Mas @Jokowi_do2 … Revolusi Mental ? Tenane?

November 24th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Seminggu terakhir, saya ‘memaksakan diri’ untuk membaca buku tulisan Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rekan-rekan yang berjudul Revolusi Mental. Saya kok benar-benar penasaran. Terkait dengan kenaikan BBM Subsidi yang dilakukan minggu lalu, ada satu dua hal yang ‘menggelitik’ hati saya. Belum tentu sesuatu yang melanggar hukum sebenarnya. Tapi, karena apa yang terjadi masih merupakan ‘tipuan-tipuan stadar’ yang biasa di lakukan. Saya jadi sedikit bertanya: Benarkah Jokowi benar-benar serius dalam melakukan Revolusi Mental ini? Akankah ini semua hanya ‘masih sama dengan yang kemarin’ hanya dibalut oleh bungkus yang berbeda?

Harga BBM Subsidi

Kenaikan harga BBM Subsidi yang sebesar Rp 2000 per liter itu.. sebenarnya wajar. Kalau orang bilang: Malaysia menurunkan harga BBM Subsidi sedangkan Indonesia malah menaikkan, saya yakin yang bilang seperti itu adalah orang yang kurang waras. Maklum.. negara lain pastinya sudah mengubah, menurunkan, dan menaikkan harga BBM berkali-kali, sedangkan harga BBM Subsidi kita sudah lama tidak berubah. Malaysia saja, kabarnya sekarang malah kebingungan karena harga BBM Subsidi mereka lebih murah dari harga BBM Subsidi Indonesia dan malah berencana menaikkan lagi harga BBM Subsidinya karena takut diselundupkan ke Indonesia.

Kejadian lucu pertama muncul, ketika Menteri Keuangan menjawab pertanyaan wartawan mengenai harga keekonomian dari BBM jenis premium. Ketika itu, beliau menjawab bahwa harga keekonomian BBM Premium lebih dari Rp 10.000. Langsung seperti ada yang ‘menyala di kepala saya’: lha kok bisa? Pertamax saja harganya ketika itu Rp 10.200. Akhir minggu kemarin, Pertamax di beberapa tempat bahkan sudah diturunkan hingga dibawah Rp 10.000. Lha kok bisa harga Premium 10.000, terutama, pada kesempatan yang sama, Pertamina sendiri, dalam hal ini melalui Hanung Budya, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, bahkan menyatakan bahwa harga keekonomian BBM Premium saat ini adalah sebesar Rp 9.200? Angka siapa yang benar? Angka Pemerintah atau Pertamina? Saya nggak pingin pusing ngitung sendiri karena harga MOPS (Mean of Platts Singapore) yang merupakan harga patokan dari penghitungan harga BBM Subsidi ini bukanlah sesuatu harga yang terbuka yang mudah untuk dicari. Teman-teman yang sudah berhitung, bahkan sudah menemukan angka bahwa harga BBM Premium sudah dibawah Rp 8500. Salah satu penjelasan yang paling rasional adalah bahwa Pak Menkeu menggunakan data Indonesian Crude Oil Price (ICP) sebagai dasar dari penghitungan harga BBM Subsidi, bukan menggunakan harga MOPS. Padahal.. sudah 10 tahun terakhir kita berhitung dengan menggunakan MOPS. Bisa saja ini adalah kebiasaan baru pada Pemerintahan yang baru. Tapi.. tetap saja lucu… menentukan sebuah kebijakan yang vital, dengan menggunakan data yang tidak akurat atau bahkah menggunakan ‘data yang lain’. Masih bagus rakyat masih percaya sama Presidennya. Kalau enggak.. gimana rasanya tuh?

Sikap dari Pak Menkeu saat kenaikan harga BBM Subsidi ini membuat saya kemudian bertanya-tanya: ini kah ‘mental yang sudah di-revolusi’? Tetap menggunakan data seenaknya, menganggap seluruh rakyat adalah mahasiswa yang udah di gertak atau rakyat yang mudah dibohongi? Lha terus… apa bedanya dengan Pemerintah yang terdahulu?

Kalau hanya sekedar kenaikan harga bbm subsidi sebesar Rp 2000 per liter, itu adalah hal yang wajar dan sudah seharusnya untuk dilakukan. Problemnya ada pada hal-hal yang kemudian terjadi setelah itu. Bank Indonesia yang selama ini merasa sudah memiliki ‘formula’ untuk menaklukkan inflasi yang terjadi pasca kenaikan harga BBM Subsidi ini dengan cara menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 25 basis poin (0,25 persen), kemudian ‘secara reflek’ menaikan BI Rate. Ini kemudian menjadi problem baru, mengingat dalam setahun terakhir, Bank Indonesia menggunakan instrumen tersebut untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi. Ceritanya begini: Rupiah terus melemah karena terjadi defisit neraca perdagangan. Defisit neraca perdagangan ini terjadi, karena ekonomi yang tumbuh tinggi, membutuhkan impor dari barang-barang. Maka, agar Rupiah bisa lebih stabil, pertumbuhan ekonomi diperlambat dengan cara mempertahankan suku bunga (BI Rate) di level yang tinggi. Pertanyaannya: kalau BI Rate dinaikkan lagi.. apakah pertumbuhan ekonominya tidak menjadi semakin lambat?

Kenaikan BI Rate yang niatnya baik… untuk memerangi inflasi, malah dianggap bakal menjadi boomerang: dianggap bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah lambat. Aneh juga sih sebenarnya. Ditengah negara-negara di dunia yang berlomba-lomba memacu pertumbuhan ekonomi dengan memberikan suku bunga rendah, Indonesia malah menerapkan suku bunga tinggi dengan berbagai alasan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan saya adalah: apakah memang tidak ada koordinasi antara BI dan Pemerintah terkait dengan kenaikan harga BBM Subsidi ini? Lha terus.. apa bedanya dengan Pemerintah yang sebelumnya?

@triomacan2000 Ditangkap, Telkom Melenggang…

Dulu… saya suka following twit dari @triomacan2000. Saya mengenal account twitter ini dari mantan wartawan senior Tempo yang merupakan teman saya menunaikan ibadah haji di akhir 2012. Atas rekomendasi beliau, saya kemudian following account ini. Menarik memang fenomena @triomacan2000 ini. Pada awalnya, karena mengungkapkan masalah penyelewengan serta korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat, dan sebagian kemudian diantaranya benar, maka saya sempat menjadi follower setia ketika awalnya. Akan tetapi, karena lama –kelamaan ulasannya semakin bernada kebencian dan tidak dilandaskan oleh data yang jelas, maka sejak pertengahan tahun 2013, saya sudah tidak follow account itu lagi.

Ketika orang yang dituduh sebagai @triomacan2000 kemudian ditangkap… saya tidak heran. Terlepas apakah benar orang yang ditangkap tersebut adalah @triomacan2000 atau bukan, saya sebenarnya tidak pusing. Tapi setidaknya, sudah ada tanda-tanda bahwa Pemerintah berbuat sesuatu terhadap akun-akun penyebar kebencian, itu sudah membuat hati saya menjadi lebih tenang.

Akan tetapi, ketika kemudian ‘kasus’ yang membuat @triomacan2000 tersebut ditangkap kemudian ikut menghilang juga, terus terang.. hati kecil saya juga tidak terima. Benar, kasus tukar guling antara saham PT. Tower Bersama, Tbk. (TBIG) dengan saham Mitratel (anak perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia/TLKM) memang sulit untuk dibuktikan kerugian dari negara dalam hal ini TLKM karena yang terjadi adalah tukar menukar kertas vs kertas, tukar menukar surat berharga, yang nilanya lebih dari Rp 11 trilyun. Tapi, karena tukar guling tersebut dilakukan pada harga yang saham TBIG sebesar Rp 14.511, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata 3 bulan yang hanya sebesar Rp 8.062. Dan juga pembelian ini tidak bisa dikatakan murah karena dengan Price to Earning Ratio (PER) yang sangat premium. Jika menggunakan EPS tahun 2013 di angka Rp 260, akuisisi di harga Rp 14511 itu berarti TLKM membeli TBIG pada harga PER 55 kali. Harga yang hanya cocok untuk akuisisi kemepemilikan mayoritas, tidak untuk sekedar kepemilikan sebesar 13,7 persen. Saya sebagai rakyat, kok merasa kalau diri saya sedang dikadalin.

Belum lagi beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sosialisasi peraturan yang dilakukan oleh sebuah lembaga. Isinya mengenai aturan main bagi IPO perusahaan pertambangan yang belum berproduksi. Terus.. setelah saya tanya-tanya.. kok isinya memperbolehkan perusahaan yang belum beroperasi dengan tambang di luar negeri untuk melakukan IPO. Padahal… orang yang punya tambang di luar negeri dengan nilai besar… ya orangnya ya itu-itu saja. Kalau perusahaan seperti itu boleh IPO, bagaimana nasib dari pemodal retail lokal kita yang membeli saham dari perusahaan itu?

Benarkah revolusi mental hasilnya bakal seperti ini?

Pemerintah yang tidak kompak, Pemerintah yang membodohi rakyat, Pemerintah menganggap rakyat hanya menjadi obyek (bahan obyekan untuk cari duit)? Kok berasa seperti penyakit menahun yang sudah ada semenjak saya kecil. Semenjak Orde Baru. Revolusi Mental.. apakah hanya produk lama dengan bungkus yang baru?

Revolusi Mental? Tenane?

Revolusi Mental? Bener niy?

Menurut saya siy.. kalaupun Pemerintah mau mengambil untung dari harga BBM…. sebenarnya gak masalah. Asalkan nantinya Pemerintah bisa mengalokasikan hasilnya pada sektor-sektor yang lebih bermanfaat.

Ah.. pasti ini bukan Revolusi Mental seperti yang digambarkan oleh Jokowi. Saya sadar bahwa Revolusi Mental ini masih dalam tahap awal. Jalan 100 hari juga belum. Tapi, sepertinya memang masih banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama orang-orang yang terlibat sebagai Aktor Utama dari Revolusi Mental ini.

Saya hanya penonton yang selalu giat untuk memberikan semangat.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Prediksi Harga itu Mudah

October 27th, 2014 No comments

Selamat pagi…

(Pengantar: Tulisan ini saya buat kemarin siang, sebelum Jokowi mengumumkan Kabinet Kerja. Just Enjoy…)

Prediksi pergerakan harga saham atau indeks, itu tidak sesulit gambaran sebagian orang.Selama kita bisa memperoleh sudut pandang yang benar, prediksi itu sebenarnya mudah.Mudah dipelajari dan mudah untuk dilakukan. Berhubung ini tahun baru, dan tahun baru adalah saat yang tepat untuk melakukan refleksi, maka saya akan kembali melakukan refleksi atas cara yang biasa saya lakukan. Saya yakin… sebagian besar dari anda pasti sudah bisa melakukannya, atau bahkan sudah mulai meninggalkan cara prediksi yang biasa saya lakukan ini karena anda anggap terlalu sederhana, terlalu mudah .Akan tetapi, saya hanya ingin mengulang sebuah fakta, bahwa kalau cuman prediksi arah pergerakan harga… sebenarnya gak susah kok… gampang!

Harga Tidak Bergerak Random

Harga itu tidak bergerak bebas.Kalau ada orang bilang harga bergerak random, itu hanya untuk orang-orang yang ada di kampus.Hanya boleh dilakukan oleh mereka yang ada di kampus.Kalau disini, kalau di pasar modal, kalau kita sudah memutuskan untuk masuk ke industri pasar modal dan menjadi bagian daripadanya, baik sebagai investor, trader, analis, fund manager, pengelola dan karyawan perusahaan sekuritas, dan masih banyak lagi profesi yang lain yang terkait dengan pasar modal, kita harus berada dalam pola pikir, bahwa harga tidak bergerak random. Kemampuan kita untuk memanfaatkan pergerakan harga adalah merupakan penentu dari keberhasilan kita. Seorang investor yang berbasis pada analisis fundamental misalnya, meski tetap berpendapat bahwa pergerakan harga dari hari ke hari pergerakannya random, tapi harus memiliki keyakinan bahwa pada suatu saat nanti, harga akan bergerak menuju nilai (value) yang diperdiksikannya. Seorang trader yang berbasis pada analisis teknikal, juga barus berangkat dari asumsi bahwa harga tidak bergerak random, pergerakan harga memiliki arah, dan terdapat kecenderungan adanya pola-pola perilaku pergerakan harga yang terjadi berulang-ulang.Dari situ kemudian semuanya berangkat.

Karena basis saya prediksi sehari-hari adalah analisis teknikal, maka prediksi harga yang saya maksudkan disini, adalah prediksi pergerakan harga dengan menggunakan analisis teknikal.

Suport dan Resisten: Titik Penting Pergerakan Harga

Harga tidak bergerak random.Setidaknya, tidak 100% random.Pada pergerakan harga, terdapat titik-titik penting dimana pergerakan harga berhenti sebentar, dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan arah pergerakan, atau berbalik arah.Titik-titik ini disebut sebagai suport atau resisten.Suport dan resisten ini, berfungsi seperti ‘perempatan’ pada pergerakan harga.

Arah Pergerakan harga: Konsolidasi atau Trend

Pergerakan harga itu tidaklah random.Ada yang disebut sebagai konsolidasi, dan ada yang disebut sebagai trend. Konsolidasi adalah keadaan dimana harga bergerak dalam suatu kisaran dalam suatu periode waktu tertentu. Misalnya: pada periode Agustus hingga September kemarin, IHSG bergerak mendatar pada kisaran 5140 – 5250, diantara suport 5140 dan resisten 5250, itu berarti IHSG dalam masa konsolidasi. Trend adalah pergerakan harga yang memiliki arah. Ketika IHSG bergerak dari level 5120 hingga 5250, dari titik A ke titik B adalah sebuah trend. Masa konsolidasi adalah sebuah trend mendatar.Harga bergerak dari 5120 ke 5250 adalah sebuah trend naik.Harga bergerak dari 5250 ke 5120 adalah sebuah trend turun.

141027 IHSG

Price Pattern: Arah Pergerakan Harga ‘yang agak jauhan sedikit’

Suport dan resisten itu, kalau cuman suport dan resisten pertama atau suport dan resisten kedua, biasanya jaraknya tidak terlalu jauh.Jarak antara suport dan resisten pertama misalnya, sering kali kurang dari 3 persen.Jarak dari suport dan resisten kedua, sering kali kurang dari 5 persen.Dengan pergerakan harga seperti itu, rasa-rasanya sulit untuk bisa memperoleh keuntungan yang rasional.Untuk memperoleh bisa memprediksi pergerakan harga yang agak lebih jauh, agak lebih lebar, digunakan price pattern atau pola pergerakan harga.Pola pergerakan harga ini adalah pola pergerakan harga yang terjadi pada saat harga berada pada periode konsolidasi.Pola pergerakan harga yang biasanya muncul adalah triangle (symmetrical, ascending, atau descending), rectangle, head and shoulder, double top, double bottom, dan trend channel.Pola-pola ini adalah pola-pola yang sering muncul, dan sering juga kena target harganya. Bentuk pola pergerakan harga ini seperti apa dan bagaimana implikasiknya? Kita bisa bertanya pada Mbah Google pola seperti itu bentuknya seperti apa. Kita juga bisa baca-baca pada buku-buku karya penulis lokal maupun asing.Sudah banyak kok sumber-sumbernya bertebaran di sekitar kita, baik yang dalam Bahasa Indonesia, maupun dalam Bahasa Inggris.

Trading: Sesuatu Yang Lain

Kemampuan dari seorang trader untuk memprediksi, tidak menentukan keberhasilan trader tersebut dalam memperoleh keuntungan.Kemampuan seorang trader untuk memperoleh keuntungan, sangat ditentukan dengan kemampuan dari trader tersebut untuk menterjemahkan prediksi yang telah dibuat, kedalam posisi beli atau posisi jual yang kemudian dilakukannya.Itu sebabnya, seseorang analis, meskipun jago dalam melakukan prediksi, belum tentu jago dalam melakukan trading.

Ketika dalam prediksi, seorang pemodal hanya melakukannya diatas kertas.Ketika trading, ketika uang sudah mulai dilihatkan, baik dalam hal posisi beli maupun posisi jual.Disinilah faktor mental kemudian mengambil alih peran.Disini kemudian, disiplin menjadi sebuah perilaku yang sangat penting.Disiplin ini adalah kemampuan seorang trader untuk melakukan eksekusi sesuai dengan prediksi yang dilakukannya, sesuai dengan rencana trading yang dilakukannya.

Menentukan Reversal dengan Candlestick

Terkait dengan masalah posisi beli dan posisi jual, sebagain orang kemudian bertanya: bagaimana cara kita menentukan posisi beli atau posisi jual? Kapan kita harus beli?Kapan kita harus jual? Saya sebenarnya hanya menyarankan penggunaan cara yang sederhana: Gunakanlah Candlestick! Candlestick ini juga bukan candlestick yang harus menghafalkan 50+ pola candlestick yang ada. Saya hanya menggunakan cara yang sederhana:

  1. Lihat panjang dari body candlestick.
  2. Jika body dari candlestick ini pendek, gunakan titik tertinggi dan terendah sebagai suport atau resisten, lakukan posisi beli atau posisi jual sesuai dengan arah penembusan.
  3. Jika body dari candlestick ini panjang, gunakan titik tengah dari candlestick tersebut sebagai penentu: ketika trend sedang turun, titik tengah dari body candle tersebut akan menjadi resisten, dan sebaliknya: ketika trend sedang naik, titik tengah dari body candle tersebut akan menjadi suport.

Menentukan Posisi BELI serta JUAL: Normal atau Contrarian

Posisi beli normal adalah posisi beli atau posisi jual sesuai dengan cara yang lazim. Misal: jika ada signal beli, maka kita melakukan posisi beli ketika signal beli tersebut muncul, vice versa. Posisi beli dalam mode contrarian adalah: ketika kita melihat adanya signal beli, tentukan titik stoploss dari posisi beli tersebut, dan kemudian lakukan posisi beli pada harga stoploss tersebut, bukan pada harga di titik beli, vice versa. Misalnya.Sebuah saham memiliki suport di harga Rp 1000.Stoploss dari suport tersebut, ada di 970. Ketika seorang trader melakukan posisi beli dalam mode normal, maka posisi beli akan dilakukan pada harga Rp 1000. Pada saat yang bersamaan, posisi beli pada mode kontrarian akan dilakukan pada harga Rp 970.

Penutup

Itu semua tadi, adalah ikhtisar ringkas dari bagaimana memprediksi pergerakan harga dan bagaimana trading berdasarkan prediksi harga tersebut. Saya mencoba menjelaskannya secara singkat, agar anda bisa melihat garis besarnya seperti apa. Prediksi itu gampang.Trading itu jauh lebih sulit.Itulah poin yang ingin saya sampaikan melalui tulisan saya ini. Ketika prediksi harga yang kita cari, model pola pikir yang biasa saya lakukan adalah sebagai berikut:

141027 Skema pembelajaran ringkas

Mudah dan sederhananya prediksi ini, membuat saya saat ini sedang mempertimbangkan untuk memberikan pelatihan secara gratis, atau setidaknya dengan pelatihan charga yang tidak terlalu memberatkan. Coba deh anda emailkan: nama, nomor hp, dan kota tempat pelatihan yang anda kehendaki ke email saya: analisteknikal@gmail.com dan cc ke noky@universalbroker.co.id. Jika peminatnya sudah mencapai minimal 50 orang, sepertinya pelatihan akan bisa untuk diselenggarakan.

Prediksi Ada yang Sulit

Kalau prediksi harga itu mudah, maka disisi lain, prediksi yang sulit itu, hanya memprediksi kapan sapi bisa bangkit dari tengah jalan.

Di India, sapi itu adalah binatang suci. Ketika seekor sapi sudah memutuskan untuk duduk ditengah jalan, maka kemacetan akan segera terjadi. Semua hanya boleh menunggu.Kapan sapi itu bangkit, hanya dia yang tahu.Padahal, kemacetan hanya bisa berakhir, ketika sapi itu bangkit.

Padahal, sapi itu binatang dengan kecerdasan dibawah kecerdasan manusia.Memprediksi kapan sapi itu bangkit, itu benar-benar sebuah perbuatan yang percuma, membuang tenaga, dan tidak ada faedahnya. Kita hanya bisa menanti sapi itu bangkit, dan situ kita tahu.kapan kita akan maju.

So..daripada menunggu sapi bangkit, mendingan saya menulis refleksi seperti ini. Lagian, ini momentum tahun baru. Buat apa kita memperkeruh pikiran dengan memikirkan sapi? Mendingan melakukan refleksi atas apa yang sudah kita lakukan, dan mereka-reka: apa yang bisa kita lakukan, untuk masa depan yang lebih baik.

Kerja… kerja… kerja…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Categories: Knowledge from The Street Tags:

Menanti Kesetiaan @Jokowi_do2 Kepada Republik Indonesia

October 6th, 2014 No comments

Selamat pagi…

Semoga anda belum bosan dengan ulasan politik amatiran dari saya.Analis pasar modal itu… sebaiknya hanya ngurusin pasar modal. Tapi..karena sebagian orang bilang bahwa belakangan faktor politik mempengaruhi pergerakan pasar, pergerakan IHSG, dan saya tidak setuju dengan pernyataan ini; ya sudahlah. Berarti saya (dengan berat hati) kembali melakukan curcol (curhat colongan) sebagai wakil dari pelaku ekonomi khususnya pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia.Semoga curcol saya ini, bisa mewakili sebagian dari pendapat anda.

Koreksi Global Penyebab Koreksi IHSG

Koreksi yang terlihat pada IHSG memang terlihat sangat luar biasa. Kalau kita melihat dari posisi penutupan IHSG pada hari Kamis tanggal 25 September 2014 dimana IHSG masih bisa ditutup pada level 5.201,38, posisi penutupan IHSG pada hari Jumat tanggal 3 Oktober 2014 kemarin di level 4.949,35, IHSG memang sudah terkoreksi sebesar 252.03 poin atau setara dengan 4,85 persen. Tapi, kalau kita melihat kondisi dari bursa di kawasan regional, kondisinya juga kurang lebih sama. Indeks Hang Seng memang terkoreksi tajam sebagai akibat dari demonstrasi Hong Kong yang masih terus berlangsung. Akan tetapi, indeks Dow Jones Industrial terkoreksi juga cenderung terkoreksi ditengah data-data ekonomi yang positif, yang kemudian membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga lebih cepat dari Juni 2015, lebih cepat dari perkiraan pelaku pasar saat ini. Pola dimana IHSG terkoreksi sebagai pengaruh dari koreksi global ini, lebih terasa ketika kita melihat aliran dana asing di pasar reguler, yang ada pada bursa kita. Kalau kita melihat koreksi IHSG, sepertinya baru terasa semenjak tanggal 25 September lalu. Akan tetapi, jika kita melihat dari aliran dana asing di pasar regular, aksi jual dari pemodal asing sebenarnya sudah mulai terlihat semenjak tanggal 9 September 2014. Ketika itu, pemodal asing memang mulai melepas posisi menjelang Fed Meeting.Mereka berspekulasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga. Pada saat The Fed tidak jadi menaikkan suku bunga, dana asing memang sempat kembali melakukan aksi beli pada tanggal 18 – 22 September. Akan tetapi, ketika keluar data bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika cukup jauh diatas ekspektasi, pemodal asing kemudian khawatir The Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat sehingga kembali melakukan aksi jual. Aksi jual yang terus berlangsung hingga hari Jumat kemarin.

Koreksi Global bersamaan dengan Kondisi Politik Yang Memburuk

Semenjak pemodal asing melakukan aksi jual pada tanggal 9 September 2014 lalu, terdapat 2 kesempatan dimana pemodal asing melakukan tekanan jual dengan besaran sekitar Rp 1,4 trilyun. Yang pertama adalah pada tanggal 26 September, ketika UU Pilkada baru saja disetujui, dan pada tanggal 3 Oktober kemarin, ketika Ketua DPR baru saja dipilih. Mengingat pada keduanya kubu Koalisis Merah Putih (KMP) mengalami kemenangan atas Koalisi Indonesia Hebat (KIH), maka banyak pengamat pasar modal yang kemudian menyatakan bahwa kondisi politik menjadi sentiment negatif bagi pergerakan IHSG. Padahal tidak sepenuhnya seperti itu.Tekanan jual sudah nampak sejak tanggal 9 September, jauh sebelum kedua event tersebut berlangsung.Bukan hanya ketika event itu terjadi.Yang saya lihat, event politik tersebut hanya memperburuk keadaan sehingga memperbesar tekanan jual dari pemodal asing.
Saya lebih setuju pada pendapat dari Pak Chatib Basri pada tanggal 2 Oktober 2014 kemarin, yang menyatakan bahwa masalah politik ini bukan penyebab utama dari koreksi yang terjadi pada IHSG belakangan ini. IHSG terkoreksi, penyebab utamanya adalah karena reaksi dari pelaku pasar (terutama pelaku pasar global) terhadap kebijakan suku bunga dari The Fed.Kondisi politik hanya memperburuk keadaan.
KMP vs KIH akankah berbeda dengan KMP vs Jokowi ?
Masih segar dalam ingatan saya..saat saya pertama kali mencoblos SBY pada Pemilu 2004. Ketika itu, saya menjadi mahasiswa Program Magister Sains di Universitas Gadjah Mada.Secara otomatis, saya masih melakukan coblosan di daerah Banteng Baru, Jalan Kaliurang, Jogjakarta.Pemilu dilakukan dengan lancar.Semua orang sangat bersemangat untuk mencoblos.Orang bersemangat untuk mencoblos karena motivasi untuk menyelamatkan Indonesia dari tangan Megawati.Maklum saja, ketika masa pemerintahan Megawati, mewarisi kondisi ekonomi yang masih belum begitu bagus pasca Reformasi 1997 – 2001: inflasi yang sulit dikendalikan, pertumbuhan ekonomi yang lamban, konflik antar etnis di Kalimantan dan Maluku, pemerintah yang kekurangan dana sehingga terpaksa menjual aset, ditambah lagi hembusan rumor korupsi yang dilakukan oleh Taufiq Kiemas. Belum lagi, tekanan juga datang dari regional Asia dimana Presiden Arroyo menyatakan diri tidak akan mencalonkan diri pada Pemilu 2004 sebagai akibat dari permasalahan yang kurang lebih sama dengan yang dihadapi oleh Megawati (kekacauan ekonomi dan tuduhan korupsi terhadap suami). Ketika itu, perlawanan terlihat sangat sengit dilakukan oleh partai-partai yang saat ini sebagian besar tergabung dalam Koalisi Merah Putih, terhadap PDIP selaku partai penguasa.

Dalam Pemilu Legislatif 2014 kemarin, luka lama saya ketika tahun 2004 dulu Megawati melakukan pembiaran atas krisis etnis yang terjadi di berbagai belahan bumi Indonesia, membuat saya tidak memilih PDIP. Akan tetapi, ketika Pilpres, saya melihat Jokowi sebagai sebuah issue yang berbeda.Dibandingkan dengan kembali ke kondisi orde baru yang penuh kekangan, saya memilih untuk tetap berada dalam demokrasi kerakyatan dengan memilih Joko Widodo.Pilihan saya ini membuat saya sering kali melihat Jokowi dan PDIP menjadi dua buah entitas yang terpisah.Memang sih, Tim Transisi Jokowi-JK yang didominasi oleh orang-orang PDIP, membuat saya sedikit ‘meragukan’ cara pandang atas entitas Jokowi yang mandiri, ‘lepas’ dari PDIP.Akan tetapi, melihat bagaimana Jokowi ketika menjadi Gubernur DKI kemarin benar-benar bisa ‘lepas’ dari PDIP, saya merasa masih punya harapan.

Harapan ini, tentu saja terkait dengan sikap KMP terhadap Jokowi, ketika Jokowi nanti sudah menjadi Presiden. Saat ini, saya melihat bahwa kemenangan KMP pada UU MD3, UU Pilkada, Pemilihan Ketua DPR, semua terjadi dalam kerangka KMP vs KIH. KMP vs Megawati. Akankah KMP vs Jokowi nanti akan berbeda? Saya masih memiliki harapan.

Perpu Pilkada: sebuah preseden

Pada hari Jumat kemarin, saya sebenarnya sudah terlanjur bullish semenjak pagi.Saya bullish karena Presiden SBY sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (Perpu Pilkada).Memang, Perpu Pilkada ini, nantinya harus memperoleh pesetujuan DPR. Akan tetapi, dengan pembahasan yang dilakukan tahun depan setelah Presidennya adalah Jokowi, yang keluar dalam pikiran saya adalah seperti ini: Kondisinya nanti kan beda. Ketika Perpu ini kemudian dibahas, Presidennya sudah Jokowi.Apakah PDIP masih tetap kekanak-kanakan seperti sekarang?Apakah KMP masih tetap solid seperti sekarang? Apakah tidak ada partai anggota KMP yang berpendapat beda?

Lagian, pengajuan Perpu tersebut, saya pikir bisa menjadi preseden.Nanti, kalau DPR mengeluarkan peraturan yang ‘aneh’, Jokowi tinggal membuat Perpu dan kemudian mengajak Rakyat untuk berpikir. Kalau apa yang diputuskan oleh DPR ternyata tidak disukai oleh rakyat, benarkah DPR selalu bisa memaksakannya?

Kalau ternyata Jokowi korupsi, apakah Rakyat akan diam saja? Apakah Rakyat akan diam saja kalau ternyata DPR menjadi sarang koruptor? Apakah Rakyat akan diam saja ketika DPR melemahkan KPK? Apakah Rakyat akan diam saja ketika DPR mengeluarkan peraturan-peraturan yang jauh dari akal sehat?

Rakyat Tetap Akan Menjadi Pemenang

Sejauh ini, saya tetap optimis.Saya tetap optimis tentang pemerintahan Jokowi, tentang prospek ekonomi Indonesia untuk tahun-tahun mendatang.Jokowi belum memerintah… kenapa kita harus galau? Kalau Jokowi sudah memerintah, kemudian menunjuk manusia tidak berkualitas yang dari PDIP untuk menteri-menterinyakemudian gagal dalam 3 bulan awal pemerintahannya, mungkin pendapat saya akan berubah. Akan tetapi, sebelum Jokowi diangkat menjadi Presiden, saya belum akan berhenti untuk optimis. Karena saya percaya, bahwa Jokowi akan tetap setia pada Indonesia, dan Rakyat Indonesia yang berakal sehat tetap akan menjadi pemenang.
Karena saya optimis… outlook saya akan IHSG juga tetap optimis. Memang sih..hingga saat ini, bottom dari trend turun IHSG belum bisa dilihat. Bisa 4933 kemarin adalah bottom, bisa suport di sekitar level 4850, atau bisa juga target-target IHSG dibawah itu yang saya tidak mau sebutkan disini.Yang jelas, saya tetap berharap bahwa trend turun kali ini bisa berakhir diatas suport 4835, karena titik terendah dibawah level tersebut, bisa mengubah outlook jangka panjang saya.

Saya tetap optimis sehingga koreksi adalah kesempatan untuk melakukan posisi beli di harga yang lebih murah. Di level berapa bottom IHSG?? Hehehe.Itu juga saya belum punya jawaban pastinya. Tapi saya berharap agar titik terendah itu tidak berada dibawah level 4835.

Coba kalau Jokowi itu kader Nasdem atau PKB. Mungkin semua akan berlangsung lebih mudah.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Ketika Jokowi ‘diantemi’ oleh Yellen dan Putin…*

March 24th, 2014 1 comment

Selamat pagi…

….. Wah pak… Jokowi-nya diantemi sama Yellen dan Putin …

Itu adalah komentar dari salah satu peserta Market Outlook Universal Broker Indonesia mengenai kondisi pergerakan pasar di minggu yang lalu.  Ya sudah pasti … jangan diartikan seperti apa adanya.  Bukan lantas Jokowi ‘benar-benar’ dipukul oleh Janet Yellen (Chairman The Fed) dan Vladimir Putin, Presiden Rusia.  Akan tetapi, lebih karena pada minggu lalu, sentimen positif dari pengumuman Jokowi sebagai calon presiden dari PDIP, yang kemudian disebut orang sebagai Jokowi Effect yang ada di awal minggu, benar-benar di hancurkan oleh sentimen negatif pernyataan Janet Yellen di pertengahan minggu, dimana The Fed kemungkinan bakal mulai menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.  Sentimen negatif yang ada, semakin diperburuk oleh kondisi krisis semenanjung Crimea dimana Presiden Rusia, Vladimir Putin adalah aktor utamanya.  Jadi… tidak salah juga kalau kalau kemudian sebagian orang kemudian ngomong seperti itu.

Secuplik Sejarah ‘Euphoria Bursa di Indonesia’

Akan tetapi… apakah benar minggu lalu itu ‘Jokowi diantemi oleh Yellen dan Putin’? Belum tentu juga.  Untuk memahami Jokowi Effect, kita harus mengenal ‘sejarah’ dari euphoria pemilihan presiden di bursa kita.  Salah satu yang saya rasakan paling mewakili adalah ketika MPR melakukan pemilihan presiden pada tanggal 20 Oktober 1999.  Saat itu adalah untuk pertamakalinya, pemilihan presiden dilakukan secara terbuka, ditengah bursa yang tengah berjalan.  IHSG yang pada hari sebelumnya ditutup pad level 583,467, saat pemilihan langsung bergerak naik hingga mencapai titik tertinggi di level 644.073 (+60,426 poin, naik 10,35 persen).  Saat Gus Dur sudah memperoleh jumlah suara yang  cukup untuk memenangkan kursi Presiden, pelaku pasar mulai melakukan aksi profit taking.  IHSG kemudian turun hingga mencapai titik terendah pada level 569,155.  Sebuah penurunan yang sangat dalam karena pada level tersebut, IHSG berada dalam posisi terkoreksi 14,492 poin (-0,24 persen) dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya, yang juga berarti koreksi sebesar 74,918 poin (-11,63 persen) dari level tertinggi IHSG hari tersebut.  IHSG kemudian rebound, dan mengakhiri hari itu pada level 584,425 , hanya dengan kenaikan tipis 0,778 poin (+0,13 persen).  Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden, IHSG memang bergerak sangat volatile.

140324 IHSG ketik GusDur jadi PResiden

Euphoria IHSG seperti itu, kemudian semacam menjadi ‘standar’ dari pergerakan pasar ketika event-event besar terkait dengan pemilu: harga naik karena ada berita positif, tapi pelaku pasar malah cenderung jualan karena pergerakan intraday yang cenderung overreacting.  Market kemudian baru bisa bergerak normal beberapa hari kemudian, setelah pelaku pasar bisa mencerna informasi secara lebih nalar.

Kondisi seperti itu yang terjadi pada pergerakan IHSG minggu kemarin.  Pasar yang dilanda oleh Euphoria Jokowi Effect, akhirnya kempes lagi karena pasar akhirnya menyadari bahwa perjuangan Jokowi untuk jadi presiden, sebenarnya masih panjang.  Terlebih lagi juga, karena masalah kondisi dari bursa regional yang cenderung jelek sebagai akibat dari sentiment pidato Janet Yellen.  Koreksi Dow Jones Industrial pada hari Jumat malam sebagai reaksi atas perkembangan terbaru dari semenanjung Crimea, juga menunjukkan bahwa kondisi regional memang masih buruk.

Fokuslah pada event-event penting Pemilu

Proses pemilu 2014 ini masih panjang.  Pemilu kali ini memang berbeda karena dilakukan dua kali, pemilu legislatif dan pemilu presiden.  Kedepan, euphoria IHSG seperti yang terjadi kemarin, masih berpeluang untuk terjadi, seiring dengan banyaknya event-event penting pemilu yang masih akan terjadi.  Beberapa event yang menurut saya memiliki ‘potensi’ untuk terjadinya euphoria adalah pemilu legislatif hingga pengumuman hasil quick count, pengumuman resmi mengenai calon presiden dan wakil presiden dari setiap partai atau koalisi yang ada, dan event ‘pemilu presiden’ itu sendiri.  Setidaknya, pada ketiga event tersebut, IHSG ‘berpotensi’ untuk mengalami pergerakan naik.  Meski… terus terang.. kalau melihat chart technical… saya tidak terlalu yakin bahwa kedua event yang pertama (pemilu legislatif dan pengumuman resmi calon presiden) bisa membawa IHSG melewati level tertinggi Jokowi Effect kemarin di 4903.

Yah.. kalau IHSG bisa 5000 saat pemilu legislative, anggap saja sebagai bonus…

Saham pilihan: berkacalah pada Program Ekonomi Partai Peserta Pemilu

Tulisan ini… saya buat di pedesaan Maribaya.  Biasa… setiap dua minggu sekali, saya dan istri mengunjungi anak yang tengah boarding di salah satu sekolah yang ada di daerah ini.   Daerah pedesaan.  Tapi karena jaman sekarang ‘internet adalah kunci’, maka saya berpikir: ‘ah… tulisan saya akan saya selesaikan disana saja…. kan sekarang informasi tinggal ditanyakan kepada Mbah Google.

Dari Mbah Google ini.. saya kemudian mencari tahu, apakah program ekonomi dari beberapa partai besar peserta pemilu.  Hasilnya cukup mengejutkan.  Pertama: Website www.pdiperjuangan.org yang menurut account twitter resmi PDI-P (@pdi_perjuangan) ternyata mati.  Pada website www.indonesiahebat.org   juga tidak terdapat program ekonomi dari PDI yang katanye berjudul Pembangunan Semesta Berencana 25 Tahun tersebut.  Hehehe… Benar-benar ajaib.  Website dari partai pengusung Jokowi sebagai presiden, partai yang kemungkinan besar menjadi pemenang dari Pemilu kali ini, websitenya mati.  Lantas kalau saya pemilih yang rasional, kemana saya harus mencari tahu tentang program ekonomi dari PDIP?  Tapi.. ini bukan hal yang aneh juga siy.  Di website PKS (www.pks.or.id), ternyata juga tidak dijumpai adanya program ekonomi.  Di website Hanura, saya juga tidak nemu. Yang terlihat mencantumkan program ekonomi yang jelas pada websitenya, hanya Gerindra, PAN, dan Golkar.  Terkait dengan program ekonomi ini, reaksi pasar pada umumnya sama: kalau fokusnya adalah pertumbuhan ekonomi, berarti saham perbankan akan tetap bagus.  Kalau fokusnya adalah pembangunan infrastruktur, berarti saham infrastruktur yang akan bergerak.  Selisihnya, sepertinya akan ada pada program energy dari partai setiap partai tersebut.  Kalau PDIP kemudian berfokus pada energy gas seperti apa yang terdapat pada harian Kontan hari Sabtu kemarin, bisa jadi saham-saham yang terkait gas bakal melejit.  Akan tetapi, kalau melihat bahwa Gerindra bersemangat untuk mendukung program energy yang didapat dari DME (dimethyl ether), bisa jadi saham-saham batubara juga akan mengalami pergerakan karena bahan baku dari DME salah satunya adalah dari batubara.

Oh iya.. terkait dengan saham pilihan ketika pemilu ini.. tahukah anda bahwa Saham MNCN dan BHIT malah bergerak turun pasca deklarasi WIN-HT sebagai calon Presiden dan Wapres kemarin?  Anda juga harus ingat bahwa sesaat setelah pengumuman Jokowi sebagai calon presiden kemarin, gorengan UNSP juga langsung ‘diem’.  MNCN dan BHIT juga kemudian terkoreksi.  Sebuah ‘signal’ yang menarik.

Penutup

So… bagaimana reaksi anda terhadap lompatan-lompatan pergerakan harga yang terjadi selama pemilu ini? Yang jelas… kalau harga tiba-tiba naik terlalu tinggi, pertimbangkanlah untuk melakukan aksi profit taking. Sell On Strength minimal setengah posisi.  Jika anda melakukan posisi trading, ingatlah bahwa itu harus tetap menjadi posisi trading.  Kalau anda sampai nyangkut di harga yang terlalu tinggi, anda harus ‘make sure’ untuk mempersiapkan strategi untuk ‘euphoria selanjutnya’ dimana Pemilu Presiden sepertinya bakal menjadi euphoria terakhir.  Jika tidak… hehehe… bisa-bisa anda terpaksa gigit jari karena arah IHSG untuk paruh kedua dari tahun ini, benar-benar masih gelap.  Saya saja, memprediksikan bahwa untuk tahun ini, level tertinggi untuk IHSG bakal berada pada kisaran 5.200 – 5.650.  Akan tetapi, dalam prediksi saya, level tertinggi dari IHSG, sepertinya akan tercapai di sekitar Pemilu Presiden.   Masih banyak ketidakpastian dari perekonomian global, yang membuat saya belum bisa terlalu yakin mengenai prospek pergerakan IHSG dan bursa regional di paruh kedua tahun 2014 ini.

Semoga kita semua bisa mengendalikan entusiasme kita dalam menghadapi euphoria pemilu ini, agar bisa mendapatkan keuntungan yang optimal.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Secercah Harapan di awal 2014…*

January 2nd, 2014 1 comment

Selamat pagi…

Kalau anda baca ulasan terakhir saya di tahun 2013 yang kemarin saya posting, mungkin anda sudah merasakan, sedemikian banyaknya berita negatif, sehingga saya seakan-akan sudah hampir kehilangan harapan untuk bullish.  Padahal… kalau anda baca beberapa pendapat saya di berbagai media, anda pasti mendapati bahwa saya… adalah termasuk yang cukup bullish untuk tahun 2014 mendatang.

Target level tertinggi IHSG untuk tahun 2014… saya perkirakan bakal berada di kisaran 5050 – 5650.

Meski sebenarnya bisa saja lebih tinggi dari itu… tapi untuk sementara saya mau realistis dulu.  Yang dekat-dekat saja deh.  Yang sekiranya gampang untuk tercapai.

Point penting dari bottomline prediksi IHSG saya diatas adalah:

  • IHSG masih bisa menyentuh level psikologis 5000 lagi di tahun 2014 ini.
  • IHSG masih memiliki peluang untuk mencetak rekor baru di tahun 2014.
  • IHSG ‘belum akan’ mencetak new low dibawah 3837.  Level terendah di tahun 2014 tersebut akan menjadi basis dari trend naik IHSG setidaknya untuk kuartal pertama 2014.

Kalau anda( A) bilang: Loh Pak Tommy… semua kondisi kan masih jelek seperti Pak Tommy bilang… Kok tetap bullish pak? Alasannya apa?

Saya (T) akan menjawab: ini wave 2 … Karakteristik wave 2 itu adalah: berita-berita memang jelek, tapi harga tidak mencetak new low.  Berita-berita hari-hari ini kan memang jelek.  Tapi.. IHSG kan tidak mencetak level terendah yang baru dibawah 3837 (low Agustus 2013).

Disisi laen… saya sebenarnya juga optimis dengan Pemilu.  Sejak tahun 2002… IHSG sejak awal tahun hingga saat hari H pencoblosan, belum pernah turun.

A: Lantas… apa berarti pada kuartal pertama 2014 ini.. IHSG tidak akan bikin new low dibawah lowest Desember 2013 di 4109?

T: Pada hari terakhir di tahun 2013 kemarin, IHSG berhasil mencetak new high diatas resisten 4257.  Ini artinya: selama IHSG tidak membuat new low dibawah 4154, trend jangka menengah IHSG saat ini adalah trend naik.  Target awal dari trend naik ini ada di kisaran 4350 – 4400.. kisaran dimana terdapat target dari inverted H&S dan retracement 50% dari trend turun jangka menengah (Oktober – Desember 2013).

A: Kalau IHSG turun, ceritanya apa pak?

T: Hari Kamis besok ini (tanggal 2 Januari 2014), BPS akan mengumumkan angka neraca perdagangan November dan juga angka inflasi Desember.  Sentimen utama ada di angka neraca perdagangan.  Kalau masih defisit, atau setidaknya defisitnya lebih besar dari ekspektasi, maka bukannya tidak mungkin IHSG kembali bergerak turun.  Tapi…. kalau ternyata dari data ekonomi tersebut yang muncul adalah sentimen positif… data ekomi tersebut akan menjadi motor bagi Januari Effect.

A: Januari Effect itu makanan apa sih pak?

T: Januari Effect itu adalah singkong yang direbus.. kemudian digoreng.  Hehehe.  Sesuai dengan teorinya, Januari Effect itu adalah rally dari saham-saham lapis kedua (mid cap atau small cap), yang selama bulan Desember kinerja harga sahamnya buruk (baca: harga sahamnya turun).  Jadi.. bener kan:  yang namanya singkong itu, makanan lapis kedua dibawah beras.  Jadi yang rally adalah saham lapis kedua.

A: Serius pak?? Yang rally saham lapis kedua?  Apakah sudah terlihat adanya pembalikan trend pada saham lapis kedua?

T: Belum tentu  juga siy.  Sejauh ini.. dari posisi penutupan Jumat kemarin, yang reversal baru ADHI dan BSDE.  Sisanya masih belum terlihat adanya ‘tanda-tanda kehidupan’.

A: Kalau IHSG naik… apakah rallynya akan langsung dimulai besok pada tanggal 2 Januari?

T: Nggak sepertinya…  Saya gak yakin apakah pergerakan pasar bisa bagus sebelum pemberlakukan aturan fraksi baru mulai tanggal 6 Januari nanti.  Pada hari Kamis – Jumat besok (2-3 Januari), IHSG sepertinya hanya cenderung flat.  Baru mulai tanggal 6 Januari nanti, akan terlihat arah dari IHSG yang jelas: apakah mau rally ke 4350 – 4400… atau malah tembus suport di 4109.  Eh… kalau misalnya tembus suport niy.. sepertinya malah bisa lebih cepat.  Kalau data neraca perdagangan dan inflasi ternyata jelek,

A: Ah… Pak Tommy ini bikin bingung aja.  Sebenarnya.. bullish atau enggak sih? Kok kebanyakan ‘tapi.. tapi… dan tapi…’

T: Itu karena sentimen utama, memang masih dari defisit neraca perdagangan kita yang akan diumumkan besok (atau malah siang ini ya? Saya kok belum lihat..).    Sejauh ini… yang bagus baru ‘teknikal’-nya doang.  Alangkah bagusnya kalau teknikal tersebut juga didukung oleh fundamentalnya juga.

So… di hari terakhir tahun 2013 kemarin, saya memang melepas sebagian besar posisi yang saya.  Posisi saham saya terakhir, hanya sekitar 30% dari porto.  Rencana saya… dalam dua hari mendatang, saya mau belanja lagi.  Baibek.  Karena selama tidak bikin new low dibawah 4109, berarti trend jangka menengah IHSG masih berupa trend naik.  Selain itu, kalau lihat net buy asing yang berlangsung sejak 17 Desember 2013… Net buy asing di pasar reguler sudah mencapai Rp 1,2 tr.  Asing sudah mulai serius untuk belanja.  Kita lihat apakah kedepan, asing mau baibek lagi posisi net sell Rp 22,6 trilyun yang mereka lakukan selama tahun 2013 kemarin.

Berakhirnya trend turun jangka menengah pada hari terakhir pergerakan IHSG di tahun 2013 kemarin, memang menyisakan secercah harapan bahwa IHSG bakal mengawali tahun 2014 ini dengan sebuah trend naik.  Seperti apa realitanya? Mari kita nikmati saja… just BRING IT ON!!! Seperti kita menikmati pergerakan tahun 2013 yang seperti roller coaster itu.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Outlook, Selamat Pagi Tags: