Archive

Archive for November, 2010

Suport Fundamental

November 29th, 2010 12 comments

Selamat siang…

Seseorang  yang menggunakan analisis teknikal untuk memprediksi pergerakan harga saham, percaya bahwa harga adalah pertarungan antara pembeli dan penjual.  Harga hanya bisa bergerak naik apabila terdapat pembeli yang masuk untuk melakukan pembelian.  Jika tidak ada pembeli, harga akan bergerak turun dengan sendirinya.  Harga akan bergerak turun semakin tajam jika terdapat penjual yang memasuki arena.  Harga hanya bergerak naik jika terdapat pembeli yang masuk ke bursa.

Nah.. sekarang, sebuah support adalah suatu level atau kisaran harga dimana pembeli memiliki probabilitas yang lebih besar untuk muncul.    Pembeli muncul, harga kemudian rebound.  Itulah yang terjadi ketika harga mencapai suatu support level.  Suport ini adalah suatu level harga dimana pembeli muncul, dan melakukan aksi beli, sehingga harga kembali bergerak naik (rebound).

Dalam analisis fundamental, tidak dikenal apa yang namanya support.  Analisis fundamental lebih mengedepankan valuasi, dibandingkan dengan pergerakan harga.  Akan tetapi, ada sedikit fakta yang kita tidak boleh lupakan:

  • Analis fundamental berasumsi bahwa seiring berjalannya waktu, harga saham akan bergerak menuju valuasi fundamentalnya.  Selain itu…
  • Rekomendasi ‘BELI’ (selanjutnya saya tulis sebagai BELI) diberikan apabila harga memiliki potensi kenaikan sebesar 10% atau lebih.  Atau dengan kata lain, jika sebuah saham ternyata memiliki valuasi sebesar 10% (atau lebih) dibandingkan dengan harga terakhir, maka seorang analis fundamental bisa saja memberikan rekomendasi BELI pada saham tersebut.

Sekarang… kedua fakta tersebut saya ‘aduk’ atau saya ‘sajikan ulang’ sebagai berikut:

  • Jika terdapat saham dengan fundamental yang bagus, turun sekitar 10% (atau lebih) dari valuasi fundamentalnya.  Apakah analis fundamental kemudian tidak memberikan rekomendasi BELI?

Disinilah sebenarnya asal mula dari munculnya level suport fundamental ini.  Ketika suatu saham dengan fundamental yang bagus mulai bergerak turun, maka pembeli fundamental akan mulai bergerak masuk (melakukan posisi beli) ketika harga sudah turun sekitar 10% – 15% dari valuasinya.  Atau, pembeli fundamental ini bisa saja muncul ketika harga sudah mulai turun pada kelipatan 5% (5%, 10%, 15%, 20% dst) dari valuasi.  Munculnya pembeli inilah yang kemudian membuat harga bergerak flat, atau bahkan mulai rebound terbatas setelah mencapai level-level harga tertentu.

Tabel berikut ini adalah posisi terakhir dari peta rekomendasi analis atas saham-saham blue chips.  Saham-saham tersebut diurutkan berdasarkan Rating (jumlah analis yang memberikan rekomendasi BELI jika dibandingkan dengan seluruh analis yang menganalisis saham tersebut).

Sebagai contoh, kita sekarang coba bandingkan antara PGAS dan ISAT, dua buah saham yang sama-sama dianalisis oleh 20 orang analis fundamental.  Jika harga kemudian sama-sama bergerak turun sebesar 20% dari rata-rata valuasinya (PGAS ke Rp 3925 – Rp 3950, dan ISAT ke 4800).  Manakah yang lebih dulu mengalami rebound: apakah PGAS yang  memiliki 17 dari 20 orang analis yang memiliki rekomendasi BELI, ataukah ISAT yang hanya direkomendasikan BELI hanya oleh 7 orang analis?

Tentu saja, posisi ini bukannya tanpa resiko.  Resiko pertama adalah tidak adanya jaminan bahwa kisaran tersebut adalah merupakan akhir atau bottom dari trend turun yang tengah terjadi.  Selain itu juga sebuah koreksi jangka menengah(yang berlangsung 2 – 3 bulan), penurunan yang terjadi bisa saja berlangsung lebih dari sekedar 20% atau bahkan 30%.  Resiko berikutnya adalah: analis fundamental cenderung lebih sulit untuk mengubah pendapatnya dibandingkan dengan seorang analis teknikal.  Sebagai contoh: Sebelum mulai turun harganya pada tahun 2008 lalu, ketika harga masih diatas Rp 8.000, BUMI adalah saham yang menjadi ‘idola’ dari para analis fundamental yang menganalisis saham ini.  Seingat saya, dari sekitar 20 – 25 orang analis fundamental yang menganalisis saham ini, seluruhnya memberikan rekomendasi yang positif (bisa BELI, OUTPERFORM atau rekomendasi yang sejenisnya).  Ketika harga mulai turun dibawah Rp 5000, baru satu analis yang memberikan rekomendasi HOLD.  Dan ketika harga mulai masuk dibawah harga Rp 1000 di bulan Desember, baru sekitar 2 – 3 orang yang memberikan rekomendasi yang negatif (HOLD atau JUAL).  Jadi, kalau setelah harga turun 10% – 15%, anda melihat analis fundamental terus memberikan rekomendasi BELI, tapi harga kemudian terus menerus bergerak turun, maka anda juga tidak perlu terlalu heran.  Analis fundamental yang hanya bereaksi terhadap kondisi fundamental terakhir dari emiten, sering kali terlambat dalam bereaksi terhadap faktor-faktor psikologis yang terjadi pada pasar.

Suatu kisaran atau level support adalah tempat dimana pembeli memiliki probabilitas yang lebih besar untuk muncul, apapun alasannya.  Faktor fundamental juga bisa menjadi alasannya.  Suport Fundamental adalah kisaran atau level harga dimana pembeli yang berbasis pada analis fundamental memiliki peluang yang tinggi untuk kembali masuk ke pasar untuk melakukan posisi BELI

So… Sejauh ini sih, trend IHSG masih cenderung flat.  Trend IHSG baru berubah menjadi trend turun jika support di kisaran 3630 – 3650 gagal menaham trend turun IHSG.  Berbagai insiden yang terjadi di semenjung Korea, sepertinya telah membuat risk averter keluar dari market (melakukan posisi jual).  Tekanan jual yang terjadi pada hari Jumat kemarin, terlihat berhasil dalam membawa saham-saham big caps (TLKM, ASII, BBRI, BMRI, dan BBCA) ditutup dibawah suportnya.  Ini membuat harga dari saham-saham terlihat telah ‘siap untuk turun’ jika kondisi terburuk terjadi di semenanjung Korea.  Belum tentu turun juga sih… karena bisa saja hari ini kita rebound setelah pada hari Minggu kemarin ternyata tidak terjadi apa-apa di semenanjung Korea.  Akan tetapi, saya hanya sekedar ingin mengingatkan: Dengan trend jangka panjang IHSG yang masih berada dalam trend naik (saya masih tetap percaya IHSG bisa mencapai 5000 dalam 1 – 2 tahun kedepan), jika harga saham bergerak turun, maka akan menjadi kesempatan kita untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih murah.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Undangan Market Outlook 2011

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Patient is a Profitable Virtue…

November 23rd, 2010 4 comments

Selamat siang…

Kesabaran adalah sifat baik yang menguntungkan

Ini tentu saja bukan perkataan dari saya (hehehe). Saya menemukan pernyataan ini pada buku “Investor Psychology Explained” tulisan Martin Pring. Saya sudah agak lupa penjelasan lengkapnya, tapi yang saya ingat adalah: dalam trading, kita itu memang harus selalu bersabar. Kita tidak perlu terburu-buru.

Untuk memperoleh keuntungan, kita tidak perlu memiliki posisi setiap hari. Untuk memperoleh keuntungan, kita tidak harus berada di dalam market setiap saat. Terkadang, ada memang waktu, dimana portfolio kita itu kosong. Tidak ada isinya, alias full cash. Terutama karena Bursa Efek Indonesia itu hanya bisa memberikan keuntungan searah: Beli – Harga Naik – Jual. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk melakukan short selling. Terutama investor retail yang kecil-kecil.

Ketika kita sudah dalam posisi full cash dan harga kemudian turun, kita tentu saja harus mempersiapkan langkah selanjutnya:

  • Kemana arah Long term IHSG?  –> kalau IHSG long term masih bullish, berarti koreksi ini adalah untuk belanja.
  • Dimana arah IHSG short term? –> pada level IHSG berapa kita mulai bisa belanja.
  • Saham-saham apa yang sebaiknya menjadi incaran kita?  –> tergantung Outlook kita untuk tahun 2011 nanti lah..
  • Di level harga berapa kita sudah bisa mulai melakukan akumulasi? atau berapa entry level-nya?

Semua sangat tergantung pada trading plan (rencana trading) yang telah kita buat sebelumnya.

Jika anda tanya saya mengenai jawaban atas pertanyaan-pertannyaan diatas, jawaban saya sih, singkat saja: IHSG masih mau ke 5000 dalam 1 – 2 tahun.  Koreksi ini (jika IHSG hari ini gagal ditutup dibawah 3700), akan membawa IHSG kebawah level 3600.  Yang bagus sih.. kalau IHSG bisa koreksi IHSG bisa mencapai 3450 – 3550.  Saya sih tidak terlalu khawatir karena koreksi ini sepertinya adalah koreksi short term.  Jadi.. saya mau memanfaatkan koreksi kali ini untuk belanja.

Stock picknya apa?  ‘Entry level’-nya di berapa?

Wah… kalau itu… saya baru bisa sampaikan dalam satu dua hari.  Tapi petunjuknya:

  • carilah saham yang dianalisis oleh banyak analis (fundamental), dimana sebagian besar analis dari analis itu memberikan rekomendasi beli.  Atau bisa juga:
  • perhatikan retracement 50% dari trend naik jangka menengah dari saham-saham yang dianalisis oleh banyak analis fundamental.

Alternatif yang lain, anda bisa juga mengikuti acara Market Outlook 2011 PT Universal Broker Indonesia yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 4 Desember nanti.

Tidak semua posisi rugi, harus dilakukan cut loss. Semua tergantung strategi trading yang kita lakukan. Yang jelas, jika anda trading pada saham-saham yang memiliki kinerja keuangan yang bagus, serta posisi fundamental yang jelas (nggak cuman perusahaan investasi yang pergerakan harga sahamnya hanya di dorong oleh rumor), maka anda tidak perlu khawatir. Long term IHSG masih bagus kok. Nanti kan rebound lagi.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal
Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Sulitnya memberikan rekomendasi ‘Cut Loss’

November 12th, 2010 4 comments

Selamat siang…

Pak… saya punya posisi di saham XXXX… kecantol sudah agak lama.  Enaknya saya cut loss enggak ya pak? Kalau cut loss saya jual di harga berapa?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan standar pada hari-hari begini. IHSG sudah naik sedemikian banyak, pemodal pasti ‘gatal’ melihat ada saham dalam portfolionya yang tidak naik-naik, atau tidak kembali ke harga belinya beberapa waktu yang lalu. Bagi anda yang mencari rekomendasi ‘Cut Loss’ kepada saya, tolong diingat, bahwa saya terikat oleh aturan pasar modal sebagai berikut

UU No. 8 Tahun 1995 Pasar Modal, Pasal 107:

Setiap Pihak yang dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan Pihak lain atau menyesatkan Bapepam, menghilangkan, memusnahkan, menghapuskan, mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, atau memalsukan catatan dari Pihak yang memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran termasuk Emiten dan Perusahaan Publik diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Tentu saja, itu semua argumentatif. Tapi.. ketika anda melakukan cut loss, maka anda rugi.  Dan jika saya ‘menyarankan posisi cut loss’ berarti saya dengan ‘sengaja merekomendasikan untuk rugi’.   Sehingga… jika saya menyarankan anda untuk cut loss, dan ternyata harga tidak turun.. malah naik. Apa tidak dengan mudah anda bilang: “lah… Pak Tommy, kemarin anda sengaja menyuruh saya untuk mengambil posisi rugi”… gimana ini?

Saya sebenarnya hanya mau main aman. Weblog ini adalah sebuah area publik. Artinya, preferensi resiko anda (pembaca) belum tentu saham dengan preferensi resiko saya. Jadi… mohon.. dengan hormat:

Jangan lagi minta rekomendasi CUT LOSS pada saya melalui website ini!!!

(Kalau anda mau konsultasi portfolio anda, anda bisa langsung bertemu saya di PT Universal Broker Indonesia, Menara BCA Lantai 49, Grand Indonesia.)

Meskipun demikian, saya ingin memberikan sedikit nasehat kepada anda yang ingin melakukan cut loss:

1. Cut loss adalah sebuah posisi trading.

Cut loss sebenarnya adalah sebuah posisi jual yang dilakukan dengan harapan harga masih akan bergerak turun dalam jangka pendek. Jika anda sekarang, anda juga harus memperhatikan:

* arah pergerakannya ke bawahnya ke berapa?
* berapa potensi penurunannya? jangan-jangan potensi penurunannya sudah tidak cukup lebar lagi.

2. Karena Cut loss adalah posisi trading, maka sebagai trader anda Harus DISIPLIN!!

Ketika cut loss adalah posisi trading, anda juga harus punya persiapkan bahwa anda bisa saja salah. Jadi: JIKA HARGA TERNYATA BERGERAK NAIK, DIMANA NANTI SAYA HARUS BAIBEK!!! Ingat loh ya… Karena posisi jual dulu terus baibek dibawah seperti ini adalah sebuah posisi trading.. posisi jangka pendek, maka anda juga harus disiplin ketika anda SALAH. Kalau anda tidak disiplin, posisi cut loss anda, malah bisa jadi ajang untuk realisasi kerugian investasi. Nggak bagus juga kan?

3. Terakhir, yang paling penting adalah: pikirkan kembali: Pelajaran apa yang anda dapat setelah anda cut loss?

Salah satu teman saya, pernah memasang status ini dalam FB-nya:

Mahalnya uang sekolah yang harus dibayar … Ini akibat loncat kelas ke SD tanpa melalui TK.

Realitas ini sebenarnya yang banyak dialami oleh para trader yang baru saja mulai trading semenjak bottom 2008 lalu. Baru dikasi bullish market selama satu tahun lebih sedikit, langsung diterjang koreksi seperti ini. Kecepatan koreksinya menyeramkan lagi. Tidak sempat dikasi ruang yang cukup untuk berpikir. Nah.. jika dalam kondisi seperti ini, anda kemudian terpaksa untuk cut loss, anda juga harus tahu dong: pelajaran apa yang anda bisa ambil dari posisi cut loss tersebut! Jangan sampai.. anda sudah bayar biaya sekolah yang mahal (maksudnya, dengan kerugian yang anda alami dengan melakukan cut loss), ehh.. ternyata.. tidak ada pelajaran satupun yang nempel di kepala anda. Sayang bukan?

Apa sih yang menjadi pelajaran terbaik ketika kita melakukan posisi cut loss?

Jika anda melontarkan pertanyaan itu kepada saya, maka jawaban saya adalah sebagai berikut:

  1. Trading memang berbeda dengan investasi. Kalau anda seorang investor, ya sudah toh. Anda kan investasi. Selama anda percaya pada value perseroan, mengapa anda harus bingung? Tenang saja. Nanti kan harga kan kembali. IHSG juga akan terus naik hingga level 5000 dalam 1 – 2 tahun.  Tapi.. kalau anda seorang trader… Hehehe… anda coba anda baca tulisan dari Gregg Capra dan Oliver Velez pada buku ini deh… kemudian anda renungkan: kesalahan apa yang telah anda lakukan sehingga anda berada dalam kondisi seperti sekarang ini.
  2. Prediksi, terutama presisi prediksi (hit rate) yang tinggi, tetap menjadi komponen penting dalam melakukan trading. Dalam trading, prediksi memang bukan hal yang paling penting. tapi, tanpa presisi prediksi yang tinggi, anda bisa apa? Mau pake money management doang? Kalau pas market naek, gak papa.. tapi.. kalau pas market seperti ini? Trading itu.. bukanlah MANAJEMEN POSISI NYANGKUT!
  3. Trading itu harus terencana, sehingga anda selalu tahu apa yang harus anda lakukan, kapan saja dan dalam kondisi market seperti apapun. Mau beli, mau jual, mau cut loss, mau take profit, semua harus ada planningnya. Dari planning itu, nanti anda bisa mengukur kualitas anda. Ingat, kualitas trading itu berbeda dengan kualitas prediksi!
  4. Dalam trading, anda menghadapi resiko SEORANG DIRI! Yang dibuat untuk membeli saham itu.. duit anda sendiri. Terkadang, orang lain yang merasa lebih pintar dari anda, menyuruh anda untuk beli ini, beli itu, beli ini, beli itu. Apakah orang lain itu akan bertanggung jawab ketika anda mengalami kerugian? Tentu tidak kan?
  5. Trading itu adalah sebuah permainan otak yang membutuhkan kerja keras. Seorang Utut Adianto tidaklah muncul dengan begitu saja dalam semalam. Untuk menjadi seorang pecatur handal, perlu pembelajaran, latihan, dan kerja keras. Trading, kurang lebih sama. Trading memerlukan kerja keras agar anda bisa memperoleh apa yang anda mau. Kalau nggak mau kerja keras untuk belajar? Jadi investor ajah. Market turun gini.. porto tinggal ditaruh. Ngapain juga prediksi pergerakan harga jangka pendek. Nanti kan balik lagi. Lebih nggak susah kan?
  6. Koreksi memang diciptakan agar kita dapat membedakan antara trader yang pintar dengan trader yang (hanya) beruntung. Trader yang pintar bisa melakukan posisi beli dan posisi jual dengan bijaksana dan terencana.  Sehingga bisa selamat dalam kondisi market seperti apapun juga.  Sedangkan Trader yang beruntung.. bentar juga menghilang. Ditelan ganasnya market. :D

Arah dari pergerakan harga itu, ada dua: Naik atau Turun.  Dan ‘Jual ketika harga akan bergerak turun’ adalah salah satu bagian dari strategi trading.  Jika anda adalah seorang trader, anda memang harus bisa lebih pintar untuk bisa mengambil keuntungan dari dua sisi arah pergerakan harga.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal
Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Berikanlah ‘Solusi’… Jangan hanya ‘Prediksi’

November 10th, 2010 18 comments

Selamat siang…

Jika anda rajin membaca blog saya ini, pasti anda sudah membaca komentar berikut ini (dari tulisan: Mencari pembanding ‘Apple to apple’ untuk Krakatau Steel):

syubban :

mau nanya pak satrio, saya kan ditawarin saham ks 10 juta lembar, tp ada premiumnya 15 %, kira – kira ada tips- tips yang perlu diperhatikan utuk transaksi saham di black market seperti ini.

Thanks Syubban ( kompl. dep. keuangan karang tengah )

Dan jawaban saya:

satrio :

(hahaha… rumah kita deket dong pak… saya juga di seputaran Jl Raden Saleh, Karang Tengah situ… :D )

Begini pak Syuban..

Kalau anda melihat tulisan saya tadi, berarti P/E perusahaan sejenis yang ada di emerging market (dalam hal ini adalah China dan India), ada di level 13.65x. Artinya, jika P/E Krakatau Steel untuk 2011 adalah sebesar 9.9x, berarti EPS-nya sekitar Rp 85 per lembar saham. Jika kita asumsikan kalau harga saham KS akan mengejar perusahaan sejenis yang ada di regional, berarti harga dari KS bisa mencapai Rp 1150 – 1200 per lembar saham. Sekarang gini pak.. main saham itu, resikonya besar. Untuk ide trading seperti apapun juga, kadang-kadang saya suka mensyaratkan bahwa tingkat keuntungannya harus 10% (minimal). Artinya, dengan arah ke Rp 1150 – 1200, maksimum kita boleh (beli KS lewat cara apapun juga) adalah di level 1035 – 1080. Premium 15% pak? jadi 850*(1+15%)= Rp 977.5. Itu masih dibawah batas bawah yang 1035 – 1080 itu tadi.

Semua terserah Pak Syubban.. Tapi pak Syubban harus selalu ingat: Tidak ada jaminan bahwa harga KS akan bergerak menuju kisaran Rp1150 – Rp1200! Ini semua hanya hitungan angka.

Anda mungkin juga sudah membaca tulisan saya mengenai apa yang harus dilakukan jika kita memiliki saham TLKM. (Which is kalau itu anda lakukan, berarti minimal anda sudah bisa untung sekarang, karena TLKM juga sudah memasuki kisaran target saya di 8350 – 8600). Satu hal yang ingin saya tekankan disini adalah:

Menjadi ketika anda menjadi narasumber (seperti saya), anda sebenarnya harus mampu memberikan solusi bagi orang yang menjadi pembaca anda.

Menjadi narasumber itu tidak semata-mata anda memiliki stock picking (beli ini, beli itu, tapi gak jelas kapan jualnya), tapi ketika terjadi kondisi-kondisi tertentu, kita juga harus bisa memberikan solusi. Kalau cuman bilang beli sih gampang (terutama ketika market bullish seperti ini). Anak saya yang umur 5 tahun juga bisa (seingat saya, dia malah sudah bisa melakukannya ketika dia berumur 3 tahun). Akan tetapi, ketika harga tidak selamanya bergerak naik, dan tidak semua saham adalah saham yang ‘jelas’, ketika trading adalah suatu strategi, maka kita harus bisa memberikan solusi. Solusi ketika harga mau naik, dan solusi ketika market atau harga saham bergerak turun.

So.. bagi anda yang berkeinginan untuk memperoleh keuntungan dari pasar modal Indonesia dengan melalui prediksi. Ikutilah selalu tulisan saya disini, atau di weblog saya: www.rencanatrading.com.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal
Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Pak… TLKM saya enaknya diapain ya?

November 5th, 2010 13 comments

Selamat sore…

(sorry.. ini saya di bandara, jadi angka yang saya utarakan disini, mungkin belum detail, silakan baca lagi ulasan ini di hari selasa atau rabu minggu depan jika anda menginginkan angka yang detail).

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang paling sering diutarakan pemodal kepada saya belakangan ini.  Sebelum menjawab pertanyaan diatas, saya mencoba mengulas, beberapa ‘rumor’ atau ‘faktor’ yang kemungkinan adalah pendorong terjadinya tekanan jual TLKM belakangan ini.

1.  Kinerja 3Q10 TLKM yang agak menurun.

Analisis:  Seingat saya sih, laba bersih TLKM untuk 3Q10 masih sesuai dengan ekspektasi.  Kinerja saya kira bukan yang menyebabkan tekanan jual ini.  Meski juga saya tidak memungkiri fakta, bahwa diawal minggu kemarin, terdapat sekitar 5 analis yang mengeluarkan report analisis untuk TLKM dengan rekomendasi HOLD.

2.  Rebalancing Portfolio menjelang IPO Krakatau Steel (KS)

Analisis: Ini adalah faktor yang paling masuk akal kalau menurut saya.  Ini karena KS, bakal menjadi Top 10 Big Caps.  Orang kemudian mengurangi portfolio di saham-saham big caps (ingat loh, ASII dan GGRM Kamis kemarin juga muncul tekanan jual) untuk memasukkan KS kedalam portfolio mereka.  Tapi, apakah ini memang faktornya, kita harus menunggu hingga hari Senin.  Mengapa hari Senin, karena di hari itu sudah keluar pengumuman mengenai penjatahan IPO KS untuk yang ikutan pooling.  Jadi pada hari Senin, orang bakal sudah tahu berapa jumlah duit yang harus dipersiapkan untuk mengambil KS di pasar, atau malah membeli saham big caps lain.

3.  Adanya rumor bahwa Deal antara BTEL dan Flexi sudah ‘done deal’.

Analisis: Setiap ada deal besar seperti ini, pasti ada pemilik saham yang suka atau tidak suka.  Yang tidak suka akan membuang barang (melakukan posisi jual). Akan tetapi, Saya kira.. ini bukan faktornya.  Atau at least.. kalau ini faktornya: berarti kita harus menunggu sampai hari Rabu atau Kamis.  Jika pada hari itu TLKM masih mengalami tekanan jual, berarti.. bisa jadi faktor ini adalah pendorongnya. Tapi … tetap saja… saya kemarin sempat confirm dengan salah satu teman yang ada di grup Bakrie.  Katanya deal ini masih lama.  Artinya: masa sih ada faktor khusus yang bisa mempercepat deal ini?  Menurut saya sih.. kecil sekali kemungkinannya.

So… mana yang benar?  Kita hanya bisa menunggu hingga pertengahan minggu depan. Saya sih belakangan memang sudah mulai merekomendasikan pemodal untuk melakukan posisi spekulatif. Karena setelah suport TLKM di 8600 ditembus, arahnya adalah ke kisaran 7850 – 8050. Selain itu, jika memang level 7500 – 7850 adalah bottomnya, berarti retracement 50% (the most probable arah pergerakan harga untuk TLKM jika rebound) sudah di kisaran 8350 – 8600.  Resiko sepertinya sudah tidak terlalu besar.  Rewardnya juga sudah lumayan.  Cukup menarik untuk dilakukan positioning.

Sekarang, kembali ke pertanyaan awal: Pak.. kalau saya punya posisi di saham TLKM, enaknya diapain ya?  ya.. kalau anda adalah seorang trader yang percaya bahwa bottom sudah dekat (seperti saya), berarti anda harus melakukan average down, dimana harga rata-rata yang baru harus sudah berada dibawah kisaran target jangka pendek di 8400 – 8600.  Minimal, jika anda ingin keluar (jual) di kisaran harga itu… anda sudah tidak rugi lagi.

Saya mau mengingatkan satu hal: Tidak ada jaminan bahwa kisaran 7500 – 7850 akan menjadi bottom untuk jangka pendek.  Kalaupun memang bottom, juga tidak ada jaminan bahwa kisaran 8400 -8600 akan menjadi targetnya.  Ini semua hanya ‘the most probable event’ menurut apa yang saya pelajari dengan teori Retracment 50% (lihat ulasan mengenai hal ini di buku tulisan saya).  Jadi.. tetap saja: tidak ada jaminan bahwa jika anda mengikuti apa saran saya, anda pasti untung. :D

Sementara itu dulu.  Panggilan boarding niy…

Happy trading.. semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal
Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Market Comment Tags: ,