Pertalite: Tetap Saja BBM Yang ‘Diproyekkan’

May 17th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Diproyekkan. Mungkin ini istilah lama yang sudah jarang kita dengar. Sekedar ilustrasi, kisruh antara Gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dengan DPRD DKI kemarin, pokok permasalahannya adalah UPS yang ‘diproyekkan’. Istilah diproyekkan ini, biasanya terkait dengan ‘barang yang kualitas sama atau bahkan lebih rendah, tapi kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi, untuk memenuhi kebutuhan dari pihak lain’. Dalam kasus UPS si Ahok, UPS yang harganya hanya Rp 500 ribu, kemudian jual kepada Pemerintah dengan harga miliaran Rupiah, untuk memenuhi proyek. Proyek pengadaan barang yang dibuat oleh Pemerintah.

Istilah ‘diproyekkan’ ini, sepertinya juga cocok kalau kita lekatkan kepada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Dengan tidak adanya BBM dengan oktan (RON) 88 yang dijual dipasaran, PERTAMINA kemudian mengambil langkah strategis: memenuhi kebutuhan BBM RON 88, dengan BBM RON 92 yang ‘diproyekkan’. BBM RON 92 yang ada di pasar, kemudian dicampur dengan segala macam bahan, agar RON-nya turun sesuai ‘spesifikasi proyek’, kemudian dijual kepada Pemerintah, dengan ‘harga keekonomian’. Harga keekonomian yang hingga saat ini masih merupakan misteri karena setiap kali harga BBM Premium naik, selalu saja PERTAMINA bilang: belum mencapai harga keekonomian… belum mencapai keekonomian… belum mencapai keekonomian.

Pertalite: BBM yang Diproyekkan (juga)

Tidak lama berselang, PERTAMINA mengusulkan BBM Pertalite sebagai pengganti dari BBM Premium. Pertalite ini, konon adalah BBM dengan RON 90, yang dijual dibawah harga Pertamax, tapi lebih mahal dari Premium.

Awalnya, saya melihat Pertalite ini sebagai sebuah pilihan yang masuk akal. Toh, Premium memang harus segera dihapuskan. Karena statusnya sebagai BBM yang diproyekkan, Premium memang tidak efisien. Harga kemahalan, kualitasnya juga kurang. Jadi memang harus dihilangkan. Akan tetapi, saya menjadi ‘curiga’ ketika saya melihat definisi dari Pertalite yang diungkapkan Direktur Pemasaran PERTAMINA, Ahmad Bambang didepan DPR hari Rabu kemarin:

Untuk membuat Pertalite, kita menggunakan nafta yang memiliki RON 65-70, agar RON-nya jadi RON 90 kita campurkan HOMC, HOMC ini bisa dibilang ya Pertamax, campurannya HOMC yang RON-nya 92-95, plus zat aditif EcoSAVE biar tambah halus, bersih dan irit. Pokoknya ketiga bahan ini campur-campurin sampai pas RON 90

Karena istilah tersebut terlasa terlalu teknis dan terlalu detail, saya jadi terus penasaran: Apakah benar BBM RON 90 ini adalah BBM yang umum tersedia di pasaran? Apakah benar BBM RON 90 ini mudah diperoleh di dunia internasional? Masalahnya begini: dalam kasus Premium, karena kebutuhan akan BBM Premium tersebut sedemikan besar, maka ketika BBM RON 88 tidak lagi dibuat, Pertamina ‘terpaksa’ mengada-adakan atau memproyekkan BBM Premium ini, dari BBM RON 92 yang ada di pasar. Hasilnya sudah jelas: Indonesia terjebak oleh kebijakan BBM yang tidak transparan dan sangat rawan oleh korupsi. Yang untung hanya Petral dan beberapa gelintir orang yang lain.

Indonesia itu sebuah negara besar. Jumlah penduduknya saja, sudah lebih dari 250 juta. Jumlah kendaraan bermotornya juga sudah melewati angka 100 juta. Untuk memenuhi kebutuhan BBM dari pasar sebesar itu, tentu saja memerlukan suplai BBM yang luar biasa besar juga. Untuk memenuhi BBM dari pasar, kita tidak bisa menggunakan strategi: oh.. ini BBM kita bikin.. nanti kalau kurang kita impor. Jelas tidak bisa. Untuk memenuhui kebutuhan BBM yang sedemikian besar, kita harus menggunakan strategi: ‘ini BBM kita bikin, tapi kalau kurang, mau impor juga mudah karena di pasarnya banyak. Kalau tidak, ya jelas: kita akan masuk dalam lingkaran setan lagi, seperti lingkaran setan yang sudah terbentuk untuk BBM Premium.

Berbicara mengenai BBM yang banyak tersedia di pasar, saya kemudian mengintip beberapa BBM di kawasan Asia yang aktif perdagangannya Chicago Merchantile Exchange Group. Ini memang derivatif. Tapi, saya memang hanya mencari sesuatu yang mudah dilihat harga pasarnya, sehingga jika terjadi kekurangan, PERTAMINA tidak akan kesulitan untuk mencari suplai. Disitu saya melihat, bahwa yang aktif perdagangannya, hanyalah BBM dengan RON 92, RON 95, dan RON 97. Dari pencarian saya di Google, RON 90 itu hanya BBM standar yang dipakai di Jepang. Sehingga tidak banyak suplainya di dunia ini. Apakah benar kita akan menggunakan BBM seperti itu sebagai alternatif pengganti dari Premium? Kalau iya… berarti memang benar-benar gawat. Kalau sukses… Pertalite nantinya hanya akan menjadi ‘BBM yang diproyekkan lagi’. Tidak akan berbeda hasilnya dengan posisi BBM Premium saat ini.

Saya kira, Pertalite tidak bisa digunakan sebagai alternatif BBM Premium. Kalau ternyata nanti BBM Premium dihilangkan, maka solusi yang paling masuk akal adalah New Premium nantinya adalah BBM dengan RON 92, Pertamax yang naik menjadi BBM dengan Oktan 95, dan Pertamax Plus yang tetap dengan oktan 98. Langkah ini adalah sebuah pilihan yang paling masuk akal. Di satu sisi, BBM yang tersedia di pasar dalam negeri, adalah BBM yang mudah dicari suplainya di pasar internasional sehingga kalau kekurangan, Pertamina akan mudah untuk melakukan impor dengan harga yang wajar. Disisi lain, konsumen juga akan diuntungkan karena mendapatkan BBM dengan kualitas yang lebih baik.

Menciptakan Pertalite sebagai calon pengganti dari Premium, hanya akan kita tetap saja tenggelam dalam lingkaran setan ‘BBM yang diproyekkan’, sama dengan BBM Premium saat ini.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

 

Categories: Uncategorized Tags:

Karena Jaman Sudah Tidak Memungkinkan Harmoko ‘COME BACK’*

May 11th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Weleh… ternyata … saya udah cukup berumur ye? Saya kemarin bertanya kepada teman wartawan yang usianya baru 21 tahun… apakah anda tahu siapa itu Pak Harmoko.. ternyata mereka sudah tidak tahu… tidak kenal.. dan belum pernah dengar. Terlepas dari bahwa rekan wartawan ini kudet (kurang update) atau malah kuper (kurang pergaulan), tapi memang belakangan Pak Harmoko sudah tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya.

Bapak Haji Harmoko adalah seorang wartawan yang kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan dari tahun 1983 – 1997. Beliau adalah salah satu orang yang menjabat Menteri paling lama pada pemerintahan Presiden Soeharto. Bagi anda yang kudet seperti teman wartawan saya tadi, Jaman Presiden Soeharto dulu memang berbeda dengan apa yang kita alami saat ini. Pada jaman Presiden Soeharto dulu, Menteri Penerangan ini adalah sebuah posisi menteri yang tugasnya mengkomunikasikan kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Tidak seperti Menteri Komunikasi dan Informasi saat ini yang tugasnya hanya mengurusi masalah komunikasi dan informasi (seperti perijinan televisi, radio, internet dan lain sebagainya), Menteri Penerangan jaman Presiden Soeharto itu juga berfungsi sebagai Public Relation (PR) bagi seluruh kebijakan Pemerintah. Menteri Penerangan adalah corong utama dari Pemerintah. Menteri Penerangan adalah sumber informasi utama dari apa yang dimaksud oleh Pemerintah. Ketika jaman dimana saluran televisi hanya satu yaitu TVRI, media cetak dan elektronik juga tidak sebanyak saat ini, Menteri Penerangan ini seakan-akan sudah seperti sumber kebenaran. Apa yang keluar dari mulutnya, adalah kebernaran yang dimaksud oleh Pemerintah. Kalau wartawan tidak mengerti, bisa langsung tanya pada Menteri Penerangan. Kalau anda ketidakpahaman dalam masyarakat,kalau ada saling-silang pendapat pada masyarakat, maka Menteri Penerangan akan mengeluarkan pernyataan. Pernyataan dari Menteri Penerangan ini kemudian dijadikan patokan sudut pandang atau tafsir dari setiap permasalahan.

Besarnya peran Menteri Penerangan ini, menjadikannya sebagai figur utama dalam kestabilan Pemerintahan (selain juga karena Kepemimpinan Presiden Soeharto yang sangat ‘kuat’), karena beliau adalah sumber dari kebenaran, sumber informasi utama.

Peran sebagai ‘sumber informasi utama’ ini, sangat terasa ketika Pemerintah selesai mengadakan sidang kabinet. Menteri Penerangan biasanya selalu muncul di televisi untuk menjelaskan poin-poin penting dari sidang kabinet tersebut. Dan… karena Pak Harmoko dulu selalu berusaha untuk mengedepankan peran dari Presiden Soeharto sebagai pemimpin dan pengambil keputusan, beliau selalu menyatakan ‘…menurut petunjuk Bapak Presiden…’. Mengenai yang satu ini… hehehe… kalau anda seumuran saya, kalau anda sudah biasa menunggu filem seri yang muncul di jam 21.30 setelah acara Dunia Dalam Berita di TVRI, anda pasti juga merasakan rasa ‘eneg’ (mual menuju muntah) mendengarkan kata ‘menurut petunjuk Bapak Presiden’ ini. Setiap kemunculan Bapak Harmoko… kata-kata ‘menurut petunjuk Bapak Presiden’ ini bisa berulang minimal 5-10 kali. Bisa anda bayangkan, betapa besar ‘siksa psikologis’ jaman Presiden Soeharto dulu.

Cuman ya gitu. Di satu sisi, ada siksa psikologisnya. Tapi disisi lain, adanya sumber informasi tunggal ini, memang membuat kondisi menjadi lebih terasa aman, tentram, dan damai.

Jaman Reformasi, Jaman Kebebasan Informasi

Jaman sekarang, sangatlah berbeda. Saluran informasi tidak hanya satu. Saluran televisinya sudah ada banyak sekali. Media cetak dan media elektronik juga sudah semakin membludak, luar biasa banyaknya. Belum lagi, saat ini, yang namanya sumber informasi tidak hanya berasal dari kantor berita yang resmi. Disamping jurmalisme profesional yang berasal dari kantor berita resmi, muncul juga yang namanya citizen journalism, jurnalisme yang muncul dari masyarakat. Jurnalisme yang berasal dari blog atau website pribadi. Belum lagi media sosial dimana masing-masing orang bisa ngomong dan didengarkan oleh ratusan, ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan follower mereka. Semua orang berbicara, semua orang berebut untuk didengarkan.

Ditengah arus informasi yang sedemikian besar ini, maka pembentukan opini, sudah bisa lagi dilakukan seperti dulu. Dulu.. Pak Harmoko berbicara.. seluruh Indonesia diam mendengarkan. Sekarang… mana bisa seperti itu? Orang harus memiliki skill yang tinggi untuk berkomunikasi, agar bisa didengarkan. Tidak hanya itu, untuk bisa menyampaikan ‘pesan yang benar’ saja, seseorang juga harus berusaha dengan sekuat tenaga. Ada yang pake strategi. Ada yang pake penasehat. Ada yang pake juru bicara. Ada yang pake Biro Public Relation. Ada yang pake duit. Orang menggunakan apa saja agar bisa berkomunikasi dengan benar. Agar perkataannya bisa didengar oleh masyarakat. Agar pesannya, agar tujuannya, agar kepentingannya bisa tercapai.

Eh… tapi… terlepas dari semuanya.. peran dari Media Profesional, tetap saja besar. Karena mereka rata-rata terdiri dari orang yang ahli dalam menulis (gimana gak ahli orang itu pekerjaannya?) dan juga terorganisasi (karena berada dalam sebuah kantor berita) maka kualitas dari pesannya biasanya memang lebih baik. Meski…. karena mereka terikat dengan aturan bisnis media, terkait dengan target-target yang harus dipenuhi, terkadang pesan yang ingin disampaikan juga memiliki ‘kualitas’ dan ‘kepentingan’ yang berbeda pula.

Kegagalan Berkomunikasi, Sumber Semua Permasalahan Masa Kini

Kita mungkin sudah terbiasa pendapat bahwa perbuatan yang baik itu, harus dilandasi dengan niat yang baik. Akan tetapi, kalau jaman sekang, perbuatan yang baik itu, tidak cukup hanya dilakukan dengan berdasarkan dari niat yang baik. Perbuatan yang baik itu, harus disertai dengan komunikasi yang baik, agar orang lain bisa menerima perbuatan baik kita dengan benar. Kalau anda membutuhkan pertolongan misalnya, dan saya bisa dan mau menolong anda, maka saya juga harus bisa menyatakannya dengan baik. Jangan sampai… saya maju menolong anda… tapi ternyata saya melakukannya sambil menyebar kata-kata kotor. Bukan anda yang senang saya tolong.. tapi malah jangan-jangan.. anda yang kemudian membunuh saya atau menuntut saya kedepan pengadilan karena anda tersinggung dengan perkataan saya.

Itu yang terjadi dengan Pemerintah saat ini. Niatnya sudah baik. Program yang dilakukan juga sudah benar. Akan tetapi, karena mereka sering gagal dalam berkomunikasi, pesan yang disampaikan sering kali malah jadi keliru. Penerima program, dalam hal ini rakyat, jadi salah tangkap, salah terima. Program yang baik, langkah yang baik, meski sudah berhasil, tetap saja belum tentu direspon dengan baik juga.

Belum lagi… karena jaman sekarang ini yang para penjegal, haters, orang-orang yang gagal move on, terlihat masih banyak sekali jumlahnya, maka kondisi bisa semakin runyam. Berbuat baik tidaklah cukup. Harus juga disertai dengan komunikasi yang benar.

Jokowi Memiliki Pekerjaan Rumah Yang Berat

Stabilitas itu, mahal harganya. Setelah 10 tahun terakhir SBY mempertaruhkan semuanya untuk tercapainya stabilitas melalui harga BBM Subsidi yang stabil, Pemerintahan Jokowi memang diwarisi oleh ekonomi yang carut marut: Pertumbuhan ekonomi memang masih cukup tinggi, tapi.. dengan kecenderungan yang terus menurun, ekonomi yang tergantung akan barang-barang impor, dan infrastruktur yang buruk. Belum lagi, rakyat yang sudah terbiasa hidup dalam fatamorgana. Semua pekerjaan rumah ini, memang terlihat berat untuk diselesaikan. Akan tetapi, dengan langkah yang benar, sebenarnya tidak sulit untuk diselesaikan. Permasalahannya, langkah yang benar itu, membutuhkan berbagai kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Contoh yang terbaik adalah kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Untuk membangun, Pemerintah harus mengurangi subsidi BBM. Mengurangi subsidi BBM, berarti harus membiarkan harga BBM bergerak mengikuti harga internasional. Karena harga kebijakan kenaikan harga awal yang salah (menaikkan harga BBM ketika harga minyak sedang jatuh turun) dan plus harga minyak internasional yang belakangan cenderung naik sehingga harga BBM terus bergerak naik, kebijakan Pemerintah yang niatnya baik ini, malah cenderung terasa menyengsarakan rakyat.

Komunikasi Pemerintah memang cenderung buruk. Sudah gitu, pertumbuhan ekonomi yang diharapkan masih bisa menyelamatkan keadaa n, ternyata hasilnya malah lebih buruk dari perkiraan. Belum lagi, masalah ketidakkompakan antara Tim Ekonomi Presiden dengan Bank Indonesia, membuat permasalahan menjadi runyam. Nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang kembali ke level 13.000. Gubernur BI yang (katanya) ‘marah-marah dengan wartawan’. Aduh… kok rasanya.. semua seperti penderitaan yang tiada akhir.

Pemerintah Perlu ‘Langkah Besar’

Dengan semua penderitaan itu, pasar berharap bahwa Pemerintah akan melakukan langkah yang besar untuk bisa menyelamatkan keadaan. Entah itu berupa Paket Kebijakan Ekonomi, reshuffle kabinet, atau apa. Tapi Pemerintah harus melakukan langkah. Langkah Besar.

Langkah besar ini, dirasakan perlu untuk mencegah hilangnya kepercayaan pasar terhadap Pemerintah. Untuk posisi saat ini saja, dana asing di pasar reguler yang selama bulan Januari – Maret 2015 kemarin sempat masuk sebesar Rp 11,7 trilyun, pada periode Maret – Mei ini sudah hampir seluruhnya keluar.

Kalau Pemerintah tidak melakukan ‘langkah besar’… Bagaimana?

Well… Anda masih ingat Dana Jokowi Effect? Dana Jokowi Effect itu dana asing yang masuk ke Bursa Efek Indonesia yang terjadi selama Desember 2013 – Desember 2014. Dana Jokowi Effect ini, jumlahnya masih sebesar Rp 27 trilyun – Rp 30 trilyun. Gak kebayang deh… kalau sampai dana sebesar itu keluar dari bursa kita.

Hari Jumat kemarin, indeks Dow Jones Industrial bergerak naik sebesar 1,49 persen. Kalau biasanya indeks Dow Jones begerak naik IHSG bergerak naik, kali ini Kita sebaiknya jangan senang dulu. Alasan kenaikan dari indeks Dow Jones tersebut adalah karena mereka yakin bahwa suku bunga The Fed kemungkinan besar (bahkan sudah hampir dipastikan) akan naik pada bulan September nanti. Iya kalau pasar bereaksi positif dengan menganggap bahwa dengan kehampirpastian tersebut, mereka akan kembali masuk ke bursa kita, melakukan posisi beli. Tapi.. bagaimana kalau pasar bereaksi negatif?

Hingga Mingu sore hari ini, Pemerintah tidak terlihat melakukan apa-apa. Tidak ada langkah, tidak ada komunikasi.

Saya khawatir.

Mimpi saya sih… Pemerintah dan Bank Indonesia, duduk bersama didepan Pers, untuk mengkomunikasikan semua apa yang sudah dan akan dilakukan. Seperti ketika dulu Bapak Harmoko melakukan Jumpa Pers setelah Sidang Kabinet. Dengan keangkuhan seorang Agus Martowardoyo, dengan ketidakjelasan seorang Sofyan Jalil… dengan seorang Purbaya Yudhi Sadewa yang ternyata dulunya adalah seorang yang terlihat lebih sering apatis terhadap Jokowi… Apa ya bisa?

Pemerintah tidak hanya harus bisa membangun. Pemerintah harus bisa berkomunikasi dengan baik.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Categories: Market Comment Tags:

Bagaimana… Sudah Siap BBM 25000?*

April 15th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Minggu lalu… Menteri ESDM … Bapak Sudirman Said… sempat bilang: Harga BBM akan naik lagi!!! Gile bener.  Baru juga tanggal 8… tapi sudah mulai berkoar kalau harga BBM mau naik lagi.  Alasannya juga keren: Karena menjelang musim panas.. harga BBM akan naik lagi.  Memang sih… itu faktor penggerak harga minyak.  Tapi… signal yang saya baca adalah: bahwa harga BBM Subsidi akan naik karena Pemerintah mengantisipasi kenaikan harga di masa yang akan datang.  ‘Bagus’-nya lagi.. tidak lama kemudian.. di malam harinya… keluar berita baru:Harga minyak Brent turun 6% dalam semalam! Hehehe… manis bener…. Sialnya.. Pak Menteri kemudian tidak komentar mengenai hal itu.

Harga BBM: Memang Harus Mengambang

Kebijakan Harga BBM Subsidi seperti jaman SBY dulu… adalah kebijakan yang tidak benar.  Kita sudah melihat bagaimana akibatnya terhadap perekonomian kita:

 

    • Neraca perdagangan kacau

 

    • Impor BBM yang tidak terkendali

 

    • Rupiah melambung tinggi

 

    • Pertumbuhan ekonomi yang dipaksa melambat

 

    • Penggunaan hutang jangka panjang secara tidak efektif

 

dan masih banyak lagi.

Misal niy…  Kalau kita lihat realisasi APBN 2014 kemarin: Total Subsidi Energi Pemerintah (Listrik dan BBM) adalah sebesar Rp 341,8 trilyun.  Sedangkan .. jumlah Surat Berharga Neto yang dikeluarkan oleh Pemerintah selama 2014 adalah sebesar Rp 264,6 trilyun.  Apa gak berabe tuh… kalau kita ngutang jangka panjang dalam bentuk surat berharga, hanya sekedar untuk ‘dibakar’ untuk subsidi energi yang tidak lain sebenarnya adalah kebutuhan sehari-hari?

Semangatnya sudah benar….

Nah… setelah semua kekacauan yang ditimbulkan oleh Pemerintah SBY dalam 2 tahun terakhir Pemerintahannya… Pemerintahan Jokowi kemudian mengeluarkan PerPres no 191/2014 yang diantaranya mengatur tentang harga BBM.   Terkait dengan harga, terutamanya bisa dilihat pada pasal 14 dari Prepres tersebut.

 

    • Pasal 1: Harga dasar BBM ditetapkan oleh Menteri

 

    • Pasal 2: Harga dasar terdiri dari biaya perolehan, biaya distribusi, dan biaya penyimpanan, serta margin.

 

    • Pasal 3: Biaya perolehan (sebagaimana pasal 2).. bla.. bla .. bla… dilakukan dengan menggunakan harga indeks pasar.

 

    • Pasal 4: Harga jual eceran nantinya sudah termasuk PPN dan Pajak Bahan Bakar

 

Bagus kan? Berarti.. perubahan harga BBM sudah tidak seribet dulu.  Patokan harganya adalah menggunakan patokan indeks pasar.   Dengan peraturan ini.. harga minyak internasional seperti apa juga tidak akan membebani APBN.  Ini adalah kepastian

Beberapa problem yang muncul….

Problemnya terdapat pada pelaksanannya.

Yang pertama: Dalam Peraturan Menteri ESDM yang digunakan sebagai pelaksanaan dari Perpres tersebut, kemudian memasukkan faktor Rupiah.

Yang kedua: ternyata.. harga indeks minyak tersebut, kemudian diterjemahkan sebagai Mean Oil PLatts Singapore (MOPS).  MOPS itu harga gak jelas.. gak transparan.  Anda coba cari data historis dari MOPS.  Tidak semua orang bisa akses.

Yang ketiga: ya itu tadi.. Pak Menteri mau memasukkan prediksi harga masa depan.. dengan alasan yang agak gak jelas gitu.

Trendnya kok semakin kacau.  Meskipun harga terus disesuaikan, tapi semakin hari.. harga kok semakin jauh dari realita.  Ini yang membuat orang bingung, analis bingung, apalagi rakyat kecil yang dipingir jalan itu.  Duh.. gimana rasanya ye?

Problem Utama: Tidak ada Tranparansi, Tidak ada Akuntabilitas.

Korupsi itu.. mencuri.  Mencuri itu.. bisa dilakukan kalau ada kesempatan.  Kesempatan itu ada… kalau hari sudah gelap.. kalau sudah tidak ada transparansi lagi.  Meskipun idenya bagus, harga BBM yang mengambang pada prakteknya kemudian menjadi momok karena tidak adanya transparansi.  Karena tidak ada transparansi… maka orang mau berhitung juga gak bisa.  Rakyat jadi mustahil untuk mengantisipasi masa depan.

Kalau sudah begini.. resiko menjadi menjulang tinggi.  Belum lagi.. faktor ‘peluang bermain’ itu tadi.

Coba anda melihat Metamorfosis dari seorang Sudirman Said.  Dengan perintah dari Presiden untuk menutup Petral, Sudirman Said kemudian berevolusi dari seorang yang tegas, seorang yang toleranseorang yang permisif, dan seorang yang ‘berteman’ (kolutif).

Waduh.

Saya sedang cari cara gimana untuk bisa bilang dengan lebih sopan.  Tapi.. kalau kondisinya masih tetap seperti ini.  Sepertinya kita harus bersiap kalau harga BBM Premium bisa mencapai Rp 25.000 ketika harga minyak sudah kembali ke atas US$120.

Emang Presiden dan Rakyat siap kalau harga BBM Premium Rp 25.000 per liter?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Comment Tags:

Dollar 13.000 … Lantas… Anda mau beli gitu?*

March 12th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Kemarin… akhirnya.. Nilai tukar Rupiah terhadap US$ akhirnya ‘secara resmi’ menembus Rp 13.000 untuk setiap US$nya. Setelah beberapa hari nilai tukar Rupiah/US$ berkutat di sekitar level Rp 13.000 akhirnya kemarin US$ ditutup pada level Rp 13185, setelah sempat mencetak level tertinggi di Rp 13.215.

Mengapa US$ Menembus 13.000 ?

Dalam beberapa hari terakhir, muncul spekulasi bahwa The Fed akan ‘pasti’ menaikkan suku bunga pada FOMC bulan Juni 2015 nanti. Ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh Reuters terhadap 19 bank yang langsung berhubungan dengan The Fed, dimana 14 diantaranya berpendapat bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Juni nanti. Spekulasi ini, kemudian menghantam pasar. Indeks Dow Jones Industrial turun 300 poin lebih dan Euro jatuh dari 1.125 menjadi 1.050.

Rupiah sebagai salah satu mata uang di dunia juga ikut tertekan. Itu yang mengantarkan Rupiah ke level 13.000 pada hari-hari ini.

Ini semua adalah karena penguatan US$… bukan semata-mata pelemahan Rupiah!!!

Bagaimana sih posisi terakhir dari Rupiah terhadap US$ ?

Hehehe… saya sih kemarin agak bete. Agak bete karena ada orang dodol yang bilang…kalau Dollar 13.000 itu rekor, kita lebih buruk dari 1998.

150312 Rupiah Terburuk

Dollar ketika krismon.. sempat tertinggi di 16.800. Jelas kan?

Kalau anda tanya kepada saya .. Rupiah setelah 13.000 ini resistennya dimana… Anda bisa lihat pada gambar dibawah ini:

150312 Resisten Rupiah

Resisten Rupiah di 13.386. Rupiah sekarang di 13.175.

Lantas… apa yang harus kita lakukan?

Kalau saya sih … hehehe. Anda mungkin sudah tahu kalau saya sedang bullish banget terhadap market saat ini. Saya melihat perekonomian Indonesia sebagai turnaround story… cerita dari kondisi ekonomi yang memburuk dan berubah menjadi lebih baik. Secara teknikal.. saya juga masih melihat potensi IHSG untuk bergerak naik setidaknya hingga level psikologis 6000 di tahun 2015 ini. Jadi.. saya tidak panik. Saya malah berusaha untuk melakukan akumulasi saham.. sedikit-demi sedikit, dan hanya melakukan posisi beli dalam jumlah besar, kalau trend jangka pendek IHSG berubah menjadi naik.

Kalau anda… apa yang ada lakukan? Mau beli US$? Menurut saya sih… itu sudah tidak reasonable… sudah tidak masuk akal. Lihat aja di pedagang valas atau di bank: US$ sudah di harga 13.300 – 13.500 kalau mau beli. Biasa.. kalau sedang ‘agak panik’ begini.. spread (selisih) antara posisi beli dan posisi jual dari bank atau pedagang valas, bisa semakin lebar. Pertanyaan saya adalah: kalau anda beli disitu… lantas mau jual di berapa? Anda berharap US$ 15.000 gitu?

Kalau saya sih … selalu teringat apa yang berulangkali menjadi nasehat dari ayah saya. Dulu… ketika saya masih kecil, ketika Presiden Soeharto masih berkuasa… setiap kali ada devaluasi mata uang… saya selalu bertanya kepada almarhum ayah saya: ‘Papa… kita gak ikutan beli Dollar?‘. Jawaban beliau selalu standar:

… untuk apa? pertama… berapa sih selisihnya? gak banyak kan? dan kedua… kita juga gak punya duit terlalu banyak. Kita tidak bisa bertambah kaya dengan membeli Dollar! Cuman bikin susah orang banyak saja! Yang beli Dollar untuk spekulasi itu.. adalah orang yang tidak nasionalis. Kita tidak mau jadi orang seperti itu!

Jadi… saya ingin bertanya kepada anda:

Apakah anda mau ikut-ikutan panik dan membeli Dollar? Saya sih tidak.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Categories: Market Comment Tags:

Dollar 13.000 .. Kok IHSG Naik Terus Pak?

March 9th, 2015 1 comment

Selamat pagi…

Minggu lalu… adalah sebuah momem penting bagi pergerakan Rupiah. Setelah berbulan-bulan terus melemah terhadap Dollar Amerika (US$), nilai tukar Rupiah akhirnya menyentuh level psikologis 13.000. Satu hal yang kemudian menjadi pertanyaan dari banyak orang adalah: Ketika Rupiah melemah hingga Rp 13.000 untuk setiap US$… mengapa IHSG malah menguat hingga diatas level psikologis 5.500? Mengapa US$ Rp 13.000 tapi IHSG malah naik ke 5.500?

Menjawab pertanyaan ini, saya mencoba untuk melihat grafik dari Aliran Dana Asing yang terjadi semenjak akhir 2013, atau yang sering saya sebut sebagai Aliran Dana Asing Jokowi Effect.

150309 Aliran Dana Asing - Reguler

Dari Grafik Aliran Dana Asing di pasar reguler diatas, orang-orang yang skeptis, bakalan mengambil kesimpulan seperti ini: Ah… IHSG bergerak naik.. kan hanya karena pemodal asing yang sudah terperangkap, kembali masuk ke bursa kita. Mereka kan sudah masuk di bulan Desember 2013 ketika US$ masih sekitar Rp 9.000an. Rata-rata beli mereka, pasti juga terjadi pada rata-rata nilai tukar di level Rp 10.000an. Setelah mereka melakukan posisi jual pada periode September 2014 – Januari 2015, mereka juga tidak bisa keluar (mengkonversikan posisinya dalam US$) karena posisinya masih rugi. Itu sebabnya… mereka memang tidak ada pilihan lain untuk tetap pengang Rupiah, masuk (melakukan posisi beli) lagi ke saham Indonesia.

Dugaan seperti itu, bisa saja benar. Ini karena posisi aliran dana asing, saat ini masih belum kembali ke level tertinggi yang sempat dicapai pada tanggal 8 September 2014, dimana pada saat itu pemodal asing sudah membukukan posisi net buy sebesar Rp 46,01 trilyun. Setelah mencapai level terendah pada tanggal 21 Januari 2015 pada level Rp 26,90 trilyun, aliran dana asing yang masuk hingga hari Jumat minggu kemarin, secara hanya mencapai Rp 14,47 trilyun sehingga secara total, aliran dana asing hanya kembali ke level Rp 41,36 trilyun. Dengan posisi dari pemodal asing yang masih lebih rendah dari level tertingginya, bisa jadi mereka ini adalah dana asing yang sudah terlanjur terperangkap dalam Rupiah, dan kemudian memaksakan diri lagi untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia, melakukan posisi beli pada saham-saham di bursa kita.

Apakah benar seperti itu?

Well… kalau nanti… besaran dari aliran dana asing ternyata tidak bisa melewati Rp 46,01 trilyun, dugaan itu bisa saja benar. Akan tetapi… saya kok lebih suka mandangnya dari sudut pandang yang lain.

Indonesia: Turn Around Story

Para fund manager asing itu.. paling suka sama yang namanya turn around story. Turn around story itu adalah keadaan dimana kondisi yang cenderung memburuk, kemudian berubah menjadi membaik. Timing untuk melakukan akumulasi pada sebuah saham, bukan ketika laba bersihnya terus menerus menurun. Tapi lebih baik ketika kondisi terburuk dari perusahaan itu sudah berlalu, krisis keuangannya sudah berlalu, dan laba bersihnya mulai bergerak naik. Timing untuk membeli saham misalnya, adalah bukan ketika harga sedang berada dalam sebuah trend turun, tapi lebih bagus ketika titik terburuk sudah terlewati dan harga mulai bergerak menanjak, bergerak naik. Hal itulah yang sedang mereka lihat pada perekonomian Indonesia.

150309 GDP Indonesia

Dari data pertumbuhan ekonomi diatas, bisa kita lihat bahwa dalam kuartal terakhir 2014 kemarin, pertumbuhan ekonomi dari Indonesia, terlihat mulai mengalami perbaikan. Pertumbuhan ekonomi terus menurun dari level 6,4 persen pada kuartal keempat 2012 dan mencapai titik tertburuk pada kuartal ketiga 2014 hingga hanya mencapai level 4,92 persen, pada kuartal keempat 2014 sudah naik kembali ke level 5,01 persen. Level pertumbuhan ekonomi tersebut memang masih tergolong rendah. Akan tetapi, harapan bahwa untuk kedepannya pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah kembali membaik, terlihat semakin kuat. Bung Faisal Basri saja, dalam outlook ekonominya yang dipaparkan pada acara J-Club Expo yang saya hadiri kemarin, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal pertama di tahun 2015 ini bisa mencapai 5,3 – 5,4 persen. Untuk tahun 2015 ini, Bung Faisal Basri bahkam memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,0 persen! Perkiraan dimana pertumbuhan ekonomi kita sudah melewati masa terburuknya seperti ini, yang kemudian membuat pemodal asing rajin untuk melakukan posisi beli di Bursa Efek Indonesia.

Pak Tommy … Tapi Dollarnya kok 13.000 ?

Dalam perekonomian Dunia, saat ini sedang terjadi perang mata uang (currency war). Currency war ini adalah suatu kondisi dimana negara-negara di dunia sedang berebut untuk melemahkan mata uangnya, dengan harapan bahwa barang ekspor mereka, bisa menjadi lebih kompetitif. Currency war ini berawal dari langkah Bank Sentral Amerika untuk mulai mengembalikan suku bunganya ke level bunga yang normal, setelah krisis yang terjadi pada 2007-2008 telah memaksa mereka untuk meletakkan suku bunga di level 0,25 persen dalam skema Quantitative Easing (QE). Dengan suku bunga US$ yang cenderung naik sesuai dengan Tapering (berakhirnya QE) yang tengah dilakukan, mata uang dari berbagai negara di dunia ini cenderung mengalami tekanan pelemahan. Tidak mau hanya sekedar melemah, Bank Sentral dari berbagai negara di dunia ini malah kemudian ‘sengaja’ melemahkan mata uangnya, agar produk ekspor mereka bisa lebih kompetitif. Maklum saja: kalau ekspor meningkat, berarti perekonomian negara itu bisa berjalan, lapangan kerja tersedia, dan seterusnya. Dalam currency war ini, mata uang akan cenderung melemah, dengan harapan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik.

Langkah dari Bank Indonesia untuk menurunkan BI Rate pada bulan Februari kemarin, memang kemudian dipandang oleh pelaku pasar sebagai posisi dari Bank Indonesia yang lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi, dibandingkan dengan posisi Rupiah yang kuat. Itulah sebabnya, nilai tukar Rupiah terhadap US$ kemudian melemah, turun dari level 12.500 – 12.700, menjadi di sekitar 13.000 sekarang ini.

Dollar 13.000 … Kok IHSG Naik sampai 5.500?

Perbedaan dari investor asing dan investor lokal, itu sering kali berada pada sudut pandang waktu (time horizon) dari investasinya. Pemodal lokal itu biasanya bingung akan hal-hal yang jangka pendek, sehingga mereka melupakan tujuan yang sebenarnya dari investasi itu sendiri: pertumbuhan aset untuk jangka panjang. Itu sebabnya, pemodal lokal lebih bingung dengan Rupiah yang 13.000 dibandingkan dengan hal-hal yang lainnya. Padahal, pemodal asing tetap konsisten: dengan melihat turn around story yang ada, dengan melihat bahwa kedepan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi, itu yang membuat mereka kemudian terus melakukan aksi beli. Itu yang membuat IHSG terus bergerak naik hingga level 5.500 ini. Perbedaannya terlihat kok.. dari saham-saham yang bergerak naik. Saham-saham sektor konstruksi yang biasanya memang ‘mainan’ dari pemodal lokal, terlihat lebih cenderung stagnan. Yang bergerak naik hanya saham-saham perbankan dan saham-saham big caps lain, yang biasanya merupakan incaran dari investor asing.

Lalu… Apa yang seharusnya dilakukan? Apa yang harus diperhatikan?

Kalau melihat grafik aliran dana asing diatas, jumlah dari dana asing yang berada di bursa, sudah mencapai Rp 41,36 trilyun. Level ini sudah tidak jauh lagi dari level tertinggi yang besarnya Rp 46,01 trilyun itu. Artinya, dalam hari-hari kedepan ini, kita akan melihat: apakah pemodal asing memang benar-benar masuk ke bursa kita, melewati level Rp 46,01 trilyun yang pernah mereka capai pada tahun 2014 lalu, atau mereka hanya sekedar memanfaatkan dana yang ada, karena sudah terlanjur berada dalam Rupiah.

Kalau dari sudut pandang saya, saya kok lebih cenderung mengenai skenario ‘turn around story’ itu tadi, dimana pemodal asing memang masuk, karena mereka melihat bahwa masa-masa terburuk dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, sudah berlalu. Perkara nilai tukar Rupiah yang berada di sekitar level Rp 13.000, saya hanya bisa bilang begini: selama tidak ada kepanikan pada pasar, selama Rupiah tidak bergerak dalam volatilitas tinggi, selama Rupiah tidak bergerak 300 Rupiah per hari, harusnya kita semua, terutama para pemodal, tidak perlu khawatir.

Nilai tukar Rupiah terhadap US$ diatas 13.000 itu tidak masalah, selama tidak terlihat adanya kepanikan.

Toh.. pelemahan mata uang itu adalah fenomena global. Harapannya kemudian adalah, bahwa nilai tukar kemudian akan cenderung membaik, seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dan terkendalinya neraca perdagangan. Anda coba lihat itu yang namanya Perang Beras. Pemerintah benar-benar keukeuh, bertahan tidak mau mengimpor beras, meski harga beras melambung tinggi. Itu bisa jadi indikasi bahwa Pemerintah benar-benar tidak main-main dalam ‘menjaga’ neraca perdagangan agar tidak defisit. Pemerintah tidak mau neraca perdagangan kemudian bergejolak, hanya untuk meredam pergerakan harga sesaat. Toh stok beras sebenarnya cukup. Hanya musim panennya saja yang belum datang.

Jadi… apakah anda hanya akan termangu saja, menunggu di pingir lapangan, diluar pasar modal karena ketakutan US$ yang Rp 13.000 itu? Sebaiknya jangan. Nanti kalau pada bulan April 2015 data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2015 ternyata benar-benar tinggi, harga saham tentunya juga sudah lebih tinggi lagi. Anda akan sangat terlambat, ketika memutuskan untuk masuk setelah data tersebut keluar di bulan April nanti.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Categories: Market Comment Tags: