Menanti Kesetiaan @Jokowi_do2 Kepada Republik Indonesia

October 6th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Semoga anda belum bosan dengan ulasan politik amatiran dari saya.Analis pasar modal itu… sebaiknya hanya ngurusin pasar modal. Tapi..karena sebagian orang bilang bahwa belakangan faktor politik mempengaruhi pergerakan pasar, pergerakan IHSG, dan saya tidak setuju dengan pernyataan ini; ya sudahlah. Berarti saya (dengan berat hati) kembali melakukan curcol (curhat colongan) sebagai wakil dari pelaku ekonomi khususnya pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia.Semoga curcol saya ini, bisa mewakili sebagian dari pendapat anda.

Koreksi Global Penyebab Koreksi IHSG

Koreksi yang terlihat pada IHSG memang terlihat sangat luar biasa. Kalau kita melihat dari posisi penutupan IHSG pada hari Kamis tanggal 25 September 2014 dimana IHSG masih bisa ditutup pada level 5.201,38, posisi penutupan IHSG pada hari Jumat tanggal 3 Oktober 2014 kemarin di level 4.949,35, IHSG memang sudah terkoreksi sebesar 252.03 poin atau setara dengan 4,85 persen. Tapi, kalau kita melihat kondisi dari bursa di kawasan regional, kondisinya juga kurang lebih sama. Indeks Hang Seng memang terkoreksi tajam sebagai akibat dari demonstrasi Hong Kong yang masih terus berlangsung. Akan tetapi, indeks Dow Jones Industrial terkoreksi juga cenderung terkoreksi ditengah data-data ekonomi yang positif, yang kemudian membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga lebih cepat dari Juni 2015, lebih cepat dari perkiraan pelaku pasar saat ini. Pola dimana IHSG terkoreksi sebagai pengaruh dari koreksi global ini, lebih terasa ketika kita melihat aliran dana asing di pasar reguler, yang ada pada bursa kita. Kalau kita melihat koreksi IHSG, sepertinya baru terasa semenjak tanggal 25 September lalu. Akan tetapi, jika kita melihat dari aliran dana asing di pasar regular, aksi jual dari pemodal asing sebenarnya sudah mulai terlihat semenjak tanggal 9 September 2014. Ketika itu, pemodal asing memang mulai melepas posisi menjelang Fed Meeting.Mereka berspekulasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga. Pada saat The Fed tidak jadi menaikkan suku bunga, dana asing memang sempat kembali melakukan aksi beli pada tanggal 18 – 22 September. Akan tetapi, ketika keluar data bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika cukup jauh diatas ekspektasi, pemodal asing kemudian khawatir The Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat sehingga kembali melakukan aksi jual. Aksi jual yang terus berlangsung hingga hari Jumat kemarin.

Koreksi Global bersamaan dengan Kondisi Politik Yang Memburuk

Semenjak pemodal asing melakukan aksi jual pada tanggal 9 September 2014 lalu, terdapat 2 kesempatan dimana pemodal asing melakukan tekanan jual dengan besaran sekitar Rp 1,4 trilyun. Yang pertama adalah pada tanggal 26 September, ketika UU Pilkada baru saja disetujui, dan pada tanggal 3 Oktober kemarin, ketika Ketua DPR baru saja dipilih. Mengingat pada keduanya kubu Koalisis Merah Putih (KMP) mengalami kemenangan atas Koalisi Indonesia Hebat (KIH), maka banyak pengamat pasar modal yang kemudian menyatakan bahwa kondisi politik menjadi sentiment negatif bagi pergerakan IHSG. Padahal tidak sepenuhnya seperti itu.Tekanan jual sudah nampak sejak tanggal 9 September, jauh sebelum kedua event tersebut berlangsung.Bukan hanya ketika event itu terjadi.Yang saya lihat, event politik tersebut hanya memperburuk keadaan sehingga memperbesar tekanan jual dari pemodal asing.
Saya lebih setuju pada pendapat dari Pak Chatib Basri pada tanggal 2 Oktober 2014 kemarin, yang menyatakan bahwa masalah politik ini bukan penyebab utama dari koreksi yang terjadi pada IHSG belakangan ini. IHSG terkoreksi, penyebab utamanya adalah karena reaksi dari pelaku pasar (terutama pelaku pasar global) terhadap kebijakan suku bunga dari The Fed.Kondisi politik hanya memperburuk keadaan.
KMP vs KIH akankah berbeda dengan KMP vs Jokowi ?
Masih segar dalam ingatan saya..saat saya pertama kali mencoblos SBY pada Pemilu 2004. Ketika itu, saya menjadi mahasiswa Program Magister Sains di Universitas Gadjah Mada.Secara otomatis, saya masih melakukan coblosan di daerah Banteng Baru, Jalan Kaliurang, Jogjakarta.Pemilu dilakukan dengan lancar.Semua orang sangat bersemangat untuk mencoblos.Orang bersemangat untuk mencoblos karena motivasi untuk menyelamatkan Indonesia dari tangan Megawati.Maklum saja, ketika masa pemerintahan Megawati, mewarisi kondisi ekonomi yang masih belum begitu bagus pasca Reformasi 1997 – 2001: inflasi yang sulit dikendalikan, pertumbuhan ekonomi yang lamban, konflik antar etnis di Kalimantan dan Maluku, pemerintah yang kekurangan dana sehingga terpaksa menjual aset, ditambah lagi hembusan rumor korupsi yang dilakukan oleh Taufiq Kiemas. Belum lagi, tekanan juga datang dari regional Asia dimana Presiden Arroyo menyatakan diri tidak akan mencalonkan diri pada Pemilu 2004 sebagai akibat dari permasalahan yang kurang lebih sama dengan yang dihadapi oleh Megawati (kekacauan ekonomi dan tuduhan korupsi terhadap suami). Ketika itu, perlawanan terlihat sangat sengit dilakukan oleh partai-partai yang saat ini sebagian besar tergabung dalam Koalisi Merah Putih, terhadap PDIP selaku partai penguasa.

Dalam Pemilu Legislatif 2014 kemarin, luka lama saya ketika tahun 2004 dulu Megawati melakukan pembiaran atas krisis etnis yang terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia, membuat saya tidak memilih PDIP. Akan tetapi, ketika Pilpres, saya melihat Jokowi sebagai sebuah issue yang berbeda.Dibandingkan dengan kembali ke kondisi orde baru yang penuh kekangan, saya memilih untuk tetap berada dalam demokrasi kerakyatan dengan memilih Joko Widodo.Pilihan saya ini membuat saya sering kali melihat Jokowi dan PDIP menjadi dua buah entitas yang terpisah.Memang sih, Tim Transisi Jokowi-JK yang didominasi oleh orang-orang PDIP, membuat saya sedikit ‘meragukan’ cara pandang atas entitas Jokowi yang mandiri, ‘lepas’ dari PDIP.Akan tetapi, melihat bagaimana Jokowi ketika menjadi Gubernur DKI kemarin benar-benar bisa ‘lepas’ dari PDIP, saya merasa masih punya harapan.

Harapan ini, tentu saja terkait dengan sikap KMP terhadap Jokowi, ketika Jokowi nanti sudah menjadi Presiden. Saat ini, saya melihat bahwa kemenangan KMP pada UU MD3, UU Pilkada, Pemilihan Ketua DPR, semua terjadi dalam kerangka KMP vs KIH. KMP vs Megawati. Akankah KMP vs Jokowi nanti akan berbeda? Saya masih memiliki harapan.

Perpu Pilkada: sebuah preseden

Pada hari Jumat kemarin, saya sebenarnya sudah terlanjur bullish semenjak pagi.Saya bullish karena Presiden SBY sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (Perpu Pilkada).Memang, Perpu Pilkada ini, nantinya harus memperoleh pesetujuan DPR. Akan tetapi, dengan pembahasan yang dilakukan tahun depan setelah Presidennya adalah Jokowi, yang keluar dalam pikiran saya adalah seperti ini: Kondisinya nanti kan beda. Ketika Perpu ini kemudian dibahas, Presidennya sudah Jokowi.Apakah PDIP masih tetap kekanak-kanakan seperti sekarang?Apakah KMP masih tetap solid seperti sekarang? Apakah tidak ada partai anggota KMP yang berpendapat beda?

Lagian, pengajuan Perpu tersebut, saya pikir bisa menjadi preseden.Nanti, kalau DPR mengeluarkan peraturan yang ‘aneh’, Jokowi tinggal membuat Perpu dan kemudian mengajak Rakyat untuk berpikir. Kalau apa yang diputuskan oleh DPR ternyata tidak disukai oleh rakyat, benarkah DPR selalu bisa memaksakannya?

Kalau ternyata Jokowi korupsi, apakah Rakyat akan diam saja? Apakah Rakyat akan diam saja kalau ternyata DPR menjadi sarang koruptor? Apakah Rakyat akan diam saja ketika DPR melemahkan KPK? Apakah Rakyat akan diam saja ketika DPR mengeluarkan peraturan-peraturan yang jauh dari akal sehat?

Rakyat Tetap Akan Menjadi Pemenang

Sejauh ini, saya tetap optimis.Saya tetap optimis tentang pemerintahan Jokowi, tentang prospek ekonomi Indonesia untuk tahun-tahun mendatang.Jokowi belum memerintah… kenapa kita harus galau? Kalau Jokowi sudah memerintah, kemudian menunjuk manusia tidak berkualitas yang dari PDIP untuk menteri-menterinyakemudian gagal dalam 3 bulan awal pemerintahannya, mungkin pendapat saya akan berubah. Akan tetapi, sebelum Jokowi diangkat menjadi Presiden, saya belum akan berhenti untuk optimis. Karena saya percaya, bahwa Jokowi akan tetap setia pada Indonesia, dan Rakyat Indonesia yang berakal sehat tetap akan menjadi pemenang.
Karena saya optimis… outlook saya akan IHSG juga tetap optimis. Memang sih..hingga saat ini, bottom dari trend turun IHSG belum bisa dilihat. Bisa 4933 kemarin adalah bottom, bisa suport di sekitar level 4850, atau bisa juga target-target IHSG dibawah itu yang saya tidak mau sebutkan disini.Yang jelas, saya tetap berharap bahwa trend turun kali ini bisa berakhir diatas suport 4835, karena titik terendah dibawah level tersebut, bisa mengubah outlook jangka panjang saya.

Saya tetap optimis sehingga koreksi adalah kesempatan untuk melakukan posisi beli di harga yang lebih murah. Di level berapa bottom IHSG?? Hehehe.Itu juga saya belum punya jawaban pastinya. Tapi saya berharap agar titik terendah itu tidak berada dibawah level 4835.

Coba kalau Jokowi itu kader Nasdem atau PKB. Mungkin semua akan berlangsung lebih mudah.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Ketika Jokowi ‘diantemi’ oleh Yellen dan Putin…*

March 24th, 2014 1 comment

Selamat pagi…

….. Wah pak… Jokowi-nya diantemi sama Yellen dan Putin …

Itu adalah komentar dari salah satu peserta Market Outlook Universal Broker Indonesia mengenai kondisi pergerakan pasar di minggu yang lalu.  Ya sudah pasti … jangan diartikan seperti apa adanya.  Bukan lantas Jokowi ‘benar-benar’ dipukul oleh Janet Yellen (Chairman The Fed) dan Vladimir Putin, Presiden Rusia.  Akan tetapi, lebih karena pada minggu lalu, sentimen positif dari pengumuman Jokowi sebagai calon presiden dari PDIP, yang kemudian disebut orang sebagai Jokowi Effect yang ada di awal minggu, benar-benar di hancurkan oleh sentimen negatif pernyataan Janet Yellen di pertengahan minggu, dimana The Fed kemungkinan bakal mulai menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.  Sentimen negatif yang ada, semakin diperburuk oleh kondisi krisis semenanjung Crimea dimana Presiden Rusia, Vladimir Putin adalah aktor utamanya.  Jadi… tidak salah juga kalau kalau kemudian sebagian orang kemudian ngomong seperti itu.

Secuplik Sejarah ‘Euphoria Bursa di Indonesia’

Akan tetapi… apakah benar minggu lalu itu ‘Jokowi diantemi oleh Yellen dan Putin’? Belum tentu juga.  Untuk memahami Jokowi Effect, kita harus mengenal ‘sejarah’ dari euphoria pemilihan presiden di bursa kita.  Salah satu yang saya rasakan paling mewakili adalah ketika MPR melakukan pemilihan presiden pada tanggal 20 Oktober 1999.  Saat itu adalah untuk pertamakalinya, pemilihan presiden dilakukan secara terbuka, ditengah bursa yang tengah berjalan.  IHSG yang pada hari sebelumnya ditutup pad level 583,467, saat pemilihan langsung bergerak naik hingga mencapai titik tertinggi di level 644.073 (+60,426 poin, naik 10,35 persen).  Saat Gus Dur sudah memperoleh jumlah suara yang  cukup untuk memenangkan kursi Presiden, pelaku pasar mulai melakukan aksi profit taking.  IHSG kemudian turun hingga mencapai titik terendah pada level 569,155.  Sebuah penurunan yang sangat dalam karena pada level tersebut, IHSG berada dalam posisi terkoreksi 14,492 poin (-0,24 persen) dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya, yang juga berarti koreksi sebesar 74,918 poin (-11,63 persen) dari level tertinggi IHSG hari tersebut.  IHSG kemudian rebound, dan mengakhiri hari itu pada level 584,425 , hanya dengan kenaikan tipis 0,778 poin (+0,13 persen).  Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden, IHSG memang bergerak sangat volatile.

140324 IHSG ketik GusDur jadi PResiden

Euphoria IHSG seperti itu, kemudian semacam menjadi ‘standar’ dari pergerakan pasar ketika event-event besar terkait dengan pemilu: harga naik karena ada berita positif, tapi pelaku pasar malah cenderung jualan karena pergerakan intraday yang cenderung overreacting.  Market kemudian baru bisa bergerak normal beberapa hari kemudian, setelah pelaku pasar bisa mencerna informasi secara lebih nalar.

Kondisi seperti itu yang terjadi pada pergerakan IHSG minggu kemarin.  Pasar yang dilanda oleh Euphoria Jokowi Effect, akhirnya kempes lagi karena pasar akhirnya menyadari bahwa perjuangan Jokowi untuk jadi presiden, sebenarnya masih panjang.  Terlebih lagi juga, karena masalah kondisi dari bursa regional yang cenderung jelek sebagai akibat dari sentiment pidato Janet Yellen.  Koreksi Dow Jones Industrial pada hari Jumat malam sebagai reaksi atas perkembangan terbaru dari semenanjung Crimea, juga menunjukkan bahwa kondisi regional memang masih buruk.

Fokuslah pada event-event penting Pemilu

Proses pemilu 2014 ini masih panjang.  Pemilu kali ini memang berbeda karena dilakukan dua kali, pemilu legislatif dan pemilu presiden.  Kedepan, euphoria IHSG seperti yang terjadi kemarin, masih berpeluang untuk terjadi, seiring dengan banyaknya event-event penting pemilu yang masih akan terjadi.  Beberapa event yang menurut saya memiliki ‘potensi’ untuk terjadinya euphoria adalah pemilu legislatif hingga pengumuman hasil quick count, pengumuman resmi mengenai calon presiden dan wakil presiden dari setiap partai atau koalisi yang ada, dan event ‘pemilu presiden’ itu sendiri.  Setidaknya, pada ketiga event tersebut, IHSG ‘berpotensi’ untuk mengalami pergerakan naik.  Meski… terus terang.. kalau melihat chart technical… saya tidak terlalu yakin bahwa kedua event yang pertama (pemilu legislatif dan pengumuman resmi calon presiden) bisa membawa IHSG melewati level tertinggi Jokowi Effect kemarin di 4903.

Yah.. kalau IHSG bisa 5000 saat pemilu legislative, anggap saja sebagai bonus…

Saham pilihan: berkacalah pada Program Ekonomi Partai Peserta Pemilu

Tulisan ini… saya buat di pedesaan Maribaya.  Biasa… setiap dua minggu sekali, saya dan istri mengunjungi anak yang tengah boarding di salah satu sekolah yang ada di daerah ini.   Daerah pedesaan.  Tapi karena jaman sekarang ‘internet adalah kunci’, maka saya berpikir: ‘ah… tulisan saya akan saya selesaikan disana saja…. kan sekarang informasi tinggal ditanyakan kepada Mbah Google.

Dari Mbah Google ini.. saya kemudian mencari tahu, apakah program ekonomi dari beberapa partai besar peserta pemilu.  Hasilnya cukup mengejutkan.  Pertama: Website www.pdiperjuangan.org yang menurut account twitter resmi PDI-P (@pdi_perjuangan) ternyata mati.  Pada website www.indonesiahebat.org   juga tidak terdapat program ekonomi dari PDI yang katanye berjudul Pembangunan Semesta Berencana 25 Tahun tersebut.  Hehehe… Benar-benar ajaib.  Website dari partai pengusung Jokowi sebagai presiden, partai yang kemungkinan besar menjadi pemenang dari Pemilu kali ini, websitenya mati.  Lantas kalau saya pemilih yang rasional, kemana saya harus mencari tahu tentang program ekonomi dari PDIP?  Tapi.. ini bukan hal yang aneh juga siy.  Di website PKS (www.pks.or.id), ternyata juga tidak dijumpai adanya program ekonomi.  Di website Hanura, saya juga tidak nemu. Yang terlihat mencantumkan program ekonomi yang jelas pada websitenya, hanya Gerindra, PAN, dan Golkar.  Terkait dengan program ekonomi ini, reaksi pasar pada umumnya sama: kalau fokusnya adalah pertumbuhan ekonomi, berarti saham perbankan akan tetap bagus.  Kalau fokusnya adalah pembangunan infrastruktur, berarti saham infrastruktur yang akan bergerak.  Selisihnya, sepertinya akan ada pada program energy dari partai setiap partai tersebut.  Kalau PDIP kemudian berfokus pada energy gas seperti apa yang terdapat pada harian Kontan hari Sabtu kemarin, bisa jadi saham-saham yang terkait gas bakal melejit.  Akan tetapi, kalau melihat bahwa Gerindra bersemangat untuk mendukung program energy yang didapat dari DME (dimethyl ether), bisa jadi saham-saham batubara juga akan mengalami pergerakan karena bahan baku dari DME salah satunya adalah dari batubara.

Oh iya.. terkait dengan saham pilihan ketika pemilu ini.. tahukah anda bahwa Saham MNCN dan BHIT malah bergerak turun pasca deklarasi WIN-HT sebagai calon Presiden dan Wapres kemarin?  Anda juga harus ingat bahwa sesaat setelah pengumuman Jokowi sebagai calon presiden kemarin, gorengan UNSP juga langsung ‘diem’.  MNCN dan BHIT juga kemudian terkoreksi.  Sebuah ‘signal’ yang menarik.

Penutup

So… bagaimana reaksi anda terhadap lompatan-lompatan pergerakan harga yang terjadi selama pemilu ini? Yang jelas… kalau harga tiba-tiba naik terlalu tinggi, pertimbangkanlah untuk melakukan aksi profit taking. Sell On Strength minimal setengah posisi.  Jika anda melakukan posisi trading, ingatlah bahwa itu harus tetap menjadi posisi trading.  Kalau anda sampai nyangkut di harga yang terlalu tinggi, anda harus ‘make sure’ untuk mempersiapkan strategi untuk ‘euphoria selanjutnya’ dimana Pemilu Presiden sepertinya bakal menjadi euphoria terakhir.  Jika tidak… hehehe… bisa-bisa anda terpaksa gigit jari karena arah IHSG untuk paruh kedua dari tahun ini, benar-benar masih gelap.  Saya saja, memprediksikan bahwa untuk tahun ini, level tertinggi untuk IHSG bakal berada pada kisaran 5.200 – 5.650.  Akan tetapi, dalam prediksi saya, level tertinggi dari IHSG, sepertinya akan tercapai di sekitar Pemilu Presiden.   Masih banyak ketidakpastian dari perekonomian global, yang membuat saya belum bisa terlalu yakin mengenai prospek pergerakan IHSG dan bursa regional di paruh kedua tahun 2014 ini.

Semoga kita semua bisa mengendalikan entusiasme kita dalam menghadapi euphoria pemilu ini, agar bisa mendapatkan keuntungan yang optimal.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Secercah Harapan di awal 2014…*

January 2nd, 2014 1 comment

Selamat pagi…

Kalau anda baca ulasan terakhir saya di tahun 2013 yang kemarin saya posting, mungkin anda sudah merasakan, sedemikian banyaknya berita negatif, sehingga saya seakan-akan sudah hampir kehilangan harapan untuk bullish.  Padahal… kalau anda baca beberapa pendapat saya di berbagai media, anda pasti mendapati bahwa saya… adalah termasuk yang cukup bullish untuk tahun 2014 mendatang.

Target level tertinggi IHSG untuk tahun 2014… saya perkirakan bakal berada di kisaran 5050 – 5650.

Meski sebenarnya bisa saja lebih tinggi dari itu… tapi untuk sementara saya mau realistis dulu.  Yang dekat-dekat saja deh.  Yang sekiranya gampang untuk tercapai.

Point penting dari bottomline prediksi IHSG saya diatas adalah:

  • IHSG masih bisa menyentuh level psikologis 5000 lagi di tahun 2014 ini.
  • IHSG masih memiliki peluang untuk mencetak rekor baru di tahun 2014.
  • IHSG ‘belum akan’ mencetak new low dibawah 3837.  Level terendah di tahun 2014 tersebut akan menjadi basis dari trend naik IHSG setidaknya untuk kuartal pertama 2014.

Kalau anda( A) bilang: Loh Pak Tommy… semua kondisi kan masih jelek seperti Pak Tommy bilang… Kok tetap bullish pak? Alasannya apa?

Saya (T) akan menjawab: ini wave 2 … Karakteristik wave 2 itu adalah: berita-berita memang jelek, tapi harga tidak mencetak new low.  Berita-berita hari-hari ini kan memang jelek.  Tapi.. IHSG kan tidak mencetak level terendah yang baru dibawah 3837 (low Agustus 2013).

Disisi laen… saya sebenarnya juga optimis dengan Pemilu.  Sejak tahun 2002… IHSG sejak awal tahun hingga saat hari H pencoblosan, belum pernah turun.

A: Lantas… apa berarti pada kuartal pertama 2014 ini.. IHSG tidak akan bikin new low dibawah lowest Desember 2013 di 4109?

T: Pada hari terakhir di tahun 2013 kemarin, IHSG berhasil mencetak new high diatas resisten 4257.  Ini artinya: selama IHSG tidak membuat new low dibawah 4154, trend jangka menengah IHSG saat ini adalah trend naik.  Target awal dari trend naik ini ada di kisaran 4350 – 4400.. kisaran dimana terdapat target dari inverted H&S dan retracement 50% dari trend turun jangka menengah (Oktober – Desember 2013).

A: Kalau IHSG turun, ceritanya apa pak?

T: Hari Kamis besok ini (tanggal 2 Januari 2014), BPS akan mengumumkan angka neraca perdagangan November dan juga angka inflasi Desember.  Sentimen utama ada di angka neraca perdagangan.  Kalau masih defisit, atau setidaknya defisitnya lebih besar dari ekspektasi, maka bukannya tidak mungkin IHSG kembali bergerak turun.  Tapi…. kalau ternyata dari data ekonomi tersebut yang muncul adalah sentimen positif… data ekomi tersebut akan menjadi motor bagi Januari Effect.

A: Januari Effect itu makanan apa sih pak?

T: Januari Effect itu adalah singkong yang direbus.. kemudian digoreng.  Hehehe.  Sesuai dengan teorinya, Januari Effect itu adalah rally dari saham-saham lapis kedua (mid cap atau small cap), yang selama bulan Desember kinerja harga sahamnya buruk (baca: harga sahamnya turun).  Jadi.. bener kan:  yang namanya singkong itu, makanan lapis kedua dibawah beras.  Jadi yang rally adalah saham lapis kedua.

A: Serius pak?? Yang rally saham lapis kedua?  Apakah sudah terlihat adanya pembalikan trend pada saham lapis kedua?

T: Belum tentu  juga siy.  Sejauh ini.. dari posisi penutupan Jumat kemarin, yang reversal baru ADHI dan BSDE.  Sisanya masih belum terlihat adanya ‘tanda-tanda kehidupan’.

A: Kalau IHSG naik… apakah rallynya akan langsung dimulai besok pada tanggal 2 Januari?

T: Nggak sepertinya…  Saya gak yakin apakah pergerakan pasar bisa bagus sebelum pemberlakukan aturan fraksi baru mulai tanggal 6 Januari nanti.  Pada hari Kamis – Jumat besok (2-3 Januari), IHSG sepertinya hanya cenderung flat.  Baru mulai tanggal 6 Januari nanti, akan terlihat arah dari IHSG yang jelas: apakah mau rally ke 4350 – 4400… atau malah tembus suport di 4109.  Eh… kalau misalnya tembus suport niy.. sepertinya malah bisa lebih cepat.  Kalau data neraca perdagangan dan inflasi ternyata jelek,

A: Ah… Pak Tommy ini bikin bingung aja.  Sebenarnya.. bullish atau enggak sih? Kok kebanyakan ‘tapi.. tapi… dan tapi…’

T: Itu karena sentimen utama, memang masih dari defisit neraca perdagangan kita yang akan diumumkan besok (atau malah siang ini ya? Saya kok belum lihat..).    Sejauh ini… yang bagus baru ‘teknikal’-nya doang.  Alangkah bagusnya kalau teknikal tersebut juga didukung oleh fundamentalnya juga.

So… di hari terakhir tahun 2013 kemarin, saya memang melepas sebagian besar posisi yang saya.  Posisi saham saya terakhir, hanya sekitar 30% dari porto.  Rencana saya… dalam dua hari mendatang, saya mau belanja lagi.  Baibek.  Karena selama tidak bikin new low dibawah 4109, berarti trend jangka menengah IHSG masih berupa trend naik.  Selain itu, kalau lihat net buy asing yang berlangsung sejak 17 Desember 2013… Net buy asing di pasar reguler sudah mencapai Rp 1,2 tr.  Asing sudah mulai serius untuk belanja.  Kita lihat apakah kedepan, asing mau baibek lagi posisi net sell Rp 22,6 trilyun yang mereka lakukan selama tahun 2013 kemarin.

Berakhirnya trend turun jangka menengah pada hari terakhir pergerakan IHSG di tahun 2013 kemarin, memang menyisakan secercah harapan bahwa IHSG bakal mengawali tahun 2014 ini dengan sebuah trend naik.  Seperti apa realitanya? Mari kita nikmati saja… just BRING IT ON!!! Seperti kita menikmati pergerakan tahun 2013 yang seperti roller coaster itu.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Outlook, Selamat Pagi Tags:

Kala Senja di Majapahit…*

December 30th, 2013 No comments


… hari ini adalah minggu  ke tujuh dari pengepungan kerajaan Mataram terhadap ibukota Majapahit.  Wajah dari rakyat, terlihat mulai kuyu.  Semangat di mata sudah mulai hilang.  Bahan pangan mulai menghilang, penyakit mulai bermunculan.  Setiap saat, setiap malam yang dingin.  Bulu kuduk seakan-akan berdiri.  Musuh yang terus siap siaga, seakan menunggu saat-saat yang tepat untuk menyerang.  Setiap hari terjadi insiden di pinggiran kota, dimana penduduk yang sudah putus asa, yang sudah lelah dengan kondisi didalam kota, akhirnya terbantai ketika mencoba untuk menerobos pengepungan.  Udara benar-benar sudah penuh dengan hawa kematian yang membawa siapa saja, tenggelam dalam ketakutan, tanpa harapan… 

Selamat pagi…

Tulisan diatas… jelas bukan cuplikan dari novel-novel tentang Majapahit karya dari Langit Kresna Hariyadi, maupun karya dari SH. Mintaraja.  Akan tetapi, tulisan diatas kira-kira bisa mewakili gambaran dari apa yang kita lihat pada pergerakan harga di Bursa Efek Indonesia pada satu-dua bulan terakhir.  Sulit banget untuk mencari sentiment positif.  Orang-orang yang masih Bullish seperti saya, seakan-akan sudah seperti merenggang nyawa.  Mau tetap bullish bagaimana? Berita semua sudah negatif.  US Dollar tidak juga beranjak dari level 12.000.  Aliran dana asing, sebentar beli, tapi sebentar lagi jual dalam jumlah yang lebih banyak.  Usaha pengendalian nilai tukar seakan-akan tidak menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.  Yang ada, hanya orang-orang yang menanti, menanti awal bulan depan, menunggu data defisit neraca perdagangan.  Hari-hari berlangsung dengan koreksi, volume perdagangan tipis.

Mau bicara Outlook atau gambaran prediksi IHSG di tahun 2014? Sebenarnya banyak orang yang optimis.  Ada memang yang pesimis.  Akan tetapi, jumlah yang optimis sepertinya lebih banyak.  Kalau mau omong optimis untuk 2014, orang pasti  beranjak dari fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun cenderung turun, tapi sebenarnya tetap saja ‘tidak jelek-jelek amat’.  Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada tahun 2014, masih tetap diatas 5 persen lah.  Masih jauh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Dunia yang menurut Bank Dunia hanya berkisar pada angka 3 persen.  Terlebih lagi, tahun depan adalah tahun Pemilu.  Sebuah event akbar yang sejak 2002, selalu ditandai dengan kenaikan IHSG.  Outlook 2014 memang masih terlihat indah.  Tapi… trend turun jangka menengah IHSG ini loh… kok nggak selesai-selesai.

Dalam dua bulan terakhir, IHSG bergerak dalam sebuah trend turun jangka menengah yang hingga perdagangan hari Jumat kemarin, masih belum juga berakhir.  Trend turun jangka pendeknya saja, hingga hari terakhir sebelum liburan Natal, masih terus berlangsung.  Trend turun jangka pendek ini baru berakhir pada hari Jumat kemarin, ketika IHSG berhasil ditutup diatas resisten pertama di 4205.

Hari perdagangan di tahun 2013, memang hanya tinggal hari ini.  Tahun 2013 sebenarnya bukan sebuah tahun yang buruk.  Di tahun ini, IHSG sempat berada diatas level psikologis 5000.  Sebuah level yang sudah dalam dua-tiga tahun terakhir menjadi fatamorgana bagi sebagian orang.  Akan tetapi, tahun 2013 ini juga yang menjadi saksi, bahwa perekonomian kita, memang dibangun diatas sebuah fondasi mata uang yang rapuh.  Maklum saja… hobby kita untuk mengimpor segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan kita, telah membuat Rupiah mudah sekali jatuh.  Dari BBM, makanan, barang-barang konsumsi, dan masih banyak lagi.  Petasan yang akan anda sulut nanti malam deh… kemungkinan juga adalah hasil dari impor.

Problemnya lagi, pemerintahan autopilot yang selama ini dijalankan, benar-benar menuai hasilnya: autopilot ketika pesawat sedang menanjak, ketika perekonomian sedang bagus, mungkin tidak mengapa.. akan tetapi, autopilot ketika pesawat sedang nosedive (hidung pesawat menghadap kebawah), tentu saja membuat semua penumpang berteriak-teriak.  Terlebih lagi, ketika semua alarm tanda bahaya menyala (hingga bunyi alarmnya kedengaran dari penumpang baris paling depan), pilot dengan tenangnya tetap mengumumkan dengan announcer: woles aja bro… tidak ada apa-apa kok… didepan juga tidak ada gunung… silakan berhenti untuk panik.

Hehehe….

Terkadang… saya berpikir… bahwa saya sudah bosan untuk tetap bullish.  Bosan untuk bilang bahwa IHSG 5000 lagi tahun 2014.  Bosan untuk bilang bahwa IHSG masih bisa bikin rekor lagi di tahun 2014 nanti.  Akan tetapi, realita yang ada… sejauh ini… setidaknya selama satu-dua bulan ini… bergerak berlawanan dengan apa yang saya lihat:

  • Rupiah tidak kunjung juga menguat,
  • BI Rate sudah mulai berasa ketinggian untuk bisa membuat perekonomian bisa berjalan normal,
  • Tapering memang mulai berlangsung tahun depan.  Tapi.. kok ya masih ada yang jadi perdebatan: itu turunnya mau pelan-pelan seperti diagonal dengan sudut landau atau dengan sudut curam?
  • Perdebatan itu yang membuat aliran dana asing belum juga kembali muncul meski tapering sebenarnya lebih ringan dari yang diperkirakan.

Saya sudah bosan bullish karena Pemerintah seakan-akan tidak memiliki keperdulian terhadap apa yang terjadi.  Saya tahu bahwa langkah fiskal memang hasilnya lamban.  Akan tetapi… saya juga tahu bahwa harga saham itu, adalah harga saat ini dari sebuah kondisi di masa yang akan datang.  Itu berarti: kalau harga belum naik, berarti pasar memang belum melihat atau percaya, bahwa langkah yang ditempuh oleh Pemerintah bakal memberikan hasil positif.

Kebosanan saya untuk bullish juga semakin bertambah, karena saya masih juga belum bisa percaya bahwa pasar bakal merespon kebijakan fraksi harga baru dengan positif.  Sebagai ‘mantan korban’ dari kebijakan fraksi harga yang mengubah fraksi Rp 25 menjadi Rp 5 pada tahun 2000 dulu (gile.. karatan banget gue ye? Hehehe) yang membuat aktifitas dari pemodal retail berkurang drastis, saya memang belum bisa melupakan ‘trauma masa lalu’.  Jumlah pemodal retail kita, belum juga mencapai angka 1 persen dari jumlah penduduk.  Masa mereka yang ada mau diusir lagi?  Ok lah kalau kebijakan penurunan jumlah saham dalam 1 lot sepertinya bakal membuat pemodal retail yang baru mau untuk mencoba berinvestasi langsung ke bursa saham.  Tapi… Untuk fraksi harga baru… saya sih tetap tidak yakin bisa memberikan pengaruh positif bagi jumlah pemodal retail yang aktif bertransaksi di bursa kita.

Tapi…. Mau bagaimana lagi: Selama tidak ada hitungan teknikal bahwa kita harus bearish untuk long term, saya tidak bisa bearish.  Selama IHSG tidak mencetak new low (level terendah yang baru) dibawah 3837, saya tidak bisa bearish.  Berita-berita jelek, boleh mempengaruhi kondisi mental saya.  Tapi, selama tidak ada signal negatif jangka panjang, saya masih tetap bullish dan optimis menghadapi 2014 nanti.

So…

Hawa kematian… memang masih terus membumbung di angkasa Majapahit…

Tapi kita harus tetap optimis.  Kalau pada hari terakhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia di tahun 2013 ini saya boleh bermimpi… maka saya akan bermimpi bahwa IHSG bakal ditutup diatas penutupan tahun kemarin.  Dikasi naik dikit diatas 4316,69. Eh… tapi… nggak usah setinggi itu juga siy: diberi new high (level tertinggi baru) diatas 4257,17 saja.. saya juga sudah cukup senang.  Karena new high diatas 4257,17 bakal membuka peluang, bahwa IHSG di bulan Januari masih akan terus bergerak naik.

Rawe-rawe rantas… Malang-malang tuntas!

Mari kita sambut 2014 dengan harapan bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang lebih baik bagi pasar modal Indonesia.

Happy trading…. Semoga barokah!!!

Satrio Utomo

PS: Tulisan ini adalah tulisan saya yang dimuat pada harian Kontan edisi 30 Desember 2013 dan ditulis pada hari Sabtu 28 Desember kemarin.  Pada saat tulisan ini saya upload, IHSG sudah sempat membuat new high diatas resisten 4257.  Semoga penembusan resisten tersebut adalah pertanda bahwa IHSG akan melanjutkan trend naik jangka pendek ini menjadi rally di bulan Januari 2014.

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Outlook Tags:

(Sekali lagi) Fraksi Pergerakan Harga: Belajar dari Pengalaman Tahun 2000

December 28th, 2013 No comments

Selamat pagi…

Mulai tanggal 6 Januari 2014 nanti, BEI akan menerapkan sebuah aturan baru dalam perdagangan saham.  Aturan tersebut akan mengatur banyaknya saham dalam satuan lot perdagangan dan perubahan atas fraksi harga.  Kalau mengenai banyaknya saham dalam 1 lot perdagangan, yang berubah dari 500 lembar menjadi 100 lembar, jelas saya mendukung sekali peraturan tersebut.  Perubahan jumlah banyaknya saham dalam 1 lot tersebut, akan membuat harga saham menjadi lebih terjangkau oleh pemodal retail.   Ini yang membuat pemodal retail yang melakukan setoran awal dalam jumlah minimum (Rp 10 juta), bisa membentuk portfolio yang berisi saham-saham blue chip dengan fundamental yang lebih bagus.

Usaha untuk mempersempit spread dengan cara mempersempit fraksi harga, sebenarnya bukan pertama kali dilakukan.  Pada tahun 2000, BEI pernah mencoba mempersempit fraksi harga secara drastis.  Langkah yang dilakukan pda tanggal 3 Juli 2000 ini, mengubah fraksi harga yang tadinya sebesar Rp 25 untuk semua kisaran harga, menjadi Rp 5 untuk semua kisaran harga.  Sebuah langkah yang sangat maju.  Hasilnya, bisa kita lihat pada grafik di bawah ini:

131228 IHSG DJI 2000

Grafik di atas, memperihatkan perbandingan pergerakan antara IHSG, Dow Jones Industrial (New York Stock Exchange), dan Stait Times Index (Singapore).  Ketiga titik (1,2,3) adalah titik-titik penting dari pergerakan harga pada periode tersebut.  Titik yang pertama adalah posisi harga pada tanggal 30 Juni 2000.  Hari tersebut adalah hari terakhir dimana perdagangan di lantai Bursa Efek Jakarta (nama Bursa Efek Indonesia ketika itu), melakukan perdagangan dengan fraksi harga Rp 25.  Titik yang ketiga, adalah titk pergerakan harga pada tanggal 20 Oktober 2000.  Saat BEI menerapkan fraksi 3 fraksi (Rp 5, Rp 25, dan Rp 50).  Titik kedua, adalah titik pergerakan harga pada tanggal 6 September 2000, hari dimana indeks Dow Jones Industrial (DJI) mencapai level tertinggi dalam periode tersebut.  Mari sekarang kita lihat kenaikan atau penurunan ketiga indeks tersebut, pada periode tersebut.

131228 IHSG DJI 2000 Tabel

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada tanggal 3 Juli 2000, BEI memperkenalkan fraksi baru yang lebih kecil, dari fraksi sebelumnya.  Setelah itu, IHSG cenderung bergerak turun, ditinggalkan bursa regional yang terus bergerak naik.  Pada bulan Juni, ketika indeks Dow Jones Industrial dan Strait Times mencapai puncak dari trend naik dengan masing-masing kenaikan sebesar 8,3 persen dan 6,2 persen, IHSG malah terkoreksi sebesar 7,7 persen.  Dan, ketika pada akhirnya BEI menyadari hal itu dan kembali mengubah fraksi harga menjadi lebih akomodatif pada tanggal 20 Oktober 2000, Indeks DJI dan STI memang sudah kembali dibawah titik awal pada tanggal 30 Juni.  Tapi, koreksi 18,4 persen yang terjadi pada periode tersebut, tetap jauh dibawah koreksi yang terjadi pada DJI dan STI. Selama periode ‘fraksi halus’ tersebut, IHSG cenderung berkinerja lebih buruk (underperform) terhadap pergerakan indeks regional.

Mengapa IHSG bisa ‘underperform’ DJI dan STI hingga sedalam itu? Jawabannya sebenarnya sederhana: Because Elvis.. has left the building.  Eh.. maksud saya, karena pemodal retail lokal, memutuskan untuk meninggalkan pasar modal, atau setidaknya, mengurangi minat mereka untuk berspekulasi.  Data yang didapat dari materi presentasi BEI dibawah ini memperlihatkan, bahwa semenjadi 2000 – 2003, frekuensi transaksi memang cenderung mengalami penurunan.  Frekuensi transaksi baru meningkat secara signifikan, ketika BEI pada tahun 2005 dan 2007, menerapkan kebijakan fraksi harga yang lebih akomodatif.

131228 IHSG Freq vs Vol

Seperti yang sudah kita ketahui bersama: pemodal retail lokal itu, memang kurang sophisticated dalam melakukan trading.  Dibandingkan masuk ke saham-saham blue chip yang nilainya relaitf tinggi, pemodal retail lokal lebih cenderung untuk membeli saham-saham lapis kedua yang kapitalisasinya kecil dan nominal harga yang relatif murah.  Itu sebabnya, minat dari pemodal retail lokal untuk melakukan transaksi, lebih bisa dilhat dari frekuensi transaksi, bukan dari nilai dari transaksi itu sendiri.  Kondisi pasar yang relatif flat-turun selama 2000-2003, memang bisa saja dijadikan kambing hitam, mengapa pemodal lokal mengurangi aktifitasnya.  Akan tetapi, perubahan fraksi dari Rp 25 menjadi Rp 5, bisa saja menjadi pemicu dari berkurangnya minat pemodal lokal untuk mengurangi transaksinya.

Mengapa pemodal retail akan mengurangi transaksi ketika fraksi harga semakin halus? Kalau menurut perkiraan saya siy, karena memang pemodal retail lokal ini, lebih merupakan spekulator amatir, dibandingkan dengan spekulator professional.  Spekulator amatir ini adalah mereka yang melakukan transaksi sekedar untung-untungan, dengan tanpa melakukan prediksi pergerakan harga (baik fundamental maupun teknikal) yang bertanggung jawab.  Model transaksi yang sering dilakukan, adalah model transaksi jibur, jigo (Rp 25) langsung kabur.  Mereka ini sering kali adalah scalper trader dimana setelah mereka melakukan posisi beli, mereka langsung melakukan posisi jual ketika harga bergerak naik 1 – 2 poin fraksi.  Karena tidak mau rugi, biasanya mereka gemar menahan posisi ketika harga bergerak turun kemana-mana.  Tapi, ketika untung, untung 1-2 poin mereka langsung melakukan posisi jual.

Fraksi harga yang lebih kecil, akan membuat mereka lebih sulit untuk mencari keuntungan.  Dari tabel dibawah ini bisa kita lihat, bahwa pada fraksi harga sekarang, para spekulator amatir, spekulator jibur, atau scalper trader ini, terlihat bersemangat untuk melakukan transaksi karena dengan pergerakan harga 1 poin, mereka sudah langsung untung.  Tapi, dengan fraksi harga yang baru, para spekulator jibur ini, sepertinya bakal mengurangi aktifitasnya karena pada fraksi harga yang baru ini, mereka harus berjuang agar harga bisa bergerak 2-3 poin, baru mereka bisa meraup keuntungan.

131228 Fraksi Harga Baru

Jadi… Kedepan… kalau BEI memberlakukan satuan lot dan fraksi harga yang baru, sudah barang tentu, nilai perdagangan dan frekuensi transaksi, kemungkinan akan meningkat.  Bagaimana tidak meningkat, satuan lot yang baru akan membuat perdagangan akan dilakukan dengan jumlah saham per lot yang lebih kecil, sehingga frekuensi transaksi sudah barang tentu akan meningkat secara signifikan.  Tapi.. kalau saya bilang siy.. meningkatnya seberapa besar dulu? Kalau peningkatan frekuensi transaksi tidak 3-5 kali dari frekuensi transaksi sebelumnya, ya pentingkatan itu sama saja tidak ada artinya.

Terus… kedepan… dengan fraksi harga yang lebih kecil ini, para trader amatir sebaiknya juga harus semakin pintar untuk melakukan prediksi harga jangka pendek, seperti juga mereka harus lebih pintar untuk melakukan positioning (posisi beli atau jual) dalam trading.  Ini karena dalam mencari cuan dengan cara untung-untungan, sepertinya bakal menjadi semakin sulit.

Bagi saya, orang yang biasa ke sana-sini memberikan training pasar modal dengan atau tanpa memungut bayaran, penerapan fraksi harga yang lebih kecil ini, jelas menguntungkan.  Orang pasti akan semangkin giat belajar sehingga ocehan saya akan semakin dibutuhkan dimana-mana.  Penerapan fraksi harga yang lebih kecil seperti ini, juga akan membuat fasiltas online trading yang cepat dan memiliki fasilitas ‘pemasukan order semi otomatis’, seperti Ezydeal 5 milik Universal Broker Indonesia, bakal menjadi semakin diminati.

Tapi… Kok ya kasian bener pemodal retailnya yak? Begitu masuk pasar modal, harus sudah semakin pintar.  Barrier to entry dalam sisi modal, memang semakin rendah, tapi barrier to entry untuk masalah skill, malah jadi semakin tinggi.  Apa ya bisa?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags: