Ketika Puasa Tidak Sekedar Perang Melawan Lapar dan Dahaga*

June 22nd, 2015 No comments

Selamat pagi…

Di pasar modal, harga itu adalah hasil dari peperangan. Peperangan antara pihak yang bullish, mereka yang menganggap bahwa kedepan kondisi bisa lebih baik sehingga harga akan bergerak naik sehingga mereka mau melakukan posisi beli, melawan pihak yang bearish, mereka yang menganggap bahwa kedepan kondisi bisa lebih buruk sehingga harga akan bergerak turun sehingga mereka mau melakukan posisi jual. Pergerakan harga yang sering kita lihat pada sebuah grafik dari pergerakan harga, adalah rekam jejak dari peperangan itu. Harga bergerak naik, harga bergerak turun, atau bergerak mendatar. Harga akan bergerak naik ketika mereka yang bullish, mereka yang melakukan posisi beli, memenangkan pertarungan tersebut. Ketika harga bergerak turun, berarti mereka yang bearish, yang melakukan posisi jual, lebih dominan dibandingkan mereka yang bullish.

Bulan Ramadhan seperti ini, umat Islam melakukan ibadah puasa. Dalam ibadah puasa, umat Islam yang melakukannya tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga sejak Subuh hingga Magrib, bukan sekedar perang antara melawan lapar dan dahaga. Akan tetapi, ibadah mereka juga harus mampu menahan nafsu-nafsu yang lain. Kalau yang bisa membatalkan puasa, mungkin hanya amarah dan nafsu untuk berhubungan badan di siang hari. Akan tetapi, apabila mereka yang berpuasa tidak ingin kehilangan pahala puasanya, mereka juga harus mampu menahan nafsu-nafsu yang lain seperti berbohong atau berdusta, nafsu untuk menggunjing atau membicarakan orang lain, nafsu mengadu domba, dan nafsu untuk melihat dengan syahwat.

Penduduk Indonesia itu, tidak hanya umat Islam. Bagi seluruh penduduk Indonesia, dengan berbagai macam suku, agama, dan ras, bulan puasa itu juga merupakan bulan peperangan. Tentu saja… ini bukan perang dimana orang saling membunuh karena perbedaannya. Akan tetapi, pada bulan puasa ini, penduduk Indonesia selalu harus berperang melawan berbagai lawan. Lawan yang harus dikalahkan untuk bisa menjalani kehidupan selama bulan Ramadhan (dan terutama setelah bulan Ramadhan) menjadi lebih baik, lebih enak, lebih nikmat.

Beberapa peperangan yang harus kita hadapi adalah:

Perang Melawan Inflasi

Kenaikan harga barang, adalah momok setiap kali memasuki bulan Ramadhan. Dalam studi inflasi pada bulan Ramadhan yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada periode 2008 – 2013 lalu, lonjakan permintaan yang terjadi selama bulan Ramadhan, telah membuat harga dari berbagai barang, terutama kebutuhan pangan, mudah sekali bergerak naik. Daging, cabe, beras, dan bawang merah, adalah beberapa kebutuhan yang sering kali mengalami kenaikan harga yang tajam selama bulan Ramadhan. Dalam periode tersebut, Bank Indonesia mencatat bahwa secara rata-rata, infilasi bulanan yang terjadi adalah sebesar 0,56 persen, dengan inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2010 sebesar 0,57 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi pada tahun 2009 dimana terjadi deflasi sebesar 0,31 persen.

Terkait dengan perang melawan inflasi ini, keluarnya PerPres 71 Tahun 2015 kemarin, sepertinya bisa menjadi harapan. Pemerintah yang selama bertahun-tahun terlihat lemah dalam menghadapi ulah spekulan yang mempermainkan harga, terlihat mulai melakukan pendekatan baru dalam menanggulangi inflasi. Pemodal bisa melihat bagaimana nanti pelaksanaan lapangan dari peraturan ini: Apakah memang berjalan sesuai dengan maksud dari dikeluarkannya peraturan ini, ataukah malah kemudian menjadi medan peperangan antara pedagang (baca: spekulan) melawan Pemerintah. Tapi setidaknya, kita bisa berharap, bahwa spekulan tidak lagi mudah mempermainkan harga seperti yang sudah-sudah.

Perang Lawan Importir Nakal

Indonesia itu adalah sebuah negara besar. Penduduknya saja sudah lebih dari 250 juta jiwa. Jumlah penduduk sebesar itu, tentu saja memerlukan pasokan barang, terutama bahan pangan, yang tidak sedikit. Lucunya, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, ternyata kemampuan untuk mencukupi kebutuhan pangan terlihat masih minim. Selain karena beberapa kebutuhan pokok dari masyarakat (seperti kedelai, jagung, dan singkong) saat ini kekurangan suplainya masih dipenuhi dengan cara impor, sering kali terjadi ulah spekulan atau pedagang yang kemudian menahan barang sehingga terjadi kelangkaan pasokan. Masyarakat masih sering dihadapkan dengan pergerakan harga yang liar sebagai akibat dari hilangnya barang dari pasaran. Disini, sering kali, importir nakal seringkali menjadi pahlawan kesiangan. Mereka sering kali memanfaatkan kekhawatiran pasar akan kekurangan barang, dengan menawarkan keran impor. Kurang ini impor, kurang itu impor, padahal, belum tentu semuanya perlu diselesaikan dengan cara imporm karena produksi dalam negeri bisa ditingkatkan, bisa dioptimalkan. Belajar dari pengalaman ketika Perang Beras pada periode Januari – Maret kemarin, kelangkaan beras yang terjadi yang kemudian membuat harga beras membumbung naik tinggi, ternyata juga bisa diselesaikan tanpa dengan menggunakan impor. Kelangkaan hanya terjadi sebagai akibat dari adanya salah pengelolaan antara permintaan dan penawaran sehingga bisa diselesaikan dengan barang yang ada di pasar. Akan tetapi, rayuan dan bujukan untuk melakukan impor akan terus membahana. Seperti masalah kekurangan suplai alat berat kemarin, belum-belum.. importir sudah bersiap untuk melakukan impor untuk alat berat bekas. Padahal, kapasitas luang pada industri alat berat nasional sedang sangat besar, seiring dengan berkurangnya permintaan dari alat berat industri batubara dan pertambangan lainnya.

Gosokan dari para importir nakal ini yang terkadang membuat pelaku pasar modal waspada. Maklum saja, permasalah terbesar dari ekonomi kita, sebelum masalah perlambatan ekonomi yang saat ini terjadi adalah masalah defisit neraca perdagangan. Kalau setiap kita mendengar kata ‘impor’ sedangkan disisi lain kita melihat bahwa pasokan dalam negeri sebenarnya mencukupi, disitu berarti neraca perdagangan kita sedang dalam ancaman. Ancaman dari para importir nakal seperti ini.

Perang Dalam Menumbuhkan Omset Retail

Ramadhan itu adalah puncak dari omset retail. Menyimak pernyataan dari Danny Kojongian, Director Communication & Public Relations dari PT. Matahari Putra Prima beberapa waktu yang lalu pada sebuah media online, momentum Ramadhan dan Lebaran yang memiliki jangka waktu siklus selama 45 hari, ternyata bisa mencapai 30% dari total omset tahunan dari perusahaan tersebut. Artinya, para penjual retail pasti sadar, bahwa bulan melakukan penjualan sebesar-besarnya. Disini kemudian, mereka berusaha melakukan berbagai cara untuk meningkatkan penjualan.

Ini membuat angka pertumbuhan penjualan retail selama bulan Ramadhan 2015 ini menjadi sangat penting. Pemodal bisa melihat angka ini sebagai prediktor dari kondisi sektor retail dan kekuatan daya beli masyarakat hingga akhir tahun, dan juga kondisi ekonomi hingga akhir tahun. Jika angka pertumbuhan penjualan retail selama Puasa dan Lebaran ini tidak terlalu bagus, siap-siap saja akan data-data ekonomi yang buruk pada bulan-bulan berikutnya.

Perang Melawan Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Ramadhan di tahun 2015 ini, sebenarnya agak berbeda dengan biasanya. Setelah bertahun-tahun terakhir Ramadhan berlangsung pada ‘ekonomi yang sedang tumbuh’, Ramadhan kali ini berlangsung pada ‘ekonomi yang sedang mengalami perlambatan’. Ini yang membuat Ramadhan kali ini berbeda. Memang, beberapa tahun yang lalu, kita sudah pernah merasakan Lebaran yang buruk, baik ketika Crash Pasar Modal 2008, dan ketika harga BBM dinaikkan sebelum bulan Puasa. Akan tetapi, dengan posisi start buruk yang dilakukan oleh Tim Ekonomi dari Pemerintahan Jokowi memunculkan sebuah pertanyaan besar: apa yang akan terjadi pada pemerintahan Jokowi jika nanti angka pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2015 ternyata buruk? Apakah hanya Tim Ekonomi yang kemudian harus lengser? Ataukah ada insiden Kudatuli Babak Kedua? Adanya pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2015 yang akan diumumkan di sekitar Lebaran, menjadi hati saya menjadi khawatir. Galau.

Penutup

Ah… ini kan bulan puasa. Bulan Puasa itu.. kita harus mengurangi prasangka buruk. Kita harus menghindari untuk berpikir akan hal yang tidak-tidak. Tapi tetap saja, belakangan, karena saya merasa bahwa kondisi sudah sedemikian buruk (seakan-akan sudah pingin menyerah rasanya), saya belakangan hanya menyarankan pada investor untuk melakukan posisi trading, dengan hanya melihat faktor teknikal dari pergerakan harga. Maklum saja, kondisi dalam negeri yang buruk, masih ditambah dengan kondisi luar negeri yang buruk sebagai akibat dari Krisis Hutang Yunani dan persiapan dari The Fed untuk mulai melakukan kenaikan suku bunga. Belum lagi bubble yang terjadi pada Bursa Shanghai yang terlihat siap meletus setiap saat. Semua ini membuat saya merasa harus mempersiapkan hati untuk bisa terus bersabar dalam menghadapi tantangan kedepan.

Satu hal yang menjadi pedoman untuk memprediksikan pergerakan harga (selain analisis teknikal tentu saja): harga saham adalah fungsi saat ini dari kondisi masa yang akan datang. Kalau kondisi saat ini jelek, belum tentu harga akan bergerak turun, selama pasar melihat bahwa kedepan, kondisi akan menjadi lebih baik. Ketika kondisi jelek tapi harga tidak mencetak level terendah yang baru, disitu saat diawalinya sebuah rally, sebuah bullish market.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Categories: Market Comment Tags:

Pertalite: Tetap Saja BBM Yang ‘Diproyekkan’

May 17th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Diproyekkan. Mungkin ini istilah lama yang sudah jarang kita dengar. Sekedar ilustrasi, kisruh antara Gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dengan DPRD DKI kemarin, pokok permasalahannya adalah UPS yang ‘diproyekkan’. Istilah diproyekkan ini, biasanya terkait dengan ‘barang yang kualitas sama atau bahkan lebih rendah, tapi kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi, untuk memenuhi kebutuhan dari pihak lain’. Dalam kasus UPS si Ahok, UPS yang harganya hanya Rp 500 ribu, kemudian jual kepada Pemerintah dengan harga miliaran Rupiah, untuk memenuhi proyek. Proyek pengadaan barang yang dibuat oleh Pemerintah.

Istilah ‘diproyekkan’ ini, sepertinya juga cocok kalau kita lekatkan kepada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Dengan tidak adanya BBM dengan oktan (RON) 88 yang dijual dipasaran, PERTAMINA kemudian mengambil langkah strategis: memenuhi kebutuhan BBM RON 88, dengan BBM RON 92 yang ‘diproyekkan’. BBM RON 92 yang ada di pasar, kemudian dicampur dengan segala macam bahan, agar RON-nya turun sesuai ‘spesifikasi proyek’, kemudian dijual kepada Pemerintah, dengan ‘harga keekonomian’. Harga keekonomian yang hingga saat ini masih merupakan misteri karena setiap kali harga BBM Premium naik, selalu saja PERTAMINA bilang: belum mencapai harga keekonomian… belum mencapai keekonomian… belum mencapai keekonomian.

Pertalite: BBM yang Diproyekkan (juga)

Tidak lama berselang, PERTAMINA mengusulkan BBM Pertalite sebagai pengganti dari BBM Premium. Pertalite ini, konon adalah BBM dengan RON 90, yang dijual dibawah harga Pertamax, tapi lebih mahal dari Premium.

Awalnya, saya melihat Pertalite ini sebagai sebuah pilihan yang masuk akal. Toh, Premium memang harus segera dihapuskan. Karena statusnya sebagai BBM yang diproyekkan, Premium memang tidak efisien. Harga kemahalan, kualitasnya juga kurang. Jadi memang harus dihilangkan. Akan tetapi, saya menjadi ‘curiga’ ketika saya melihat definisi dari Pertalite yang diungkapkan Direktur Pemasaran PERTAMINA, Ahmad Bambang didepan DPR hari Rabu kemarin:

Untuk membuat Pertalite, kita menggunakan nafta yang memiliki RON 65-70, agar RON-nya jadi RON 90 kita campurkan HOMC, HOMC ini bisa dibilang ya Pertamax, campurannya HOMC yang RON-nya 92-95, plus zat aditif EcoSAVE biar tambah halus, bersih dan irit. Pokoknya ketiga bahan ini campur-campurin sampai pas RON 90

Karena istilah tersebut terlasa terlalu teknis dan terlalu detail, saya jadi terus penasaran: Apakah benar BBM RON 90 ini adalah BBM yang umum tersedia di pasaran? Apakah benar BBM RON 90 ini mudah diperoleh di dunia internasional? Masalahnya begini: dalam kasus Premium, karena kebutuhan akan BBM Premium tersebut sedemikan besar, maka ketika BBM RON 88 tidak lagi dibuat, Pertamina ‘terpaksa’ mengada-adakan atau memproyekkan BBM Premium ini, dari BBM RON 92 yang ada di pasar. Hasilnya sudah jelas: Indonesia terjebak oleh kebijakan BBM yang tidak transparan dan sangat rawan oleh korupsi. Yang untung hanya Petral dan beberapa gelintir orang yang lain.

Indonesia itu sebuah negara besar. Jumlah penduduknya saja, sudah lebih dari 250 juta. Jumlah kendaraan bermotornya juga sudah melewati angka 100 juta. Untuk memenuhi kebutuhan BBM dari pasar sebesar itu, tentu saja memerlukan suplai BBM yang luar biasa besar juga. Untuk memenuhi BBM dari pasar, kita tidak bisa menggunakan strategi: oh.. ini BBM kita bikin.. nanti kalau kurang kita impor. Jelas tidak bisa. Untuk memenuhui kebutuhan BBM yang sedemikian besar, kita harus menggunakan strategi: ‘ini BBM kita bikin, tapi kalau kurang, mau impor juga mudah karena di pasarnya banyak. Kalau tidak, ya jelas: kita akan masuk dalam lingkaran setan lagi, seperti lingkaran setan yang sudah terbentuk untuk BBM Premium.

Berbicara mengenai BBM yang banyak tersedia di pasar, saya kemudian mengintip beberapa BBM di kawasan Asia yang aktif perdagangannya Chicago Merchantile Exchange Group. Ini memang derivatif. Tapi, saya memang hanya mencari sesuatu yang mudah dilihat harga pasarnya, sehingga jika terjadi kekurangan, PERTAMINA tidak akan kesulitan untuk mencari suplai. Disitu saya melihat, bahwa yang aktif perdagangannya, hanyalah BBM dengan RON 92, RON 95, dan RON 97. Dari pencarian saya di Google, RON 90 itu hanya BBM standar yang dipakai di Jepang. Sehingga tidak banyak suplainya di dunia ini. Apakah benar kita akan menggunakan BBM seperti itu sebagai alternatif pengganti dari Premium? Kalau iya… berarti memang benar-benar gawat. Kalau sukses… Pertalite nantinya hanya akan menjadi ‘BBM yang diproyekkan lagi’. Tidak akan berbeda hasilnya dengan posisi BBM Premium saat ini.

Saya kira, Pertalite tidak bisa digunakan sebagai alternatif BBM Premium. Kalau ternyata nanti BBM Premium dihilangkan, maka solusi yang paling masuk akal adalah New Premium nantinya adalah BBM dengan RON 92, Pertamax yang naik menjadi BBM dengan Oktan 95, dan Pertamax Plus yang tetap dengan oktan 98. Langkah ini adalah sebuah pilihan yang paling masuk akal. Di satu sisi, BBM yang tersedia di pasar dalam negeri, adalah BBM yang mudah dicari suplainya di pasar internasional sehingga kalau kekurangan, Pertamina akan mudah untuk melakukan impor dengan harga yang wajar. Disisi lain, konsumen juga akan diuntungkan karena mendapatkan BBM dengan kualitas yang lebih baik.

Menciptakan Pertalite sebagai calon pengganti dari Premium, hanya akan kita tetap saja tenggelam dalam lingkaran setan ‘BBM yang diproyekkan’, sama dengan BBM Premium saat ini.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

 

Categories: Uncategorized Tags:

Karena Jaman Sudah Tidak Memungkinkan Harmoko ‘COME BACK’*

May 11th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Weleh… ternyata … saya udah cukup berumur ye? Saya kemarin bertanya kepada teman wartawan yang usianya baru 21 tahun… apakah anda tahu siapa itu Pak Harmoko.. ternyata mereka sudah tidak tahu… tidak kenal.. dan belum pernah dengar. Terlepas dari bahwa rekan wartawan ini kudet (kurang update) atau malah kuper (kurang pergaulan), tapi memang belakangan Pak Harmoko sudah tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya.

Bapak Haji Harmoko adalah seorang wartawan yang kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan dari tahun 1983 – 1997. Beliau adalah salah satu orang yang menjabat Menteri paling lama pada pemerintahan Presiden Soeharto. Bagi anda yang kudet seperti teman wartawan saya tadi, Jaman Presiden Soeharto dulu memang berbeda dengan apa yang kita alami saat ini. Pada jaman Presiden Soeharto dulu, Menteri Penerangan ini adalah sebuah posisi menteri yang tugasnya mengkomunikasikan kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Tidak seperti Menteri Komunikasi dan Informasi saat ini yang tugasnya hanya mengurusi masalah komunikasi dan informasi (seperti perijinan televisi, radio, internet dan lain sebagainya), Menteri Penerangan jaman Presiden Soeharto itu juga berfungsi sebagai Public Relation (PR) bagi seluruh kebijakan Pemerintah. Menteri Penerangan adalah corong utama dari Pemerintah. Menteri Penerangan adalah sumber informasi utama dari apa yang dimaksud oleh Pemerintah. Ketika jaman dimana saluran televisi hanya satu yaitu TVRI, media cetak dan elektronik juga tidak sebanyak saat ini, Menteri Penerangan ini seakan-akan sudah seperti sumber kebenaran. Apa yang keluar dari mulutnya, adalah kebernaran yang dimaksud oleh Pemerintah. Kalau wartawan tidak mengerti, bisa langsung tanya pada Menteri Penerangan. Kalau anda ketidakpahaman dalam masyarakat,kalau ada saling-silang pendapat pada masyarakat, maka Menteri Penerangan akan mengeluarkan pernyataan. Pernyataan dari Menteri Penerangan ini kemudian dijadikan patokan sudut pandang atau tafsir dari setiap permasalahan.

Besarnya peran Menteri Penerangan ini, menjadikannya sebagai figur utama dalam kestabilan Pemerintahan (selain juga karena Kepemimpinan Presiden Soeharto yang sangat ‘kuat’), karena beliau adalah sumber dari kebenaran, sumber informasi utama.

Peran sebagai ‘sumber informasi utama’ ini, sangat terasa ketika Pemerintah selesai mengadakan sidang kabinet. Menteri Penerangan biasanya selalu muncul di televisi untuk menjelaskan poin-poin penting dari sidang kabinet tersebut. Dan… karena Pak Harmoko dulu selalu berusaha untuk mengedepankan peran dari Presiden Soeharto sebagai pemimpin dan pengambil keputusan, beliau selalu menyatakan ‘…menurut petunjuk Bapak Presiden…’. Mengenai yang satu ini… hehehe… kalau anda seumuran saya, kalau anda sudah biasa menunggu filem seri yang muncul di jam 21.30 setelah acara Dunia Dalam Berita di TVRI, anda pasti juga merasakan rasa ‘eneg’ (mual menuju muntah) mendengarkan kata ‘menurut petunjuk Bapak Presiden’ ini. Setiap kemunculan Bapak Harmoko… kata-kata ‘menurut petunjuk Bapak Presiden’ ini bisa berulang minimal 5-10 kali. Bisa anda bayangkan, betapa besar ‘siksa psikologis’ jaman Presiden Soeharto dulu.

Cuman ya gitu. Di satu sisi, ada siksa psikologisnya. Tapi disisi lain, adanya sumber informasi tunggal ini, memang membuat kondisi menjadi lebih terasa aman, tentram, dan damai.

Jaman Reformasi, Jaman Kebebasan Informasi

Jaman sekarang, sangatlah berbeda. Saluran informasi tidak hanya satu. Saluran televisinya sudah ada banyak sekali. Media cetak dan media elektronik juga sudah semakin membludak, luar biasa banyaknya. Belum lagi, saat ini, yang namanya sumber informasi tidak hanya berasal dari kantor berita yang resmi. Disamping jurmalisme profesional yang berasal dari kantor berita resmi, muncul juga yang namanya citizen journalism, jurnalisme yang muncul dari masyarakat. Jurnalisme yang berasal dari blog atau website pribadi. Belum lagi media sosial dimana masing-masing orang bisa ngomong dan didengarkan oleh ratusan, ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan follower mereka. Semua orang berbicara, semua orang berebut untuk didengarkan.

Ditengah arus informasi yang sedemikian besar ini, maka pembentukan opini, sudah bisa lagi dilakukan seperti dulu. Dulu.. Pak Harmoko berbicara.. seluruh Indonesia diam mendengarkan. Sekarang… mana bisa seperti itu? Orang harus memiliki skill yang tinggi untuk berkomunikasi, agar bisa didengarkan. Tidak hanya itu, untuk bisa menyampaikan ‘pesan yang benar’ saja, seseorang juga harus berusaha dengan sekuat tenaga. Ada yang pake strategi. Ada yang pake penasehat. Ada yang pake juru bicara. Ada yang pake Biro Public Relation. Ada yang pake duit. Orang menggunakan apa saja agar bisa berkomunikasi dengan benar. Agar perkataannya bisa didengar oleh masyarakat. Agar pesannya, agar tujuannya, agar kepentingannya bisa tercapai.

Eh… tapi… terlepas dari semuanya.. peran dari Media Profesional, tetap saja besar. Karena mereka rata-rata terdiri dari orang yang ahli dalam menulis (gimana gak ahli orang itu pekerjaannya?) dan juga terorganisasi (karena berada dalam sebuah kantor berita) maka kualitas dari pesannya biasanya memang lebih baik. Meski…. karena mereka terikat dengan aturan bisnis media, terkait dengan target-target yang harus dipenuhi, terkadang pesan yang ingin disampaikan juga memiliki ‘kualitas’ dan ‘kepentingan’ yang berbeda pula.

Kegagalan Berkomunikasi, Sumber Semua Permasalahan Masa Kini

Kita mungkin sudah terbiasa pendapat bahwa perbuatan yang baik itu, harus dilandasi dengan niat yang baik. Akan tetapi, kalau jaman sekang, perbuatan yang baik itu, tidak cukup hanya dilakukan dengan berdasarkan dari niat yang baik. Perbuatan yang baik itu, harus disertai dengan komunikasi yang baik, agar orang lain bisa menerima perbuatan baik kita dengan benar. Kalau anda membutuhkan pertolongan misalnya, dan saya bisa dan mau menolong anda, maka saya juga harus bisa menyatakannya dengan baik. Jangan sampai… saya maju menolong anda… tapi ternyata saya melakukannya sambil menyebar kata-kata kotor. Bukan anda yang senang saya tolong.. tapi malah jangan-jangan.. anda yang kemudian membunuh saya atau menuntut saya kedepan pengadilan karena anda tersinggung dengan perkataan saya.

Itu yang terjadi dengan Pemerintah saat ini. Niatnya sudah baik. Program yang dilakukan juga sudah benar. Akan tetapi, karena mereka sering gagal dalam berkomunikasi, pesan yang disampaikan sering kali malah jadi keliru. Penerima program, dalam hal ini rakyat, jadi salah tangkap, salah terima. Program yang baik, langkah yang baik, meski sudah berhasil, tetap saja belum tentu direspon dengan baik juga.

Belum lagi… karena jaman sekarang ini yang para penjegal, haters, orang-orang yang gagal move on, terlihat masih banyak sekali jumlahnya, maka kondisi bisa semakin runyam. Berbuat baik tidaklah cukup. Harus juga disertai dengan komunikasi yang benar.

Jokowi Memiliki Pekerjaan Rumah Yang Berat

Stabilitas itu, mahal harganya. Setelah 10 tahun terakhir SBY mempertaruhkan semuanya untuk tercapainya stabilitas melalui harga BBM Subsidi yang stabil, Pemerintahan Jokowi memang diwarisi oleh ekonomi yang carut marut: Pertumbuhan ekonomi memang masih cukup tinggi, tapi.. dengan kecenderungan yang terus menurun, ekonomi yang tergantung akan barang-barang impor, dan infrastruktur yang buruk. Belum lagi, rakyat yang sudah terbiasa hidup dalam fatamorgana. Semua pekerjaan rumah ini, memang terlihat berat untuk diselesaikan. Akan tetapi, dengan langkah yang benar, sebenarnya tidak sulit untuk diselesaikan. Permasalahannya, langkah yang benar itu, membutuhkan berbagai kebijakan-kebijakan yang tidak populer. Contoh yang terbaik adalah kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Untuk membangun, Pemerintah harus mengurangi subsidi BBM. Mengurangi subsidi BBM, berarti harus membiarkan harga BBM bergerak mengikuti harga internasional. Karena harga kebijakan kenaikan harga awal yang salah (menaikkan harga BBM ketika harga minyak sedang jatuh turun) dan plus harga minyak internasional yang belakangan cenderung naik sehingga harga BBM terus bergerak naik, kebijakan Pemerintah yang niatnya baik ini, malah cenderung terasa menyengsarakan rakyat.

Komunikasi Pemerintah memang cenderung buruk. Sudah gitu, pertumbuhan ekonomi yang diharapkan masih bisa menyelamatkan keadaa n, ternyata hasilnya malah lebih buruk dari perkiraan. Belum lagi, masalah ketidakkompakan antara Tim Ekonomi Presiden dengan Bank Indonesia, membuat permasalahan menjadi runyam. Nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang kembali ke level 13.000. Gubernur BI yang (katanya) ‘marah-marah dengan wartawan’. Aduh… kok rasanya.. semua seperti penderitaan yang tiada akhir.

Pemerintah Perlu ‘Langkah Besar’

Dengan semua penderitaan itu, pasar berharap bahwa Pemerintah akan melakukan langkah yang besar untuk bisa menyelamatkan keadaan. Entah itu berupa Paket Kebijakan Ekonomi, reshuffle kabinet, atau apa. Tapi Pemerintah harus melakukan langkah. Langkah Besar.

Langkah besar ini, dirasakan perlu untuk mencegah hilangnya kepercayaan pasar terhadap Pemerintah. Untuk posisi saat ini saja, dana asing di pasar reguler yang selama bulan Januari – Maret 2015 kemarin sempat masuk sebesar Rp 11,7 trilyun, pada periode Maret – Mei ini sudah hampir seluruhnya keluar.

Kalau Pemerintah tidak melakukan ‘langkah besar’… Bagaimana?

Well… Anda masih ingat Dana Jokowi Effect? Dana Jokowi Effect itu dana asing yang masuk ke Bursa Efek Indonesia yang terjadi selama Desember 2013 – Desember 2014. Dana Jokowi Effect ini, jumlahnya masih sebesar Rp 27 trilyun – Rp 30 trilyun. Gak kebayang deh… kalau sampai dana sebesar itu keluar dari bursa kita.

Hari Jumat kemarin, indeks Dow Jones Industrial bergerak naik sebesar 1,49 persen. Kalau biasanya indeks Dow Jones begerak naik IHSG bergerak naik, kali ini Kita sebaiknya jangan senang dulu. Alasan kenaikan dari indeks Dow Jones tersebut adalah karena mereka yakin bahwa suku bunga The Fed kemungkinan besar (bahkan sudah hampir dipastikan) akan naik pada bulan September nanti. Iya kalau pasar bereaksi positif dengan menganggap bahwa dengan kehampirpastian tersebut, mereka akan kembali masuk ke bursa kita, melakukan posisi beli. Tapi.. bagaimana kalau pasar bereaksi negatif?

Hingga Mingu sore hari ini, Pemerintah tidak terlihat melakukan apa-apa. Tidak ada langkah, tidak ada komunikasi.

Saya khawatir.

Mimpi saya sih… Pemerintah dan Bank Indonesia, duduk bersama didepan Pers, untuk mengkomunikasikan semua apa yang sudah dan akan dilakukan. Seperti ketika dulu Bapak Harmoko melakukan Jumpa Pers setelah Sidang Kabinet. Dengan keangkuhan seorang Agus Martowardoyo, dengan ketidakjelasan seorang Sofyan Jalil… dengan seorang Purbaya Yudhi Sadewa yang ternyata dulunya adalah seorang yang terlihat lebih sering apatis terhadap Jokowi… Apa ya bisa?

Pemerintah tidak hanya harus bisa membangun. Pemerintah harus bisa berkomunikasi dengan baik.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Categories: Market Comment Tags:

Bagaimana… Sudah Siap BBM 25000?*

April 15th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Minggu lalu… Menteri ESDM … Bapak Sudirman Said… sempat bilang: Harga BBM akan naik lagi!!! Gile bener.  Baru juga tanggal 8… tapi sudah mulai berkoar kalau harga BBM mau naik lagi.  Alasannya juga keren: Karena menjelang musim panas.. harga BBM akan naik lagi.  Memang sih… itu faktor penggerak harga minyak.  Tapi… signal yang saya baca adalah: bahwa harga BBM Subsidi akan naik karena Pemerintah mengantisipasi kenaikan harga di masa yang akan datang.  ‘Bagus’-nya lagi.. tidak lama kemudian.. di malam harinya… keluar berita baru:Harga minyak Brent turun 6% dalam semalam! Hehehe… manis bener…. Sialnya.. Pak Menteri kemudian tidak komentar mengenai hal itu.

Harga BBM: Memang Harus Mengambang

Kebijakan Harga BBM Subsidi seperti jaman SBY dulu… adalah kebijakan yang tidak benar.  Kita sudah melihat bagaimana akibatnya terhadap perekonomian kita:

 

    • Neraca perdagangan kacau

 

    • Impor BBM yang tidak terkendali

 

    • Rupiah melambung tinggi

 

    • Pertumbuhan ekonomi yang dipaksa melambat

 

    • Penggunaan hutang jangka panjang secara tidak efektif

 

dan masih banyak lagi.

Misal niy…  Kalau kita lihat realisasi APBN 2014 kemarin: Total Subsidi Energi Pemerintah (Listrik dan BBM) adalah sebesar Rp 341,8 trilyun.  Sedangkan .. jumlah Surat Berharga Neto yang dikeluarkan oleh Pemerintah selama 2014 adalah sebesar Rp 264,6 trilyun.  Apa gak berabe tuh… kalau kita ngutang jangka panjang dalam bentuk surat berharga, hanya sekedar untuk ‘dibakar’ untuk subsidi energi yang tidak lain sebenarnya adalah kebutuhan sehari-hari?

Semangatnya sudah benar….

Nah… setelah semua kekacauan yang ditimbulkan oleh Pemerintah SBY dalam 2 tahun terakhir Pemerintahannya… Pemerintahan Jokowi kemudian mengeluarkan PerPres no 191/2014 yang diantaranya mengatur tentang harga BBM.   Terkait dengan harga, terutamanya bisa dilihat pada pasal 14 dari Prepres tersebut.

 

    • Pasal 1: Harga dasar BBM ditetapkan oleh Menteri

 

    • Pasal 2: Harga dasar terdiri dari biaya perolehan, biaya distribusi, dan biaya penyimpanan, serta margin.

 

    • Pasal 3: Biaya perolehan (sebagaimana pasal 2).. bla.. bla .. bla… dilakukan dengan menggunakan harga indeks pasar.

 

    • Pasal 4: Harga jual eceran nantinya sudah termasuk PPN dan Pajak Bahan Bakar

 

Bagus kan? Berarti.. perubahan harga BBM sudah tidak seribet dulu.  Patokan harganya adalah menggunakan patokan indeks pasar.   Dengan peraturan ini.. harga minyak internasional seperti apa juga tidak akan membebani APBN.  Ini adalah kepastian

Beberapa problem yang muncul….

Problemnya terdapat pada pelaksanannya.

Yang pertama: Dalam Peraturan Menteri ESDM yang digunakan sebagai pelaksanaan dari Perpres tersebut, kemudian memasukkan faktor Rupiah.

Yang kedua: ternyata.. harga indeks minyak tersebut, kemudian diterjemahkan sebagai Mean Oil PLatts Singapore (MOPS).  MOPS itu harga gak jelas.. gak transparan.  Anda coba cari data historis dari MOPS.  Tidak semua orang bisa akses.

Yang ketiga: ya itu tadi.. Pak Menteri mau memasukkan prediksi harga masa depan.. dengan alasan yang agak gak jelas gitu.

Trendnya kok semakin kacau.  Meskipun harga terus disesuaikan, tapi semakin hari.. harga kok semakin jauh dari realita.  Ini yang membuat orang bingung, analis bingung, apalagi rakyat kecil yang dipingir jalan itu.  Duh.. gimana rasanya ye?

Problem Utama: Tidak ada Tranparansi, Tidak ada Akuntabilitas.

Korupsi itu.. mencuri.  Mencuri itu.. bisa dilakukan kalau ada kesempatan.  Kesempatan itu ada… kalau hari sudah gelap.. kalau sudah tidak ada transparansi lagi.  Meskipun idenya bagus, harga BBM yang mengambang pada prakteknya kemudian menjadi momok karena tidak adanya transparansi.  Karena tidak ada transparansi… maka orang mau berhitung juga gak bisa.  Rakyat jadi mustahil untuk mengantisipasi masa depan.

Kalau sudah begini.. resiko menjadi menjulang tinggi.  Belum lagi.. faktor ‘peluang bermain’ itu tadi.

Coba anda melihat Metamorfosis dari seorang Sudirman Said.  Dengan perintah dari Presiden untuk menutup Petral, Sudirman Said kemudian berevolusi dari seorang yang tegas, seorang yang toleranseorang yang permisif, dan seorang yang ‘berteman’ (kolutif).

Waduh.

Saya sedang cari cara gimana untuk bisa bilang dengan lebih sopan.  Tapi.. kalau kondisinya masih tetap seperti ini.  Sepertinya kita harus bersiap kalau harga BBM Premium bisa mencapai Rp 25.000 ketika harga minyak sudah kembali ke atas US$120.

Emang Presiden dan Rakyat siap kalau harga BBM Premium Rp 25.000 per liter?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Categories: Market Comment Tags:

Dollar 13.000 … Lantas… Anda mau beli gitu?*

March 12th, 2015 No comments

Selamat pagi…

Kemarin… akhirnya.. Nilai tukar Rupiah terhadap US$ akhirnya ‘secara resmi’ menembus Rp 13.000 untuk setiap US$nya. Setelah beberapa hari nilai tukar Rupiah/US$ berkutat di sekitar level Rp 13.000 akhirnya kemarin US$ ditutup pada level Rp 13185, setelah sempat mencetak level tertinggi di Rp 13.215.

Mengapa US$ Menembus 13.000 ?

Dalam beberapa hari terakhir, muncul spekulasi bahwa The Fed akan ‘pasti’ menaikkan suku bunga pada FOMC bulan Juni 2015 nanti. Ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh Reuters terhadap 19 bank yang langsung berhubungan dengan The Fed, dimana 14 diantaranya berpendapat bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Juni nanti. Spekulasi ini, kemudian menghantam pasar. Indeks Dow Jones Industrial turun 300 poin lebih dan Euro jatuh dari 1.125 menjadi 1.050.

Rupiah sebagai salah satu mata uang di dunia juga ikut tertekan. Itu yang mengantarkan Rupiah ke level 13.000 pada hari-hari ini.

Ini semua adalah karena penguatan US$… bukan semata-mata pelemahan Rupiah!!!

Bagaimana sih posisi terakhir dari Rupiah terhadap US$ ?

Hehehe… saya sih kemarin agak bete. Agak bete karena ada orang dodol yang bilang…kalau Dollar 13.000 itu rekor, kita lebih buruk dari 1998.

150312 Rupiah Terburuk

Dollar ketika krismon.. sempat tertinggi di 16.800. Jelas kan?

Kalau anda tanya kepada saya .. Rupiah setelah 13.000 ini resistennya dimana… Anda bisa lihat pada gambar dibawah ini:

150312 Resisten Rupiah

Resisten Rupiah di 13.386. Rupiah sekarang di 13.175.

Lantas… apa yang harus kita lakukan?

Kalau saya sih … hehehe. Anda mungkin sudah tahu kalau saya sedang bullish banget terhadap market saat ini. Saya melihat perekonomian Indonesia sebagai turnaround story… cerita dari kondisi ekonomi yang memburuk dan berubah menjadi lebih baik. Secara teknikal.. saya juga masih melihat potensi IHSG untuk bergerak naik setidaknya hingga level psikologis 6000 di tahun 2015 ini. Jadi.. saya tidak panik. Saya malah berusaha untuk melakukan akumulasi saham.. sedikit-demi sedikit, dan hanya melakukan posisi beli dalam jumlah besar, kalau trend jangka pendek IHSG berubah menjadi naik.

Kalau anda… apa yang ada lakukan? Mau beli US$? Menurut saya sih… itu sudah tidak reasonable… sudah tidak masuk akal. Lihat aja di pedagang valas atau di bank: US$ sudah di harga 13.300 – 13.500 kalau mau beli. Biasa.. kalau sedang ‘agak panik’ begini.. spread (selisih) antara posisi beli dan posisi jual dari bank atau pedagang valas, bisa semakin lebar. Pertanyaan saya adalah: kalau anda beli disitu… lantas mau jual di berapa? Anda berharap US$ 15.000 gitu?

Kalau saya sih … selalu teringat apa yang berulangkali menjadi nasehat dari ayah saya. Dulu… ketika saya masih kecil, ketika Presiden Soeharto masih berkuasa… setiap kali ada devaluasi mata uang… saya selalu bertanya kepada almarhum ayah saya: ‘Papa… kita gak ikutan beli Dollar?‘. Jawaban beliau selalu standar:

… untuk apa? pertama… berapa sih selisihnya? gak banyak kan? dan kedua… kita juga gak punya duit terlalu banyak. Kita tidak bisa bertambah kaya dengan membeli Dollar! Cuman bikin susah orang banyak saja! Yang beli Dollar untuk spekulasi itu.. adalah orang yang tidak nasionalis. Kita tidak mau jadi orang seperti itu!

Jadi… saya ingin bertanya kepada anda:

Apakah anda mau ikut-ikutan panik dan membeli Dollar? Saya sih tidak.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Categories: Market Comment Tags: