Perlunya UU Anti-Anonimitas (Ketika Tidak Semua Bisa Diselesaikan Dengan Sekedar Maaf)

August 6th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana libur Lebaran masih menyisakan satu-dua hari kerja dalam satu minggunya, libur lebaran kali ini berlangsung secara penuh.  Penuh satu minggu kita semua libur.  Bank Indonesia libur, Bursa Efek lndonesia libur, Sekuritas libur, bahkan harian-yang-meliput-pasar-modal-pun libur.  Liburnya aktifitas pasar modal nasional ini, telah membuat kita semua bisa untuk bisa melakukan ‘cooling down’ (pendinginan) dari semua rutinitas, terutama cooling down dari issue Pilpres yang masih belum juga usai.

Meski, itu juga bukan berarti kehidupan pasar modal kita terhenti.  Pasar modal Dunia masih terus berjalan.   Selama bursa kita mengalami liburan, ada Krisis Hutang Argentina ada Indeks Dow Jones Industrial yang ‘menyelam’, terkoreksi sebesar 2,7 persen selama liburan panjang di bursa kita.  Krisis yang terjadi pada belahan lain dari dunia kita ini, pada hari Kamis siang masih sempat membuat indeks Strait Times dan Hang Seng mengalami kenaikan terkait dengan issue perpindahan aliran dana dari Benua Amerika ke Benua Asia.  Akan tetapi, koreksi hampir 2 persen yang terjadi pada indeks Dow Jones Industrial pada hari Kamis malam, telah membuat indeks Strait Times dan Hang Seng tersebut berbalik mengalami koreksi pada hari Jumat.

Dari dalam negeri, reaksi pasar atas pembatasan BBM Subsidi, terutama Solar, sepertinya bisa menjadi sumber dari sentimen negatif.  Belum lagi data-data ekonomi yang akan dipublikasikan pada hari Senin besok, data konsensus yang saya amati, ternyata tidak terlalu bagus.  Inflasi bulan Juli diperkirakan masih akan tinggi (konsensus di 0,89 persen) karena ada faktor Ramadhan dan Lebaran.   Neraca perdagangan untuk Bulan Juni, perkiraan konsensusnya masih akan defisit, meski jumlahnya tidak akan terlalu besar.

Ditengah suasana Lebaran ini, tentu saja saya tidak ingin menghabiskan kesempatan saya untuk bertemu anda semua pada Wake Up Call ini, sekedar hanya membahas tentang masalah Outlook Pasar.  Market seperti apa hari ini, kita nikmati saja lah.  Agustus itu memang bulan konsolidasi.  Dalam 10 tahun terakhir, hanya 2 kali dimana bulan Agustus berakhir dengan kenaikan IHSG.  Dalam 4 tahun terakhir, IHSG selama bulan Agustus juga identik  dengan koreksi.  Kondisi terburuk bahkan terjadi pada tahun 2013 kemarin, dimana IHSG sempat terkoreksi sekitar 15 persen dalam beberapa hari, sebagai reaksi negatif dari pasar atas pidato APBN dari Presiden.

Ditengah suasana Lebaran ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi anda yang merayakannya.  Mohon Maaf Lahir Batin.

Eh… tapi di pojokan sono.. ternyata ada yang nyeletuk: Pak Tommy enak saja bilang Maaf Lahir Batin.  Saya sudah ikut rekomendasi dari Pak Tommy niy… ternyata saya rugi.  Emang kerugian saya bisa hilang kalau Pak Tommy meminta maaf?

Benarkah Semua Bisa Selesai dengan ‘Maaf’ ?

Ada satu hal sebenarnya yang tersisa dari Pilpres 2014 kemarin itu.  Bukan ‘ekstrak’ 147 lembar dari dokumen tuntutan sebanyak 10 truk yang disampaikan kubu Prabowo Subianto ke Mahkamah Konstitusi.  Akan tetapi, masalah partisipasi publik yang sedemikian besar.  Partisipasi publik yang ditunjukkan bukan hanya dengan mendatangi tempat pemungutan suara, tapi dengan ‘perang’ yang terjadi pada status Facebook, maupun Twitter.  Beberapa diantaranya (bahkan termasuk saya), kemudian menunjukkannya dengan melakukan ‘Citizen Journalism’, menulis pendapat, ulasan, bahkan analisis, dengan melalui berbagai kanal blog luar negeri (seperti bloggers, wordpress, dsb.) maupun kanal lokal seperti Kompasiana.  Isinya sebagian memang hanya berupa dukungan. Tapi.. yang lebih menyeramkan adalah sebagian yang lain, dimana isinya adalah komentar negatif, hasutan, bahkan fitnah yang berlangsung secara masif.  Apalagi kalau sudah tidak menggunakan nama asli.  Penulis yang menggunakan nama samaran atau alias yang tidak jelas tersebut, malah semakin berani menyebarkan fitnah atau bahkan berita bohong.  Bahkan, sebagian sudah mulai menggunakan domain-domain palsu, seperti  kompas.com–news.com, detik.com–news.com, dan masih banyak lagi.

Kalau kepada pihak-pihak yang sengaja melakukan penyesatan seperti ini, apakah benar maaf saja sudah cukup? Haruskah mereka bisa selalu bebas dari konsekuensinya?

Itu Semua Biasa Bagi Pelaku Bursa

Harga saham itu adalah sebuah realita masa kini terhadap sebuah kondisi di masa yang akan datang.   Itu sebabnya, harga sangat sensitif terhadap informasi.  Sebuah informasi yang dianggap relevan, akan bisa mempengaruhi pergerakan harga, jika informasi tersebut dianggap bisa mengubah realita di masa yang akan datang.  Informasi yang bisa mempengaruhi pergerakan harga ini, kemudian disebut sebagai informasi material.  Sumber informasi material itu bisa bermacam-macam.  Bisa kondisi internal (misal: kondisi fundamental) dan eksternal  (ekonomi) dari perusahaan terbuka/emiten.  Bisa berasal dari orang yang berada di dalam (manajemen) atau diluar (analis) perusahaan terbuka/emiten itu sendiri.  Informasi material ini bisa berasal dari mana saja, oleh siapa saja.

Informasi material ini, mengalir melalui jalur informasi publik, seperti koran atau media berita online.  Antara analisis, berita, hasutan, bahkan fitnah, semua mengalir dengan bebas.  Semua berlangsung secara bersamaan sehingga sulit untuk membedakan.  Hukum berlangsung dengan lemah dan lamban membuat semua seakan berlangsung dalam koridor hukum.  Atau setidaknya: tidak ada hukum yang bisa menjangkau dari ulah orang-orang tidak bertanggung jawab ini.

Bagi kita di pasar modal, hal-hal seperti itu, sebenarnya sudah merupakan makanan keseharian kita: rumor palsu, berita bohong, analisis ngawur, semua adalah hal yang biasa.  Pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia yang cukup berpengalaman, sering kali sudah bisa memisahkan kualitas dari informasi, sudah bisa membedakan mana informasi yang kredibel, bermanfaat, dan bisa dipercaya, serta mana informasi yang sekedar gossip, rumor, issue, yang dilontarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.  Hukum memang tidak bisa, atau tidak berusaha, untuk menjangkau mereka.   Akan tetapi, kita biasanya sudah bisa membedakan, berita-berita mana yang ujungnya sebenarnya hanya nipu, berita mana yang merupakan analisis yang salah.  Meski, sebagian tetap saja terkena jebakan tersebut, entah karena tidak sengaja, atau bahkan karena memang sengaja.

Akan tetapi, apakah perilaku seperti itu adalah perilaku yang benar?  Terakhir saya cek, dasar dari negara kita masih Pancasila.  Dan berdasarkan ideologi Pancasila tersebut, prinsip kebebasan yang ada adalah ‘kebebasan yang bertanggung jawab’.  Artinya: orang memang bebas untuk berpendapat, tapi harus diciptakan mekanisme dimana orang yang berani berpendapat, harus berani juga untuk bertanggung jawab.  Tidak sekedar ‘melempar rumor memperoleh cuan, tapi kemudian korban pemodal rugi bergelimpangan dimana-mana.

Perlu Undang-Undang Anti Anonimitas

Sebagian orang, mungkin masih bisa memilah.  Akan tetapi, sebagian besar yang lain, terlihat gagal untuk berada dalam kebenaran.  Dari sini kemudian muncul fenomena dimana informasi-informasi dengan kualitas sampah (yang sebagian besar kemudian berujung fitnah) menyebar kemana-mana dan kemudian berlaku sebagai kebenaran bagi sebagian orang.  Orang kemudian merasa dirinya benar, padahal mereka hanya berpijak pada informasi yang sebenarnya salah.

Fenomena seperti ini sebenarnya bisa dihambat, apabila negara kita memiliki aturan yang jelas mengenai Anonimitas.  Anonimitas ini adalah suatu kondisi dimana seseorang menyembuyukan identitasnya secara sengaja, dengan berbagai alasan.  Kondisi ini tentu saja tidak bisa dibenarkan, apabila dilakukan secara sengaja untuk melakukan keburukan.  Orang diharuskan untuk mempertanggungjawabkan semua aktifitas dunia maya yang dilakukan, dengan cara mencantumkan namanya sendiri pada setiap tulisan yang dibuatnya.  Dalam fenomena pasar modalnya, orang tidak bisa seenaknya menyebar rumor palsu, berita bohong, atau analisis yang (sengaja) salah, hanya sekedar untuk memperoleh keuntungan sesaat.  Semua juga ada pertanggungjawaban secara dunia, tidak hanya pertanggungjawaban akherat semata.

Mungkinkah?

Di jaman dimana drone saja masih mungkin… bolehlah kita sedikit berharap….

Penutup

Jadi… kalau saya pernah berbuat jahat kepada anda, berbuat usil kepada anda, saya meminta maaf kepada anda, dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Akan tetapi, kalau mengenai prediksi-prediksi serta rekomendasi-rekomendasi saya yang salah, saya hanya bisa berharap, anda semua memakluminya.  Itu karena kesalahan tersebut semua terjadi karena kodrat saya sebagai manusia.  Insya Alloh saya tidak pernah secara sengaja untuk menyesatkan anda, atau membuat anda menjadi rugi.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Menitipkan Mimpi ‘Pasar Modal yang Berkerakyatan’ kepada @Prabowo08 dan @Jokowi_do2

June 19th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Pasar modal itu… adalah sebuah icon dari sistem ekonomi kapitalis. Didalam pasar modal, perusahaan yang telah memecah kepemilikannya pada satuan kepemilikan yang kecil, cukup kecil untuk diperjual belikan pada publik, kemudian menjual kepemilikannya kepada investor, mereka yang memiliki penguasaan atas kapital. Dengan menjual kepemilikan publik ini, Keputusan-keputusan penting dibuat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dimana keputusan dibuat berdasarkan suara terbanyak. Kesannya: siapa kuat dia akan menang. Siapa kuat, maka dia akan mampu untuk memaksakan kehendak dalam RUPS. Siapa pemilik kapital terkuat, dia yang akan menjadi pemenang.

Konsep ini, tentu saja tidak sesuai dengan konsep ekonomi kerakyatan yang saat ini kembali populer karena diusung oleh kedua capres yang saat ini tengah bertanding dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Mereka berdua

Apakah Ekonomi Kerakyatan itu?

Revrisond Baswir menjelaskan Ekonomi Kerakyatan sebagai berikut:

Ekonomi kerakyatan adalah sebuah sistem perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi. Tiga prinsip dasar ekonomi kerakyatan adalah sebagai berikut: (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; (2) cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; dan (3) bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Terlebih jauh, Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, berusaha menjelaskan ekonomi kerakyatan (Demokrasi Ekonomi) sebagai suatu sistem perekonomian nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, di mana produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Tujuannya dari penyelenggaraan demokrasi ekonomi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian, dengan sasaran pokok tersedianya lapangan kerja, pendidikan gratis (murah), pemerataan modal material, jaminan sosial bagi penduduk miskin, dan pemberdayaan serikat-serikat ekonomi (koperasi).

Dalam pelaksanaannya, pelaksanaan ekonomi kerakyatan ini kemudian lebih berkutat pada perekonomian berbasis rakyat kecil, pembentukan pasar, dan produksi. Perekonomian berskala kecil. Padahal, dalam realitanya, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa dalam ekonomi kerakyatan, cepat atau lambat, akan tercipta pihak-pihak yang kemudian berhasil menjadi besar. Koperasi-koperasi dengan aset diatas Rp 1 trilyun misalnya, yang saat ini sudah mulai sering kita temui, adalah contoh dari ‘raksasa’ yang timbul dari ekonomi kerakyatan ini. Artinya: kita sebenarnya juga tidak bisa mengesampingkan pembicaraan mengenai ‘perekonomian orang besar’ ditengah ‘pembahasan perekonomian orang kecil’ yang menjadi konteks pembicaraan dalam ekonomi kerakyatan.

Pasar Modal sebagai Jembatan

Pasar modal adalah sebuah icon dari kapitalisme. Siapa kuat, dia yang akan menang. Akan tetapi, pasar modal itu tidak selamanya ‘berasa’ kapitalistik. Pasar modal itu, sebenarnya juga bisa didesain untuk menjadi pendukung dari keberhasilan dari tercapainya kemakmuran rakyat melalui ekonomi kerakyatan ini. Ada beberapa hal yang bisa ditawarkan oleh pasar modal untuk melengkapi konsep ekonomi kerakyatan yang kita anut:

Pasar modal menawarkan transparansi dan pemerataan.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa Pemerintah dan BUMN agak sedikit lamban dalam memanfaatkan kekayaan alam yang kita miliki. Menunggu kalangan swasta dalam negeri juga sepertinya juga sulit mengingat eksplorasi dan eksploitasi komoditas mineral dan energy, itu selalu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itu sebabnya, Pemerintah kemudian mengundang perusahaan pertambangan internasional sekelas Chevron, BP, Freeport, atau Newmont, untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan juga penambangan atas komoditas mineral dan energy yang ada di bumi kita ini. Meskipun, setelah itu, Pemerintah kemudian menciptakan mekanisme agar sebagian kepemilikan dari perusahaan tersebut, kemudian dimiliki oleh Pemerintah ataupun juga swasta lokal. Problemnya: dalam pelaksanaannya, yang terjadi pada masa lalu adalah munculnya bentuk-bentuk dari kapitalisme pribumi. Kapitalisme pribumi ini adalah beberapa gelintir orang atau pihak, yang cukup beruntung untuk ‘diberi saham gratis’ oleh perusahaan-perusahaan asing, demi tercapainya target dari kepemilikan lokal, dan untuk membantu kepentingan dari perusahaan – perusahaan asing tersebut. Hasilnya tentu saja jelas: tidak ada pemerataan, tidak ada transparansi.

Pasar modal adalah solusinya. Dengan memaksakan untuk menjual saham kepada publik, disamping juga menjual saham kepada Pemerintah, maka akan tercapai pengelolaan sumber daya yang lebih transparan. Selain itu, aspek pemerataan juga tercapai, karena dalam sebuah perusahaan terbuka, jumlah pemegang saham perorangan, akan menjadi lebih banyak. Menjual saham kepada publik, juga menciptakan peluang bagi ‘wong cilik’ untuk ikut merasakan kepemilikan serta manfaat pendapatan, dari perusahahaan-perusahaan yang menguasai harkat hidup orang banyak.

Pasar modal menawarkan bargain power yang lebih baik untuk pemegang saham minoritas

Dalam sebuah perusahaan terbuka, persetujuan atas hal-hal yang sifatnya penting dan material, harus dilakukan dalam sebuah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dalam RUPS ini, suatu keputusan bisa diambil apabila rapat sudah kuorum, sudah dihadiri oleh sejumlah tertentu dari pemegang saham. Selain itu, keputusan juga hanya bisa diambil, jika disetujui oleh jumlah tertentu dari pemegang saham. Dari sini sebenarnya bisa diatur, agar sebuah keputusan yang penting, harus disetujui oleh porsi yang besar dari pemodal saham minoritas. Ini membuka peluang bagi ‘rakyat’, untuk memiliki bargain power yang lebih tinggi, untuk mengatur sebuah perusahaan besar. Menjadi perusahaan terbuka, adalah sebuah cara pengelolaan sebuah perseroan, bisa menjadi lebih demokratis.

Pasar modal menawarkan distribusi pendapatan atas atas penguasaan kekayaan alam atau cabang produksi yang menguasai hidup orang banyak, melalui deviden.

Pasti lah… kalau bagi deviden, setiap pemegang saham akan mendapatkan manfaatnya.

Pasar modal menawarkan kontrol masyarakat terhadap perseroan.

Ingat kasus Ibu Risma vs Unilever beberapa waktu yang lalu? Sadarkah anda bahwa setelah itu harga UNVR secara berangsur-angsur turun hingga lebih dari 15%? Tujuan dari eksistensi sebuah perusahaan terbuka, adalah optimalisasi nilai dari saham perseroan. Dengan menjadi perusahaan terbuka, maka manajemen pada perusahaan tersebut, akan dipaksa untuk lebih memahami nilai-nilai positif yang ada pada masyarakat, agar harga sahamnya juga bisa terus bergerak naik.

Pasar modal menawarkan akses dana murah bagi pengusaha kecil-menengah.

Dalam peraturan perdagangan Kep 00001/BEI/01-2014 disebutkan dengan jelas bahwa Aset Berwujud Bersih minimal yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan yang bisa masuk ke papan pengembangan, adalah sebesar Rp 5 miliar. Memang, perusahaan kelas mikro memang tidak mungkin masuk ke bursa. Realitanya juga, perusahaan underwriter juga cenderung enggan untuk melakukan IPO bagi perusahaan yang kapitalisasi pasarnya dibawah Rp 500 miliar. Akan tetapi, peraturan yang ada sebenarnya juga sudah memungkinkan bagi pelaku perekonomian kerakyatan kelas ‘yang agak lebih besar sedikit’, untuk memperoleh dana segar dari pasar modal. Meskipun, mekanismenya sebenarnya juga masih belum tersedia secara jelas.

Akan tetapi….

Pada realitanya, tentu saja tidak seindah ‘warna asli’-nya. Masalah, tentu saja masih banyak. Keengganan dari pemegang saham minoritas untuk menghadiri RUPS, pemegang saham mayoritas yang masih mengendalikan RUPS dengan cara-cara yang ‘legal’ (dalam tanda kutip), kurangnya perlindungan bagi pemodal kecil atau retail, pengelola perusahaan yang kurang memiliki itikad baik dalam mengelola perseoran, goreng-menggoreng saham, dan masih bank lagi masalah yang lain. Solusinya, bisa saja sulit, tapi sisa saja semudah apa yang Jokowi sempat bilang: Tinggal panggil programmer saja.. 2 minggu pasti kelar.

Tapi inti sebenarnya adalah: pasar modal itu, adalah sebuah alat dari perekonomian, yang sebenarnya juga bisa digunakan untuk mensukseskan perekonomian berbasis kerakyatan. Tinggal bagaimana kita bisa mewujudkan mimpi kita tersebut, agar bisa menjadi kenyataan.

Semua tergantung ‘The Man behind The Gun’-nya.

So.. saya titipkan ‘mimpi pasar modal yang lebih berkerakyatan’ ini kepada siapapun juga yang memimpin Indonesia dengan harapan, agar Pasar Modal Indonesia bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, dalam jumlah yang lebih besar.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Prabowo vs Pasar Modal Indonesia: Ada apa?*

May 30th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Minggu pagi kemarin, saya sebenarnya mengawali pagi dengan sedih hati. Maklum… ketika saya baru saja bangun dan melihat update status dari teman-teman yang ada di Facebook. Yang ada hanya pujian terhadap capres atau cawapres yang didukung di satu sisi, dan olokan atau bahkan cacian bagi capres atau cawapres pesaing.Tidak ada lagi yang namanya kedamaian di hati.

Pemilu kali ini memang berbeda. Meluasnya akses internet, telah membuat akses ke media sosial jadi mudah. Tapi tidak hanya berhenti disitu. Dukungan media massa kepada salah satu calon, membuat orang menjadi sulit untuk mempercayai media. Orang kemudian melakukan aksi dengan ‘membuat berita sendiri’ melalui media citizen journalistics.. media seperti blog ini, kompasiana, atau masih banyak lagi yang lain. Masalahnya, karena tidak ada editorial, tidak ada aturan main, antara kebenaran dan fitnah campur aduk. Hadeeeh… bukannya informasi yang didapat, tapi malah stress dan rasa marah yang saya dapatkan.

Saya jadi bingung… mau nulis wake up call ini ke arah mana. Mau komentar positif tentang pergerakan pasar secara umum, kok rasanya males juga. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang jauh dibawah harapan, (yang akhirnya membuat Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2014), Piala Dunia dan Puasa yang kian mendekat, rasa-rasanya malah aneh kalau saya memberikan komentar positif tentang market untuk hari ini. Kalau di Wake Up call bulan depan, ketika Pilpres sudah kian mendekat, nah itu sepertinya tidak akan menjadi permasalahan, tapi kalau sekarang, kok rasanya seperti masuk angin. Padahal, aliran dana asing, setidaknya hingga hari Jumat 23 Mei 2014 kemarin, masih terus mengalir masuk ke Bursa Efek Indonesia. Sentimen pemilu terlihat jauh lebih dominan dominan, lebih dominan dibandingkan dengan sentimen fundamental emiten maupun sentimen dari data-data ekonomi.

(tulisan ini memang adalah untuk edisi Wake Up Call Kontan, hari Senin, 26 Mei 2014 kemarin).

Pergerakan IHSG yang Memihak

Pasar modal kita itu memang tidak netral. Bukan masalah suka atau tidak suka .Tapi karena masalah ‘harga saham saat ini, adalah nilai sekarang dari kondisi masa yang akan datang’. Kalau kondisi mendatangnya diperkirakan akan jauh lebih bagus daripada kondisi saat ini, maka harga akan bergerak naik. Kalau ada sesuatu yang ‘baru’, yang diluar perkiraan, maka adalah wajar ketika harga bergerak tidak biasa. Tapi, kalau kondisi masa yang akan datang masih sesuai dengan perkiraan, maka IHSG hanya bergerak biasa-biasa saja.

Biasanya, pada pemilihan presiden sebelumnya tahun-tahun sebelunya, IHSG akan bergerak naik. IHSG akan bergerak naik, karena adanya harapan baru dari pemimpin yang baru. Harapan bahwa pertumbuhan ekonomi ditangan presiden yang baru akan lebih tinggi dibandingkan apa yang ada saat ini, sering kali telah mengangkat angka IHSG, bergerak ke level yang lebih tinggi. Akan tetapi, baru pada pemilu 2014 ini saja, IHSG beraksi berlebihan kepada salah satu calon presiden, dibandingkan dengan calon presiden yang lain. Deklarasi Joko Widodo (Jokowi) telah membuat IHSG bergerak naik lebih dari 3% dalam satu hari. Terlebih lagi, aliran dana asing di pasar regular yang pada pagi hari masih dalam posisi net sell, tiba-tiba juga berbalik menjadi net buy, dalam jumlah yang sangat signifikan, keduanya telah memperlihatkan bahwa pasar memang lebih mendukung Jokowi. Meminjam pernyataan Anies Baswedan: Jokowi memang menawarkan sesuatu pendekatan yang baru. Prabowo masih saja menawarkan yang lama, dengan merekrut kekuatan-kekuatan lama yang bermasalah. Ini yang kemudian membuat pasar merasa yakin, bahwa pertumbuhan ekonomi.. kalau ditangan Jokowi.. bakal lebih baik dari autopilot mode yang sudah kita rasakan selama 10 tahun terakhir.

Karena pergerakan IHSG ini terlihat memihak, maka tidaklah terlalu mengherankan, jika calon presiden yang merasa kurang diuntungkan, dalam hal ini Prabowo, kemudian memberikan komentar-komentar negatif tentang investasi saham: sebelum pemilu legislatif, Prabowo sempat melarang petani berinvestasi saham. Sebenarnya, kalau kita bicara mengenai buruh tani berpendidikan rendah serta tabungan yang minim, spekulasi pada instrument saham, memang masih terlalu jauh dari jangkauan mereka. Akan tetapi, ketika minggu lalu Prabowo mengkritisi para pendidik dari Universitas Indonesia yang lebih mengajarkan bermain saham dibandingkan dengan ekonomi pembangunan, di kepala saya kemudian malah muncul: ada apa ini antara Prabowo terhadap bursa saham? Apakah beliau memang tidak suka?Apakah ada trauma-trauma khusus yang membuat Prabowo tidak suka terhadap Bursa Saham?

Melihat kebelakang, Trauma Hasyim ketika Krismon

Saya jadi melihat kebelakang, ketilka Krisis Moneter (Krismon) sedang terjadi.Hasyim S. Djojohadikusumo yang merupakan adik dari Prabowo, ketika itu, dua minggu sebelum Krismon, membeli saham Bank Niaga dari Julius Tahija dengan harga Rp 8000 per lembar saham. Jumlah itu adalah setara dengan US$3.3 per lembar saham pada kurs Rp 2.425 per US$ yang berlaku saat transaksi tersebut berlangsung. Krismon kemudian terjadi, dan Rupiah meluncur hingga mencapai titik tertinggi di Rp 16.000 per US$.Hasyim akhirnya terpaksa melepas Bank Niaga dengan harga hanya sebesar Rp 250 pada bulan April 1999, ketika US$ sedang pada kurs Rp 8.500.Beli dengan harga 3 dollar, dan jual dengan harga 3 sen, tentu saja sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan.

Kalau melihat data pergerakan harga Bank Niaga (BNGA) pada tahun 1997 – 1999 yang kami peroleh dari rekan Angelo Michel, pergerakan harga BNGA ketika itu memang benar-benar mengenaskan.Terlebih karena di awal tahun 1997, harga saham Bank Niaga sebenarnya masih di harga Rp 5.500.Aksi akuisisi oleh Hasyim, telah membuat BNGA melesat hingga Rp 8.000.Krismon kemudian terjadi, harga BNGA kemudian jatuh dalam waktu singkat hingga Rp 400.BNGA akhirnya dilepas Hasyim pada bulan April 1999 pada harga Rp 250.

140526 BNGA ketika Krismon

Akan tetapi, Krismon tidak sepenuhnya tidak sepenuhnya memberikan memori negatif kepada Hasyim. Ketika dalam pelarian di tahun 1997, Hasyim bersama sebuah grup investor dari Canada, membeli ladang minyak di Kazakhstan senilai US$ 88 juta. Pada tahun 2007, ladang minyak Karazhanbas ini berhasil dijual dengan nilai US$1,9 miliar. Sebuah ‘come back’ yang sangat brilian. Meski kemudian… muncul juga pertanyaan di kepala saya: Benarkah Hasyim melakukan come back dari sektor riil? Bukannya investasi Hasyim keuntungannya berlipat karena kenaikan dari harga minyak? Benarkah investasi macam ini termasuk investasi di sektor riil?

Ekonomi Kerakyatan, benarkah lawan dari Pasar Modal?

Sebenarnya, platform ekonomi yang diusung oleh Prabowo maupun Jokowi, sebenarnya masih tetap sama: ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan ini adalah sebuah paham ekonomi campuran, yang bukan merupakan poros perdagangan bebas dimana free fight liberalism terjadi, dan bukan pula dalam poros ekonomi sosialis yang sudah terbukti gagal di berbagai negara Eropa Timur. Perekonomian dimana aktifitas ekonomi rakyat, dalam hal ini Usaha Kecil dan Menengah yang terutama meliputi sektor pertaniam peternakan, kerajinan, makanan, dsb, memiliki peran sentral.

Ekonomi kerakyatan ini, kemudian bertabrakan dengan pasar modal, yang kesannya memang kapitalistis: siapa kuat, dia yang menang. Ketika dalam RUPS, pemegang saham mayoritas yang memiliki sebagian besar dari perseroan, akan beradu kuat dengan pemegang saham minoritas yang tidak lain adalah investor publik. Kelihatannya memang menakutkan. Tapi, kita juga tidak boleh lupa, bahwa hak-hak dari pemegang saham minoritas juga dilindungi. Memang sih..sekarang perlindungan atas hak-hak dari pemegang saham minoritas terasa masih buruk. Penggorengan saham-saham yang dilakukan oleh sejumlah oknum.. memang masih cenderung membuat pemodal minoritas menjadi ‘santapan’ bagi para kapitalis ini. Akan tetapi, apakah itu kemudian kita harus memusnahkan ‘pasar modal’-nya? Tentu saja tidak.

Memahami Jokowi Effect

Jokowi Effect memang sebuah fenomena.Jokowi Effect yang pertama, ketika deklarasi, reaksinya memang positif.Jokowi effect yang kedua, ketika pengumuman pemilu legislatif, memang negatif.Di satu sisi, koreksi itu itu sepertinya lebih karena Jokowi bermesraan dengan Aburizal Bakrie, tidak lama ketika pengumuman hasil Pileg.Pasar sepertinya takut bahwa Jokowi bakal menjadikan Aburizal sebagai calon wapresnya.IHSG juga berangsur-angsur naik ketika terdapat kepastian bahwa Aburizal bukan cawapres dari Jokowi.Pada Jokowi ketiga, cawapres yang dipilih oleh Jokowi memang cawapres yang diinginkan oleh pasar.Tapi, karena pasar juga melihat bahwa perjuangan kedepan untuk Jokowi terlihat cukup berat, orang akhirnya melakukan profit taking.Tapi, profit taking itu berlangsung tidak lama. Tiga hari perdagangan terakhir, IHSG memang belum mampu kembali ke atas level psikologis 5000.

Penutup

Orang itu.. kalau benci bursa saham.. itu biasanya karena dua hal: Karena tidak tahu, atau karena sudah mencoba tapi kalah dalam jumlah besar. Atau… apakah ada jenis lagi yang lain?

Mengenai bahasan tentang arah IHSG kedepan? Ya seperti yang saya bilang tadi: masih masuk angin. Selama aliran dana asing masih terus merangsek masuk, IHSG masih akan terus bergerak naik. Akan tetapi, karena kondisi fundamental sedang tidak kondusif, yah..ngeri-ngeri nikmat begitu deh.

Yang penting, kalau market turun, pemodal bisa melakukan akumulasi. Sentimen positif dari pemilu, sepertinya masih akan berlanjut setidaknya hingga pilpres nanti.

Pasar modal kita sudah sedemikian besar.Jumlah dari Investor Pasar Modal sudah melewati angka 500.000 orang.Padahal, itu belum termasuk pemegang reksadana, belum juga termasuk orang-orang yang terlibat dalam industri pasar modal sebagai karyawan, pemilik perusahaan, maupun media-media yang melakukan coverage terhadap pasar modal. Pasar modal itu mewakili jumlah massa yang tidak sedikit. Saya tidak tahu, siapa yang memulai.Tapi, kampanye berbasis kebencian yang sekarang marak dilakukan, memang sudah terasa mulai mengganggu.Semoga saja ada yang bisa berbuat sesuatu. Atau..sebaiknya.. saya tidak lihat FB dulu selama beberapa waktu?

Hm..untuk para analis atau trader berbasis analisis teknikal, sebenarnya mudah: kembali lihat chart saja, berhenti melihat berita sementara waktu. Itu sebabnya.. saat ini saya sedang menunggu IHSG dibawah 4850 lagi baru saya mau belanja. Kira-kira.. dikasi enggak ya?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini. Terima kasih.

Categories: Market Comment Tags:

Karena @PDI_Perjuangan tidak bisa memenangkan Pemilu Presiden Sendirian…*

May 18th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Pilpres 2014 ini bagi pergerakan IHSG, memang sedikit berbeda dengan pilpres sebelumnya. Kalau biasanya IHSG merespon positif pilpres karena adanya ‘harapan akan perubahan’ atau ‘harapan akan masa depan yang lebih baik’ yang selalu melekat pada siapapun calon pemimpin yang ada, maka pilpres kali ini menjadi berbeda karena market, terlihat ‘lebih suka terhadap satu calon’ dan ‘netral terhadap calon yang lain’.

Kesukaan market terhadap salah satu calon ini, ditunjukkan dengan pergerakan IHSG (dan juga aliran dana asing), yang lebih merespon perkembangan elektabilitas dari salah satu calon presiden, capres.

Market lebih suka pada Jokowi dibandingkan dengan capres yang lain. Market lebih bergerak mengikuti elektabilitas dari Jokowi, dan tidak terlalu perduli terhadap elektabilitas pasangan yang lain.

Beberapa kejadian yang memperlihatkan hal ini:

1. Ketika deklarasi pencalonan Jokowi sebagai Capres oleh PDIP, IHSG yang pada pagi hari cenderung bergerak flat-turun, langsung bergerak naik dan ditutup dengan kenaikan yang signifikan. Dana asing pada pagi hari cenderung net sell, sore hari juga naik lumayan tinggi.

2. Ketika Megawati ‘memaksakan’ calon-calon wakil presiden (cawapres) dari internal PDIP, market cenderung merespon negatif, market bergerak flat-turun. Sebut saja.. ketika Puan, Ryamirzard, dan Rini Suwandi mengemuka.. IHSG cenderung bergerak flat-turun.

3. Ketika Prabowo terlihat mesra dengan Ical, IHSG bergerak naik. Hehehe. Tapi ini bukan karena ‘market suka’, tapi lebih karena ‘market yakin bahwa kalau Prabowo berpasangan dengan Ical, maka Prabowo akan kalah’. Hehehe

4. Ketika deklarasi pasangan PRAHARA (Prabowo-Hatta Rajasa) kemarin, IHSG hanya cenderung flat.

5. Jangan lupa juga bahwa sehari setelah pemilu, IHSG turun tajam. Sebagian orang bilang bahwa koreksi itu karena perolehan suara PDIP yang jauh dari perkiraan. Tapi.. kalau menurut saya siy.. itu lebih disebabkan oleh Jokowi yang pelukan mesra dengan Ical pada sore hari setelah Pemilu Legislatif (pileg).

So.. Pasar bergerak naik turun sesuai dengan elektabilitas atau peluang dari Jokowi.

Sekarang… bagaimana reaksi pasar terhadap Penguman Cawapres dari Jokowi?

Hehehe… sama saja lah.

Kalau Megawati tetap memaksakan calon internal dari PDIP.. ya IHSG bisa langsung lemes.

Hasil pemilu kemarin.. sebenarnya merupakan cerminan dari kekuatan murni dari PDIP. Mereka itu hanya kuat di Jawa. Tapi

Tidak hanya itu.. kegagalan dari Jokowi Effect untu mendongkrak perolehan suara PDIP.. bisa jadi karena nama daripada Jokowi itu.. hanya laku untuk dijual di Internet. Jokowi itu hanya menarik bagi orang-orang yang sudah tahu. Kalau untuk orang di pedesaan, terutama pedesaan luar jawa yang tidak punya akses internet atau punya TV tapi hanya untuk nonton sinetron… mereka mana tahu ‘Jokowi itu makanan apa?’.

Untuk menjadi presiden, Jokowi butuh suara dari ‘pemilih tradisional’ dari NU dan Golkar yang pada pileg kemarin terlihat solid di luar jawa.

PDIP memang harus mau untuk berbagi kekuasaan. Gak bisa kalau dikekepin sendiri.

Eh.. tapi pren.. kalaupun cawapresnya nanti JK, yang tidak lain adalah calon yang paling disukai pasar dan juga calon yang paling make sense karena diterima oleh semua partai yang menjadi anggota koalisi Jokowi.. marketnya juga belum tentu naik kok. Paling nanti ada koreksi Piala Dunia. Belum lagi.. data-data ekonomi negatif yang sudah membanjiri pasar dalam 2 minggu terakhir juga belum direspon. Marketnya memang masih rapuh.

Respon sebenarnya dari siapa cawapres Jokowi ini, nanti baru terlihat pada rally menjelang pilpres, sekitar pertengahan Juni hingga pilpres 9 Juli: kalau cawapresnya JK (atau siapapun juga yang dari eksternal PDIP).. market akan lebih bersemangat. Tapi.. kalau PDIP tetap memaksakan calon dari internal.. ya.. pergerakan IHSG sepertinya bakalan kurang Viagra.

So… pagi ini… Megawati terlihat masih memaksakan nama Puan. Market tentu saja siap untuk memberikan responnya.

Jokowi sudah tahu bahwa dia butuh cawapres eksternal untuk memenangkan Pilpres ini. Megawati (dan PDIP) sebaiknya tahu bahwa mereka tidak bisa memenangkan Pilpres tanpa bantuan dari partai lain.

Megawati sebaiknya fokus untuk menjadikan Jokowi sebagai Presiden.

Puan Maharani? Dicoba dulu nanti di pemilihan Gubernur Bali atau Gubernur Sumatera Selatan. Kalau dia bisa terpilih… baru nanti dicalonkan sebagai cawapres Jokowi untuk periode kedua.

PAHAM?

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Kita sedang berada didalam MH370*

May 8th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Sudah banyak orang yang bilang… kalau Pemerintah kita itu seperti auto pilot.  Pemerintahnya gak ngapa-ngapain, tapi pertumbuhan ekonominya tinggi.  Pertumbuhan ekonomi tinggi karena kondisi aman, suku bunga rendah, situasi kondusif bagi kita semua untuk membuka usaha, mencari duit.

Tapi… semenjak pertengahan tahun kemarin, kondisinya sebenarnya agak berbeda.  Gara-gara kita dimasukken ke dalam Fragile 5, 5 negara yang diperkirakan bakal bermasalah dengan mata uangnya ketika The Fed melakukan Tapering, kondisi ekonomi kita mulai gonjang-ganjing: Rupiah melemah… eh.. Rupiah jatuh… BI Rate naik… pertumbuhan ekonomi mulai melambat.  Ekonomi kita memasuki masa turbulence.

Ibarat sebuah pesawat penumpang yang besar.. seperti MH370 niy.. kita berada dalam auto pilot.. tapi dalam kondisi nose down.  Ketinggian pesawat.. pelan-pelan turun… gak berasa.

Problemnya: dalam kondisi perekonomian yang memburuk, Pemerintahan masih tetap saja: cenderung ‘nggak ngapa-ngapain’.  Iya siy.. suku bunga naik.. tapi.. apa itu menyelesaikan masalah? Terus… katanya ada langkah fiskal… yang itu loh.. melarang ekspor mineral mentah.  Katanya harus di proses dulu biar nilai tambah kita lebih tinggi.  Sekarang.. Rupiah belum kembali… tapi..  Lah? Kok langkah fiskal itu sudah dibatalkan lagi?

Sudah gitu… kemarin juga ada lucu-lucuan: ketika BPS mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama hanya 0,95 persen… beberapa ekonom masih keukeuh dengan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen – 6,0 persen.  Aneh.. bin ajaib.  Saya kira hanya saya yang merasa begitu.

Tapi… tadi siang.. ternyata Bank Indonesia akhirnya menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi… dari 5,5% – 6% menjadi 5,1% – 5,5%.

Nah loe!

Hingga bukan Oktober 2014 nanti… Presiden Indonesia masih tetap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  Harusnya… beliau cepat tanggap untuk melakukan hal-hal yang dirasakan perlu.. untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi kita kepada level yang tinggi, diatas 6% lagi.   Pilot kita ini.. seperti biasa… masih tetap tidak merasa ‘ada marabahaya’.  Masih ketawa-ketawa.  Mengarang lagu.  Nyanyi-nyanyi….

Kondisi fundamental dari bursa kita .. sebenarnya sudah babak belur. Lihat saja kinerja emiten kuartal pertama 2014 ini: lebih dari 60% emiten… laba bersihnya dibawah ekspektasi, dimana 85% diantaranya… disebabkan oleh rendahnya pencapaian penjualan.  Ini merupakan akibat dari perlambatan pertumbuhan ekonomi yang sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Regional juga sedang gak jelas.  DJI tahun kemarin naiknya ketinggian.. 26,5%.  Investor sana terlihat belum pede juga untuk membawa DJI menembus rekor baru.

Yang tersisa.. hanya sentimen pemilu.  Hehehe… dimana… perkembangannya saya kira juga agak menyeramkan: sepertinya.. rekapitulasi suara bakalan terlambat tuh… apa iya bisa kelar besok Jumat?  Hehehe…. saya kok tidak terlalu yakin.

So… Kita itu… sedang didalam MH-370.  Kapan jatuhnya? Gak tau deh… tapi ini semua orang masih ‘high’ .. masih ‘teler’ terkena sentimen Pemilu.

Harapan saya siy…  ada orang yang mau menyadarkan SBY.. bahwa dia tetap Presiden Indonesia hingga bulan Oktober 2014 nanti.

Atau… jangan-jangan…. beliau memang sengaja membawa Indonesia ke dalam kekacauan … agar di bulan Oktober 2014 nanti tidak ada penggantian kepemimpinan nasional?

Hehehe… nggak ah.. jangan berprasangka buruk begitu.

Happy trading…. semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags: