Bagaimana… Sudah Siap BBM 25000?*

April 15th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Minggu lalu… Menteri ESDM … Bapak Sudirman Said… sempat bilang: Harga BBM akan naik lagi!!! Gile bener.  Baru juga tanggal 8… tapi sudah mulai berkoar kalau harga BBM mau naik lagi.  Alasannya juga keren: Karena menjelang musim panas.. harga BBM akan naik lagi.  Memang sih… itu faktor penggerak harga minyak.  Tapi… signal yang saya baca adalah: bahwa harga BBM Subsidi akan naik karena Pemerintah mengantisipasi kenaikan harga di masa yang akan datang.  ‘Bagus’-nya lagi.. tidak lama kemudian.. di malam harinya… keluar berita baru:Harga minyak Brent turun 6% dalam semalam! Hehehe… manis bener…. Sialnya.. Pak Menteri kemudian tidak komentar mengenai hal itu.

Harga BBM: Memang Harus Mengambang

Kebijakan Harga BBM Subsidi seperti jaman SBY dulu… adalah kebijakan yang tidak benar.  Kita sudah melihat bagaimana akibatnya terhadap perekonomian kita:

 

    • Neraca perdagangan kacau

 

    • Impor BBM yang tidak terkendali

 

    • Rupiah melambung tinggi

 

    • Pertumbuhan ekonomi yang dipaksa melambat

 

    • Penggunaan hutang jangka panjang secara tidak efektif

 

dan masih banyak lagi.

Misal niy…  Kalau kita lihat realisasi APBN 2014 kemarin: Total Subsidi Energi Pemerintah (Listrik dan BBM) adalah sebesar Rp 341,8 trilyun.  Sedangkan .. jumlah Surat Berharga Neto yang dikeluarkan oleh Pemerintah selama 2014 adalah sebesar Rp 264,6 trilyun.  Apa gak berabe tuh… kalau kita ngutang jangka panjang dalam bentuk surat berharga, hanya sekedar untuk ‘dibakar’ untuk subsidi energi yang tidak lain sebenarnya adalah kebutuhan sehari-hari?

Semangatnya sudah benar….

Nah… setelah semua kekacauan yang ditimbulkan oleh Pemerintah SBY dalam 2 tahun terakhir Pemerintahannya… Pemerintahan Jokowi kemudian mengeluarkan PerPres no 191/2014 yang diantaranya mengatur tentang harga BBM.   Terkait dengan harga, terutamanya bisa dilihat pada pasal 14 dari Prepres tersebut.

 

    • Pasal 1: Harga dasar BBM ditetapkan oleh Menteri

 

    • Pasal 2: Harga dasar terdiri dari biaya perolehan, biaya distribusi, dan biaya penyimpanan, serta margin.

 

    • Pasal 3: Biaya perolehan (sebagaimana pasal 2).. bla.. bla .. bla… dilakukan dengan menggunakan harga indeks pasar.

 

    • Pasal 4: Harga jual eceran nantinya sudah termasuk PPN dan Pajak Bahan Bakar

 

Bagus kan? Berarti.. perubahan harga BBM sudah tidak seribet dulu.  Patokan harganya adalah menggunakan patokan indeks pasar.   Dengan peraturan ini.. harga minyak internasional seperti apa juga tidak akan membebani APBN.  Ini adalah kepastian

Beberapa problem yang muncul….

Problemnya terdapat pada pelaksanannya.

Yang pertama: Dalam Peraturan Menteri ESDM yang digunakan sebagai pelaksanaan dari Perpres tersebut, kemudian memasukkan faktor Rupiah.

Yang kedua: ternyata.. harga indeks minyak tersebut, kemudian diterjemahkan sebagai Mean Oil PLatts Singapore (MOPS).  MOPS itu harga gak jelas.. gak transparan.  Anda coba cari data historis dari MOPS.  Tidak semua orang bisa akses.

Yang ketiga: ya itu tadi.. Pak Menteri mau memasukkan prediksi harga masa depan.. dengan alasan yang agak gak jelas gitu.

Trendnya kok semakin kacau.  Meskipun harga terus disesuaikan, tapi semakin hari.. harga kok semakin jauh dari realita.  Ini yang membuat orang bingung, analis bingung, apalagi rakyat kecil yang dipingir jalan itu.  Duh.. gimana rasanya ye?

Problem Utama: Tidak ada Tranparansi, Tidak ada Akuntabilitas.

Korupsi itu.. mencuri.  Mencuri itu.. bisa dilakukan kalau ada kesempatan.  Kesempatan itu ada… kalau hari sudah gelap.. kalau sudah tidak ada transparansi lagi.  Meskipun idenya bagus, harga BBM yang mengambang pada prakteknya kemudian menjadi momok karena tidak adanya transparansi.  Karena tidak ada transparansi… maka orang mau berhitung juga gak bisa.  Rakyat jadi mustahil untuk mengantisipasi masa depan.

Kalau sudah begini.. resiko menjadi menjulang tinggi.  Belum lagi.. faktor ‘peluang bermain’ itu tadi.

Coba anda melihat Metamorfosis dari seorang Sudirman Said.  Dengan perintah dari Presiden untuk menutup Petral, Sudirman Said kemudian berevolusi dari seorang yang tegas, seorang yang toleranseorang yang permisif, dan seorang yang ‘berteman’ (kolutif).

Waduh.

Saya sedang cari cara gimana untuk bisa bilang dengan lebih sopan.  Tapi.. kalau kondisinya masih tetap seperti ini.  Sepertinya kita harus bersiap kalau harga BBM Premium bisa mencapai Rp 25.000 ketika harga minyak sudah kembali ke atas US$120.

Emang Presiden dan Rakyat siap kalau harga BBM Premium Rp 25.000 per liter?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Comment Tags:

Dollar 13.000 … Lantas… Anda mau beli gitu?*

March 12th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Kemarin… akhirnya.. Nilai tukar Rupiah terhadap US$ akhirnya ‘secara resmi’ menembus Rp 13.000 untuk setiap US$nya. Setelah beberapa hari nilai tukar Rupiah/US$ berkutat di sekitar level Rp 13.000 akhirnya kemarin US$ ditutup pada level Rp 13185, setelah sempat mencetak level tertinggi di Rp 13.215.

Mengapa US$ Menembus 13.000 ?

Dalam beberapa hari terakhir, muncul spekulasi bahwa The Fed akan ‘pasti’ menaikkan suku bunga pada FOMC bulan Juni 2015 nanti. Ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh Reuters terhadap 19 bank yang langsung berhubungan dengan The Fed, dimana 14 diantaranya berpendapat bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Juni nanti. Spekulasi ini, kemudian menghantam pasar. Indeks Dow Jones Industrial turun 300 poin lebih dan Euro jatuh dari 1.125 menjadi 1.050.

Rupiah sebagai salah satu mata uang di dunia juga ikut tertekan. Itu yang mengantarkan Rupiah ke level 13.000 pada hari-hari ini.

Ini semua adalah karena penguatan US$… bukan semata-mata pelemahan Rupiah!!!

Bagaimana sih posisi terakhir dari Rupiah terhadap US$ ?

Hehehe… saya sih kemarin agak bete. Agak bete karena ada orang dodol yang bilang…kalau Dollar 13.000 itu rekor, kita lebih buruk dari 1998.

150312 Rupiah Terburuk

Dollar ketika krismon.. sempat tertinggi di 16.800. Jelas kan?

Kalau anda tanya kepada saya .. Rupiah setelah 13.000 ini resistennya dimana… Anda bisa lihat pada gambar dibawah ini:

150312 Resisten Rupiah

Resisten Rupiah di 13.386. Rupiah sekarang di 13.175.

Lantas… apa yang harus kita lakukan?

Kalau saya sih … hehehe. Anda mungkin sudah tahu kalau saya sedang bullish banget terhadap market saat ini. Saya melihat perekonomian Indonesia sebagai turnaround story… cerita dari kondisi ekonomi yang memburuk dan berubah menjadi lebih baik. Secara teknikal.. saya juga masih melihat potensi IHSG untuk bergerak naik setidaknya hingga level psikologis 6000 di tahun 2015 ini. Jadi.. saya tidak panik. Saya malah berusaha untuk melakukan akumulasi saham.. sedikit-demi sedikit, dan hanya melakukan posisi beli dalam jumlah besar, kalau trend jangka pendek IHSG berubah menjadi naik.

Kalau anda… apa yang ada lakukan? Mau beli US$? Menurut saya sih… itu sudah tidak reasonable… sudah tidak masuk akal. Lihat aja di pedagang valas atau di bank: US$ sudah di harga 13.300 – 13.500 kalau mau beli. Biasa.. kalau sedang ‘agak panik’ begini.. spread (selisih) antara posisi beli dan posisi jual dari bank atau pedagang valas, bisa semakin lebar. Pertanyaan saya adalah: kalau anda beli disitu… lantas mau jual di berapa? Anda berharap US$ 15.000 gitu?

Kalau saya sih … selalu teringat apa yang berulangkali menjadi nasehat dari ayah saya. Dulu… ketika saya masih kecil, ketika Presiden Soeharto masih berkuasa… setiap kali ada devaluasi mata uang… saya selalu bertanya kepada almarhum ayah saya: ‘Papa… kita gak ikutan beli Dollar?‘. Jawaban beliau selalu standar:

… untuk apa? pertama… berapa sih selisihnya? gak banyak kan? dan kedua… kita juga gak punya duit terlalu banyak. Kita tidak bisa bertambah kaya dengan membeli Dollar! Cuman bikin susah orang banyak saja! Yang beli Dollar untuk spekulasi itu.. adalah orang yang tidak nasionalis. Kita tidak mau jadi orang seperti itu!

Jadi… saya ingin bertanya kepada anda:

Apakah anda mau ikut-ikutan panik dan membeli Dollar? Saya sih tidak.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Categories: Market Comment Tags:

Dollar 13.000 .. Kok IHSG Naik Terus Pak?

March 9th, 2015 1 comment

Selamat pagi…

Minggu lalu… adalah sebuah momem penting bagi pergerakan Rupiah. Setelah berbulan-bulan terus melemah terhadap Dollar Amerika (US$), nilai tukar Rupiah akhirnya menyentuh level psikologis 13.000. Satu hal yang kemudian menjadi pertanyaan dari banyak orang adalah: Ketika Rupiah melemah hingga Rp 13.000 untuk setiap US$… mengapa IHSG malah menguat hingga diatas level psikologis 5.500? Mengapa US$ Rp 13.000 tapi IHSG malah naik ke 5.500?

Menjawab pertanyaan ini, saya mencoba untuk melihat grafik dari Aliran Dana Asing yang terjadi semenjak akhir 2013, atau yang sering saya sebut sebagai Aliran Dana Asing Jokowi Effect.

150309 Aliran Dana Asing - Reguler

Dari Grafik Aliran Dana Asing di pasar reguler diatas, orang-orang yang skeptis, bakalan mengambil kesimpulan seperti ini: Ah… IHSG bergerak naik.. kan hanya karena pemodal asing yang sudah terperangkap, kembali masuk ke bursa kita. Mereka kan sudah masuk di bulan Desember 2013 ketika US$ masih sekitar Rp 9.000an. Rata-rata beli mereka, pasti juga terjadi pada rata-rata nilai tukar di level Rp 10.000an. Setelah mereka melakukan posisi jual pada periode September 2014 – Januari 2015, mereka juga tidak bisa keluar (mengkonversikan posisinya dalam US$) karena posisinya masih rugi. Itu sebabnya… mereka memang tidak ada pilihan lain untuk tetap pengang Rupiah, masuk (melakukan posisi beli) lagi ke saham Indonesia.

Dugaan seperti itu, bisa saja benar. Ini karena posisi aliran dana asing, saat ini masih belum kembali ke level tertinggi yang sempat dicapai pada tanggal 8 September 2014, dimana pada saat itu pemodal asing sudah membukukan posisi net buy sebesar Rp 46,01 trilyun. Setelah mencapai level terendah pada tanggal 21 Januari 2015 pada level Rp 26,90 trilyun, aliran dana asing yang masuk hingga hari Jumat minggu kemarin, secara hanya mencapai Rp 14,47 trilyun sehingga secara total, aliran dana asing hanya kembali ke level Rp 41,36 trilyun. Dengan posisi dari pemodal asing yang masih lebih rendah dari level tertingginya, bisa jadi mereka ini adalah dana asing yang sudah terlanjur terperangkap dalam Rupiah, dan kemudian memaksakan diri lagi untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia, melakukan posisi beli pada saham-saham di bursa kita.

Apakah benar seperti itu?

Well… kalau nanti… besaran dari aliran dana asing ternyata tidak bisa melewati Rp 46,01 trilyun, dugaan itu bisa saja benar. Akan tetapi… saya kok lebih suka mandangnya dari sudut pandang yang lain.

Indonesia: Turn Around Story

Para fund manager asing itu.. paling suka sama yang namanya turn around story. Turn around story itu adalah keadaan dimana kondisi yang cenderung memburuk, kemudian berubah menjadi membaik. Timing untuk melakukan akumulasi pada sebuah saham, bukan ketika laba bersihnya terus menerus menurun. Tapi lebih baik ketika kondisi terburuk dari perusahaan itu sudah berlalu, krisis keuangannya sudah berlalu, dan laba bersihnya mulai bergerak naik. Timing untuk membeli saham misalnya, adalah bukan ketika harga sedang berada dalam sebuah trend turun, tapi lebih bagus ketika titik terburuk sudah terlewati dan harga mulai bergerak menanjak, bergerak naik. Hal itulah yang sedang mereka lihat pada perekonomian Indonesia.

150309 GDP Indonesia

Dari data pertumbuhan ekonomi diatas, bisa kita lihat bahwa dalam kuartal terakhir 2014 kemarin, pertumbuhan ekonomi dari Indonesia, terlihat mulai mengalami perbaikan. Pertumbuhan ekonomi terus menurun dari level 6,4 persen pada kuartal keempat 2012 dan mencapai titik tertburuk pada kuartal ketiga 2014 hingga hanya mencapai level 4,92 persen, pada kuartal keempat 2014 sudah naik kembali ke level 5,01 persen. Level pertumbuhan ekonomi tersebut memang masih tergolong rendah. Akan tetapi, harapan bahwa untuk kedepannya pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah kembali membaik, terlihat semakin kuat. Bung Faisal Basri saja, dalam outlook ekonominya yang dipaparkan pada acara J-Club Expo yang saya hadiri kemarin, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal pertama di tahun 2015 ini bisa mencapai 5,3 – 5,4 persen. Untuk tahun 2015 ini, Bung Faisal Basri bahkam memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,0 persen! Perkiraan dimana pertumbuhan ekonomi kita sudah melewati masa terburuknya seperti ini, yang kemudian membuat pemodal asing rajin untuk melakukan posisi beli di Bursa Efek Indonesia.

Pak Tommy … Tapi Dollarnya kok 13.000 ?

Dalam perekonomian Dunia, saat ini sedang terjadi perang mata uang (currency war). Currency war ini adalah suatu kondisi dimana negara-negara di dunia sedang berebut untuk melemahkan mata uangnya, dengan harapan bahwa barang ekspor mereka, bisa menjadi lebih kompetitif. Currency war ini berawal dari langkah Bank Sentral Amerika untuk mulai mengembalikan suku bunganya ke level bunga yang normal, setelah krisis yang terjadi pada 2007-2008 telah memaksa mereka untuk meletakkan suku bunga di level 0,25 persen dalam skema Quantitative Easing (QE). Dengan suku bunga US$ yang cenderung naik sesuai dengan Tapering (berakhirnya QE) yang tengah dilakukan, mata uang dari berbagai negara di dunia ini cenderung mengalami tekanan pelemahan. Tidak mau hanya sekedar melemah, Bank Sentral dari berbagai negara di dunia ini malah kemudian ‘sengaja’ melemahkan mata uangnya, agar produk ekspor mereka bisa lebih kompetitif. Maklum saja: kalau ekspor meningkat, berarti perekonomian negara itu bisa berjalan, lapangan kerja tersedia, dan seterusnya. Dalam currency war ini, mata uang akan cenderung melemah, dengan harapan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik.

Langkah dari Bank Indonesia untuk menurunkan BI Rate pada bulan Februari kemarin, memang kemudian dipandang oleh pelaku pasar sebagai posisi dari Bank Indonesia yang lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi, dibandingkan dengan posisi Rupiah yang kuat. Itulah sebabnya, nilai tukar Rupiah terhadap US$ kemudian melemah, turun dari level 12.500 – 12.700, menjadi di sekitar 13.000 sekarang ini.

Dollar 13.000 … Kok IHSG Naik sampai 5.500?

Perbedaan dari investor asing dan investor lokal, itu sering kali berada pada sudut pandang waktu (time horizon) dari investasinya. Pemodal lokal itu biasanya bingung akan hal-hal yang jangka pendek, sehingga mereka melupakan tujuan yang sebenarnya dari investasi itu sendiri: pertumbuhan aset untuk jangka panjang. Itu sebabnya, pemodal lokal lebih bingung dengan Rupiah yang 13.000 dibandingkan dengan hal-hal yang lainnya. Padahal, pemodal asing tetap konsisten: dengan melihat turn around story yang ada, dengan melihat bahwa kedepan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi, itu yang membuat mereka kemudian terus melakukan aksi beli. Itu yang membuat IHSG terus bergerak naik hingga level 5.500 ini. Perbedaannya terlihat kok.. dari saham-saham yang bergerak naik. Saham-saham sektor konstruksi yang biasanya memang ‘mainan’ dari pemodal lokal, terlihat lebih cenderung stagnan. Yang bergerak naik hanya saham-saham perbankan dan saham-saham big caps lain, yang biasanya merupakan incaran dari investor asing.

Lalu… Apa yang seharusnya dilakukan? Apa yang harus diperhatikan?

Kalau melihat grafik aliran dana asing diatas, jumlah dari dana asing yang berada di bursa, sudah mencapai Rp 41,36 trilyun. Level ini sudah tidak jauh lagi dari level tertinggi yang besarnya Rp 46,01 trilyun itu. Artinya, dalam hari-hari kedepan ini, kita akan melihat: apakah pemodal asing memang benar-benar masuk ke bursa kita, melewati level Rp 46,01 trilyun yang pernah mereka capai pada tahun 2014 lalu, atau mereka hanya sekedar memanfaatkan dana yang ada, karena sudah terlanjur berada dalam Rupiah.

Kalau dari sudut pandang saya, saya kok lebih cenderung mengenai skenario ‘turn around story’ itu tadi, dimana pemodal asing memang masuk, karena mereka melihat bahwa masa-masa terburuk dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, sudah berlalu. Perkara nilai tukar Rupiah yang berada di sekitar level Rp 13.000, saya hanya bisa bilang begini: selama tidak ada kepanikan pada pasar, selama Rupiah tidak bergerak dalam volatilitas tinggi, selama Rupiah tidak bergerak 300 Rupiah per hari, harusnya kita semua, terutama para pemodal, tidak perlu khawatir.

Nilai tukar Rupiah terhadap US$ diatas 13.000 itu tidak masalah, selama tidak terlihat adanya kepanikan.

Toh.. pelemahan mata uang itu adalah fenomena global. Harapannya kemudian adalah, bahwa nilai tukar kemudian akan cenderung membaik, seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dan terkendalinya neraca perdagangan. Anda coba lihat itu yang namanya Perang Beras. Pemerintah benar-benar keukeuh, bertahan tidak mau mengimpor beras, meski harga beras melambung tinggi. Itu bisa jadi indikasi bahwa Pemerintah benar-benar tidak main-main dalam ‘menjaga’ neraca perdagangan agar tidak defisit. Pemerintah tidak mau neraca perdagangan kemudian bergejolak, hanya untuk meredam pergerakan harga sesaat. Toh stok beras sebenarnya cukup. Hanya musim panennya saja yang belum datang.

Jadi… apakah anda hanya akan termangu saja, menunggu di pingir lapangan, diluar pasar modal karena ketakutan US$ yang Rp 13.000 itu? Sebaiknya jangan. Nanti kalau pada bulan April 2015 data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2015 ternyata benar-benar tinggi, harga saham tentunya juga sudah lebih tinggi lagi. Anda akan sangat terlambat, ketika memutuskan untuk masuk setelah data tersebut keluar di bulan April nanti.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Categories: Market Comment Tags:

Fraksi Harga dan Pasar yang Sebenarnya …

January 5th, 2015 1 comment

Selamat pagi…

Kita sudah memasuki tahun 2015.  Awal 2015.  Memasuki awal 2015 ini… berarti sudah setahun semenjak diterapkannya fraksi harga dan lot size yang baru dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia.  Semenjak Bursa Efek Indonesia menerapkan aturan sebagai berikut:

150102 Fraksi Harga 2014

Kalau anda baca tulisan saya di bulan Oktober 2012  atau pada bulan Desember 2013  anda bisa melihat bahwa saya meragukan apakah kebijakan ini bisa memberikan pengaruh positif bagi pasar modal Indonesia.  Yang ada malah pihak Bursa Efek Indonesia terkesan sedang ‘mengusir’ spekulator-spekulator retail dari Bursa Efek Indonesia.  Mereka ini adalah pemodal retail lokal yang dengan modal kelas menengah yang sebenarnya merupakan tulang punggung dari kebanyakan perusahaan sekuritas.

Memang, jumlah pemodal retail selama 2014 kemarin terlihat mengalami peningkatan yang sangat pesat.  Dari data jumlah pemilik sub account yang ada pada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Desember 2014, tercatat jumlah pemilik dari sub account sebanyak 466.250 pihak.  Ini meningkat 14,26 persen dari bulan Desember 2013 dimana pemilik rekening C-BEST hanya sebanyak 408.045 pihak.

150102 Total Transaksi 2012 - 2014

Akan tetapi, total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia terlihat mengalami penurunan.  Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2014, tercatat hanya sebesar Rp 1.454,5 trilyun, turun 4,0 persen dibandingkan dengan transaksi di tahun 2013 yang total mencapai Rp 1.527,0 trilyun.  Jumlah transaksi di pasar.  Transaksi di pasar regular bahkah turun lebih parah, yaitu sebesar 6,0 persen dari Rp 1.206,5 trilyun di tahun 2013, menjadi Rp 1.124,3 trilyun di tahun 2014.  Satu-satunya yang bisa mengalami kenaikan hanya aktifitas pasar non-reguler yang naik sebesar 3,9 persen dari Rp 320,5 trilyun di tahun 2013 menjadi Rp 330,3 trilyun pada tahun 2014.  Penurunan dari total transaksi dan total transaksi di pasar regular ini, terlihat aneh ketika terjadi pada pasar yang sedang bullish.  IHSG pada tahun 2013 turun 42,51 poin (-0,98 persen) , sedangkan pada tahun 2014 IHSG naik 952,77 poin (+22,3 persen).  Tahun 2014 juga tahun pemilu, dana asing masuk ke bursa, Jokowi Effect, dan masih banyak lagi.  Nilai transaksi turun ditengah bursa yang sedang bullish, itu adalah sebuah fenomena yang tidak wajar.

Satu-satunya yang mengalami peningkatan, adalah aktifitas dari ‘pemodal aseng’.  Pemodal aseng ini adalah saingan dari pemodal asing.  Jika aktifitas dari pemodal asing yang asli tersebut sering bisa lihat pada aktifitas pemodal asing di pasar reguler, aksi dari pemodal aseng ini adalah aktifitas dari pemodal asing yang diragukan ke-‘asing’-annya.  Berbeda dengan aktifitas pemodal asing di pasar reguler yang sering kali ditransaksikan pada saham-saham big caps atau blue chip dengan fundamental bagus, aktifitas dari pemodal aseng ini lebih sering dilakukan pada pasar non-reguler (melalui pasar nego), pada saham-saham yang memiliki fundamental yang meragukan.  Pemodal Aseng ini seringkali hanya bermodal pas-pasan sehingga mereka terlalu malas untuk melakukan aksi beli atau aksi jual pada pasar reguler yang sifatnya terbuka.  Mereka lebih suka menggunakan pasar negosiasi dimana transaksi bisa dilakukan tanpa gangguan dari pemodal retail.

Aktifitas dari Pemodal Aseng ini, terlihat mengalami peningkatan apabila kita melihat dari persentase total transaksi, baik pada pasar non-reguler maupun pada pasar reguler, terhadap total transaksi yang terjadi pada pasar secara keseluruhan.

150102 Transaksi Reguler vs Non Reguler 2012 - 2014

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa transaksi di pasar non-reguler terhadap total transaksi terlihat mengalami kenaikan yang cukup besar pada tahun 2014, dibandingkan dengan pada tahun 2013.  Pada tahun 2014, transaksi pasar nego tercatat menguasai 21,07 persen dari total transaksi yang terjadi pada Bursa Efek Indonesia, meningkat dari hanya 19,01 persen pada tahun 2013.

Jadi pertanyannya adalah: Lantas.. untuk kepentingan siapa perubahan fraksi itu? Apakah memang supaya transaksi dari pemodal aseng terlihat semakin berpengaruh terhadap total transaksi pada Bursa Efek Indonesia?  Bursa Efek Indonesia ini ada untuk siapa? Untuk seluruh Rakyat Indonesia (termasuk didalamnya spekulator retail tentu saja)…. atau hanya untuk orang-orang tertentu saja?

Saya tahu.. pasar yang ideal… memang fraksi harganya kecil.  Semakin kecil fraksi harga.. maka pasar jadi semakin efisien.  Tapi… itu sebaiknya nanti dilakukan ketika jumlah pemodal retail kita sudah lebih dari 1% jumlah penduduk… kalau sudah lebih dari 2 juta orang.  Kalau sekarang… sebaiknya kita menerima pemodal retail yang ada.. apapun kualitasnya!

Jokowi … Presiden yang Rajin Blusukan ke Pasar Tradisional

Anda mungkin sudah sering membaca dan melihat berita bahwa Presiden kita Joko Widodo adalah orang yang paling sering melakukan blusukan.   Dengan blusukan, Jokowi berharap bisa menyerap aspirasi wong cilik, mengetahui problem yang ada pada masyarat, pada ekonomi masyarakat kecil.  Yang ada di Pasar Modal? Hehehe.. kalau mendengar curcol dari para teman-teman broker saham .. fraksi harga yang ada saat ini membuat pemodal retail susah untuk mencari keuntungan.  Nasabah-nasabah retail banyak yang mengurangi transaksi.  Belum lagi MKBD perusahaan sekuritas mau dinaikkan menjulang tinggi.  Tantangan tenaga kerja di bidang pasar modal, bakal semakin sulit.

Harapan di tahun Pemilu Direksi BEI

Kalau tahun tahun 2014 adalah tahun Pemilu yang sifatnya Nasional, tahun 2015 adalah tahun Pemilu di kelas Bursa Efek Indonesia.  Pada tahun ini, Bursa Efek Indonesia akan menentukan siapa direktur-direktur bursa yang akan memimpin Bursa Efek Indonesia untuk 3 tahun kedepan.  Harapan saya siy.. direksi yang terpilih nanti benar-benar mau mengayomi pasar modal kita, terutama pemodal-pemodal retail lokal dan perusahaan-perusahaan sekuritas yang fokus pada pelayanan pemodal retail.

Yah… bolehlah saya berharap… bolehlah kita berharap… meski saya ragu … karena kepentingan-kepentingan yang bersaing, sepertinya masih akan melanggengkan posisi status quo seperti yang ada saat ini.

Menko Ekuin dan Menkeu? Mana perduli mereka sama kepentingan wong cilik seperti ini!

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Mas @Jokowi_do2 … Revolusi Mental ? Tenane?

November 24th, 2014 1 comment

Selamat pagi…

Seminggu terakhir, saya ‘memaksakan diri’ untuk membaca buku tulisan Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rekan-rekan yang berjudul Revolusi Mental. Saya kok benar-benar penasaran. Terkait dengan kenaikan BBM Subsidi yang dilakukan minggu lalu, ada satu dua hal yang ‘menggelitik’ hati saya. Belum tentu sesuatu yang melanggar hukum sebenarnya. Tapi, karena apa yang terjadi masih merupakan ‘tipuan-tipuan stadar’ yang biasa di lakukan. Saya jadi sedikit bertanya: Benarkah Jokowi benar-benar serius dalam melakukan Revolusi Mental ini? Akankah ini semua hanya ‘masih sama dengan yang kemarin’ hanya dibalut oleh bungkus yang berbeda?

Harga BBM Subsidi

Kenaikan harga BBM Subsidi yang sebesar Rp 2000 per liter itu.. sebenarnya wajar. Kalau orang bilang: Malaysia menurunkan harga BBM Subsidi sedangkan Indonesia malah menaikkan, saya yakin yang bilang seperti itu adalah orang yang kurang waras. Maklum.. negara lain pastinya sudah mengubah, menurunkan, dan menaikkan harga BBM berkali-kali, sedangkan harga BBM Subsidi kita sudah lama tidak berubah. Malaysia saja, kabarnya sekarang malah kebingungan karena harga BBM Subsidi mereka lebih murah dari harga BBM Subsidi Indonesia dan malah berencana menaikkan lagi harga BBM Subsidinya karena takut diselundupkan ke Indonesia.

Kejadian lucu pertama muncul, ketika Menteri Keuangan menjawab pertanyaan wartawan mengenai harga keekonomian dari BBM jenis premium. Ketika itu, beliau menjawab bahwa harga keekonomian BBM Premium lebih dari Rp 10.000. Langsung seperti ada yang ‘menyala di kepala saya’: lha kok bisa? Pertamax saja harganya ketika itu Rp 10.200. Akhir minggu kemarin, Pertamax di beberapa tempat bahkan sudah diturunkan hingga dibawah Rp 10.000. Lha kok bisa harga Premium 10.000, terutama, pada kesempatan yang sama, Pertamina sendiri, dalam hal ini melalui Hanung Budya, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, bahkan menyatakan bahwa harga keekonomian BBM Premium saat ini adalah sebesar Rp 9.200? Angka siapa yang benar? Angka Pemerintah atau Pertamina? Saya nggak pingin pusing ngitung sendiri karena harga MOPS (Mean of Platts Singapore) yang merupakan harga patokan dari penghitungan harga BBM Subsidi ini bukanlah sesuatu harga yang terbuka yang mudah untuk dicari. Teman-teman yang sudah berhitung, bahkan sudah menemukan angka bahwa harga BBM Premium sudah dibawah Rp 8500. Salah satu penjelasan yang paling rasional adalah bahwa Pak Menkeu menggunakan data Indonesian Crude Oil Price (ICP) sebagai dasar dari penghitungan harga BBM Subsidi, bukan menggunakan harga MOPS. Padahal.. sudah 10 tahun terakhir kita berhitung dengan menggunakan MOPS. Bisa saja ini adalah kebiasaan baru pada Pemerintahan yang baru. Tapi.. tetap saja lucu… menentukan sebuah kebijakan yang vital, dengan menggunakan data yang tidak akurat atau bahkah menggunakan ‘data yang lain’. Masih bagus rakyat masih percaya sama Presidennya. Kalau enggak.. gimana rasanya tuh?

Sikap dari Pak Menkeu saat kenaikan harga BBM Subsidi ini membuat saya kemudian bertanya-tanya: ini kah ‘mental yang sudah di-revolusi’? Tetap menggunakan data seenaknya, menganggap seluruh rakyat adalah mahasiswa yang udah di gertak atau rakyat yang mudah dibohongi? Lha terus… apa bedanya dengan Pemerintah yang terdahulu?

Kalau hanya sekedar kenaikan harga bbm subsidi sebesar Rp 2000 per liter, itu adalah hal yang wajar dan sudah seharusnya untuk dilakukan. Problemnya ada pada hal-hal yang kemudian terjadi setelah itu. Bank Indonesia yang selama ini merasa sudah memiliki ‘formula’ untuk menaklukkan inflasi yang terjadi pasca kenaikan harga BBM Subsidi ini dengan cara menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 25 basis poin (0,25 persen), kemudian ‘secara reflek’ menaikan BI Rate. Ini kemudian menjadi problem baru, mengingat dalam setahun terakhir, Bank Indonesia menggunakan instrumen tersebut untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi. Ceritanya begini: Rupiah terus melemah karena terjadi defisit neraca perdagangan. Defisit neraca perdagangan ini terjadi, karena ekonomi yang tumbuh tinggi, membutuhkan impor dari barang-barang. Maka, agar Rupiah bisa lebih stabil, pertumbuhan ekonomi diperlambat dengan cara mempertahankan suku bunga (BI Rate) di level yang tinggi. Pertanyaannya: kalau BI Rate dinaikkan lagi.. apakah pertumbuhan ekonominya tidak menjadi semakin lambat?

Kenaikan BI Rate yang niatnya baik… untuk memerangi inflasi, malah dianggap bakal menjadi boomerang: dianggap bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah lambat. Aneh juga sih sebenarnya. Ditengah negara-negara di dunia yang berlomba-lomba memacu pertumbuhan ekonomi dengan memberikan suku bunga rendah, Indonesia malah menerapkan suku bunga tinggi dengan berbagai alasan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan saya adalah: apakah memang tidak ada koordinasi antara BI dan Pemerintah terkait dengan kenaikan harga BBM Subsidi ini? Lha terus.. apa bedanya dengan Pemerintah yang sebelumnya?

@triomacan2000 Ditangkap, Telkom Melenggang…

Dulu… saya suka following twit dari @triomacan2000. Saya mengenal account twitter ini dari mantan wartawan senior Tempo yang merupakan teman saya menunaikan ibadah haji di akhir 2012. Atas rekomendasi beliau, saya kemudian following account ini. Menarik memang fenomena @triomacan2000 ini. Pada awalnya, karena mengungkapkan masalah penyelewengan serta korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat, dan sebagian kemudian diantaranya benar, maka saya sempat menjadi follower setia ketika awalnya. Akan tetapi, karena lama –kelamaan ulasannya semakin bernada kebencian dan tidak dilandaskan oleh data yang jelas, maka sejak pertengahan tahun 2013, saya sudah tidak follow account itu lagi.

Ketika orang yang dituduh sebagai @triomacan2000 kemudian ditangkap… saya tidak heran. Terlepas apakah benar orang yang ditangkap tersebut adalah @triomacan2000 atau bukan, saya sebenarnya tidak pusing. Tapi setidaknya, sudah ada tanda-tanda bahwa Pemerintah berbuat sesuatu terhadap akun-akun penyebar kebencian, itu sudah membuat hati saya menjadi lebih tenang.

Akan tetapi, ketika kemudian ‘kasus’ yang membuat @triomacan2000 tersebut ditangkap kemudian ikut menghilang juga, terus terang.. hati kecil saya juga tidak terima. Benar, kasus tukar guling antara saham PT. Tower Bersama, Tbk. (TBIG) dengan saham Mitratel (anak perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia/TLKM) memang sulit untuk dibuktikan kerugian dari negara dalam hal ini TLKM karena yang terjadi adalah tukar menukar kertas vs kertas, tukar menukar surat berharga, yang nilanya lebih dari Rp 11 trilyun. Tapi, karena tukar guling tersebut dilakukan pada harga yang saham TBIG sebesar Rp 14.511, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata 3 bulan yang hanya sebesar Rp 8.062. Dan juga pembelian ini tidak bisa dikatakan murah karena dengan Price to Earning Ratio (PER) yang sangat premium. Jika menggunakan EPS tahun 2013 di angka Rp 260, akuisisi di harga Rp 14511 itu berarti TLKM membeli TBIG pada harga PER 55 kali. Harga yang hanya cocok untuk akuisisi kemepemilikan mayoritas, tidak untuk sekedar kepemilikan sebesar 13,7 persen. Saya sebagai rakyat, kok merasa kalau diri saya sedang dikadalin.

Belum lagi beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sosialisasi peraturan yang dilakukan oleh sebuah lembaga. Isinya mengenai aturan main bagi IPO perusahaan pertambangan yang belum berproduksi. Terus.. setelah saya tanya-tanya.. kok isinya memperbolehkan perusahaan yang belum beroperasi dengan tambang di luar negeri untuk melakukan IPO. Padahal… orang yang punya tambang di luar negeri dengan nilai besar… ya orangnya ya itu-itu saja. Kalau perusahaan seperti itu boleh IPO, bagaimana nasib dari pemodal retail lokal kita yang membeli saham dari perusahaan itu?

Benarkah revolusi mental hasilnya bakal seperti ini?

Pemerintah yang tidak kompak, Pemerintah yang membodohi rakyat, Pemerintah menganggap rakyat hanya menjadi obyek (bahan obyekan untuk cari duit)? Kok berasa seperti penyakit menahun yang sudah ada semenjak saya kecil. Semenjak Orde Baru. Revolusi Mental.. apakah hanya produk lama dengan bungkus yang baru?

Revolusi Mental? Tenane?

Revolusi Mental? Bener niy?

Menurut saya siy.. kalaupun Pemerintah mau mengambil untung dari harga BBM…. sebenarnya gak masalah. Asalkan nantinya Pemerintah bisa mengalokasikan hasilnya pada sektor-sektor yang lebih bermanfaat.

Ah.. pasti ini bukan Revolusi Mental seperti yang digambarkan oleh Jokowi. Saya sadar bahwa Revolusi Mental ini masih dalam tahap awal. Jalan 100 hari juga belum. Tapi, sepertinya memang masih banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama orang-orang yang terlibat sebagai Aktor Utama dari Revolusi Mental ini.

Saya hanya penonton yang selalu giat untuk memberikan semangat.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags: