Archive

Archive for January, 2011

Keteraturan pada pergerakan harga…

January 30th, 2011 3 comments

Selamat siang…

Kalau kita sudah mempelajari Elliot Wave, kita akan bisa melihat bahwa Alloh SWT telah menciptakan semuanya dalam sebuah harmoni. Semuanya… termasuk dalam hal ini adalah pergerakan harga yang merupakan hasil dari perilaku manusia. Sebagai contoh adalah pergerakan indeks Dow Jones Industrial (DJI) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Indeks DJI Jumat kemarin memberikan signal bearish setelah ditutup dibawah titik terendah dari tiga candle sebelumnya. Signal bearish ini adalah yang pertama semenjak bulan November. Dilihat dari kacamata Elliot Wave, terdapat keunikan yang terlihat dalam signal bearish kali ini. Keunikannya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Dalam Elliot Wave, ada yang disebut sebagai motive wave (sebuah wave yang terdiri dari 5 subwave, yang pergerakannya searah dengan trend jangka panjang). Pada gambar berikut ini, anda bisa melihat bahwa dalam sebuah motive wave, subwave ke 1 dan subwave ke 5, memiliki kecenderungan untuk memiliki panjang yang kurang lebih sama (gambar yang paling kiri).

source: www.elliotwave.net

Pada gambar DJI jangka menengah diatas, kita bisa melihat bahwa: ‘jika’ reversal yang terjadi kemarin adalah akhir dari trend naik jangka pendek, maka reversal itu terjadi setelah panjang dari wave 5 (1156 poin) tidak jauh berbeda dengan panjang dari wave 1 (1159 poin).

Anda mungkin akan bilang: Ah… ini kan hanya sebuah kebetulan…

Jika itu adalah pendakat anda, mari kita lihat chart jangka panjang dari Dow Jones Industrial Average berikut ini:

Pada gambar diatas kita dapat melihat bahwa ‘jika’ trend naik jangka menengah ini berakhir, maka panjang dari trend jangka menengah yang berakhir kali ini, adalah kurang lebih sama dengan panjang dari trend naik jangka menengah yang terjadi pada awal tahun 2009 yang lalu.

Apakah benar trend naik pada DJI sudah berakhir? Kita memang masih harus melihat beberapa hari kedepan karena reversal ini masih belum terkonfirmasi. Indeks DJI kadang suka memberikan signal palsu. Sering kali trend turunnya harus terbentuk dulu, sebelum kita yakin bahwa itu adalah sebuah trend turun. Jadi memang kita harus melihat beberapa hari kedepan. Akan tetapi..

jika trend naik pada DJI kemudian berubah menjadi konsolidasi dalam sebuah corrective wave (konsolidasi untuk jangka menengah), maka kita bisa menyaksikan bawa pergerakan harga, hanyalah sebuah hasil dari perilaku manusia.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah pengaruhnya pada pergerakan IHSG? Indeks Dow Jones Industrial kan belakangan tidak berpengaruh pada IHSG. Indeks DJI terus naik, IHSG-nya terus turun. Apakah kita bisa yakin bahwa DJI akan mempengaruhi IHSG kedepannya?

Hehehe…. itu sebenarnya yang membuat saya khawatir. Saya memang agak takut kalau yang terjadi: ketika DJI naik, IHSG gak ikutan naik, tapi ketika DJI turun, IHSG ikutan turun. Sial bener kan?

Kita lihat aja deh beberapa hari kedepan….

Happy trading, semoga untung!!!

Satrio Utomo
Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Have you found your ‘scapegoat’?

January 26th, 2011 16 comments

Selamat siang…

(Pengantar: Maaf. Sudah beberapa hari terakhir saya mencoba mencari terjemahan Bahasa Indonesia dari judul tulisan ini, tapi tetap saja saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Saya even sudah bertanya kepada orang yang saya anggap lebih pakar bahasa Inggrisnya dari pada saya, tapi tetap tidak mendapatkan suatu kata yang cukup singkat yang bisa dijadikan sebagai penggantinya. Akan tetapi, itu adalah pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada semua orang yang tertarik atau memiliki kepentingan (terutama investasi, baik yang langsung sebagai pemodal BEI maupun yang tidak langsung dengan melalui reksadana) akan bergerakan IHSG dan harga saham di Bursa Efek Indonesia: Sudahkah anda menemukan ‘kambing hitam’ yang merupakan penyebab dari koreksi (penurunan harga) yang tengah terjadi?)

Koreksi atas IHSG sudah terjadi. Penurunan IHSG sudah terjadi terlalu dalam dalam waktu yang cukup singkat. Jika anda adalah orang yang normal, pasti anda sudah berusaha mencari tahu, apa yang sedang terjadi. Setiap orang akan mencari jawaban atas terjadinya koreksi.

Inflasi (bisa jadi) bukanlah penyebabnya
Angka inflasi tahunan untuk tahun 2010 sebesar 6.96% adalah sebuah angka inflasi yang tinggi. Akan tetapi, sadarkah anda bahwa angka inflasi memang sudah tinggi semenjak kuartal kedua tahun lalu? Angka inflasi tahunan sebenarnya sudah diatas 5%. Para ekonom bahkan sudah menaikkan asumsi inflasi akhir tahun 2010 semenjak bulan September – Oktober tahun lalu. Akan tetapi, orang sepertinya baru khawatir akan angka inflasi baru semenjak awal bulan ini, ketika harga cabe sudah mencapai Rp 100000 – Rp 120000, dan harga beras sudah membubung tinggi.

Suku bunga (SBI) akan bergerak naik (apa?)
Orang kemudian khawatir bahwa angka inflasi yang tinggi ini akan membuat Bank Indonesia menaikkan SBI. Masih ingatkah anda bahwa ada suatu masa (kalau nggak salah sekitar tahun 2007-2008, setelah kenaikan BBM yang ke sekian kali) dimana angka inflasi tinggi, ternyata kemudian orang berteriak ‘hei… core inflation masih rendah… no need to worry lah… suku bunga tidak perlu naik karena core inflation masih rendah’ dan suku bunga kemudian tidak bergerak naik. Suku bunga harus naik karena inflasi diatas suku bunga simpanan? Angka inflasi beberapa tahun terakhir juga sudah di atas level 5% per tahun, sedangkan suku bunga deposito yang untuk orang kebanyakan (untuk simpanan dibawah Rp 500 juta) juga bertahan di sekitar level 5% – 6% per tahun. Orang Indonesia sepertinya sudah terbiasa deh, dengan suku bunga deposito yang dibawah inflasi. Itu yang menyebabkan industri reksadana bisa berkembang dan ORI/SUKRI bisa laku di pasaran.

Masih banyak sebenarnya ‘kambing hitam’ yang lain. Ada orang yang bilang kalau ini adalah sebuah siklus win – lose (Indeks yang sudah dua tahun berkinerja bagus akan berkinerja buruk). Saya sudah baca tulisannya, pembuktiannya terlihat lemah sehingga alasan ini sebenarnya juga lemah. Ada rumor lain yang bilang bahwa ada ETF yang jatuh tempo. Memang ETF bisa jatuh tempo ya? Wah… kayanya saya masih harus belajar niy.. tapi sepengetahuan saya, ETF itu dijual bisa, di redeem bisa, dibubarkan bisa. Tapi kalau jatuh tempo?

Liquidity Problem, My personal ‘Scapegoat’
Tahun lalu, angka inflasi memang sudah memburuk semenjak bulan Juni, akan tetapi, karena pada bulan Juli Japanese Credit Rating Agency (JCRA) menaikkan peringkat hutang Indonesia menjadi investment grade, maka setelah itu, aliran dana asing yang masuk telah membuat harga saham kita terus bergerak naik. Masuknya dana asing ini, menerjang semua berita buruk yang muncul pada saat itu. Inflasi, kemungkinan naiknya suku bunga,kemungkinan pembatasan BBM subisidi, trend dari indeks regional yang cenderung turun, letusan gunung Merapi, dan masih banyak lagi. Semua berita buruk ini dilibas seakan bursa kita adalah bursa yang kebal peluru, hanya karena dana asing terus merangsek ke bursa.

Dengan kinerja bursa seperti itu, kita kemudian menghadapi peralihan tahun. Masih ingatkah anda akan alasan-alasan yang dikemukakan oleh para analis di bulan Desember lalu mengenai IHSG 5000-5500 di akhir tahun 2011 ini? Salah satu yang paling sering disebutkan adalah besarnya aliran dana asing yang masuk ‘jika nanti’ peringkat surat huang Indonesia dimasukkan ke dalam investment grade oleh lembaga-lembaga pemeringhat internasional (Fitch, Moody, S&P). Akan tetapi, ‘jika nanti’ itu kan kapan juga belum pasti. Moody kemarin menaikkan rating surat hutang Indonesia, tapi rating itu masih setingkat dibawah investment grade. Apakah Moody akan menaikkan peringkat surat hutang Indonesia lagi tahun ini? Saya tidak mau berspekulasi. Kapan S&P dan Fitch akan menaikkan rating surat hutang Indonesia? Apakah di tahun ini? Kita juga tidak punya jawaban yang pasti.

Sekarang begini: Setelah aliran dana asing yang deras selama bulan Juli – September, aliran dana asing terlihat mulai stagnan semenjak Oktober. Di awal Januari, kita di kejutkan oleh tekanan jual asing yang cukup besar. Tekanan jual yang terjadi semenjak tanggal 6 hinggal 12 Januari lalu, telah mencapai sekitar Rp 5 trilyun – Rp 6 trilyun. Pada awalnya, saya sempat curiga bahwa investor asing melakukan profit taking, dan kemudian keluar dari Bursa Indonesia. Tapi, ternyata (bisa jadi) bukan. Nilai tukar Rupiah – US Dollar yang terus stabil adalah buktinya. Lantas untuk apa mereka melakukan posisi jual? Salah satu dugaan yang kemudian terlintas di depan mata saya adalah: oh iya, bulan Februari nanti, kebutuhan dana untuk investasi kan lumayan besar. Ada right issue Bank Mandiri, dan IPO Garuda Indonesia. Nilai dari dua aksi korporasi adalah kira-kira sebesar Rp 15 trilyun – Rp 20 trilyun. Jika kita asumsikan bahwa investor asing akan menyerap sekitar 50% – 60% dari IPO, seperti komposisi kepemilikan asing – lokal saat ini, maka jika tidak ada dana asing baru yang masuk, berarti investor asing tersebut harus menyiapkan antara Rp 7 trilyun – Rp 12 trilyun untuk membeli efek tersebut. Penjualannya memang harus dilakukan semenjak awal Januari karena mereka tidak dapat mendapatkan dana sebesar itu hanya dalam melakukan penjualan dalam sehari atau bahkan seminggu. Apakah tekanan jual ini adalah bagian dari antisipasi investor asing tersebut?

Semua hanyalah spekulasi. Semua hanya dugaan. Saya memang tidak berada di dalam ‘jalur informasi’ ataupun memiliki sumber daya yang cukup sehingga saya juga tidak bisa memastikan apakah dugaan tersebut benar. Fakta yang ada: selama 3 minggu terakhir Dow Jones Industrial masih cenderung naik, harga komoditas (terutama batubara) masih tinggi, akan tetapi indeks bursa di kawasan Asia baru turun setelah China memberikan signal bahwa mereka masih belum selesai dalam mengendalikan inflasi (tapi kalau ini semua adalah pengaruh dari China/bursa Shanghai, kenapa pada hari Jumat kemarin Shanghai rebound sedangkan kita tidak?). Yang saya tahu (kalau dilihat dari sisi analisis teknikalnya niy…):

  • Penembusan IHSG atas suport 3530 memang memiliki potensi penurunan hingga kisaran 3300-3350. Apakah trend turun dari IHSG sudah mencapai bottomnya sehingga kedepan IHSG akan rebound? Tetap saja masih belum jelas. Dilihat dari trend naik yang terjadi semenjak bulan Mei 2010, penurunan hingga retracement 50% di 3150 sebenarnya juga masih tergolong normal. Akan tetapi, saya tidak bilang bahwa IHSG akan bergerak menuju level itu. Jika suport di 3300-3350 gagal bertahan, baru nanti saya bilang bahwa arahnya memang kesitu.
  • IHSG saat ini masih berada dalam trend turun.  Akan tetapi, jika resisten di 3450 bisa ditembus, IHSG memiliki potensi kenaikan hingga kisaran 3650 – 3700.
  • Trend untuk jangka panjang, tetaplah berupa trend naik. Trend naik jangka panjang ini berakhir jika suport di 2800-2825 gagal bertahan.

Saya sebenarnya tidak terlalu perduli dengan alasan atau kambing hitam yang sudah anda atau saya tentukan. Saya sebenarnya hanya ingin bertanya: Sudahkah anda mencapai tujuan yang ingin anda capai ketika anda mulai melakukan beli – jual saham? Sudahkah anda melihat ‘akibat’ dari koreksi tersebut pada portfolio anda? Sudahkah anda menentukan apakah anda adalah seorang investor atau seorang trader? Ataukah anda adalah seorang investor dadakan (tadinya maunya trading, tapi ternyata karena nyangkut, anda kemudian menahan posisi karena tidak disiplin dalam melakukan stoploss, dan akhirnya kerugian sekarang sudah menjadi semakin dalam). Jika anda adalah seorang investor, selama outlook jangka panjang anda tidak berubah (tetap bagus), anda seharusnya tidak perlu takut. Jika anda adalah seorang trader, semoga anda tidak lupa bahwa prinsip dasar dari seorang trader adalah: beli ketika harga akan bergerak naik, dan jual ketika harga akan bergerak turun. Akan tetapi, jika anda adalah seorang investor dadakan (terutama bagi anda yang menggunakan fasilitas margin nih), bersiaplah menghadapi kondisi terburuk karena market memang memiliki tradisi yang panjang dalam menghukum orang-orang yang tidak disiplin.

Oh iya… Harga right issue Bank Mandiri dan IPO Garuda akan diumumkan siang ini.  Jika ternyata harga right issue BMRI dibawah perkiraan pasar, bisa jadi terdapat kelebihan dana yang bisa masuk ke pasar.  Artinya: pilihan ‘scapegoat’ saya benar.  Akan kah itu terjadi?

Kalau benar ya Alhamdulillah (terutama karena IHSG bisa bergerak naik lagi). Semoga IHSG bisa terus bergerak naik hingga 3650 – 3700 dalam waktu dekat. Tapi kalau salah… yah… memang saya hanya manusia. Tidak ada manusia yang bisa 100% sempurna.

Happy trading, semoga untung!!!

Satrio Utomo
Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Uncategorized Tags:

‘Posisi BELI’ ketika IHSG turun diatas 100 poin

January 20th, 2011 14 comments

(Disclaimer: Beli-Jual saham memiliki resiko kerugian. Sebelum anda membaca tulisan dibawah, sebaiknya anda membaca disclaimer yang ada pada halaman berikut ini. Terima kasih).

Selamat siang….

Bagi yang sudah lama kenal saya, mungkin sudah hafal ucapan saya ini:

IHSG turun 100 poin? BELI!!!

Ucapan itu selalu saya teriakkan ketika IHSG turun diatas 100 poin. Kalau anda lihat, sepertinya gegabah. Market lagi turun dalem-dalemnya, kok malah ada orang semangat banget bilang beli. Orang sering berpikir: ini porto lagi merah membara, kok ada orang yang malah semangat bilang beli. Mau pake duit dari mana?

Pertama-tama, kalau anda seorang trader, kalau anda sudah menerapkan ‘beli ketika harga akan bergerak naik dan jual ketika harga akan bergerak turun’ dengan disiplin, saya sih yakin bahwa ketika market turun diatas 100 poin, posisi anda akan cenderung memegang cash. Cut loss sudah anda lakukan ketika harga mulai reversal, sehingga ketika IHSG turun diatas 100 poin, anda malah sedang ada duit untuk belanja.

Selanjutnya, marilah kita melihat beberapa fakta dibawah ini yang membuat posisi spekulatif (beli) menarik untuk dilakukan ketika IHSG turun diatas 100 poin:

IHSG sudah sering turun diatas 100 poin

IHSG turun lebih dari 100 poin, sebenarnya adalah fenomena yang sudah terjadi IHSG semenjak lama.  Sejak IHSG mulai dihitung di tahun 1984, IHSG sudah mengenyam koreksi diatas 100 poin semenjak awal tahun 1990-an.  Kejadian pertama penuruhan IHSG diatas 100 poin terjadi pada tanggal 28 September 1990.  Pada saat itu, IHSG yang pada tanggal 27 September 1990 ditutup di level 571.020, keesokan harinya sempat mencapai level terendah di 454.512 (turun 116.508 poin), sebelum ditutup di pada level 468.509.  Kejadian ini terus berulang dari waktu ke waktu.  Dari data yang saya himpun semenjak tahun 2006, koreksi diatas 100 poin yang pernah terjadi pada IHSG adalah sebagai berikut:

Tercatat 33 kali IHSG berada dalam koreksi lebih dari 100 poin.  Distribusi frekuensinya adalah sebagai berikut:

Kejadian tersering tercatat pada tahun 2008.  Pada tahun itu, IHSG sempat 15 kali terkoreksi diatas 100 poin.  Semenjak tahun 2006, IHSG setidaknya setahun sekali koreksi diatas 100 poin.  Koreksi diatas 100 poin adalah hal yang biasa bagi IHSG, terutama ketika IHSG sudah diatas level 2000 di tahun 2008.

Ketika IHSG terkoreksi diatas 100 poin, IHSG jarang sekali ditutup pada level terendah

Tahukah anda bahwa dari 33 kali kejadian dimana IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, hanya terdapat dua kesempatan dimana IHSG ditutup pada level terendah?  Dengan kata lain, probabilitas IHSG untuk ditutup di level terendah hanya sebesar 6.06%, atau probabilitas IHSG untuk rebound setelah mencapai titilk terendah hingga menjelang tutup adalah sebesar 93.94%.  Ok… Setelah IHSG mencapai titik terendah, IHSG kemudian rebound.  Kemudian apa yang terjadi?

Sekitar 16 kejadian (atau setara dengan 48.48%), IHSG kemudian rebound sebesar 0.25% hingga 1%.  Bukan hanya itu: probabilitas IHSG untuk ditutup dengan rebound 1% – 3% adalah sebesar 33.33%.  Artinya, 1 dari 3 kejadian IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, IHSG kemudian rebound sekitar 1% – 3%.  Artinya: Jika anda cermat dalam memperhatikan saat ketika IHSG mencapai titik terendah (bottoming), maka anda memiliki kesempatan yang cukup besar untuk bisa meraup keuntungan.   Yah, pergerakan IHSG sebesar 1% – 3% itu, kalau saham dengan beta 1.2, berarti itu kesempatan meraup keuntungan sebesar 1.2% – 3.6%.  Cukup lumayan bukan?

Hati-hati… ini adalah untuk posisi trading, bukan untuk posisi beli-simpan!

Pada koreksi yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2011 dan 10 Januari 2011 kemarin, IHSG sempat dua hari berturut-turut terkoreksi lebih dari 100 poin.  Tapi ini bukan yang paling buruk.  Koreksi IHSG sebesar lebih dari 100 poin selama 3 hari berturut-turut, ternyata pernah terjadi 2 kali pada tahun 2008 lalu.  Koreksi yang pertama di  terjadi di bulan Januari (16 – 21 Januari 2008), dan koreksi kedua terjadi pada bulan September (12 – 16 September).  Pada koreksi yang terjadi pada bulan Januari 2008, IHSG bahkan sempat terkoreksi diatas 100 poin sebanyak 4 kali dalam 5 hari kerja!! Coba kalau anda dalam posisi beli-simpan ketika koreksi baru terjadi pada hari pertama.  Apa nggak babak belur tuh?

Yah… setidaknya, kalau IHSG sudah terkoreksi diatas 100 poin dalam waktu 3 hari berturut-turut, mungkin posisi beli-simpan untuk posisi dengan jangka waktu yang lebih panjang, memang menarik untuk dilakukan.  Tapi kalau koreksi 100 poin baru terjadi pada hari pertama, posisi beli-simpan sangatlah beresiko.

Masih ada beberapa fakta lain yang menarik (silakan lihat tulisan lengkapnya disini).  Akan tetapi, dengan melihat data diatas, posisi trading ketika IHSG turun lebih dari 100 poin, sebenarnya adalah sebuah posisi yang menarik.

Trading adalah sebuah permainan otak.  Harga bergerak naik atau turun, itu adalah hal yang normal.  Hal yang wajar.  Jika anda adalah seorang trader, tidak perlu takut terhadap pergerakan harga.  Tidak perlu takut terhadap koreksi.  Kesempatan bisa terjadi dalam kondisi sesulit apapun.  Dan ketika IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, ada celah-celah dimana kita bisa memperoleh keuntungan.

So… Next time IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, anda tidak perlu takut.  Ucapkanlah:

Datanglah koreksi IHSG yang lebih dari 100 poin! Saya mau trading!!!

Happy trading… semoga untung!!!

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Ketika hidup adalah sebuah pilihan…

January 8th, 2011 13 comments

(Pengantar:  tulisan ini sebenarnya adalah repost dari tulisan saya setahun yang lalu, dengan perbaikan disana-sini.  Tapi… karena saya rasa masih ‘aktual’ ketika sebuah koreksi terjadi, maka saya reposting lagi.  Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua)

Dalam kehidupan kita sehari-hari.. menentukan pilihan adalah sebuah hal yang rutin.  Sama halnya ketika kita melakukan beli jual saham.  Kita harus menentukan:

  • Apakah kita akan menjadi seorang trader atau seorang investor
  • Saham apa yang akan menjadi saham pilihan kita
  • Alat analisis apa yang kita pergunakan
  • Strategi apa yang kita lakukan untuk beli jual, positioning..
  • dan masih banyak lagi.

Saya tidak tahu apa pilihan anda… tapi saya memilih untuk menjadi trader.  Saya memilih untuk trading hanya pada saham-saham tertentu berdasarkan kriteria yang sudah saya tetapkan.  Saya memilih untuk menggunakan analisis teknikal (analisis teknikal klasik kalau boleh lebih spesifik) sebagai alat analisis.  Dan saya berusaha untuk selalu disiplin dalam melakukan segala sesuatunya, berdasarkan rencana trading yang telah saya buat.

Pertanyaan: Apakah strategi itu adalah strategi yang paling menguntungkan?

Jawaban: Tidak.  Masih ada strategi lain yang bisa menghasilkan keuntungan yang jauh lebih banyak.  Tapi saya selalu berusaha untuk membuat keuntungan yang cukup, keuntungan yang konsisten,  dengan kerugian yang terkontrol.  Beli ketika harga akan bergerak naik, dan jual ketika harga akan bergerak turun.  Itu adalah prinsip utama yang saya terapkan.

Pertanyaan: Apakah strategi itu adalah (satu-satunya) strategi yang benar?

Jawaban: Nggak juga.  Dalam 10 tahun lebih pengalaman saya, saya sudah melihat berbagai cara yang pernah digunakan orang untuk memperoleh kemenangan (secara jujur) di pasar modal.  Kalau cuman sekedar kaya dari saham-saham grup Bakrie, itu bukan barang baru.  Saya pernah kenal dengan orang yang sukses dengan menggunakan strategi ‘Supermarket’ (portfolio dengan 200+ saham).  Saya juga pernah mendengar ada orang yang sukses dengan melakukan beli jual saham-saham grup MYRX (jika anda sudah di pasar modal lebih dari 10 tahun, anda akan tahu.. bagaimana susahnya untuk bisa memperoleh keuntungan di saham-saham ini).  Orang yang kaya dari menyuruh orang lain membeli saham-saham sampah sedangkan dia sendiri sudah memiliki posisi sebelumnya (gak jelas deh.. apakah dia tetap simpan atau malah dia dalam posisi jual) juga ada.  Macem-macem deh… cara orang kaya dari pasar modal.  Cara saya untuk memperoleh keuntungan berdasarkan prediksi pada saham-saham blue chip, hanyalah salah satunya.

Pertanyaan: Lantas.. mengapa?

Jawaban: 10 tahun terakhir, banyak sudah cara yang telah saya lihat, yang dilakukan orang untuk mencari uang di bursa saham.  Beberapa hal yang masih juga sama:

  • Jika sudah melihat potensi keuntungannya, seorang investor atau trader pemula sering kali melupakan faktor keselamatannya.  Keserakahan manusia sering membuat dirinya lupa.  Seperti seekor serigala lapar yang tengah memburu seekor domba, dia akan mengejar.. mengejar mengejar.. KCKKKK!! Tiba-tiba tangan seekor beruang (bear) yang entah dari mana munculnya mencekik si Serigala.  Serigala tergeletak dengan leher yang patah.
  • Seorang pemula masih memandang semua saham adalah sama. Sehingga ketika beli dan terus nyangkut, dengan santainya ia bisa bilang: Simpan saja.. barang bagus kan bagus untuk investasi. Ding!Ding!Ding!  Bangun geh! Kalau anda nyangkutnya di disaham-saham gorengan dengan fundamental yang tidak jelas (sekarang mungkin jelas.. tapi nanti.. satu atau dua tahun lagi.. bisa saja tetap jelas.. JELAS BUSUKNYA!).  Selain itu, saya juga sudah melihat bahwa ketidakdisiplinan seorang trader, yang merubah posisi tradingnya menjadi investasi, sangat sering menjadi sumber dari malapetaka yang lebih besar.
  • Seorang trader (terutama yang masuk kepasar ketika market lagi bullish) sering memandang mencari uang di pasar modal itu mudah sehingga melupakan bagaimana susahnya dia mencari uang yang digunakannya untuk trading. Kalau yang ini.. mungkin memang harus menunggu ketika market berubah menjadi bearish.  Dia akan termenung melihat isi dari portfolio yang dimilikinya.. dan di harga berapa dia dulu melakukan posisi beli.  Bearish market adalah tempat dimana terlihat perbedaan antara trader yang sekedar beruntung atau memang pintar.

Duit yang anda pakai untuk membeli saham adalah duit anda.  Anda bebas menghabiskannya dengan cara yang anda suka.  Tapi…

Jika anda memutuskan untuk menjadi seorang trader, jadilah trader yang bertanggung jawab. Milikilah ilmu dan trading skill yang cukup.  Belajarlah.  Membaca, membaca, dan membaca.  Bertransaksilah berdasarkan pendapat anda sendiri karena resiko tetap ditangan anda masing-masing.  Orang lain yang menyarankan suatu posisi kepada anda (termasuk juga saya barang kali… hehehe), tidak akan berada di sebelah anda ketika anda tengah menghadapi ‘Forced Sell’.

Semua ini, agar anda tidak ditelan (dalam waktu yang sangat singkat lagi) oleh buasnya pasar modal Indonesia.

Anda masih stress dalam trading?  Well… itu bukan hanya persoalan penghidupan atau bukan hanya persoalan keuangan… seperti apa yang dikatakan oleh Metallica (atau Bang Haji Rhoma Irama ya?) pada video ini. Tapi lebih karena kondisi market saat ini yang tidak sesuai dengan pengharapan atau prediksi anda.  Posisi anda, tidak sesuai dengan arah pergerakan harga.

Bagi seorang trader, memiliki posisi yang searah dengan pergerakan harga, lebih penting daripada memiliki prediksi yang secanggih apapun juga ataupun bahkan janji keuntungan yang hanya hitungan angka!!!

Happy trading, semoga untung!!!

Satrio Utomo
Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Januari effect? atau Januari (gak) ngefek?

January 3rd, 2011 1 comment

Selamat siang…

Januari.. Januari.. Januari. Kalau bulan Januari begini, di pasar modal seperti biasa orang akan membicarakan mengenai January Effect. Dalam definisi awalnya, Januari Effect di sebutkan sebagai kenaikan harga saham yang terjadi di bulan Januari. Definisi ini kemudian berkembang sebagai kenaikan IHSG di bulan Januari (karena IHSG adalah angka rata-rata tertimbang dari saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia/BEI). Apakah Januari Effect ini berarti IHSG harus bergerak naik di bulan Januari 2011 ini?

Sebelumnya, marilah kita melihat fakta berikut ini:

Dari data diatas, kita dapat melihat bahwa dalam 10 tahun terakhir, ternyata peluang untuk kenaikan IHSG di bulan Januari hanya sebesar 60% atau sedikit lebih baik dari 50:50. Peluang terjadinya kenaikan di bulan Januari ini sebenarnya sama dengan peluang terjadinya kenaikan pada bulan Februari, Maret, Mei, Juni, atau November. Peluang kenaikan pada bulan Januari, hanya berada dalam modus, tidak merupakan sesuatu yang istimewa jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Peluang kenaikan IHSG di bulan Desember malah lebih bagus. Dalam 10 tahun terakhir, IHSG di bulan Desember selalu mencetak kenaikan.

Apakah IHSG masih bisa bergerak naik pada bulan Januari 2011 ini?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita melihat kondisi terakhir dari beberapa market variabel.

Trend naik pada IHSG belum sepenuhnya ‘aman’. Meski berhasil ditutup diatas level psikologis 3700, trend naik jangka pendek pada IHSG sementara masih terbatas hingga rekor di 3788. Potensi kenaikan menuju kisaran 3900-3950 baru terbuka jika IHSG mampu menembus kisaran resisten 3785 – 3825. Tidak adanya pola pergerakan harga yang mendahului (precede price pattern) pada IHSG, membuat potensi kenaikannya menjadi tidak terlihat terlalu jelas.

Dari sisi positifnya, dukungan dari Bursa regional Asia ditambah dengan harga minyak yang masih akan terus bergerak naik hingga diatas US$100 per barrel, diperkirakan akan menjadi ‘dukungan amunisi’ bagi IHSG untuk bergerak menembus resisten di 3785-3825 tersebut. Dari pantauan terakhir, secara teknikal, indeks Strait Times – Singapore (meski terlihat masih bermasalah dengan kisaran resisten di 3215 – 3220) masih memiliki potensi kenaikan menuju kisaran 3300 – 3350 (potensi kenaikan sekitar 4% – 5% dari posisi penutupan terakhir di 3190). Indeks Hang Seng (HongKong) juga masih memiliki potensi kenaikan sebesar 6% – 8.5% hingga kisaran 24500-25000. Untuk harga minyak, setelah pergerakan flat di kisaran US$71 – US$83, penembusan atas resisten di US$83, telah menunjukkan bahwa adanya potensi kenaikan setidaknya hingga kisaran US$95 – US$100 untuk setiap barrelnya.

Pergerakan Dow Jones Industrial dan angka inflasi yang tinggi, sepertinya masih akan menjadi sumber sentimen negatif yang perlu diwaspadai. Indeks Dow Jones Industrial (DJI) sebenarnya masih berada dalam sebuah trend naik. Akan tetapi, keberadaan trend naik yang berawal di bulan Agustus ini, oleh sementara orang dinilai sudah berlangsung terlalu lama dan terlalu tinggi (overbought), membuat orang lebih mudah untuk bilang ‘DJI akan turun’ dibandingkan dengan ‘DJI akan naik’. Untuk angka inflasi, bagaimana reaksi pasar terhadap angka inflasi di bulan Desember dan angka inflasi tahunan selama tahun 2010 kemarin, sepertinya masih perlu diantisipasi. Jika orang berpendapat bahwa: oh.. inflasi memang tinggi, tapi kedepan kita bisa lebih baik, maka bisa saja muncul sentiment positif dari situ. Akan tetapi, kalau pendapat orang ternyata lebih menjurus pada: ‘wah… angka inflasinya jelek, belum kebijakan BBM yang maju mundur seperti itu, apa nggak semakin kacau?’ Nah.. kalau ini yang muncul, sentimennya bisa jadi sentiment negatif.

Disisi lain, saham-saham big caps dan bluechip masih menunjukkan potensi kenaikan jangka pendek yang cukup. Untuk saham big caps, ASII misalnya, masih memiliki potensi kenaikan hingga kisaran Rp55000-Rp56500, BMRI ke kisaran Rp7000-Rp7250, GGRM ke kisaran Rp41500-Rp42500, dan BBNI ke kisaran Rp 4250-Rp4500. Untuk blue chips, potensi kenaikan sebesar 3% atau lebih untuk jangka pendek, terutama terlihat pada saham-saham berbasik komoditas, seperti pada saham PTBA, UNTR, AALI, LSIP, INDF, INCO, ANTM dan masih banyak lagi.

So… Apakah IHSG di bulan Januari 2011 masih akan bergerak naik?
Kalau dilihat dari potensi pergerakan saham-saham penggerak indeks dan posisi indeks regional Asia, sepertinya kita akan memulai tahun 2011 ini dengan bagus (baca: naik), setidaknya untuk minggu dua minggu pertama di bulan Januari ini. Target awal IHSG di kisaran 4150 – 4250 hinggal kuartal pertama (atau paling jelek paruh pertama) 2011 ini, sepertinya masih bisa tercapai. Kondisinya mungkin bisa lain kalau indeks Dow Jones Industrial tiba-tiba bergerak menembus suport di level psikologis 11500 sehingga mengubah trend jangka pendeknya menjadi trend turun di minggu pertama. Semoga saja enggak deh…

Selamat tahun baru 2011. Semoga tahun kita bisa lebih baik dibandingkan dengan tahun kemarin.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Market Comment, Market Outlook Tags: