana asing ini sangatlah penting. Investor asing itu kalau bertransaksi, jarang sekali bisa ‘sehari beli – sehari jual’. Karena volume mereka seringkali sangat besar (terlalu besar untuk dihabiskan dalam satu hari perdagangan), mereka bisa terus menerus beli dalam beberapa hari, beberapa minggu, atau bahkan beberapa bulan. Tapi kalau mereka lagi dalam posisi jual, posisi jual ini bisa berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan. Inilah yang kemudian menciptakan trend jangka pendek, trend jangka menengah, ataupun trend jangka panjang.

Karena investor asing ini adalah investor yang rasional (sebagian besar dari mereka adalah investor institusi), maka pergerakan volume pasarnya akan lebih mengikuti banyaknya analis fundamental yang mengamati saham-saham tersebut. Maklum, investor asing itu sebenarnya tetap saja memerlukan penunjuk jalan untuk memberitahu: mana saham yang bagus, mana yang tidak, bagaimana kinerja finansial dari perseroan, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya, investor asing ini sering hanya bergerombol pada saham-saham yang diamati oleh banyak analis fundamental. Dari pengalaman saya sih, minimal 10 orang analis fundamental sudah cukup untuk membuat saham tersebut digolongkan sebagai ‘saham mainan asing’. Akan tetapi lebih baik jika kita lebih fokus pada saham yang diamati oleh 15 orang analis fundamental atau lebih.

Besarnya dana yang masuk atau keluar, bagaimana cara mereka melakukan strategi beli atau strategi jual, serta banyaknya pihak-pihak yang ikut campur disini, sering kali membuat trading pada saham-saham mainan asing ini berasa seperti ‘berburu gajah di padang rumput’. Besar, jelas dilihat, dan tidak mudah untuk berubah arah.

Bandingkan deh dengan bermain saham gorengan: kita akan berasa seperti . berburu ular di padang rumput. Berita atau rumor dimana mana, katanya positif, ternyata harga malah turun. Sudah begitu, dengan mudahnya emiten bilang: oh… kami tidak ada corporate action seperti itu. Berita itu tidak benar. Meninggalkan kita semua dengan posisi floating loss pada portfolio.

Akan tetapi, realitanya tentu saja tidak semudah itu. Data mengenai foreign fund flow yang berasal dari Website PT Bursa Efek Indonesia (yang juga dikutip oleh penyedia informasi seperti Bloomberg) ternyata tidaklah ‘bersih’. Kalau menurut hemat saya sih, harusnya fund flow dari investor asing yang ‘murni’, adalah fund flow dari investor asing yang melakukan posisi beli atau posisi jual di pasar reguler. Aksi investor asing di pasar negosiasi, sering kali adalah transaksi block sale (transaksi dalam jumlah besar dari hasil corporate action), malah jadi pengganggu ‘netralitas’ dari arus dana asing tersebut. Saya sering kali curiga: eh.. jangan-jangan data ini sengaja dibuat agar asing kelihatan net sell atau net buy, sekedar merangsang pemodal lokal untuk bereaksi. Data yang dipublikasikan ini berisi transaksi yang ada dari seluruh pasar, baik transaksi di pasar reguler dan transaksi di pasar negosiasi. Harusnya sih.. kalau kita mau lihat data investor asing yang riil, kita cuman perlu melihat dari data di pasar riil.. yang dibeli dari open market (secara langsung dari pasar) di pasar reguler.

So… Data aliran dana asing ini berasa seperti Speedometer yang berkarat. Mau dibuang atau tidak dilihat… kok penting sekali. Tapi mau kita percaya 100%, sulit juga karena datanya sering kali dicemari. Alternatifnya, kita bisa melihat data tersebut dari hari per hari yang saat ini banyak disediakan oleh online trading. Cuman ya gitu.. data ini tidak ada data historisnya. Susah juga kalau kita mau melakukan analisis.

Yah… minimal ada panduan biar kadang suka melenceng. Karena di dunia ini tidak ada sempurna, dan kita sebagai manusia memang harus membiasakan diri memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa yang terbaik yang bisa kite peroleh. Maka: Tidak ada rotan, akar pun jadi. Kita pake aja deh… yang penting ada panduannya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

IPO: Trading atau Investasi?

February 14th, 2011 4 comments

Selamat siang…

Seorang teman pernah mencoba meyakinkan saya:

Ikutan IPO yuk… keuntungan di hari pertama perdagangan, bisa 10% – 30% atau bahkan lebih. Jadi.. meskipun pesanan kita nanti hanya dapet 3% dari jumlah yang kita pesan, tapi dengan kenaikan harga seperti itu.. berarti kita bisa untung 3% – 5% sebulan. Kita ikut IPO, terus kita jual di hari pertama. Mana ada kesempatan untuk cari duit semudah itu?

Teman saya yang lain juga pernah mencoba untuk sharing ide IPO kepada saya:

Pak Tommy… kalau ikutan IPO itu, jangan takut untuk pesan banyak-banyak. Paling-paling nanti juga dikasinya cuman 1% – 3%. Maksimal 5% lah… Jadi.. Pak Tommy mau beli berapa, pesan aja 10 – 20 kalinya. Jangan kuatir lah… pasti nanti juga dapetnya hanya sedikit.

Kedua pendapat diatas adalah pendapat yang umum bagi mereka yang memiliki hobby atau spesialisasi saham IPO. Seringnya terjadi lonjakan harga pada hari pertama perdagangan memang menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang pemodal untuk mengikuti proses IPO. Hanya saja… sialnya… pendapat-pendapat tersebut sepertinya benar-benar ‘berbalik’ ketika kita melihat kenyataan dari mereka yang mengikuti IPO EMDE, MBTO, dan GIAA.

Trading itu berbeda dengan investasi
Jika anda sering mengikuti tulisan-tulisan saya, anda pasti sudah hafal akan pernyataan ini: Trading berbeda dengan investasi. Anda mungkin juga sudah hafal akan isi dari tabel disamping ini. Saya juga selalu menekankan: Orang harus bisa memilih, mau investasi atau mau trading. Kita tidak bisa melakukan keduanya dalam pada saat yang bersamaan, karena market memiliki kebiasaan untuk menelan atau menghabisi orang-orang yang tidak disiplin.

IPO: Trading vs Investasi
IPO sebenarnya adalah sebuah transaksi investasi. Sebuah perusahaan menjual sahamnya kepada pemodal melalui bursa, sebenarnya berharap untuk mendapatkan pendanaan untuk operasional jangka panjang perusahaan. Pemodal juga melakukan pembelian berdasarkan prospek jangka panjang perseoran. Akan tetapi, seringnya kejadian dimana harga saham bergerak naik cukup tinggi pada pergerakan hari pertama (terlebih lagi return ketika hari pertama IPO sudah terbukti secara empiris), kemudian mengundang pada trader, yang tidak lain adalah orang-orang yang memiliki investment time horizon dengan jangka yang lebih pendek. Disini kemudian masalah dimulai.

Saya tidak bisa melarang anda yang merasa dirinya adalah seorang traders untuk trading pada saham-saham IPO. Saya juga tidak bisa melarang seorang investor untuk memesan terlalu banyak. Saya hanya ingin berpesan: apabila anda mengikuti suatu proses IPO, perhatikanlah beberapa hal berikut ini:
1. Perhatikan P/E Ratio dari saham-saham tersebut. Saham yang murah akan lebih mudah untuk bergerak naik, dan saham yang mahal akan cenderung sulit untuk bertahan. Saham dengan P/E yang rendah (biasanya dibawah 10) memiliki peluang yang lebih besar untuk bergerak naik pada hari pertama perdagangan, atau bahkan terus bergerak naik hingga beberapa hari perdangangan berikutnya
2. Perhatikan Industri dimana emiten itu berada. Emiten yang industrinya sedang disukai oleh pelaku pasar (terutama investor institusi), akan lebih mudah untuk bergerak naik dibandingkan dengan saham dari emiten yang berada pada sektor yang lain. Misalnya, karena tahun ini harga komoditas masih bagus, maka saham-saham yang terkait dengan komoditas (terutama yang terkait dengan batubara) terlihat lebih mudah untuk bergerak naik.
3. Perhatikan kapitalisasi dari emiten tersebut. Saham dengan kapitalisasi yang tinggi biasanya akan lebih mudah untuk menarik investor institusi jika dibandingkan saham dengan kapitalisasi yang rendah.
4. Perhatikan grup atau kelompok usaha dari emiten tersebut. Saham-saham yang terkait dengan kelompok Bakrie misalnya, adalah saham-saham yang jarang sekali dipermalukan pada perdagangan hari pertama.
5. Perhatikan juga reputasi penjamin emisi dalam melaksanakan IPO. Ada penjamin emisi yang sering kali berhasil menjaga pergerakan harga agar bergerak naik pada hari pertama (bahkan hingga beberapa hari) perdagangan. Dilain sisi, ada penjamin emisi yang saham-saham IPO-nya sering kali langsung longsor pada pada hari pertama. Hindari untuk membeli IPO dari penjamin emisi jenis kedua. Posisi spekulatif memang lebih enak jika penjamin emisinya terpercaya.
6. Perhatikan likuiditas dari market. Ketika rata-rata transaksi harian cenderung tinggi, selain itu, rata-rata net buying asing juga terus meningkat, harga saham secara umum akan lebih mudah untuk bergerak naik. Setidaknya, perusahaan yang baru saja IPO akan lebih sulit untuk turun pada saat market berada dalam kondisi seperti ini.
7. Perhatikan trend pergerakan IHSG dan harga saham secara umum. Ketika IHSG berada dalam trend naik, maka harga saham (termasuk didalamnya saham-saham IPO) akan lebih mudah bergerak naik. Vice versa. Sehingga, melakukan posisi spekulatif pada saham-saham IPO, sebenarnya lebih menarik untuk dilakukan ketika trend IHSG sedang bergerak naik, jika dibandingkan ketika trend bergerak turun.

Penutup

Bullish market selalu memunculkan orang yang aneh-aneh dan bermacam-macam. Ketika market bullish, semua orang bisa meraup keuntungan. Karena market itu random, maka memperoleh keuntungan dari Bursa Efek Indonesia itu suatu yang secara teoritis sulit. Meraup keuntungan sering di identikkan dengan ‘pintar’, maka semua orang pintar itu kemudian merasa dirinya bebas berteori. Saya untung kok.. saya menang.. boleh dong saya berbagi kepintaran saya kepada semua orang? Problemnya memang selalu begitu. Ketika kondisi market sedang bullish, orang cenderung menurunkan kewaspadaan. Dan ketika market bearish datang… dengan cepatnya ‘ayunan tangan beruang’ menghabisi orang-orang yang lupa dan lalai. Seorang trader teknikal (trader yang melakukan prediksi dengan berdasarkan pada analisis teknikal) sebaiknya memang menjauhi IPO karena tidak ada alat analisis teknikal yang bisa digunakan untuk mempredksi pergerakan harga di hari pertama. Seorang investor fundamental juga sebaiknya tidak overtrading ketika melakukan pemesanan IPO. Karena overtrading itu adalah perilaku dari seorang trader. Bukan seorang investor. Seorang investor harus lebih yakin terhadap kinerja investasi jangka panjangnya, dibandingkan sekedar mencari keuntungan-keuntungan jangka pendek.

Apa yang kita lihat dari MBTO, EMDE, dan terakhir GIAA, sebaiknya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa ‘trading’ pada saham-saham IPO, tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan seperti saran dari kedua teman saya diatas. Menghadapi IPO, kita tidak ‘harus selalu ikut’ dan ‘pesan sebanyak-banyaknya’. Akan tetapi, kita memang harus tetap melakukan penghitungan-penghitungan yang rasional agar bisa selamat dari marabahaya yang selalu mengancam.

Happy trading, semoga untung!!!

Satrio Utomo
Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Kejujuran dalam sebuah grafik

February 6th, 2011 1 comment

Saya dibesarkan di sebuah perumahan di pinggiran kota Surabaya. Menjadi ‘arek kompleks’, saya merasa sering ‘ditipu’ atau ‘dikerjain’ ketika harus berurusan dengan ‘arek kampung’.
Urusan nekeran (bermain kelereng), urusan layangan (bermain layang-layang), pathil lele, apalagi kalau sudah dhelik-dhelikan (petak umpet)… dijamin deh … kalau hari sore mendekati magrib, ketika saya harus jaga… kemungkinan besar kita dikacangin… ditinggal pulang.
Ketika awal saya belajar menjadi broker kondisinya juga kurang lebih sama. Saya diajarkan untuk melihat beberapa indikator teknikal untuk melakukan posisi beli atau posisi jual. Terus diberi info ini itu untuk beli. Awalnya sih untung. Tapi ketika market memburuk, trend turun (atau setidaknya market konsolidasi) berlangsung agak terlalu lama, akhirnya posisi saya nyangkut semua. Terlambat cut loss, akhirnya terpaksa cut loss dalam kerugian yang sangat banyak. Namanya juga pengalaman. Setelah agak lama, saya baru sadar bahwa kebanyakan indikator teknikal dan rumor-rumor itu hanya bagus kalau marketnya bullish… well.. kalau market bearish… korban memang selalu berjatuhan.
Pengalaman dari ‘ditipu’ ketika masih kecil, dan ‘ditipu’ ketika besar, membuat saya berkata pada diri saya sendiri: Sudah cukup!!! Saya tidak mau di ‘bully’ lagi. Saya tidak mau didorong-dorong ke kiri dan kekanan, tanpa saya tahu saya berbuat apa. Saya tidak mau menjadi orang yang tidak berdaya.

Keinginan untuk ‘tidak ditipu’ inilah yang kemudian membuat saya tertarik dengan analisis teknikal. Dalam analisis teknikal, mau tidak mau seorang analis teknikal harus memperlihatkan kejujurannya dalam melakukan analisis.  Seorang analis teknikal akan memperlihatkan prediksinya dalam sebuah grafik.  Dalam grafik tersebut,  kita bisa melihat:

  • Teori yang digunakan dalam memprediksi
  • Alat prediksi yang digunakan
  • Paham analisis teknikal yang dianut (apakah analisis teknikal modern atau analisis teknikal klasik)
  • Teori analisis teknikal yang digunakan
  • Kesimpulan yang ingin disampaikan berdasarkan dengan prediksi tersebut
  • Kualitas prediksi yang dihasilkan
  • dan masih banyak lagi.

Intinya: Dengan mempelajari analisis teknikal dengan benar, ketika anda menghadapi sebuah grafik teknikal, anda bisa langsung mengetahui:

  • Kualitas dari analis teknikal tersebut
  • Kualitas dari prediksinya (kemungkinan benar salah prediksi tersebut)
  • Kejujuran dari analis teknikal tersebuit

Misalnya begini deh:  Anda berhadapan dengan seorang analis teknikal.  Dari grafiknya, dia menyimpulkan bahwa IHSG akan ke 5000.  Tapi, dari grafiknya, anda sama sekali tidak melihat bahwa IHSG akan ke 5000.  Berarti analis itu kemungkinan bohong, atau asal tembak (menggunakan analisis yang lain untuk melakukan prediksi, tapi kemudian mengaku menggunakan analsis teknikal).  Atau contoh yang lain: seorang analis teknikal memberikan rekomendasi beli dengan target harga yang tertentu.  Akan tetapi, dalam grafik yang dipaparkan, anda tidak melihat adanya potensi kenaikan.  Yang ada hanyalah trend naik yang tengah berubah menjadi trend turun, sudah begitu indikator-indikator teknikal yang digunakan tidak memberikan signal beli atau signal jual yang jelas.  Tidak ada arah pergerakan yang jelas.

Dibandingkan bursa Amerika, bursa kita memang relatif masih muda.  Kurangnya aturan mengenai tata krama rekomendasi saham ditambah lagi dengan kebebasan untuk mengkambinghitamkan rumor sebagai ‘causa prima‘ pergerakan harga, (plus pemodal yang sering kali hanya bisa pasrah setelah kalah) telah membuat rekomendasi seakan tidak berarti. Orang seakan bebas untuk membuat rekomendasi, selama ia berteriak: DISCLAIMER ON!.

Padahal…

jika anda mempelajari analisis teknikal dengan benar, anda bisa langsung melihat kejujuran dalam memprediksi dengan hanya melihat sekilas dari grafik analisis teknikal yang sedang anda pegang.

Tulisan selengkapnya bisa anda lihat dengan mengikuti link berikut ini.

Happy trading, semoga untung!!!

Satrio Utomo
Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Knowledge from The Street Tags: