Menitipkan Mimpi ‘Pasar Modal yang Berkerakyatan’ kepada @Prabowo08 dan @Jokowi_do2

June 19th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Pasar modal itu… adalah sebuah icon dari sistem ekonomi kapitalis. Didalam pasar modal, perusahaan yang telah memecah kepemilikannya pada satuan kepemilikan yang kecil, cukup kecil untuk diperjual belikan pada publik, kemudian menjual kepemilikannya kepada investor, mereka yang memiliki penguasaan atas kapital. Dengan menjual kepemilikan publik ini, Keputusan-keputusan penting dibuat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dimana keputusan dibuat berdasarkan suara terbanyak. Kesannya: siapa kuat dia akan menang. Siapa kuat, maka dia akan mampu untuk memaksakan kehendak dalam RUPS. Siapa pemilik kapital terkuat, dia yang akan menjadi pemenang.

Konsep ini, tentu saja tidak sesuai dengan konsep ekonomi kerakyatan yang saat ini kembali populer karena diusung oleh kedua capres yang saat ini tengah bertanding dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Mereka berdua

Apakah Ekonomi Kerakyatan itu?

Revrisond Baswir menjelaskan Ekonomi Kerakyatan sebagai berikut:

Ekonomi kerakyatan adalah sebuah sistem perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi. Tiga prinsip dasar ekonomi kerakyatan adalah sebagai berikut: (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; (2) cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; dan (3) bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Terlebih jauh, Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, berusaha menjelaskan ekonomi kerakyatan (Demokrasi Ekonomi) sebagai suatu sistem perekonomian nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, di mana produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Tujuannya dari penyelenggaraan demokrasi ekonomi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian, dengan sasaran pokok tersedianya lapangan kerja, pendidikan gratis (murah), pemerataan modal material, jaminan sosial bagi penduduk miskin, dan pemberdayaan serikat-serikat ekonomi (koperasi).

Dalam pelaksanaannya, pelaksanaan ekonomi kerakyatan ini kemudian lebih berkutat pada perekonomian berbasis rakyat kecil, pembentukan pasar, dan produksi. Perekonomian berskala kecil. Padahal, dalam realitanya, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa dalam ekonomi kerakyatan, cepat atau lambat, akan tercipta pihak-pihak yang kemudian berhasil menjadi besar. Koperasi-koperasi dengan aset diatas Rp 1 trilyun misalnya, yang saat ini sudah mulai sering kita temui, adalah contoh dari ‘raksasa’ yang timbul dari ekonomi kerakyatan ini. Artinya: kita sebenarnya juga tidak bisa mengesampingkan pembicaraan mengenai ‘perekonomian orang besar’ ditengah ‘pembahasan perekonomian orang kecil’ yang menjadi konteks pembicaraan dalam ekonomi kerakyatan.

Pasar Modal sebagai Jembatan

Pasar modal adalah sebuah icon dari kapitalisme. Siapa kuat, dia yang akan menang. Akan tetapi, pasar modal itu tidak selamanya ‘berasa’ kapitalistik. Pasar modal itu, sebenarnya juga bisa didesain untuk menjadi pendukung dari keberhasilan dari tercapainya kemakmuran rakyat melalui ekonomi kerakyatan ini. Ada beberapa hal yang bisa ditawarkan oleh pasar modal untuk melengkapi konsep ekonomi kerakyatan yang kita anut:

Pasar modal menawarkan transparansi dan pemerataan.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa Pemerintah dan BUMN agak sedikit lamban dalam memanfaatkan kekayaan alam yang kita miliki. Menunggu kalangan swasta dalam negeri juga sepertinya juga sulit mengingat eksplorasi dan eksploitasi komoditas mineral dan energy, itu selalu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itu sebabnya, Pemerintah kemudian mengundang perusahaan pertambangan internasional sekelas Chevron, BP, Freeport, atau Newmont, untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan juga penambangan atas komoditas mineral dan energy yang ada di bumi kita ini. Meskipun, setelah itu, Pemerintah kemudian menciptakan mekanisme agar sebagian kepemilikan dari perusahaan tersebut, kemudian dimiliki oleh Pemerintah ataupun juga swasta lokal. Problemnya: dalam pelaksanaannya, yang terjadi pada masa lalu adalah munculnya bentuk-bentuk dari kapitalisme pribumi. Kapitalisme pribumi ini adalah beberapa gelintir orang atau pihak, yang cukup beruntung untuk ‘diberi saham gratis’ oleh perusahaan-perusahaan asing, demi tercapainya target dari kepemilikan lokal, dan untuk membantu kepentingan dari perusahaan – perusahaan asing tersebut. Hasilnya tentu saja jelas: tidak ada pemerataan, tidak ada transparansi.

Pasar modal adalah solusinya. Dengan memaksakan untuk menjual saham kepada publik, disamping juga menjual saham kepada Pemerintah, maka akan tercapai pengelolaan sumber daya yang lebih transparan. Selain itu, aspek pemerataan juga tercapai, karena dalam sebuah perusahaan terbuka, jumlah pemegang saham perorangan, akan menjadi lebih banyak. Menjual saham kepada publik, juga menciptakan peluang bagi ‘wong cilik’ untuk ikut merasakan kepemilikan serta manfaat pendapatan, dari perusahahaan-perusahaan yang menguasai harkat hidup orang banyak.

Pasar modal menawarkan bargain power yang lebih baik untuk pemegang saham minoritas

Dalam sebuah perusahaan terbuka, persetujuan atas hal-hal yang sifatnya penting dan material, harus dilakukan dalam sebuah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dalam RUPS ini, suatu keputusan bisa diambil apabila rapat sudah kuorum, sudah dihadiri oleh sejumlah tertentu dari pemegang saham. Selain itu, keputusan juga hanya bisa diambil, jika disetujui oleh jumlah tertentu dari pemegang saham. Dari sini sebenarnya bisa diatur, agar sebuah keputusan yang penting, harus disetujui oleh porsi yang besar dari pemodal saham minoritas. Ini membuka peluang bagi ‘rakyat’, untuk memiliki bargain power yang lebih tinggi, untuk mengatur sebuah perusahaan besar. Menjadi perusahaan terbuka, adalah sebuah cara pengelolaan sebuah perseroan, bisa menjadi lebih demokratis.

Pasar modal menawarkan distribusi pendapatan atas atas penguasaan kekayaan alam atau cabang produksi yang menguasai hidup orang banyak, melalui deviden.

Pasti lah… kalau bagi deviden, setiap pemegang saham akan mendapatkan manfaatnya.

Pasar modal menawarkan kontrol masyarakat terhadap perseroan.

Ingat kasus Ibu Risma vs Unilever beberapa waktu yang lalu? Sadarkah anda bahwa setelah itu harga UNVR secara berangsur-angsur turun hingga lebih dari 15%? Tujuan dari eksistensi sebuah perusahaan terbuka, adalah optimalisasi nilai dari saham perseroan. Dengan menjadi perusahaan terbuka, maka manajemen pada perusahaan tersebut, akan dipaksa untuk lebih memahami nilai-nilai positif yang ada pada masyarakat, agar harga sahamnya juga bisa terus bergerak naik.

Pasar modal menawarkan akses dana murah bagi pengusaha kecil-menengah.

Dalam peraturan perdagangan Kep 00001/BEI/01-2014 disebutkan dengan jelas bahwa Aset Berwujud Bersih minimal yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan yang bisa masuk ke papan pengembangan, adalah sebesar Rp 5 miliar. Memang, perusahaan kelas mikro memang tidak mungkin masuk ke bursa. Realitanya juga, perusahaan underwriter juga cenderung enggan untuk melakukan IPO bagi perusahaan yang kapitalisasi pasarnya dibawah Rp 500 miliar. Akan tetapi, peraturan yang ada sebenarnya juga sudah memungkinkan bagi pelaku perekonomian kerakyatan kelas ‘yang agak lebih besar sedikit’, untuk memperoleh dana segar dari pasar modal. Meskipun, mekanismenya sebenarnya juga masih belum tersedia secara jelas.

Akan tetapi….

Pada realitanya, tentu saja tidak seindah ‘warna asli’-nya. Masalah, tentu saja masih banyak. Keengganan dari pemegang saham minoritas untuk menghadiri RUPS, pemegang saham mayoritas yang masih mengendalikan RUPS dengan cara-cara yang ‘legal’ (dalam tanda kutip), kurangnya perlindungan bagi pemodal kecil atau retail, pengelola perusahaan yang kurang memiliki itikad baik dalam mengelola perseoran, goreng-menggoreng saham, dan masih bank lagi masalah yang lain. Solusinya, bisa saja sulit, tapi sisa saja semudah apa yang Jokowi sempat bilang: Tinggal panggil programmer saja.. 2 minggu pasti kelar.

Tapi inti sebenarnya adalah: pasar modal itu, adalah sebuah alat dari perekonomian, yang sebenarnya juga bisa digunakan untuk mensukseskan perekonomian berbasis kerakyatan. Tinggal bagaimana kita bisa mewujudkan mimpi kita tersebut, agar bisa menjadi kenyataan.

Semua tergantung ‘The Man behind The Gun’-nya.

So.. saya titipkan ‘mimpi pasar modal yang lebih berkerakyatan’ ini kepada siapapun juga yang memimpin Indonesia dengan harapan, agar Pasar Modal Indonesia bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, dalam jumlah yang lebih besar.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Prabowo vs Pasar Modal Indonesia: Ada apa?*

May 30th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Minggu pagi kemarin, saya sebenarnya mengawali pagi dengan sedih hati. Maklum… ketika saya baru saja bangun dan melihat update status dari teman-teman yang ada di Facebook. Yang ada hanya pujian terhadap capres atau cawapres yang didukung di satu sisi, dan olokan atau bahkan cacian bagi capres atau cawapres pesaing.Tidak ada lagi yang namanya kedamaian di hati.

Pemilu kali ini memang berbeda. Meluasnya akses internet, telah membuat akses ke media sosial jadi mudah. Tapi tidak hanya berhenti disitu. Dukungan media massa kepada salah satu calon, membuat orang menjadi sulit untuk mempercayai media. Orang kemudian melakukan aksi dengan ‘membuat berita sendiri’ melalui media citizen journalistics.. media seperti blog ini, kompasiana, atau masih banyak lagi yang lain. Masalahnya, karena tidak ada editorial, tidak ada aturan main, antara kebenaran dan fitnah campur aduk. Hadeeeh… bukannya informasi yang didapat, tapi malah stress dan rasa marah yang saya dapatkan.

Saya jadi bingung… mau nulis wake up call ini ke arah mana. Mau komentar positif tentang pergerakan pasar secara umum, kok rasanya males juga. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang jauh dibawah harapan, (yang akhirnya membuat Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2014), Piala Dunia dan Puasa yang kian mendekat, rasa-rasanya malah aneh kalau saya memberikan komentar positif tentang market untuk hari ini. Kalau di Wake Up call bulan depan, ketika Pilpres sudah kian mendekat, nah itu sepertinya tidak akan menjadi permasalahan, tapi kalau sekarang, kok rasanya seperti masuk angin. Padahal, aliran dana asing, setidaknya hingga hari Jumat 23 Mei 2014 kemarin, masih terus mengalir masuk ke Bursa Efek Indonesia. Sentimen pemilu terlihat jauh lebih dominan dominan, lebih dominan dibandingkan dengan sentimen fundamental emiten maupun sentimen dari data-data ekonomi.

(tulisan ini memang adalah untuk edisi Wake Up Call Kontan, hari Senin, 26 Mei 2014 kemarin).

Pergerakan IHSG yang Memihak

Pasar modal kita itu memang tidak netral. Bukan masalah suka atau tidak suka .Tapi karena masalah ‘harga saham saat ini, adalah nilai sekarang dari kondisi masa yang akan datang’. Kalau kondisi mendatangnya diperkirakan akan jauh lebih bagus daripada kondisi saat ini, maka harga akan bergerak naik. Kalau ada sesuatu yang ‘baru’, yang diluar perkiraan, maka adalah wajar ketika harga bergerak tidak biasa. Tapi, kalau kondisi masa yang akan datang masih sesuai dengan perkiraan, maka IHSG hanya bergerak biasa-biasa saja.

Biasanya, pada pemilihan presiden sebelumnya tahun-tahun sebelunya, IHSG akan bergerak naik. IHSG akan bergerak naik, karena adanya harapan baru dari pemimpin yang baru. Harapan bahwa pertumbuhan ekonomi ditangan presiden yang baru akan lebih tinggi dibandingkan apa yang ada saat ini, sering kali telah mengangkat angka IHSG, bergerak ke level yang lebih tinggi. Akan tetapi, baru pada pemilu 2014 ini saja, IHSG beraksi berlebihan kepada salah satu calon presiden, dibandingkan dengan calon presiden yang lain. Deklarasi Joko Widodo (Jokowi) telah membuat IHSG bergerak naik lebih dari 3% dalam satu hari. Terlebih lagi, aliran dana asing di pasar regular yang pada pagi hari masih dalam posisi net sell, tiba-tiba juga berbalik menjadi net buy, dalam jumlah yang sangat signifikan, keduanya telah memperlihatkan bahwa pasar memang lebih mendukung Jokowi. Meminjam pernyataan Anies Baswedan: Jokowi memang menawarkan sesuatu pendekatan yang baru. Prabowo masih saja menawarkan yang lama, dengan merekrut kekuatan-kekuatan lama yang bermasalah. Ini yang kemudian membuat pasar merasa yakin, bahwa pertumbuhan ekonomi.. kalau ditangan Jokowi.. bakal lebih baik dari autopilot mode yang sudah kita rasakan selama 10 tahun terakhir.

Karena pergerakan IHSG ini terlihat memihak, maka tidaklah terlalu mengherankan, jika calon presiden yang merasa kurang diuntungkan, dalam hal ini Prabowo, kemudian memberikan komentar-komentar negatif tentang investasi saham: sebelum pemilu legislatif, Prabowo sempat melarang petani berinvestasi saham. Sebenarnya, kalau kita bicara mengenai buruh tani berpendidikan rendah serta tabungan yang minim, spekulasi pada instrument saham, memang masih terlalu jauh dari jangkauan mereka. Akan tetapi, ketika minggu lalu Prabowo mengkritisi para pendidik dari Universitas Indonesia yang lebih mengajarkan bermain saham dibandingkan dengan ekonomi pembangunan, di kepala saya kemudian malah muncul: ada apa ini antara Prabowo terhadap bursa saham? Apakah beliau memang tidak suka?Apakah ada trauma-trauma khusus yang membuat Prabowo tidak suka terhadap Bursa Saham?

Melihat kebelakang, Trauma Hasyim ketika Krismon

Saya jadi melihat kebelakang, ketilka Krisis Moneter (Krismon) sedang terjadi.Hasyim S. Djojohadikusumo yang merupakan adik dari Prabowo, ketika itu, dua minggu sebelum Krismon, membeli saham Bank Niaga dari Julius Tahija dengan harga Rp 8000 per lembar saham. Jumlah itu adalah setara dengan US$3.3 per lembar saham pada kurs Rp 2.425 per US$ yang berlaku saat transaksi tersebut berlangsung. Krismon kemudian terjadi, dan Rupiah meluncur hingga mencapai titik tertinggi di Rp 16.000 per US$.Hasyim akhirnya terpaksa melepas Bank Niaga dengan harga hanya sebesar Rp 250 pada bulan April 1999, ketika US$ sedang pada kurs Rp 8.500.Beli dengan harga 3 dollar, dan jual dengan harga 3 sen, tentu saja sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan.

Kalau melihat data pergerakan harga Bank Niaga (BNGA) pada tahun 1997 – 1999 yang kami peroleh dari rekan Angelo Michel, pergerakan harga BNGA ketika itu memang benar-benar mengenaskan.Terlebih karena di awal tahun 1997, harga saham Bank Niaga sebenarnya masih di harga Rp 5.500.Aksi akuisisi oleh Hasyim, telah membuat BNGA melesat hingga Rp 8.000.Krismon kemudian terjadi, harga BNGA kemudian jatuh dalam waktu singkat hingga Rp 400.BNGA akhirnya dilepas Hasyim pada bulan April 1999 pada harga Rp 250.

140526 BNGA ketika Krismon

Akan tetapi, Krismon tidak sepenuhnya tidak sepenuhnya memberikan memori negatif kepada Hasyim. Ketika dalam pelarian di tahun 1997, Hasyim bersama sebuah grup investor dari Canada, membeli ladang minyak di Kazakhstan senilai US$ 88 juta. Pada tahun 2007, ladang minyak Karazhanbas ini berhasil dijual dengan nilai US$1,9 miliar. Sebuah ‘come back’ yang sangat brilian. Meski kemudian… muncul juga pertanyaan di kepala saya: Benarkah Hasyim melakukan come back dari sektor riil? Bukannya investasi Hasyim keuntungannya berlipat karena kenaikan dari harga minyak? Benarkah investasi macam ini termasuk investasi di sektor riil?

Ekonomi Kerakyatan, benarkah lawan dari Pasar Modal?

Sebenarnya, platform ekonomi yang diusung oleh Prabowo maupun Jokowi, sebenarnya masih tetap sama: ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan ini adalah sebuah paham ekonomi campuran, yang bukan merupakan poros perdagangan bebas dimana free fight liberalism terjadi, dan bukan pula dalam poros ekonomi sosialis yang sudah terbukti gagal di berbagai negara Eropa Timur. Perekonomian dimana aktifitas ekonomi rakyat, dalam hal ini Usaha Kecil dan Menengah yang terutama meliputi sektor pertaniam peternakan, kerajinan, makanan, dsb, memiliki peran sentral.

Ekonomi kerakyatan ini, kemudian bertabrakan dengan pasar modal, yang kesannya memang kapitalistis: siapa kuat, dia yang menang. Ketika dalam RUPS, pemegang saham mayoritas yang memiliki sebagian besar dari perseroan, akan beradu kuat dengan pemegang saham minoritas yang tidak lain adalah investor publik. Kelihatannya memang menakutkan. Tapi, kita juga tidak boleh lupa, bahwa hak-hak dari pemegang saham minoritas juga dilindungi. Memang sih..sekarang perlindungan atas hak-hak dari pemegang saham minoritas terasa masih buruk. Penggorengan saham-saham yang dilakukan oleh sejumlah oknum.. memang masih cenderung membuat pemodal minoritas menjadi ‘santapan’ bagi para kapitalis ini. Akan tetapi, apakah itu kemudian kita harus memusnahkan ‘pasar modal’-nya? Tentu saja tidak.

Memahami Jokowi Effect

Jokowi Effect memang sebuah fenomena.Jokowi Effect yang pertama, ketika deklarasi, reaksinya memang positif.Jokowi effect yang kedua, ketika pengumuman pemilu legislatif, memang negatif.Di satu sisi, koreksi itu itu sepertinya lebih karena Jokowi bermesraan dengan Aburizal Bakrie, tidak lama ketika pengumuman hasil Pileg.Pasar sepertinya takut bahwa Jokowi bakal menjadikan Aburizal sebagai calon wapresnya.IHSG juga berangsur-angsur naik ketika terdapat kepastian bahwa Aburizal bukan cawapres dari Jokowi.Pada Jokowi ketiga, cawapres yang dipilih oleh Jokowi memang cawapres yang diinginkan oleh pasar.Tapi, karena pasar juga melihat bahwa perjuangan kedepan untuk Jokowi terlihat cukup berat, orang akhirnya melakukan profit taking.Tapi, profit taking itu berlangsung tidak lama. Tiga hari perdagangan terakhir, IHSG memang belum mampu kembali ke atas level psikologis 5000.

Penutup

Orang itu.. kalau benci bursa saham.. itu biasanya karena dua hal: Karena tidak tahu, atau karena sudah mencoba tapi kalah dalam jumlah besar. Atau… apakah ada jenis lagi yang lain?

Mengenai bahasan tentang arah IHSG kedepan? Ya seperti yang saya bilang tadi: masih masuk angin. Selama aliran dana asing masih terus merangsek masuk, IHSG masih akan terus bergerak naik. Akan tetapi, karena kondisi fundamental sedang tidak kondusif, yah..ngeri-ngeri nikmat begitu deh.

Yang penting, kalau market turun, pemodal bisa melakukan akumulasi. Sentimen positif dari pemilu, sepertinya masih akan berlanjut setidaknya hingga pilpres nanti.

Pasar modal kita sudah sedemikian besar.Jumlah dari Investor Pasar Modal sudah melewati angka 500.000 orang.Padahal, itu belum termasuk pemegang reksadana, belum juga termasuk orang-orang yang terlibat dalam industri pasar modal sebagai karyawan, pemilik perusahaan, maupun media-media yang melakukan coverage terhadap pasar modal. Pasar modal itu mewakili jumlah massa yang tidak sedikit. Saya tidak tahu, siapa yang memulai.Tapi, kampanye berbasis kebencian yang sekarang marak dilakukan, memang sudah terasa mulai mengganggu.Semoga saja ada yang bisa berbuat sesuatu. Atau..sebaiknya.. saya tidak lihat FB dulu selama beberapa waktu?

Hm..untuk para analis atau trader berbasis analisis teknikal, sebenarnya mudah: kembali lihat chart saja, berhenti melihat berita sementara waktu. Itu sebabnya.. saat ini saya sedang menunggu IHSG dibawah 4850 lagi baru saya mau belanja. Kira-kira.. dikasi enggak ya?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini. Terima kasih.

Categories: Market Comment Tags:

Karena @PDI_Perjuangan tidak bisa memenangkan Pemilu Presiden Sendirian…*

May 18th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Pilpres 2014 ini bagi pergerakan IHSG, memang sedikit berbeda dengan pilpres sebelumnya. Kalau biasanya IHSG merespon positif pilpres karena adanya ‘harapan akan perubahan’ atau ‘harapan akan masa depan yang lebih baik’ yang selalu melekat pada siapapun calon pemimpin yang ada, maka pilpres kali ini menjadi berbeda karena market, terlihat ‘lebih suka terhadap satu calon’ dan ‘netral terhadap calon yang lain’.

Kesukaan market terhadap salah satu calon ini, ditunjukkan dengan pergerakan IHSG (dan juga aliran dana asing), yang lebih merespon perkembangan elektabilitas dari salah satu calon presiden, capres.

Market lebih suka pada Jokowi dibandingkan dengan capres yang lain. Market lebih bergerak mengikuti elektabilitas dari Jokowi, dan tidak terlalu perduli terhadap elektabilitas pasangan yang lain.

Beberapa kejadian yang memperlihatkan hal ini:

1. Ketika deklarasi pencalonan Jokowi sebagai Capres oleh PDIP, IHSG yang pada pagi hari cenderung bergerak flat-turun, langsung bergerak naik dan ditutup dengan kenaikan yang signifikan. Dana asing pada pagi hari cenderung net sell, sore hari juga naik lumayan tinggi.

2. Ketika Megawati ‘memaksakan’ calon-calon wakil presiden (cawapres) dari internal PDIP, market cenderung merespon negatif, market bergerak flat-turun. Sebut saja.. ketika Puan, Ryamirzard, dan Rini Suwandi mengemuka.. IHSG cenderung bergerak flat-turun.

3. Ketika Prabowo terlihat mesra dengan Ical, IHSG bergerak naik. Hehehe. Tapi ini bukan karena ‘market suka’, tapi lebih karena ‘market yakin bahwa kalau Prabowo berpasangan dengan Ical, maka Prabowo akan kalah’. Hehehe

4. Ketika deklarasi pasangan PRAHARA (Prabowo-Hatta Rajasa) kemarin, IHSG hanya cenderung flat.

5. Jangan lupa juga bahwa sehari setelah pemilu, IHSG turun tajam. Sebagian orang bilang bahwa koreksi itu karena perolehan suara PDIP yang jauh dari perkiraan. Tapi.. kalau menurut saya siy.. itu lebih disebabkan oleh Jokowi yang pelukan mesra dengan Ical pada sore hari setelah Pemilu Legislatif (pileg).

So.. Pasar bergerak naik turun sesuai dengan elektabilitas atau peluang dari Jokowi.

Sekarang… bagaimana reaksi pasar terhadap Penguman Cawapres dari Jokowi?

Hehehe… sama saja lah.

Kalau Megawati tetap memaksakan calon internal dari PDIP.. ya IHSG bisa langsung lemes.

Hasil pemilu kemarin.. sebenarnya merupakan cerminan dari kekuatan murni dari PDIP. Mereka itu hanya kuat di Jawa. Tapi

Tidak hanya itu.. kegagalan dari Jokowi Effect untu mendongkrak perolehan suara PDIP.. bisa jadi karena nama daripada Jokowi itu.. hanya laku untuk dijual di Internet. Jokowi itu hanya menarik bagi orang-orang yang sudah tahu. Kalau untuk orang di pedesaan, terutama pedesaan luar jawa yang tidak punya akses internet atau punya TV tapi hanya untuk nonton sinetron… mereka mana tahu ‘Jokowi itu makanan apa?’.

Untuk menjadi presiden, Jokowi butuh suara dari ‘pemilih tradisional’ dari NU dan Golkar yang pada pileg kemarin terlihat solid di luar jawa.

PDIP memang harus mau untuk berbagi kekuasaan. Gak bisa kalau dikekepin sendiri.

Eh.. tapi pren.. kalaupun cawapresnya nanti JK, yang tidak lain adalah calon yang paling disukai pasar dan juga calon yang paling make sense karena diterima oleh semua partai yang menjadi anggota koalisi Jokowi.. marketnya juga belum tentu naik kok. Paling nanti ada koreksi Piala Dunia. Belum lagi.. data-data ekonomi negatif yang sudah membanjiri pasar dalam 2 minggu terakhir juga belum direspon. Marketnya memang masih rapuh.

Respon sebenarnya dari siapa cawapres Jokowi ini, nanti baru terlihat pada rally menjelang pilpres, sekitar pertengahan Juni hingga pilpres 9 Juli: kalau cawapresnya JK (atau siapapun juga yang dari eksternal PDIP).. market akan lebih bersemangat. Tapi.. kalau PDIP tetap memaksakan calon dari internal.. ya.. pergerakan IHSG sepertinya bakalan kurang Viagra.

So… pagi ini… Megawati terlihat masih memaksakan nama Puan. Market tentu saja siap untuk memberikan responnya.

Jokowi sudah tahu bahwa dia butuh cawapres eksternal untuk memenangkan Pilpres ini. Megawati (dan PDIP) sebaiknya tahu bahwa mereka tidak bisa memenangkan Pilpres tanpa bantuan dari partai lain.

Megawati sebaiknya fokus untuk menjadikan Jokowi sebagai Presiden.

Puan Maharani? Dicoba dulu nanti di pemilihan Gubernur Bali atau Gubernur Sumatera Selatan. Kalau dia bisa terpilih… baru nanti dicalonkan sebagai cawapres Jokowi untuk periode kedua.

PAHAM?

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Kita sedang berada didalam MH370*

May 8th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Sudah banyak orang yang bilang… kalau Pemerintah kita itu seperti auto pilot.  Pemerintahnya gak ngapa-ngapain, tapi pertumbuhan ekonominya tinggi.  Pertumbuhan ekonomi tinggi karena kondisi aman, suku bunga rendah, situasi kondusif bagi kita semua untuk membuka usaha, mencari duit.

Tapi… semenjak pertengahan tahun kemarin, kondisinya sebenarnya agak berbeda.  Gara-gara kita dimasukken ke dalam Fragile 5, 5 negara yang diperkirakan bakal bermasalah dengan mata uangnya ketika The Fed melakukan Tapering, kondisi ekonomi kita mulai gonjang-ganjing: Rupiah melemah… eh.. Rupiah jatuh… BI Rate naik… pertumbuhan ekonomi mulai melambat.  Ekonomi kita memasuki masa turbulence.

Ibarat sebuah pesawat penumpang yang besar.. seperti MH370 niy.. kita berada dalam auto pilot.. tapi dalam kondisi nose down.  Ketinggian pesawat.. pelan-pelan turun… gak berasa.

Problemnya: dalam kondisi perekonomian yang memburuk, Pemerintahan masih tetap saja: cenderung ‘nggak ngapa-ngapain’.  Iya siy.. suku bunga naik.. tapi.. apa itu menyelesaikan masalah? Terus… katanya ada langkah fiskal… yang itu loh.. melarang ekspor mineral mentah.  Katanya harus di proses dulu biar nilai tambah kita lebih tinggi.  Sekarang.. Rupiah belum kembali… tapi..  Lah? Kok langkah fiskal itu sudah dibatalkan lagi?

Sudah gitu… kemarin juga ada lucu-lucuan: ketika BPS mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama hanya 0,95 persen… beberapa ekonom masih keukeuh dengan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen – 6,0 persen.  Aneh.. bin ajaib.  Saya kira hanya saya yang merasa begitu.

Tapi… tadi siang.. ternyata Bank Indonesia akhirnya menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi… dari 5,5% – 6% menjadi 5,1% – 5,5%.

Nah loe!

Hingga bukan Oktober 2014 nanti… Presiden Indonesia masih tetap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  Harusnya… beliau cepat tanggap untuk melakukan hal-hal yang dirasakan perlu.. untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi kita kepada level yang tinggi, diatas 6% lagi.   Pilot kita ini.. seperti biasa… masih tetap tidak merasa ‘ada marabahaya’.  Masih ketawa-ketawa.  Mengarang lagu.  Nyanyi-nyanyi….

Kondisi fundamental dari bursa kita .. sebenarnya sudah babak belur. Lihat saja kinerja emiten kuartal pertama 2014 ini: lebih dari 60% emiten… laba bersihnya dibawah ekspektasi, dimana 85% diantaranya… disebabkan oleh rendahnya pencapaian penjualan.  Ini merupakan akibat dari perlambatan pertumbuhan ekonomi yang sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Regional juga sedang gak jelas.  DJI tahun kemarin naiknya ketinggian.. 26,5%.  Investor sana terlihat belum pede juga untuk membawa DJI menembus rekor baru.

Yang tersisa.. hanya sentimen pemilu.  Hehehe… dimana… perkembangannya saya kira juga agak menyeramkan: sepertinya.. rekapitulasi suara bakalan terlambat tuh… apa iya bisa kelar besok Jumat?  Hehehe…. saya kok tidak terlalu yakin.

So… Kita itu… sedang didalam MH-370.  Kapan jatuhnya? Gak tau deh… tapi ini semua orang masih ‘high’ .. masih ‘teler’ terkena sentimen Pemilu.

Harapan saya siy…  ada orang yang mau menyadarkan SBY.. bahwa dia tetap Presiden Indonesia hingga bulan Oktober 2014 nanti.

Atau… jangan-jangan…. beliau memang sengaja membawa Indonesia ke dalam kekacauan … agar di bulan Oktober 2014 nanti tidak ada penggantian kepemimpinan nasional?

Hehehe… nggak ah.. jangan berprasangka buruk begitu.

Happy trading…. semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Ketika Jokowi ‘diantemi’ oleh Yellen dan Putin…*

March 24th, 2014 1 comment

Selamat pagi…

….. Wah pak… Jokowi-nya diantemi sama Yellen dan Putin …

Itu adalah komentar dari salah satu peserta Market Outlook Universal Broker Indonesia mengenai kondisi pergerakan pasar di minggu yang lalu.  Ya sudah pasti … jangan diartikan seperti apa adanya.  Bukan lantas Jokowi ‘benar-benar’ dipukul oleh Janet Yellen (Chairman The Fed) dan Vladimir Putin, Presiden Rusia.  Akan tetapi, lebih karena pada minggu lalu, sentimen positif dari pengumuman Jokowi sebagai calon presiden dari PDIP, yang kemudian disebut orang sebagai Jokowi Effect yang ada di awal minggu, benar-benar di hancurkan oleh sentimen negatif pernyataan Janet Yellen di pertengahan minggu, dimana The Fed kemungkinan bakal mulai menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.  Sentimen negatif yang ada, semakin diperburuk oleh kondisi krisis semenanjung Crimea dimana Presiden Rusia, Vladimir Putin adalah aktor utamanya.  Jadi… tidak salah juga kalau kalau kemudian sebagian orang kemudian ngomong seperti itu.

Secuplik Sejarah ‘Euphoria Bursa di Indonesia’

Akan tetapi… apakah benar minggu lalu itu ‘Jokowi diantemi oleh Yellen dan Putin’? Belum tentu juga.  Untuk memahami Jokowi Effect, kita harus mengenal ‘sejarah’ dari euphoria pemilihan presiden di bursa kita.  Salah satu yang saya rasakan paling mewakili adalah ketika MPR melakukan pemilihan presiden pada tanggal 20 Oktober 1999.  Saat itu adalah untuk pertamakalinya, pemilihan presiden dilakukan secara terbuka, ditengah bursa yang tengah berjalan.  IHSG yang pada hari sebelumnya ditutup pad level 583,467, saat pemilihan langsung bergerak naik hingga mencapai titik tertinggi di level 644.073 (+60,426 poin, naik 10,35 persen).  Saat Gus Dur sudah memperoleh jumlah suara yang  cukup untuk memenangkan kursi Presiden, pelaku pasar mulai melakukan aksi profit taking.  IHSG kemudian turun hingga mencapai titik terendah pada level 569,155.  Sebuah penurunan yang sangat dalam karena pada level tersebut, IHSG berada dalam posisi terkoreksi 14,492 poin (-0,24 persen) dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya, yang juga berarti koreksi sebesar 74,918 poin (-11,63 persen) dari level tertinggi IHSG hari tersebut.  IHSG kemudian rebound, dan mengakhiri hari itu pada level 584,425 , hanya dengan kenaikan tipis 0,778 poin (+0,13 persen).  Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden, IHSG memang bergerak sangat volatile.

140324 IHSG ketik GusDur jadi PResiden

Euphoria IHSG seperti itu, kemudian semacam menjadi ‘standar’ dari pergerakan pasar ketika event-event besar terkait dengan pemilu: harga naik karena ada berita positif, tapi pelaku pasar malah cenderung jualan karena pergerakan intraday yang cenderung overreacting.  Market kemudian baru bisa bergerak normal beberapa hari kemudian, setelah pelaku pasar bisa mencerna informasi secara lebih nalar.

Kondisi seperti itu yang terjadi pada pergerakan IHSG minggu kemarin.  Pasar yang dilanda oleh Euphoria Jokowi Effect, akhirnya kempes lagi karena pasar akhirnya menyadari bahwa perjuangan Jokowi untuk jadi presiden, sebenarnya masih panjang.  Terlebih lagi juga, karena masalah kondisi dari bursa regional yang cenderung jelek sebagai akibat dari sentiment pidato Janet Yellen.  Koreksi Dow Jones Industrial pada hari Jumat malam sebagai reaksi atas perkembangan terbaru dari semenanjung Crimea, juga menunjukkan bahwa kondisi regional memang masih buruk.

Fokuslah pada event-event penting Pemilu

Proses pemilu 2014 ini masih panjang.  Pemilu kali ini memang berbeda karena dilakukan dua kali, pemilu legislatif dan pemilu presiden.  Kedepan, euphoria IHSG seperti yang terjadi kemarin, masih berpeluang untuk terjadi, seiring dengan banyaknya event-event penting pemilu yang masih akan terjadi.  Beberapa event yang menurut saya memiliki ‘potensi’ untuk terjadinya euphoria adalah pemilu legislatif hingga pengumuman hasil quick count, pengumuman resmi mengenai calon presiden dan wakil presiden dari setiap partai atau koalisi yang ada, dan event ‘pemilu presiden’ itu sendiri.  Setidaknya, pada ketiga event tersebut, IHSG ‘berpotensi’ untuk mengalami pergerakan naik.  Meski… terus terang.. kalau melihat chart technical… saya tidak terlalu yakin bahwa kedua event yang pertama (pemilu legislatif dan pengumuman resmi calon presiden) bisa membawa IHSG melewati level tertinggi Jokowi Effect kemarin di 4903.

Yah.. kalau IHSG bisa 5000 saat pemilu legislative, anggap saja sebagai bonus…

Saham pilihan: berkacalah pada Program Ekonomi Partai Peserta Pemilu

Tulisan ini… saya buat di pedesaan Maribaya.  Biasa… setiap dua minggu sekali, saya dan istri mengunjungi anak yang tengah boarding di salah satu sekolah yang ada di daerah ini.   Daerah pedesaan.  Tapi karena jaman sekarang ‘internet adalah kunci’, maka saya berpikir: ‘ah… tulisan saya akan saya selesaikan disana saja…. kan sekarang informasi tinggal ditanyakan kepada Mbah Google.

Dari Mbah Google ini.. saya kemudian mencari tahu, apakah program ekonomi dari beberapa partai besar peserta pemilu.  Hasilnya cukup mengejutkan.  Pertama: Website www.pdiperjuangan.org yang menurut account twitter resmi PDI-P (@pdi_perjuangan) ternyata mati.  Pada website www.indonesiahebat.org   juga tidak terdapat program ekonomi dari PDI yang katanye berjudul Pembangunan Semesta Berencana 25 Tahun tersebut.  Hehehe… Benar-benar ajaib.  Website dari partai pengusung Jokowi sebagai presiden, partai yang kemungkinan besar menjadi pemenang dari Pemilu kali ini, websitenya mati.  Lantas kalau saya pemilih yang rasional, kemana saya harus mencari tahu tentang program ekonomi dari PDIP?  Tapi.. ini bukan hal yang aneh juga siy.  Di website PKS (www.pks.or.id), ternyata juga tidak dijumpai adanya program ekonomi.  Di website Hanura, saya juga tidak nemu. Yang terlihat mencantumkan program ekonomi yang jelas pada websitenya, hanya Gerindra, PAN, dan Golkar.  Terkait dengan program ekonomi ini, reaksi pasar pada umumnya sama: kalau fokusnya adalah pertumbuhan ekonomi, berarti saham perbankan akan tetap bagus.  Kalau fokusnya adalah pembangunan infrastruktur, berarti saham infrastruktur yang akan bergerak.  Selisihnya, sepertinya akan ada pada program energy dari partai setiap partai tersebut.  Kalau PDIP kemudian berfokus pada energy gas seperti apa yang terdapat pada harian Kontan hari Sabtu kemarin, bisa jadi saham-saham yang terkait gas bakal melejit.  Akan tetapi, kalau melihat bahwa Gerindra bersemangat untuk mendukung program energy yang didapat dari DME (dimethyl ether), bisa jadi saham-saham batubara juga akan mengalami pergerakan karena bahan baku dari DME salah satunya adalah dari batubara.

Oh iya.. terkait dengan saham pilihan ketika pemilu ini.. tahukah anda bahwa Saham MNCN dan BHIT malah bergerak turun pasca deklarasi WIN-HT sebagai calon Presiden dan Wapres kemarin?  Anda juga harus ingat bahwa sesaat setelah pengumuman Jokowi sebagai calon presiden kemarin, gorengan UNSP juga langsung ‘diem’.  MNCN dan BHIT juga kemudian terkoreksi.  Sebuah ‘signal’ yang menarik.

Penutup

So… bagaimana reaksi anda terhadap lompatan-lompatan pergerakan harga yang terjadi selama pemilu ini? Yang jelas… kalau harga tiba-tiba naik terlalu tinggi, pertimbangkanlah untuk melakukan aksi profit taking. Sell On Strength minimal setengah posisi.  Jika anda melakukan posisi trading, ingatlah bahwa itu harus tetap menjadi posisi trading.  Kalau anda sampai nyangkut di harga yang terlalu tinggi, anda harus ‘make sure’ untuk mempersiapkan strategi untuk ‘euphoria selanjutnya’ dimana Pemilu Presiden sepertinya bakal menjadi euphoria terakhir.  Jika tidak… hehehe… bisa-bisa anda terpaksa gigit jari karena arah IHSG untuk paruh kedua dari tahun ini, benar-benar masih gelap.  Saya saja, memprediksikan bahwa untuk tahun ini, level tertinggi untuk IHSG bakal berada pada kisaran 5.200 – 5.650.  Akan tetapi, dalam prediksi saya, level tertinggi dari IHSG, sepertinya akan tercapai di sekitar Pemilu Presiden.   Masih banyak ketidakpastian dari perekonomian global, yang membuat saya belum bisa terlalu yakin mengenai prospek pergerakan IHSG dan bursa regional di paruh kedua tahun 2014 ini.

Semoga kita semua bisa mengendalikan entusiasme kita dalam menghadapi euphoria pemilu ini, agar bisa mendapatkan keuntungan yang optimal.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.