Archive

Archive for October, 2010

Angin segar di awal minggu…

October 31st, 2010 No comments

Selamat siang…

Pada hari Jumat kemarin, banyak sekali emiten yang mengeluarkan laporan keuangan kuartal ketiga tahun 2010 (3Q10). Hasilnya ternyata cukup menggembirakan. Hasil dari laporan keuangan 3Q10 tersebut, diharapkan bisa menjadi angin segar untuk di awal minggu ini.  Beberapa poin penting yang menjadi perhatian saya adalah:

  • Laba bersih BBRI ternyata sesuai dengan ekspektasi.  Sebelumnya, manajemen mengeluarkan indikasi bahwa BBRI hanya menhasilkan laba sebesar Rp 6 trilyun.  Mengingat angka ini dibawah angka konsensus Rp 6.3 tr, harga kemudian tertekan pada perdagangan hari Rabu – Kamis.  Publikasi laporan keuangan 3Q10 pada hari Jumat, telah membuat harga mulai rebound.
  • Laba bersih dari ASII diatas ekspektasi.  Dengan kisaran ekspektasi sebesar Rp 8.8 tr hingga Rp 10.1 tr, laba bersih ASII untuk 3Q10 sebesar Rp 10.36 tr jelas berada diatas ekspektasi pasar.
  • Selain ASII, emiten yang berhasil membukukan laba bersih diatas ekspektasi analis diantaranya: JSMR, INCO, INDF, dan ICBP.
  • Disisi lain, emiten yang kinerja keuangannya dibawah ekspektasi analis diantaranya adalah: AALI, ANTM, ADRO, ISAT, KLBF, PTBA, TINS .

Selengkapnya bisa dilihat pada tabel dibawah ini:

silakan 'double click' untuk memperbesar tabel

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa emiten yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar, cenderung berhasil membukukan laba bersih yang diatas ekspektasi, atau setidaknya sesuai (inline) dengan ekspektasi.

So… sentimennya cenderung positif.  Beberapa saham yang menunjukkan kinerja dibawah ekspektasi, mungkin akan cenderung mendapatkan tekanan dalam jangka pendek.  Selain itu, kedepan kita memang masih menunggu hasil kinerja dari kelompok Bakrie, dan ITMG yang belum memaparkan laporan keuangan 3Q10-nya. Akan tetapi, kita boleh bilang bahwa:

sentimen dari publikasi laporan keuangan 3Q10 adalah cenderung positif.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal
Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com



Categories: Market Comment, Market Outlook Tags:

Masih belum ada ‘Surprise’*

October 27th, 2010 No comments

(Catatan: Bagi anda yang ingin mengetahui arah dari IHSG dan harga saham-saham untuk bulan November, silakan mengikuti acara kami ‘Market Outlook November‘. Terima kasih).

Selamat siang…

Hasil (laporan keuangan) kuartal ketiga 2010 dari emiten sudah mulai dipublikasikan. Pertanyaan saya hanya satu: Sudahkah anda membandingkan angka tersebut dengan angka konsensus yang anda lihat pada tulisan saya sebelumnya?

Hingga pagi hari tadi, emiten yang sudah mengeluarkan laporan keuangan 3Q10 adalah sebagai berikut:

Kalau kita lihat di berbagai berita sih.. angkanya cukup ‘menakjubkan’.  BDMN laba bersihnya naik 61% menjadi Rp 2.2 triliun.  BBNI laba bersihnya naik 59.33% menjadi Rp 2.95 triliun. BBTN bahkan lebih fantastis lagi: Laba bersihnya naik 84.26% menjadi Rp 597 miliar.  Sekarang… pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana pengaruh angka tersebut terhadap pergerakan harga?  Posisi apa yang harus kita lakukan? Beli? atau Jual?  Mengapa dengan berita sebagus itu, harga masih bisa saja turun?

Masalahnya ada pada fakta ini:

Pemodal Lokal cenderung bereaksi terhadap berita, sedangkan Pemodal Asing lebih bereaksi terhadap hitungan atau proyeksi yang dia lakukan

Pemodal lokal memang cenderung hanya melihat berita. Mendengar bahwa laba bersih naik diatas 50%, orang pasti melihatnya: wah.. bagus nih, berarti kinerjanya bagus. Harga akan naik. Beli aaah… Akan tetapi, seorang pemodal asing akan bereaksi terhadap prediksi atau proyeksi yang sudah dia lakukan. Mari kita lihat tabel diatas. Laba bersih dari BBNI memang tinggi, naik 59.33%. Akan tetapi, angka laba bersih itu ternyata masih berada dalam kisaran batas bawah ekspektasi (70%) dan batas atas dari ekspektasi (80%) untuk 3Q10. Artinya, meski bagus, kinerja BBNI hanya sesuai dengan ekspektasi (analis sering menyebutnya sebagai ‘inline dengan ekspektasi’). BBTN juga sama. Laba bersih naik 84.26% bo… tapi ternyata juga hanya ‘sesuai dengan ekspektasi’. Satu-satunya yang bagus hanya BDMN. Itupun sebenarnya masih belum bisa melewati batas atas (80%) dari ekspektasi. Ujung-ujungnya: inline dengan ekspektasi juga.

Laba bersih PTBA yang baru dipublikasikan hari ini? Ternyata memang ancur banget. Hasil tersebut ternyata 15 % dibawah batas bawah ekspektasi. Jauh dibawah ekspektasi.

Apa yang akan dilakukan oleh para pemodal asing? Hm.. pemodal asing itu mengikuti saran dari analis fundamentalnya. Dalam kondisi seperti ini, analis fundamental bakalan sulit untuk bisa memberikan peningkatan rekomendasi. Bagi mereka yang memberikan rekomendasi Hold atau Sell, bakalan sulit untuk bisa berubah menjadi Buy. Mereka yang sudah memberikan rekomendasi beli, biasanya juga sulit untuk ‘menaikkan target harga’ atau ‘menaikkan valuasi’. Kalaupun mereka menaikkan valuasi, sering kali dengan cara-cara yang ‘standar’: mengubah metode valuasi, atau melakukan perbandingan dengan saham-saham serupa yang ada di regional sehingga mereka bisa meningkatkan P/E n(ini karena saham-saham di bursa-bursa di kawasan regional cenderung untuk memiliki P/E yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan saham di Indonesia). Sisanya? Bakal hanya memberikan rekomendasi dengan nada ‘datar’: tetap rekomendasi ‘Beli’, tapi tidak menaikkan target harga. Dalam kondisi seperti ini, akan sulit bagi pemodal asing untuk melakukan penambahan posisi.  Mereka mungkin akan tetap melakukan, tapi hanya berdasarkan aliran dana yang ada. Mereka tidak akan agresif melakukan positioning atas saham-saham tersebut.

So… Kalau beberapa waktu yang lalu saya sempat bilang: ‘Trend naik IHSG butuh Viagra’ agar tetap bisa ‘tegak lurus ngacung’, mempertahankan trend naiknya, maka fakta terakhir masih belum merubah pendapat itu. Laporan keuangan yang sudah dipubliasikan, sejauh ini hanya ‘biasa-biasa saja’. Obat kuat/Viagra dalam bentuk aliran dana asing tetap dibutuhkan dalam jumlah yang besar jika IHSG masih ingin untuk mempertahankan trend naiknya.  Kalau enggak? Kita harus benar-benar menunggu.. eh.. sapa tau ada emiten yang tiba-tiba bisa mencetak kinerja yang luar biasa bagus.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal
Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Nikmatnya melihat pergerakan harga dengan analisis teknikal*

October 25th, 2010 6 comments

Selamat siang…

Saya sebenarnya sudah dua-tiga minggu terakhir tertarik dengan chart ini:

Chart diatas adalah chart dari CPO. Dari chart tersebut bisa terlihat, bahwa setelah resisten dari triangle pattern di Malaysian Ringgit (MYR) 2725 ditembus, harga CPO memiliki potensi kenaikan ke kisaran MYR 3400 – 3500. Dari situ kemudian banyak pertanyaan lanjutan yang bermunculan, seperti:

  • Kalau harga CPO naik.. saham yang naik saham apa saja ya?
  • Kalau CPO naik, apakah kenaikan ini hanya kenaikan yang dipicu oleh kenaikan harga minyak? atau kenaikan Soft Commodities pada umumnya?
  • Apakah ini berarti juga kenaikan pada harga minyak goreng?
  • Bagaimana pengaruhnya kepada inflasi? Apakah berarti saya harus menghindari saham-saham perbankan yang cenderung tertekan jika inflasi memburuk?  Atau saya akan merekomendasikan saham-saham perbankan jika kondisi inflasi memburuk?

Hehehe… anda coba jawab sendiri deh.. pertanyaan-pertannyan tersebut.  Saya disini hanya ingin menunjukkan, bahwa dengan menggunakan analisis teknikal, anda bisa memprediksi arah pergerakan dari berbagai macam: harga saham, indeks, atau bahkan komoditas tentu saja dengan presisi prediksi yang bisa dipertanggungjawabkan.  Itu karena dalam mencapai suatu kesimpulan (prediksi), analisis teknikal hanya memerlukan (minimal) dua variabel: Harga dan Volume  (sebenarnya ada variabel ketiga, yaitu open interest, tapi variabel ini kurang begitu populer di Indonesia).

Harga apapun bisa diprediksi arah pergerakannya dengan analisis teknikal, selama instrumen tersebut diperdagangkan secara bebas dan memiliki catatan historis atas harga dan volume

Dan.. berdasarkan informasi itu, anda bisa bereaksi terhadap banyak hal, yang tentu saja terkait dengan pergerakan harga CPO tersebut. Itulah kenikmatan melihat pergerakan harga dari kacamata seorang analis teknikal: anda tinggal melihat arah pergerakan harga, tanpa anda harus lama mengamati, melihat berita-beritanya, atau bahkan melihat faktor penggerak apa yang menyebabkan harga itu bergerak.

So.. Apakah harga CPO memang mau ke MYR 3400 – MYR 3500?  Kita lihat deh… Yang jelas, tulisan ini bukanlah saran untuk melakukan posisi beli pada kontrak CPO, dan (terutama) bukan saran untuk membeli minyak goreng.  Saya hanya ingin menegaskan suatu hal: Kalau harga CPO sampai ke MYR 3500, berarti prediksi ini benar. Dan kalau ternyata CPO tidak sampai ke MYR 3400 – MYR 3500 (malah ke MYR 2900 atau MYR 2600), berarti prediksi saya salah. Well.. tidak ada yang 100% benar kan?

Oh iya.. jika anda ingin mengetahui bagaimana konsep dasar dari pola pergerakan harga berbentuk triangle (segitiga), anda bisa mengikuti link ini.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

*DISCLAIMER: Informasi yang terkandung dalam laporan ini telah disusun dari sumber-sumber yang menurut kami dapat diandalkan. PT Universal Broker Indonesia dan/atau perusahaan afiliasinya dan/atau masing-masing karyawan dan/atau agen penjual tidak menjamin keakurasian dan kelengkapan informasi. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil dari transaksi yang dilakukan dengan berdasarkan atas informasi yang ada pada laporan ini. Semua pendapat, prediksi, perkiraan, dan proyeksi yang ada pada laporan ini adalah merupakan pendapat terbaik yang kami buat, berdasarkan informasi yang kami miliki, pada tanggal laporan ini dibuat, dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak mengikat.

Mempelajari analisis teknikal dengan terstruktur

October 22nd, 2010 19 comments

(Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan lama di weblog saya.  Saya ‘recycle’ disini karena saya yakin bahwa sebagian besar dari anda, pasti belum membacanya.  Semoga berguna bagi kita semua)

Pada beberapa kesempatan di milis AATI (Asosiasi Analis Teknikal Indonesia), saya selalu ngomong: belajar analis teknikal itu yang terstruktur.  Belajar yang terstruktur itu apa sih? Seperti apa sih? Mengapa kita harus belajar analisis teknikal secara terstruktur? Bagaimana struktur belajar teknikal analisis yang benar?  Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan ini, marilah kita mengikuti jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Mengapa belajar terstruktur itu penting?

Masih ingatkah anda mengenai bagaimana cara anda mempelajari ilmu yang bernama ‘Matematika’? Apakah anda belajar mempelajari kalkulus, integral, atau geometri? atau anda memulainya dari yang basic-basic dulu: penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian??  Belajar secara terstruktur itu penting karena dengan pembelajaran yang tertruktur, anda bisa memperoleh gambaran yang lengkap mengenai ilmu yang anda pelajari. Pembelajaran yang tidak tertruktur, hanya membuat anda mengetahui ilmu tersebut secara sepotong-sepotong.

Dari gambar Red Vineyard dari Vincent van Gogh (dari www.wikipedia.org) diatas, kita bisa melihat bahwa pada tiga gambar yang diatas: pertama, gambar yang disebelah kiri atas adalah gambar sebuah pedati yang lewat didepan sekelompok orang yang ada ditengah sawah, gambar yang di sebelah kanan adalah gambar orang yang lagi ngadem di sungai, ditengah matahari yang bersinar terik, dan gambar yang di kiri tengah adalah gambar dari sekelompok orang yang tengah melakukan panen. Ok lah.. gambar-gambar tersebut adalah sebuah gambar yang indah.  Akan tetapi, jika kita bisa melihat gambar tersebut secara lengkap (gambar yang dibawah), maka kita bisa melihat keindahan tersebut secara lengkap. Mempelajari analis teknikal secara terstruktur akan membuat kita bisa menikmati gambaran teknikal tersebut secara utuh.  Kita bisa menikmati ilmu teknikal analisis tersebut secara utuh sehingga prediksi yang kita lakukan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Tidak hanya sekedar prediksi yang benar karena marketnya memang sedang naik.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimanakah struktur pembelajaran dari analisis teknikal itu?

Terus terang, saya adalah seorang yang bodoh.  Terlalu bodoh sehingga saya tidak mau membuat struktur pembelajaran saya sendiri.  Saya hanya mau menggunakan struktur pembelajaran analisis teknikal yang digunakan oleh organisasi teknikal dunia, yang berisi pakar-pakar analisis teknikal dunia, dalam mempelajari analisis teknikal.  Saya menggunakan struktur yang didesain oleh para pakar. Tidak membuat sendiri, tidak mengarang sendiri.

—–

Sebagai informasi, saat ini ada dua organisasi analisis teknikal di dunia.  Yang pertama adalah Market Technicial Associsation(MTA) dan International Federation of Technical Analysis(IFTA).  Keduanya adalah organisasi yang saat ini menjadi penyelenggara ujian standar bagi analis teknikal di seluruh dunia.  Mana organisasi yang lebih bagus? Saya juga tidak tahu.  Yang saya lihat: MTA lebih ke Amerika, sedangkan IFTA lebih ke Eropa&Asia/Pacific.

—–

Struktur pembelajaran ini sesuai dengan yang digunakan bagi mereka yang ingin menempuh ujian standar profesi Analis Teknikal.  Kalau versi IFTA, disebut sebagai ujian untuk mendapatkan gelar CFTe (Certified Financial Technical) yang terdiri dari dua level: CFTe level pertama, dan CFTe level kedua.  Disisi lain, kalau versi MTA, ujiannya disebut sebagai ujian untuk mendapatkan gelar CMT (Chartered Market Technicial), yang terdiri dari tiga level: CMT level pertama, CMT level kedua, dan CMT level ketiga.  Anda bila melakukan click atas link-link tersebut untuk mengetahui bagaimana struktur pembelajaran dari badan-badan analisis teknikal dunia tersebut.

Singkatnya, pembelajaran analisis teknikal itu terdiri dari dua level: Level Pemula dan Level Mahir.

Untuk level pemula, pengetahuan analisis teknikal yang harus dikuasai adalah:

  • Definisi dan asumsi dasar analisis teknikal
  • Cara-cara pembuat chart (terutama bar chart, candlestick, line chart)
  • Dow Theory
  • Price Pattern
  • Gap
  • Suport, resisten, dan trend
  • Fibonacci Ratio dalam analisis teknikal (Retracement, Extension, Projection)
  • Candlestick
  • Volume dan Breadth, serta cycle
  • Moving Average dan Momentum Indikator (modern analisis teknikal)
  • Mengenali titik puncak dan titik dasar
  • Pengetahuan dasar (definitif) mengenai Elliot Wave dan Gann
  • Psikologi trading yang basic (sekedar untuk mendapatkan sudut pandang yang benar mengenai pergerakan harga)

Kalau analisis teknikal level mahir:

  • Memperdalam pengetahuan mengenai psikologi pasar
  • Teknik melakukan posisi trading (termasuk didalamnya teknik untuk melakukan stoploss).
  • Melakukan prediksi dan trading dengan menggunakan Elliot wave dan Gann
  • Mempelajari teknik-teknik prediksi maupun psikologi trading dari para trader international yang sudah berhasil (belajar dari sukses story para trader internasional).
  • Mendalami alat-alat analisis teknikal yang sederhana sehingga bisa memperoleh kesimpulan dengan akurat dalam melakukan trading.
  • Menggunakan technical tools dengan cara yang sedikit berbeda sehingga akurasi prediksinya bisa lebih baik.

(Singkatnya.. anda bisa langsung meluncur ke link  bahan bacaan dari setiap level ujian, baik dari CFTe maupun CMT yang sudahsaya siapkan diatas.  Ditu semua sudah dibahas secara lengkap)

LHO?? KOK BANYAK SEKALI YANG HARUS DIPELAJARI PAK? NANTI KAN GAK TRADING-TRADING… KASI KITA JALAN SINGKATNYA DONG!!!

Hahaha… ini adalah pertanyaan/pernyataan dasar dari orang-orang yang sering saya jumpai.  ‘Indonesia Orde Baru’ banget gitu loh!!! Maunya pinter, tapi pake jalan singkat, tidak mau belajar.  Maunya kaya/untung, tapi cuman minta disuapi gak mau kerja keras.   Nggak mau tahu jalan untuk menjadi sukses atau mencari keuntungan gimana.  Tahu-tahu nanti cuman korupsi… menipu… atau jadi maling.  Aduuuuh..

So… saya cuman bisa berharap.. anda semua mau untuk mempelajari analisis teknikal dengan benar.  Dengan terstruktur.  Lama sih.. dan butuh kerja keras.  Tapi, jika anda berhasil, anda akan bisa melakukan prediksi dan trading dengan benar, baik ketika market sedang naik (bullish), maupun ketika market sedang turun (bearish).

Mari kita wujudkan Indonesia yang lebih baik dengan terus belajar dan berbuat kebaikan.

Happy trading… Semoga untung!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

IHSG sudah ‘Fully Valued’: Trend Naiknya Butuh Viagra…

October 18th, 2010 10 comments

Bagi mereka yang tahu akan ekonomi (tapi tidak pernah berkecimpung di dunia saham), angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanyalah satu indikator baik buruknya perekonomian.  Agar perekonomian bisa disebut sebagai ‘baik’, maka IHSG haruslah bergerak naik.  IHSG naik itu berarti emitennya tumbuh, bursanya sehat, perekonomiannya jalan.  IHSG yang turun itu tidak disukai.  Karena itu berarti perekonomian memburuk, lesu.

Sekarang, IHSG sudah bergerak naik dalam waktu yang sangat lama.  Jika di akhir tahun lalu, IHSG masih ditutup pada level 2534, IHSG minggu kemarin sudah sempat mengenyam titik tertinggi di level 3645, atau sudah sempat naik 43.8%.  Jika dilihat dari 13 Juli saja, saat Japan Credit Rating Agency menaikkan rating surat hutang Indonesia kedalam investment grade, IHSG sudah bergerak naik sekitar 23%, dari level 2961.  Masihkah IHSG bisa bergerak naik?

Saya mencoba mencari jawaban dari valuasi konsensus yang diberikan oleh para analis fundamental yang dihimpun oleh kantor berita Bloomberg atas 25 saham Blue Chip yang kapitalisasinya mencakup 65% dari IHSG.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya:

  • Target harga konsensus (jika seluruh rata-rata target harga tersebut tercapai) ada di sekitar level 3615.  Artinya… dengan level saat ini (posisi penutupan hari Jumat) berada di level 3597, potensi kenaikannya hanya sekitar 0.5%.
  • Suatu saham disebut sebagai ‘under value’ jika potensi kenaikannya adalah sebesar 10% atau lebih.  Dari saham-saham bluechip tersebut, terlihat hanya PGAS yang undervalue.  Kalau kita agak ‘cincay’ (memasukkan saham-saham yang potensi kenaikannya ‘mendekati 10%’ ke dalam saham-saham yang undervalue), berarti kita masih bisa menambahkan BBRI dan TLKM.  Artinya, dari 25 saham, hanya 3 saham (12%) yang masuk kategori Undervalue.
  • Sebaliknya, suatu saham disebut sebagai overvalue apabila posisi level harga terakhirnya sudah lebih dari 10% rata-rata valuasi konsensus.  Dari 25 saham tersebut, terdapat 3 buah saham yang overvalue: GGRM, ITMG, dan UNVR.  Dengan kata lain: 12% dari 25 saham tersebut sudah berada dalam kondisi overvalue.
  • Sisanya (19 saham atau 76%) sudah berada dalam kondisi ‘fully valued’.

Hari-hari ini, kita memasuki masa pengumuman kinerja kuartal ketiga tahun 2010 (3Q10) dari para emiten.  Dengan kondisi IHSG dan saham-sahamnya yang sudah berada dalam kondisi ‘fully valued’, berarti: jika kita berharap bahwa IHSG masih bisa naik lagi, maka harus banyak laporan keuangan yang bisa memberikan ‘Earning Surprise’ (laba bersih yang diatas ekspektasi analis).  Apakah itu mungkin?  Saya sih terus terang tidak terlalu berharap.

Ditambah lagi.. adanya berita yang muncul Senin (18 Oktober) tadi pagi: Morgan Stanley melakukan penurunan bobot dari portfolio Emerging Market dari 6% menjadi 4%…

Masihkah IHSG bisa melanjutkan trend naik jangka pendeknya?

Yang jelas sih.. kalau trend naik ini berakhir.. pasti bukan karena overvalue atau bahkan Bubble. P/E IHSG : 15.4 kali (menggunakan earning 2011).  Ini masih dalam area normal.  Tidak bisa dikatakan murah juga sih.. tapi belum bisa dikatakan mahal.  Dari perjalanan IHSG semenjak tahun 1984, P/E IHSG sebenarnya baru bisa dikatakan mahal, kalau P/E sudah diatas 20 kali atau bahkan 25 kali.  IHSG Bubble?  Itu kalau P/E IHSG sudah diatas 30 kali – 35 kali.  Masih jauhlah dari IHSG Bubble.

Aliran dana asing: Tetap menjadi Kunci

Dengan posisi IHSG yang ‘fully valued’, sebenarnya agak susah untuk mencari alasan apa yang membuat IHSG masih bisa bergerak naik lagi.  Dalam kondisi seperti ini, aliran dana asing tetap menjadi kunci.  Aliran dana asing yang besar, akan menjadi ‘viagra’ bagi market yang sudah ‘dalam kapasitas penuh’ seperti sekarang ini.  Selama aliran dana asing ini tetap normal, dalam artian aliran dana asing per hari masih diatas Rp 200 miliar per hari seperti apa yang terjadi semenjak tanggal 13 Juli, IHSG sepertinya masih bisa mempertahankan trend naiknya.  Sialnya, seminggu terakhir, aliran dana asingnya terlihat dibawah rata-rata.  Apakah ini berarti trend naik IHSG memang dalam bahaya?

Aksi ‘cetak uang’ (menggelontorkan likuiditas ke pasar melalui program quantitative easing), sambil terus menuduh China sebagai biang dari Currency war, yang dilakukan oleh Amerika, sepertinya tetap akan membuat orang malas untuk memegang US$.  ‘Hold anything but US$’ ini sepertinya akan membuat harga emas terus naik menuju kisaran US$1500 – US$1600 per troy ounces, Indeks Dow Jones Industrial yang masih memiliki potensi kenaikan hingga 11300 – 11500, dan juga Indeks HangSeng yang masih berpeluang untuk naik ke kisaran 24500-25000.  Orang nggak mau pegang US$ akan terus membeli Emas, komoditas (hard commodities dan soft commodities), mata uang asing, saham-saham di luar Amerika, bahkan saham-saham Amerika sendiri.

Penutup

Saya sih sebenarnya sudah tidak suka dengan kondisi ini.  Harga saham sudah fully valued, penurunan bobot yang dilakukan Morgan Stanley, dan trend naik yang sudah berlangsung terlalu lama.  Harga hanya bergerak naik karena orang masih mau beli, bukan karena harga sahamnya memang masih murah.  Dana yang masuk juga sudah bukan karena kebutuhan orang untuk berinvestasi, tapi lebih karena kebutuhan orang untuk ‘membuang Dollar(US$)’.  Tapi.. kalau ada orang tanya: Pak.. Kapan kita koreksi?  Saya juga tidak bisa menjawab.  Yah.. Downgrade yang dilakukan oleh Morgan Stanley sepertinya bisa menjadi harapan.  Tapi, kalau aliran dana asing masih terus berlangsung, terlebih lagi, dengan trend naik di bursa regional yang masih kuat (setidaknya hingga hari Jumat lalu signal bearishnya masih belum nampak).  Signal bearish yang beberapa hari terakhir banyak muncul di saham-saham big caps?  Ah.. itu kan cuman para fund mananger yang rebalancing portfolio, mempersiapkan dana untuk IPO Krakatau Steel.  Secara teknikal, trend naik IHSG jangka menengah hanya berakhir, jika support IHSG di 3535 gagal bertahan.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst
Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Categories: Market Outlook Tags: